Bercerai sepertinya lebih baik.Rencana itu terus berputar di otakku yang kecil. Namun sebelum bercerai, aku harus punya tempat tinggal sendiri dulu, aku nggak mau nantinya malah hidup nelangsa di jalanan karena rumah ini Mas Fahri beli dengan uangnya. Apalah dayaku yang nggak punya apa-apa ini, hanya bergantung pada suamiku. Walau secara perlahan, sudah mulai menabung dari hasil menulis. Lumayan nanti buat ngontrak rumah sama buka usaha."Tok..Tok.. Tok..."Kepalaku mendongak melihat ke arah pintu rumah. Hari ini hari minggu dan suamiku rencananya tidak kemana-mana, katanya mau santai sambil nonton film di netflix. Syukurlah, aku nggak harus sakit kepala karena mikirin tingkah dia sama selingkuhannya yang suka curi-curi kesempatan."Biar Mas buka, Sayang." Mas Fahri beranjak ke pintu utama rumah."Mas, bisa aku titip Aurel sebentar gak? Hari ini aku harus ketemu klien penting, kalau bawa Aurel kayaknya repot deh.""Kamunya bakalan lama?""Nggak, palingan dua jam ko," jawabnya terdeng
Di jalan menuju kantor, iseng aku buka laptopnya Mas Fahri. Hoki, laptopnya tidak dikunci. Jemariku kancar berselancar membuka tiap aplikasinya dan aku kepikiran buat buka file di ponselku yang nggak bisa dibuka, lalu aku buka di laptopnya Mas Fahri. Lebih dulu aku buka WA webku tapi aku malah ngefrezze pas WA nya sudah tersambung dengan WA suamiku yang belum di logout. Kuseret ludahku susah payah saat mata ini membaca chat dari kontak yang bernama Bu Moni. Setahuku Bu Moni ini bawahannya Mas Fahri, tapi kenapa manggil sayang-sayangan. Kubaca chat kebawahnya sehingga aku jadi tahu kalau Bu Moni itu adalah Miska.[Aku udah nunggu di dekat kantormu, Mas. Cepetaaann..]Chatnya Miska kulihat sejam lalu.[Iya tunggu ya, ini lagi nitipin mobil dulu. Tunggu yah, Sayang.] Balasan suamiku sampai membuatku tak bisa berkata-kata. Jadi hanya kebohongannya suamiku saja kalau dia ada kerjaan di luar kota. Nyatanya suamiku ada rencana mau pergi sama perempuan sundal itu. Jujur, aku memang jarang b
Masuk ke kamar mandi, lekas kuguyur tubuhku ini dengan air dingin. Kedatangan mama mertua bikin moodku anjlok parah sampai ke dasar terdalam. Sikapnya yang jadi sinis sampai nyindir secara langsung sudah jadi kebiasaannya. Jadi tahu kalau selama ini mama mertuaku ini punya kepribadian ganda, baik di awal-awal pernikahanku dan keluar sifat aslinya sekarang-sekarang ini.Namanya pernikahan tidak selalu mulus. Ada kalanya suatu pernikahan akan terganggu akibat adanya orang ketiga, orang ketiga entah itu keluarga, ipar, atau mertua. Dihadapkan pada kenyataan dimana mertua sudah ngebet menginginkan cucu. Dimana perkara keturunan tidak ada yang tahu, aku sendiri, baik suami tidak ada yang tahu kapan rezeki itu akan datang menghampiri.Tangisku pecah bersama air shower yang terus mengguyur tubuhku. Tekanan yang aku rasakan ini menghantam mentalku habis-habisan, pertanyaan kapan hamil dan kenyataan suamiku mendua. Sakitnya doble, dan nggak ada duanya lagi. Berharap suami adalah orang yang me
Diam di rumah cuma bikin aku mati muda, kuhabiskan hari ini di kantor ah sekalian mau menghadap bos. Ada info kalau novel keduaku mau naik cetak, lumayan kan ada tambahan uang buat tabungan. Riuh para karyawati sedang sibuk menggibah waktu aku sampai kantor lima belas menit sebelum teng."Din, tumben ngantor. Dipanggil?"Aku cuma mengulas senyum, soalnya anak-anak tahu aku ini pekerja rumahan yang digaji layaknya orang kantoran. Beginilah nasib karyawan kontrak yang kerjanya nggak nentu."Iya nih mau ngadep, Bos," jawabku lalu melambai melewati kubikel mereka.Kata Luki, rekan kantor yang cukup akrab denganku ada di mejanya lihat aku baru datang."Din, sehat lo? Ko makin kurusan?" Luki ngehampirin dan kami bersalaman kayak orang lama nggak ketemu padahal baru beberapa hari sudah bertemu waktu anaknya Pak Wira mulai kerja."Sehatlah, nih efek diet bikin turun kiloan." Bisa mati kalau Luki tahu turunnya berat badanku akibat diselingkuhi, memalukan."Yakin efek diet? Bukan efek yang lai
Dengan jantung yang berdebar kencang dan perasaan was-was sejak memasuki waktu isya, aku dan Mas fahri duduk santai berdua di depan televisi yang menyala. Aku nonton acara sinetron yang tersakiti itu dan suamiku mantengin layar ponselnya, mungkin saja dia lagi WA an sama si jendes itu.Lama nunggu sampai terdengar bedug adzan isya, dan tak lama suara hujan deras perlahan mulai turun, deras banget hujannya. Kutebak, pasti Pak RT nggak jadi datang karena hujan deras yang mengguyur, lebih milih tidur sambil selimutan daripada ngurusin rencanaku tadi siang. sedikit kecewa, tapi nggak apa-apa masih ada esok hari.Rasa kantuk menyerang, hebat banget sampai kepalaku terasa berat. Kupaksa buat pindah ke kamar daripada nanti merepotkan Mas fahri yang harus bopong aku. Pindah ke kamar dan setelah pindah, langsung aku merebahkan diriku dan memejamkan mata mulai terlempar ke alam mimpi.Entah berapa jam aku tidur, pas samar-samar aku mendengar suara berisik di luar. "Tok.. Tok.. Tok..""Assala
"Saya tidak berzinah, Pak " Mas Fahri keukeuh tidak mengakui hubungannya dengan si jendes. Aku lelah, sumpah. Ingin pulang, tidur lalu melupakan semuanya menganggap ini hanyalah mimpi buruk waktu bangun nanti."Alah udah Pak RT, lapor polisi aja. Mereka berdua udah bikin komplek kita tercemar." Siapa yang bicara, aku nggak tahu. Para bapak-bapak berisik banget di belakangku ini. Bikin aku nggak fokus dengerin penjelasannya si Miska."Kalau nggak zinah ngapain malam-malam ngendap kayak maling ke rumah nya Miska, bukannya itu namanya mau zinah.""Astagfirullah Bu ibu, tolong tenang. Hargai Pak RT," suaminya Bu Cokro bersuara, sama denganku ingin jalannya sidang ini dengan tenang dan aman. Nggak ada lagi yang lempar batu atau telur kayak tadi. "Kami emang nggak zinah, Mas kamu ngomong dong yang sebenarnya." Miska nyenggol lengan suamiku bikin kami yang mengelilingi mereka menunggu apa yang sebenarnya harus Mas Fahri bicarakan. Apa si jendes itu nggak tahan karena sejak tadi dia terus y
"Pokoknya jangan sekarang, aku nggak bisa ke rumah, Mis. Dinda aja udah curiga, katanya dia denger dari tetangga-tetangga sini kalau aku sering kedapatan ke rumah kamu. Kamu cari alasan yang masuk akal, jaga-jaga kalau nanti ada yang tanya sama kamu tentang aku, oke!"Kugigit bibir saking kesalnya karena Mas Fahri nolak datang. Padahal aku lagi pengen dimanja, lagi pengen dibelai. Mumpung Aurel sudah tidur sama Bibik. Kesal ditolak, aku telpon Mama sajalah. Siapa tahu kesel ku langsung hilang karena Mama paling jago bikin hatiku berbunga-bunga."Emang si Dinda itu ngerecokkin Fahri terus. Jadi kamu harus maklum ya, Mis. Mama yakin nanti kalau ada waktu senggang, Fahri juga ke sana. Sabar ya, Sayang.""Tapi aku maunya sekarang Mam.. huhu. Si Dinda lama-lama emang ngeselin, kenapa sih Mas Fahri nggak cerein dia aja. Kan nanti aku sama Mas Fahri bisa bebas, Mam. Mama bujukkin Mas Fahri dong, ceraiin ajalah si Dinda. Dia juga nggak hamil-hamil kan.""Iya-iya, nanti Mama bilangin Fahri. La
"Mama harus bujuk Mas Fahri buat cerain Dinda. Aku lagi hamil lagi, Mam. Aku nggak mau warga tau aku hamil di luar nikah, mereka taunya aku janda. Padahal aku ada suami."Perutku lama-lama makin membesar, dikiranya macem-macem lagi. Janda gatel atau apapun lah itu, nanti orang tuaku nggak enak denger gosip tentang aku malah ujungnya malah nyuruh aku ninggalin Mas fahri. Gini nih resiko jadi istri kedua."Iya kamu sabar aja, nanti Mama bilangin fahri. Pokoknya kamu jangan banyak pikiran, nanti stress. Mama nggak mau ada apa-apa sama kehamilan kamu, Miska. Kamu harus jaga cucu-cucu Mama ini, kasih perhatian, urusin yang bener. Mama udah nurunin harga diri Mama demi kebohongannya fahri," ujar Mama mertua."Kebohongan yang mana, Ma?" tanyaku."Itu loh, Fahri kan alesan motong uang bulannya si Dinda karna Mama butuh uang banyak. Padahal kan kamu tau sendiri kalau Mama nggak pernah kekurangan uang," ujar Mama mertua dengan pongahnya. Iya aku akui kalau memang keluarg suamiku nggak pernah ke
POV DindaLama-lama kehamilanku ini malah tambah parah rasanya, mulai nggak bisa semua makanan aku nikmati dan aku juga nggak bisa menerima bau-bauan yang hinggap ke hidungku. Rasanya tuh mual dan lama-lama mau muntah. Sepertia saat ini, tetiba wangi parfum yang malah bikin kepalaku pusing. Wanginya nggak nyengat, nggak terlalu strong, manly tapi herannya nggak bisa aku terima dan lebih kagetnya kala mendapati bahwa Pak Ragalah pemilik wangi itu. Beliau ada di depan kubikel aku, spontan aku lirik teman-teman timku takut ada yang salah paham melihat 'kedekatanku' dengan Pak Raga."Din, sarapan dulu." Beliau nyimpan sesuatu, kotak makanan karena aromanya tercium nikmat. Kayanya enak, lagian kebetulan belum sempat sarapan."Buat saya Pak?" tanyaku sok pura-pura."Menurutmu buat siapa? Nggak ada orang lain lagi di ruangan ini."Ya karena memang cuma baru beberapa yang datang, itupun mereka lagi di pantry, biasalah sarapan, ngopi sambil gosip.Pak Raga tergolong bos yang rajin, masih ada
"Jadi Raga lagi deket sama janda?" Tante Nelly kelihatan termenung, pasti pikirannya sudah terkontaminasi oleh ceritaku tentang si Dinda."Iya Tan, Tante coba deh bicara baik-baik sama Raga. Masa iya seorang Raga bisa sama janda kaya perempuan itu, dia perempuan nggak punya Tan. Rumahnya aja ngontrak, terus bukan dari turunan keluarga yang selevel dengan keluarga Tante. Ya Miska cuma menyayangkan aja, kasihan nanti kalau Om sama Tante harus malu pas kabar ini sampai ke kolega atau rekan bisnis kan."Perlahan Tante Nelly nggangguk, yes aku rasa misiku sudah hampir berhasil. Aku yakin banget setelah ini Raga nggak akan pernah kelihatan atau terdengar dekat lagi sama Dinda.Kami cukup lama ngobrol hingga akhirnya aku bisa lihat Raga keluar dari kamarnya di lantai atas, lah aku kira Raga sudah berangkat ke kantor tapi rupanya dia masih ada di rumah. Wah bisa-bisa nanti dia curiga sama aku lagi."Hai Ga.." Tanganku melambai nyapa dia yang menghampiri kami."Hai Mis, tumben..""Iya nih, kan
"Gimana, lo udah berhasil ngerjain si Dinda?" Kesal juga menunggu cukup lama di depan gerbang rumah.Sejak aku tahu kalau dia tinggal di perumahan itu, aku jadi punya ide buat ngerjain dia. Minimal bikin dia takut dan akhirnya nggak betah tinggal di Jakarta. Aku nggak mau yah kalau Mas Fahri nyamperin dia dengan alasan-alasan lain. Seperti kayak tempo hari, suamiku minta diantar buat urusan surat cerai. Padahal tinggal minta pengacara saja buat urus semuanya bikin hatiku ketar-ketir nggak jelas. "Berhasil Bos, cuma.." Orang suruhanku natap aku dalam-dalam kayak ada yang janggal."Saat kami mau masuk ke rumahnya, di rumah sebelahnya kayak masih rame Bos. Untungnya kami nggak jadi aksi, soalnya nggak lama setelah itu kami lihat ada mobil mewah datang pas kami udah kabur naik motor.""Mobil mewah?" Keningku mengernyit dalam, mobil siapa yang dia maksud itu."Iya Bos, kami nggak tau siapa yang ada di dalamnya karna kami langsung kabur dari perumahan itu."Penuturan anak buahku bikin aku
Sekelebatan dua orang tadi terlihat lagi, keduanya naik motor dengan mesin yang tidak dinyalakan. Aku nggak salah lagi, jelas sekali mataku ini melihat kedua orang yang lari dari arah rumahku menuju tempat gelap dimana motor mereka berada.Diiringi ketakutan akibat mati lampu, mau tak mau memberanikan diri menyalakan meteran listrik di luar sana. Kalau tidak kan listrik di rumahku bakalan mati sampai pagi, anehnya pos ronda yang tak jauh dari rumah kelihatan sepi kalau biasanya ada yang jaga sampai subuh. Sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil makin dekat dan tak salah lagi, mobil yang aku kenali parkir di depan rumah. Itu mobilnya Pak Raga, ada apa coba datang lagi malam-malam begini? Bikin aku was-was disamperin bos di waktu yang kurang wajar."Dinda, kenapa listrik rumahmu mati? Apa tokennya mati?" Kulihat Pak Raga menghampiriku yang memang belum sempat menyalakan meteran listrik. Pun saat baru akan aku jawab, tetangga sebelah rumah keluar dan bertanya dengan suara nyaring.
Aku menatap nanar uang dalam amplop dari bank. Makan-makan kemarin sama sekali tidak ada yang keluar dari dompetku, murni Pak Raga semua yang bayar. Itupun aku nggak enak sama beliau pas mau bayar di kasir, beliau malah memberikan kartunya dan melarangku bayar. Mau diganti, ditolak dengan alasan biar uangku ditabung buat lahiran nanti. Menunggu taksi online di halaman Bank tempat mencairkan uang, nggak sengaja mataku menangkap sosok Mas Fahri, dia kelihatan keluar dari toko sebelah Bank. Toko bakery terkenal, dulu sebelum berpisah aku sering ke toko bakery itu. Kuenya enak-enak, cake, puding dan rata-rata enak semua. Pernah aku berpikiran ingin memiliki toko bakery saja daripada menulis. Mengembangkan sisi lain diriku yang memang hoby membuat kue.Taksi online datang, gegas ku masuk. Tujuanku sekarang adalah supermaket. Rencana membeli kebutuhan bulanan yang memang sudah habis. Hari ini aku memang izin pulang lebih awal sekitar pukul 2 kurang mengejar tutup Bank biar bisa mencairkan
Aku masuk kerja lagi sesuai yang diminta Pak Raga. Pertemuan kami membahas masalah produksi film berjalan lancar, dan sesuai yang aku prediksi hari ini aku mendapatkan DP bayaran filmku yang pertama sebagai tanda jadi. Sumpah aku shock begitu tanganku menerima cek dengan nilai yang menurutku sangat besar ini. Kata anak-anak, begitu Pak Raga keluar dari ruangan meeting wajahnya berseri-seri. Senyum terus mengukir di wajahnya yang tampan. Aku sih nggak tahu karena jalan di belakang beliau dan orang-orang film. Sebenarnya membuatku insecure, apalah aku ini yang bukan apa-apa bermodalkan cerita akhirnya dapat tawaran kontrak menggiurkan."Din, gimana?"Teman-temanku pada kepo, jelas mereka tahu kalau aku dapat kontrak ini. "Apanya?" tanyaku pura-pura."Filmmu? Udah dikontrak kan?"Aku cuma ngangguk kecil mengiyakan, nggak mau bohong anggap saja sebagai motivasi buat mereka agar bisa memecut diri lebih semangat. Karena biasanya yang aku tahu, perusahaan itu akan melihat peluang dari para
Entah apa yang merasukiku datang ke rumah yang dulu aku tinggali. Rumah yang pernah menjadi tempat ternyamanku selama pernikahanku.Baru hendak kuayun langkah masuk ke pintu gerbang yang terbuka, kulihat Miska bersama mantan ibu mertuaku tengah tertawa-tawa kecil sambil fokus mereka ke ponsel. Ingin kutarik lagi lalu mundur, tapi Mas Fahri keluar berjalan di belakang mereka. Nampaknya mereka akan berangkat, dengan koper yang dibawa Mas Fahri.Sumpah, aku nggak sanggup. Aku nggak tahu gimana caraku untuk menyampaikan semua ini, bagaimana kalau nanti Mas Fahri nggak percaya?"Dinda..."Bukan Mas Fahri, melainkan itu suara mantan ibu mertuaku yang sadar lebih dulu menemukanku berdiri. Kemudian kulihat Mas Fahri natap aku begitupun dengan Miska. Miska sinis sekali pas menemukanku di depan pintu gerbang."Ada apa kamu kesini?" tanya Miska."Aku-aku ada urusan sama Mas Fahri," jawabku tanpa ingin menatap matanya."Urusan apa? Mau minta uang? Bukannya kamu udah kerja."Kuseret ludahku susah
Tiga minggu sejak gugatan masuk ke Pengadilan Agama, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Pagi-pagi, menjelang subuh perutku serasa dikocok, mual sampai muntah. Kepalaku juga pusing bukan main, makan pun nggak bisa masuk karena dimuntahin lagi. Benar-benar hari yang kurang baik untuk aku yang sedang sibuk-sibuknya di kantor."Sakit?" Ulfa nempelin punggung tangannya ke keningku. "Demam, Din." Katanya, mungkin iya ditambah mataku terasa panas dan berair. "Izin pulang aja, Din. Biar aku yang izinin ya."Kepalaku menggeleng. "Nggak usah, soalnya aku ada janji sama Pak Raga. Beliau bilang sutradaranya mau ketemu, datang ke kantor siang ini." Andaikan sutradanya nggak datang, aku nggak bakalan maksain masuk kantor. Tapi masalahnya Pak Raga sejak semalam sudah bilang lewat sekretarisnya agar aku menyiapkan diri hari ini. Dan tepat pukul 11 siang, aku dipanggil masuk ruangannya Pak Raga. Di sana sudah ada Mas Bram, sutradara terkenal yang menangani banyak film. Jujur, aku nervous
"Din.. Dinda.. gimana kata Pak Raga? Denger-denger novelmu bakal diangkat ke layar lebar ya?" Ulfa antusias banget dengan rencana ini, aku sih mengaminkan dengan kencang dalam hati selain karena aku sedang butuh uang banyak, semoga saja tidak ada halangan dan hambatan. "Do'ain aja ya, moga jadi," jawabku sambil mengulas senyum."Pastinya, aku tau kamu pantes dapetin itu. Aku aja mewek sama alur ceritanya, nyentuh banget. Kayak realate banget sama kehidupan nyata." Ulfa ini memang paling baik diantara yang lainnya, dia itu perhatian banget sama teman. Tidak merasa tersaingi malah nyuport habis-habisan."Makasih ya, moga aja nggak ada halangan apapun.""Aamiin.." Ulfa mengusap wajahnya sambil tersenyum, kata Ulfa bangga banget punya teman kayak aku yang nggak nyerah di tengah prahara rumah tanggaku. Minggu lalu waktu aku niat kerja daily, aku cerita sama Ulfa dan Ulfa menyayangkan hubunganku yang harus kandas."Masalah perceraian gimana? Udah sampai mana?"Aku ngangkat bahu, nggak tah