Kania menatap Kirana lama, diam-diam Kania memuji kehebatan Raden Mahesa yang sudah berhasil menundukkan Kirana sehingga mau menjadi abdinya yang setia, 'Kirana, maafkan aku selama beberapa waktu ini tidak pernah memberimu tumbal, tapi setelah ini aku akan menebusnya.'
"Tidak usah, Kania. Kau tidak perlu lagi menebus tumbal-tumbal itu, setelah aku menjadi abdi Raden Mahesa, aku tidak pernah lagi kekurangan. Walau pun kau tidak memberiku tumbal dalam jangka waktu yang lumayan lama. Sekarang, aku mau pergi dulu, Kania. Raden, aku pergi dulu." Kirana mengundurkan diri dari kamar Kania menuju ke sebuah tempat yang selama beberapa bulan ini menjadi tujuannya mencari mangsa.
Setelah kepergian Kirana, perlahan-lahan Raden Mahesa berjalan mengelilingi Kania, dihidunya bau harum tubuh perempuan itu, bau harum bunga kantil menambah besar keinginannya untuk segera menjadikan perempuan itu sebagai ratunya.
Aura gelap Kania yang semakin bersinar pun menambah kuat hasrat raja
"Tentu saja bisa, karena kita akan menikah sekarang dan kau akan menjadi permaisuri kerajaan Mahasura ini. Sekarang tutuplah matamu, Ratuku." Mahesa memerintahkan Kania untuk menutup matanya dan dia pun mulai mencumbui Kania.Kania pun menuruti perintah Mahesa, dia begitu menikmati cumbuan Mahesa, untuk sejenak dia merasakan ada sesuatu yang menari-nari di wajahnya, rasanya begitu lembut, basah dan hangat, meninggalkan sensasi geli luar biasa.Dengan perlahan sesuatu itu bergerak ke arah lehernya yang putih. Di sana, sesuatu itu memberi banyak tanda merah sebagai arti kepemilikkan dirinya atas Kania, setelah merasa puas bermain di leher Kania, dia bergerak ke dada Kania dan bermain cukup lama di sana, memberi sensasi geli, menimbulkan gairah syahwat yang telah lama sengaja dipendam oleh Kania."Ugh ... Raden ... Mahesa ... puaskan aku ... Mahesa ...." Kania mulai meracau karena gairah yang mulai terbakar, nafasnya mulai tersengal-sengal menahan gairah yang meled
Sementara itu di Mahasura, kerajaan para lelembut, tampak Raden Mahesa sedang duduk termenung di singgasananya. Raja para lelembut yang usianya sudah ribuan tahun itu sedang memikirkan Kania, istri manusia ke duanya setelah Lakeswari, perempuan separuh abad yang selama ini selalu setia membantunya mencari orang-orang yang sedang di mabuk asmara tetapi tidak ingin repot dalam memperjuangkan cintanya, dan juga mereka yang sakit hati setelah cintanya ditolak orang yang mereka cintai.Dulu bagi Mahesa, tidak ada manusia satu pun yang mampu berkorban seperti Nyai Lakeswari, tetapi setelah bertemu dengan Kania, hatinya bergetar begitu hebat. Bagai terhipnotis, Mahesa merasakan cinta yang luar biasa kepada Kania, bahkan dia rela mengorbankan dirinya asalkan wanita itu bahagia, satu hal yang tidak pernah dia rasakan kepada Nyai Lakeswari."Raden. Raden, sedang memikirkan apa? Raden teringat pada manusia perempuan itu? Raden jatuh cinta padanya? Sehebat apa perempuan itu melaya
Setelah beberapa lama, Nyai Lakeswari berpamitan kepada Mahesa untuk kembali ke dunia manusia, sebelum pergi tidak lupa dia meninggalkan pesan supaya Mahesa jangan sampai jatuh cinta kepada Kania, apabila dirinya masih ingin selamat.Mahesa mengangguk tanda setuju, karena bagaimanapun juga permasalahannya dengan Nyai Lakeswari, Mahesa tidak ingin mencelakakan ratunya.Sambil beranjak pergi meninggalkan Mahasura, Nyai Lakeswari menyusun satu rencana untuk Kania. Karena tanpa diberi tahu siapapun sebenarnya Nyai Lakeswari sudah mengetahui apa yang terjadi antara Raden Mahesa dan Kania. Nyai Lakeswari berkeinginan menjadikan Kania sebagai penerusnya, sebab Nyai Lakeswari sangat tertarik dengan aura gelap yang dimiliki oleh Kania, sangat gelap, mempesona tetapi mampu menipu musuh untuk mendekat dan membunuh musuh dengan perlahan.'Kania ... aku sudah tahu apa yang terjadi antara kau dan Raden Mahesa tadi malam, sekarang aura kegelapan milikmu semakin kuat, makin mem
Di Perumahan Pondok Indah tempat tinggal Arga dan Rasti.Beberapa bulan sejak Rasti melakukan ritual pemasangan susuk emas dan ritual nikah jin, rumah tangga Rasti dan Arga terlihat baik-baik saja dan semakin mesra saja, hanya ada beberapa perubahan saja yang tampak begitu mencolok. Rasti yang biasanya tidak tampak digandrungi banyak lelaki, sekarang mendadak menjadi sangat populer di kalangan pria manapun yang dia jumpai saat bepergian. Bahkan tak sedikit dari lelaki-lelaki hidung belang itu berani meminta berkenalan dengan dirinya meski ada Arga berdiri di sampingnya.Arga yang lama kelamaan merasa jengah dengan situasi itu menegur Rasti supaya tidak terlalu mencari perhatian lelaki selain dirinya, tetapi teguran Arga itu diacuhkan Rasti karena dia merasa senang dengan aneka perhatian yang diterimanya, hingga hal itu kembali memicu petengkaran antara mereka."Rasti! Sebagai imammu, aku tidak suka melihatmu menerima semua perhatian yang terlalu berlebihan dari
"Ih, Mas Arga nggak usah terlalu lebay deh. Masa cuma kaya gitu aja l main larang aku pergi sih! Lagipula Mas Arga juga tahu kan, dari dulu aku selalu pakai baju yang seperti ini. Aku nggak biasa kalau harus pakai baju yang panjang-panjang, panas tahu!" Rasti memprotes Arga yang mulai melarangnya keluar rumah dan juga harus memakai baju panjang bila bepergian."Kamu bilang aku lebay?! Aku ini suamimu! Laki-laki yang bertanggungjawab penuh atas semua perbuatanmu, ucapanmu dan pakaianmu, aku yang akan menanggung dosanya bila kau seenaknya! Dan yang seperti itu kamu bilang, aku lebay?! Di mana akalmu, Rasti!" Nada suara Arga mulai meninggi mendengar sebutan lebay yang ditujukan kepadanya.Usai mengutarakan kata hatinya, Arga pergi meninggalkan Rasti sendirian. Arga sungguh tidak habis pikir dengan istrinya, yang dengan sangat mudah mengatakan bahwa dirinya terlalu lebay karena telah meminta wanita itu memakai pakaian yang lebih tertutup saat keluar rumah.Untuk beb
"Iya, bener. Aku aja tadi sampai melongo melihat Bu Kania, seandainya aku masih bujang, bisa nekat kulamar jadi istri dia. Sayang aku baru saja menikah," kelakar seorang karyawan pria yang langsung saja menuai cemoohan dari teman-temannya yang lain.Sesampainya di dalam ruang kerjanya, Kania langsung disibukkan dengan agenda-agenda pertemuan dengan beberapa calon investor serta berbagai dokumen penting yang memerlukan tanda tangannya. Semua pekerjaan dia lakukan dengan cepat dan sigap, sehingga tidak sampai melewati waktu makan siang semua dokumen sudah dia tanda tangani tinggal menyelesaikan satu pertemuan lagi dengan dua dari lima orang calon klien yang harus ditemuinya hari ini.Kania baru saja akan meluruskan pinggang ketika telepon di ruangannya berbunyi.Kring! Kring! Kring! Kring!Dengan sedikit malas, Kania mengangkat telepon itu.[Ya. Halo, Kania's speaking. (Dengan Kania di sini).] sapa Kania begitu mengangkat teleponnya.[Selamat
Andra dan Kania sudah sampai di sebuah restoran cepat saji yang tidak terlalu jauh letaknya dari kantor Kania. Sambil masih menggandeng mesra tangan Kania, Andra mengajak Kania duduk di gazebo restoran yang siang itu lumayan sunyi pengunjung. Setelah menyuruh Kania duduk, Andra segera memanggil salah satu pramusaji restoran dan memesan tiga porsi nasi dan tiga potong ayam geprek serta dua gelas es jeruk peras. Tidak hanya itu, Andra bahkan juga memesan makanan dengan menu serupa sebanyak lima puluh bungkus lagi untuk dibawa pulang. Kania yang sedari tadi duduk melihat dalam diam di samping Andra, merasa begitu keheranan dengan banyaknya pesanan lelaki itu. "Banyak amat, Mas pesennya. Yang mau di makan di sini aja udah banyak, ini lagi mau bawa pulang segitu banyaknya. Emangnya perut Mas Andra muat makan sebanyak itu nanti?" Setelah pramusaji itu menjauh dari mereka, dengan polosnya Kania menanyai Andra mengenai jumlah pesanan lelaki itu yang dirasanya terlalu banyak.
Usai membayar semua pesanan, Andra mengantarkan kembali Kania ke kantor dan langsung menyerahkan bungkusan yang tadi dipesannya untuk dibagikan kepada teman-teman kantor Kania."Mbak, tolong ini dibagi-bagikan ya. Maaf kalau ada yang nggak kebagian, soalnya saya nggak tahu berapa jumlah karyawan yang ada di dalam kantor ini," ucap Andra sambil menyerahkan sebungkus besar kantong kresek kepada Rani, resepsionis yang ada di depannya."Terima kasih banyak, Pak. Cukup kok, Pak ini jumlahnya. Saya bagikan dulu ke dalam, terima kasih sekali lagi, Pak, Bu." Rani menerima bungkusan itu setelah mendapat persetujuan dari Kania dan segera berlalu untuk meminta bantuan kepada office girl untuk membagikan nasi kotak dari Andra."Mas, makasih banyak ya. Udah diajakin makan siang, eh buat temen-temen aku di kantor juga dibawain. Kamu repot-repot amat, sih? Padahal nggak usah kaya gitu, aku nggak enak jadinya." Kania pura-pura merasa tidak enak dengan perhatian yang diberikan A