"Kenapa kamu melakukan ini?" Arjuna agak tidak berdaya.Wanita yang meringkuk dalam pelukan Arjuna seolah tidak mendengar kata-kata Arjuna.Dia menarik selimut dari Arjuna.Ketika mereka mengikatnya, mereka telah menanggalkan semua pakaian Arjuna.Mereka juga terus menerus bergumam bahwa hari ini harus berhasil.Tubuh Arjuna sedikit menegang.Tempat ini selalu gelap, dia tidak bisa membedakan siang dan malam.Apakah dia sudah hilang selama dua hari?"Sudah dua hari. Istri-istriku pasti sangat khawatir. Biarkan aku pulang sekarang, aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi."Wanita itu masih menganggap tidak mendengar ucapan Arjuna.Napas Arjuna memberat."Tak!"Cairan hangat jatuh di dada Arjuna, itu adalah air mata wanita tersebut.Dia berhasil.Itu adalah rasa sakit saat pertama kali melepas kesucian."Putri Delapan!" Suara Arjuna serak.Orang yang menculik Arjuna tidak lain adalah Putri Delapan dan ibunya.Dalam perjalanan kembali ke Desa Embun kemarin, Arjuna bertemu Putri D
Arjuna sendiri juga tidak tahu bagaimana dia melewati malam itu.Luar biasa ....Ketika dia bangun di pagi hari dan membuka matanya, dia menemukan bahwa Putri Delapan sedang berlutut di sampingnya.Dia juga tahu bahwa dirinya salah karena mengikat Arjuna selama dua hari, serta memaksa Arjuna tidur dengannya."Tuan sudah bangun." Putri Delapan menyodorkan sebuah nampan untuk Arjuna dalam posisi berlutut. Ada sebutir telur dan semangkuk bubur putih di atas nampan. "Hanya ini yang aku punya di rumah. Semoga Tuan tidak keberatan. Setelah sarapan, aku akan segera mengantar Tuan pulang."Arjuna mendorong sendok yang diberikan Putri Delapan. "Aku belum lapar, pulang dulu."Dia sudah menghilang selama dua hari. Disa dan Daisha pasti sangat khawatir, terutama Daisha ....Arjuna tidak berani memikirkan bagaimana reaksi Daisha setelah dia menghilang."Berkemaslah, lalu pulang bersamaku," ujar Arjuna sambil mengikat ikat pinggangnya. Meskipun Putri Delapan sudah keterlaluan, setelahnya Arjuna mela
"Kamu ...."Arjuna menundukkan kepalanya.Dia melihat sepasang mata yang penuh ketakutan dan memelas.Pencuri beras itu ternyata seorang gadis kecil yang kelihatannya baru berusia tujuh atau delapan tahun. Dia kurus dan berkulit gelap, rambutnya acak-acakan, pakaiannya compang-camping. Bagian kulitnya yang terlihat berlumuran darah.Darah keluar dari luka lama. Hal ini menunjukkan bahwa bukan baru kali ini dia dipukuli. Luka baru menutupi luka lamanya.Tidak ada sandal di kakinya, kaki kecilnya merah karena kedinginan dan penuh luka.Gadis itu memanggilnya apa?Tuan?!Panggilan gadis kecil itu membuat Arjuna ketakutan hingga pupil matanya mengecil. "Anak kecil, jangan panggil sembarangan!"Langit dan bumi bisa bersaksi.Arjuna sangat menyukai anak kecil yang imut.Namun, dia tidak berani memperistri anak sekecil itu."Semua orang bilang kamu sudah menjadi baik, ternyata tidak."Tatapan pencuri kecil itu kosong dan penuh kebencian. Dia melepaskan tangannya dari kaki Arjuna dengan kecewa
Kakek-nenek mereka sudah tua, sedangkan paman mereka tidak mau membesarkan Dinda. Jika Disa dan Daisha tidak membawa Dinda bersama mereka, dia akan diusir dari rumah pamannya, lalu berakhir mengembara di luar.Mendengar hal ini, Arjuna mengangguk berulang kali."Kalian membawanya bersama kalian adalah keputusan yang tepat.""Tapi tak lama setelah kami tiba di Desa Embun, kamu menjual Dik Dinda ketika aku dan Kak Disa tidak ada di rumah. Tidak peduli bagaimana kami memohon, kamu tidak mau memberi tahu kami kepada siapa kamu menjual Dik Dinda."Ketika membahas masa lalu, Daisha menekankan kata-katanya, tatapan penuh dengan kemarahan.Meski sudah lewat setengah tahun, dalam hatinya kejadian itu seolah baru saja terjadi.Tatapan Disa menjadi lebih dingin saat dia menatap Arjuna.Tatapan Arjuna juga dingin.Disa memeluk Dinda dengan erat sambil menatap Arjuna dengan waspada."Sial!" umpat Arjuna.Arjuna yang dulu benar-benar manusia sialan! Tidak, dia bukan manusia, tapi binatang!"Bam!"Se
Dinda tidur selama dua jam dan belum bangun juga.Di bawah tatapan curiga dari Disa dan Daisha, Arjuna pikir dirinya terlalu kasar. Dia buru-buru meminta pelayan restoran untuk bantu mencarikan tabib."Tabib, apa yang terjadi pada adikku?"Begitu tabib berhenti memeriksa denyut nadi Dinda, Disa dan Daisha langsung bertanya."Tidak apa-apa.""Tidak apa-apa? Kalau begitu kenapa dia belum bangun juga?""Nona ini belum bangun ...." Tabib itu tersenyum tipis lalu lanjut berkata, "Mungkin karena tempat tidur ini terlalu nyaman. Dia tidur sangat lelap. Mungkin dia sudah lama tidak tidur nyaman di atas kasur.""..."Perkataan tabib itu membuat Alsava bersaudari menangis.Mereka berdiri di samping kasur sambil diam-diam menyeka air mata.Meskipun Arjuna sangat jahat dulunya, setidaknya mereka masih bisa tidur nyaman pada malam hari.Dinda membalikkan badannya, kemudian menendang selimut. Daisha membungkuk untuk menyelimuti Dinda."Ah!"Daisha tiba-tiba menjerit pelan.Disa buru-buru mendekat la
Galeo lanjut berbicara dengan kasar kepada Dinda. "Bersikaplah pintar. Suasana hatiku tidak buruk sekarang. Kalau tidak, nanti ....""Kalau kamu masih tidak menghilang dari hadapanku sekarang, jangan salahkan aku bersikap kasar." Arjuna menyela Galeo dengan nada dingin."Aku bisa pergi dari hadapanmu, tapi orang yang akan muncul di hadapanmu setelah aku pergi adalah polisi.""Siapa yang sedang kamu takut-takuti? Suruh adikku ....""Disa!"Arjuna menyela Disa dengan suara keras.Sekalipun Dinda dipaksa, menjadi pencuri tetaplah hal yang memalukan.Mereka ada di depan pintu rumah. Pasti ada banyak orang di sekitar yang mendengar. Jika orang-orang itu mendengarnya, Dinda pasti akan mendapat berbagai macam kritikan di desa kelak."Galeo, kamu di Desa Embun!"Tubuh tinggi Magano langsung melintas ke depan Galeo. "Aku peringatkan sebaiknya kamu tidak bertindak gegabah di sini. Kembalilah ke tempatmu!"Galeo menyilangkan lengannya di depan dada, kemudian berkata dengan suara rendah tetapi aro
Memasok ikan ke Restoran Kebon Sirih dan mendirikan pabrik ikan bersama Tamael memang menghasilkan sejumlah uang. Namun, uang yang mereka miliki jauh dari seribu tael perak."Tidak, tidak." Galeo menggoyangkan jarinya sembari berkata, "Tuanmu sekarang begitu hebat. Dia memasok begitu banyak ikan ke Tamael setiap hari, pabrik ikan juga mengirimkan ikan setiap hari. Bagaimana mungkin dia tidak ada uang?""Kamu pikir uang begitu mudah didapatkan?!" Disa memelotot marah.Mereka belum lama memasok ikan ke Restoran Kebon Sirih, keuntungannya juga tidak terlalu tinggi.Sedangkan untuk pabrik ikan, keuntungannya memang lebih besar, tetapi pabriknya baru beroperasi beberapa hari. Modal saja belum balik."Kami tidak punya uang untuk diberikan kepadamu. Kalau kamu mau menuntut kami, silakan saja. Paling-paling kita masuk penjara bersama, toh kamu juga tidak sepenuhnya tidak salah.""Lidahmu sangat tajam. Apakah tuanmu tidak mengajarkanmu untuk tidak menyela ketika pria sedang berbicara?"Sikap ka
Galeo merasa bahwa Tuhan menakdirkan dia untuk memperoleh sejumlah uang.Ketika dia membeli Dinda, dia lupa meminta Arjuna untuk memberikan Akta Kepemilikan Dinda. Dia sempat kesal karenanya.Tak disangka ....Benar-benar kesialan yang membawa keuntungan.Sejak hari dia kembali ke Kabupaten Damai, Galeo meminta Dinda untuk mencuri beras di Restoran Kebon Sirih.Dinda sangat lincah dan ini bukan pertama kalinya dia masuk ke lumbung padi Restoran Kebon Sirih. Alasan dia gagal kabur kali ini adalah Galeo menghalangi jalan keluarnya.Mengapa Galeo memilih Restoran Kebon Sirih? Karena begitu Dinda tertangkap, ada banyak orang yang bisa bersaksi.Bila saksinya banyak, Arjuna dan yang lainnya tidak dapat menutupi kejahatan Dinda."Hei!"Melihat Arjuna masih tidak mengatakan apa-apa, Galeo sedikit tidak sabar. "Jangan pura-pura diam. Berapa banyak menu baru yang kamu buat untuk Restoran Kebon Sirih hari ini? Mungkinkah kamu tidak punya uang?""Sepertinya kamu sangat memahamiku. Kamu sudah meng
"Jangan pikir aku tidak akan memukulmu hanya karena kamu kakakku!" Dinda menyerbu sambil mengangkat tangan kecilnya."Kalau begitu sini, bocah kecil."Disa dan Dinda bertarung di depan, sementara Daisha yang ada di belakang mereka menegur mereka. "Kak Disa, Dinda, kalian sudah menikah sekarang. Kenapa kalian masih bertingkah seperti anak kecil? Hentikan sekarang juga!""Daisha." Arjuna menggandeng tangan Daisha. "Jarang-jarang mereka sesenang ini. Biarkan saja mereka.""Tuan, kamu terlalu memanjakan mereka.""Hm?" Arjuna melingkarkan tangannya ke pinggang Daisha. "Apakah kamu menyalahkanku hanya memanjakan Disa dan Dinda, tidak memanjakanmu?"Sambil berbicara, Arjuna memiringkan kepalanya, kemudian berbisik di telinga Daisha. "Oke, kalau begitu aku akan lebih memanjakanmu malam ini."Ketika Arjuna menyebut kata "malam", dia sengaja menekankan nadanya."Tidak, bukan seperti yang Tuan bayangkan."Daisha, yang paling tidak tahan digoda, langsung tersipu."Seperti apa?"Arjuna paling menyu
Dalam dua kompetisi pertama, orang lain merasa bahwa Arjuna beruntung, tetapi Hendra tidak berpikir demikian.Arjuna tidak hanya bisa membuat makanan unik seperti cake, tetapi dia juga seorang genius bisnis.Orang seperti itu cepat atau lambat akan menjadi saingannya, jadi Hendra harus menyingkirkannya sebelum Arjuna menjadi kuat."Kamu harus berhati-hati, orang itu banyak akal." Sugi sedikit khawatir."Tenang saja, Yang Mulia." Hendra penuh percaya diri. "Kalau aku tidak berhasil membunuhnya, aku punya cara lain. Dia tidak akan selamat pada hari kompetisi.""Oh?" Mendengar perkataan Hendra, mata Sugi berbinar. "Kamu punya ide lain? Coba katakan.""Yang Mulia ...." Hendra mendekati Sugi, kemudian berbisik di telinganya."Kamu ingin menggunakan mereka?" Raut wajah Sugi sedikit serius."Yang Mulia, orang-orang kita tidak mudah bertindak, hanya bisa mereka. Dengan adanya mereka, bahkan para dewa pun tidak dapat menyelamatkan Arjuna.""Tapi apakah kamu tahu konsekuensi dari menggunakan mer
Orang-orang di sana tidak lagi mengenal konsep pelajar, petani, pengrajin dan pedagang. Semua orang setara. Apa pun yang kamu lakukan, selama kamu menghasilkan uang dengan kemampuanmu sendiri, orang lain akan menghormatimu.Kalau orang lain mendengarnya, pasti mereka akan menertawakan Arjuna bermimpi karena mabuk.Namun, Tamael berbeda.Dia percaya pada Arjuna, karena dia telah mengenal Arjuna sebelum bekerja sama dengan Arjuna.Seorang bajingan bodoh dan malas jatuh ke jurang, kemudian setelah siuman menjadi orang yang berbeda. Arjuna tidak hanya sangat pintar, tetapi juga mengetahui banyak hal yang tidak mereka ketahui.Tamael tidak percaya adanya hantu atau dewa, dia juga tidak percaya adanya dewa gunung.Satu-satunya hal yang dapat menjelaskan perubahan Arjuna adalah, dia bukan lagi Arjuna yang dulu.Kemudian, Arjuna memberi tahu Tamael bahwa dia akan mengikuti ujian kekaisaran.Tamael sepenuhnya mendukung Arjuna. Dia tidak hanya sering mengirim buku dan peralatan menulis kepada Ar
Karena itu adalah wilayah tak bertuan, pada dasarnya tidak ada yang mengurus. Gubernur Kota Perai mengeluarkan beberapa perintah untuk menekan para bandit. Akan tetapi, beberapa kabupaten terus saling mendorong perintah itu.Satu-satunya orang yang pernah benar-benar mengirim orang untuk menekan para bandit adalah Eshan. Justru karena alasan inilah Naga Bermata Satu senang datang ke Kabupaten Damai untuk merampok.Setelah Eshan gagal, gubernur sendiri mengirim pasukan untuk menekan para bandit. Namun, Gunung Magmora terjal, mudah dipertahankan tetapi sulit diserang. Selain itu, sebagian besar bandit adalah tentara yang melarikan diri. Orang-orang ini sangat ahli dalam seni bela diri dan sangat kejam. Tim penindas bandit gagal setelah tiga atau empat kali mencoba."Oh." Arjuna menyentuh kepalanya sambil menunjukkan senyum konyolnya yang khas. "Aku tidak ingat banyak hal setelah jatuh ke jurang. Abaikan aku, lanjut cerita.""Kemudian ...." lanjut Tamael.Kemudian, Tamael baru mengetahui
Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah
Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo
"Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj
"Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer