Sumpah kali ini aku nggak bisa tenang, aku nangis di dalam kamar akibat kejadian barusan yang bikin aku yakin 80 % kalau mereka ada hubungan. Ya allah, sumpah aku belum sanggup kalau ternyata mereka memang ada hubungan. Aku belum mempersiapkan apapun jika aku berpisah dengan Mas Fahri.
"Dinda Sayang, maaf kalau Mas bikin kamu marah. Mas janji, Mas nggak akan nawarin tebengan lagi sama Miska." Suamiku ngehampiri aku tapi mama mertuaku, mama mertuaku malah mampir ke rumah si jendes kegatelan itu. Dadaku makin sesak, sekelebatan aku membayangkan mereka ngapain aja di dalam mobil. Lihat jendes itu turun sambil dadah-dadah saja bikin aku mau muntah, apalagi membayangkan yang lain-lainnya. "Kamu sama mama kayaknya akrab banget sama Mbak Miska, coba sekarang bicara jujur sama aku. Kalian sebenernya udah kenal lama kan?" Kedua netra Mas Fahri natap mataku lekat-lekat, lalu bibirnya perlahan menyungging. Tangannya terulur rapiin anak rambutku lalu ngaitin ke telinga. "Kata siapa udah kenal lama, Mas nggak deket sama dia. Mama juga nggak, Mama cuma suka sama anaknya aja, nggak lebih ko Sayang. Kamu ko akhir-akhir ini sensi banget sama Miska. Kenapa sih?" Apa aku bicara saja sekalian sama suamiku soal pembelian tas seharga dua puluh juta itu mumpung momentnya pas. Siapa tahu dia mau jujur. "Aku sensi Mas, aku nemuin sms banking kamu atas pembelian tas seharga dua puluh juta. Siapa yang udah kamu beliin tas? Bukannya Mas bilang kalau keuangan perusahaan sedang tidak sehat, Mas juga bilang uang tabungan juga kepakai buat nutupin bisnis kamu yang lain. Aku juga nggak maksa kamu nunjukkin kartu ATM kamu karna saking percayanya aku sama kamu. Tapi tas itu, itu tas siapa?" Mas Fahri malah terkekeh, lalu cubit hidung aku gemas. "Mas lupa bilang sama kamu, itu tas punya istrinya Topan. Kamu tau Topan kan? Istrinya ulang tahun, nah pas Topan beli, uangnya nggak ada di ATM, makanya pinjem saldo Mas. Udah balikin ko, Sayang. Jadi karna ini kamu uring-uringan terus, kenapa nggak nanya sih?" Pinter banget sih kamu ngebohongnya, Mas. Cuuiih sampai kapanpun aku nggak akan percaya sama buaya darat macam kamu. "Kenapa? Kamu masih nggak percaya?" Aku menggeleng, jelas aku nggak percaya. Ku buka galeri ponselku dimana aku sudah SS Bukti statusnya Miska tentang tas barunya. "Istri Topannya Mbak Miska yang kamu maksud, Mas?" Sambil kuarahkan layarnya ke muka dia. "Ko jadi Miska?" Sumpah suamiku ini tulalit banget sih, apa dia nggak baca caption yang ditulis jendes itu di bawahnya. "Mbak Miska nulis kalau dia dapat hadiah tas dari suaminya dan statusnya itu berbarengan dengan tanggal pembelian tas di mbanking kamu, Mas!" Di sini jelas sekali aku udah nuduh suamiku yang ngasih, biar tahu dia mau jawab apa. "Ya mana Mas tau, Dinda. Mungkin aja cuma kebetulan, dia dikasih tas sama suaminya." "Lalu suaminya siapa?" "Ya mana Mas tau Dinda, ko kamu jadi gini sih?'" Aku ngusap wajahku kasar, lalu narik napas dalam-dalam. Ternyata suamiku ini nggak mau ngaku rupanya. "Kalau kamu nggak percaya, kamu tanya sendiri sama orangnya. Kamu tanya Miska, apa Mas yang udah ngasih tas itu sama dia," titah suamiku yang jelas bikin aku senang. "Ya udah ayo, kita tanya sama-sama. Biar aku tenang, Mas juga tenang." "Kamu yakin mau tanya sama Miska?" "Ya kan Mas yang nyuruh, gimana sih." Kutarik tangan suamiku keluar dari rumah. Biarinlah di sana ada Mama mertuaku, paling Mama mertua bakalan ceramah panjang kali lebar dan bilang nggak sopan loh ke rumah orang nuduh-nuduh, udah di luar kepalaku banget. Kulirik wajah suamiku yang pasrah saat kugelandang ke rumah si jendes itu. Saat di depan pintu rumahnya, kusuruh Mas Fahri yang pencet bel, sedangkan aku berada di balik punggungnya yang lebar dan bidang. "Sebentar..." Suara seseorang berteriak dari dalam dan pintu terbuka. "Eh Mas... Rel ada Papa nih.." Seketika tanganku mengepal mendengar Mbak Miska nagsih tahu anaknya kalau ada 'Papa'. "Papa siapa Mbak?" Raut wajah Mbak Miska mendadak pucat saat aku muncul dari balik punggungnya Mas Fahri, Mama mertua yang muncul dari dalam rumah juga sama piasnya lihat aku ada di depan pintu. "Ahh... kirain papanya Aurel. Maaf ya Dinda." Wajah pura-pura Miska terlihat menyebalkan buatku, ingin sekali kusiram wajahnya dengan air keras. "Mis, Dinda mau ngomong sama kamu," kata suamiku mengalihkan ketegangan yang terjadi barusan. "Bentar Mas.. Mbak. Aku mau tanya, Mbak bilang tadi kirain Papanya Aurel? Bukannya pas lihat Mas Fahri di depan pintu, Mbak udah tau kalau yang datang itu Mas Fahri? Kenapa malah ngasih tau Aurel kalau itu papanya?" "Aduh Dinda gitu aja ko sewot, wajar lah kalau orang salah-salah." Mama mertua mengintrupsi bikin darahku makin menggelegak marah. "Ma, yang menantunya Mama itu siapa sih? Dinda apa Mbak Miska? Ko Mama belain Mbak Miska terus. Heran deh." Mama mertua terlihat gelagapan, kulihat jendes itu juga lirik Mama dengan ragu. "Mama cuma menengahi nggak bermaksud apa-apa ko, Dinda. Kamu malah ngomong kayak gitu sama Mama, nggak sopan itu namanya," tegur mama. "Dinda, udah ya. Kita lupakan aja, Ma, ayo pulang. Bukannya Mama besok mau pulang? Mama harus packing dari sekarang," ujar suamiku bikin aku sudah nggak mood lagi buat nerusin rencanaku buat introgasi jendes itu. ***Air mataku merembes saat Nadia mengirimiku foto. Foto suamiku dengan janda itu. Janda yang sudah bikin hidupku nggak tenang akhir-akhir ini. Sampai tubuhku rasanya lemas tak bertenaga dimana di dalam foto itu Miska lagi nyuapin suami aku makan di sebuah restoran. Nadia bilang, dia nggak sengaja lihat Mas Fahri makan sore-sore di sana dengan seorang perempuan berpenampilan menarik dan seksi. Pas aku lihat fotonya, ya allah tanganku sampai gemeteran karena ternyata benar, dia adalah Miska.Kususut air mataku yang nggak mau berhenti, sumpah sakit hatiku mendapati kenyataan pahit ini. Suamiku ada main dengan janda tetangga sebelah. Jadi, selama ini bukti pembelian tas, ngasih tumpangan ternyata adalah alasan hubungan mereka. Bodoh Dinda, kamu memang bodoh banget."Din, jangan mewek. Kamu nggak apa-apa kan?" Mungkin Nadia dengar suaraku yang sengau bikin dia khawatir dan akhirnya milih nelpon buat mastiin aku baik-baik saja."Mereka masih ada di sana, Nad?" Malah aku tanya keberadaan mere
Lama kumenunggu suamiku datang, sampai pegal rasanya. Sudah lewat setengah jam dari seharusnya, suamiku menampakkan batang hidungnya sedikitpun untuk rencana makan siang yang sudah direncanakan semalam."Coba deh aku telpon," gumamku lalu mengambil ponselku. Ku tekan nomornya Mas Fahri, tak lama terdengar nada tersambung tapi kemudian nada itu berganti dengan nada sibuk. "Ko direject?" Jelas aku marah, dia semalam mau diajak makan siang malah nawarin jemput, eh pas waktunya malah nggak muncul.Kesal sampai perut keroncongan, kuputuskan keluar rumah mencari makanan. Biasanya siang-siang gini ada si abang tukang bakso lewat depan rumah. Aku mau pesan bakso dengan level terpedas."Dinda..."Kulirik dua rumah di sebelahku, ada Citra tetanggaku yang lagi nutup pintu pagar rumahnya lalu berlari kecil nyamperin aku."Suami kamu ada?" tanya Citra tiba-tiba. Ngapain dia tanya suamiku."Nggak ada, lagi di kantor. Kenapa emangnya Cit?"Gelagat Citra juga aneh, dia celingukkan lirik-lirik rumahny
"Bu Dinda.." Sekretaris suamiku gegas berdiri menyambutku yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, dia kelihatan gugup waktu lihat aku persis lihat hantu. "Di dalam ada siapa?" Padahal aku cuma ngetes sekretaris yang sudah lama kerja dengan Mas Fahri. Apa dia akan jujur kalau di dalam itu ada Miska."Eum anu Bu.." "Shuuutt..." Aku meletakkan telunjukku di depan bibir saat mataku melihat dengan jelas kalau perempuan itu ada di dalam ruangannya Mas Fahri. Ruangan yang sedikit terbuka itu memudahkan aku melihat sedang apa keduanya di dalam sana. Kulihat wajah Tiara, sekretaris suamiku makin tertekan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Makin mendekati ruangannya Mas Fahri, jantungku makin berdebar kencang. Jujur, sebenarnya aku tak siap dengan situasi seperti ini tapi aku ingin tahu mereka berbuat apa. Dari celah yang terbuka sedikit itu aku bisa mengintip ke dalam dan jantungku yang awalnya berdebar cepat seakan berhenti begitu saja.Tangis yang tidak aku rencanakan akan keluar malah
Bercerai sepertinya lebih baik.Rencana itu terus berputar di otakku yang kecil. Namun sebelum bercerai, aku harus punya tempat tinggal sendiri dulu, aku nggak mau nantinya malah hidup nelangsa di jalanan karena rumah ini Mas Fahri beli dengan uangnya. Apalah dayaku yang nggak punya apa-apa ini, hanya bergantung pada suamiku. Walau secara perlahan, sudah mulai menabung dari hasil menulis. Lumayan nanti buat ngontrak rumah sama buka usaha."Tok..Tok.. Tok..."Kepalaku mendongak melihat ke arah pintu rumah. Hari ini hari minggu dan suamiku rencananya tidak kemana-mana, katanya mau santai sambil nonton film di netflix. Syukurlah, aku nggak harus sakit kepala karena mikirin tingkah dia sama selingkuhannya yang suka curi-curi kesempatan."Biar Mas buka, Sayang." Mas Fahri beranjak ke pintu utama rumah."Mas, bisa aku titip Aurel sebentar gak? Hari ini aku harus ketemu klien penting, kalau bawa Aurel kayaknya repot deh.""Kamunya bakalan lama?""Nggak, palingan dua jam ko," jawabnya terdeng
Di jalan menuju kantor, iseng aku buka laptopnya Mas Fahri. Hoki, laptopnya tidak dikunci. Jemariku kancar berselancar membuka tiap aplikasinya dan aku kepikiran buat buka file di ponselku yang nggak bisa dibuka, lalu aku buka di laptopnya Mas Fahri. Lebih dulu aku buka WA webku tapi aku malah ngefrezze pas WA nya sudah tersambung dengan WA suamiku yang belum di logout. Kuseret ludahku susah payah saat mata ini membaca chat dari kontak yang bernama Bu Moni. Setahuku Bu Moni ini bawahannya Mas Fahri, tapi kenapa manggil sayang-sayangan. Kubaca chat kebawahnya sehingga aku jadi tahu kalau Bu Moni itu adalah Miska.[Aku udah nunggu di dekat kantormu, Mas. Cepetaaann..]Chatnya Miska kulihat sejam lalu.[Iya tunggu ya, ini lagi nitipin mobil dulu. Tunggu yah, Sayang.] Balasan suamiku sampai membuatku tak bisa berkata-kata. Jadi hanya kebohongannya suamiku saja kalau dia ada kerjaan di luar kota. Nyatanya suamiku ada rencana mau pergi sama perempuan sundal itu. Jujur, aku memang jarang b
Masuk ke kamar mandi, lekas kuguyur tubuhku ini dengan air dingin. Kedatangan mama mertua bikin moodku anjlok parah sampai ke dasar terdalam. Sikapnya yang jadi sinis sampai nyindir secara langsung sudah jadi kebiasaannya. Jadi tahu kalau selama ini mama mertuaku ini punya kepribadian ganda, baik di awal-awal pernikahanku dan keluar sifat aslinya sekarang-sekarang ini.Namanya pernikahan tidak selalu mulus. Ada kalanya suatu pernikahan akan terganggu akibat adanya orang ketiga, orang ketiga entah itu keluarga, ipar, atau mertua. Dihadapkan pada kenyataan dimana mertua sudah ngebet menginginkan cucu. Dimana perkara keturunan tidak ada yang tahu, aku sendiri, baik suami tidak ada yang tahu kapan rezeki itu akan datang menghampiri.Tangisku pecah bersama air shower yang terus mengguyur tubuhku. Tekanan yang aku rasakan ini menghantam mentalku habis-habisan, pertanyaan kapan hamil dan kenyataan suamiku mendua. Sakitnya doble, dan nggak ada duanya lagi. Berharap suami adalah orang yang me
Diam di rumah cuma bikin aku mati muda, kuhabiskan hari ini di kantor ah sekalian mau menghadap bos. Ada info kalau novel keduaku mau naik cetak, lumayan kan ada tambahan uang buat tabungan. Riuh para karyawati sedang sibuk menggibah waktu aku sampai kantor lima belas menit sebelum teng."Din, tumben ngantor. Dipanggil?"Aku cuma mengulas senyum, soalnya anak-anak tahu aku ini pekerja rumahan yang digaji layaknya orang kantoran. Beginilah nasib karyawan kontrak yang kerjanya nggak nentu."Iya nih mau ngadep, Bos," jawabku lalu melambai melewati kubikel mereka.Kata Luki, rekan kantor yang cukup akrab denganku ada di mejanya lihat aku baru datang."Din, sehat lo? Ko makin kurusan?" Luki ngehampirin dan kami bersalaman kayak orang lama nggak ketemu padahal baru beberapa hari sudah bertemu waktu anaknya Pak Wira mulai kerja."Sehatlah, nih efek diet bikin turun kiloan." Bisa mati kalau Luki tahu turunnya berat badanku akibat diselingkuhi, memalukan."Yakin efek diet? Bukan efek yang lai
Dengan jantung yang berdebar kencang dan perasaan was-was sejak memasuki waktu isya, aku dan Mas fahri duduk santai berdua di depan televisi yang menyala. Aku nonton acara sinetron yang tersakiti itu dan suamiku mantengin layar ponselnya, mungkin saja dia lagi WA an sama si jendes itu.Lama nunggu sampai terdengar bedug adzan isya, dan tak lama suara hujan deras perlahan mulai turun, deras banget hujannya. Kutebak, pasti Pak RT nggak jadi datang karena hujan deras yang mengguyur, lebih milih tidur sambil selimutan daripada ngurusin rencanaku tadi siang. sedikit kecewa, tapi nggak apa-apa masih ada esok hari.Rasa kantuk menyerang, hebat banget sampai kepalaku terasa berat. Kupaksa buat pindah ke kamar daripada nanti merepotkan Mas fahri yang harus bopong aku. Pindah ke kamar dan setelah pindah, langsung aku merebahkan diriku dan memejamkan mata mulai terlempar ke alam mimpi.Entah berapa jam aku tidur, pas samar-samar aku mendengar suara berisik di luar. "Tok.. Tok.. Tok..""Assala
POV DindaLama-lama kehamilanku ini malah tambah parah rasanya, mulai nggak bisa semua makanan aku nikmati dan aku juga nggak bisa menerima bau-bauan yang hinggap ke hidungku. Rasanya tuh mual dan lama-lama mau muntah. Sepertia saat ini, tetiba wangi parfum yang malah bikin kepalaku pusing. Wanginya nggak nyengat, nggak terlalu strong, manly tapi herannya nggak bisa aku terima dan lebih kagetnya kala mendapati bahwa Pak Ragalah pemilik wangi itu. Beliau ada di depan kubikel aku, spontan aku lirik teman-teman timku takut ada yang salah paham melihat 'kedekatanku' dengan Pak Raga."Din, sarapan dulu." Beliau nyimpan sesuatu, kotak makanan karena aromanya tercium nikmat. Kayanya enak, lagian kebetulan belum sempat sarapan."Buat saya Pak?" tanyaku sok pura-pura."Menurutmu buat siapa? Nggak ada orang lain lagi di ruangan ini."Ya karena memang cuma baru beberapa yang datang, itupun mereka lagi di pantry, biasalah sarapan, ngopi sambil gosip.Pak Raga tergolong bos yang rajin, masih ada
"Jadi Raga lagi deket sama janda?" Tante Nelly kelihatan termenung, pasti pikirannya sudah terkontaminasi oleh ceritaku tentang si Dinda."Iya Tan, Tante coba deh bicara baik-baik sama Raga. Masa iya seorang Raga bisa sama janda kaya perempuan itu, dia perempuan nggak punya Tan. Rumahnya aja ngontrak, terus bukan dari turunan keluarga yang selevel dengan keluarga Tante. Ya Miska cuma menyayangkan aja, kasihan nanti kalau Om sama Tante harus malu pas kabar ini sampai ke kolega atau rekan bisnis kan."Perlahan Tante Nelly nggangguk, yes aku rasa misiku sudah hampir berhasil. Aku yakin banget setelah ini Raga nggak akan pernah kelihatan atau terdengar dekat lagi sama Dinda.Kami cukup lama ngobrol hingga akhirnya aku bisa lihat Raga keluar dari kamarnya di lantai atas, lah aku kira Raga sudah berangkat ke kantor tapi rupanya dia masih ada di rumah. Wah bisa-bisa nanti dia curiga sama aku lagi."Hai Ga.." Tanganku melambai nyapa dia yang menghampiri kami."Hai Mis, tumben..""Iya nih, kan
"Gimana, lo udah berhasil ngerjain si Dinda?" Kesal juga menunggu cukup lama di depan gerbang rumah.Sejak aku tahu kalau dia tinggal di perumahan itu, aku jadi punya ide buat ngerjain dia. Minimal bikin dia takut dan akhirnya nggak betah tinggal di Jakarta. Aku nggak mau yah kalau Mas Fahri nyamperin dia dengan alasan-alasan lain. Seperti kayak tempo hari, suamiku minta diantar buat urusan surat cerai. Padahal tinggal minta pengacara saja buat urus semuanya bikin hatiku ketar-ketir nggak jelas. "Berhasil Bos, cuma.." Orang suruhanku natap aku dalam-dalam kayak ada yang janggal."Saat kami mau masuk ke rumahnya, di rumah sebelahnya kayak masih rame Bos. Untungnya kami nggak jadi aksi, soalnya nggak lama setelah itu kami lihat ada mobil mewah datang pas kami udah kabur naik motor.""Mobil mewah?" Keningku mengernyit dalam, mobil siapa yang dia maksud itu."Iya Bos, kami nggak tau siapa yang ada di dalamnya karna kami langsung kabur dari perumahan itu."Penuturan anak buahku bikin aku
Sekelebatan dua orang tadi terlihat lagi, keduanya naik motor dengan mesin yang tidak dinyalakan. Aku nggak salah lagi, jelas sekali mataku ini melihat kedua orang yang lari dari arah rumahku menuju tempat gelap dimana motor mereka berada.Diiringi ketakutan akibat mati lampu, mau tak mau memberanikan diri menyalakan meteran listrik di luar sana. Kalau tidak kan listrik di rumahku bakalan mati sampai pagi, anehnya pos ronda yang tak jauh dari rumah kelihatan sepi kalau biasanya ada yang jaga sampai subuh. Sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil makin dekat dan tak salah lagi, mobil yang aku kenali parkir di depan rumah. Itu mobilnya Pak Raga, ada apa coba datang lagi malam-malam begini? Bikin aku was-was disamperin bos di waktu yang kurang wajar."Dinda, kenapa listrik rumahmu mati? Apa tokennya mati?" Kulihat Pak Raga menghampiriku yang memang belum sempat menyalakan meteran listrik. Pun saat baru akan aku jawab, tetangga sebelah rumah keluar dan bertanya dengan suara nyaring.
Aku menatap nanar uang dalam amplop dari bank. Makan-makan kemarin sama sekali tidak ada yang keluar dari dompetku, murni Pak Raga semua yang bayar. Itupun aku nggak enak sama beliau pas mau bayar di kasir, beliau malah memberikan kartunya dan melarangku bayar. Mau diganti, ditolak dengan alasan biar uangku ditabung buat lahiran nanti. Menunggu taksi online di halaman Bank tempat mencairkan uang, nggak sengaja mataku menangkap sosok Mas Fahri, dia kelihatan keluar dari toko sebelah Bank. Toko bakery terkenal, dulu sebelum berpisah aku sering ke toko bakery itu. Kuenya enak-enak, cake, puding dan rata-rata enak semua. Pernah aku berpikiran ingin memiliki toko bakery saja daripada menulis. Mengembangkan sisi lain diriku yang memang hoby membuat kue.Taksi online datang, gegas ku masuk. Tujuanku sekarang adalah supermaket. Rencana membeli kebutuhan bulanan yang memang sudah habis. Hari ini aku memang izin pulang lebih awal sekitar pukul 2 kurang mengejar tutup Bank biar bisa mencairkan
Aku masuk kerja lagi sesuai yang diminta Pak Raga. Pertemuan kami membahas masalah produksi film berjalan lancar, dan sesuai yang aku prediksi hari ini aku mendapatkan DP bayaran filmku yang pertama sebagai tanda jadi. Sumpah aku shock begitu tanganku menerima cek dengan nilai yang menurutku sangat besar ini. Kata anak-anak, begitu Pak Raga keluar dari ruangan meeting wajahnya berseri-seri. Senyum terus mengukir di wajahnya yang tampan. Aku sih nggak tahu karena jalan di belakang beliau dan orang-orang film. Sebenarnya membuatku insecure, apalah aku ini yang bukan apa-apa bermodalkan cerita akhirnya dapat tawaran kontrak menggiurkan."Din, gimana?"Teman-temanku pada kepo, jelas mereka tahu kalau aku dapat kontrak ini. "Apanya?" tanyaku pura-pura."Filmmu? Udah dikontrak kan?"Aku cuma ngangguk kecil mengiyakan, nggak mau bohong anggap saja sebagai motivasi buat mereka agar bisa memecut diri lebih semangat. Karena biasanya yang aku tahu, perusahaan itu akan melihat peluang dari para
Entah apa yang merasukiku datang ke rumah yang dulu aku tinggali. Rumah yang pernah menjadi tempat ternyamanku selama pernikahanku.Baru hendak kuayun langkah masuk ke pintu gerbang yang terbuka, kulihat Miska bersama mantan ibu mertuaku tengah tertawa-tawa kecil sambil fokus mereka ke ponsel. Ingin kutarik lagi lalu mundur, tapi Mas Fahri keluar berjalan di belakang mereka. Nampaknya mereka akan berangkat, dengan koper yang dibawa Mas Fahri.Sumpah, aku nggak sanggup. Aku nggak tahu gimana caraku untuk menyampaikan semua ini, bagaimana kalau nanti Mas Fahri nggak percaya?"Dinda..."Bukan Mas Fahri, melainkan itu suara mantan ibu mertuaku yang sadar lebih dulu menemukanku berdiri. Kemudian kulihat Mas Fahri natap aku begitupun dengan Miska. Miska sinis sekali pas menemukanku di depan pintu gerbang."Ada apa kamu kesini?" tanya Miska."Aku-aku ada urusan sama Mas Fahri," jawabku tanpa ingin menatap matanya."Urusan apa? Mau minta uang? Bukannya kamu udah kerja."Kuseret ludahku susah
Tiga minggu sejak gugatan masuk ke Pengadilan Agama, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Pagi-pagi, menjelang subuh perutku serasa dikocok, mual sampai muntah. Kepalaku juga pusing bukan main, makan pun nggak bisa masuk karena dimuntahin lagi. Benar-benar hari yang kurang baik untuk aku yang sedang sibuk-sibuknya di kantor."Sakit?" Ulfa nempelin punggung tangannya ke keningku. "Demam, Din." Katanya, mungkin iya ditambah mataku terasa panas dan berair. "Izin pulang aja, Din. Biar aku yang izinin ya."Kepalaku menggeleng. "Nggak usah, soalnya aku ada janji sama Pak Raga. Beliau bilang sutradaranya mau ketemu, datang ke kantor siang ini." Andaikan sutradanya nggak datang, aku nggak bakalan maksain masuk kantor. Tapi masalahnya Pak Raga sejak semalam sudah bilang lewat sekretarisnya agar aku menyiapkan diri hari ini. Dan tepat pukul 11 siang, aku dipanggil masuk ruangannya Pak Raga. Di sana sudah ada Mas Bram, sutradara terkenal yang menangani banyak film. Jujur, aku nervous
"Din.. Dinda.. gimana kata Pak Raga? Denger-denger novelmu bakal diangkat ke layar lebar ya?" Ulfa antusias banget dengan rencana ini, aku sih mengaminkan dengan kencang dalam hati selain karena aku sedang butuh uang banyak, semoga saja tidak ada halangan dan hambatan. "Do'ain aja ya, moga jadi," jawabku sambil mengulas senyum."Pastinya, aku tau kamu pantes dapetin itu. Aku aja mewek sama alur ceritanya, nyentuh banget. Kayak realate banget sama kehidupan nyata." Ulfa ini memang paling baik diantara yang lainnya, dia itu perhatian banget sama teman. Tidak merasa tersaingi malah nyuport habis-habisan."Makasih ya, moga aja nggak ada halangan apapun.""Aamiin.." Ulfa mengusap wajahnya sambil tersenyum, kata Ulfa bangga banget punya teman kayak aku yang nggak nyerah di tengah prahara rumah tanggaku. Minggu lalu waktu aku niat kerja daily, aku cerita sama Ulfa dan Ulfa menyayangkan hubunganku yang harus kandas."Masalah perceraian gimana? Udah sampai mana?"Aku ngangkat bahu, nggak tah