Semenjak buka status whatsappnya Miska, aku jadi keterusan buat nggak kepo. Malah aku makin penasaran pengen tahu apa yang sebenarnya, siapa laki-laki yang dimaksud dia sebagai suaminya itu.
Seperti siang ini, aku ngintip statusnya dan seketika hatiku panas meradang merasa statusnya itu ditujukan pada kami, ibu-ibu komplek. [Dasarnya ibu-ibu komplek, nggak bisa tenang lihat body seksi kaya gini. Takut kesaingan ya? hahaha] Statusnya sudah sekitar tiga jam lalu, itu tandanya setelah dia belanja tadi. Padahal siapa yang takut kesaingan cuma berusaha jaga pandangan mata para suami kalau tampilannya menantang kaya gitu, kata-katanya itu ditujukan padaku langsung dan buat para ibu-ibu yang sedang belanja tadi. Mataku melebar kala status Miska muncul lagi. [Bentar lagi ketemu mertua, belanja dulu ah buat nyambut.] "Mertua? Oh jadi beneran kalau dia udah punya suami. Aku komen ah..." Eh.. eh ko statusny malah hilang. Aku cari-cari tetap nggak ketemu, pasti Miska sudah menghapusnya, apa dia takut karena aku adalah salah satu orang yang melihatnya. "Sayang..." Mas Fahri turun dari lantai atas sambil ngancingin kemejanya, sudah rapi dan segar setelah mandi. "Kamu mau ikut apa mau di rumah aja?" "Hah?" Aku melongo. "Ikut kemana, Mas?" Perasaan suamiku nggak bilang mau kemana sore hari ini. "Emangnya Mama nggak ngasih tau kamu kalau mau ke Jakarta?" "Mama ke Jakarta? Kapan?" "Sore ini, Mama udah nyampe di stasiun." Mendengar jawaban Mas Fahri, dadaku berdegup kencang dan anehnya lututku malah lemas. Kenapa kedatangan ibu mertuaku bertepatan dengan kedatangan mertuanya Miska. "Dinda, gimana mau ikut?" "Aku tiba-tiba pusing, Mas. Aku kayaknya di rumah aja nunggu, aku siapin makanan buat Mama ya." Ingat betul sama statusnya Miska yang dihapus tadi, ko bisa kebetulan banget. Apa jangan-jangan? Nggak! Aku menggeleng, mana mungkin. Pasti dia ngehalu berat punya suami sama mertua. Ada ya orang kayak gitu. Kayaknya aku memang harus menyelidiki sesuatu, Miska. Aku harus menyelidikinya. Sudah setengah jam suamiku keluar dengan mobilnya, mumpung keluar kayaknya aku harus ke rumahnya Miska. Aku pengen tahu dia lagi nyiapin apa dan siapa mertuanya. "Assalamu'aikum." Ku ketuk pintu rumahnya Miska, rumahnya sepi seperti nggak ada orang. "Wa'alaikumsalam, eh Non Dinda." Asisten rumah tangganya Miska gendong Aurel sambil disuapin. "Mbak Miskanya ada?" "Oh Bu Miska lagi keluar, Non. Katanya mau jemput... jemput makanan buat makan malam. Katanya mau beli di luar aja. "Jemput makanan?" "Iya Non, tadi beli makanan katanya." Gimana sih, ko jawabannya nggak jelas gitu. Jadi makin curiga, tetangga jandaku ini sebenarnya lagi dimana. Karena Miskanya nggak ada, aku balik lagi ke rumah. Aku juga lagu nunggu makanan yang aku order, makanan kesukaan mamanya Mas Fahri sama cake favoritnya kalau tiap ke Jakarta harus beli. Kamar tamu juga sudah dibereskan untuk menyambut mertuaku itu. Makanan sudah tersaji di meja, lengkap dengan teh melati yang wajib ada buat Mama. Mendekati isya, suara mobil Mas Fahri terdengar memasuki halaman rumah. Tak lama kudengar suara Mama mertuaku memanggil dari luar. "Ma.. apakabar?" Kusapa Mama mertua, cium pipinya lalu peluk sebentar. "Baik, kamu gimana Dinda, sehat?" "Alhamdulillah, Ma." Aku sama Mama mertua masuk ke rumah dan Mas Fahri masukin kopernya Mama mertua ke dalam. "Wah, kamu siapin makanan, Dinda? Banyak banget, sayangnya Mama masih kenyang. Baru makan." Ujaran Mama mertuaku itu bikin aku menoleh pada suamiku yang duduk di sofa ruang santai, dia juga sama tidak menyentuh makanan yang aku siapkan. "Memangnya Mama udah makan dimana? Sama Mas Fahri?" "Iya tadi mampir dulu, kirain kamu nggak masak. Ya udah kamu bantuin Mama buka oleh-oleh yang Mama bawa dari Jogja." Wanita paruh baya yang mengenakan atasan batik itu menunjuk koper besar yang tadi dimasukan Mas Fahri. Lekas aku ambilkan dan membantu membukanya. Ada banyak oleh-oleh yang Mama mertua bawa, makanan khas Jogja, masakan gudeg yang Mama buat bisa nanti dihangatkan. Dan ada sesuatu yang bikin aku terpaku tak lepas menatapnya. Mama bawain baju-baju anak kecil, baju anak perempuan. "Ini buat siapa Ma?" tanyaku. "Oh ini buat Aurel, Din. Mama ingat anak tetangga sebelah. Lucu anaknya, Mama jadi pengen punya cucu dari kamu." Nyesel aku tanya, ujungnya pasti minta anak. Tapi kenapa Mama ingat sama anak tetangga sebelah, Miska itu baru tiga bulan pindah dan Mama baru dua kali ke Jakarta selama tiga bulan Miska pindah. Aku juga tidak tahu kapan Mama lihat anaknya Miska, seingatku Mama tidak kenalan. "Nanti lah Ma, jangan ditanyain terus-terusan takut Dindanya stress loh Mama tanyain terus." Itu suaranya Mas Fahri yang jawab, jadi aku nggak harus repot jawab permintaan Mama mertuaku itu. Perhatian ku kembali lagi pada isi koper, ada satu lagi yang bikin aku mengerutkan kening. "Ini buat siapa, Mam?" Baju yang berada di bawah baju buat Aurel, bajunya gaun gitu dan atasnya terbuka masih ada labelnya. Dan Mama mertu menyimpan paper bag yang dilipat di ruang kosong dalam kopernya. "Ini buat Mamanya Aurel." Ditanya begitu Mama mertua gegas mengambilnya dari tanganku dan mengambil paper bag yang dilipat tadi terus bajunya dimasukan ke dalam sana berikut bajunya Aurel. "Tumben Mama mau kasih ke tetangga sebelah, Mama kan nggak terlalu dekat. Apa nggak berlebihan?" Jujur saja, aku heran ko Mama mertua baik banget sama Miska dan anaknya. "Ya nggak ada salahnya toh baik sama tetangga." "Baik sih boleh, tapi kenapa cuma sama Mbak Miska aja Mama ngasihnya. Di sebelahnya lagi kan rumahnya Bu Mentik, nggak dikasih juga sama Mama?" "Iya Mam, harusnya Mama juga ngasih ke tetangga lainnya biar nggak disangka pilih-pilih." Mas Fahri ikut nimbrung, dia duduk di sebelahku lihatin isi koper. "Kalian ini repot amat, orang mau berbuat baik ko malah dilarang-larang." Sambil kesal, Mama mertua berlalu masuk ke kamar tamu lalu menutup pintunya. Mungkin kesal, makanya memilih pergi. "Habisnya Mama aneh, Mas. Nggak kenal nggak apa mau kasih oleh-oleh segala, kayak sama cucunya aja." Ujarku ikut kesal, perkaranya aku yang menantunya nggak dibawain oleh-oleh baju atau barang-barang lain. Cuma makanan, itupun yang tidak aku sukai. Mas Fahri mengulas senyum, dia menyentuh tanganku. "Udah, Mama emang gitu. Efek pengen cepat punya cucu, makanya kita usaha terus biar berhasil ya." Tatapan Mas Fahri yang teduh bikin aku seketika tenang, entahlah Mas Fahri ini laksana obat bagiku. Mujarab banget. "Bentar ya, aku beresin dulu barang-barang Mama. Mama juga kayaknya langsung istirahat, kita nggak usah ganggu." Dan itu kode suamiku kalau ngajak aku HS. Yakin setelah HS, pikiranku ini bakalan jernih lagi dari semua prasangka yang aku pikirkan seharian ini. ***"Wah Aurel kamu cantik banget sih." Samar kudengar suara mama mertua di luar rumah ketika pagi menjelang. Pagi ini aku bangun lebih awal, mau bikin sarapan buat Mama sekaligus nyiapin bekal buat Mas Fahri. Semalam suamiku itu bilang mau dibawain bekal ke kantor. Namun, aku terdiam kala pintu samping rumah yang sudah terbuka. Kuperhatikan dari samping kalau pintu gerbang rumah juga sudah terbuka, fix Mama mertua memang sedang bercengkrama di depan rumah jendes itu.Ingin sekali aku larang Mama, tapi masa aku larang-larang. Bisa-bisa Mama nanti ngadu sama Mas Fahri dan nganggap aku menantu kurang ajar hanya gara-gara ngobrol sama anak jendes cantik itu."Sayang.. Kamu ko bengong." Tangan Mas Fahri melingkar di pinggangku. Aku sempat bengong natap wajah bantal suamiku yang baru saja bangun."Oh itu lagi nunggu Mama, ko Mama pagi-pagi sekali udah keluar aja ngobrol sama anaknya Mbak Miska lagi," aduku. "Biarin aja, mungkin Mama lagi pengen ada temen ngobrol. Atau Mama lagi ngasih oleh-o
Hari ini aku pulang dari kantor editor, sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya tanpa memberitahukan Mama sama Mas Fahri, katanya anaknya Pak Wira mau kunjungan ke kantor sekalian lihat-lihat kantor sebelum beliau menjabat gantiin Pak Wira. Tapi kami tunggu sampai siang anaknya Pak Wira yang entah siapa namanya tak kunjung datang katanya nggak jadi pulang ke Jakarta hari ini. Padahal aku sudah cari alasan sama Mama biar Mama nggak curiga kalau aku kerja. "Ma..." Suasana rumah sepi, kucari Mama di halaman belakang siapa tahu sedang duduk santai sambil buka-buka hape. Namun sosok mertuaku itu tidak terlihat di sana. "Ma..." kupanggil lagi, tetap tidak ada sahutan.Curiga, kulirik rumah sebelah. Kuputuskan mendatanginya dengan langkahku yang lebar dan tergesa-gesa, kubuka pintu samping. Mulai samar kudengar suara orang ramai ketawa-tawa di rumah itu. Kuhela napas dalam-dalam sebelum akhirnya aku buka pintu pagar Mbak Miska lalu kubuka perlahan agar aku bisa melihat apa sedang terjadi
Bukti apalagi yang harus aku cari buat membuktikan kalau status Mbak Miska ini memang ditujukkan buat suamiku? Hampir semalaman aku tidak kunjung menutup mata akibat memikirkannya, kalau sampai kenyataannya benar, aku bingung harus bagaimana. Entah apa karena aku yang terlalu polos selama ini, mengganggap tidak ada yang terjadi sehingga aku tidak tahu di belakangku ada apa.Bangun tidur, tenggorokanku terasa kering. Kulirik sebelah tempat tidurku dimana biasanya suamiku berada di sana, ternyata sudah kosong. Kemana suamiku sepagi ini?Curiga, kusibak selimutku. Gegas kucari keberadaan suamiku berada, sampai ke lantai bawah. Namun kucari-cari, entah dimana dia berada hingga telingaku menangkap suara seseorang di halaman belakang."Kamu jangan sering bikin status WA. Lama-lama nanti Dinda bisa curiga." Dari belakang Mas Fahri nampak menyugar rambutnya. "Iya itu kamu bikin status dibeliin tas sama aku, kalau Dinda tau gimana? Berabe kan?"Kuseret ludahku susah payah, apa telingaku tidak
Sumpah kali ini aku nggak bisa tenang, aku nangis di dalam kamar akibat kejadian barusan yang bikin aku yakin 80 % kalau mereka ada hubungan. Ya allah, sumpah aku belum sanggup kalau ternyata mereka memang ada hubungan. Aku belum mempersiapkan apapun jika aku berpisah dengan Mas Fahri. "Dinda Sayang, maaf kalau Mas bikin kamu marah. Mas janji, Mas nggak akan nawarin tebengan lagi sama Miska." Suamiku ngehampiri aku tapi mama mertuaku, mama mertuaku malah mampir ke rumah si jendes kegatelan itu.Dadaku makin sesak, sekelebatan aku membayangkan mereka ngapain aja di dalam mobil. Lihat jendes itu turun sambil dadah-dadah saja bikin aku mau muntah, apalagi membayangkan yang lain-lainnya."Kamu sama mama kayaknya akrab banget sama Mbak Miska, coba sekarang bicara jujur sama aku. Kalian sebenernya udah kenal lama kan?"Kedua netra Mas Fahri natap mataku lekat-lekat, lalu bibirnya perlahan menyungging. Tangannya terulur rapiin anak rambutku lalu ngaitin ke telinga. "Kata siapa udah kenal l
Air mataku merembes saat Nadia mengirimiku foto. Foto suamiku dengan janda itu. Janda yang sudah bikin hidupku nggak tenang akhir-akhir ini. Sampai tubuhku rasanya lemas tak bertenaga dimana di dalam foto itu Miska lagi nyuapin suami aku makan di sebuah restoran. Nadia bilang, dia nggak sengaja lihat Mas Fahri makan sore-sore di sana dengan seorang perempuan berpenampilan menarik dan seksi. Pas aku lihat fotonya, ya allah tanganku sampai gemeteran karena ternyata benar, dia adalah Miska.Kususut air mataku yang nggak mau berhenti, sumpah sakit hatiku mendapati kenyataan pahit ini. Suamiku ada main dengan janda tetangga sebelah. Jadi, selama ini bukti pembelian tas, ngasih tumpangan ternyata adalah alasan hubungan mereka. Bodoh Dinda, kamu memang bodoh banget."Din, jangan mewek. Kamu nggak apa-apa kan?" Mungkin Nadia dengar suaraku yang sengau bikin dia khawatir dan akhirnya milih nelpon buat mastiin aku baik-baik saja."Mereka masih ada di sana, Nad?" Malah aku tanya keberadaan mere
Lama kumenunggu suamiku datang, sampai pegal rasanya. Sudah lewat setengah jam dari seharusnya, suamiku menampakkan batang hidungnya sedikitpun untuk rencana makan siang yang sudah direncanakan semalam."Coba deh aku telpon," gumamku lalu mengambil ponselku. Ku tekan nomornya Mas Fahri, tak lama terdengar nada tersambung tapi kemudian nada itu berganti dengan nada sibuk. "Ko direject?" Jelas aku marah, dia semalam mau diajak makan siang malah nawarin jemput, eh pas waktunya malah nggak muncul.Kesal sampai perut keroncongan, kuputuskan keluar rumah mencari makanan. Biasanya siang-siang gini ada si abang tukang bakso lewat depan rumah. Aku mau pesan bakso dengan level terpedas."Dinda..."Kulirik dua rumah di sebelahku, ada Citra tetanggaku yang lagi nutup pintu pagar rumahnya lalu berlari kecil nyamperin aku."Suami kamu ada?" tanya Citra tiba-tiba. Ngapain dia tanya suamiku."Nggak ada, lagi di kantor. Kenapa emangnya Cit?"Gelagat Citra juga aneh, dia celingukkan lirik-lirik rumahny
"Bu Dinda.." Sekretaris suamiku gegas berdiri menyambutku yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, dia kelihatan gugup waktu lihat aku persis lihat hantu. "Di dalam ada siapa?" Padahal aku cuma ngetes sekretaris yang sudah lama kerja dengan Mas Fahri. Apa dia akan jujur kalau di dalam itu ada Miska."Eum anu Bu.." "Shuuutt..." Aku meletakkan telunjukku di depan bibir saat mataku melihat dengan jelas kalau perempuan itu ada di dalam ruangannya Mas Fahri. Ruangan yang sedikit terbuka itu memudahkan aku melihat sedang apa keduanya di dalam sana. Kulihat wajah Tiara, sekretaris suamiku makin tertekan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Makin mendekati ruangannya Mas Fahri, jantungku makin berdebar kencang. Jujur, sebenarnya aku tak siap dengan situasi seperti ini tapi aku ingin tahu mereka berbuat apa. Dari celah yang terbuka sedikit itu aku bisa mengintip ke dalam dan jantungku yang awalnya berdebar cepat seakan berhenti begitu saja.Tangis yang tidak aku rencanakan akan keluar malah
Bercerai sepertinya lebih baik.Rencana itu terus berputar di otakku yang kecil. Namun sebelum bercerai, aku harus punya tempat tinggal sendiri dulu, aku nggak mau nantinya malah hidup nelangsa di jalanan karena rumah ini Mas Fahri beli dengan uangnya. Apalah dayaku yang nggak punya apa-apa ini, hanya bergantung pada suamiku. Walau secara perlahan, sudah mulai menabung dari hasil menulis. Lumayan nanti buat ngontrak rumah sama buka usaha."Tok..Tok.. Tok..."Kepalaku mendongak melihat ke arah pintu rumah. Hari ini hari minggu dan suamiku rencananya tidak kemana-mana, katanya mau santai sambil nonton film di netflix. Syukurlah, aku nggak harus sakit kepala karena mikirin tingkah dia sama selingkuhannya yang suka curi-curi kesempatan."Biar Mas buka, Sayang." Mas Fahri beranjak ke pintu utama rumah."Mas, bisa aku titip Aurel sebentar gak? Hari ini aku harus ketemu klien penting, kalau bawa Aurel kayaknya repot deh.""Kamunya bakalan lama?""Nggak, palingan dua jam ko," jawabnya terdeng
POV DindaLama-lama kehamilanku ini malah tambah parah rasanya, mulai nggak bisa semua makanan aku nikmati dan aku juga nggak bisa menerima bau-bauan yang hinggap ke hidungku. Rasanya tuh mual dan lama-lama mau muntah. Sepertia saat ini, tetiba wangi parfum yang malah bikin kepalaku pusing. Wanginya nggak nyengat, nggak terlalu strong, manly tapi herannya nggak bisa aku terima dan lebih kagetnya kala mendapati bahwa Pak Ragalah pemilik wangi itu. Beliau ada di depan kubikel aku, spontan aku lirik teman-teman timku takut ada yang salah paham melihat 'kedekatanku' dengan Pak Raga."Din, sarapan dulu." Beliau nyimpan sesuatu, kotak makanan karena aromanya tercium nikmat. Kayanya enak, lagian kebetulan belum sempat sarapan."Buat saya Pak?" tanyaku sok pura-pura."Menurutmu buat siapa? Nggak ada orang lain lagi di ruangan ini."Ya karena memang cuma baru beberapa yang datang, itupun mereka lagi di pantry, biasalah sarapan, ngopi sambil gosip.Pak Raga tergolong bos yang rajin, masih ada
"Jadi Raga lagi deket sama janda?" Tante Nelly kelihatan termenung, pasti pikirannya sudah terkontaminasi oleh ceritaku tentang si Dinda."Iya Tan, Tante coba deh bicara baik-baik sama Raga. Masa iya seorang Raga bisa sama janda kaya perempuan itu, dia perempuan nggak punya Tan. Rumahnya aja ngontrak, terus bukan dari turunan keluarga yang selevel dengan keluarga Tante. Ya Miska cuma menyayangkan aja, kasihan nanti kalau Om sama Tante harus malu pas kabar ini sampai ke kolega atau rekan bisnis kan."Perlahan Tante Nelly nggangguk, yes aku rasa misiku sudah hampir berhasil. Aku yakin banget setelah ini Raga nggak akan pernah kelihatan atau terdengar dekat lagi sama Dinda.Kami cukup lama ngobrol hingga akhirnya aku bisa lihat Raga keluar dari kamarnya di lantai atas, lah aku kira Raga sudah berangkat ke kantor tapi rupanya dia masih ada di rumah. Wah bisa-bisa nanti dia curiga sama aku lagi."Hai Ga.." Tanganku melambai nyapa dia yang menghampiri kami."Hai Mis, tumben..""Iya nih, kan
"Gimana, lo udah berhasil ngerjain si Dinda?" Kesal juga menunggu cukup lama di depan gerbang rumah.Sejak aku tahu kalau dia tinggal di perumahan itu, aku jadi punya ide buat ngerjain dia. Minimal bikin dia takut dan akhirnya nggak betah tinggal di Jakarta. Aku nggak mau yah kalau Mas Fahri nyamperin dia dengan alasan-alasan lain. Seperti kayak tempo hari, suamiku minta diantar buat urusan surat cerai. Padahal tinggal minta pengacara saja buat urus semuanya bikin hatiku ketar-ketir nggak jelas. "Berhasil Bos, cuma.." Orang suruhanku natap aku dalam-dalam kayak ada yang janggal."Saat kami mau masuk ke rumahnya, di rumah sebelahnya kayak masih rame Bos. Untungnya kami nggak jadi aksi, soalnya nggak lama setelah itu kami lihat ada mobil mewah datang pas kami udah kabur naik motor.""Mobil mewah?" Keningku mengernyit dalam, mobil siapa yang dia maksud itu."Iya Bos, kami nggak tau siapa yang ada di dalamnya karna kami langsung kabur dari perumahan itu."Penuturan anak buahku bikin aku
Sekelebatan dua orang tadi terlihat lagi, keduanya naik motor dengan mesin yang tidak dinyalakan. Aku nggak salah lagi, jelas sekali mataku ini melihat kedua orang yang lari dari arah rumahku menuju tempat gelap dimana motor mereka berada.Diiringi ketakutan akibat mati lampu, mau tak mau memberanikan diri menyalakan meteran listrik di luar sana. Kalau tidak kan listrik di rumahku bakalan mati sampai pagi, anehnya pos ronda yang tak jauh dari rumah kelihatan sepi kalau biasanya ada yang jaga sampai subuh. Sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil makin dekat dan tak salah lagi, mobil yang aku kenali parkir di depan rumah. Itu mobilnya Pak Raga, ada apa coba datang lagi malam-malam begini? Bikin aku was-was disamperin bos di waktu yang kurang wajar."Dinda, kenapa listrik rumahmu mati? Apa tokennya mati?" Kulihat Pak Raga menghampiriku yang memang belum sempat menyalakan meteran listrik. Pun saat baru akan aku jawab, tetangga sebelah rumah keluar dan bertanya dengan suara nyaring.
Aku menatap nanar uang dalam amplop dari bank. Makan-makan kemarin sama sekali tidak ada yang keluar dari dompetku, murni Pak Raga semua yang bayar. Itupun aku nggak enak sama beliau pas mau bayar di kasir, beliau malah memberikan kartunya dan melarangku bayar. Mau diganti, ditolak dengan alasan biar uangku ditabung buat lahiran nanti. Menunggu taksi online di halaman Bank tempat mencairkan uang, nggak sengaja mataku menangkap sosok Mas Fahri, dia kelihatan keluar dari toko sebelah Bank. Toko bakery terkenal, dulu sebelum berpisah aku sering ke toko bakery itu. Kuenya enak-enak, cake, puding dan rata-rata enak semua. Pernah aku berpikiran ingin memiliki toko bakery saja daripada menulis. Mengembangkan sisi lain diriku yang memang hoby membuat kue.Taksi online datang, gegas ku masuk. Tujuanku sekarang adalah supermaket. Rencana membeli kebutuhan bulanan yang memang sudah habis. Hari ini aku memang izin pulang lebih awal sekitar pukul 2 kurang mengejar tutup Bank biar bisa mencairkan
Aku masuk kerja lagi sesuai yang diminta Pak Raga. Pertemuan kami membahas masalah produksi film berjalan lancar, dan sesuai yang aku prediksi hari ini aku mendapatkan DP bayaran filmku yang pertama sebagai tanda jadi. Sumpah aku shock begitu tanganku menerima cek dengan nilai yang menurutku sangat besar ini. Kata anak-anak, begitu Pak Raga keluar dari ruangan meeting wajahnya berseri-seri. Senyum terus mengukir di wajahnya yang tampan. Aku sih nggak tahu karena jalan di belakang beliau dan orang-orang film. Sebenarnya membuatku insecure, apalah aku ini yang bukan apa-apa bermodalkan cerita akhirnya dapat tawaran kontrak menggiurkan."Din, gimana?"Teman-temanku pada kepo, jelas mereka tahu kalau aku dapat kontrak ini. "Apanya?" tanyaku pura-pura."Filmmu? Udah dikontrak kan?"Aku cuma ngangguk kecil mengiyakan, nggak mau bohong anggap saja sebagai motivasi buat mereka agar bisa memecut diri lebih semangat. Karena biasanya yang aku tahu, perusahaan itu akan melihat peluang dari para
Entah apa yang merasukiku datang ke rumah yang dulu aku tinggali. Rumah yang pernah menjadi tempat ternyamanku selama pernikahanku.Baru hendak kuayun langkah masuk ke pintu gerbang yang terbuka, kulihat Miska bersama mantan ibu mertuaku tengah tertawa-tawa kecil sambil fokus mereka ke ponsel. Ingin kutarik lagi lalu mundur, tapi Mas Fahri keluar berjalan di belakang mereka. Nampaknya mereka akan berangkat, dengan koper yang dibawa Mas Fahri.Sumpah, aku nggak sanggup. Aku nggak tahu gimana caraku untuk menyampaikan semua ini, bagaimana kalau nanti Mas Fahri nggak percaya?"Dinda..."Bukan Mas Fahri, melainkan itu suara mantan ibu mertuaku yang sadar lebih dulu menemukanku berdiri. Kemudian kulihat Mas Fahri natap aku begitupun dengan Miska. Miska sinis sekali pas menemukanku di depan pintu gerbang."Ada apa kamu kesini?" tanya Miska."Aku-aku ada urusan sama Mas Fahri," jawabku tanpa ingin menatap matanya."Urusan apa? Mau minta uang? Bukannya kamu udah kerja."Kuseret ludahku susah
Tiga minggu sejak gugatan masuk ke Pengadilan Agama, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Pagi-pagi, menjelang subuh perutku serasa dikocok, mual sampai muntah. Kepalaku juga pusing bukan main, makan pun nggak bisa masuk karena dimuntahin lagi. Benar-benar hari yang kurang baik untuk aku yang sedang sibuk-sibuknya di kantor."Sakit?" Ulfa nempelin punggung tangannya ke keningku. "Demam, Din." Katanya, mungkin iya ditambah mataku terasa panas dan berair. "Izin pulang aja, Din. Biar aku yang izinin ya."Kepalaku menggeleng. "Nggak usah, soalnya aku ada janji sama Pak Raga. Beliau bilang sutradaranya mau ketemu, datang ke kantor siang ini." Andaikan sutradanya nggak datang, aku nggak bakalan maksain masuk kantor. Tapi masalahnya Pak Raga sejak semalam sudah bilang lewat sekretarisnya agar aku menyiapkan diri hari ini. Dan tepat pukul 11 siang, aku dipanggil masuk ruangannya Pak Raga. Di sana sudah ada Mas Bram, sutradara terkenal yang menangani banyak film. Jujur, aku nervous
"Din.. Dinda.. gimana kata Pak Raga? Denger-denger novelmu bakal diangkat ke layar lebar ya?" Ulfa antusias banget dengan rencana ini, aku sih mengaminkan dengan kencang dalam hati selain karena aku sedang butuh uang banyak, semoga saja tidak ada halangan dan hambatan. "Do'ain aja ya, moga jadi," jawabku sambil mengulas senyum."Pastinya, aku tau kamu pantes dapetin itu. Aku aja mewek sama alur ceritanya, nyentuh banget. Kayak realate banget sama kehidupan nyata." Ulfa ini memang paling baik diantara yang lainnya, dia itu perhatian banget sama teman. Tidak merasa tersaingi malah nyuport habis-habisan."Makasih ya, moga aja nggak ada halangan apapun.""Aamiin.." Ulfa mengusap wajahnya sambil tersenyum, kata Ulfa bangga banget punya teman kayak aku yang nggak nyerah di tengah prahara rumah tanggaku. Minggu lalu waktu aku niat kerja daily, aku cerita sama Ulfa dan Ulfa menyayangkan hubunganku yang harus kandas."Masalah perceraian gimana? Udah sampai mana?"Aku ngangkat bahu, nggak tah