Share

Bab 10

Author: Benjamin
Daffa masih mengingat-ingat hubungannya dengan Sarah ketika kakeknya angkat bicara lagi.

“Daffa, kamu belum punya mobil, ‘kan?” tanya kakeknya.

Daffa tidak menjawab, tapi ujung mata-matanya berkedut marah. Tentu saja dia tidak memiliki mobil! Bagaimana bisa dia membeli sebuah mobil ketika dia semiskin tikus gereja?!

Jauhar Halim tersenyum hangat ketika dia melihat alis cucunya berkedut. Itu mengingatkannya pada anaknya. Anaknya Tristan Halim juga selalu mengedutkan alisnya ketika dia merasa kesal.

“Yah, itu sebuah masalah. Kamu harus hidup seperti seorang Halim sekarang. Bram, bawa dia ke garasi dan biarkan dia memilih dua mobil yang dia inginkan. Modifikasi mobilnya sesuai seleranya dan kirimkan padanya sesegera mungkin,” perintah Jauhar dengan berwibawa.

“Baik, Tuan Jauhar,” jawab Bram, membungkukkan badannya. Dia berbalik ke Daffa yang mulutnya menganga seperti ikan yang kehabisan nafas sebelum berbicara.

“Tuan Muda Halim, lewat sini.”

Daffa menghela nafas. Dari menerima kartu senilai 150 triliun rupiah hingga dihadiahi dua mobil yang dia pilih dari garasi. Tidak mungkin dia menolak hadiah seperti itu. Lagi pula, kakeknya bahkan tidak memperbolehkannya menolaknya.

Daffa bangkit dan meninggalkan ruang kerja. Dia juga sebenarnya penasaran dengan garasinya. Karena sudah ada Rolls-Royce yang sangat mahal, dia penasaran mobil macam apa yang akan ada di garasi itu.

Daffa dan pelayan kakeknya, Bram, berjalan selama beberapa menit di lorong yang mewah sebelum berhenti. Bram menghampiri sebuah pintu dan memindai sidik jarinya dan mata kirinya untuk keamanan sebelum membuka pintunya. Ternyata, di balik pintu tersebut merupakan sebuah lift.

Daffa menaiki lift tersebut dan Bram memasukkan nomor lantai sebelum menutup tombol tutup. Lift tersebut mulai turun dan bergerak ke bawah selama sekitar dua menit sebelum berhenti. Bram membuka pintu dan melangkah ke samping, menunggu Daffa meninggalkan lift terlebih dulu. Daffa masih tidak terbiasa dengan perlakuan seperti itu, sehingga dia mengabaikan Bram dan melangkah keluar, yang diikuti oleh Bram.

Namun, Daffa hanya berjalan selama 10 detik sebelum benar-benar berhenti. Tampaknya, dia tidak akan pernah berhenti terkejut selama dia tinggal di rumah besar Halim.

Daffa membayangkan garasi biasa yang terdapat beberapa mobil yang semuanya mahal, tapi ini malah di luar imajinasinya. Seharusnya, dia sudah mengiranya ketika Bram membawanya ke garasi bawah tanah.

Dalam sekali lihat, Daffa bisa menghitung lebih dari 40 mobil, dan mereka semua dibuat dari perusahaan otomotif yang berbeda! Ada berbagai macam mobil Rolls-Royce, Bentley, Ferrari, Lamborghini, Bugatti, Porsche, Koeniggseggs, dan bahkan limosin!

Daffa merasa mulutnya mengering menatap pemandangan di depannya itu. Banyak sekali mobil-mobil mahal! Dia bahkan tidak berani mengira-ngira berapa harga dari keseluruhan garasi bawah tanah tersebut.

Daffa berjalan berkeliling pelan-pelan, mengagumi keindahan setiap mobil di sana. Ada beberapa mobil antik dan jadul di garasi bawah tanah itu, tapi Daffa tahu bahwa sejadul apa pun kelihatannya, mereka mungkin senilai dua kali lipat dari beberapa mobil lainnya di sana.

Daffa tersenyum. Dia tidak tahu kakeknya adalah penikmat mobil-mobil antik. Namun, dia memang baru bertemu dengan kakeknya kemarin. Ada banyak hal yang tidak dia ketahui dari kakeknya.

Daffa berjalan selama beberapa menit sebelum berhenti. Setelah menimbang-nimbang dengan hati-hati, dia masih tidak bisa memilih dua mobil mana yang akan dia ambil untuk dirinya sendiri. Dia tiba-tiba tersenyum, seperti baru saja menemukan hal yang sangat penting. Dia berbalik ke arah Bram yang berdiri di belakangnya dan berkata.

“Apakah kamu tahu harga dari setiap mobil ini?” tanya Daffa.

“Tentu saja, Tuan Muda Halim,” jawab Bram dengan penuh hormat.

“Luar biasa!” seru Daffa.

Bram menatap Tuan Muda itu dengan ragu. Dia bertanya-tanya kenapa tuan muda itu tiba-tiba menanyakannya pertanyaan seperti itu.

Namun, Daffa tidak memedulikan Bram. Karena dia sekarang adalah kepala dari Konsorsium Halim, dia harus bersikap seperti itu. Dia tidak perlu bersikap hati-hati!

“Sekarang, Bram, bawa aku ke dua mobil termahal di garasi ini,” kata Daffa.

Solusinya sangat sederhana. Dia cukup memilih mobil yang paling mahal. Jika dia tidak menyukai keduanya, dia akan memilih mobil sport termahal lainnya. Solusi yang sederhana dan mudah!

Bram tersenyum. Sekarang, tuan muda itu mulai bersikap seperti seorang Halim. Sebagai seorang Halim, dia harus memilih yang terbaik! Yang lainnya tidak pantas mendapatkan perhatiannya.

“Tentu saja, Tuan Muda Halim. Kemari,” jawab Bram sebelum menuntun Daffa ke tempat mobil sport termahal yang terparkir di sana. Mereka berjalan hanya beberapa detik sebelum berhenti di depan mobil sport hitam.

Daffa langsung jatuh cinta pada mobil sport hitam tersebut. Mobil itu sangat keren dan memancarkan keanggunan dan kejantanan di waktu yang bersamaan. Desainnya juga luar biasa.

“Mobil apa ini?” tanya Daffa.

“Ini adalah Bugatti La Voiture Noire. Ini adalah mobil termahal yang pernah dibuat oleh perusahaan otomotif,” jawab Bram.

“Oh? Berapa harganya?” tanya Daffa. Dia penasaran semahal apa harga mobil paling mahal di garasi itu.

“Tiga ratus miliar rupiah, Tuan Muda Halim,” jawab Bram.

Daffa membalikkan badannya ke arah Bram tidak percaya.

“Tiga ratus miliar rupiah untuk satu mobil?!” seru Daffa.

“Benar, Tuan Muda,” jawab Bram.

Daffa menghela nafas. Dia kaya raya sekarang. Dia bisa membeli 100 mobil semacam itu jika dia menginginkannya sekarang. Sebagai kepala dari Konsorsium Halim, dia tidak bisa membiarkan hal-hal seperti ini mengejutkannya.

“Baiklah, aku akan mengambil mobil ini,” ucap Daffa. Dia menyukai desain mobilnya dan menginginkan mobil itu.

“Baiklah, Tuan Muda Halim. Apakah ada yang ingin dikustomisasi dari mobilnya?” tanya Bram.

Daffa melihat mobil tersebut dan menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang perlu diubah dari mobil itu. Dia menyukai mobil tersebut apa adanya.

Bram mengangguk mengerti, sebelum menuntun Daffa kembali. Setelah memperlihatkan Daffa beberapa mobil mahal yang ditolaknya, mereka akhirnya berhenti di depan mobil lain.

“Mobil apa ini?” tanya Daffa.

“Ini adalah Lamborghini Veneno Roadster, Tuan Muda Halim,” jawab Bram.

“Oh? Berapa harganya?” tanya Daffa.

“Sembilan puluh miliar, Tuan Muda Halim,” jawab Bram.

Daffa memandangi mobil sport kuning itu. Dia sangat menyukainya dan itu juga memiliki harga yang masuk akal. Jika dia mengendarainya ke sekolah, pasti akan diterima dengan baik. Walaupun dia tidak menyukai warna kuningnya, dia bisa memintanya untuk dikustomisasi. Seolah bisa membaca pikirannya, Bram bertanya padanya.

“Baiklah, Tuan Muda Halim. Apakah ada yang ingin dikustomisasi dari mobilnya?” tanya Bram.

“Iya. Ganti warnanya menjadi lebih maskulin. Sepertinya itu saja,” jawab Daffa.

“Baiklah, Tuan Muda Halim,” jawab Bram dengan penuh hormat.

“Oh iya, berapa harganya jika ingin mengkustomisasi mobil-mobil ini?” tanya Daffa penasaran.

“Untuk Bugatti seharga 900 miliar rupiah, sementara untuk Lamborghini seharga 270 miliar rupiah,” jawab Bram.

Daffa mengambil nafas dingin. Mahal sekali! Agak aneh rasanya ketika Bram menyebutkan jumlah uang sebanyak itu dengan nada yang biasa-biasa saja.

“Sepertinya sudah cukup, Bram,” ujar Daffa. Dia telah menuruti kakeknya dan memilih dua mobil. Baru saja kemarin dia tidak bisa membayar taksi untuk pergi ke Hotel Sky Golden, tapi sekarang dia memiliki dua mobil super yang dia pilih sendiri.

“Baiklah, Tuan Muda Halim. Mobil-mobilnya akan segera dikirim secara pribadi olehku setelah kustomisasinya selesai,” kata Bram.

Daffa menganggukkan kepalanya sebelum beranjak ke arah lift. Ketika pintunya hendak menutup, sebuah tangan menghentikannya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Agung Arnawa
mungkinkah sy Bisa membaca novel ini kereeeeen....
goodnovel comment avatar
Suherman Syah
kreeeeeennnnnn bangettttt
goodnovel comment avatar
Suherman Syah
trimakasih buat novel yg slalu bisa bikin saya baca dng senang untuk menghilangkan suntuk.. ............
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 11

    Ketika dia kembali ke kamarnya, dia berbaring di ranjang dan terus memikirkan perkataan Bram.Ketika dia membuka matanya, sudah hari Minggu malam. Daffa memeriksa jadwalnya dan memastikan bahwa walaupun dia tidak ada kelas di hari Senin, dia perlu kembali masuk kelas di hari Selasa. Artinya, dia tidak bisa tinggal lebih lama di rumah besar Halim dan waktunya di sini sudah habis.Selama akhir pekan, tidak hanya menerima kartu hitam dan dua mobil super baru, kakek Daffa, Jauhar Halim juga memberikannya ponsel baru. Itu adalah ponsel keluaran terbaru yang diproduksi oleh perusahaan teknologi terkemuka PT Nix. Ponsel itu berwarna hitam dan bertuliskan ‘H’ indah di belakangnya yang berwarna emas, bukti bahwa ponsel itu juga telah dikustomisasi.Kemudian, tidak hanya 150 triliun rupiah di kartu hitam itu, kakeknya juga telah mentransfer 75 triliun rupiah tambahan di rekening biasanya, yang berarti dia memiliki total saldo sebanyak 225 triliun rupiah.Akhir pekan yang penuh kejadian itu a

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 12

    Daffa terbangun keesokan harinya dengan perasaan bahagia. Dia tertidur lelap semalam. Fakta bahwa dia juga merupakan pria kaya raya juga ikut meningkatkan kebahagiaannya. Dia tidak perlu berusaha keras mendapatkan uang supaya dia bisa makan lagi. Dia melihat sekitar kamarnya dan mendapati bahwa teman-temannya sudah pergi ke kelas. Mereka berada di departemen yang berbeda dengannya, departemen Penyiaran dan Media, jadi mereka memiliki kelas hari ini.Daffa pun mandi dan menyegarkan dirinya sebelum memakai pakaian jeleknya. Perutnya yang berbunyi mengingatkannya bahwa dia lapar. Dia hampir pergi ke kantin kampus karena kebiasaannya, tapi memutuskan untuk tidak pergi ke sana. Dia sudah tidak miskin lagi sekarang. Setelah membeli baju baru, dia akan makan di Hotel Sky Golden.Daffa menaiki taksi ke mal terbesar di daerah sana, daerah tempat ayah Dilan Handoko memiliki sebuah restoran. Daerah tersebut merupakan daerah yang terkenal karena terdapat beberapa bisnis dan perusahaan terkemuka

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 13

    Sarah dan Dilan di sisi lain juga sama terkejutnya seperti Daffa. Mereka tidak menyangka akan bertemu seseorang seperti Daffa di tempat seperti ini.Dilan Handoko sedang membawa Sarah jalan-jalan untuk memanjakannya dengan hadiah-hadiah mewah. Dia sudah membelikannya untuknya dan ingin membelikan beberapa baju lagi sebelum mengakhiri harinya. Namun, tidak disangka mereka malah bertemu dengan Daffa di sini. Perlahan, ekspresi terkejut pada wajah Sarah mulai berubah menjadi amarah. Dia langsung merasa jengkel ketika melihat Daffa.Dilan juga langsung dipenuhi amarah ketika melihat Daffa. Dia tidak akan pernah melupakan penghinaan yang Daffa sebabkan di malam ketika dia menembak Sarah. Dia telah benar-benar menghancurkan kesan populernya yang telah dia bangun. Sejak malam itu, dia selalu membenci Daffa. Dia telah berjanji akan menangani Daffa, tapi Daffa tidak bisa ditemukan sejak malam itu. Siapa sangka dia akhirnya malah bertemu dengannya di sini?“Apa yang kamu lakukan di sini?” tan

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 14

    Semua orang menunggu-nunggu mesin pemindai tersebut berubah menjadi hijau, yang berarti Daffa telah benar membayar pakaiannya. Namun, bukan itu yang terjadi. Warnanya malah berubah menjadi merah, yang hanya berarti satu hal.‘Transaksi Anda gagal.’Sarah dan Dilan tertawa terbahak-bahak ketika mereka mendengar suara tersebut setelah mesinnya berubah menjadi merah. Ternyata mereka benar. Daffa hanya berpura-pura menjadi orang kaya. Dia hanya datang ke sini untuk membuang-buang waktu mereka. Mereka benar. Daffa tidak mungkin bisa membayar pakaian seharga 9,15 miliar rupiah. Mereka benar-benar berkhayal ketika sesaat memercayai bahwa dia bisa membayarnya.Dana, pramuniaga yang membantu Daffa memilih pakaian-pakaiannya sangat sedih dan kecewa. Dia pikir kepercayaan diri yang Daffa tunjukkan ketika dia menawarkan untuk membayar pakaiannya berarti dia benar-benar bisa membayarnya. Ternyata itu semua hanya kebohongan.Beberapa orang yang berkumpul untuk menonton drama itu mulai bergosip d

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 15

    ”Ini! Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Gary dengan nada yang rendah dan kebingungan. Dia benar-benar terkejut.“Apakah ada masalah?” tanya Daffa, sedikit mengernyit.Sarah dan Dilan, juga Dana dan pengamat lainnya kebingungan melihat perubahan sikap Gary yang tiba-tiba. Mereka sudah yakin sekali dia akan mengusir Daffa keluar setelah mengungkap bahwa dia adalah pembohong dan hanya berpura-pura, tapi bukan itu yang terjadi.Gary tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan Daffa dari kepala hingga ujung kakinya, tapi tetap menggelengkan kepalanya. Dia sudah menjadi manajer dari toko ini selama beberapa tahun, jadi tentu saja mudah baginya untuk mengenali bahwa kartu tersebut bukanlah kartu biasa.Sekilas, dia bisa tahu kalau kartu itu adalah kartu yang dikustomisasi dan dibuat secara eksklusif untuk kepala dari perusahaan atau bisnis terkemuka. Namun, penampilan pria di depannya ini tidak sesuai dengan bayangannya. Dia benar-benar tidak terlihat seperti seseorang yang memiliki k

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 16

    Daffa melangkah keluar toko dengan bahagia. Dia merasa puas sekali setelah kejadian kecil yang terjadi di toko itu. Dia berjalan beberapa menit dengan tas-tas belanja di tangannya sebelum berhenti.Perut Daffa keroncongan, mengingatkan dia bahwa dia belum makan apa pun. Dia ingin makan di Hotel Sky Golden, tapi dia membawa banyak tas belanja. Membawa-bawa semua tas belanja itu ke hotel akan merepotkan. Lagi pula, dia harus mengganti pakaiannya atau bisa-bisa dia tidak diperbolehkan masuk.Daffa memanggil taksi dan menaikinya. Dia memutuskan untuk menaruh pakaian-pakaian barunya dulu di asrama sebelum pergi ke hotel untuk makan.Tidak ada kejadian menarik selama perjalanan pulangnya. Selain beberapa lirikan dan gosip dari mahasiswa lainnya, tidak ada yang berbeda dari biasanya. Dia memasuki kamar asramanya dan mendapati ruangan itu masih kosong. Walaupun sudah dua jam berlalu sejak dia pergi ke mal, teman-temannya belum pulang dari kampus.Daffa meletakkan tas-tas belanja dengan rap

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 17

    Tiga wanita cantik yang memasuki tempat itu terlihat sangat familier bagi Daffa, terutama wanita yang di tengah, yang membuatnya bertanya-tanya di mana dia pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dia masih menatap wanita itu lekat-lekat ketika wanita itu menyadari seseorang sedang menatapnya.Dia menyadari seseorang sedang menatapnya, tapi dia mengabaikannya karena dia memang sangat menawan, tapi ketika dia melihat Daffa, dia mengenali wajahnya, tapi tidak ingat di mana pernah bertemu dengannya.Melihat mejanya yang dipenuhi makanan mewah sekilas saja menunjukkan bahwa orang itu mungkin sangat kaya, karena untuk bisa makan disini memerlukan kartu keanggotaan. Yang paling murah saja harganya 1,5 miliar rupiah yang berarti dia setidaknya memiliki 1,5 miliar untuk dihambur-hamburkan pada makanan.“Jihan, sedang melihat apa? Ayo.” Hera, salah satu wanita yang menemaninya angkat bicara.Jihan mengangguk pelan dan berusaha merekam wajah Daffa di benaknya sebelum pergi. Karena dia lahir di k

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 18

    Lelaki itu menatap Daffa dengan ekspresi murka. Dia tidak percaya keberuntungannya saat itu.Pertama, wanita jalang tak bernama telah menginjak sepatunya dan ketika dia sedang memberinya pelajaran, orang bodoh lainnya datang untuk bersikap bak pahlawan. Apakah dia cari mati?Dia ingin menepis genggaman tangan orang asing itu, tapi genggamannya terlalu kuat.“Aku tidak tahu kamu siapa, tapi aku sarankan kamu melepaskan tanganku sekarang juga. Kalau tidak, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu,” kata lelaki itu dengan marah.Orang-orang di kerumunan itu menyaksikan kejadian itu dengan nafas yang tertahan. Mereka mengira perempuan itu akan dihabisi oleh lelaki itu karena telah menyinggungnya, tapi mereka tidak menyangka akan ada orang lain yang maju untuk menolong wanita itu.Perempuan itu pun merasa terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka seseorang akan membelanya. Dia mengira dia sudah tamat, tapi sepertinya sekarang tidak akan begitu.“Aku tidak akan melepaskannya kecuali kamu

Latest chapter

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 652

    Kemudian, Daffa fokus pada layar, alisnya sedikit berkerut. Dia tidak mengerti bagaimana video itu bisa disunting untuk membuatnya terlihat seperti dia telah mengganggu gadis itu tanpa alasan.Erin mengernyit. “Tuan, mungkinkah gadis itu pelakunya?”Daffa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, tapi kurasa dia tidak sebodoh itu. Ini tidak menguntungkan dia sedikit pun.” Daffa terdengar dan terlihat tenang dan dia berjalan ke depan dengan percaya diri. Erin memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengikuti Daffa tanpa bersuara. Saat mereka berjalan ke luar jalur naratama, mereka dikelilingi oleh kamera yang berkedip dan beberapa reporter menghalangi jalan mereka. Alis Daffa berkerut dalam dan dia memasukkan tangannya ke dalam saku, terlihat tidak senang. Dia menoleh ke arah Erin dan berkata, “Hubungi departemen legal dan suruh mereka selesaikan ini sekarang juga.”Matanya dingin dan dia berbalik untuk kembali berjalan maju. Erin mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Pada saat ini,

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 651

    Gadis itu memekik, “Pertama-tama, aku tidak merasa aku kelewatan—aku hanya ingin kamu minta maaf padaku dan bukan pada orang lain! Kedua, permintaan maafmu tidak membuatku puas. Sebaliknya, itu hanya membuatku makin kesal! Ketiga, pesuruhmu menegurku, padahal aku tidak salah apa-apa, jadi kamu harus memecat dia! Kalau kamu tidak melakukan segala hal yang baru saja kukatakan … aku tidak memiliki pilihan lain selain menyebarkan ini di seluruh internet. Ketika itu terjadi, kamu akan dikritik oleh semua orang. Kuharap kamu cukup kuat untuk menerimanya!” Dia menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi, terlihat puas dengan dirinya sendiri.Daffa menyipitkan matanya. Kesabarannya untuk gadis itu sudah habis, jadi Daffa menegakkan tubuhnya dan berjalan mundur. Gadis itu menyeringai, berpikir Daffa akan berusaha sekuat tenaga untuk meminta maaf padanya. Sayangnya baginya, ponselnya meledak terbakar. Panasnya sangat intens hingga gadis itu merasa seperti kulitnya terbakar.Dia mengeluarkan teriakan

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 650

    Suara Daffa menjadi jauh lebih lembut. “Kamu boleh duduk. Tidak akan ada yang terjadi pada pesawatnya.”Di sisi lain, Erin sudah mengambilkan baju ganti untuk Daffa dari tasnya. Erin menyerahkannya pada Daffa dengan kedua tangannya, bersamaan dengan beberapa tisu basah dan kering. “Tuan, Anda tidak bisa mandi di pesawat, jadi Anda hanya bisa menggunakan ini saja.”Daffa tidak menduga ini dan dia pun tersenyum. Dia mengangguk dan berkata, “Terima kasih.” Lalu, dia bangkit berdiri dan beranjak ke kamar kecil dengan pakaian dan tisu basah itu. Tepat ketika semua orang berpikir dia akan menutup pintunya dan berganti baju, Daffa tiba-tiba berhenti dan menoleh untuk memandang sebuah pojokan pesawat itu. Seorang gadis yang terlihat seperti berusia sekitar 18 tahun duduk di sana.Daffa menyipitkan matanya dan berjalan menghampirinya. Orang-orang yang Daffa lewati merasa bulu-bulu mereka berdiri karena rasa takut mereka. Gadis itu memandang Daffa dengan takut-takut, tapi matanya terlihat ker

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 649

    Mata Erin berbinar mendengar kata-kata Daffa. Mereka sudah mulai bersiap-siap untuk kembali ke Kota Aswar semalam, tapi itu tertunda karena mereka harus mengurus hal-hal remeh ini.Erin tersenyum dan mengeluarkan ponselnya untuk memesan tiket pesawat, menghela napas lega ketika dia selesai melakukannya. “Tuan, saya telah memesan tiket pesawat untuk pukul 4:00 sore. Kita akan tiba di Kota Aswar pukul 6:00 malam.”Daffa mengangguk. “Kalau begitu, waktunya kita berkemas.”Waktu berlalu dengan cepat. Sebelum mereka menyadarinya, sudah hampir pukul 4:00 sore. Mereka berkemas tanpa hambatan, membuat Daffa gelisah saat mereka menaiki pesawat. Nalurinya sebagai ahli bela diri terbangkit memberitahunya bahwa akan ada hal buruk yang terjadi. Daffa terus berusaha memikirkan apakah dia telah melupakan sesuatu, tapi tidak ada yang terpikirkan. Dia mengernyit dan menjepit batang hidungnya sebelum menghela napas.Kemudian, dia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, membiarkan kekuatan

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 648

    Alicia menekan roknya ke bawah sebelum berlari ke luar secepat mungkin untuk mencari Daffa. Dia telah melakukan kesalahan besar dan harus meminta maaf pada Daffa sebelum terlambat.Di sisi lain, Daffa sudah memasuki mobilnya. Namun, dia belum menyalakannya. Erin duduk di kursi belakang alih-alih duduk di samping Daffa seperti yang dia lakukan dalam perjalanan menuju kemari. Daffa menyandarkan punggungnya dengan mata yang terpejam.Daffa tidak mengatakan apa-apa, tapi suasana di dalam mobil itu sangat tegang hingga Erin merasa tercekik. Erin baru hendak menyerah ketika Alicia berlari menghampiri mereka dan berhenti di dekat kursi belakang. Alicia meletakkan tangannya di gagang pintu dan hendak membukanya ketika pintu itu terbuka untuk menampilkan wajah Erin yang tersenyum.Alicia terkejut oleh hal itu dan menggumam, “Erin?”Senyum Erin kian merekah. “Kamu bisa duduk di depan. Tuan Halim sudah lama menunggu.” Suaranya lembut, membuat Alicia tenang. Alicia mengangguk dan menutup pintu

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 647

    “Tuan Halim, saya sadar saya telah melakukan kesalahan besar. Saya harap Anda akan memberikan saya kesempatan lain—saya bersumpah saya tidak akan membiarkan ini terjadi lagi!” Penjaga keamanan itu gemetar hebat, tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.Penjaga itu menatap Daffa dengan tatapan memohon, tidak tahu bagaimana Daffa akan bereaksi. Dia tidak tahu apa-apa tentang Daffa, hanya mendengar orang lain berkata kalau Daffa hebat. Berdasarkan apa yang telah dia dengar, Daffa bukan hanya cerdas, tapi juga lebih kuat dari rata-rata individu—rupanya, Daffa jarang bertemu lawan yang lebih kuat dibandingkan dengannya, jadi tidak ada yang pernah menyaksikan Daffa kalah dalam pertarungan. Sekarang, orang yang sudah seperti dewa ini berdiri di hadapannya.Daffa telah memberikannya kesempatan sebelumnya, tapi dia malah menyia-nyiakannya. Penjaga keamanan itu menjadi putus asa memikirkannya—satu-satunya harapan baginya adalah Daffa cukup baik hati untuk memberikannya kesempatan lain. Namun, tida

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 646

    Daffa menaikkan sebelah alisnya melihat lebam di pergelangan tangan Erin dan melingkarkan lengannya di pundak Erin. Kemudian, Daffa menginjak Vic dan berkata, “Aku berniat mengampunimu, tapi tampaknya itu tidak perlu. Mungkin kamu baru akan puas ketika kamu tidak bernyawa dan dibawa pergi di dalam kantong mayat.”Mata Vic membelalak mendengar perkataan Daffa, tapi tidak ada sedikit pun keraguan di nada bicaranya ketika dia meraung, “Cukup! Apakah kamu sadar seberapa tidak masuk akal perkataanmu itu? Aku hanya tertarik dengan wanita cantik di pelukanmu dan ingin membawanya pulang bersamaku, tapi kamu ingin merenggut nyawaku! Itu sangat tidak adil!”Daffa tersenyum, tapi kerumunan orang itu menggigil karena senyumannya sangat dingin. Daffa menekan kakinya, baru berhenti ketika dia mendengar suara tulang patah. Vic terbaring di tanah, terlihat pucat karena rasa sakut itu. Namun, dia tidak dapat bersuara. Sesuatu terasa tersangkut di tenggorokannya!Daffa memandangnya dengan menghina, k

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 645

    Seorang wanita tinggi berdiri di sampingnya. Si kerdil hanya mencapai pinggang wanita itu. Daffa melirik mereka sebelum pergi, tapi itu tidak berjalan sesuai yang direncanakan. Begitu dia berbalik untuk pergi, si kerdil bergegas berdiri menghalanginya. “Aku sedang berbicara padamu, bocah. Aku tidak pernah melihatmu di Kota Almiron sebelumnya. Kamu pasti salah satu dari orang-orang yang datang untuk uang hadiahnya.”Orang kerdil itu menatap Daffa dengan arogan dan melanjutkan, “Kusarankan kamu pergi sekarang. Kalian orang-orang miskin tidak tahu seperti apa rasanya menjadi orang kaya, jadi tidak mungkin usulanmu akan diterima!”Wanita di sampingnya tertawa mengejek, kemudian berkata, “Beri mereka kesempatan, Pak. Setidaknya, mereka akan mendapatkan makanan gratis.”Daffa mengangkat sebelah alisnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berjalan menghindari orang kerdil itu untuk pergi. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyuruh seseorang mengusir orang kerdil itu. Namun, ketika

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 644

    “Namun, kurasa itu bukan ide yang bagus.” Daffa mengetukkan jarinya di meja dengan runtutan yang cepat. “Karena itu, aku harus minta maaf karena menolak permintaanmu.” Dia memandang William tanpa bergerak, seakan-akan dia tiba-tiba berubah menjadi patung.Namun, William tahu Daffa hanya menunggu dia merespons. Merasa gugup, William menelan ludah dan membuka mulutnya untuk dengan gemetar berkata, “Saya mengerti, Tuan Halim. Ini salah saya karena tidak memikirkan hal ini dengan baik-baik dan saya akan memperbaikinya.” Setelah mengatakan itu, William bergegas keluar dari ruangan secepat mungkin.Ketika keheningan menjatuhi ruangan itu lagi, Daffa mencondongkan badannya. Dia menyangga kepalanya dengan lengannya sambil membaca laporan yang baru saja William serahkan padanya.Dia terkejut melihat betapa ringkas dan mudah dipahaminya laporan itu. Untuk waktu yang lama, Daffa kira William tidak berguna. Namun, tampaknya dia keliru. Malah, laporan itu dibuat dengan sangat baik dan itu membua

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status