Share

03. Candu

Author: azura_sky
last update Last Updated: 2023-08-16 01:04:33

"Silakan masuk," ucap Mario seraya membuka pintu sebuah unit apartemen.

Dengan dua koper di tangannya, Jihan pun memasuki hunian tersebut. Sebuah unit apartemen tipe studio akan Jihan tempati selama beberapa bulan ke depan. Tadinya ia ditawari untuk tinggal bersama Mario, tapi setelah dipikirkan kembali, hal tersebut bisa saja mendatangkan masalah dikemudian hari. Oleh sebab itu, Mario memilih menyewa sebuah unit apartemen yang masih satu lingkungan dengan hunian miliknya.

"Om, beneran aku boleh tinggal disini?" tanya Jihan.

Mario yang baru saja menutup pintu pun lantas menempatkan tubuhnya di sebuah sofa pun menjawab, "tentu saja. Kamu bilang tetangga kosanmu pada rese, kan?"

Jihan menggangguk. "Iya, Om. Aku tinggal di sini sampai kontrak kita berakhir, habis itu aku cari kosan baru, kok."

"Oke," jawab Mario singkat.

Jihan menyimpan kedua kopernya di sisi tempat tidur. Tiba-tiba Mario memeluknya dari belakang. Dia pun berbisik di telinga Jihan dengan deep voice khas miliknya.

"Want to play with me?"

Jihan membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir lembut milik Mario. "Tentu saja aku mau, Om," balasnya.

Mario tersenyum. Ia mulai membuka setiap kancing di kemeja yang dikenakannya. Bergelut dengan sesuatu yang sudah terasa sesak di bawah sana, membuatnya tak sabaran untuk segera bermain bersama Jihan.

Jihan pun duduk di tepi tempat tidur. Ia menyaksikan bagaimana Mario melepaskan pakaian yang ia kenakan. Wanita itu tengah berpikir bahwa sebenarnya Mario sudah pandai dalam urusan ranjang, tak perlu baginya untuk mengajarkannya lagi. Hanya saja ada perasaan bahwa Jihan pun mulai merasa candu menikmati permainan tersebut bersama pria berusia matang tersebut.

Ini pun terbilang masih awal. Baru seminggu dan tidak mungkin Jihan melepaskan Mario begitu saja. Pria itu sumber uang dan kenikmatan baginya. Terlebih pacar Jihan yang sekarang berjauhan dengannya tentu membuat wanita itu tidak dapat melakukan pelepasan.

Tidak mungkin jika dia harus melakukan itu dengan pria sembarangan di luaran sana, bukan?

Suara keduanya pun terdengar saling bersahutan. Begitupun dengan decitan ranjang yang beradu dengan dinding, seolah musik yang mengiringi gerakan mereka. Keringat mulai bercucuran, walau pendingin di ruangan itu sudah menyala sejak tadi. Terasa panas dan membara, membawa sensasi yang membuat keduanya begitu menikmati kegiatan tersebut.

***

Jihan terlelap dengan berselimutkan hingga menutupi bagian dada hingga kakinya. Ia belum berpakaian, hanya sempat pergi ke kamar mandi untuk sekadar bersih-bersih. Sementara itu, Mario sudah pergi. Ia harus pulang ke kediaman orang tuanya karena ada hal yang akan mereka sampaikan.

Mobil mewah milik Mario pun melaju menelusuri jalanan kota. Sedikit macet karena memang ia keluar di jam pulang kantor. Hal biasa yang terjadi di kota besar, sehingga Mario tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Suasana hatinya sedang baik setelah mendapatkan 'jatahnya' dari Jihan.

Beberapa menit berlalu hingga akhirnya mobil Mario berhenti di carport kediaman orang tuanya. Pria itu turun dari kendaraan yang ia kemudikan sendiri, lalu segera memasuki rumah. Orang tuanya sudah menunggu di ruang keluarga.

"Papi, Mario datang!" Nyonya Citra menunjuk ke arah Mario yang tengah berjalan ke arah mereka.

"Akhirnya anak itu datang juga, Papi pikir dia lupa alamat rumah kita," ucap Tuan Mahendra, papi Mario.

Mario langsung memeluk bergiliran kedua orang tuanya, setelah itu baru ia bisa duduk di sebelah maminya.

"Mana mungkin aku lupa alamat rumahku sendiri, Pi? Biasalah macet, jam pulang kantor, jalanan jadi rame," kata Mario.

"Bi, bawakan teh untuk Mario!" Nyonya Citra memanggil asisten rumah tangganya agar segera menjamu putra kesayangannya itu.

"Lupakan dulu urusan teh, jadi ada apa kalian meminta aku buat pulang?" tanya Mario yang langsung ke intinya.

"Begini, Papi ada undangan untuk menghadiri acara peluncuran sebuah mobil di Jerman. Acaranya bentrok dengan jadwal kontrol Papi ke rumah sakit di Singapura. Apa kamu bisa gantikan Papi? Kalau kamu mau, kesempatan itu bisa kamu pakai untuk bertemu Marisa juga. Belanda dan Jerman tidak begitu jauh," ungkap Tuan Mahendra.

"Ya, memang nggak begitu jauh. Cuma belum waktunya kita bertemu. Ada beberapa bulan lagi sampai aku sama dia dipertemukan, bukan?" tanya Mario.

"Memang betul, tapi 'kan nggak ada salahnya kalian bertemu. Mumpung jarak kalian nggak begitu berjauhan nantinya, gitu loh maksud Papimu, Rio," kata Nyonya Citra.

"Gimana nanti saja, deh. Jadi kapan acaranya? Aku juga paling ajak beberapa stafku, supaya mereka bisa banyak belajar dari perusahaan otomotif besar di luar sana,"

"Empat hari lagi. Nanti kamu bawa pulang undangannya, habis itu terserah kamu mau bawa berapa orangmu ke sana, yang jelas jangan terlalu banyak atau pengeluaran kantor akan cukup besar nantinya," tutur Tuan Mahendra.

Mario tersenyum tipis seraya mengangguk. Ia sudah berpikiran untuk mengajak Jihan ke Jerman. Pasti wanita itu akan senang, begitupun dengan dirinya yang akan merasa perjalanan itu akan terasa lebih menyenangkan nantinya.

***

Jihan tengah mengobrol bersama salah satu teman dari tempat ia bekerja dulu. Mereka memang cukup dekat dan teman inilah yang menyarankan Jihan untuk mendaftar akun di aplikasi kencan online waktu itu. Atas saran dari temannya, Jihan pun akhirnya bekerja sama dengan Mario.

"Hebat banget kamu, nggak nyangka aku bisa langsung dapat om-om tajir begitu," ucapnya di ujung telepon.

Jihan pun tertawa kecil, setelahnya ia pun menjawab, "nggak tahu juga. Aku mikir kalau ini itu penipuan awalnya, pas dia ajak ketemuan, ya sudah aku ajak di tempat ramai saja sekalian. Eh, tahunya beneran. Mana langsung sepakat kerjasama selama tiga bulan lagi."

"Pokoknya aku tunggu traktirannya, ya! Kapanpun itu aku siap sedia, kok," timpal Hana, teman Jihan.

"Malam ini mau? Mau makan, karokean atau ke klub? Aku yang bayarin," ajak Jihan sambil menawarkan beberapa pilihan kepada Hana.

"Klub, yuk! Mau cari Sugar Daddy kayak kamu, siapa tahu dapet gara-gara jalannya sama kamu, ketularan hoki gitu akunya," jawab Hana dengan kekehannya.

"Oke, ketemu di Sky Star jam 11 malam ini, ya! Jangan dulu masuk, nanti kita barengan, kita ketemu di basement saja," pesan Jihan.

"Siap! Aku mau pilih baju dulu kalau begitu. Bye, Jihan!" Hana yang sangat antusias pun langsung mengakhiri percakapan mereka secara sepihak, hingga membuat Jihan hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

Mario berada di unit apartemen miliknya. Gedung apartemen yang ia tempati masih satu kawasan dengan gedung Jihan sebenarnya. Hanya saja jika miliknya ada di deretan depan, berbeda dengan milik Jihan yang lebih belakang.

Pria itu tengah menyesap rokok miliknya. Dengan balkon yang terbuka, ia duduk santai sambil menikmati semilir angin dan pemandangan gedung pencakar langit lainnya yang terhiasi oleh cahaya lampu. Pikirannya kini membayangkan sosok Jihan tengah menggunakan pakaian tidur berbahan satin dengan brokat di setiap ujungnya.

"Ah, sial! Aku benar-benar harus menemuinya lagi!"

Related chapters

  • Skandal Sang CEO Dingin   04. Sugar Baby

    Jihan membantu mengeringkan rambut Mario yang basah. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Wanita itu tidak jadi pergi ke klub bersama Hana karena Mario menghubunginya. Jihan mengalah karena dia lebih mengutamakan sugar daddy-nya itu ketimbang teman baiknya. Untung saja Hana dapat mengerti hal itu."Om, mau nginep atau pulang?" tanya Jihan."Aku numpang tidur sampai matahari terbit, habis itu aku pulang soalnya harus pergi kerja juga. Kalau kamu nggak nyaman berbagi tempat tidur, aku bisa kok tidur di sofa," jawab Mario."Ya, nggak gitu juga kali, Om. Tidur saja nggak apa-apa sekasur juga. Nggak apa-apa," sahut Jihan.Mario membalikkan tubuhnya. Dia mengambil hair dryer yang tengah dipegang oleh Jihan. Pria itu pun mematikan alat tersebut dan menyimpannya di atas meja rias."Jihan, kamu mau ikut aku ke Jerman, nggak?" tanya Mario."Jerman? Ngapain, Om? Itu nggak ada di kontrak kita loh, ya! Jangan mendadak rubah-rubah isi kerjasamanya, dong!" protes Jihan."Bukan gitu, aku ada acara d

    Last Updated : 2023-08-20
  • Skandal Sang CEO Dingin   05. Sebuah Peringatan

    Bandar Udara Frankfrurt, Jerman.Setelah melakukan perjalanan jauh dengan dua kali transit di negara yang berbeda, akhirnya Jihan menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Jerman. Wanita itu pun mengalami jet lag. Kepalanya sakit, badannya terasa tidak enak dan perubahan suasana hati yang cukup signifikan.Mario yang paham akan kondisi Jihan tersebut pun lantas meminta Jovan untuk membelikan kopi untuk wanitanya itu. Jovan yang tidak dapat membantah perintah dari atasannya itu pun lantas berbelok sebentar ke sebuah coffee shop di bandara. Sembari menunggu kopi datang, Mario pun menunggu koper milik Jihan, Jovan dan dirinya.Pada akhirnya, memang hanya tiga orang itu saja yang pergi ke negeri Hitler tersebut. Jihan menggantikan sekretaris Mario yang memang sengaja tidak pria itu ajak. Wanita itu diliburkan dengan sogokan uang saku agar tutup mulut dari karyawan lain beserta orang tua Mario.Beberapa menit pun berlalu. Koper sudah didapatkan, begitupun dengan kopi yang cukup membantu ko

    Last Updated : 2023-08-22
  • Skandal Sang CEO Dingin   06. Cappuccino

    Jihan dimanjakan dengan keindahan negara Jerman. Saat mobil melaju membawanya menuju Zeil Shopping Center bersama Mario, Jovan dan Alaric sebagai sopir yang menemani mereka. Mario membiarkan Jihan berlama-lama di pusat perbelanjaan tersebut, sedangkan ia dan Jovan akan menemui Gabriel, anak dari pemilik perusahaan yang mengundang orang tuanya untuk datang ke acara tersebut."Pakai ini, beli apapun yang kamu mau, tapi yang pasti harus bisa dibawa saat kita pulang nanti," kata Mario seraya memberikan sebuah Black Card kepada Jihan."Oke," jawab Jihan dengan singkat.Setelah sampai di depan pusat perbelanjaan, Jihan pun turun dengan dibukakan pintu oleh Jovan. Pria itu pun sempat berkata, "kalau nggak bisa bahasanya, gunakan saja penerjemah yang ada di ponsel pintarmu itu, buat dia berguna."Jihan berdecak, lagi-lagi pria itu membuatnya kesal. Entah kenapa Mario justru nyaman berteman dengan pria seperti Jovan. Kalau Jihan menjadi Mario, sudah pasti dia akan segera memecat pria itu dan m

    Last Updated : 2023-09-16
  • Skandal Sang CEO Dingin   01. Open Booking

    "MD203?" Seorang wanita menghampiri salah satu meja di kafe yang ia datangi. Pria yang tengah duduk menunggu seseorang itu pun lantas mendongak. Tak lama dari itu, ia mengangguk dan segera mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk. Sang wanita lantas menempati kursi kosong di hadapan pria itu. "Maaf membuat Anda menunggu lama. Aku pemilik akun Freya07," ucap Wanita tersebut seraya tersenyum manis. "Perkenalkan namamu saja langsung. Kita sudah sepakat untuk bertemu dan mengatakan nama asli kita, bukan?" Sang pria terkesan to the point ingin mengetahui nama asli wanita yang selama seminggu ini bertukar pesan dengannya di sebuah aplikasi kencan online. "Aku Jihan, Om. Sekarang giliran Om perkenalkan nama aslinya, jangan berbohong atau aku akan meminta KTP punya Om," gurau wanita bernama Jihan tersebut. "Namaku Mario. Oke, setelah tahu nama masing-masing, kita bisa langsung membahas hal yang sempat aku tawarkan waktu itu, 'kan?" Mario memang tidak pandai berbasa-basi, ia lebih senan

    Last Updated : 2023-08-05
  • Skandal Sang CEO Dingin   02. Malam Pertama

    Jihan mendumel saking kesalnya karena teman kosan dirinya bergurau dengan mengatakan dia melakukan open booking. Padahal ucapan temannya itu tidak sepenuhnya salah. Jihan melakukan itu, tapi hanya dengan seorang pria. Itu pun karena ia sedang membutuhkan sejumlah uang, kalaupun tidak, mana mungkin ia melakukan hal seburuk itu. Pintu hotel bernomor 234 di hadapan Jihan pun diketuknya. Wanita itu sempat mengatur napas, mengusir rasa kesal yang ada dalam benaknya. Ia berusaha tersenyum kembali. Tak lama, pintu pun terbuka. Mario berdiri di ambang pintu dan memperhatikan Jihan. "Masuk!" Mario pun mengeluarkan perintahnya. Jihan pun masuk lebih dahulu karena Mario memegang pegangan pintu. Pria itu akan segera menutup pintunya setelah Jihan berada di dalam. Pandangan Jihan mengamati setiap sudut ruang kamar mewah tersebut. Pria itu memesan kamar yang mahal dengan segala kenyamanan yang terjamin bagi penghuninya. Mario yang telah menutup pintu pun duduk di sofa. Ia meraih segelas minuman

    Last Updated : 2023-08-10

Latest chapter

  • Skandal Sang CEO Dingin   06. Cappuccino

    Jihan dimanjakan dengan keindahan negara Jerman. Saat mobil melaju membawanya menuju Zeil Shopping Center bersama Mario, Jovan dan Alaric sebagai sopir yang menemani mereka. Mario membiarkan Jihan berlama-lama di pusat perbelanjaan tersebut, sedangkan ia dan Jovan akan menemui Gabriel, anak dari pemilik perusahaan yang mengundang orang tuanya untuk datang ke acara tersebut."Pakai ini, beli apapun yang kamu mau, tapi yang pasti harus bisa dibawa saat kita pulang nanti," kata Mario seraya memberikan sebuah Black Card kepada Jihan."Oke," jawab Jihan dengan singkat.Setelah sampai di depan pusat perbelanjaan, Jihan pun turun dengan dibukakan pintu oleh Jovan. Pria itu pun sempat berkata, "kalau nggak bisa bahasanya, gunakan saja penerjemah yang ada di ponsel pintarmu itu, buat dia berguna."Jihan berdecak, lagi-lagi pria itu membuatnya kesal. Entah kenapa Mario justru nyaman berteman dengan pria seperti Jovan. Kalau Jihan menjadi Mario, sudah pasti dia akan segera memecat pria itu dan m

  • Skandal Sang CEO Dingin   05. Sebuah Peringatan

    Bandar Udara Frankfrurt, Jerman.Setelah melakukan perjalanan jauh dengan dua kali transit di negara yang berbeda, akhirnya Jihan menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Jerman. Wanita itu pun mengalami jet lag. Kepalanya sakit, badannya terasa tidak enak dan perubahan suasana hati yang cukup signifikan.Mario yang paham akan kondisi Jihan tersebut pun lantas meminta Jovan untuk membelikan kopi untuk wanitanya itu. Jovan yang tidak dapat membantah perintah dari atasannya itu pun lantas berbelok sebentar ke sebuah coffee shop di bandara. Sembari menunggu kopi datang, Mario pun menunggu koper milik Jihan, Jovan dan dirinya.Pada akhirnya, memang hanya tiga orang itu saja yang pergi ke negeri Hitler tersebut. Jihan menggantikan sekretaris Mario yang memang sengaja tidak pria itu ajak. Wanita itu diliburkan dengan sogokan uang saku agar tutup mulut dari karyawan lain beserta orang tua Mario.Beberapa menit pun berlalu. Koper sudah didapatkan, begitupun dengan kopi yang cukup membantu ko

  • Skandal Sang CEO Dingin   04. Sugar Baby

    Jihan membantu mengeringkan rambut Mario yang basah. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Wanita itu tidak jadi pergi ke klub bersama Hana karena Mario menghubunginya. Jihan mengalah karena dia lebih mengutamakan sugar daddy-nya itu ketimbang teman baiknya. Untung saja Hana dapat mengerti hal itu."Om, mau nginep atau pulang?" tanya Jihan."Aku numpang tidur sampai matahari terbit, habis itu aku pulang soalnya harus pergi kerja juga. Kalau kamu nggak nyaman berbagi tempat tidur, aku bisa kok tidur di sofa," jawab Mario."Ya, nggak gitu juga kali, Om. Tidur saja nggak apa-apa sekasur juga. Nggak apa-apa," sahut Jihan.Mario membalikkan tubuhnya. Dia mengambil hair dryer yang tengah dipegang oleh Jihan. Pria itu pun mematikan alat tersebut dan menyimpannya di atas meja rias."Jihan, kamu mau ikut aku ke Jerman, nggak?" tanya Mario."Jerman? Ngapain, Om? Itu nggak ada di kontrak kita loh, ya! Jangan mendadak rubah-rubah isi kerjasamanya, dong!" protes Jihan."Bukan gitu, aku ada acara d

  • Skandal Sang CEO Dingin   03. Candu

    "Silakan masuk," ucap Mario seraya membuka pintu sebuah unit apartemen. Dengan dua koper di tangannya, Jihan pun memasuki hunian tersebut. Sebuah unit apartemen tipe studio akan Jihan tempati selama beberapa bulan ke depan. Tadinya ia ditawari untuk tinggal bersama Mario, tapi setelah dipikirkan kembali, hal tersebut bisa saja mendatangkan masalah dikemudian hari. Oleh sebab itu, Mario memilih menyewa sebuah unit apartemen yang masih satu lingkungan dengan hunian miliknya. "Om, beneran aku boleh tinggal disini?" tanya Jihan. Mario yang baru saja menutup pintu pun lantas menempatkan tubuhnya di sebuah sofa pun menjawab, "tentu saja. Kamu bilang tetangga kosanmu pada rese, kan?"Jihan menggangguk. "Iya, Om. Aku tinggal di sini sampai kontrak kita berakhir, habis itu aku cari kosan baru, kok.""Oke," jawab Mario singkat. Jihan menyimpan kedua kopernya di sisi tempat tidur. Tiba-tiba Mario memeluknya dari belakang. Dia pun berbisik di telinga Jihan dengan deep voice khas miliknya.

  • Skandal Sang CEO Dingin   02. Malam Pertama

    Jihan mendumel saking kesalnya karena teman kosan dirinya bergurau dengan mengatakan dia melakukan open booking. Padahal ucapan temannya itu tidak sepenuhnya salah. Jihan melakukan itu, tapi hanya dengan seorang pria. Itu pun karena ia sedang membutuhkan sejumlah uang, kalaupun tidak, mana mungkin ia melakukan hal seburuk itu. Pintu hotel bernomor 234 di hadapan Jihan pun diketuknya. Wanita itu sempat mengatur napas, mengusir rasa kesal yang ada dalam benaknya. Ia berusaha tersenyum kembali. Tak lama, pintu pun terbuka. Mario berdiri di ambang pintu dan memperhatikan Jihan. "Masuk!" Mario pun mengeluarkan perintahnya. Jihan pun masuk lebih dahulu karena Mario memegang pegangan pintu. Pria itu akan segera menutup pintunya setelah Jihan berada di dalam. Pandangan Jihan mengamati setiap sudut ruang kamar mewah tersebut. Pria itu memesan kamar yang mahal dengan segala kenyamanan yang terjamin bagi penghuninya. Mario yang telah menutup pintu pun duduk di sofa. Ia meraih segelas minuman

  • Skandal Sang CEO Dingin   01. Open Booking

    "MD203?" Seorang wanita menghampiri salah satu meja di kafe yang ia datangi. Pria yang tengah duduk menunggu seseorang itu pun lantas mendongak. Tak lama dari itu, ia mengangguk dan segera mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk. Sang wanita lantas menempati kursi kosong di hadapan pria itu. "Maaf membuat Anda menunggu lama. Aku pemilik akun Freya07," ucap Wanita tersebut seraya tersenyum manis. "Perkenalkan namamu saja langsung. Kita sudah sepakat untuk bertemu dan mengatakan nama asli kita, bukan?" Sang pria terkesan to the point ingin mengetahui nama asli wanita yang selama seminggu ini bertukar pesan dengannya di sebuah aplikasi kencan online. "Aku Jihan, Om. Sekarang giliran Om perkenalkan nama aslinya, jangan berbohong atau aku akan meminta KTP punya Om," gurau wanita bernama Jihan tersebut. "Namaku Mario. Oke, setelah tahu nama masing-masing, kita bisa langsung membahas hal yang sempat aku tawarkan waktu itu, 'kan?" Mario memang tidak pandai berbasa-basi, ia lebih senan

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status