แชร์

Firasat Seorang Istri

ผู้เขียน: Lisnaasaarii
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-01-29 00:36:54

“SATU BULAN?”

“NGGAK KELAMAAN?”

“Mas mau ngapain di sana sampai satu bulan?”

Kepala Bening yang baru saja dingin sebab kucuran air shower, kini kembali panas. Bahkan lebih membara dari sebelumnya. Suaminya itu ... serius?

“Resto di sana lagi terombang-ambing, Sayang. Dan aku yang dipercaya bisa atasi ini. Dilihat perkembangannya sebulan.”

Alasan Cakra itu tak mampu masuk ke akal Bening. lebih-lebih Cakra akan pergi di saat seperti ini? Di hari kedua pernikahan mereka? Di saat mereka belum mendapati malam pertama sebagai sepasang suami-istri? Dan saat masalah –entah salah paham entah memang pengkhianatan antara Cakra dengan Sinta belum terselesaikan?

Ya Tuhan!

“Tapi, Mas. Kita ini baru nikah loh. Kamu juga udah ambil cuti. Ditambah masalah semalem ... apa nggak bisa ditunda?” Mata Bening terpejam, menahan gejolak emosi di dadanya.

“Aku ngerti, Sayang. Ini berat. Bukan cuma buat kamu, aku pun juga berat. Tapi, ini juga demi kita. Aku janji bakalan terus kasih kabar!”

Aneh. Sangat aneh. Mengapa semua serba kebetulan seperti ini? Bening bingung. Ia hanya tak ingin suaminya pergi begitu saja di saat masalah sedang menyelimuti mereka.

“Aku jadi mikir macem-macem, Mas. Kamu beneran pergi karena kerjaan atau bukan.” Bening menggigit bibirnya sendiri. Pikirannya kacau.

Tangan Cakra merangkum kedua bahu Bening dan lantas memeluknya. “Ya beneran urusan kerjalah, Sayang. Kalau bukan, mana mau aku ninggalin istriku ini. Di saat kita masih anget-angetnya lagi.”

Lagi. Setiap kalimat yang keluar dari bibir Cakra memang serupa mantra. Lembut dan tepat menghujam jantung Bening. Begitu saja ia luluh dan memaklumi. Yang Cakra katakan itu benar. Mana mungkin suaminya bersedia pergi di saat mereka baru saja menikah jika bukan karena hal penting dan menyangkut masa depan mereka pula.

“Kamu janji sering kasih kabar, ya!” pinta Bening yang akhirnya tak punya pilihan selain melepas suaminya menuju ke Semarang.

“Janji, Sayang! Aku pasti kabarin istriku ini selalu!”

“Kalau perlu aku bakalan nyetel alarm biar setiap jam telepon kamu!” Senyuman Cakra mengembang penuh janji. Kedua tangannya menyentuh pipi Bening dan menyusul sebuah kecupan singgah di kening Bening.

Sore yang sejuk itu, tangan Bening masih sibuk melambai ke arah mobil Cakra yang kian menjauh dari halaman rumah. Pandangan mata Bening tak putus dan beralih hingga mobil putih itu berubah menjadi sebuah titik kecil.

“Aku pasti bakalan kangen sama kamu, Mas!” batin Bening yang tiba-tiba merasa sepi nuh hampa.

Ia juga menyesali keputusan bodohnya kemarin yang harus minggat dari rumah seperti anak kecil, harusnya ia komunikasikan semua terlebih dahulu dengan suaminya itu. Jangan-jangan memang dirinyalah yang salah paham dan berlebihan.

“Maafin aku ya, Mas!” Bening masih sibuk dengan gejolak batinnya. Sekarang puing ingatan ia terbangun di sebuah kamar hotel kembali membahana. Membuatnya seperti didera nestapa dan rasa dosa sebab berkhianat.

Dua hari berlalu. Cakra menepati janjinya untuk terus berkirim kabar. Seperti yang diucapkan suaminya itu, hampir setiap jam Bening menerima pesan atau telepon yang membuatnya begitu percaya bahwa Cakra memang pergi karena urusan kerja. Bukan lainnya.

“Senyum-senyum?” Suara ibunya memecah lamunan Bening.

Tangan Bening sigap mematikan kompor yang baru saja berhasil mendidihkan sayur untuk sarapan pagi ini. “Ibu ngagetin aja.”

“Kamu aja yang larut ngelamun, Nduk! Jangan sering-sering ngelamun! Nggak baik.” Tangan lembu Bu Hidayah membelai puncak kepala Bening.

“Aku cuma kepikiran Mas Cakra aja, Buk.” Ia tidak sedang beralasan. Memang itu yang terjadi.

Ibunya tersenyum penuh maklum. “Wajar. Dia suamimu. Kalian juga nikah baru berapa hari harus dipisahkan jarak.”

“Tapi, pesen Ibuk ... percaya sama suamimu! Ibuk yakin Cakra pergi karena tanggung jawabnya di pekerjaan yang dia lakoni!”

“Kamu hanya perlu berdoa, Nduk! Doakan suamimu sehat, dijaga hatinya, dijaga dirinya! Serahkan sama Allah!”

Kalimat penuh nasihat yang teduh itu berhasil menyirami hati Bening yang gersang. Ibunya benar, harusnya ia percaya dan mendoakan Cakra. Menyerahkan semua kehendak kepada Tuhan. Bukan malah curiga dan was-was. Lagi pula Cakra bekerja juga untuk mereka, untuk dirinya.

“Yuk kita sarapan!” ajak Bu Hidayah saat Sinta pun juga sudah tampak terlihat di meja makan.

Bening mengangguk. Ia sengaja masih menciptakan jarak untuk kakaknya itu. Bagaimana pun itu terasa lebih baik daripada bersikap sok manis dan biasa saja meski hatinya masih kalang kabut tak tertata.

Mungkin pula, jika suatu hari ia telah memaafkan, mungkin ia tak akan pernah amnesia terkait kejadian malam itu.

Di tengah-tengah kegiatan sarapan yang tenang dan damai, tiba-tiba Sinta mengutarakan sebuah kalimat yang membuat makanan di kerongkongan Bening sulit ditelan.

“Acaranya di Semarang, Buk. Harusnya ikut yang di Surabaya, sih. Tapi, aku telat info. Jadi, bisanya ikut yang di Semarang.” Sinta berbicara dengan santainya sembari mengaduk-aduk sarapan dalam mangkuknya.

Sementara Bening mulai berkhayal ke mana-mana. Kakaknya itu akan bertandang ke Semarang untuk mengikuti seleksi model di televisi nasional? Mengapa bisa kebetulan sekali ketika suaminya juga sedang bertugas ke Semarang?

Kecurigaan Bening yang sempat padam kini kembali menggumpal pekat. Jangan-jangan memang antara Cakra dengan Sinta bukan sekadar ipar biasa?

“Di Semarang itu yang paling deket?”

Tampak Sinta mengangguki kalimat tanya ibunya. “Iya, soalnya yang Surabaya udah kelewat, Buk.”

Wajah Ibu Hidayah justru tampak lega. Entah karena apa. Tetapi, belum semenit setelahnya, Bening sudah mengetahui alasan wajah sumringah sang ibunda.

“Boleh, Nduk. Cakra adik iparmu kan juga pas ada di sana. Jadi, Ibu nggak akan khawatir banget kamu pergi.”

Sendok di tangan Bening tanpa sengaja lepas dan berdenting dengan piring. Napasnya memburu dan dadanya sesak. Ia hendak melontarkan kalimat tetapi lirikan mata Sinta seperti pengingat sebuah ancaman. Walhasil, ia hanya pura-pura tersedak dan sarapan kembali berlanjut.

“Aku bodoh? Atau terlalu taat menjadi seorang adik dan istri?” Benak Bening bergejolak. Ia tak mungkin membiarkan dirinya mati dikungkung rasa penasaran. Tidak akan!

Pikirannya yang berjubal membawa Bening memutuskan untuk pergi ke gerai kuenya yang mungil. Mungkin di sana ia bisa mendapati jati dirinya kembali setelah banyak kejutan mengiringi surprise pernikahannya.

Ia menata beberapa toples kue yang dipajang rapi di rak. Namun, pikirannya tak benar-benar fokus. Justru melayang jauh. Semua terasa kosong. Bahkan, aroma kue yang biasanya menenangkan, kini terabaikan.

“Bening!” Suara lembut memecah lamunannya. Ia menengok dan mendapati Flora –sahabatnya tersenyum simpul di sebelah meja kasir. Bening membalas senyuman meski wajahnya lesu dan layu.

Sahabatnya itu seolah langsung menangkap radar tak baik-baik saja. “Kamu kenapa? Baru nikah kok malah lesu gitu? Harusnya centil, ceria, dan pamer ke aku!”

Bening terdiam. Ia menatap sahabatnya itu dengan ragu. Haruskah ia cerita semuanya?  Tapi, kepalanya sudah teramat sesak seakan hendak pecah untuk menyimpan semua sendirian.

Setelah mendaratkan diri ke kursi di hadapan Flora, Bening menghela napas dalam. “Aku ...”

“Aku nggak tau harus mulai dari mana?”

Wajah Flora yang awalnya sarat menggodai dirinya itu kini berubah drastis. Kedua alis Flora hampir bertaut dan ekspresi ingin tahu menghiasi seluruh wajahnya. Ekspresi curiga lebih tepatnya. “Kamu kenapa, Beniiing?”

“Kamu mulai dari apa yang bikin kamu kelihatan galau gini! Aku sedia dengerin semuanya. Se-mu-a-nya!”

Bening terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menceritakan semuanya—pernikahannya yang baru berjalan dua hari, keberangkatan Cakra ke Semarang selama satu bulan, insiden ciuman yang terjadi antara Cakra dan Sinta, hingga kecurigaannya yang semakin dalam terhadap keduanya saat Sinta pergi ke Semarang dengan alasan mengikuti seleksi model televisi nasional.

Sahabatnya itu mendengarkan tanpa menyela. Hanya sesekali bibir Flora membulat lantaran kaget, sesekali mengangguk, sesekali menepuk bahu Bening saat suaranya bergetar hendak menangis. Dan ketika Bening selesai, sahabat di depannya itu menghela napas panjang nun dalam. “Aku nggak nyangka. Tapi, menurutku kamu nggak salah kalau ngerasa ada yang janggal.”

“Terlebih pas mbakmu kayak ngancem gitu.”

“Tapi aku nggak punya bukti,” balas Bening dengan suara bergetar. “Dan kalau aku salah… aku nggak mau ngerusak hubungan ini tanpa alasan yang jelas.”

Flora menatapnya lekat. “Bening, kalau kamu nggak ada bukti tapi firasatmu ke suami sama mbakmu janggal ... cari bukti!”

“Aku siap bantu!”

Bening lagi-lagi terdiam. Tapi, kali ini ia setuju dan mengangguk.

Sementara di belahan bumi Semarang, Sinta yang baru saja selesai dengan audisi awal –kemampuan tambahan acting dan pose untuk pemotretan–sedang menunggu balasan pesan dari adik iparnya sendiri –Cakra.

Tadi, beberapa menit lalu, Sinta sudah mengirim pesan ke Cakra:

"Mas, aku ada waktu free sampai jam 5. Kalau sempat, kita bisa ketemu sebentar? Aku mau ngomong penting."

Tapi hingga kini, belum ada respons dari suami adiknya itu.

*****

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทที่เกี่ยวข้อง

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Hasrat Terlarang

    “Ke mana sih kamu, Mas?”Sinta menggenggam ponselnya setengah was-was. Menunggu balasan pesan dari Cakra begitu membuatnya resah. Mungkinkah Cakra sibuk dengan pekerjaan? Atau jangan-jangan adik iparnya itu sengaja menghindar darinya.Pikiran itu tiba-tiba menyalakan bara di dada Sinta. Ia tidak mau jika sampai Cakra menghindar darinya. Terlepas fakta bahwa Cakra kini adalah suami adiknya sendiri, Sinta tidak peduli. Yang ia inginkan adalah menarik Cakra untuk semakin mendekat dan berakhir memujanya melebihi Bening.Ke sekian kalinya Sinta menatap sendu ke arah layar ponsel. Masih tidak ada pesan balasan dari Cakra. Keresahannya bertambah ganas. Sungguh khawatir jika sampai Cakra sengaja menghindar darinya.“Kalau 15 menit lagi dia nggak bales, aku telepon aja!” ujar Sinta bermonolog.Namun, tak perlu menunggu sampai 15 menit karena beberapa detik berikutnya sebuah notifikasi pesan muncul di layar gawai. Sinta menyungging senyum menyadari bahwa pesan itu berasal dari Cakra. Yang sekali

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-04
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Pria Tak Asing

    “Terima kasih, Kak! Ditunggu kedatangannya lagi, yaaa!”Suara Flora amatlah merdu memanjakan konsumen. Tetapi, hanya seperti angin lalu bagi Bening yang telah lebih dulu larut merapikan display rak kuenya.Suasana gerai kembali lengang setelah beberapa gerombol anak muda berbondong membeli Korean Cream Cake. Demi membunuh sepi, tangan Bening cekatan merapikan tatanan. Meski yang sebenarnya sedang berserakan adalah pikirannya.Sebentar lagi langit bersulam warna ungu, tetapi tiga panggilannya kepada Cakra tak diangkat. Suaminya itu juga belum berkirim pesan setelah terakhir pagi tadi.Sebagai perempuan yang baru saja menikah, tentu hati Bening resah. Terlebih mengingat bahwa di usia pernikahannya yang belum genap seminggu sudah diwarna noktah, kian menjadikan Bening banyak pikiran.Suara pintu gerai yang terbuka pun tak menghentikan Bening dengan lamunannya yang kian variatif.“Kak, Cromboloni isi cokelat masih?”Bening tak menyahut karena telinganya sedang tertutup lamunan.“Kakaaaak.

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-07
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   'Malam Itu' Tak Terlupa

    “K-kamu!”Napas Bening seperti tersendat di tenggorokan. Tidak pernah ia bayangkan akan kembali bertemu dengan pria tersebut. Meski malam itu kesadaran tak sepenuhnya ia miliki, tetapi masih ada sisa ingatan tentang siapa pria yang kini berdiri tak jauh darinya.Pria dengan setelan jas rapi itu masih berdiri di tempatnya. Tanpa membuka mulut dan hanya menatap lurus ke arahnya dengan dingin.Bening menarik napas dalam. “Tenang, Bening! Tenaaang!” batinnya.Ia menenangkan diri sendiri meski pikiran dan hatinya telah luar biasa berkecamuk. Dalam embusan napas yang pelan ia terus meyakinkan diri bahwa pria itu hanya kebetulan datang, mungkin hendak membeli kue, dan semuanya akan seperti sedia kala. Baik-baik saja.Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan!Pria itu hanyalah masa lalu. Kesalahan semalam. Tak kurang. Tak lebih.Sekali lagi, Bening menarik napas lalu tersenyum. “Ada. Cokelat di sini memang premium. Dipastikan kualitasnya!”“Jadi, nggak bakalan bikin gangguan di tenggorokan ataupun

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-11
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Pesan Sekali Lihat

    Suara Cakra dari seberang itu segera menyadarkan Bening bahwa sambungan telepon masih berlangsung. Buru-buru ia ambil ponsel dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Setelahnya, ia sendiri bingung melontar jawaban.“Iya, Mas?”Terdengar embus napas kasar dari seberang. “Siapa pria barusan? Kamu kenal?” Pertanyaan yang lebih pas untuk disebut sebagai introgasi.Sengaja Bening menarik napas dalam-dalam. Ia berharap bisa menemukan jawaban aman dengan cepat. Tetapi, nyatanya isi kepala sedang bergejolak hingga kosong yang Bening rasakan.“Bening. Malam apa maksudnya?” Cakra terus mengejar jawaban.“Aku nggak ngerti, Mas. Aku juga nggak kenal sama pria itu. Mungkin dia lagi mabok atau gimana,” jawabnya asal.Hening.“Halo, Mas! Mas! Mas Cakra!” Bening sengaja menjauhkan ponsel untuk melihat layar. Masih tersambung.“Aku nggak kenal sama pria barusan. Aku juga kaget kenapa dia ngomong kayak gitu,” imbuh Bening. Ia bingung harus mengatakan apa agar Cakra mempercayai kalimatnya.“Kamu

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-13
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Ipar Penggoda

    “Bener-bener ya kamu, Mbak.”Seraya menggerutu, jari Bening sudah mendial nomor Sinta. Tetapi, hingga panggilan ketiga, sama sekali tidak ada jawaban. Seakan Sinta sengaja tak menjawab telepon darinya. Membiarkan Bening larut dalam emosi serta kecemburuan yang membara.Tidak putus asa, kali selanjutnya Bening menelepon Cakra (lagi). Tetapi, nyatanya nomor suaminya itu justru tidak aktif. Membuat Bening kian curiga. Ia gelisah bukan main. Pikirannya meruncing pada simpulan prematur.BAHWA SUAMINYA MEMANG BERKHIANAT!“Ya ampun, Maaaas. Tega banget kamu!” desisnya dengan hati teriris pilu.Tangannya cepat mengetikkan pesan kepada Cakra. Mempertanyakan kesungguhan Cakra yang berjanji untuk setia, yang telah berjanji untuk terus berkabar bahkan setiap menit. Tapi, nyatanya mana? Kenyataannya suaminya itu justru tidak bisa dihubungi kala suasana hati Bening tengah berselimut kabut kecurigaan.“Mana janjimu? Katanya mau ngabarin aku. Katanya nggak bakal biarin aku mikir yang aneh-aneh.”“Jus

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-14
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Terlambat Haid

    Huh!Bening hanya bisa memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam. Kakaknya benar sudah gila. Tidak bisa lagi diingatkan. Justru malah membalikkan keadaan dan seolah tidak bersalah. Susah!“Aku harus gimana, Ya Allah?” Menahan hati yang terluka, Bening beranjak dari tempat.Yang dialaminya itu persis buah simalakama. Ia yang jadi korban dan ia yang tertekan. Sakit hati kini bagaikan melayang. Hendak mengadu kepada sang ibu pun percuma, Sinta pasti sudah mempersiapkan jawaban. Dan Bening pun tak bisa membayangkan jika ibunya shock, darah tingginya kumat, dan ...“Nggak nggak. Ibu nggak boleh tau,” ucapnya menyimpulkan. Ia tidak akan memberitahu ibunya. Cukuplah ia yang mengetahui dan mengatasi.Namun, apakah ia juga sanggup untuk menghadapi kelakuan Sinta dengan suaminya itu seorang diri?Astaga! Bening benar-benar dibuat bingung oleh keadaan. Ia akan meminta penjelasan langsung kepada Cakra.Menunggu kepulangan Cakra tiga minggu lagi sungguh membuat Bening kian nestapa. Bukan ka

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-04
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Suara Pria Familiar

    “Jawab, Bee!”Bening menatap Flora dengan ekspresi sulit ditebak. Pertanyaan sahabatnya tadi seperti tamparan yang telak. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Ia sendiri pun bingung. Flora menunggu jawaban dengan tatapan penasaran. Bisa saja Bening menjawab pertanyaan sahabatnya dengan jujur, tetapi tentu itu tidak mungkin.Akhirnya, Bening memutuskan menyahut dengan pertanyaan balik yang berbalut sebuah canda."Pertanyaan aneh. Ya menurutmu buat apa punya suami?" jawabnya santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dalam-dalam.Flora menghela napas. "Nah! Berarti udah disentuh, kan? Wajar aja kalau sewaktu-waktu kamu bisa hamil. Bersuami.”“Kamu tuh harusnya bersyukur, Bee! Hamil itu impian setiap istri, jadi jangan bilang nggak mungkin nggak mungkin terus!"“Nanti dicatat malaikat baru nyahok kamu.”Bening tersenyum tipis, menahan rasa yang menggelayut di dadanya. Bersyukur? Kalau orang lain tahu apa yang ia alami, pasti tidak akan ada yang berkata seperti itu.Sejak pembi

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-10
  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Bening Hamil

    Flora baru saja hendak menata ulang kue-kue yang Bening buat ketika sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Bening yang semula berdiri tegak mendadak limbung, lalu ambruk. Flora terperanjat. Napasnya tercekat sejenak sebelum refleks menerjang ke arah sahabatnya itu.Belum sempat ia menjangkau, dua pelanggan yang baru saja masuk ke gerai lebih dulu bergerak. Salah satu dari mereka, pria bertubuh tinggi dan tegap, langsung menyambut tubuh Bening sebelum kepalanya benar-benar menghantam lantai.“Bening?” gumam pria tersebut, seakan mengenal perempuan yang kini tak sadarkan diri.Flora mengabaikan keheranannya dan buru-buru mengambil minyak kayu putih dari rak. Tangannya bekerja cepat, membalur kaki, pelipis, philtrum, dan leher Bening dengan minyak itu. Dada Bening naik turun pelan, namun tetap tak menunjukkan tanda-tanda sadar. Flora menggigit bibirnya, lalu dengan sedikit ragu, melonggarkan kancing baju bagian atas Bening agar pernapasannya lebih leluasa. Tapi tetap saja, tak ada respo

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-13

บทล่าสุด

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Imbalan Tutup Mulut

    Dayat tersenyum kecil, tidak kaget sama sekali. Justru, pria itu menatap Bening dengan cara yang membuat Bening semakin gelisah—tatapan seperti seseorang yang sudah tahu rahasia sebelum si pemilik rahasia mengungkapkannya."Aku tahu," kata Dayat, nada suaranya ringan.Bening mengerjap. "Apa?"Dayat menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Waktu kamu pingsan di rumah sakit, aku ada di sana. Aku dengar sendiri waktu dokter ngomong soal kehamilanmu."Bening terdiam. Ada sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya."Jadi, aku cuma menunggu kapan kamu akhirnya bakal jujur." Dayat menatapnya lekat, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sulit diterjemahkan.Bening merasa darahnya berdesir. "Kalau kamu udah tahu, kenapa nggak bilang apa-apa?"Bening mengepalkan jemarinya, berusaha menahan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jari. Udara di dalam kafe terasa semakin berat. Di hadapannya, Dayat dud

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Anak Ini ... Anakmu!

    Suara pria di seberang sana terdengar datar, tapi anehnya, seperti telah menunggu panggilan darinya. Hal itu menyalakan sesuatu dalam benak Bening—rasa tak nyaman yang tak bisa ia abaikan. Apakah Dayat benar-benar sudah menduga ia akan menghubunginya?Napas Bening tersengal halus. Bukan karena kelelahan, melainkan karena dadanya terasa sesak. Kata-kata yang ingin ia ucapkan seakan tersangkut di tenggorokan, tapi ia harus mengatakannya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengendalikan getar suaranya sebelum akhirnya bicara."Aku cuma mau bilang terima kasih," katanya, berusaha terdengar tenang. "Sudah nolongin tadi. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku—""Sama-sama."Dayat memotongnya dengan nada santai, seakan sudah bisa menebak apa yang akan ia katakan. Bening terdiam sejenak. Ia menunggu, berharap Dayat akan menambahkan sesuatu, tapi tidak."Nggak perlu dipikirin," lanjut pria itu.Bening menggenggam ponsel lebih erat. Ada sesuatu dalam caranya berbicara—tenang, tapi seolah tidak member

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Bening Hamil

    Flora baru saja hendak menata ulang kue-kue yang Bening buat ketika sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Bening yang semula berdiri tegak mendadak limbung, lalu ambruk. Flora terperanjat. Napasnya tercekat sejenak sebelum refleks menerjang ke arah sahabatnya itu.Belum sempat ia menjangkau, dua pelanggan yang baru saja masuk ke gerai lebih dulu bergerak. Salah satu dari mereka, pria bertubuh tinggi dan tegap, langsung menyambut tubuh Bening sebelum kepalanya benar-benar menghantam lantai.“Bening?” gumam pria tersebut, seakan mengenal perempuan yang kini tak sadarkan diri.Flora mengabaikan keheranannya dan buru-buru mengambil minyak kayu putih dari rak. Tangannya bekerja cepat, membalur kaki, pelipis, philtrum, dan leher Bening dengan minyak itu. Dada Bening naik turun pelan, namun tetap tak menunjukkan tanda-tanda sadar. Flora menggigit bibirnya, lalu dengan sedikit ragu, melonggarkan kancing baju bagian atas Bening agar pernapasannya lebih leluasa. Tapi tetap saja, tak ada respo

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Suara Pria Familiar

    “Jawab, Bee!”Bening menatap Flora dengan ekspresi sulit ditebak. Pertanyaan sahabatnya tadi seperti tamparan yang telak. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Ia sendiri pun bingung. Flora menunggu jawaban dengan tatapan penasaran. Bisa saja Bening menjawab pertanyaan sahabatnya dengan jujur, tetapi tentu itu tidak mungkin.Akhirnya, Bening memutuskan menyahut dengan pertanyaan balik yang berbalut sebuah canda."Pertanyaan aneh. Ya menurutmu buat apa punya suami?" jawabnya santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dalam-dalam.Flora menghela napas. "Nah! Berarti udah disentuh, kan? Wajar aja kalau sewaktu-waktu kamu bisa hamil. Bersuami.”“Kamu tuh harusnya bersyukur, Bee! Hamil itu impian setiap istri, jadi jangan bilang nggak mungkin nggak mungkin terus!"“Nanti dicatat malaikat baru nyahok kamu.”Bening tersenyum tipis, menahan rasa yang menggelayut di dadanya. Bersyukur? Kalau orang lain tahu apa yang ia alami, pasti tidak akan ada yang berkata seperti itu.Sejak pembi

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Terlambat Haid

    Huh!Bening hanya bisa memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam. Kakaknya benar sudah gila. Tidak bisa lagi diingatkan. Justru malah membalikkan keadaan dan seolah tidak bersalah. Susah!“Aku harus gimana, Ya Allah?” Menahan hati yang terluka, Bening beranjak dari tempat.Yang dialaminya itu persis buah simalakama. Ia yang jadi korban dan ia yang tertekan. Sakit hati kini bagaikan melayang. Hendak mengadu kepada sang ibu pun percuma, Sinta pasti sudah mempersiapkan jawaban. Dan Bening pun tak bisa membayangkan jika ibunya shock, darah tingginya kumat, dan ...“Nggak nggak. Ibu nggak boleh tau,” ucapnya menyimpulkan. Ia tidak akan memberitahu ibunya. Cukuplah ia yang mengetahui dan mengatasi.Namun, apakah ia juga sanggup untuk menghadapi kelakuan Sinta dengan suaminya itu seorang diri?Astaga! Bening benar-benar dibuat bingung oleh keadaan. Ia akan meminta penjelasan langsung kepada Cakra.Menunggu kepulangan Cakra tiga minggu lagi sungguh membuat Bening kian nestapa. Bukan ka

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Ipar Penggoda

    “Bener-bener ya kamu, Mbak.”Seraya menggerutu, jari Bening sudah mendial nomor Sinta. Tetapi, hingga panggilan ketiga, sama sekali tidak ada jawaban. Seakan Sinta sengaja tak menjawab telepon darinya. Membiarkan Bening larut dalam emosi serta kecemburuan yang membara.Tidak putus asa, kali selanjutnya Bening menelepon Cakra (lagi). Tetapi, nyatanya nomor suaminya itu justru tidak aktif. Membuat Bening kian curiga. Ia gelisah bukan main. Pikirannya meruncing pada simpulan prematur.BAHWA SUAMINYA MEMANG BERKHIANAT!“Ya ampun, Maaaas. Tega banget kamu!” desisnya dengan hati teriris pilu.Tangannya cepat mengetikkan pesan kepada Cakra. Mempertanyakan kesungguhan Cakra yang berjanji untuk setia, yang telah berjanji untuk terus berkabar bahkan setiap menit. Tapi, nyatanya mana? Kenyataannya suaminya itu justru tidak bisa dihubungi kala suasana hati Bening tengah berselimut kabut kecurigaan.“Mana janjimu? Katanya mau ngabarin aku. Katanya nggak bakal biarin aku mikir yang aneh-aneh.”“Jus

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Pesan Sekali Lihat

    Suara Cakra dari seberang itu segera menyadarkan Bening bahwa sambungan telepon masih berlangsung. Buru-buru ia ambil ponsel dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Setelahnya, ia sendiri bingung melontar jawaban.“Iya, Mas?”Terdengar embus napas kasar dari seberang. “Siapa pria barusan? Kamu kenal?” Pertanyaan yang lebih pas untuk disebut sebagai introgasi.Sengaja Bening menarik napas dalam-dalam. Ia berharap bisa menemukan jawaban aman dengan cepat. Tetapi, nyatanya isi kepala sedang bergejolak hingga kosong yang Bening rasakan.“Bening. Malam apa maksudnya?” Cakra terus mengejar jawaban.“Aku nggak ngerti, Mas. Aku juga nggak kenal sama pria itu. Mungkin dia lagi mabok atau gimana,” jawabnya asal.Hening.“Halo, Mas! Mas! Mas Cakra!” Bening sengaja menjauhkan ponsel untuk melihat layar. Masih tersambung.“Aku nggak kenal sama pria barusan. Aku juga kaget kenapa dia ngomong kayak gitu,” imbuh Bening. Ia bingung harus mengatakan apa agar Cakra mempercayai kalimatnya.“Kamu

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   'Malam Itu' Tak Terlupa

    “K-kamu!”Napas Bening seperti tersendat di tenggorokan. Tidak pernah ia bayangkan akan kembali bertemu dengan pria tersebut. Meski malam itu kesadaran tak sepenuhnya ia miliki, tetapi masih ada sisa ingatan tentang siapa pria yang kini berdiri tak jauh darinya.Pria dengan setelan jas rapi itu masih berdiri di tempatnya. Tanpa membuka mulut dan hanya menatap lurus ke arahnya dengan dingin.Bening menarik napas dalam. “Tenang, Bening! Tenaaang!” batinnya.Ia menenangkan diri sendiri meski pikiran dan hatinya telah luar biasa berkecamuk. Dalam embusan napas yang pelan ia terus meyakinkan diri bahwa pria itu hanya kebetulan datang, mungkin hendak membeli kue, dan semuanya akan seperti sedia kala. Baik-baik saja.Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan!Pria itu hanyalah masa lalu. Kesalahan semalam. Tak kurang. Tak lebih.Sekali lagi, Bening menarik napas lalu tersenyum. “Ada. Cokelat di sini memang premium. Dipastikan kualitasnya!”“Jadi, nggak bakalan bikin gangguan di tenggorokan ataupun

  • Suami Khianat, Terbitlah Bos Dayat   Pria Tak Asing

    “Terima kasih, Kak! Ditunggu kedatangannya lagi, yaaa!”Suara Flora amatlah merdu memanjakan konsumen. Tetapi, hanya seperti angin lalu bagi Bening yang telah lebih dulu larut merapikan display rak kuenya.Suasana gerai kembali lengang setelah beberapa gerombol anak muda berbondong membeli Korean Cream Cake. Demi membunuh sepi, tangan Bening cekatan merapikan tatanan. Meski yang sebenarnya sedang berserakan adalah pikirannya.Sebentar lagi langit bersulam warna ungu, tetapi tiga panggilannya kepada Cakra tak diangkat. Suaminya itu juga belum berkirim pesan setelah terakhir pagi tadi.Sebagai perempuan yang baru saja menikah, tentu hati Bening resah. Terlebih mengingat bahwa di usia pernikahannya yang belum genap seminggu sudah diwarna noktah, kian menjadikan Bening banyak pikiran.Suara pintu gerai yang terbuka pun tak menghentikan Bening dengan lamunannya yang kian variatif.“Kak, Cromboloni isi cokelat masih?”Bening tak menyahut karena telinganya sedang tertutup lamunan.“Kakaaaak.

สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status