Share

Partner

Author: Jeshyl An
last update Last Updated: 2025-01-16 22:33:32

Fibi menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah ke lokasi pemotretan hari ini. Benar, hari ini adalah jadwal pemotretan bersama Sarah dan Kevin. Jika biasanya dia berangkat dan pulang dengan Kevin, kali ini tentu berbeda. Kevin jelas bersama Sarah.

“Selamat pagi,” sapa Fibi begitu masuk ke dalam ruangan. Tampak beberapa staff tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Fibi pun segera ke meja rias, menyiapkan semua peralatan rias yang dibutuhkan.

“Fibi!” sapa Sarah yang baru datang sambil menggandeng Kevin. Tampaknya mereka datang lebih dulu, terlihat dari Sarah yang sudah siap dengan baju pemotretannya.

“Aku bantu siapin set pemotretan dulu ya.” Kevin mengecup kening Sarah sebelum bergabung dengan staff lain.

“Ayo duduk, Mbak. Kita mulai riasnya,” ucap Fibi. Dengan senang hati, Sarah pun duduk di depan meja rias.

“Tantemu kemarin ada perlu apa? Sayang banget loh kamu pulang. Padahal aku baru datang,” ucap Sarah saat Fibi mulai fokus memoles wajahnya.

“Bukan apa-apa, Mbak. Cuman ada problem keluarga dikit.” Fibi menjawab asal, berharap Sarah tidak lagi bertanya lebih lanjut. Dan sepertinya berhasil. Sarah hanya mengangguk. Dia membiarkan Fibi fokus memoles wajahnya.

Hening, hanya ada percakapan singkat tentang pekerjaan mereka dan beberapa koreksi make up oleh Sarah sendiri. Sarah memang terbilang cukup ketat soal riasan wajah. Dia tidak segan protes jika dirasa riasannya kurang sesuai.

“Kamu tambah jago, Fib. Aku nggak perlu banyak koreksi lagi.” Sarah menatap pantulan Qdirinya di cermin. Senyum puas seketika mengembang saat melihat riasan yang menurutnya sempurna.

“Syukurlah kalau Mbak Sarah suka.”

Sarah langsung ke set pemotretan, sedangkan Fibi menunggu di meja rias. Bersiap jika saja ada yang perlu diperbaiki dari riasan Sarah di tengah pemotretan.

Melihat Sarah bekerja secara langsung, membuat Fibi semakin sadar akan perbedaan jauh antara dirinya dan Sarah.

Sarah cantik, sangat cantik. Fibi tidak mungkin bisa menyaingi gadis itu dalam urusan kecantikan, dia jelas kalah telak. Tidak hanya cantik wajah, Sarah pun memiliki kepribadian yang sangat baik. Dia baik dan ramah, sikapnya membuat setiap orang yang bekerja dengannya nyaman. Selama bekerja pun, dia melakukan pekerjaannya dengan profesional. Wajah yang cantik, karir yang cemerlang, dan kepribadian yang baik, Sarah adalah definisi perempuan sempurna.

Mengetahui fakta bahwa Kevin memiliki hubungan dengan Sarah, membuat Fibi merasa tidak tahu diri karena telah menyukai Kevin. Bagaimana mungkin dia berharap Kevin menyukainya balik? Padahal dia tidak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan Sarah.

“Fib, hei!”

Fibi tersadar dari lamunannya dan melihat Sarah sudah ada di depannya. Tanpa bicara apa-apa lagi, Fibi langsung kembali ke pekerjaannya. Sarah sudah selesai satu sesi pemotretan. Sekarang dia sudah berganti pakaian dan duduk tenang di depan meja rias.

“Kamu kalau lagi kerja usahakan jangan melamun, Fib. Harus fokus!” gumam Sarah karena sekarang Fibi tengah memoles bibirnya.

“Iya. Maaf ya, Mbak. Tadi agak meleng dikit,” jawab Fibi. Dia lalu kembali fokus pada wajah Sarah.

“Rika!” panggil Sarah pada asistennya yang tengah sibuk dengan ponselnya.

“Iya, Mbak. Butuh sesuatu?” Rika, si asisten, menyimpan ponselnya lalu menghampiri Sarah. Bersamaan dengan itu, Fibi pun selesai merias Sarah.

“Kamu lagi apa?”

“Lagi ngatur buat jadwal, Mbak berikutnya. Tapi ini udah selesai kok. Mbak butuh sesuatu?”

Sarah berdiri dari duduknya, lalu menarik sebuah kursi di dekatnya dan kursi di depan meja rias. Dia memaksa Rika dan Fibi untuk duduk saling berhadapan.

“Nah, kalian bisa saling ngobrol. Biar Fibi nggak melamun lagi. Kamu temenin ya, Rik!” ucap Sarah sebelum kembali ke set pemotretan. Sedangkan Fibi dan Rika malah saling pandang kebingungan. Masalahnya, keduanya bahkan tidak saling mengenal. Jadi, bagaimana mereka akan mengobrol?

“Hai,” sapa Fibi dengan canggung.

“Mbak Sarah memang suka gitu. Dia nggak suka kalau ada orang yang nggak fokus pas kerja,” jelas Rika. Fibi pun hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Tenang aja, kamu nggak perlu ngajak ngobrol aku kalau nggak nyaman. Nanti aku tinggal geplak kalau kamu melamun,” ucap Rika lagi sebelum kembali sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Fibi, sebisa mungkin dia berusaha menjaga fokusnya.

Hari sudah gelap saat Fibi keluar dari lokasi pemotretan. Dia sudah menghubungi Edwin satu jam yang lalu, tapi cowok itu belum juga tampak. Dengan wajah kesal, Fibi kembali menghubungi Edwin. Namun kali ini, panggilannya tidak dijawab.

“Loh, kamu belum pulang, Fib?” sapa Sarah yang baru saja keluar bersama Kevin.

“Masih nunggu Edwin, Mbak,” jawab Fibi dengan topeng senyumnya. Jika boleh jujur, hati Fibi rasanya sakit melihat lengan Sarah melingkar di lengan Kevin.

“Mau bareng?” tawar Kevin. Fibi seketika menggeleng.

“Edwin udah deket kok, Mas. Kalian duluan aja nggak papa,” jawab Fibi. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, dia melihat Sarah tersenyum lega mendengar jawaban Fibi.

“Yakin, Fib?” tanya Kevin lagi. Lagi-lagi, Fibi mengangguk mantap.

“Kita temenin nunggu aja gimana? Kamu ambil mobil dulu aja, Kev. Aku temenin Fibi di sini,” usul Sarah yang langsung dijawab anggukan oleh Kevin. Laki-laki itu pun pergi sendiri ke parkiran, meninggalkan Sarah dan Fibi berdua.

“Thanks ya, Fib,” ucap Sarah tiba-tiba. Fibi menatap Sarah sambil mengernyit bingung.

“Makasih udah nolak tawaran Kevin. Jujur aja, aku pencemburu berat,” ucap Sarah dengan diiringi tawa pelan. Fibi akhirnya mengerti kenapa Sarah tadi tampak menghela napas lega.

“Sebelumnya, aku selalu nebeng Mas Kevin kalau ada kerjaan bareng, Mbak. Aku belum tahu kalau Mas Kevin punya pacar. Sekarang karena aku udah tahu, aku bakal pulang pergi sendiri aja,” jawab Fibi. Lagi pula, dia pun tidak ingin semakin jatuh hati pada Kevin. Jadi, dia memilih untuk memberi jarak.

“Aku percaya sama kamu, Fib. Nggak papa kalau misal kepepet banget, kamu bisa bareng Kevin.” Sarah merangkul leher Fibi dan membawanya duduk di anak tangga.

“Next time, aku bakal ceritain kenapa aku jadi pencemburu. Terutama sama rekan kerjanya Kevin.”

Fibi hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak lama, Kevin pun datang dengan mobilnya.

“Edwin belum datang?” tanya Kevin begitu turun dari mobil.

“Bentar lagi kayaknya, Mas. Kalian duluan aja nggak papa. Paling lima menit lagi juga dia sampai,” jawab Fibi. Dia merasa tak enak jika Kevin dan Sarah harus menemaninya menunggu Edwin.

“Beneran nih?” tanya Sarah meyakinkan.

“Iya, Mbak.” Fibi menatap Sarah dengan tatapan meyakinkan.

“Nah itu, si Edwin udah datang, kan,” ucap Fibi lagi begitu melihat motor Edwin memasuki gerbang. Sarah pun mengangguk. Dia melambaikan tangan sebentar sebelum memasuki mobil Kevin. Diam-diam Fibi menghela napas lega.

Melihat mereka sebentar saja rasanya sudah sangat menyesakkan, apalagi harus bersama mereka di sepanjang perjalanan pulang. Untungnya pun, tadi selama bekerja mereka bersikap sangat profesional. Tidak ada sedikit pun kemesraan yang ditunjukkan. Jadi, setidaknya hati Fibi sedikit terselamatkan.

Motor Edwin berhenti di depannya tidak lama setelah mobil Kevin pergi.

“Mau mampir nggak?” tanya Edwin sambil memberi Fibi helm.

“Ke Kafe dulu, ya? Gue laper banget. Tante Anya pasti belum pulang,” ucap Fibi sambil naik ke motor Edwin.

“Bi,” panggil Edwin.

“Hm?”

“Lo masih inget Aliyah?” ucap Edwin yang seketika membuat Fibi terdiam.

“Dia di kafe sekarang.” Mendengar ucapan Edwin, Fibi seketika mengangguk paham.

“Oke. Nanti gue pesen online aja.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Masa Lalu

    Setelah mengantar Fibi pulang dengan selamat dan memastikan gadis itu tidak kelaparan, Edwin pun kembali ke kafe. Dia melihat Aliyah masih duduk di salah satu bangku kafe, menunggunya. Edwin menarik napas sebentar, lalu berjalan mendekat.“Sorry lama,” ucap Edwin sambil menarik kursi di depan Aliyah. Gadis itu tersenyum tipis sambil menyesap es coklatnya.“Fibi apa kabar? Udah lama aku nggak ketemu dia,” ucap Aliyah.Ya, mereka bertiga memang saling mengenal, sangat dekat pula. Aliyah adalah mantan Edwin. Keduanya memulai hubungan saat kelas dua SMA. Edwin pun mengenalkan Aliyah pada Fibi dan berakhir mereka menjadi teman baik.Aliyah adalah satu-satunya cewek Edwin yang bisa dekat dengan Fibi. Biasanya, pacar-pacar Edwin akan memberi sinyal permusuhan ketika mengenal Fibi, tapi Aliyah tidak. Gadis itu justru menyambut hangat Fibi.Hubungan mereka berjalan baik, sangat baik. Aliyah tak pernah mengeluhkan apa pun dalam hubungan mereka. Aliyah selalu pengertian dan sabar. Sikap Aliyah m

    Last Updated : 2025-01-16
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Masa Lalu 2

    “Siap?” ucap Edwin begitu Aliyah duduk di motornya.“Kita jalan-jalan dulu, ya? Aku pengen ke warung sate biasanya, mau nggak?” ucap Aliyah.“Ini udah malam, orang tua kamu nggak nyariin?” Bukannya menolak, Edwin hanya tidak ingin Aliyah kena marah karena pulang terlalu malam.“Nggak pa-pa, aku udah izin pulang malam kok.”Mendengar ucapan Aliyah yang meyakinkan, Edwin pun mengangguk setuju. Sebenarnya, dia pun rindu pada Aliyah. Namun bagaimana lagi? Fibi sedang sangat kacau, sedangkan Tante Anya harus tetap bekerja. Edwin hanya takut, jika Fibi sendirian gadis itu akan melakukan hal yang berbahaya.“Pak, dua porsi sate kayak biasa ya!” pesan Edwin pada penjual sate. Keduanya memang sudah sangat sering sekali ke sana. Penjual satenya pun sudah tidak asing dengan mereka.“Tumben lama nggak ke sini, Mas. Tak kirain udah nemu tukang sate lain,” ucap penjual sate itu yang membuat Edwin tertawa.“Lagi ada urusan sih, pak. Lagian, nggak ada yang bisa ngalahin sate buatan bapak kok.” Keduan

    Last Updated : 2025-01-16
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Petuah Fibi

    Sudah satu jam, dan Edwin masih setia menatap langit-langit kamarnya. Setelah pulang dari kafe tadi, Edwin langsung membersihkan tubuhnya lalu merebahkan dirinya di kasur. Pikirannya tak diam, bahkan saat dia dalam perjalanan pulang tadi. Percakapan singkat dengan Aliyah berhasil membuat Edwin kembali menanyakan pertanyaan yang sudah dari lama dia kubur, “Apa benar aku menyukai Fibi?” Nyatanya, Edwin sama sekali tak bisa menyangkal setiap hipotesa yang diucapkan Aliyah. Bahkan saat Aliyah memintanya membayangkan pernikahan Fibi dengan orang lain, hatinya jadi sakit. Namun, apa itu cukup untuk menjadi bukti kalau Edwin menyukai Fibi? Mungkin saja dia hanya sakit hati karena ditinggal nikah oleh sahabat baiknya, kan? Edwin sering lihat, banyak yang seperti itu. Sedih bukan karena suka, tapi karena ditinggalkan. “Kalau nggak suka ngapain sedih pas ditinggal?” gumam Edwin tanpa sadar. Dia seketika bangun dan mengacak rambutnya frustrasi. Tidak mungkin dia benar menyukai Fibi, kan? Di s

    Last Updated : 2025-02-21
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Salah Tingkah

    “Oke, terakhir. Satu, dua, sip.” Sementara Kevin melihat hasil pemotretan, Sarah berjalan menuju ruang make up. Di sana dia melihat Fibi tengah tidur di sofa dengan menggunakan paha Edwin sebagai bantal.“Kamu masih di sini, Ed?” tanya Sarah sembari menarik kursi terdekat untuk duduk.“Hari ini saya full time nemenin Fibi. Perlu saya bangunin Fibi, Mbak?”“Nggak usah. Ini sudah selesai kok.”Edwin mengangguk lalu kembali fokus pada ponselnya. Sesekali Fibi bergerak dalam tidurnya, tapi Edwin dengan cepat menepuk puncak kepala Fibi untuk membuat gadis itu tenang. Sarah yang melihat keduanya pun tersenyum. Dia lalu mendorong kursi yang dia duduki mendekat ke Edwin.“Kalian yakin cuma sahabatan?” tanya Sarah dengan wajah penuh penasaran. Pasalnya, menurut Sarah, Edwin dan Fibi terlalu dekat untuk disebut hanya sahabat. Edwin yang mendengar pertanyaan Sarah pun hanya mengangguk sambil tersenyum.“Saya nggak percaya. Pegang kata-kata saya! Kalian bakalan jadi pasangan nanti!” ucap Sarah la

    Last Updated : 2025-02-26
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Orang Nomor Satu

    Fibi tak berhenti tersenyum sejak bertemu kembali dengan Aliyah. Sekarang, mereka bahkan tengah asyik bercerita di ruangan Edwin setelah kafe tutup. Edwin pun hanya diam sambil mendengar celotehan mereka, yang terkadang membuatnya tertawa juga.“Kayaknya seru banget di Kalimantan. Kapan-kapan ajakin gue ke sana dong, Al!” ucap Fibi setelah mendengar cerita Aliyah tentang Kalimantan.“Boleh. Lo atur aja mau kapan berangkatnya. Nanti gue ajakin keliling tempat-tempat yang bagus, terus gue kenalin ke teman-teman gue di sana. Siapa tahu lo ada kecantol sama cowok Kalimantan,” ucap Aliyah sambil mengerlingkan matanya.“Iya ya? bisa jadi agenda buat gue move on juga,” balas Fibi. Mendengar jawaban Fibi, Aliyah pun melirik ke arah Edwin yang tampak masih santai saja. Lebih tepatnya, pasrah.“Lo suka sama orang, Fib?” tanya Aliyah.“Ada. Tapi dia udah punya pacar ternyata. Makanya gue patah hati. Ah, nanti deh kapan-kapan gue ceritain. Lagi males ngomongin patah hati nih gue,” ucap Fibi. Aliy

    Last Updated : 2025-02-27
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Satu Malam Bersama

    “Ini loh, Ed. Lihat deh pengikutnya! Jutaan, Ed! Dan gue bakal jadi MUA dia pas wedding!” ucap Fibi dengan semangat menggebu-gebu.“Iya, Bi, iya. Dari tadi lo udah lihatin itu mulu. Iya, iya, selamat ya, Fibi,” jawab Edwin sambil mengacak rambut Fibi. Jika biasanya Fibi akan marah atau memberengut kesal, kali ini dia sama sekali tidak protes. Sejak pulang kerja tadi, Fibi terus saja tersenyum. Saat mampir ke Sunrise pun dia senyum-senyum dan tentu dengan semangat menceritakan berita baik hari ini pada Aliyah dan Edwin. Bahkan sekarang saat sudah di rumah pun dia masih menceritakan hal yang sama.“Bangga nggak lo? Bangga nggak sama gue?” tanya Fibi sambil menyenggol lengan Edwin.“Udah, Ed, bilang aja bangga gitu. Dia tuh belum puas kalau belum dipuji sama kamu,” ucap Tante Anya yang baru saja keluar dari kamarnya. Mendengar ucapan Tante Anya, Fibi justru tersenyum sambil mengangguk setuju.“Atutu, bangga banget gue sama lo, Fibi Lianita. Lo emang terbaik, MUA terbaik, pokoknya paling

    Last Updated : 2025-03-02
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Cerita dari Sarah

    “Hai, Fib!” sapa Sarah yang baru saja masuk bersama Kevin. Hari ini Fibi memang ada pekerjaan bersama Kevin. Dan malangnya, hari ini Sarah ikut menemani Kevin karena kebetulan jadwalnya kosong.“Hai, Letta!” sapa Sarah juga pada model yang akan dirias Fibi. Keduanya saling berpelukan dan berbincang sebentar sebelum Letta akhirnya duduk di depan meja rias.“Oke, saya mulai ya mbak Letta,” ucap Fibi yang dijawab anggukan oleh Letta. Kali ini klien meminta riasan dengan karakter peri karena pemotretan kali ini bertemakan negeri dongeng yang berpusat ke peri. Dua malam Fibi mencari referensi dan mempelajari tentang tema riasan kali ini. Dan hari ini, tentunya dia sudah sangat siap menggarap tema peri ini. Dia akan menyulap Letta menjadi peri cantik yang memukau semua orang.“Ini pertama kalinya kamu dapat tema gini ya, Fib?” tanya Sarah saat Fibi tengah fokus merias bagian mata Letta.“Kalau temanya, iya baru pertama kali, Mbak. Kalau jenis riasannya, aku udah beberapa kali dapat,” jawab

    Last Updated : 2025-03-03
  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   PMS

    Fibi merenggangkan ototnya begitu selesai dengan pekerjaannya. Hari ini dia dan beberapa teman kerjanya mewakili agensi di sebuah fashion show. Keikutsertaan mereka ini adalah sebagai salah satu bentuk promosi agar agensi mereka semakin dikenal publik.Mereka menyuguhkan beberapa jenis riasan, dan Fibi kebetulan kedapatan riasan bertema alam. Tentu saja sebelumnya Fibi sudah banyak berlatih dengan tema ini hingga akhirnya dia bisa memberikan hasil yang memuaskan. Sekarang dia tengah berdiri di belakang panggung untuk melihat para model yang tengah tampil. Senyum puas dia sunggingkan saat model yang dia rias mendapat sambutan yang baik dari penonton.Setelah para model tampil di atas panggung, mereka kembali ke belakang panggung untuk memeriksa riasan mereka. Setelah semua dipastikan rapi dan cantik, mereka keluar. Para model kini berdiri di stan milik agensi masing-masing sambil ditemani fotografer dan dua orang yang bertugas menjelaskan tentang agensi.Para pengunjung memang diperbol

    Last Updated : 2025-03-04

Latest chapter

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Aji Mumpung

    “Tante,” panggil Fibi ketika melihat Tante Lisa ternyata sudah pulang. Tante Lisa tersenyum melihat Fibi.“Edwin rewel?” tanya Tante Lisa.“Lumayan. Tante pulang dari tadi? Kok nggak bangunin Fibi?”“Baru saja kok. Nggak tega mau bangunin kamu. Lagian, lenganmu juga dipakek guling sama si Ed,” ucap Tante Lisa sambil tertawa pelan. “Iya, sampek pegel tangan Fibi. Oh iya, tante katanya pulang jam tujuh? Sekarang masih jam empat,” ucap Fibi sambil berjalan mendekat.“Tante ambil izin, dan untungnya boleh karena kerjaan tante udah selesai. Kamu mandi dulu sama! Tadi tante bawain baju gantimu. Tumben juga Tantemu di rumah jam segini,” ucap Tante Lisa sambil tangannya masih aktif mengiris bawang.“Tante Anya di rumah? Tadi pagi perasaan kerja deh,” gumam Fibi.“Mungkin pulang cepat juga. Udah sana mandi dulu! Bajunya di kamar tante ya.”Fibi pun menurut. Dia mengambil baju gantinya di kamar tante Lisa lalu membawanya ke kamar mandi. Sementara Fibi mandi, Tante Lisa masih asyik dengan kegia

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Edwin Sakit

    Fibi langsung menuju ruangan Edwin begitu sampai di Sunrise. Di sana dia mendapati Edwin yang tengah terbaring lemah sendirian. Fibi meletakkan tasnya di meja, lalu mengambil kotak P3K di laci meja Edwin.“Ed, ukur suhu dulu,” ucap Fibi sambil menggoyang pelan tubuh Edwin. Laki-laki itu pun mengamit termometer yang diberikan Fibi di ketiaknya. Tidak lama, termometer pun berbunyi.“Tiga delapan. Lo udah makan?” tanya Fibi sambil menyimpan kembali termometer ke kotak P3K.“Nggak nafsu,” jawab Edwin. Dia lalu dengan manja memeluk tangan Fibi.“Antar gue pulang,” pinta Edwin.“Iya, ini gue udah pesen taksi online.” Fibi membuka ponselnya, dilihatnya taksi online yang dia pesan masih dalam perjalanan. Sembari menunggu, dia pun menelpon mamanya Edwin.“Halo, Tante. Fibi mau ngabarin, ini si Ed badannya panas,” ucap Fibi saat panggilan telpon tersambung.“Loh, tadi pagi kayaknya baik-baik saja. Demam berapa derajat, Fib?” tanya Tante Lisa.“Tiga delapan, Tan. Ini mau Fibi antar pulang ke rum

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Lagi Lagi Fibi

    “Fibi!”Fibi menoleh dan mendapati Sarah yang kini menunggunya di mejanya. Fibi yang baru saja dari kantin pun berlari menghampiri Sarah.“Mbak, ada apa? Ada jadwal pemotretan kah?” tanya Fibi begitu sampai di depan Sarah.“Nggak. Aku lagi nyari Kevin. Kamu tahu nggak dia di mana?”“Loh, Mas Kevin kan di Surabaya, Mbak,” jawab Fibi.“Hah? Kapan? Ngapain?”“Semalam berangkat. Katanya dia bantu urus nikahan temennya,” jawab Fibi. Sarah seketika terdiam untuk beberapa waktu. Fibi yang melihat wajah Sarah pun bingung. Apa dia salah bicara?“Nikahan temannya?”“Iya. Mas Abian sama Mbak Sheila.”“Abian sama Sheila nikah?” gumam Sarah. Beberapa saat kemudian, dia kembali berkata, “Tunggu, kok kamu kenal mereka?”“Aku bakal jadi MUA-nya Mbak Sheila, Mbak.”“Terus, kenapa kamu masih di sini?” tanya Sarah lagi.“Ya, acaranya masih dua minggu lagi.”Sarah terdiam. Dia sama sekali tidak tahu jika Abian dan Sheila akan menikah. Dia bahkan tidak tahu Kevin sedang di Surabaya. Dia tidak tahu apa-apa

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Makan Pinggir Jalan

    Pukul sebelas malam, mobil Kevin berhenti di pinggir jalan. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan aman, Kevin dan Fibi pun keluar. Di seberang jalan ada sebuah warung makan yang sangat ramai. Fibi bilang, warung ini memang khusus buka di jam-jam malam.Begitu masuk ke dalam, Kevin dan Fibi disuguhkan dengan berbagai macam olahan makanan yang tampak menggugah selera. Kevin sampai kebingungan memilih menu.“Cumi hitamnya juara sih, Mas,” ucap Fibi yang sudah menentukan pilihan lebih dulu. Sementara Kevin masih melihat-lihat. Kebanyakan lauk memang berupa olahan seafood. Namun masih ada beberapa lauk lain seperti ayam, daging, ampela, sampai babat.“Kamu sudah pernah coba semua?” tanya Kevin.“Nggak sih. Setiap kesini aku paling pesen cumi hitam atau babat. Kalau Ed, dia suka udang asam manisnya,” jelas Fibi.Setelah dilanda kebimbangan memilih menu, Kevin akhirnya menjatuhkan pilihannya pada gulai daging. Setelah mendapatkan makanan dan minuman, keduanya pun mencari tempat duduk.

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Tidak Mungkin Menghilang

    Fibi menghela napas setelah mendengarkan pesan suara yang dikirim Sheila. Pesan suara itu berisi do and don’t untuk riasan Sheila bulan depan. Saat pertama bertemu Sheila, Fibi kira gadis itu adalah tipe yang menyenangkan dan santai. Fibi sama sekali tidak menyangka jika Sheila adalah tipe gadis yang sangat cerewet dan banyak mau.Selama ini, Fibi sudah bekerja dengan cukup banyak model. Biasanya Fibi hanya akan menerima konsep riasan yang diinginkan dan selebihnya terserah bagaimana Fibi mengkreasikannya. Paling sering, Fibi hanya diminta untuk tidak menggunakan merk tertentu karena si model tidak cocok.Tidak dengan Sheila. Gadis itu memberi Fibi list produk yang harus Fibi pakai, dan semua harus baru. Belum lagi permintaannya untuk warna, bentuk, dan yang lainnya. Yang jelas, Sheila ada klien paling ribet yang pernah ditemui Fibi. Untungnya saja, bayaran dari Abian bisa dibilang tidak sedikit.“Mukamu kenapa ditekuk gitu, Fib?” tanya Raka yang baru keluar dari ruang photography sam

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Kuliner Malam

    “Kamu belum pulang, Fib?” sapa Kevin yang baru akan keluar dari kantor. Kantor mereka sudah sepi karena ini sudah pukul sembilan malam. Jika pun ada yang masih bekerja, mereka jelas bekerja di luar kantor.“Aku baru selesai pemotretan sama brand, Mas. Ini balik ke kantor soalnya charger-ku ketinggalan,” ucap Fibi sambil memperlihatkan charger yang dari tadi dicarinya.“Mas Kevin sendiri? Kok belum pulang?” tanya Fibi sambil merapikan mejanya dan memasukkan charger-nya ke tas.“Ini baru mau pulang. Baru selesai beresin file foto yang harus dikirim besok,” jawab Kevin.“Mau bareng aja sekalian? Kamu nggak bawa motor kan?” tawar Kevin. Fibi memang tidak membawa motor hari ini, tadi dia kembali ke kantor menggunakan ojek online.“Boleh, kalau nggak ngerepotin,” jawab Fibi. Kevin pun tersenyum lalu mengajak Fibi keluar bersama.“Kamu sudah makan?” tanya Kevin. Fibi yang ditanya pun menggeleng.“Mau makan bareng sekalian? Saya juga belum makan,” tawar Kevin lagi. Setelah menimbang untuk beb

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Hampir Kebakaran

    Kevin berhenti tepat di depan rumah Sarah. Hari ini mereka sengaja bertemu untuk menyelesaikan masalah, tapi yang terjadi justru perdebatan panjang yang tidak ada ujungnya. Sarah masih tetap pada pendiriannya, dan begitu pun Kevin. Kini, keduanya saling diam di mobil.“Kamu sayang sama aku, Sar?” tanya Kevin memecah keheningan.“Kamu perlu tanya itu?”“Kamu mau nikah sama aku, Sar?” tanya Kevin lagi. Kini Sarah yang tadinya membuang muka pun berbalik menatap Kevin.“Pertanyaanmu itu, kamu udah tahu jawabannya, Vin. Aku sayang kamu, aku mau nikah sama kamu.” Sarah mengambil jeda sejenak sebelum kembali berucap, “Tapi bukan berarti aku harus korbanin diriku dan karirku. Kamu tahu aku sangat mencintai dunia model, Vin. Kamu tahu, menjadi model itu impianku.”“Dan kamu juga tahu aku nggak mungkin ngelawan orang tuaku! Mereka orang tuaku, Sar. Keluargaku. Mereka ada buat aku jauh sebelum kamu hadir di hidupku!” sahut Kevin.“Lalu? Karena aku orang baru, aku yang harus mengalah?” jawab Sara

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Persetujuan Tante Anya

    Fibi menatap Tante Anya dengan penuh harap. Beberapa saat lalu, Fibi sudah membicarakan tentang pekerjaan yang ditawarkan Kevin dengan Tante Anya. Setelah menjelaskan semua yang diperlukan, kini Fibi menunggu jawaban dari Tante Anya.Sebelumnya, Fibi memang sudah berjanji pada Edwin untuk tidak dekat-dekat Kevin sebelum Kevin dan Sarah resmi putus. Namun, Fibi tidak bisa melewatkan pekerjaan ini. Selain karena profesionalitas, ini juga tentang jenjang karir Fibi ke depannya sebagai MUA. Semakin sering dia menjadi MUA tunggal di beberapa acara besar, termasuk pernikahan, akan semakin dikenal pula namanya.“Jadi?” tanya Fibi yang tak sabar karena Tante Anya dari tadi hanya diam.“Oke. Tante kasih kepercayaan ke kamu. Tapi dengan syarat!” Tante Anya diam sebentar, lalu kembali berucap, “Jangan lupa untuk hubungi Tante. Setiap kamu pindah tempat, hubungi Tante!” Fibi seketika mengangguk antusias. Dia berhambur memeluk Tante Anya sambil mengucap terima kasih berulang kali. Di dunia ini, T

  • Sahabat, Tapi Jatuh Cinta   Batu Ketemu Batu

    “Fib.”Fibi yang tengah asyik menyantap bekalnya, seketika mendongak dan mendapati Kevin sudah berada di depan mejanya. Beberapa hari terakhir ini Kevin selalu diam. Tak bicara dengan siapa pun, hanya ke kantor saat dia memiliki pekerjaan, selebihnya dia tidak terlihat. Dan hari ini untuk pertama kalinya dia membuka mulutnya lagi, dan orang pertama yang dia sapa adalah Fibi. Bahkan Raka, teman terdekat Kevin, pun ikut menoleh saat mendengar Kevin memanggil Fibi.“Kenapa, Mas?” tanya Fibi. Wajah Kevin masih tampak murung. Sepertinya masalahnya belum selesai.“Kamu mau jadi MUA buat nikahan?”Deg. Apa ini artinya dia sudah tidak punya kesempatan? Fibi berusaha mengontrol wajahnya agar tidak terlihat sedih atau kecewa dengan memberi senyum seperti biasa. Namun sungguh, hatinya sangat sakit sekarang.“Boleh, Mas. Buat siapa?” tanya Fibi. Dia sudah benar-benar menyiapkan hatinya untuk mendengar jawaban dari Kevin.“Sahabat saya. Mereka mau nikah bulan depan.”Seketika Fibi menghela napas l

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status