Melihat Riley yang hanya diam saja, James tersenyum masam lalu dia menabrakkan sebagian badannya dengan badan Riley dan kemudian berkata, "Kau sama saja dengan yang lain. Hanya melihat sesuatu dari satu sisi." Setelah itu, James berjalan menjauh dari Riley. "Kau mau pergi ke mana?" James tidak menjawabnya. Riley berteriak memanggilnya, "James." "Kau mau ke mana?" ulang Riley. "Bukan urusanmu, Wood." James menjawab tanpa berhenti berjalan atau puun menoleh ke arah Riley. Riley tidak menyerah begitu saja dan langsung berjalan dengan setengah berlari menyusul James. "Berhenti, James Gardner!" James masih mengabaikan Riley, Riley pun berkata dengn cepat, "Sebentar lagi latihan dimulai." "Aku tidak peduli," sahut James masih tak mau berhenti berjalan dan terus melangkah dengan langkah lebar-lebar. "Kita satu kelompok." Riley berkata dengan tergesa-gesa. Ternyata hal itu berhasil membuat James berhenti berjalan dan langsung menoleh. "Apa katamu? Kita satu kelompok?" Berhasil. Rile
Riley pun tak mengatakan kata-kata lagi, tapi dia mendengar Diego menyindir, "Menyenangkan sekali ya membersihkan tempat yang dulu dihuni oleh orang yang sudah membunuh ayahmu?" James hanya mencengkeram sisi meja, tak mau kembali mendapatkan hukuman jika dia memukul Diego. Riley pun kemudian menanggapi, "Diego, kurasa ini bukan sesuatu yang pantas untuk dibahas." Diego hanya mengangkat bahunya, tetap tidak terlalu peduli dan malah tersenyum menyebalkan pada James. Alen yang saat ini lebih ingin menjadi pihak yang netral, yang tak ingin berpihak pada salah satu di antara James maupun Diego pun hanya menengahi dengan berkata, "Sudah, lebih baik kita bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan segera masuk gedung latihan." Hal itu membuat James tertarik hingga dia menoleh ke arah Riley, "Wood, kita akan berlatih untuk cabang apa?" "Latihan fisik tanpa senjata," jawab Riley. Mendengar jawaban Riley, James tersenyum, "Kalau begitu kau harus berhati-hati padaku, Wood." Riley memutar bola ma
Riley pun memisahkan diri dari James dan memilih area bagian selatan untuk berlatih. Sedangkan James memilih bagian utara seolah memang dua orang itu berseberangan.Pada saat berlatih, para calon prajurit memakai kaos berlengan pendek dan juga celana panjang berbahan ringan yang membuat mereka bebas bergerak. Akan tetapi, ketika pertarungan dimulai, mereka akan berganti kostum sesuai dengan cabang mereka. Untuk cabang bela diri bebas tanpa senjata, mereka nantinya akan mengenakan pelindung diri tambahan.Riley sudah mulai meregangkan otot dan mulai melakukan gerakan-gerakan yang tidak terlalu ekstrim demi menjaga tenaganya.Saat dia baru berlatih sekitar tiga puluh menit, seseorang mendekat, "Hei, kau Riley, bukan?"Riley yang sedang melakukan headstand mengembalikan posisinya perlahan dan menoleh ke arah orang yang bertanya kepadanya itu, "Ya. Ada apa?""Perkenalkan aku Warren Clay," ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangan.Riley menyambut uluran tangannya dan bertanya, "Kau dari
"Kalau bukan karena kau berada di peringkat satu, aku tak akan berkata begitu," balas Warren.Dia meludah sebelum kemudian meninggalkan Riley yang hanya bisa menghela napas panjang. Beberapa orang memperhatikannya, tapi Riley memilih untuk tidak peduli pada tanggapan oran-orang itu.Pemuda itu pun lanjut berlatih.Sedangkan Warren Clay yang tak mendapatkan keinginannya pun berjalan menuju ke arah teman-temannya."Aku dengar teriakanmu. Apa terjadi masalah?" Simon bertanya dengan kening berkerut.Warren membalas dengan nada jengkel, "Si sombong itu berkata tak membutuhkan uang. Huh, apa-apaan? Aku bahkan tak pernah mendengar nama keluarganya. 'Wood', pengusaha apa dengan nama itu? Rasanya tidak ada pengusaha dengan nama keluarga itu.""Memang benar. Tapi, melihat bagaimana dia bersikap, dia mungkin memang orang idealis yang susah diajak bekerja sama, Warren," Leonard berkata setelah dia membuka kaosnya yang sudah basah oleh keringat.Warren mendesah sebal, lalu menatap kedua temannya.
"Astaga, Wood. Kau ini, tentu saja untuk membuat kita berdua lebih bersemangat bertanding," James membalas dengan seringaiannya yang mematikan.Namun, Riley Mackenzie tidak terlihat terpengaruh. Dengan ekpresi malas pemuda itu malah berkata, "Aku tidak tertarik."James seketika memajang wajah kecewa, "Kenapa memangnya? Padahal aku belum mengatakan hadiahnya kalau kau menang dariku.""Jangan banyak bicara! Lagi pula, aku tak butuh hadiah. Sudahlah, ayo cepat kita selesaikan, James." Riley berkata sembari menoleh ke arah wasit pertandingan.James mendengus sebal, tapi dia tetap membalas, "Baiklah. Tapi, kau rugi. Asal kau tahu saja."Riley mengabaikan ucapannya dan malah mengangguk pada sang wasit, tanda dia telah siap."James Gardner, apa kau sudah siap?" sang wasit bertanya.James segera mengatur posisi dan menoleh, "Ya, saya siap."Sang wasit yang tidak diketahui namanya itu pun berujar, "Baik. Peraturan tetap sama, siapapun yang berhasil membuat lawannya melewati garis pembatas dan
James tidak membalas perkataan Riley dan malah menyeringai lebar. Detik selanjutnya, pria muda yang memiliki rambut sedikit menutupi matanya itu membalik keadaan dengan membanting Riley dengan kecepatan yang tak terduga.Riley terbelalak kaget tapi jetika James berniat menggunakan siku kanannya untuk menahan Riley, Riley berhasil berguling dan bangkit dengan cepat.James menatap dengan ekspresi terkejut. "Kau ...."Perkataan James tak bisa diselesaikan karena melihat Riley sedikit melompat lalu menerjangnya hingga membuatnya tersungkur. Riley terengah-engah menatap pemuda yang membuatnya sempat bingung tadi.Darah menetes-netes dari hidung James saat dia melihat ke arah Riley, masih dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Ada rasa kaget, heran sekaligus kagum dan juga bingung yang bercampur menjadi satu di mata James.Akan tetapi, dia semakin heran ketika Riley tak menyerangnya lagi. Namun, dia pun tertawa kecil, mengerti alasan Riley sudah berhenti menyerangnya."Kau mengalahkan aku,
Riley bisa merasakan nada pahit itu juga diliputi oleh rasa kesepian yang dalam. Riley tidak bisa membayangkan jika dia tak memiliki seorang teman untuk sekedar diajak mengobrol. Dia pasti akan sangat bosan."Oh, jangan tunjukkan wajah kasihan! Aku benci melihatnya," James berkata kesal saat melihat ekspresi Riley.Riley menggelengkan kepala, "Tapi, ada baiknya juga tak ada yang mau berteman denganmu.""Maksudmu?" James membalas dengan mengangkat alis kanan."Cara berbicaramu itu terkadang membuat telinga orang sakit, jadi akan jauh lebih baik jika kau tidak memiliki teman di sekitarmu, bukan?" Riley berkata santai.James mendengus, tapi dia tersenyum. Dia tahu Riley hanya mencoba menghiburnya. Uh, bagaimana ini? Karena hadirnya Riley Wood, dia merasa ingin memiliki seorang teman. Namun, dia tidak mau bertindak gegabah dengan meminta Riley sebagai temannya secara terang-terangan. Dia tak mau dianggap terlalu membutuhkannya.Setelah sekitar lima menit berjalan, mereka sudah sampai di
Rowena sudah terlihat agak lemas, Riley pun berkata pelan, "Yang Mulia, maafkan saya."Setelah mengatakan permintaan maaf yang dianggap Rowena sebagai sebuah permintaan izin untuk menyentuh dirinya, Riley memegang lengan sang putri dan dia segera membawanya ke bagian tepi kolam.Tak terlalu susah bagi Riley mengangkatnya ke atas sebab tubuh Rowena yang cukup ringan. Para pelayan segera membantu dan mengelilingi tuan putri mereka di saat Riley baru akan naik ke atas. Bersamaan dengan hal itu, seorang pelayan berlarian bersama dengan seorang pengawal. Di belakangnya ada seorang pria berseragam putih yang juga sedang berlari ke arah sana."Cepat, Dokter!" seorang pelayan berteriak keras.Cepat-cepat dokter yang masih berusia muda itu memeriksa kondisi tuan putri mereka.Entah apa saja yang sedang dilakukan oleh dokter itu, Riley tidak bisa melihatnya. Terlalu banyak pelayan yang mengelilingi sang putri dan tak lama kemudian para pengawal telah datang. Riley terlihat basah kuyup tapi ta
Lelah mendengar pertanyaan-pertanyaan Nick Collins, si pria cerewet itu, akhirnya Gary Davis menjawab, “Tidak ada. Aku hanya ingin tidur. Apakah kau keberatan jika aku memejamkan mata sekarang?”Nick Collins mengedipkan mata, terlihat tampak kecewa.Tapi, Gary tidak peduli dan menambahkan, “Aku sangat lelah. Hari ini penobatan Raja Xylan. Banyak sekali hal yang aku lakukan.”Gary menghela napas lelah dan memasang ekspresi wajah memelas sehingga Nick menjadi kasihan.Dia pun langsung menanggapi, “Oh, maafkan aku. Gara-gara aku kau jadi tidak bisa beristirahat. Baiklah, silakan ambil waktumu.”Gary Davis tersenyum penuh terima kasih dan segera memejamkan mata.“Selamat beristirahat, kawan!” kata Nick kala dia melihat kedua mata Gary telah terpejam.Tidak lupa dia menambahkan, “Kita bisa lanjut mengobrol nanti.”Tidak usah, tidak perlu, Gary membatin sambil masih memejamkan mata.Dia tentu saja tidak mau repot-repot membalas ucapan Nick dan tetap berpura-pura tidur. Padahal sesungguhnya
Pemuda berusia 23 tahun itu melonggarkan bagian kerah kemejanya dan kemudian duduk dengan nyaman. Wajahnya tampak cerah penuh senyuman. Bahkan, salah seorang penumpang lain yang duduk satu kompartemen dengannya merasa bila pemuda yang membawa tas ransel dengan lambang Kerajaan Ans De Lou itu merupakan pria muda yang sangat ceria.“Maaf, di mana Anda akan turun?” Gary bertanya untuk sekedar berbasa-basi dengan teman satu kompartemennya itu.Pria yang terlihat seusia dengannya itu pun menjawab, “Vues Hill.”Gary mengangguk, “Oh, Anda berarti turun sebelum saya.”“Anda memang turun di mana?” pria itu bertanya balik. “Ah, saya akan turun di stasiun terakhir, Wenderstein,” jawab Gary.Pria itu mengerutkan dahi, “Wenderstein? Anda berasal dari daerah … yang pernah menjadi milik Kerajaan Sealand rupanya.”Gary tersenyum ramah dan mengangguk, “Anda sepertinya mengetahui daerah saya.”Pria itu langsung manggut-manggut, “Tentu saja. Saya pernah pergi ke sana beberapa kali.”Gary sebetulnya en
“Mohon ampuni saya, Yang Mulia. Saya … akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda,” kata Gary Davis yang setelah mengucapkan hal itu segera menutup mulutnya rapat-rapat. Lelaki muda itu pun juga menundukkan kepala seolah takut bila dirinya akan membuat sang raja muda murka kepadanya.Xylan mendesah pelan melihat kepatuhan asisten pribadinya itu dan kemudian menanggapi, “Gary, aku … sudah mengingkari janjiku. Aku tidak bisa membuatmu menempati posisi penting di istana ini.”Dia mengamati ekspresi wajah Gary yang sialnya tidak terlihat olehnya karena kepalanya tertunduk agak dalam.Tetapi, melihat Gary yang tidak bergerak sedikitpun Xylan yakin Gary mendengarkan semua perkataannya dengan baik-baik.“Tapi … bukan berarti aku tidak bisa melakukannya selamanya,” Xylan melanjutkan.Perkataan Xylan berhasil membuat Gary sedikit menggerakkan kepalanya tapi masih tetap dalam posisi tertunduk.Xylan tersenyum samar dan menambahkan, “Iya, Gary. Kau tidak salah mendengar. Aku hanya menunda pe
“Jenderal Gardner, kau selalu bisa membaca apa yang ada di dalam otakku,” Xylan menjawab pelan.Sudut bibir James pun terangkat sedikit membentuk sebuah senyuman tipis.“Katakanlah, Yang Mulia! Saya siap membantu Anda,” James berujar santai.Xylan menganggukkan kepala, “Ini tentang kau.”“Tentang saya?” James mengulang dengan ekspresi terkejut.Pria muda itu sama sekali tidak mengira bahwa jawaban dari sang raja justru mengenai dirinya. Dia pikir yang dimaksud Xylan adalah kekhawatirannya terhadap pemerintahan. Dengan nada bingung dia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang saya lakukan mengganggu Anda, Yang Mulia?” Xylan menggelengkan kepala dengan tegas, “Tidak. Kau justru lebih banyak membantuku dan itu sudah di luar ekspektasiku.”Hal itu tentu semakin membuat James tidak mengerti, “Lantas apa yang Anda pikirkan tentang saya?”“Ini soal perjanjian kita sebelum aku dilantik,” jawab Xylan.Dahi lebar James mengerut, tapi dia segera menyadari dengan cepat tentang apa yang dimaksud oleh
Seorang staf wanita dari kementerian lain seketika menertawakan perkataan Celine Klein. Wanita muda itu adalah Lucy Berry.Tetapi Celine, wanita muda berusia dua puluh lima tahun itu hanya menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Dia tidak tampak terganggu sama sekali, justru penasaran.Beberapa orang juga akhirnya ikut tertawa bersama wanita yang juga terlihat seusia dengan Celine.Dikarenakan tidak mendapatkan tanggapan sesuai yang dia inginkan, Lucy berkata dengan nada sinis, “Kenapa kalau Raja Xylan memilih seorang wanita dari kalangan biasa? Apa … kau berminat menjadi istrinya?”Celine hendak menjawab, tapi Lucy menertawakan dirinya lagi dan berujar, “Jangan terlalu banyak berharap! Meskipun Raja Xylan memilih seorang wanita yang bukan berasal dari anggota keluarga kerajaan, dia tetap tidak mungkin melirik seorang staf biasa sepertimu.”Tatapan matanya pada Celine jelas sangat meremehkan, namun Celine tetap terlihat tenang dan santai.Wanita muda itu malah dengan berani berkata,
Perkataan Perdana Menteri Kerajaan Ans De Lou yang telah berjasa banyak untuk negeri itu seketika membuat sebagian besar menteri di istana itu menjadi terkesima.Banyak di antara mereka yang takut bernapas. Bahkan, ada juga yang tidak berani hanya sekedar menggerakkan bola mata mereka. Hal itu lantaran menurut mereka Philip Crawford terlalu berani sehingga mereka berpendapat bahwa kali itu raja muda yang baru saja dilantik itu pasti akan kehilangan kesabarannya dan marah besar.Reiner Anderson, salah satu komandan perang di negeri itu hampir merasa jika hal itu adalah akhir dari perdebatan yang terjadi antara dua orang yang berbeda generasi itu.“Perdana Menteri Crawford pasti tamat kali ini. Raja Xylan tidak mungkin membiarkannya,” kata Reiner dengan nada suara terdengar penuh kengerian.Josh Cleve mengedipkan mata dan berkata, “Kau benar, Rei. Tuduhan itu sedikit keterlaluan menurutku. Kalau begitu caranya, raja muda itu pasti akan mendepak si tua Crawford.”Benedict Arkitson yang
Philip Crawford pun menjawab, “Yang Mulia, Anda telah melakukan kesalahan besar.”Semua orang menahan napas mendengar jawaban yang sangat berani yang dikatakan oleh Philip.Bahkan, Ashton Rowles tampak terkejut setengah mati hingga lupa menutup mulutnya yang terbuka lebar.“Astaga! Apa Perdana Menteri sudah hilang akal?” gumam seorang menteri yang berdiri tidak jauh dari Ashton.Seorang temannya yang juga merupakan menteri pun membalas, “Dia memang sudah gila.”“Aku rasa dia berani membantah raja karena dia tidak rela kehilangan jabatannya,” sahut menteri lain.Seorang staf kementerian kehutanan mengangguk, “Anda semua benar, menteri. Sepertinya Perdana Menteri Crawford tidak bisa menerima keputusan raja.”“Itu sudah jelas. Hanya saja … kalau aku menjadi Perdana Menteri, aku akan melakukan hal yang sama,” kata seorang staf kementerian yang lain.Menteri Sosial menanggapi, “Mengapa?”Orang itu mengangkat bahu, “Masalahnya adalah … dia digantikan oleh seorang yang memiliki kriteria jauh
“Tidak, sudah aku katakan dia tidak mungkin melakukannya, Perdana Menteri,” Ashton Rowles berkata pelan.Namun, dari nada suaranya, Philip merasakan bila Ashton pun tidak yakin dengan apa yang dia katakan.Hal itu membuat Philip mendecakkan lidah, sedangkan Ashton sendiri juga sebenarnya mulai tidak yakin dan keheranan.Akan tetapi, dia tidak akan mengungkapkan keraguannya itu pada Philip karena tidak mau seniornya tersebut merasa kesal.“Sudahlah, kalau dia memang berniat memecatku, aku akan terima. Mungkin ini memang sudah waktunya aku pensiun dari istana,” kata Philip dengan nada terdengar muram.Ashton sontak merasa kasihan tapi dia tahu dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu keputusan raja.“Jabatan Perdana Menteri Kerajaan Ans De Lou tetap akan dipegang Philip Crawford yang telah berjasa begitu banyak untuk kerajaan ini,” kata Xylan.Philip melongo tak percaya.Sementara Ashton langsung tertawa lega dan berkata, “Aku benar kan, Perdana Menteri? Dia tidak memecatmu.”“Sel
Rupanya Ashton tidak tersinggung meskipun Philip berkata kepadanya dengan nada sinis.Ashton malah tersenyum menenangkan, “Aku tidak mungkin menertawakan seniorku, Perdana Menteri.”Usia Ashton memang lima belas tahun lebih muda daripada Philip. Selain usianya yang jauh di bawah Philip, Ashton juga memiliki lebih sedikit pengalaman dibandingkan Philip.Ashton Rowles baru menginjakkan kakinya di istana itu sekitar dua belas tahun lalu, tepat di saat dia berusia 30 tahun. Dia diangkat sebagai Menteri Pendidikan 4 tahun yang lalu di saat usianya baru 38 tahun.Dia memang salah satu menteri termuda yang pernah ada di Kerajaan Ans De Lou, tapi jika dibandingkan dengan Philip Crawford yang telah mengabdikan diri di istana selama lebih dari dua puluh tahun, tentu saja dia tidak sebanding.“Lalu, kenapa?” Philip bertanya, masih dengan nada sebal.Ashton pun menjawab, “Raja Xylan menghargai orang lain. Aku … sangat yakin bila dia akan mempertahankan kau, Perdana Menteri.”Philip terpana, “Kenap