Beranda / Rumah Tangga / Sandiwara Pernikahan Sang CEO / 102. Tamu yang tak diinginkan

Share

102. Tamu yang tak diinginkan

last update Terakhir Diperbarui: 2024-02-20 22:05:05
"Hallo Lidya, sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya?" kata seseorang sambil tersenyum sinis.

"K-amu?"

Lidya merasa terkejut, tidak menyangka akan kedatangan tamu - yang ternyata adalah Natali di kantornya. Padahal ia tidak pernah mengusik kehidupan Natali, setelah selesainya proses mereka waktu itu.

Mereka berdua pernah berjuang bersama-sama di masa lalu, ketika Lidya masih aktif sebagai artis. Namun, hubungan mereka tidak berakhir dengan baik karena Natali memilik masalah dengannya secara hukum dan akhirnya dipenjara beberapa tahun lalu. Lidya sendiri tidak pernah ingin mengingat kembali masalah itu, sehingga ia memilih untuk menjaga jarak dengan Natali - meskipun dulu mereka sangat dekat sebagai sahabat di luar pekerjaan profesional mereka.

"Apa yang kamu inginkan, Natali?" tanya Lidya, mencoba mempertahankan sikapnya yang profesional, apalagi saat ini ia sedang berada di kantornya.

Natali tersenyum lebar, seperti menikmati ketidaknyamanan Lidya. "Hm, aku mendengar bahwa kau seka
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    103. Mood Booster

    "Lidya, apa yang terjadi?" teriak Ardiansyah segera berlari mendekati istrinya yang terjatuh di tangga."Apa yang terjadi, sayang? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ardiansyah lagi, begitu tiba di samping istrinya.Lidya merasakan sakit di kakinya dan merasa sedikit pusing. "Aku baik-baik saja, cuma sedikit terpeleset," jawabnya sambil mencoba bangkit dari lantai.Namun, Ardiansyah tidak mau mengambil risiko dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya. Mereka menempuh perjalanan singkat ke rumah sakit, di mana Lidya menjalani pemeriksaan dan mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.Setelah melewati pemeriksaan dalam beberapa jam, dokter memberikan hasil pemeriksaan pada Lidya."Kondisi fisik Anda baik-baik saja, tapi saya merekomendasikan untuk istirahat selama beberapa hari ke depan. Hal ini untuk memastikan tidak ada masalah yang lebih serius," tutur dokter kepada Lidya."Terima kasih, Dok." Lidya berterima kasih pada dokter dan kemudian memandang ke arah Ar

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-21
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    104. Kebahagiaanmu Yang Utama

    Beberapa hari kemudian, Ardiansyah dan Lidya menghadiri pertemuan dengan pengacara mereka untuk membahas masalah penipuan dan uang yang hilang.Setelah berdiskusi dan mengumpulkan semua bukti yang diperlukan, pengacara mereka mengatakan bahwa mereka memiliki kemungkinan besar untuk memenangkan kasus tersebut.Berbeda dengan Ardiansyah, Lidya tetap masih merasa khawatir dan cemas karena persidangan tersebut akan berlangsung dalam waktu dekat. Ia merasa sedikit takut dengan risiko kehilangan segalanya, termasuk nama baik keluarganya."Percayalah, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu juga harus percaya padamu, termasuk percaya pada dirimu sendiri, sayang. Kamu adalah orang yang kuat dan cerdas, kamu pasti bisa mengerti dan memahami posisi kita saat ini." Ardiyansyah mencoba menghibur istrinya, dengan meminta semangat dan dukungan agar Lidya tidak putus asa."Ya, maaf, Ard. A-ku, hanya sedikit cemas sebab yang kita hadapi ini bukanlah orang biasa tapi seorang mafia," tutur Lidya men

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-22
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    105. Saksi Kunci

    Sidang berlangsung beberapa jam lamanya, dan adu argumen terus terjadi antara pengacara mereka dan pengacara pihak lawan yang membela saksi-saksi baru yang muncul tiba-tiba. Namun, setelah beberapa saat, tiba-tiba saja muncul saksi yang tak terduga."Ladies and gentlemen of the court, I have new evidence regarding this case," kata seorang wanita dengan suara lantang. Semua orang di ruangan terkejut dan menoleh ke arah wanita itu."Siapa dia?""Kenapa tiba-tiba ada orang itu?"Beberapa orang yang ikut hadir di dalam ruangan sidang saling berbisik-bisik, mempertanyakan siapa wanita tersebut.Wanita itu lalu menyampaikan bukti otentik berupa rekaman CCTV yang merekam kejadian di ruangan bisnis Ardiansyah dengan para pihak yang mengaku telah melakukan penipuan. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas bahwa para pihak tersebut memang berencana untuk menipu Ardiansyah dan merampas haknya.Setelah rekaman tersebut diputar, hakim memutuskan untuk membatalkan kasus dan menyatakan Ardiansyah dan

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-23
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    106. Berkumpul

    Setelah mereka selesai makan, Ardiansyah dan Lidya mencari tahu lebih lanjut tentang pria yang membantu mereka tadi. Mereka mengetahui bahwa pria tersebut memang bekerja sebagai seorang pengawas keamanan di restoran tersebut, dan sangat mencintai pekerjaannya karena bisa membantu orang-orang yang membutuhkan."Aku merasa terkesan dengan kerja keras dan tekadnya untuk membantu orang lain, Lid," ujar Ardiansyah."Ya, aku juga sangat salut dengan orang-orang seperti itu. Mereka rela membantu meski harus mengorbankan waktu dan tenaganya, tanpa berharap apa-apa," tambah Lidya.Setelah itu, Ardiansyah memutuskan untuk berjalan-jalan bersama Lidya di sekitar kota, menikmati suasana malam yang tenang dan damai. Mereka berjalan berdua sambil bercanda dan bergandengan tangan, bercerita tentang masa lalu mereka."Kau ingat dulu kita pernah berkemah di bumi perkemahan bersama teman-teman kita?" tanya Ardiansyah sambil tersenyum."Masih segar di ingatan, Ard. Ingat ketika kita memasang tenda dan m

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-24
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    107. Aku ingin membunuhnya

    Lidya sedang sibuk sendiri saat tiba-tiba pintu mobilnya diketuk dengan kasar oleh seseorang."Siapa ya yang datang saat-saat begini?" bisik Lidya dalam hati sambil menoleh ke arah pintu. Saat dibukanya pintu, rasa kaget tak terelakkan. Natali, mantan managernya saat Lidya masih menjadi seorang artis, dan yang pernah bermasalah dengannya dan kemudian dipenjarakan, tiba-tiba muncul di hadapannya.Padahal berapa waktu yang lalu juga Natali sudah pernah datang ke kantor, memberikan sapaan yang membuat Lidya terkejut.Lidya memang sudah lama tidak bertemu dengan Natali setelah itu, dan tiba-tiba hadirnya Natali di hari ini membuat Lidya merasa curiga."Ada apa, Natali? Lama sekali kita tidak bertemu," ucap Lidya, mencoba membuat suasana tidak terlalu tegang.Natali tetap menatap Lidya dengan tatapan tajam. "Aku punya hal yang ingin kubicarakan denganmu, Mbak Lidya. Bolehkah aku dan temanku ini masuk?" Natali menunjuk seorang laki-laki yang tak dikenal oleh Lidya.Lidya tidak yakin apakah

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-25
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    108. Pria Tak Waras

    "Aku mengerti perasaanmu, sayang, tapi kita tidak bisa melakukan tindakan semacam itu. Kita harus membiarkan hukum yang menyelesaikan masalah ini," jelas Ardiansyah dengan suara tenang.Lidya merasa lega. Ia tahu suaminya selalu bijaksana dalam menghadapi masalah. Tapi dia masih merasa khawatir dengan keamanan keluarganya."Iya, kamu benar Ard. Aku hanya khawatir dengan keselamatan keluarga kita, khususnya Rafael," kata Lidya dengan suara penuh kekhawatiran."Aku juga khawatir, sayang. Tapi kita harus percaya dengan pihak hukum yang tentunya akan didampingi oleh pengacara kita. Kita hanya bisa berusaha memproteksi keluarga kita dengan cara yang terbaik," jelas Ardiansyah."Ya, Ard."Lidya mengangguk. Dia merasa tenang dengan kata-kata suaminya. Dia tahu Ardiansyah akan selalu berusaha untuk melindungi keluarganya dari orang-orang yang ingin membuat masalah bagi mereka.Namun, tetap saja -setelah kejadian itu, Lidya merasa kurang tenang dalam menjalankan hidupnya sehari-hari. Dia meras

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-26
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    109. Terapi

    Sebulan setelah kejadian penculikan itu, Lidya dan Ardiansyah masih trauma dan khawatir akan keamanan keluarganya. Mereka sudah memperketat pengamanan di sekitar villa dan mempekerjakan penjaga keamanan tambahan.Namun, kegelisahan Lidya semakin meningkat saat ia mendapati Rafael yang selalu menangis saat orang asing mendekatinya. Ia merasa kalau kejadian penculikan itu menyisakan trauma mendalam pada putranya."Lid, apakah kau khawatir dengan Rafael, sama seperti aku yang mengkhawatirkannya?" tanya Ardiansyah serius."Iya, tentu saja, Ard. Aku takut dia terlalu parno atau trauma jika dengan orang asing atau dengan mereka yang baru dilihatnya. Aku khawatir traumanya semakin berat," jawab Lidya khawatir."Hmm, kau benar. Mungkin ia memerlukan bantuan dari psikolog," saran Ardiansyah.Lidya mengangguk setuju. Ia bertanya-tanya siapa psikolog yang bisa membantu putranya mengatasi trauma yang telah dijalani. Sementara Rafael ketakutan jika melihat orang baru.Beberapa saat kemudian, Lidya

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-27
  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    110. Tidak Percaya

    Ada sebuah kejutan besar yang datang saat Ardiansyah menerima telepon dari seseorang, ternyata orang itu mengaku sebagai pengacara Beno dan Natali."Ada yang ingin bicara dengan Anda, Pak Ardiansyah," ucap pengacara tersebut."Apa bisa saya tahu siapa Anda?" Ardiansyah menaruh curiga - setelah kejadian penculikan anaknya, Ardiansyah memang selalu waspada dengan orang asing terutama nomor-nomor asing yang tidak tersimpan dalam kontak ponselnya."Saya adalah pengacara Beno dan Natali. Saya ingin bicara dengan Anda tentang ketentuan-ketentuan penyelesaian di luar pengadilan kasus ini," jelas pengacara itu memberitahukan maksud dan tujuannya menghubungi Ardiansyah."Maaf, saya sedang tidak berminat," kata Ardiansyah. Lalu ia memutus telepon.Namun, telepon itu kembali berdering. Sedangkan Ardiansyah masih engan untuk menerimanya. Sayangnya, telepon itu terus berbunyi sehingga deringnya mengganggu aktifitas dan pekerjaan yang dilakukanya.

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-28

Bab terbaru

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    126. Ending

    Kebersamaan keluarga Lidya dan Ardiansyah semakin terjalin erat dengan kehadiran anak kedua mereka yang bernama Ardila. Rafael sangat senang memiliki adik perempuan, dia selalu merasa senang bermain-main dan ikut serta merawat adiknya. Seiring berjalannya waktu, Ardila tumbuh menjadi anak yang cantik dan aktif.Sementara itu, Lidya semakin sibuk di rumah karena harus menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dan juga merawat kedua anaknya. Namun, Ardiansyah selalu membantu Lidya dalam mengurus anak-anak dan juga memenuhi kebutuhan mereka. Mereka saling mengasihi dan merasa bahagia karena bisa bersama-sama selalu.Untuk pekerjaan, Lidya sudah lama tidak ikut campur dan menyerahkan sepenuhnya pada suaminya. Ia fokus di rumah sejak kehamilan anak keduanya, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada saat ia hamil - trauma saat hamil pertama yang penuh drama.Saat ini, perusahaan Kusuma Group semakin maju, Ardiansyah semakin banyak waktu yang harus dihabiskan untuk bekerja. Namun, dia tetap

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    125. Kabar Baik

    "Emh ... aku juga tidak tahu, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah, Ard. Apakah mungkin, kamu memiliki rahasia yang tidak kau beritahukan padaku?" ucap Lidya mencoba menerka-nerka."Rahasia? Ah, tidak ada. Aku tidak akan membuatmu cemas, Lidya. Aku berjanji padamu, bahwa aku tidak memiliki rahasia yang disembunyikan darimu. Mungkin seseorang hanya ingin mencoba memanipulasi kita, atau bahkan kamu telah dibuat bingung oleh segala sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini." Ardiansyah mencoba menenangkan istrinya dengan lembut, ia merasa memang tidak memiliki rahasia apapun yang disembunyikan."Hm, syukurlah."Lidya merasa lebih tenang dengan jawaban suaminya dan ia merasa aman bersama Ardiansyah."Terima kasih, sayang. Kamu selalu mengerti aku dan membuatku merasa tenang," sambung Lidya dengan mengelus pipi suaminya - lalu mencium bibir Ardiansyah singkat."Aku selalu akan berada di sampingmu, sayang. Apapun itu!" ucap Ardiansyah memeluk istri tercintanya.Kini mereka menikmati makan mala

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    124. Pria Misterius

    "Terima kasih sudah menemaniku untuk makan siang hari ini, Sarah. Kamu benar-benar selalu memikirkan hal yang terbaik untukku." Lidya tersenyum dan merasa bersyukur, sambil melihat jam di sebelah kanannya."Sama-sama, Bu Lidya.""Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Oh, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan, Sarah. Kita tidak bisa melakukannya sampai malam, karena aku tidak mau lembur hingga malam hari."Lidya membuka laptopnya dan mulai membuat strategi-strategi baru untuk pemasaran produknya, sementara Sarah duduk di sampingnya dan mulai mengambil catatan yang penting.Mereka bekerja bersama-sama sampai menyelesaikan tugas yang mereka berdua kerjakan, dan benar-benar selesai pada pukul 7 malam. Lidya dan Sarah merasa lelah tetapi berhasil merampungkan pekerjaan tersebut."Bu Lidya, pekerjaan sudah selesai. Saya akan menunggu Ibu sampai pulang atau saya pulang duluan?" tanya Sarah memastikan."Baiklah, terima kasih, Sarah. Lebih baik kamu menunggu aku pulang, ya? Aku tinggal sedikit l

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    123. Membaik

    Kini kehidupan Lidya lebih tenang setelah mendapatkan kabar tentang kematian Beno, meskipun ia juga prihatin atas nasib pria tersebut.Beno merupakan salah satu fans berat Lidya - semasa ia menjadi artis pada saat itu. Sementara Beno yang memaksakan kehendaknya dengan cara menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaan orang tuanya untuk mendapatkan Lidya dengan berbagai cara. Meskipun Beno sudah mengetahui jika Lidya telah menikah dengan Ardiansyah sekalipun.Namun, Lidya tidak pernah merespons atau memberikan harapan palsu pada Beno. Lidya hanya menganggap Beno sebagai fans dan tidak pernah memberikan perlakuan khusus. Namun, meskipun begitu, Beno tetap bersikukuh dengan pendekatan yang salah tersebut - bahkan dengan cara menculik untuk memaksakan kehendaknya."Hahhhh ..."Lidya membuang nafas panjang setelah kejadian yang memprihatinkan, yang dialami Beno. Sebenarnya Lidya juga merasa terkejut dan sedih atas berita yang didengarnya itu. Ia merenungkan tentang pentingnya hidup dengan cara y

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    122. Nasib Beno

    Gerri hanya bisa melihat bagaimana Beno yang semakin terjerumus dalam kehidupan penjara yang rusak dan kejam, karena merasa sudah berkuasa. Ia merasa sedih melihat seorang manusia kehilangan pengendalian dirinya dan menghancurkan hidupnya sendiri dengan mengkonsumsi barang-barang haram tersebut, padahal di dalam penjara adalah tempat untuk merenungkan segala kesalahan yang pernah dilakukan sebelum masuk ke sel tahanan ini."Hai, Beno. Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak merasa kasihan pada dirimu sendiri?" ujar Gerri tanpa ekspresi wajahnya, saat ada kesempatan untuk berbicara dengan Beno.Tapi tanggapan Beno justru tidak mengenakkan. Pria arogan itu tersenyum sinis, lalu menggertaknya. "Apa yang kau tahu? Kau bukan siapa-siapa di sini. Biarkan aku menjalani hidupku sendiri, pecundang!"Gerri menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Beno. "Tapi kau sendiri tahu kalau kehidupanmu semakin rusak dan sia-sia. Apa yang kau cari selain kesenangan sesaat?" tanyanya dengan maksud menyadarkan

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    121. Yang Kaya yang Berkuasa

    Lidya dan Rafael menjelaskan jika mereka sedang membahas persiapan untuk hari pertama sekolah Rafael yang akan datang. Ardiansyah mendengarkan dengan seksama dan memberikan beberapa saran tambahan untuk putranya."Rafael, kau harus berani dan percaya diri di sekolah. Jangan takut untuk mengambil inisiatif dan berbicara dengan teman-temanmu," ucap Ardiansyah dengan senyum lembut.Rafael mengangguk patuh, menunjukkan bahwa ia akan mengingat semua saran yang diberikan oleh orang tuanya. Lidya dan Ardiansyah melanjutkan membicarakan hal-hal lain tentang keluarga mereka dan Ardiansyah memutuskan untuk membuka sebuah topik yang sudah lama ia pendam."Lid, selama ini aku merasa tidak enak hati karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku merasa seperti aku tidak bisa memberikan cukup waktu dan perhatian yang cukup untukmu dan Rafael," ucap Ardiansyah dengan wajah yang terlihat jelas jika sedang bersedih.Lidya tersentak dan menatap suaminya, "Apa maksudmu, Ard?""Aku merasa terhutang bud

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    120. Liburan Asyik

    Setelah memanggil suaminya dan anaknya, Dina mengajak mereka untuk berkumpul di ruang makan dan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Tapi nyatanya, Lidya masih memikirkan masalah yang belum benar-benar selesai.Saat menyantap makanan, mereka makan dengan lahap tanpa banyak bicara atau pun bicarakan hal-hal yang tidak perlu. Baru setelah selesai menikmati makanan, Lidya bicara dan memberikan usulan setelah Rafael kembali bermain dengan Bu Rahma."Ard, bagaimana kalau kita pergi liburan sejenak saja? Agak jauh dari sini, tapi bukan ke villa. Ini supaya kita bisa menghilangkan rasa cemas dan tegang akhir-akhir ini," ucap Lidya sambil menatap suaminya."Emh, aku setuju, Lid. Kira-kira, kemana kita akan pergi?" tanya Ardiansyah - menanggapi usulan istrinya."Lihat saja nanti, Ard. Yang penting kita mencari tempat yang indah dan tenang untuk keluarga kita," ucap Lidya dengan senyumannya yang lembut."Ok," sahut Ardiansyah ikut tersenyum melihat istrinya yang bahagia.Mereka sepakat unt

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    119. Lika-liku Kehidupan

    "Hm ... aku belum yakin, Lid."Ardiansyah mengambil napas dalam-dalam, mencari jawaban atas pertanyaan istrinya. Dia tahu dia harus berhati-hati dalam mengambil tindakan sehingga tidak menyakiti orang yang tidak bersalah, apalagi asisten kakeknya itu sudah lama ikut bersama keluarga mereka - menjaga kesehatan kakek Hendra selama ini."Mungkin kita perlu memeriksa kamera pengintai yang tersembunyi di tempat-tempat penting di rumah ini, untuk mencari tahu siapa yang berusaha mencuri dokumen dan mencuri hadiah dari kakek," ujar Ardiansyah setelah memikirkan situasinya."Iya, itu ide bagus, Ard. T-api, bukannya di ruang baca kakek memang tidak ada kamera CCTV?" sahut Lidya dengan wajah tegang.Ardiansyah menghembuskan nafas panjang, lupa jika ruang baca tersebut merupakan ruang pribadi termasuk kamar tidur kakeknya. Jadi, pada saat ada pemasangan kamera CCTV untuk penjagaan pada waktu itu - dari kejahatan Beno, semua kamar tidur dan ruangan yang dianggap privasi memang tidak dipasangi ala

  • Sandiwara Pernikahan Sang CEO    118. Diantara Mereka

    Sementara mereka mencari tahu siapa yang mencoba mencuri hadiah warisan dari kakek Hendra untuk mereka, berbagai praduga terus berputar di kepala Ardiansyah. Dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk berpikir ketika ia menyadari bahwa hal ini bisa jadi tidak berakhir dengan baik."Aku tidak tahu siapa yang mencoba merusak hadiah dari kakek. Tapi aku pikir ada orang terdekat yang telah memperhatikan kakek selama ini," ucap Ardiansyah, berpikir bahwa selama ini kakek Hendra tidak pernah berinteraksi secara intens dengan orang-orang, setelah memutuskan untuk tidak berkecimpung di dunia bisnis karena sakit-sakitan."Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Ard?" tanya Lidya dengan wajah yang penuh kebingungan."Apakah kita harus melapor ke polisi?" tanyanya lagi.Ardiansyah terdiam dan berpikir sejenak, mencari keputusan yang tepat untuk masalah ini - sebab tidak boleh gegabah dalam keadaan seperti ini."Sepertinya tidak perlu, Lidya. Aku tidak ingin hal ini diselesaikan dengan kekerasan

DMCA.com Protection Status