"Meskipun aku bukan kerabat istrinya Arjuna, sebagai orang yang punya hati nurani, aku tidak bisa menoleransi perilakunya. Setelah Alsava bersaudari menikah dengan Arjuna, dia terus memukuli mereka, terutama yang satu itu."Galeo menunjuk ke arah Daisha lalu berkata, "Kakinya dipukul sampai patah oleh Arjuna dan belum pulih."Sama seperti larangan memperjualbelikan istri, hukum Kerajaan Bratajaya juga melarang suami memukul istri tanpa alasan.Karena sekarang jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, tidak akan ada yang peduli selama tidak terjadi korban jiwa.Galeo telah merencanakan semuanya dengan matang. Sekarang setelah dia mengajukan gugatan di pengadilan, tidak mungkin Kepala Daerah menutup sebelah mata."Untuk saksi, semua orang di Desa Embun adalah saksi. Yang Mulia bisa mengutus seseorang untuk bertanya kepada siapa pun.""Arjuna!" Kepala Daerah mengerutkan kening kala bertanya dengan dingin kepada Arjuna. "Benarkah?"Dia sedikit kecewa dengan Arjuna. Pantas saja Arj
Sebagai Kepala Daerah, dia tentu tahu tentang kerja sama antara Arjuna dan Tamael. Dia mengira Tamael datang untuk membela Arjuna.Kalau dulu dia bisa saja bersikap lunak dalam memberikan hukuman, tetapi sekarang tidak bisa."Yang Mulia, Arjuna memang pantas dihukum karena pernah memukul istrinya. Siapa pun tidak bisa menghapus kejahatan yang dia perbuat."Jika Tamael tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi orang dalam, keluarganya tidak akan mencapai skala ini di Kabupaten Damai.Dia tahu bahwa Kepala Daerah sedang menangkap beberapa kasus kekerasan terhadap istri yang umum. Makin dia memohon untuk Arjuna, kesalahan Arjuna akan makin besar.Mendengar kata-kata Tamael, Kepala Daerah pun merasa lega.Meskipun pelajar, petani, buruh dan pedagang sama pentingnya, uang membuat segalanya lebih mudah.Biarpun pejabat maupun pelajar memandang rendah pedagang, ketika pedagang memberi mereka keuntungan, mereka akan mengambil setiap sen.Selama bertahun-tahun, keluarga Tamael telah
"Yang Mulia, mereka memfitnahku. Tamael dan Arjuna bekerja sama. Benar, benar!" Galeo seolah menemukan penyelamat. Dia menunjuk Tamael sambil berkata, "Seperti itu. Kamu dan Arjuna bekerja sama untuk menjebakku. Beberapa gadis ini dibawa dari Rumah Bordil Prianka, 'kan?""Huh!" Tamael mendengus dingin, "ada seorang gadis kecil yang bahkan tidak bisa berjalan di sebuah rumah di ujung Jalan Kura. Tabib sedang memeriksanya. Apakah kamu ingin pergi melihatnya?""Kalau kamu ingin pergi ...." Tamael membungkuk kepada Kepala Daerah. Aku bisa memohon kepada Yang Mulia untuk mengutus dua orang membawamu pergi.""Oh!" Tamael berhenti sejenak, lalu lanjut berujar, "Tadi kamu sudah mengaku bahwa rumah di paling ujung Jalan Kura adalah rumahmu. Aku yakin bukan hanya aku yang mendengarnya, Yang Mulia juga pasti mendengarnya."Wajah Galeo menjadi pucat, keringat dingin keluar dari dahinya.Ketika Tamael datang, dia tidak langsung menyuruh ketiga gadis itu masuk, melainkan sengaja mendekati Galeo.Ter
Arjuna tersenyum. "Memang kamu yang memberitahuku."Dinda mengatakan bahwa dia dimasukkan ke dalam tong kayu oleh Galeo. Tong itu terus jatuh hingga bisa mendengar gema. Kulit Dinda juga terlalu pucat.Berdasarkan beberapa petunjuk di atas, Arjuna menyimpulkan bahwa Dinda dan yang lainnya dikurung di dalam sumur kering tak bercahaya.Dinda juga mengatakan bahwa setiap kali mereka pergi mencuri, mereka akan berkumpul di Kuil Mizu.Ketika mereka sampai di sana, Galeo mengikat dan menutup mata mereka, kemudian menarik mereka ke sebuah kereta sapi yang rodanya penyok.Dinda yang duduk di dalam kereta mulai berhitung karena bosan, juga ingin melupakan rasa sakit pada tubuhnya. Setelah kereta sapi itu berguncang sebanyak 836 kali, kereta itu akan berhenti.Berdasarkan informasi ini, Arjuna menentukan bahwa kereta sapi itu menuju ke kota kabupaten.Karena Dinda dapat merasakan penyoknya roda kereta sapi, itu membuktikan bahwa jalannya mungkin datar. Jika jalannya datar, pasti jalan di kota ka
"Hei." Arjuna memiringkan kepalanya sambil menatap Tamael. "Apa maksudmu?""Oh." Tamael berhenti menggelengkan kepalanya, kemudian dia mengulas senyum. "Bukan apa-apa, bukan apa-apa.""Ruang sidang adalah tempat yang tidak bagus. Biasanya, tidak ada orang yang akan datang kalau tidak ada urusan. Bukan hal yang bagus kalau masuk.Tamael mendorong Arjuna dengan pelan. "Ayo, aku yang traktir hari ini. Mari pergi ke restoranku. Kamu boleh memesan apa pun yang kamu inginkan hari ini. Mari kita singkirkan kesialan."Arjuna tidak sungkan dengan Tamael. Setelah berdiri di depan ruang sidang begitu lama, dia memang sudah lapar."Oke, jangan salahkan aku bawa banyak barang dan makan terlalu banyak. Nanti kamu bangkrut."Disa, Daisha dan Dinda sedang dalam masa pertumbuhan. Mereka sangat kuat makan."Lucu!" Tamael menyeringai lalu mengerutkan kening. "Orang yang bisa membuatku bangkrut belum lahir."Setelah makan dan minum sepuasnya di Restoran Kebon Sirih, Arjuna dan para istrinya pun pulang.Du
"Tuan, kita sudah menikah selama setahun. Sekarang Dinda sudah kembali, kami ingin pulang ke rumah orang tua kami menemui Kakek dan Nenek agar mereka bisa tenang. Bolehkah?""Tentu saja boleh."Karena ketiga saudari itu membahas hal ini, Arjuna merasa sedikit bersalah.Dia sudah tiba di negeri ini sekian lama, tetapi dia belum pernah bertanya kepada Alsava bersaudari mengenai keadaan keluarga mereka."Benarkah?"Daisha menatap Arjuna dengan tak percaya.Setelah jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, pihak perempuan tak hanya harus menyiapkan mahar ketika menikah. Setelah menikah pun, keluarga pihak perempuan harus sesekali mengirim uang atau makanan untuk pihak lelaki.Keluarga Daisha miskin. Mereka sudah tidak punya orang tua, hanya ada sepasang kakek-nenek yang sudah lanjut usia.Karena tante-tante mereka tidak menyukai mereka, paman-paman mereka pun tidak berani membantu.Setelah mereka menikah dengan Arjuna, Arjuna tidak menerima bantuan apa pun dari keluarga mereka.Pa
"Tidak ada barang bagus yang bisa dibeli di sini, harus beli di kabupaten. Setelah pergi ke kabupaten baru pergi ke Desa Sava sudah terlalu larut."Arjuna masih memiliki sedikit ingatan tentang rumah orang tua para istrinya.Seingatnya, Desa Sava tidak dekat dari Desa Embun, setidaknya tiga puluh kilometer jauhnya.Di dunia modern di mana transportasi canggih, tiga puluh kilometer hanya masalah menginjak pedal gas.Namun, mereka ada di zaman kuno.Desa Sava, desa di mana Keluarga Alsava berada, lebih terpencil daripada Desa Embun. Jalannya sangat sulit dilalui. Ada sebagian jalan yang tak bisa dilalui kereta sapi."Kita akan berangkat lusa. Besok aku akan memberi tahu penanggung jawab Restoran Kebon Sirih bahwa lusa Paman Arkana yang membantu mengantarkan ikan ke restoran. Setelah itu kita bisa berangkat ke Desa Sava pagi-pagi.""Kita berangkat lebih awal agar kalian bisa menemani kakek-nenek lebih lama di sana. Bagaimana? Bukankah pengaturanku lebih baik daripada kalian pergi besok?"
Meskipun Arjuna memberi tahu mereka bahwa mereka dapat membeli apa pun yang mereka inginkan untuk kakek-nenek mereka, mereka tetap sangat hemat.Mereka bertiga berbelanja hampir seharian dan kembali hanya membawa beberapa barang.Arjuna melihatnya sekilas.Beras dan mi yang tidak lebih dari dua setengah kilo. Dua buah kubis. Daging hanya setengah kilo, itu pun daging tak berlemak. Mereka bahkan enggan membeli setengah kilo daging berlemak."Ini saja?"Ketiga saudari itu tidak menjawab, jadi Arjuna menatap mereka."Tuan ...."Daisha menatap Arjuna sekilas. Dia mengatupkan bibirnya beberapa kali sebelum berkata dengan hati-hati. "Apakah kami membeli terlalu banyak?""Hah?!"Arjuna baru tiba di negeri belum lama, jadi dia masih belum begitu memahami adat istiadat setempat.Barang belanjaan Alsava bersaudari memang tergolong banyak.Dinda berkata, "Kami akan membawa setengahnya saja.""Kurang dari setengah juga tidak apa-apa," timpal Disa."Tunggu aku di kereta," ucap Arjuna.Usai berbicar
"Jangan pikir aku tidak akan memukulmu hanya karena kamu kakakku!" Dinda menyerbu sambil mengangkat tangan kecilnya."Kalau begitu sini, bocah kecil."Disa dan Dinda bertarung di depan, sementara Daisha yang ada di belakang mereka menegur mereka. "Kak Disa, Dinda, kalian sudah menikah sekarang. Kenapa kalian masih bertingkah seperti anak kecil? Hentikan sekarang juga!""Daisha." Arjuna menggandeng tangan Daisha. "Jarang-jarang mereka sesenang ini. Biarkan saja mereka.""Tuan, kamu terlalu memanjakan mereka.""Hm?" Arjuna melingkarkan tangannya ke pinggang Daisha. "Apakah kamu menyalahkanku hanya memanjakan Disa dan Dinda, tidak memanjakanmu?"Sambil berbicara, Arjuna memiringkan kepalanya, kemudian berbisik di telinga Daisha. "Oke, kalau begitu aku akan lebih memanjakanmu malam ini."Ketika Arjuna menyebut kata "malam", dia sengaja menekankan nadanya."Tidak, bukan seperti yang Tuan bayangkan."Daisha, yang paling tidak tahan digoda, langsung tersipu."Seperti apa?"Arjuna paling menyu
Dalam dua kompetisi pertama, orang lain merasa bahwa Arjuna beruntung, tetapi Hendra tidak berpikir demikian.Arjuna tidak hanya bisa membuat makanan unik seperti cake, tetapi dia juga seorang genius bisnis.Orang seperti itu cepat atau lambat akan menjadi saingannya, jadi Hendra harus menyingkirkannya sebelum Arjuna menjadi kuat."Kamu harus berhati-hati, orang itu banyak akal." Sugi sedikit khawatir."Tenang saja, Yang Mulia." Hendra penuh percaya diri. "Kalau aku tidak berhasil membunuhnya, aku punya cara lain. Dia tidak akan selamat pada hari kompetisi.""Oh?" Mendengar perkataan Hendra, mata Sugi berbinar. "Kamu punya ide lain? Coba katakan.""Yang Mulia ...." Hendra mendekati Sugi, kemudian berbisik di telinganya."Kamu ingin menggunakan mereka?" Raut wajah Sugi sedikit serius."Yang Mulia, orang-orang kita tidak mudah bertindak, hanya bisa mereka. Dengan adanya mereka, bahkan para dewa pun tidak dapat menyelamatkan Arjuna.""Tapi apakah kamu tahu konsekuensi dari menggunakan mer
Orang-orang di sana tidak lagi mengenal konsep pelajar, petani, pengrajin dan pedagang. Semua orang setara. Apa pun yang kamu lakukan, selama kamu menghasilkan uang dengan kemampuanmu sendiri, orang lain akan menghormatimu.Kalau orang lain mendengarnya, pasti mereka akan menertawakan Arjuna bermimpi karena mabuk.Namun, Tamael berbeda.Dia percaya pada Arjuna, karena dia telah mengenal Arjuna sebelum bekerja sama dengan Arjuna.Seorang bajingan bodoh dan malas jatuh ke jurang, kemudian setelah siuman menjadi orang yang berbeda. Arjuna tidak hanya sangat pintar, tetapi juga mengetahui banyak hal yang tidak mereka ketahui.Tamael tidak percaya adanya hantu atau dewa, dia juga tidak percaya adanya dewa gunung.Satu-satunya hal yang dapat menjelaskan perubahan Arjuna adalah, dia bukan lagi Arjuna yang dulu.Kemudian, Arjuna memberi tahu Tamael bahwa dia akan mengikuti ujian kekaisaran.Tamael sepenuhnya mendukung Arjuna. Dia tidak hanya sering mengirim buku dan peralatan menulis kepada Ar
Karena itu adalah wilayah tak bertuan, pada dasarnya tidak ada yang mengurus. Gubernur Kota Perai mengeluarkan beberapa perintah untuk menekan para bandit. Akan tetapi, beberapa kabupaten terus saling mendorong perintah itu.Satu-satunya orang yang pernah benar-benar mengirim orang untuk menekan para bandit adalah Eshan. Justru karena alasan inilah Naga Bermata Satu senang datang ke Kabupaten Damai untuk merampok.Setelah Eshan gagal, gubernur sendiri mengirim pasukan untuk menekan para bandit. Namun, Gunung Magmora terjal, mudah dipertahankan tetapi sulit diserang. Selain itu, sebagian besar bandit adalah tentara yang melarikan diri. Orang-orang ini sangat ahli dalam seni bela diri dan sangat kejam. Tim penindas bandit gagal setelah tiga atau empat kali mencoba."Oh." Arjuna menyentuh kepalanya sambil menunjukkan senyum konyolnya yang khas. "Aku tidak ingat banyak hal setelah jatuh ke jurang. Abaikan aku, lanjut cerita.""Kemudian ...." lanjut Tamael.Kemudian, Tamael baru mengetahui
Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah
Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo
"Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj
"Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer