Galeo lanjut berbicara dengan kasar kepada Dinda. "Bersikaplah pintar. Suasana hatiku tidak buruk sekarang. Kalau tidak, nanti ....""Kalau kamu masih tidak menghilang dari hadapanku sekarang, jangan salahkan aku bersikap kasar." Arjuna menyela Galeo dengan nada dingin."Aku bisa pergi dari hadapanmu, tapi orang yang akan muncul di hadapanmu setelah aku pergi adalah polisi.""Siapa yang sedang kamu takut-takuti? Suruh adikku ....""Disa!"Arjuna menyela Disa dengan suara keras.Sekalipun Dinda dipaksa, menjadi pencuri tetaplah hal yang memalukan.Mereka ada di depan pintu rumah. Pasti ada banyak orang di sekitar yang mendengar. Jika orang-orang itu mendengarnya, Dinda pasti akan mendapat berbagai macam kritikan di desa kelak."Galeo, kamu di Desa Embun!"Tubuh tinggi Magano langsung melintas ke depan Galeo. "Aku peringatkan sebaiknya kamu tidak bertindak gegabah di sini. Kembalilah ke tempatmu!"Galeo menyilangkan lengannya di depan dada, kemudian berkata dengan suara rendah tetapi aro
Memasok ikan ke Restoran Kebon Sirih dan mendirikan pabrik ikan bersama Tamael memang menghasilkan sejumlah uang. Namun, uang yang mereka miliki jauh dari seribu tael perak."Tidak, tidak." Galeo menggoyangkan jarinya sembari berkata, "Tuanmu sekarang begitu hebat. Dia memasok begitu banyak ikan ke Tamael setiap hari, pabrik ikan juga mengirimkan ikan setiap hari. Bagaimana mungkin dia tidak ada uang?""Kamu pikir uang begitu mudah didapatkan?!" Disa memelotot marah.Mereka belum lama memasok ikan ke Restoran Kebon Sirih, keuntungannya juga tidak terlalu tinggi.Sedangkan untuk pabrik ikan, keuntungannya memang lebih besar, tetapi pabriknya baru beroperasi beberapa hari. Modal saja belum balik."Kami tidak punya uang untuk diberikan kepadamu. Kalau kamu mau menuntut kami, silakan saja. Paling-paling kita masuk penjara bersama, toh kamu juga tidak sepenuhnya tidak salah.""Lidahmu sangat tajam. Apakah tuanmu tidak mengajarkanmu untuk tidak menyela ketika pria sedang berbicara?"Sikap ka
Galeo merasa bahwa Tuhan menakdirkan dia untuk memperoleh sejumlah uang.Ketika dia membeli Dinda, dia lupa meminta Arjuna untuk memberikan Akta Kepemilikan Dinda. Dia sempat kesal karenanya.Tak disangka ....Benar-benar kesialan yang membawa keuntungan.Sejak hari dia kembali ke Kabupaten Damai, Galeo meminta Dinda untuk mencuri beras di Restoran Kebon Sirih.Dinda sangat lincah dan ini bukan pertama kalinya dia masuk ke lumbung padi Restoran Kebon Sirih. Alasan dia gagal kabur kali ini adalah Galeo menghalangi jalan keluarnya.Mengapa Galeo memilih Restoran Kebon Sirih? Karena begitu Dinda tertangkap, ada banyak orang yang bisa bersaksi.Bila saksinya banyak, Arjuna dan yang lainnya tidak dapat menutupi kejahatan Dinda."Hei!"Melihat Arjuna masih tidak mengatakan apa-apa, Galeo sedikit tidak sabar. "Jangan pura-pura diam. Berapa banyak menu baru yang kamu buat untuk Restoran Kebon Sirih hari ini? Mungkinkah kamu tidak punya uang?""Sepertinya kamu sangat memahamiku. Kamu sudah meng
Di luar rumah Arjuna, Raditya bersembunyi di pojok sambil menunggu. Ketika dia melihat Galeo keluar, dia langsung berlari mendekat."Bagaimana, Galeo?"Galeo menepuk bahu Raditya. "Mulai sekarang, kita bisa pergi ke Rumah Bordil Prianka setiap hari. Kita bisa memesan gadis mana pun yang kita inginkan. Kita juga bisa berjudi setiap hari.""Apakah kamu berhasil?" Raditya sangat gembira. Galeo telah berjanji untuk memberinya 30% dari keuntungan jika rencana ini berhasil.Tiga puluh persen sama dengan tiga ratus tael.Dengan adanya tiga ratus tael, dia juga bisa memulai bisnis. Raditya tidak percaya bahwa dia lebih bodoh dari Arjuna...."Bawa Dinda masuk untuk istirahat," perintah Arjuna, kemudian dia pergi ke dapur untuk memasak.Tubuh Dinda penuh luka sehingga perlu dirawat dengan cepat. Arjuna tidak leluasa untuk melihat.Selain itu, mereka sudah lama tidak bertemu, pasti ada beberapa hal pribadi yang ingin mereka ceritakan.Kalau ada Arjuna, mereka pasti malu untuk mengatakannya."Dik
"Benar, Dinda, cepatlah makan. Nanti kalau sudah dingin, rasanya tidak enak."Daisha pun mendesak Dinda."Ini." Disa menaruh sepotong fillet ikan ke dalam mangkuk Dinda, "Dinda, cobalah. Ikan acar buatan Tuan sangat lezat."Dinda menatap kedua kakaknya dan Arjuna yang sedang makan secara bergantian.Pria itu tampak masih sama. Raut wajahnya masih sama seperti dulu, ekspresinya juga terlihat galak.Namun, dia juga sepenuhnya berbeda.Dulu, dia tidak bisa menghasilkan uang maupun melakukan pekerjaan rumah tangga.Sekarang dia tidak hanya bisa melakukannya, tetapi juga melakukannya dengan sangat terampil."Enak sekali!"Makanan lezat membuat Dinda merasa lebih terbuka, senyum khas anak kecil akhirnya muncul di wajahnya.Dia melirik Arjuna, kemudian berbicara dengan suara kecil dan cepat."Terima kasih."Arjuna merasa dirinya parah.Bisa-bisanya dia merasa gembira hanya karena ucapan terima kasih dari seorang anak kecil.Setelah makan, Dinda duduk di atas tungku sambil mengamati rumah ini.
"Setelah kami berhenti, Galeo memindahkan kami satu per satu ke dalam sebuah tong kayu. Tong itu sangat kecil, kami berlima sangat sempit di dalam. Setelah itu, aku merasakan tong itu terus jatuh hingga akhirnya berhenti. Kami melewati malam hari di dalam tong kayu itu.""Tidak heran kamu tidur begitu nyenyak tadi. Bagaimana lima orang bisa tidur di tempat sekecil itu?"Daisha merasa sedih."Galeo benar-benar keji."Disa tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan ke ujung, mengambil busur dan anak panah dari dinding, lalu berjalan keluar."Berhenti! Gantung kembali busur dan anak panahmu!""Tuan, kamu bisa menahannya, tapi aku tidak bisa. Aku akan membunuh Galeo dengan satu anak panah."Mereka tidak perlu melihat untuk mengetahui bahwa Disa pasti sangat marah hingga mata dan wajahnya memerah."Pergilah, pergi bunuh dia, kemudian kamu akan diseret ke pasar untuk dipenggal di depan umum. Kedua adikmu akan diasingkan ke perbatasan untuk melakukan kerja paksa karena kamu. Sedangkan aku .... Se
Selain rasa takut, Dinda juga merasa benci terhadap Arjuna.Dia berakhir semengenaskan sekarang karena Arjuna menjualnya.Menjalani kehidupan yang tidak manusiawi selama hampir setengah tahun tidak dapat dihapus dengan sekali makan atau beberapa kata sopan.Arjuna, yang sedang beristirahat dengan mata terpejam, tiba-tiba membuka matanya. Dinda terkejut, dia tidak sempat mengalihkan pandangannya.Dengan panik, dia buru-buru berkata, "Tu ... Tuan."Arjuna menatap Dinda beberapa saat sebelum membalas dengan bergumam.Gadis ini memiliki kulit yang cukup putih.Putih?!Sebuah pikiran terlintas di benak Arjuna.Dia memalingkan wajahnya dari Dinda.Dinda diam-diam mengangkat tangan kecilnya, membuat gerakan meninju pada punggung Arjuna.Arjuna mengetahuinya, tetapi dia pura-pura tidak melihatnya.Arjuna yang dulu melakukan hal-hal sebejat itu, dia harus membiarkan gadis kecil ini melampiaskan amarahnya.Pada malam hari.Di satu sisi tungku, seorang gadis kecil terus membolak-balikkan tubuhnya
Hari ini Arjuna berada di restoran selama dua jam lebih lama barulah keluar.Setelah meninggalkan Restoran Kebon Sirih, dia tidak pergi ke pabrik pengolahan ikan, dia juga tidak mengajak istri-istrinya jalan-jalan seperti biasa, melainkan langsung keluar kota.Melihat Arjuna meninggalkan kota, Raditya bergegas melapor kepada Galeo."Kenapa kamu berlari seperti ini?"Melihat Raditya kehabisan napas, Galeo menghampirinya sembari mengajukan pertanyaan."Apakah Arjuna sudah meninggalkan pasar?"Galeo telah mengikuti Arjuna selama beberapa hari sebelumnya. Dia mengetahui bahwa Arjuna akan pergi ke pasar setelah mengantarkan ikan dan memeriksa pabrik ikan setiap hari. Sekalipun tidak belanja kebutuhan rumah tangga, dia akan mengajak istri-istrinya membeli beberapa makanan ringan.Dia memerintahkan Raditya untuk langsung memberitahunya setelah Arjuna keluar dari Restoran Kebon Sirih dan pergi ke pasar.Karena bila dia berangkat menuju gerbang kota saat itu, Arjuna juga akan hampir sampai di g
"Jangan pikir aku tidak akan memukulmu hanya karena kamu kakakku!" Dinda menyerbu sambil mengangkat tangan kecilnya."Kalau begitu sini, bocah kecil."Disa dan Dinda bertarung di depan, sementara Daisha yang ada di belakang mereka menegur mereka. "Kak Disa, Dinda, kalian sudah menikah sekarang. Kenapa kalian masih bertingkah seperti anak kecil? Hentikan sekarang juga!""Daisha." Arjuna menggandeng tangan Daisha. "Jarang-jarang mereka sesenang ini. Biarkan saja mereka.""Tuan, kamu terlalu memanjakan mereka.""Hm?" Arjuna melingkarkan tangannya ke pinggang Daisha. "Apakah kamu menyalahkanku hanya memanjakan Disa dan Dinda, tidak memanjakanmu?"Sambil berbicara, Arjuna memiringkan kepalanya, kemudian berbisik di telinga Daisha. "Oke, kalau begitu aku akan lebih memanjakanmu malam ini."Ketika Arjuna menyebut kata "malam", dia sengaja menekankan nadanya."Tidak, bukan seperti yang Tuan bayangkan."Daisha, yang paling tidak tahan digoda, langsung tersipu."Seperti apa?"Arjuna paling menyu
Dalam dua kompetisi pertama, orang lain merasa bahwa Arjuna beruntung, tetapi Hendra tidak berpikir demikian.Arjuna tidak hanya bisa membuat makanan unik seperti cake, tetapi dia juga seorang genius bisnis.Orang seperti itu cepat atau lambat akan menjadi saingannya, jadi Hendra harus menyingkirkannya sebelum Arjuna menjadi kuat."Kamu harus berhati-hati, orang itu banyak akal." Sugi sedikit khawatir."Tenang saja, Yang Mulia." Hendra penuh percaya diri. "Kalau aku tidak berhasil membunuhnya, aku punya cara lain. Dia tidak akan selamat pada hari kompetisi.""Oh?" Mendengar perkataan Hendra, mata Sugi berbinar. "Kamu punya ide lain? Coba katakan.""Yang Mulia ...." Hendra mendekati Sugi, kemudian berbisik di telinganya."Kamu ingin menggunakan mereka?" Raut wajah Sugi sedikit serius."Yang Mulia, orang-orang kita tidak mudah bertindak, hanya bisa mereka. Dengan adanya mereka, bahkan para dewa pun tidak dapat menyelamatkan Arjuna.""Tapi apakah kamu tahu konsekuensi dari menggunakan mer
Orang-orang di sana tidak lagi mengenal konsep pelajar, petani, pengrajin dan pedagang. Semua orang setara. Apa pun yang kamu lakukan, selama kamu menghasilkan uang dengan kemampuanmu sendiri, orang lain akan menghormatimu.Kalau orang lain mendengarnya, pasti mereka akan menertawakan Arjuna bermimpi karena mabuk.Namun, Tamael berbeda.Dia percaya pada Arjuna, karena dia telah mengenal Arjuna sebelum bekerja sama dengan Arjuna.Seorang bajingan bodoh dan malas jatuh ke jurang, kemudian setelah siuman menjadi orang yang berbeda. Arjuna tidak hanya sangat pintar, tetapi juga mengetahui banyak hal yang tidak mereka ketahui.Tamael tidak percaya adanya hantu atau dewa, dia juga tidak percaya adanya dewa gunung.Satu-satunya hal yang dapat menjelaskan perubahan Arjuna adalah, dia bukan lagi Arjuna yang dulu.Kemudian, Arjuna memberi tahu Tamael bahwa dia akan mengikuti ujian kekaisaran.Tamael sepenuhnya mendukung Arjuna. Dia tidak hanya sering mengirim buku dan peralatan menulis kepada Ar
Karena itu adalah wilayah tak bertuan, pada dasarnya tidak ada yang mengurus. Gubernur Kota Perai mengeluarkan beberapa perintah untuk menekan para bandit. Akan tetapi, beberapa kabupaten terus saling mendorong perintah itu.Satu-satunya orang yang pernah benar-benar mengirim orang untuk menekan para bandit adalah Eshan. Justru karena alasan inilah Naga Bermata Satu senang datang ke Kabupaten Damai untuk merampok.Setelah Eshan gagal, gubernur sendiri mengirim pasukan untuk menekan para bandit. Namun, Gunung Magmora terjal, mudah dipertahankan tetapi sulit diserang. Selain itu, sebagian besar bandit adalah tentara yang melarikan diri. Orang-orang ini sangat ahli dalam seni bela diri dan sangat kejam. Tim penindas bandit gagal setelah tiga atau empat kali mencoba."Oh." Arjuna menyentuh kepalanya sambil menunjukkan senyum konyolnya yang khas. "Aku tidak ingat banyak hal setelah jatuh ke jurang. Abaikan aku, lanjut cerita.""Kemudian ...." lanjut Tamael.Kemudian, Tamael baru mengetahui
Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah
Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo
"Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj
"Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer