Share

Bab 119

Author: Abimana
Keesokan harinya.

Arjuna pergi ke pabrik pengolahan ikan untuk melihat situasi produksi. Ketika gadis-gadis di pabrik melihatnya, mata mereka memerah.

Mereka sudah tahu bahwa Arjuna tidak akan menikahi mereka. Mereka juga tahu bahwa dengan penghasilan mereka saat ini, mereka tidak akan kesulitan mencari suami.

Sebenarnya, begitu kabar pembatalan pernikahan Arjuna menyebar kemarin, banyak pria datang ke rumah gadis-gadis itu untuk melamar.

Akan tetapi ....

Bagaimana mungkin mereka yang telah melihat pria sebaik Arjuna mau menikah dengan pria lain?

Pria yang ingin mereka nikahi adalah Arjuna.

Tidak masalah bila Arjuna memiliki lima puluhan atau bahkan ratusan istri, yang penting pria mereka adalah Arjuna.

Arjuna hanya bisa berpura-pura tidak tahu. Dia bukan orang suci, tentu saja dia menyukai wanita cantik.

Dia tidak tega membiarkan mereka kesepian.

Seandainya dia menemani satu wanita per hari pun, butuh waktu lima puluhan hari untuk menemani mereka semua.

Arjuna tidak ingin mereka kesep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 120

    "Tuan Muda!" Ayu berseru dari antara para pembantu. "Yogi tidak pulang semalam. Hamba juga sedang mencarinya."Ayu adalah ibunya Yogi."Yogi juga tidak pulang semalam?" Pada saat ini, Tamael pun mulai panik. Yogi adalah penjaga yang cakap. Arjuna masih bisa hilang di bawah perlindungannya. Kalau begitu, Arjuna pasti mengalami masalah besar."Semua orang di kediaman Tuan Muda tahu karakter Yogi. Dia tidak mungkin menculik Tuan Arjuna. Selain itu, dia tidak punya alasan untuk melakukannya. Yogi tidak mendapat keuntungan apa pun dari menculik Tuan Arjuna." Ayu, yang takut Tamael mengira Yogi yang menculik Arjuna, terus membela anaknya.Yogi biasanya lembut dan setia, tetapi hati manusia tidak terlihat. Tamael tidak berani menjamin bahwa hilangnya Arjuna tidak ada hubungannya dengan Yogi.Tamael memutuskan untuk melapor ke pihak berwenang.Keluarga Tamael adalah keluarga terkaya di Kabupaten Damai. Tamael sendiri yang melaporkan kasus tersebut. Selain itu, Arjuna adalah orang yang baru saj

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 121

    Ravin menepuk dahinya. "Kak Disa benar. Aku juga merasa Raditya agak aneh. Akhir-akhir ini dia berkeliaran di sekitar rumah Kak Arjuna dan sesekali melontarkan komentar sarkastik. Dia tidak senang melihat Kak Arjuna hidup enak, hari ini dia malah begitu tenang. Pasti ada yang salah.""Kalau begitu apa yang kita tunggu? Ayo kita cari dia sekarang!"Magano, Ravin dan yang lainnya mengikuti Disa bergegas ke rumah Raditya."Apa yang kalian lakukan? Kami bisa menuntut kalian karena masuk ke rumah orang lain tanpa izin!"Begitu mereka tiba di rumah Raditya, istri Raditya keluar. Dia keluar begitu cepat, sepertinya dia menjaga pintu, bukan turun dari tempat tidur.Perilaku istri Raditya membuat semua orang makin curiga.Kalau Raditya tidak melakukan kejahatan, kenapa dia meminta istrinya untuk menjaga di depan pintu malam-malam?Magano mendorong istri Raditya ke samping. "Jangan buang waktu untuk berbicara dengannya. Ayo kita cari di dalam!""Saudari-saudari, cepat keluar! Orang-orang ini mas

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 122

    "Kenapa kamu melakukan ini?" Arjuna agak tidak berdaya.Wanita yang meringkuk dalam pelukan Arjuna seolah tidak mendengar kata-kata Arjuna.Dia menarik selimut dari Arjuna.Ketika mereka mengikatnya, mereka telah menanggalkan semua pakaian Arjuna.Mereka juga terus menerus bergumam bahwa hari ini harus berhasil.Tubuh Arjuna sedikit menegang.Tempat ini selalu gelap, dia tidak bisa membedakan siang dan malam.Apakah dia sudah hilang selama dua hari?"Sudah dua hari. Istri-istriku pasti sangat khawatir. Biarkan aku pulang sekarang, aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi."Wanita itu masih menganggap tidak mendengar ucapan Arjuna.Napas Arjuna memberat."Tak!"Cairan hangat jatuh di dada Arjuna, itu adalah air mata wanita tersebut.Dia berhasil.Itu adalah rasa sakit saat pertama kali melepas kesucian."Putri Delapan!" Suara Arjuna serak.Orang yang menculik Arjuna tidak lain adalah Putri Delapan dan ibunya.Dalam perjalanan kembali ke Desa Embun kemarin, Arjuna bertemu Putri D

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 123

    Arjuna sendiri juga tidak tahu bagaimana dia melewati malam itu.Luar biasa ....Ketika dia bangun di pagi hari dan membuka matanya, dia menemukan bahwa Putri Delapan sedang berlutut di sampingnya.Dia juga tahu bahwa dirinya salah karena mengikat Arjuna selama dua hari, serta memaksa Arjuna tidur dengannya."Tuan sudah bangun." Putri Delapan menyodorkan sebuah nampan untuk Arjuna dalam posisi berlutut. Ada sebutir telur dan semangkuk bubur putih di atas nampan. "Hanya ini yang aku punya di rumah. Semoga Tuan tidak keberatan. Setelah sarapan, aku akan segera mengantar Tuan pulang."Arjuna mendorong sendok yang diberikan Putri Delapan. "Aku belum lapar, pulang dulu."Dia sudah menghilang selama dua hari. Disa dan Daisha pasti sangat khawatir, terutama Daisha ....Arjuna tidak berani memikirkan bagaimana reaksi Daisha setelah dia menghilang."Berkemaslah, lalu pulang bersamaku," ujar Arjuna sambil mengikat ikat pinggangnya. Meskipun Putri Delapan sudah keterlaluan, setelahnya Arjuna mela

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 124

    "Kamu ...."Arjuna menundukkan kepalanya.Dia melihat sepasang mata yang penuh ketakutan dan memelas.Pencuri beras itu ternyata seorang gadis kecil yang kelihatannya baru berusia tujuh atau delapan tahun. Dia kurus dan berkulit gelap, rambutnya acak-acakan, pakaiannya compang-camping. Bagian kulitnya yang terlihat berlumuran darah.Darah keluar dari luka lama. Hal ini menunjukkan bahwa bukan baru kali ini dia dipukuli. Luka baru menutupi luka lamanya.Tidak ada sandal di kakinya, kaki kecilnya merah karena kedinginan dan penuh luka.Gadis itu memanggilnya apa?Tuan?!Panggilan gadis kecil itu membuat Arjuna ketakutan hingga pupil matanya mengecil. "Anak kecil, jangan panggil sembarangan!"Langit dan bumi bisa bersaksi.Arjuna sangat menyukai anak kecil yang imut.Namun, dia tidak berani memperistri anak sekecil itu."Semua orang bilang kamu sudah menjadi baik, ternyata tidak."Tatapan pencuri kecil itu kosong dan penuh kebencian. Dia melepaskan tangannya dari kaki Arjuna dengan kecewa

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 125

    Kakek-nenek mereka sudah tua, sedangkan paman mereka tidak mau membesarkan Dinda. Jika Disa dan Daisha tidak membawa Dinda bersama mereka, dia akan diusir dari rumah pamannya, lalu berakhir mengembara di luar.Mendengar hal ini, Arjuna mengangguk berulang kali."Kalian membawanya bersama kalian adalah keputusan yang tepat.""Tapi tak lama setelah kami tiba di Desa Embun, kamu menjual Dik Dinda ketika aku dan Kak Disa tidak ada di rumah. Tidak peduli bagaimana kami memohon, kamu tidak mau memberi tahu kami kepada siapa kamu menjual Dik Dinda."Ketika membahas masa lalu, Daisha menekankan kata-katanya, tatapan penuh dengan kemarahan.Meski sudah lewat setengah tahun, dalam hatinya kejadian itu seolah baru saja terjadi.Tatapan Disa menjadi lebih dingin saat dia menatap Arjuna.Tatapan Arjuna juga dingin.Disa memeluk Dinda dengan erat sambil menatap Arjuna dengan waspada."Sial!" umpat Arjuna.Arjuna yang dulu benar-benar manusia sialan! Tidak, dia bukan manusia, tapi binatang!"Bam!"Se

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 126

    Dinda tidur selama dua jam dan belum bangun juga.Di bawah tatapan curiga dari Disa dan Daisha, Arjuna pikir dirinya terlalu kasar. Dia buru-buru meminta pelayan restoran untuk bantu mencarikan tabib."Tabib, apa yang terjadi pada adikku?"Begitu tabib berhenti memeriksa denyut nadi Dinda, Disa dan Daisha langsung bertanya."Tidak apa-apa.""Tidak apa-apa? Kalau begitu kenapa dia belum bangun juga?""Nona ini belum bangun ...." Tabib itu tersenyum tipis lalu lanjut berkata, "Mungkin karena tempat tidur ini terlalu nyaman. Dia tidur sangat lelap. Mungkin dia sudah lama tidak tidur nyaman di atas kasur.""..."Perkataan tabib itu membuat Alsava bersaudari menangis.Mereka berdiri di samping kasur sambil diam-diam menyeka air mata.Meskipun Arjuna sangat jahat dulunya, setidaknya mereka masih bisa tidur nyaman pada malam hari.Dinda membalikkan badannya, kemudian menendang selimut. Daisha membungkuk untuk menyelimuti Dinda."Ah!"Daisha tiba-tiba menjerit pelan.Disa buru-buru mendekat la

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 127

    Galeo lanjut berbicara dengan kasar kepada Dinda. "Bersikaplah pintar. Suasana hatiku tidak buruk sekarang. Kalau tidak, nanti ....""Kalau kamu masih tidak menghilang dari hadapanku sekarang, jangan salahkan aku bersikap kasar." Arjuna menyela Galeo dengan nada dingin."Aku bisa pergi dari hadapanmu, tapi orang yang akan muncul di hadapanmu setelah aku pergi adalah polisi.""Siapa yang sedang kamu takut-takuti? Suruh adikku ....""Disa!"Arjuna menyela Disa dengan suara keras.Sekalipun Dinda dipaksa, menjadi pencuri tetaplah hal yang memalukan.Mereka ada di depan pintu rumah. Pasti ada banyak orang di sekitar yang mendengar. Jika orang-orang itu mendengarnya, Dinda pasti akan mendapat berbagai macam kritikan di desa kelak."Galeo, kamu di Desa Embun!"Tubuh tinggi Magano langsung melintas ke depan Galeo. "Aku peringatkan sebaiknya kamu tidak bertindak gegabah di sini. Kembalilah ke tempatmu!"Galeo menyilangkan lengannya di depan dada, kemudian berkata dengan suara rendah tetapi aro

Latest chapter

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 370

    Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 369

    Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 368

    "Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 367

    "Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 366

    "Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 365

    Tamu bernama Hendra memberi tip lima ratus tael perak.""Bagaimana boleh begini? Ini benar-benar tidak tahu malu.""Demi tidak kalah, mereka menggunakan cara tercela seperti itu.""Tunggu, apakah tip termasuk? Apalagi orang yang memberinya adalah Hendra."Semua pejabat dan pedagang dari Kabupaten Damai melontarkan protes dengan marah."Sugi, bukankah kalian terlalu hina?" Eshan berkata kepada Sugi dengan raut muram."Hina?" Ekspresi Sugi masih setenang sebelumnya, tanpa rasa malu, bahkan sedikit puas diri. "Kak Eshan, apa yang kamu bicarakan? Pelanggan merasa senang memakan masakan Lujain sehingga memberi tip. Apa yang aneh dari itu?""Kak Eshan juga, 'kan? Kalau kamu makan makanan enak, kamu pasti juga akan memberi tip kepada tukang masaknya, 'kan?"Sugi menatap Eshan sembari bertanya balik.Eshan terdiam sesaat.Dia memang punya kebiasaan itu. Setiap kali dia pergi makan dan menyukai makanannya, dia akan memberikan tip kepada si juru masak.Banyak orang tahu tentang kebiasaannya itu.

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 364

    Hendra dan Bani menatap Sugi secara bersamaan.Mereka gagal mendapatkan Rumah Bordil Prianka, bahkan harus menyerahkan Restoran Kebon Sirih dan toko daging. Hal ini sama saja dengan memotong daging mereka. Bagaimana mungkin mereka rela melakukan itu?Melihat hal ini, pupil mata Eshan mengecil. "Kenapa, Yang Mulia Sugi, apakah kalian ingin bersikap curang?""Tidak, tidak." Sugi melambaikan tangannya berulang kali. "Bagaimana mungkin seorang pejabat mengingkari janjinya? Kalau kalian menang, akta Restoran Kebon Sirih dan toko daging pasti akan segera diserahkan."Eshan mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sugi? Semua orang melihat bahwa sore ini, Restoran Kebon Sirih tidak menerima sepeser pun. Sedangkan cake Arjuna menghasilkan total 539 tael perak hari ini. Pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari kurang dari 300 tael. Pendapatan kami sehari jauh lebih banyak daripada total pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari. Bukankah kami menang?""Menurut perhitunganmu, kalian mem

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 363

    "Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?""Lujain, apa maksudmu?""Hahaha! Hahaha!" Lujain tidak menanggapi kata-kata Sugi, tetapi hanya tertawa.Setelah tertawa terbahak-bahak, dia mulai mengulang-ulang kata-katanya. "Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?"Lujain terus mengulanginya sampai matahari terbenam. Tidak peduli bagaimana Sugi dan yang lainnya memanggil Lujain, dia tidak menjawab.Akhirnya Sugi mencarikan seorang tabib.Dokter mengatakan bahwa Lujain tidak bisa menerima pukulan sehingga menjadi gila.Dengan kata lain, Lujain sudah gila!"Gila? Bagaimana mungkin? Dasar tabib bodong!"Sugi menendang tabib itu keluar dari ruangan dengan kasar."Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat panggil tabib!" Sugi berteriak dengan marah kepada bawahannya."Baik, Yang Mulia!" Bawahan itu berlari keluar dengan panik."Tunggu, jangan undang tabib dari Kabupaten Damai, undang tabib dari Kabupaten Sentosa saja."Bawahan Sugi bergegas menjemp

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 362

    "Yang sudah beli, tolong berikan ke yang belum. Tuan." Eshan tersenyum kepada pemuda yang berada paling dekat dengannya. "Kamu sudah pernah beli sebelumnya. Aku lihat kamu bahkan beli dua.""Dua saja tidak cukup. Total putriku ada dua belas. Dua cake sebelumnya sudah dihabiskan oleh ibu dan putraku, Aku, istri dan putriku belum makan.""Kalau begitu kamu harus beli setidaknya delapan sampai sepuluh cake. Tidak bisa, tidak bisa."Orang-orang di belakang bergegas maju, mendorong pemuda itu ke samping.Setelah beberapa waktu berlalu, Eshan didemo menggunakan uang, orang-orang rebutan kue."Jangan rebutan, jangan rebutan. Semuanya kebagian. Kalau masih kurang, aku akan minta Arjuna menyisakannya untuk dibawa ke sini." Eshan merasa tak berdaya."Sepakat ya. Kalau tidak disisakan, awas saja."Adegan macam apa ini? Orang-orang mengancam kepala daerah, kepala daerah malah tertawa.Raut wajah Sugi begitu muram. Dia melirik Lujain yang berekspresi sama muramnya."Semuanya! Semuanya!" Sugi berdir

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status