Share

Bab 144

Penulis: Abimana
Meskipun Arjuna memberi tahu mereka bahwa mereka dapat membeli apa pun yang mereka inginkan untuk kakek-nenek mereka, mereka tetap sangat hemat.

Mereka bertiga berbelanja hampir seharian dan kembali hanya membawa beberapa barang.

Arjuna melihatnya sekilas.

Beras dan mi yang tidak lebih dari dua setengah kilo. Dua buah kubis. Daging hanya setengah kilo, itu pun daging tak berlemak. Mereka bahkan enggan membeli setengah kilo daging berlemak.

"Ini saja?"

Ketiga saudari itu tidak menjawab, jadi Arjuna menatap mereka.

"Tuan ...."

Daisha menatap Arjuna sekilas. Dia mengatupkan bibirnya beberapa kali sebelum berkata dengan hati-hati. "Apakah kami membeli terlalu banyak?"

"Hah?!"

Arjuna baru tiba di negeri belum lama, jadi dia masih belum begitu memahami adat istiadat setempat.

Barang belanjaan Alsava bersaudari memang tergolong banyak.

Dinda berkata, "Kami akan membawa setengahnya saja."

"Kurang dari setengah juga tidak apa-apa," timpal Disa.

"Tunggu aku di kereta," ucap Arjuna.

Usai berbicar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Daryoko Widoyo
penasaran..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 145

    "Jangan merasa terbebani. Kalau tidak ada kakek-nenek kalian, bagaimana mungkin aku bisa menikahi istri secantik kalian?""Aku rela membayar mahal, apalagi hanya sedikit beras dan mi? Selain itu, istri yang berada paling dekat denganku ini ...." Arjuna mencolek hidung Daisha dengan jari telunjuknya. "Suka menciumku secara diam-diam. Istriku begitu menarik, aku ....""Tuan, kamu ... kamu bicara sembarangan lagi."Daisha menutupi wajahnya, lalu cemberut.Kenapa Tuan berbicara seperti itu? Dinda masih ada di samping mereka.'"Benar tidak, Dinda?""Ba ... bagaimana aku tahu?"Dinda mengangkat tirai, kemudian dia berlari keluar untuk duduk bersama Disa.Arjuna tertawa sambil bersandar di kereta."Apakah Tuan menggoda Kak Daisha-mu lagi?"Melihat Dinda, Disa pun mengemudikan kereta sambil bertanya kepadanya."Kak Disa, maksudmu ...." Dinda ragu sejenak. "Tuan sering melakukannya?"Disa mengangguk. "Ya, sering. Tuan sepertinya suka melihat Kak Daisha-mu merona, jadi dia sering menggodanya.""

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 146

    Tadi Dinda menyingkap tirai kereta dan berencana turun sendiri, alhasil digendong oleh Arjuna yang sudah keluar dari kereta.Arjuna tidak berpikir panjang. Menurutnya, Dinda hampir sama dengan Naya. Kereta kuda agak tinggi, jadi dia langsung menggendong Dinda turun dari kereta."A ... aku tidak setuju untuk digendong. Dia main gendong begitu saja."Wajah Dinda sedikit memerah. Dia menundukkan kepalanya dan menarik ujung bajunya."Kak Arjuna begitu baik. Bisa menikah dengannya adalah hal yang sangat baik.""Kakak Ipar!"Naya tiba-tiba mencekal tangan Dinda.Dinda secara naluriah melangkah mundur. Jika Naya tidak berbicara dengan cepat, Dinda pasti sudah mendorong Naya ke lantai.Galeo pernah meminta seseorang mengajarinya sehingga Dinda menguasai beberapa cara untuk melarikan diri dan melawan.Naya berujar, "Ayo kita bermain!"Mata kecilnya berkedip, tidak ada intrik sedikit pun di dalamnya."Sairak ...." Sebelum Dinda menyelesaikan kata-katanya, Naya sudah menariknya ke halaman untuk b

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 147

    "Tuan, apakah kamu baik-baik saja?"Daisha yang duduk di sebelah Arjuna pun buru-buru mengelus punggung Arjuna."Tidak apa-apa, tidak apa-apa."Arjuna melambaikan tangannya. Dia menatap Dinda yang wajahnya merah. "Lain kali panggil Dinda saja."Kalimat itu tidak hanya ditujukan kepada Melati, melainkan kepada semua orang.Dia memutuskan untuk memberikan kebebasan kepada Dinda.Beberapa tahun kemudian, Dinda bisa menentukan sendiri siapa yang ingin dia nikahi.Melati tentu saja mengerti apa yang Arjuna maksud. Dia berkata sambil tersenyum. "Kalau begitu panggil Dinda. Dinda juga enak didengar."Disa dan Daisha juga mengerti. Disa yang lebih tidak sabaran langsung bertanya."Tuan, apakah kamu tidak menginginkan Dinda lagi? Atau karena dia ...."Atau karena dia pernah menjadi pencuri.Disa tidak mengucapkannya.Dinda menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa.Pada akhirnya, dia tetap tidak disukai."Arjuna, Dinda ...." Bahkan Arkana pun angkat bicara. "Dia memang agak kurus, tapi Pam

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 148

    Keluarga mereka tak hanya tidak memberi Arjuna bahan makanan, tetapi malah Arjuna yang memberi. Selain itu, bisa-bisanya Alsava bersaudari menerima. Mereka sungguh tak tahu malu.Sebenarnya, apa yang dikatakan penduduk desa itu benar. Alsava bersaudari tidak punya banyak mahar, biasanya keluarga mereka juga tidak mengirim apa pun. Kalau bukan karena Arjuna yang dulu terlalu berengsek. Jauh sebelum insiden di mana Arjuna jatuh ke jurang, Alsava bersaudarilah yang akan dikatai oleh penduduk desa, bukan Arjuna.Arjuna memelotot kesal. "Apakah kamu memasukkan omongan penduduk desa tadi ke dalam hati? Pegang!"Arjuna memasukkan kantong tersebut ke tangan Daisha. "Uang ini bukan untukmu, tapi untuk kakek-nenekmu. Bukankah kamu selalu mengatakan kalau kaki Kakek sakit, penglihatan Nenek kurang baik? Sekarang mereka sudah begitu tua dan kurang sehat. Apakah kamu tega membiarkan mereka bekerja pada musim dingin dengan kondisi kurang sehat demi bertahan hidup?"Daisha merasakan hidungnya berair.

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 149

    Atapnya terbuat dari genteng, tetapi sangat tipis. Banyak genteng juga sudah lapuk. Saat hujan di luar, di dalam rumah pasti akan gerimis.Musim panas bisa ditahan, tetapi musim dingin lebih merepotkan. Rumah yang bocor di mana-mana pasti terasa sangat dingin.Rumah itu dikelilingi pagar yang terbuat dari kayu lapuk. Dari luar dapat melihat halaman yang bergelombang.Di sudut halaman, ada beberapa potong pakaian penuh tambalan yang digantung.Dua rumah di sebelah rumah bobrok ini jauh lebih baik.Meskipun tipenya sama, kedua rumah itu baru dan bergenteng tebal.Kualitas ubinnya tidak sebaik yang dipesan Arjuna dari tempat pembakaran ubin, ubin tersebut seharusnya dibakar sendiri.Ekspresi Alsava bersaudari tidak berubah sama sekali.Mungkin sebelum mereka menikah pun, kondisinya sudah seperti ini.Daisha mendorong pintu halaman yang terbuat dari beberapa papan kayu rusak.Disa adalah orang pertama yang bergegas masuk."Kakek, Nenek!"Daisha dan Dinda mengekor ke dalam rumah, lalu meman

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 150

    Yusuf dan Saira belum pernah bertemu Arjuna. Dulu, pemerintah langsung mengirim ketiga saudari itu ke Desa Embun.Setelah ketiga saudari itu pergi ke Desa Embun, Yusuf dan Saira tidak mendapat izin dari suami cucu mereka untuk menemui cucu mereka. Selain itu, keluarga mereka benar-benar miskin, tidak mampu memberikan apa pun, jadi kedua orang tua itu tidak pernah pergi ke Desa Embun.Sekalipun merindukan cucu mereka, mereka hanya bisa menahannya.Jika tidak bisa menemuinya, mereka akan mencari tahu dari orang lain.Ketika mendengar bahwa Dinda tidak lagi berada di Desa Embun, Saira menangis hingga pingsan.Mereka tahu, jika Dinda tidak ada di Desa Embun, dia pasti sudah dijual oleh Arjuna.Zaman itu, pria menjual istri sendiri adalah hal yang wajar.Jadi ketika dia melihat Dinda tadi, Yusuf sangat gembira.Karena takut Saira sedih, Yusuf tidak berani mencari tahu lagi.Kemudian, Yusuf tidak tahan mendengar permohonan Saira, jadi dia mencari tahu lagi setengah tahun kemudian.Alhasil, k

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 151

    "Nenek, Kak Disa tidak berbohong." Daisha pun buru-buru menjelaskan, "Sekarang Tuan tidak lagi memukul kami, dia juga sangat pandai menghasilkan uang. Lihat, Nek!"Daisha menarik mantel lembut yang dia kenakan.Nadanya terdengar santai sekaligus gembira."Baju ini terbuat dari bahan terbaik. Tuan yang membelikannya untuk kami. Bukan hanya aku, baju Kak Disa dan Dinda juga terbuat dari bahan ini.""Bahan terbaik?""Benar. Lihat, Nek!"Penglihatan Saira tidak bagus, jadi Daisha mengangkat tangannya ke depan mata Saira. Tepat saat Saira hendak melihat, Yusuf berjalan masuk dari luar.Yusuf membawa kantong kain yang penuh dengan tambalan. Dia berjalan ke arah Arjuna, kemudian menyerahkan kantong yang penuh tambalan itu kepada Arjuna.Arjuna menatap kantong kain itu dengan bingung tanpa mengambilnya.Daisha yang bermata tajam spontan berdiri. "Kakek, kami punya banyak beras di rumah sekarang. Kakek tidak perlu memberi kami lagi."Yusuf seolah tidak mendengar perkataan Daisha, dia bersikeras

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 152

    "Cepat, aku dengar mereka sudah masuk ke dalam rumah!"Sebelum Yusuf menjawab, terdengar suara keras dari luar pintu, diikuti oleh dua pasang pria dan wanita.Beberapa dari mereka ada yang memegang tongkat, ada yang memegang cangkul, ada yang memegang sapu, bahkan ada yang memegang pisau.Begitu mereka masuk, mereka menatap Arjuna dan yang lainnya dengan tajam.Disa refleks melindungi kedua adik perempuannya di belakangnya."Paman, Tante ....""Siapa paman-tantemu?!"Begitu Disa menyapa, dia dimarahi oleh laki-laki yang berdiri di paling depan di antara keempat orang itu.Pria itu adalah paman keduanya Alsava bersaudari, Jairo Alsava."Dasar bajingan-bajingan merugi, siapa yang mengizinkan kalian pulang? Pergi sekarang juga, kalau tidak ....""Kalau tidak apa?"Arjuna menyambung kata-kata Jairo dengan tenang.Jairo menggoyangkan pisau dapur yang ada di tangannya. "Bagaimana?""Jairo."Yusuf berlari ke depan Arjuna, kemudian buru-buru menjelaskan kepada Jairo. "Mereka hanya merindukan k

Bab terbaru

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 374

    "Jangan pikir aku tidak akan memukulmu hanya karena kamu kakakku!" Dinda menyerbu sambil mengangkat tangan kecilnya."Kalau begitu sini, bocah kecil."Disa dan Dinda bertarung di depan, sementara Daisha yang ada di belakang mereka menegur mereka. "Kak Disa, Dinda, kalian sudah menikah sekarang. Kenapa kalian masih bertingkah seperti anak kecil? Hentikan sekarang juga!""Daisha." Arjuna menggandeng tangan Daisha. "Jarang-jarang mereka sesenang ini. Biarkan saja mereka.""Tuan, kamu terlalu memanjakan mereka.""Hm?" Arjuna melingkarkan tangannya ke pinggang Daisha. "Apakah kamu menyalahkanku hanya memanjakan Disa dan Dinda, tidak memanjakanmu?"Sambil berbicara, Arjuna memiringkan kepalanya, kemudian berbisik di telinga Daisha. "Oke, kalau begitu aku akan lebih memanjakanmu malam ini."Ketika Arjuna menyebut kata "malam", dia sengaja menekankan nadanya."Tidak, bukan seperti yang Tuan bayangkan."Daisha, yang paling tidak tahan digoda, langsung tersipu."Seperti apa?"Arjuna paling menyu

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 373

    Dalam dua kompetisi pertama, orang lain merasa bahwa Arjuna beruntung, tetapi Hendra tidak berpikir demikian.Arjuna tidak hanya bisa membuat makanan unik seperti cake, tetapi dia juga seorang genius bisnis.Orang seperti itu cepat atau lambat akan menjadi saingannya, jadi Hendra harus menyingkirkannya sebelum Arjuna menjadi kuat."Kamu harus berhati-hati, orang itu banyak akal." Sugi sedikit khawatir."Tenang saja, Yang Mulia." Hendra penuh percaya diri. "Kalau aku tidak berhasil membunuhnya, aku punya cara lain. Dia tidak akan selamat pada hari kompetisi.""Oh?" Mendengar perkataan Hendra, mata Sugi berbinar. "Kamu punya ide lain? Coba katakan.""Yang Mulia ...." Hendra mendekati Sugi, kemudian berbisik di telinganya."Kamu ingin menggunakan mereka?" Raut wajah Sugi sedikit serius."Yang Mulia, orang-orang kita tidak mudah bertindak, hanya bisa mereka. Dengan adanya mereka, bahkan para dewa pun tidak dapat menyelamatkan Arjuna.""Tapi apakah kamu tahu konsekuensi dari menggunakan mer

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 372

    Orang-orang di sana tidak lagi mengenal konsep pelajar, petani, pengrajin dan pedagang. Semua orang setara. Apa pun yang kamu lakukan, selama kamu menghasilkan uang dengan kemampuanmu sendiri, orang lain akan menghormatimu.Kalau orang lain mendengarnya, pasti mereka akan menertawakan Arjuna bermimpi karena mabuk.Namun, Tamael berbeda.Dia percaya pada Arjuna, karena dia telah mengenal Arjuna sebelum bekerja sama dengan Arjuna.Seorang bajingan bodoh dan malas jatuh ke jurang, kemudian setelah siuman menjadi orang yang berbeda. Arjuna tidak hanya sangat pintar, tetapi juga mengetahui banyak hal yang tidak mereka ketahui.Tamael tidak percaya adanya hantu atau dewa, dia juga tidak percaya adanya dewa gunung.Satu-satunya hal yang dapat menjelaskan perubahan Arjuna adalah, dia bukan lagi Arjuna yang dulu.Kemudian, Arjuna memberi tahu Tamael bahwa dia akan mengikuti ujian kekaisaran.Tamael sepenuhnya mendukung Arjuna. Dia tidak hanya sering mengirim buku dan peralatan menulis kepada Ar

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 371

    Karena itu adalah wilayah tak bertuan, pada dasarnya tidak ada yang mengurus. Gubernur Kota Perai mengeluarkan beberapa perintah untuk menekan para bandit. Akan tetapi, beberapa kabupaten terus saling mendorong perintah itu.Satu-satunya orang yang pernah benar-benar mengirim orang untuk menekan para bandit adalah Eshan. Justru karena alasan inilah Naga Bermata Satu senang datang ke Kabupaten Damai untuk merampok.Setelah Eshan gagal, gubernur sendiri mengirim pasukan untuk menekan para bandit. Namun, Gunung Magmora terjal, mudah dipertahankan tetapi sulit diserang. Selain itu, sebagian besar bandit adalah tentara yang melarikan diri. Orang-orang ini sangat ahli dalam seni bela diri dan sangat kejam. Tim penindas bandit gagal setelah tiga atau empat kali mencoba."Oh." Arjuna menyentuh kepalanya sambil menunjukkan senyum konyolnya yang khas. "Aku tidak ingat banyak hal setelah jatuh ke jurang. Abaikan aku, lanjut cerita.""Kemudian ...." lanjut Tamael.Kemudian, Tamael baru mengetahui

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 370

    Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 369

    Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 368

    "Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 367

    "Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 366

    "Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status