"Hei ... Apa yang kau lakukan?"Rekan dari penjaga pintu masuk tidak percaya jika Arya begitu mudah membunuh rekannya."Apa kau tidak lihat apa yang aku lakukan?" tanya Arya dengan tersenyum.Arya yang sudah melihat banyak kematian, kini mulai berubah sikap dalam menghadapi golongan hitam, jika dilawan dengan sikap lembut maka golongan hitam akan merendahkan, tapi jika Langung gunakan kekuatan maka mereka akan langsung ciut."Aku mencari ketua kalian!" kata Arya."Ketua tidak ada! Bunuh saja si sombong itu!"Anak buah Ki Rangga yang melihat Arya dengan mudahnya membunuh rekan mereka tidak peduli dengan pertanyaan Arya lagi. Mereka hanya ingin membunuh Arya, membalas kematian rekan mereka.Belasan orang yang merupakan anak buah penjaga berlari ke arah Arya.Pukulan petir!'Haaaaaaaaaaa!!Arya melepaskan pukulan jarak jauh yang begitu mematikan, dan pukulan itu bukan pukulan yang hanya akan menghantam satu orang saja, tapi pukulan itu seolah pukulan yany berantai yang menggosongkan anak
Dengan tangan yang diborgol rantai besi, Arya dibawa ke istana kerajaan Purawa. Dan itu membuat Arya bagaikan tahanan yang paling di cari di seluruh kerajaan Purawa.Tidak hanya itu, tangan Arya juga dibiarkan membawa kotak besi yang dia rebut dari Ki Rangga, dan itu semakin meyakinkan jika Arya adalah pencuri kotak itu."Siapa dia? Kenapa dia ditangkap? Apa dia pencuri kotak kerajaan itu?" Perkataan itu terasa panas di telinga Arya, tapi dia tidak peduli, dia hanya ingin membersihkan namanya, itulah mengapa Arya memilih menyerah.Di samping Arya, Patih Kuroda terus mendampingi Arya, baginya Arya tidak bersalah, karena Arya hanya membantu rekannya, dan tidak tahu apa-apa, itulah yang Patih Kuroda tahu."Apakah aku merasa tertekan karena perkataan warga kota?" tanya Patih Kuroda."Tidak, itu bagiku itu hal yang biasa!" jawab Arya."Baguslah! Dan satu lagi, maafkan aku jika kau akan di jembloskan ke dalam penjara!" kata Patih Kuroda."Aku tidak apa-apa tuan Patih! Seperti yang sudah ka
"Aku, Arya kek!" ucap Arya untuk membuang rasa penasaran tentang kebenaran perkataan lelaki itu."Panggil saja aku Ki Sena!" "Kakek sudah berapa lama disini?" tanya Arya."Aku tidak tahu, mungkin sudah sangat lama!" jawab Ki Sena."Apa yang kakek lakukan?" tanya Arya."Aku membunuh pangeran.""Apa? Kenapa kek?" tanya Arya kaget."Dia melakukan hal yang tidak baik pada putriku, dan dia tidak mau bertanggung jawab, malah dia membunuh putriku, jadi kematian lah yang pantas untuknya!" jawab Ki Sena."Sepertinya kakek senang di sini?" tanya Arya."Iya, aku memilih diam disini dari pada aku melihat kejahatan yang terjadi di luaran sana!" jawab Ki Sena.Arya memang melihat jika Ki Sena tidak terlihat menderita di penjara itu, bahkan dia terkesan sangat menikmati keadaan penjara bawah tanah itu."Kau, apa yang kau lakukan anak muda?" tanya Ki Sena."Aku dituduh mencuri kotak kerajaan," jawab Arya."Kotak? Jangan katakan kotak berwarna hitam bersimbol elang?" kata Ki Sena."Tidak salah lagi!"
"Aku ingin bicara dengan pemuda ini!" kata Resi Gunin dan menatap Arya."Denganku? Ada apa, tuan?" tanya Arya."Aku Resi Gunin, aku yang mengunci kotak itu, dan aku isi dengan kitab api dan juga peta menuju sebuah pusaka yang sangat menakutkan, pusaka pedang matahari! Pusaka yang juga disebut-sebut sebagai pusaka penghancur!" kata Resi Gunin.Arya diam dan, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Resi Gunin."Apakah kami bisa bicara empat mata?" tanya Resi Gunin pada empat orang yang ada disana."Dengan senang hati, kami akan berikan!" kata Raja Yuda."Mari ikut denganku!" kata Resi Gunin yang masih tetap membawa kotak besi berisi kitab api.Resi Gunin dan Arya berjalan-jalan di lapangan luas penjara bawah tanah itu, dan saat sampai di tengah lapangan luas itu, Resi Gunin diam dan duduk dengan melipat kedua kakinya. Dan Arya melakukan hal yang sama."Bagaimana kau bisa berjodoh dengan kitab api ini?" tanya Resi Gunin."Apa maksudnya, Resi?" tanya Arya."Aku juga tidak tahu kenapa
Seorang perempuan dengan pakaian kebesaran yang begitu indah menemani perempuan yang duduk santai di taman istana kerajaan Purawa."kenapa dari tadi, Utari melihat ibunda terus termenung?'Seorang gadis yang begitu cantik datang menghampiri perempuan yang sudah berusia empat puluhan tahun itu."Utari! Ibunda hanya ingat dengan kakakmu, Candra! Hari ini, tepat dua puluh tiga tahun yang lalu, kakakmu hilang!" jawab perempuan itu.Perempuan itu adalah ratu Parwati, ratu kerajaan Purawa. Dan Utari adalah putri kerajaan itu."Dimana adikmu?" tanya ratu Parwati."Adik, Angga berada di halaman belakang istana, ibunda! Berlatih Kanuragan!" jawab putri Utari."Seandainya kakakmu masih hidup, mungkin keluarga kita lebih baik lagi!" kata ratu Parwati."Apakah yang ibunda maksud kakak Sengala?" tanya putri Utari."Tidak usah sebutkan namanya, dia sudah bukan keluarga kita lagi, pikirannya terlalu bejat!" jawab ratu Parwati.Putri Utari merenung sejenak, kakaknya itu, pangeran Sengkala. Dia seoran
Dua hari sudah Arya ada di istana kerajaan Purawa, dan Arya memang mendapatkan segala kemewahan dunia, segala kemewahan yang di dapatkan oleh seorang pangeran kerajaan."Kak, Candra! Apa kakak didalam?" Arya yang berada dalam kamarnya, mendengar suara seorang lelaki, dan dia yakin itu adalah suara adiknya, pangeran Angga."Masuklah Angga, kakak didalam!" jawab Arya.Pangeran Angga masuk, dan dia duduk di tempat tidur Arya."Ada apa Angga?" tanya Arya."Aku ingin menanyakan sesuatu pada kakak!" jawab Pangeran Angga."Katakan, apa itu?" tanya Arya dengan senyum hangat.Pangeran Angga menunduk, tidak tahu harus memulai dari mana."Kak Candra! Apakah kakak mau menggantikan Angga jadi seorang calon raja?" tanya Pangeran Angga."Apa maksudmu adik?" "Aku hanya ingin bertanya saja kak, bukankah kakak sudah di istana ini, mungkin saja kakak akan segera menggantikan Angga!" ucap pemuda itu.Arya tahu jika pasti ada yang mencoba merusak pemikiran dari pangeran Angga. Dan itu jelas akan merusak
"Kapan kau akan berangkat dan meninggalkan istana ini, pangeran?" tanya resi Gunin."Besok, aku pasti akan tinggalkan istana ini besok, resi!" jawab Arya."Aku harap pangeran menemukan pedang matahari, dan untuk memegang pedang itu. Pangeran harus mempelajari kitab api!" kata resi Gunin.Resi Gunin kembali memberikan kitab api pada Arya, dan kali ini Arya tidak dapat lagi untuk menolak.Arya membuka kitab api, dan saat itulah satu pancaran yang jahat masuk ke tubuh Arya."Apa itu, resi?" tanya Arya."Kau mampu melawan pancaran jahat itu? Kau memang pilihan kitab ini!" jawab resi Gunin."Maksudnya?'"Kitab itu adalah kitab iblis, dan hanya yang memiliki kekuatan bathin tingkat tinggi yang mampu mengendalikan kitab dan pedang matahari," jawab resi Gunin.Arya ingat jika resi Raspati sudah memberikan kekuatan bathin pada dirinya, dan itu yang membuat Arya yakin karena itulah Arya mampu menahan kekuatan jahat yang mencoba masuk ke tubuh dan kuasai dirinya."Kitab ini sangat mengerikan, re
Untuk sampai di pesisir pantai Ciremai, Arya harus melewati hutan maupun kadipaten yang menjadi bagian wilayah dari kerajaan Purawa."Akhirnya sampai juga di kadipaten ini, kata ayah disini berdiri sebuah perguruan yang banyak melahirkan panglima kerajaan. Perguruan tulang putih. Dimana perguruan itu?" gumam Arya saat Arya sampai di kadipaten Tulanggung."Hei kau! Untuk apa kau memasuki kadipaten ini?' Seorang pemuda yang usianya hampir sama dengan Arya membenta anak muda itu dan menghalangi langkah Arya yang menuntun kuda Gondola."Kenapa? Apakah salah memasuki kadipaten ini?" tanya Arya balik bertanya."Sudah pasti salah! Setiap orang baru yang memasuki kadipaten ini, harus melapor padaku, Apa kau tidak tahu peraturan itu?" ucap pemuda itu."Peraturan? Aku tidak melihat ada peraturan seperti itu!" kata Arya dan meninggalkan pemuda itu tanpa memperdulikan keberadaan pemuda itu lagi."Heiii ... Kau berani meninggalkan aku? Tuan muda Gurning! Orang yang paling dihormati di kota ini, j
Satu tubuh dengan pakaian kuning emas melesat dengan cepat menuju kota Kuala, dia sudah berlari dengan langkah dan kekuatan yang sempurna.Kadang dia terbang untuk mempercepat gerakannya, tapi saat dia merasa kekuatan yang dia miliki menurun, saat itulah dia memilih untuk berlari.Dia adalah Arya, Arya saat ini sudah dalam perjalanan menuju kota Kuala, untuk membebaskan Intan, seperti permintaan Ki Bonggol untuk menjaga gadis itu."Maafkan aku Ki, aku sepertinya gagal mengemban tugas yang kau berikan," kata Arya.Arya mulai menyesal karena tidak membawa Intan menuju bukit kijang, Arya yang merasa Intan lebih aman di desa Hursa ternyata salah, kini keselamatan gadis itu berada di ujung tanduk.Hupppp!!Arya melihat sebuah jalan besar yang akan membawa dirinya menuju kota Kuala, tapi bukan itu tujuan Arya, tapi mencari kelompok bintang hitam yang sudah menculik Intan."Aku yakin mereka tidak akan di kota Kuala, pasti mereka membuat markas di suatu tempat," kata Arya.Whusssssssss!!Saa
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ki reksa pada Ki Barata.Hehehehe!"Ki reksa. Kau mengundang semua golongan hitam untuk bergabung dengan dirimu, tapi kau tidak undang diriku, apakah itu sebuah kesengajaan?" tanya Ki Barata."Maksudmu? Apakah kau mau bergabung jika aku ajak Ki Barata?" tanya Ki reksa."Jika tujuanmu untuk membawa golongan hitam ke puncak dunia persilatan, sudah jelas aku bersedia Ki," jawab Ki Barata."Benarkah itu?""Iya, aku bersedia," jawab Ki Barata."Tapi kau masih belum melakukan apa yang aku minta Ki Barata, kau belum temukan pembunuh kedua muridku," kata Ki reksa."Aku sudah mencarinya, tapi aku tidak temukan dia," kata Ki Barata.Ki reksa menatap sinis pada Ki Barata, Ki reksa ingin melihat kesungguhan dari ucapan Ki Barata, tapi dia tidak melihat sesuatu yang berbohong di mata ku Barata."Apa kau sungguh ingin bergabung dengan kelompok bintang hitam?" tanya Ki reksa."Iya, tapi aku ingin memberikan sebuah syarat," kata Ki Barata."Katakan, apa yang kau inginka
Arya sungguh kaget saat tahu yang membawa Intan adalah Ki reksa, dia tidak tahu apa maksud Ki reksa membawa Intan."Apa Ki reksa mengatakan sesuatu nyai?" tanya Arya."Kota Kuala!" jawab nyai Rara lirih.Setelah ucapkan itu nyai Rara jatuh dan tewas di pelukan Arya."Kota Kuala?" ucap Arya.***Beberapa hari sebelum Arya sampai di desa Hursa, Ki Reksa terus mencari keberadaan Arya, dan saat itulah dia sampai di desa Hursa.Dari penduduk desa Hursa, Ki reksa tahu tentang hubungan Arya dan Ki Bonggol, dan itu membuat Ki reksa gelap mata.Ki reksa memberikan kode pada anak buahnya, kelompok bintang hitam yang sudah dia kumpulkan dalam waktu yang singkat.Dan saat warga desa Hursa terlena dalam tidur yang indah, anak buah Ki reksa datang dan porak-poranda seluruh desa itu.Brakkkkkkk!Ki reksa masuk ke rumah nyai Rara, dan itu mengejutkan nyai Rara maupun Intan yang ada dalam rumah itu."Apa yang kau inginkan?" tanya nyai Rara."Gadis itu!" jawab Ki reksa."Jangan harap kau akan dapatkan
Arya, setelah dapatkan pusaka kijang dewa, dia meninggalkan puncak bukit kijang, setelah itu melesat menuju kota Kuala."Apa saja yang sudah terjadi?" gumam Arya saat dia melewati kota bangau.Begitu banyak yang terjadi di kota itu, ada beberapa rumah yang hancur, seolah kota itu baru saja di terpa gempa yang besar."Ada apa ini Ki?" tanya Arya pada seorang lelaki yang berhasil selamat dari kehancuran kota itu."Kelompok bintang hitam!"Whusssssssss!!Crasssssss!Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!Belum juga Arya dapatkan jawaban yang jelas, sebuah bintang hitam sudah menancap dalam di leher lelaki tua itu."Apa-apaan ini?" gumam Arya.Arya melihat ke arah datangnya serangan itu, dan melihat seorang lelaki dengan pakaian hitam dan wajah tertutup."Hei apa yang kau lakukan?" teriak Arya.Tapi jawaban untuk Arya adalah sebuah pukulan jarak jauh yang cukup keras.Bammmmmmm!!Arya memukul balik pukulan jarak jauh itu, dan pukulan itu mentah di tengah jalan."Jangan kabur kau!" teriak Arya dan melompat k
Arya kaget, untuk kedua kalinya Arya merasakan bau bunga mawar itu, dan yang pertama adalah saat Arya sampai di negeri Malaya.Selain itu, yang membuat Arya heran adalah, belasan serigala yang sudah bersiap menyerang Arya dengan cakaran dan taring tajamnya menghentikan gerakan mereka. Wajah dari belasan serigala itu terhenti dan tak melanjutkan serangan pada Arya."Apa sesungguhnya yang ada di balik bau bunga mawar ini?" gumam Arya.Arya berpikir keras, tapi dia tidak menemukan jawaban yang dia harapkan, sampai cahaya kuning menyilaukan terlihat dari bawah lembah bukit kijang.Arya ingin melangkah ke sana, tapi keberadaan para serigala itu membuat Arya urungkan niatnya, dia tidak ingin mayat dari empat orang yang sudah dia kumpulkan jadi santapan serigala ganas itu.Tapi keadaan sepertinya sangat mendukung Arya, saat Arya dalam dilema, dilema antara ingin melihat keberadaan cahaya kuning emas itu dan menjaga para Mayat-mayat, saat itu juga para serigala memilih tinggalkan puncak bukit
Seorang pemuda dengan rambut panjang dan pakaian kuning emas berjalan ke arah hutan yang cukup lebat.Pemuda itu memakai caping bambu yang cukup lebar, dan itu sengaja dia pakai untuk menutupi wajah tampannya.Huppppp!!Dengan gerakan cepat dia melesat, meninggalkan desa terakhir sebelum dia mendekati hutan itu."Kau mau kemana anak muda?" Seorang perempuan tua dengan pakaian yang bermotif lipan menahan langkah pemuda itu."Tidak ada nyai, hanya ingin melihat hasil buruan jerat yang aku pasang di hutan," jawab pemuda itu."Hati-hati di hutan ini, sangat banyak hewan buas," "Terima kasih nyai," kata pemuda itu.Perempuan itu merasa jika pemuda itu cukup misterius, itu terlihat karena pemusa itu menutupi wajahnya dengan caping bambu yang lebar."Siapa namamu anak muda?" tanya perempuan itu.Pemuda itu tidak menjawab, tapi dia malah berjalan tinggalkan perempuan itu masuk ke dalam hutan."Hei .. apa kau acuhkan aku?" teriak perempuan itu membentak pemuda yang sudah masuk ke dalam hutan
Ki Bonggol ingin berlari ke arah guru Harada, tapi lagi-lagi gerakan Ki Bonggol ditahan oleh Ki jalak dan Ki Taga."Kau juga akan mati, Ki Bonggol!"Ki Reksa setelah membunuh guru Harada mendekati Ki Bonggol, dan berjalan ke arah Ki Bonggol yang sudah ditahan oleh Ki jalak dan Ki Taga."Kau itu sudah menjadi hitam dari hitam Ki reksa, sungguh tidak aku percaya," kata Ki Bonggol."Apa aku terlihat perduli dengan ucapanmu itu Ki Bonggol!" Kata Ki Reksa.Ki Bonggol tidak menjawab, dia jelas berada di ujung tombak, nyawanya kemungkinan tidak mungkin dapat di selamatkan lagi, dan kemungkinan dia akan mati di bukit kijang.Hiatttttt!Ki Bonggol tidak terima, dan menyerang ke arah Ki Reksa. Ki jalak dan Ki Taga ingin menahan tapi Ki Reksa memberikan kode pada keduanya untuk menjauh."Biarkan aku yang membunuh dia!" Ucap Ki Reksa.Ki jalak dan Ki Taga memilih menerima perkataan Ki reksa, dan mereka mendekati nyai lipan. Whusssssssss!!Ki reksa tidak anggap serangan dari Ki Bonggol. Itu karen
"Apa yang terjadi? Tidak mungkin!"Guru Harada yang bertahan dari setiap serangan Ki jalak dan Ki Taga masih sempat mendengar suara jeritan kematian Ki Indang, dan itu menjatuhkan semangat juangnya.Pukulan pemburu nyawa!Whusssssssss!Guru Harada melepaskan satu pukulan jarak jauh yang kuat, dan itu mengarah kepada Ki Reksa yang baru saja membunuh Ki Indang.Ki Reksa memutar tubuhnya, dan menahan pukulan jarak jauh guru Harada dengan tangan kanannya, dan pukulan itu mentah di tengah jalan."Kurang ajar! Kau tidak akan aku maafkan," ucap guru Harada dan melompat ke arah Ki reksa."Jangan anggap kami tidak ada!" Ki jalak menghalangi gerakan guru Harada, dan menahan pergerakan dari guru dari raja Adnan, penguasa negeri Malaya.Di belakang guru Harada, juga sudah ada Ki Taga, sehingga guru Harada berada di antara dua orang yang memiliki kekuatan hitam yang tidak dapat diremehkan.Haaaaaaaaaaa!Guru Harada memukul Ki jalak, tapi dengan enteng Ki jalak menahan dengan telapak tangannya, ta
Meskipun tidak mereka susun secara langsung, tapi rencana menguras tenaga dalam Ki Reksa langsung diketahui oleh Ki Reksa, dan itu semakin membuat Ki Reksa naik darah."Kalian! Apa kalian hanya ingin menyaksikan saja? Kalian golongan hitam, apa kalian tidak akan membantu diriku?" ucap Ki reksa ke arah Ki jalak dan dua rekan golongan hitam lainnya.Ki jalak menatap nyai lipan dan Ki Taga. "Bagaimana menurut kalian?" tanya Ki jalak."Terserah padamu tapi jika kita membantu dia, apa nyawa kita terselamatkan? Apa ada jaminan?" tanya nyai Lipan."Bodoh! Aku sekarang berada di pihak golongan hitam! Jangankan kalian, Ki Barata saja mampu aku bunuh bagaikan lalat kecil!" bentak Ki reksa yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan tiga golongan hitam yang ada di sana."Baik, kami akan membantu dirimu, tapi kami ingin kau juga jangan membunuh kami, tangan maut," pinta Ki jalak."Bagus, kalian memilih pihak yang tepat," kata Ki Reksa.Haaaaaaaaaaa!!Ki Reksa tanpa banyak bicara lagi langsun