Share

Morning Sick

Author: Si Nicegirl
last update Last Updated: 2025-04-01 22:23:37

"Bagaimana terapinya?" tanya Edzhar ketika Halwa sudah keluar dari ruang konseling.

"Berjalan dengan lancar, Tuan." jawab Halwa pelan.

Terapinya tidak jauh berbeda dengan yang pernah ia jalani saat di Spanyol bersama dengan Victor, entah terapi ini akan berhasil atau tidak? Secara ia sekarang tinggal dengan sumber dari segala ketakutannya itu, Edzhar.

Tapi pria itu kini sudah sedikit berubah, dia tidak terlihat bengis lagi seperti biasanya, kini Edzhar terlihat seperti saat pertama kali Halwa melihatnya, tampan dengan aura yang terlihat berbeda dari yang lainnya.

"Berhenti memanggilku Tuan lagi! Mulai sekarang kau bisa memanggil namaku saja," ujar Edzhar sambil mengulurkan lengannya ke Halwa.

Halwa tahu, itu merupakan kode darinya agar Halwa merangkul lengannya itu. Takut pria itu marah kalau Halwa menolaknya, ia langsung melingkarkan lengannya di lengan Edzhar.

"Apa kau menginginkan makanan tertentu?" tanya Edzhar.

"Maksudmu ngidam? Tidak, aku tidak merasakannya," jawab Halwa, ia me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Edzhar's Birthday

    Edzhar bersandar santai di sofa kulitnya di ruang kerjanya, sambil terus melihat sweater rajut yang sedang ia pegang di tangan kanannya, dan kartu ucapan ulang tahun di tangan kirinya.'Happy Birthday, Ed. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, jadi aku hanya berharap semua doa yang terbaik untukmu. Maaf, aku hanya bisa memberikan sweater ini untukmu, memang tidak seberapa harganya, tapi aku merajutnya sendiri untukmu, jadi kamu tidak perlu takut ada yang memakai sweater yang sama denganmu saat di jalan, hehehe, Halwa.'Untuk kesekian kalinya Edzhar membaca tulisan tangan Halwa yang terlihat tegas dan berkarakter itu. Dulu, saat pertama kalinya membaca surat ini, Edzhar tidak berhenti tersenyum. Dan sejak saat itu, ia selalu ingin bertemu dengan wanita itu. Entah karena kado pemberiannya yang beda dengan yang lainnya ini, atau karena kata-kata Tita saat itu, tentang Halwa yang tergila-gila padanya.Edzhar kembali mengalihkan perhatiannya ke sweate

    Last Updated : 2025-04-02
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Melankolis

    Seperti seekor singa yang berada di dalam kandang, Edzhar bergerak mondar-mandir, sesekali ia menghela napas berat sambil melirik ke arah pintu yang masih tertutup, tempat dokter dan perawat sedang melakukan pemeriksaan pada Halwa."Kenapa mereka lama sekali?!" gerutu Edzhar untuk kesekian kalinya, dan Yas kembali menjawab,"Sabar, Tuan. Biarkan mereka melakukan penanganan yang tepat untuk Nona Halwa.""Ya, tapi ini sudah hampir satu jam! Kenapa bisa selama itu?"Yas baru akan menjawab Edzhar ketika pintu terbuka, lalu dokter Emira berdiri di ambang pintu, dan Edzhar bergegas menghampirinya."Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanyanya."Syukurlah tidak ada yang serius dengan kehamilannya," jawab dokter Emira."Lalu kenapa dia bisa pingsan?" "Kemungkinan pengaruh dari hormon Kehamilannya yang mengalami perubahan dengan sangat cepat, mengingat Nona Halwa bukan hanya mengandung satu janin, tapi dua! Perubahan ho

    Last Updated : 2025-04-02
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Cinta Dapat Membuat Waktu Terlewati

    Edzhar menggandeng Halwa saat memasuki rumah, yang dengan enggan dibiarkan Halwa, karena ia terlalu takut untuk menepis tangan pria itu.Pandangan matanya menatap tangga spiral putar yang menjadi titik utama dekorasi rumah minimalis modern ini, yang seharusnya mereka naiki saat akan menuju ke kamar mereka, tapi ternyata Edzhar melewatinya.Ia bahkan melewati ruang keluarga yang sangat luas itu untuk menuju dapur yang berada di bagian belakang rumah, dengan pencahayaan yang natural, dan menghadap langsung ke area kolam renang.Sekali lagi, Halwa terlalu takut untuk bertanya kenapa Edzhar membawanya ke area dapur, alih-alih membiarkan Halwa beristirahat di kamar mereka, sesuai dengan anjuran dokter Emira itu.Dan saat Halwa melihat sosok yang tengah berdiri di depan kitchen set, sosok yang tengah sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan untuk diolah menjadi makan malam mereka, punggung Halwa seolah-olah menegang.Tatapan tidak percaya Halwa beralih dari sosok wanita itu ke Edzhar, samb

    Last Updated : 2025-04-02
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Time After Time

    Pelan-pelan Halwa membuka pintu kamarnya, dan dengan sama pelannya juga ia melangkah masuk ke dalamnya, seolah-olah takut kalau ia membuat keributan sedikit saja, Edzhar akan kembali murka. Edzhar sedang asik membaca buku di sudut ruangan, di samping dinding kaca termal yang besar, yang menyuguhkan pemandangan area belakang rumah, yang juga menjadi tempat favorit Halwa di kamar ini.Sambil menyatukan kedua tangannya di depan badannya, Halwa menundukkan kepalanya saat berdiri di depan pria itu, jantungnya berpacu dengan cepat saat ia menguatkan dirinya untuk menyampaikan keinginannya pada pria itu."Bi ... Bisa minta waktunya sebentar?" tanya Halwa ragu-ragu.Edzhar langsung menutup bukunya, dan meletakkannya kembali di atas meja."Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya."Hmmm, apa benar kamu mengizinkan Mamaku untuk tinggal di rumah ini selama dua hari?" "Ya.""Apa boleh selama dua malam ini aku tidur bersama dengan Mama?" tanyanya lagi.Tanpa sadar Halwa menggigit bibir bawah

    Last Updated : 2025-04-02
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Relung Hati Yang Terdalam

    Malam harinya, Edzhar terbangun karena gerakan gelisah Halwa, wanita itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, hingga Edzhar mendekatkan telinganya ke arah Halwa, tapi tetap saja entah apa yang sedang diracaukan istrinya itu, Edzhar tidak dapat menangkapnya dengan jelas.Edzhar kembali menarik selimut Halwa yang turun karena gerakan kakinya itu, lalu memeluk wanita yang tengah memunggunginya itu, sambil menggumamkan kata-kata lembut untuk menenangkannya."Tidurlah, Aşkım. Aku akan terus memelukmu seperti ini sampai kamu merasa tenang," bisik Edzhar lembut sambil mengecup puncak kepala Halwa.Edzhar menyurukkan kepalanya ke rambut lebat Halwa, ia menikmati halus dan wanginya rambut istrinya itu. "Aku rela terbangun setiap malam, demi bisa mengusir semua mimpi burukmu itu, Aşkım. Aku yang telah menyebabkanmu menderita seperti ini, maka biarkan aku juga mengobati hatimu yang terluka. Karena aku mencintaimu, aku begitu mencintaimu hingga aku merasa

    Last Updated : 2025-04-03
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   A Light and Water Show

    'Maafkan aku, Aşkım. Aku akan membayar semua kesalahanku padamu seumur hidupku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, karena aku begitu mencintaimu.'Kata-kata Edzhar semalam terus-menerus terngiang di telinga Halwa. Ia melirik pria yang kini sedang duduk santai di seberangnya, sambil menikmati sarapan pagi buatan mama. Mereka hanya makan berdua saja di meja itu, sama-sama menempati ujung meja.Hari ini sepertinya Edzhar tidak berangkat ke kantornya, karena pria itu hanya mengenakan kaos polo. Terlihat sederhana, tapi justru membuatnya terlihat lebih maskulin lagi, kerena menampakkan lengannya yang terlihat kuat itu.Tapi ... Apapun yang Edzhar kenakan, pria itu akan selalu terlihat memukau. Karena keelokannya terlekat pada diri pria itu sendiri, bukan dari caranya berpakaian. Bahkan jika bahunya yang kokoh itu hanya dibalut dengan karung goni sekalipun, pria itu akan tetap terlihat layaknya pria necis lainnya. Dan fakta itu semakin membuat perut H

    Last Updated : 2025-04-03
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Mencuri Perhatiannya

    Halwa sedang berbincang-bincang di halaman belakang dengan mamanya, sambil merangkai bunga mawar yang sudah ia pilih untuk ia letakkan di kamarnya, karena ia sangat menyukai bunga itu."Aku ingin sekali melihat mawar hitam, Ma. Tapi sayang, mawar itu hanya dapat tumbuh di Halfeti," desah Halwa sambil mencium salah satu mawar yang tengah ia pegang itu."Aira, jangan-jangan kamu sedang ngidam! Kamu ngidam mau melihat dan mencium mawar hitam," tebak mama, dan Halwa langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar."Mana ada ngidam aneh seperti itu, Ma? Mama ada-ada saja," kekeh Halwa."Aira, ngidam itu memang tidak bisa di prediksi dan tidak bisa direncanakan! Mama pernah dengar ada yang ngidam gigit telinga mantan pacarnya, di depan suaminya! Lebih aneh dari ngidam kamu kan?" "Tidak, Ma. Aku memang ingin melihat mawar hitam itu sejak dulu, bahkan sejak aku SMA. Aku ingin melihatnya langsung dari pohonnya, bukan mawar hitam yang suda

    Last Updated : 2025-04-03
  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Kesempatan Kedua

    Halwa segera menempelkan ibu jarinya dan seketika itu juga pintu ruang kerja Edzhar terbuka, pria itu nyaris melompat dari kursinya saat melihat Halwa masuk sambil membawa nampan berisi kopi panas dan juga cemilan, hingga dalam sekejap pria itu sudah berada di depannya, dan langsung memindahkan nampan itu ke tangannya."Apa yang sedang kamu lakukan? Perutku seperti turun ke lantai saat melihatmu membawa kopi panas ini, Wa! Bagaimana kalau kamu tersiram? Apa tidak ada pelayan yang membantumu? Aku akan memecat semuanya!!" cecar Edzhar, Halwa hanya ternganga melihat suaminya yang terlihat panik itu."Ed, tenanglah Ed. Jangan salahkan mereka, aku yang ingin membawanya sendiri ke sini, mereka mau membantuku, tapi akunya yang tidak mau, Ed!" jelas Halwa, ia merasa tidak enak kalau para pelayan mendapatkan hukuman karenanya.Masih tetap memegang nampan dengan motif Tulip Ustmani yang sama dengan cangkirnya itu, Edzhar mengerutkan keningnya sebelum bertanya,

    Last Updated : 2025-04-03

Latest chapter

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Serangan Fajar

    Dua bulan kemudian.Dengan pelan Halwa membangunkan Edzhar, pria itu terlambat bangun karena hampir semalaman berkutat dengan pekerjaannya, karena terdapat sedikit masalah pada perusahaannya itu."Ed, Bangun Ed. Bukannya kamu harus ke kantor hari ini?" seru Halwa."Aku masih ngantuk sekali, Aşkım.""Lawan kantuknya, Ed. Sekarang kamu mandi dan bersiap-siap saja ya, biar aku bawakan sarapan pagimu ke kamar," ujar Halwa, baru saja ia berdiri tapi Edzhar sudah menarik lengannya hingga Halwa jatuh di atas tu6uhnya."Ed!" pekik Halwa."Pagi-pagi sekali kamu sudah serepot ini, Aşkım. Lebih baik kita kembali tidur lagi," gumamnya dengan kedua mata yang masih terpejam."Ed! Kamu yang memintaku untuk membangunkanmu sepagi ini! Sekarang ayo cepat bangun,"Edzhar membuka sebelah matanya hanya untuk melirik jam di dinding, "Masih tersisa satu jam lagi, cukup untuk aku memakanmu terlebih dahulu," ujarnya sebelum menarik kep

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Mawar Hitam

    Sudah lebih dari lima hari mereka berada di Istanbul, dan Halwa masih saja bersikap dingin padanya, sejak bertemu dengan orang tua Tita itu. Halwa tidak bicara kalau bukan Edzhar yang memulainya, tidak ada senyum lagi yang terukir di wajah cantiknya. Secara keseluruhan, Halwa seperti kembali ke saat pertama kali Edzhar membawanya ke rumah Anne. Ia sangat menyesali pertemuan mereka dengan orang tua Tita, yang menyebabkan istrinya kembali lagi seperti ini, padahal sebelumnya hubungan mereka sudah baik-baik saja. Halwa sudah banyak tersenyum, serta lebih banyak lagi tawa serta canda mereka, dan semuanya menghilang dalam satu malam. Saat ini, entah apa yang tengah berada di dalam pikiran Halwa, wanita itu tengah berbaring miring memunggunginya. Edzhar tahu Halwa belum tidur, karena sesekali terdengar helaan nafas panjang istrinya itu. "Wa ... " "Hmmm." "Sebelum kita kembali ke Jakarta, aku ingin me

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Best Momment in the Flower Dome

    "Bukan, bukan aku ... " terdengar rintihan lirih dari mulut Halwah, membuat Edzhar terjaga dari tidurnya.Ia yang tengah menunggu Halwa sadar, ternyata tertidur di sisi Halwa, dengan telapak tangan yang dikaitkan erat ke telapak tangan istrinya itu, yang kini meremas telapak tangan Edzhar dengan erat hingga Edzhar sedikit meringis.Edzhar mencondongkan dirinya ke Halwa, sebelah tangannya yang bebas mengusap lembut pipinya, "Aşkım, apa kamu sudah sadar?" Halwa tetap tidak membuka matanya, meski keningnya mengkerut dalam, yang berarti ia tengah bermimpi buruk lagi.Edzhar merasakan tikaman penyesalan di dadanya, karena sekali lagi ia menyebabkan istrinya itu kembali mengalami mimpi buruknya. Ia mengelus lembut dahi hingga ke puncak kepala Halwa, sebelum mendaratkan ciumannya ke dahinya itu."Sudah hampir dua belas jam kamu belum juga sadarkan diri, Wa. Bangun Aşkım."Hanya leguhan-leguhan kecil saja yang keluar dari mulut Halwa,

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Jangan Pernah Menyakitinya Lagi!

    Napass Halwa tercekat, ia menangkup mulutnya dan menatap punggung Edzhar dengan tatapan tidak percaya. Berarti suaminya itu masih berpikiran kalau Halwalah penyebab kematian Tita, dan ia merasakan sakit yang menusuk di dadanya, sakit karena Edzhar masih juga tidak mempercayainya."Aku bukan pembunuh ... " desahnya sebelum menyerah pada kabut gelap yang menariknya ke alam bawah sadarnya, dan Victor menangkap badan Halwa saat jatuh pingsan."Halwa!" pekik Azalea membuat Edzhar balik badan, dan melihat Victor yang sudah membopong Halwa dan membawanya keluar dari tempat itu.Azalea, Andre, dan teman-teman yang lainnya mengikuti di belakang mereka, menyisakan Edzhar, Aaron dan Clare saja yang masih berhadapan dengan kedua orang tua Tita itu.Tapi rasa khawatir yang teramat sangat pada istrinya itu, membuat Edzhar berniat mengejar mereka. Tapi baru satu langkah Edzhar ingin menyusul mereka, tangan om Bara menahannya,"Mau ke mana? Melihat istri

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Bertemu Orangtua Tita

    "Kali ini aku mengalah karena Aira sendiri yang memilih untuk terus bersamamu, meski aku tahu itu ia lakukan demi menyelamatkan orang tuanya! Tapi sekali lagi kau mengecewakannya, aku tidak akan segan-segan merebutnya kembali darimu!! Dan jangan pernah berharap saat itu aku akan bersikap mengalah seperti saat ini!! Camkan kata-kataku itu baik-baik, Ed!!" tegas Victor dengan tetap membelakangi Edzhar.Kata-kata yang Victor lontarkan tadi terus-menerus terngiang-ngiang di telinga Edzhar, hingga tanpa sadar pria itu terlihat melamun di tengah canda gurau teman-temannya itu."Ed ... " panggil Halwa sambil menyentuh lembut lengan suaminya itu."Ya, Aşkım?" tanya Edzhar lembut."Kenapa diam saja? Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Halwa."Sepertinya iya, bagaimana kalau kita pulang duluan saja? Kamu juga harus istirahat demi anak kita," sarannya dan Halwa menganggukkan kepalanya.Ini kesempatannya untuk segera menjauhkan Halwa da

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Pertemuan Kembali

    Azalea mengalihkan perhatiannya dari Halwa ke Edzhar, "Kamu memperlakukannya dengan baik, kan?!" tanyanya sambil menyipitkan kedua matanya."Oh, tentu saja," jawabnya santai.Edzhar kembali merangkul pinggang Halwa, dan menariknya dengan gerakan posesif hingga semakin merapat padanya, bukan karena ingin menegaskan pada Azalea, tapi karena dari sudut matanya, ia melihat Victor yang sedang melangkah mendekati mereka."Lea, Andre mencarimu," ucap Victor pada Azalea, meski kedua matanya menatap bolak-balik ke Halwa dan Edzhar."Andre? Bukankah dia tadi sedang ke kamar kecil?" Tanyanya, Victor hanya menjawabnya dengan menaikkan bahunya."Andre?" tanya Halwa."Ah, sahabat yang pernah aku ceritakan padamu itu, Wa. Yang ingin aku jodohkan padamu dulu. Tapi sepertinya tidak perlu, karena sekarang kamu sudah menjadi istri Edzhar, dan Andre sudah menjadi kekasihku. Aku cari Andre dulu ya, nanti aku kenalkan dia pada kalian!" jelas Azalea se

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   First Time

    Pagi itu, Halwa sedang memasak sesuatu di dapur untuk sarapan paginya dan juga Edzhar ketika ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya, disusul dengan dagu seseorang yang bersandar manja di bahunya, yang sudah pasti orang itu adalah suaminya, Edzhar."Kamu masak apa?" tanya pria itu dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur."Aku tidak bisa masak yang rumit, jadi ayam goreng saja yaa, Mama sudah mengungkepnya untuk kita, jadi aku tinggal menggorengnya," jawab Halwa.Sudah satu minggu mereka di Jakarta, dan kini tengah berada di Apartment Edzhar. Dan baru satu hari Halwa bermalam di Apartment ini, setelah sebelumnya mereka bermalam di rumah mama dan papa."Kenapa kamu matikan kompornya?" protes Halwa saat Edzhar mengulurkan tangannya untuk mematikan kompor listrik yang tengah Halwa gunakan itu.Alih-alih menjawab, Edzhar malah memutar badan Halwa ke arahnya, dan langsung mendaratkan ciuman ke bibirnya. Awalnya Halwa mere

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Agreement

    Dua minggu kemudian.Sinar matahari pagi sudah menembus masuk ke dalam kamar, tapi Halwa dan Edzhar masih enggan untuk meninggalkan tempat tidur mereka. Edzhar masih memeluk Halwa dari belakangnya, dan Halwa membiarkannya. Sudah lama mereka saling diam dengan posisi seperti itu, dan itu adalah rutinitas pagi mereka setiap harinya.Dan setiap itu juga Halwa memikirkan nasehat mamanya tentang hubungannya dengan Edzhar. Mungkin tidak ada salahnya ia menuruti nasehat mamanya itu, dengan memberikan kesempatan kedua pada pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.Dua minggu setelah mama kembali ke rumah tahanannya, Edzhar tidak sekalipun mencuri ciuman itu darinya lagi, pria itu benar-benar telah menepati janjinya pada Halwa."Eughh!" Halwa memekik pelan sambil memegang perutnya, membuat Edzhar seketika itu juga terduduk sambil menatap penuh khawatir ke wajah Halwa,"Ada apa?" tanyanya.Halwa berbalik terlentang sekarang, sam

  • Jerat Ambisi Penguasa Kejam   Kesempatan Kedua

    Halwa segera menempelkan ibu jarinya dan seketika itu juga pintu ruang kerja Edzhar terbuka, pria itu nyaris melompat dari kursinya saat melihat Halwa masuk sambil membawa nampan berisi kopi panas dan juga cemilan, hingga dalam sekejap pria itu sudah berada di depannya, dan langsung memindahkan nampan itu ke tangannya."Apa yang sedang kamu lakukan? Perutku seperti turun ke lantai saat melihatmu membawa kopi panas ini, Wa! Bagaimana kalau kamu tersiram? Apa tidak ada pelayan yang membantumu? Aku akan memecat semuanya!!" cecar Edzhar, Halwa hanya ternganga melihat suaminya yang terlihat panik itu."Ed, tenanglah Ed. Jangan salahkan mereka, aku yang ingin membawanya sendiri ke sini, mereka mau membantuku, tapi akunya yang tidak mau, Ed!" jelas Halwa, ia merasa tidak enak kalau para pelayan mendapatkan hukuman karenanya.Masih tetap memegang nampan dengan motif Tulip Ustmani yang sama dengan cangkirnya itu, Edzhar mengerutkan keningnya sebelum bertanya,

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status