Sudah satu jam, dan Edwin masih setia menatap langit-langit kamarnya. Setelah pulang dari kafe tadi, Edwin langsung membersihkan tubuhnya lalu merebahkan dirinya di kasur. Pikirannya tak diam, bahkan saat dia dalam perjalanan pulang tadi. Percakapan singkat dengan Aliyah berhasil membuat Edwin kembali menanyakan pertanyaan yang sudah dari lama dia kubur, “Apa benar aku menyukai Fibi?”
Nyatanya, Edwin sama sekali tak bisa menyangkal setiap hipotesa yang diucapkan Aliyah. Bahkan saat Aliyah memintanya membayangkan pernikahan Fibi dengan orang lain, hatinya jadi sakit. Namun, apa itu cukup untuk menjadi bukti kalau Edwin menyukai Fibi? Mungkin saja dia hanya sakit hati karena ditinggal nikah oleh sahabat baiknya, kan? Edwin sering lihat, banyak yang seperti itu. Sedih bukan karena suka, tapi karena ditinggalkan. “Kalau nggak suka ngapain sedih pas ditinggal?” gumam Edwin tanpa sadar. Dia seketika bangun dan mengacak rambutnya frustrasi. Tidak mungkin dia benar menyukai Fibi, kan? Di saat yang sama, ponselnya berdering. Panggilan dari orang yang sejak tadi memenuhi kepalanya. “Ed!” teriak Fibi di seberang sana yang membuat Edwin seketika menjauhkan telinganya. “Bisa nggak sih, nggak usah teriak di telpon?” jawab Edwin sambil mengusap telinganya. “Sensi amat kayak cewek PMS!” “Lagi pusing! Ada apa lo nelpon malam-malam gini? Bukannya tidur!” Dapat Edwin dengar, Fibi menghela napas panjang di seberang sana. “Gue kebangun, terus inget lo habis reuni sama Aliyah. Gimana kabar dia, Ed? Gue kangen deh.” Edwin menata bantalnya lalu merebahkan dirinya lagi. “Besok dia ke kafe lagi katanya. Kalau kangen, datang aja. Aliyah juga kangen sama lo,” ucap Edwin, tapi tak ada balasan dari Fibi. “Bi?” panggil Edwin. “Hm,” jawab Fibi. Edwin menghela napas. “Jangan ngerasa bersalah. Gue putus sama Aliyah bukan karena lo. Gue nemenin lo saat itu karena emang gue pengen nemenin lo,” ucap Edwin. Sejak Fibi tahu cerita tentang perceraian orang tua Aliyah dan tentang Edwin yang memilih menemaninya tanpa tahu saat itu Aliyah juga butuh ditemani, membuatnya terus merasa bersalah. “Gue tahu,” jawab Fibi. “Terus?” “Gue cuma malu, Ed. Gue malu sama Aliyah. Gue malu ketemu dia lagi! Tahu nggak sih? Udah lama gitu gue sama Aliyah nggak ketemu, bakalan canggung nggak sih? Emang lo nggak ngerasa canggung gitu?” cecar Fibi yang kembali membuat Edwin mendengus. Sia-sia rupanya Edwin mengkhawatirkan gadis itu. “Gue kira lo masih kepikiran sama omongan Nina si ratu gosip sekolah.” “Dih, ngapain? Kalau pun benar, ya bukan gue yang salah lah. Salah lo sendiri kenapa bego banget masalah cewek!” ucap Fibi dengan percaya diri penuh. “Iya dah iya, gue yang salah.” Edwin hanya pasrah saja. Melawan pun tetap bakal kalah. “Iya lah! Coba ya, Ed, sesekali tuh kalau pacaran yang bener! Ceweknya diperhatiin, ditanyain lagi butuh apa, ditreat dengan baik. Lo mah, nggak bisa pacaran, Ed! Nggak jago!” cerocos Fibi lagi. Jika sudah begini, Ed pasti akan mendengar petuah-petuah menjalin hubungan ala Fibi semalaman. “Nih ya, Ed gue kasih saran. Kalau punya cewek lagi tuh yang perhatian. Tanyain dia lagi apa, mau makan apa, lagi sedih nggak? Sering-sering juga ajakin jalan, ajakin makan bareng. Pokoknya lo tuh kalau punya cewek harus dua puluh empat jam bareng cewek lo!” oceh Fibi. Edwin hanya menjawab iya-iya saja, tanpa perlawanan. Jika dipikir lagi, semua saran Fibi sudah dilakukan Edwin. Bukan ke pacar, tapi ke Fibi. Benar, kan? “Intinya ya, Ed. Cewek tuh maunya dipahami. Dia lagi nggak mood, lo harus paham. Dia lagi sedih, lo harus paham. Dia lagi seneng pun, lo harus paham. Pokoknya lo harus selalu paham. Ngerti nggak, Ed?” tanya Fibi, mengakhiri ceramah panjangnya. “Ngerti, Bi. Kayak lo gitu kan? Kalau lo lagi PMS, gue yang kena amuk. Kalau lo lagi sedih, baju gue basah kena ingus lo. Kalau lo lagi seneng, duit gue habis jajanin lo. Gitu kan intinya? Udah khatam gue,” jawab Edwin. “Pelatihan gue berhasil berarti. Tinggal apply ke cewek lain aja, Ed,” ucap Fibi sambil tertawa. “Emang gue bisa ya kayak gitu ke cewek selain Fibi?” batin Ed. “Balikan sama Aliyah boleh juga tuh, Ed. Gue dukung seribu persen!” sahut Fibi lagi. “Gue lihat-lihat, kayaknya lo demen banget sama Aliyah. Lo aja gih jadian sama Aliyah sana! Gue juga bakal dukung seribu persen! Daripada lo ngarepin cowok orang?” jawab Edwin sambil tertawa mengejek. “OH BOCAH GENDENG! GUE MASIH NORMAL! DAN INGAT! GUE NGGAK NGAREPIN MAS KEVIN!” teriak Fibi sebelum memutuskan panggilan telponnya. Edwin tertawa keras sebelum kembali mencoba menghubungi Fibi. Namun panggilannya ditolak. Edwin tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Oke, sepertinya dia sudah membuat gadis itu marah. Edwin membuka jadwal Fibi yang sengaja dia catat di ponselnya. Besok, gadis itu ada pemotretan pagi bersama Kevin dan Sarah. Tidak ada pilihan lain selain minta maaf besok. “Fibi, Fibi. Gimana bisa lo ngira gue nggak bisa pacaran, sedangkan sama lo aja gue segini effort-nya.” Edwin menggeleng-gelengkan kepala mengingat dirinya dan Fibi. Jika benar apa yang dikatakan Aliyah, Edwin hanya akan membiarkan semuanya mengalir. Lagi pula, Fibi tidak akan ke mana-mana kan? *** Pukul 5 pagi Edwin sudah siap di depan rumah Fibi. Seharusnya, gadis itu sebentar lagi keluar, karena jadwalnya mengatakan pemotretan akan dimulai pukul 7 pagi. Edwin menatap jam tangannya hingga suara kunci diputar membuatnya mendongak. Dia segera berdiri tepat di depan pintu masuk untuk menyambut Fibi. “Huuaaa!” teriak Fibi saat melihat Edwin ada di depan rumahnya. “Ck, berantakan banget sih, Bi!” Edwin seketika mengambil tas make up di tangan Fibi, lalu membawanya masuk ke mobil. “Lo ngapain?” tanya Fibi sambil berjalan mengikuti Edwin. Tak lupa dia menutup pintu rumahnya. “Apa lagi? Tentu saja nganterin lo sekalian minta maaf soal semalam. Ayo masuk!” Edwin membuka pintu depan mobil, lalu mendorong Fibi masuk. “Heh! Gue belum setuju!” protes Fibi, tapi Edwin dengan cepat menekan kepalanya untuk memasuki mobil. Setelah Fibi sudah aman di dalam mobil, Edwin pun segera memasuki mobil juga. “Itu Mama masak terong balado kesukaan lo, udah ada minumnya juga. Terus ....” Ucapan Edwin terpotong karena dia harus menoleh ke belakang untuk mengambil sesuatu. “2 kotak es krim vanila.” Edwin memamerkan 2 kotak sedang es krim vanila yang membuat Fibi seketika ingin meraih es krim itu. Namun Edwin mengelak. “Terong balado sama minumnya boleh gratis. Kalau yang ini boleh lo ambil kalau udah maafin gue,” ucap Edwin dengan senyum kemenangan. “Curang! Mentang-mentang duit lo banyak!” ucap Fibi sambil cemberut. “Jadi nggak mau?” Edwin menggoyang-goyangkan es krim itu di depan Fibi. “Mau!” Dengan cepat Fibi meraih es krim itu. Namun dia gagal lagi. “Oke, ini buat lo. Tapi makannya nanti aja, Lo sarapan nasi dulu!” ucap Edwin sambil menyimpan es krim itu di kursi belakang mobil. “Cih! Buat apa pamerin kalau nggak boleh dimakan!” Dengan terpaksa, Fibi memakan nasi yang dibawakan Edwin terlebih dahulu. Sambil Fibi makan, Edwin pun menjalankan mobilnya dengan hati-hati, agar Fibi bisa makan dengan tenang.“Oke, terakhir. Satu, dua, sip.” Sementara Kevin melihat hasil pemotretan, Sarah berjalan menuju ruang make up. Di sana dia melihat Fibi tengah tidur di sofa dengan menggunakan paha Edwin sebagai bantal.“Kamu masih di sini, Ed?” tanya Sarah sembari menarik kursi terdekat untuk duduk.“Hari ini saya full time nemenin Fibi. Perlu saya bangunin Fibi, Mbak?”“Nggak usah. Ini sudah selesai kok.”Edwin mengangguk lalu kembali fokus pada ponselnya. Sesekali Fibi bergerak dalam tidurnya, tapi Edwin dengan cepat menepuk puncak kepala Fibi untuk membuat gadis itu tenang. Sarah yang melihat keduanya pun tersenyum. Dia lalu mendorong kursi yang dia duduki mendekat ke Edwin.“Kalian yakin cuma sahabatan?” tanya Sarah dengan wajah penuh penasaran. Pasalnya, menurut Sarah, Edwin dan Fibi terlalu dekat untuk disebut hanya sahabat. Edwin yang mendengar pertanyaan Sarah pun hanya mengangguk sambil tersenyum.“Saya nggak percaya. Pegang kata-kata saya! Kalian bakalan jadi pasangan nanti!” ucap Sarah la
Fibi tak berhenti tersenyum sejak bertemu kembali dengan Aliyah. Sekarang, mereka bahkan tengah asyik bercerita di ruangan Edwin setelah kafe tutup. Edwin pun hanya diam sambil mendengar celotehan mereka, yang terkadang membuatnya tertawa juga.“Kayaknya seru banget di Kalimantan. Kapan-kapan ajakin gue ke sana dong, Al!” ucap Fibi setelah mendengar cerita Aliyah tentang Kalimantan.“Boleh. Lo atur aja mau kapan berangkatnya. Nanti gue ajakin keliling tempat-tempat yang bagus, terus gue kenalin ke teman-teman gue di sana. Siapa tahu lo ada kecantol sama cowok Kalimantan,” ucap Aliyah sambil mengerlingkan matanya.“Iya ya? bisa jadi agenda buat gue move on juga,” balas Fibi. Mendengar jawaban Fibi, Aliyah pun melirik ke arah Edwin yang tampak masih santai saja. Lebih tepatnya, pasrah.“Lo suka sama orang, Fib?” tanya Aliyah.“Ada. Tapi dia udah punya pacar ternyata. Makanya gue patah hati. Ah, nanti deh kapan-kapan gue ceritain. Lagi males ngomongin patah hati nih gue,” ucap Fibi. Aliy
“Ini loh, Ed. Lihat deh pengikutnya! Jutaan, Ed! Dan gue bakal jadi MUA dia pas wedding!” ucap Fibi dengan semangat menggebu-gebu.“Iya, Bi, iya. Dari tadi lo udah lihatin itu mulu. Iya, iya, selamat ya, Fibi,” jawab Edwin sambil mengacak rambut Fibi. Jika biasanya Fibi akan marah atau memberengut kesal, kali ini dia sama sekali tidak protes. Sejak pulang kerja tadi, Fibi terus saja tersenyum. Saat mampir ke Sunrise pun dia senyum-senyum dan tentu dengan semangat menceritakan berita baik hari ini pada Aliyah dan Edwin. Bahkan sekarang saat sudah di rumah pun dia masih menceritakan hal yang sama.“Bangga nggak lo? Bangga nggak sama gue?” tanya Fibi sambil menyenggol lengan Edwin.“Udah, Ed, bilang aja bangga gitu. Dia tuh belum puas kalau belum dipuji sama kamu,” ucap Tante Anya yang baru saja keluar dari kamarnya. Mendengar ucapan Tante Anya, Fibi justru tersenyum sambil mengangguk setuju.“Atutu, bangga banget gue sama lo, Fibi Lianita. Lo emang terbaik, MUA terbaik, pokoknya paling
“Hai, Fib!” sapa Sarah yang baru saja masuk bersama Kevin. Hari ini Fibi memang ada pekerjaan bersama Kevin. Dan malangnya, hari ini Sarah ikut menemani Kevin karena kebetulan jadwalnya kosong.“Hai, Letta!” sapa Sarah juga pada model yang akan dirias Fibi. Keduanya saling berpelukan dan berbincang sebentar sebelum Letta akhirnya duduk di depan meja rias.“Oke, saya mulai ya mbak Letta,” ucap Fibi yang dijawab anggukan oleh Letta. Kali ini klien meminta riasan dengan karakter peri karena pemotretan kali ini bertemakan negeri dongeng yang berpusat ke peri. Dua malam Fibi mencari referensi dan mempelajari tentang tema riasan kali ini. Dan hari ini, tentunya dia sudah sangat siap menggarap tema peri ini. Dia akan menyulap Letta menjadi peri cantik yang memukau semua orang.“Ini pertama kalinya kamu dapat tema gini ya, Fib?” tanya Sarah saat Fibi tengah fokus merias bagian mata Letta.“Kalau temanya, iya baru pertama kali, Mbak. Kalau jenis riasannya, aku udah beberapa kali dapat,” jawab
Fibi merenggangkan ototnya begitu selesai dengan pekerjaannya. Hari ini dia dan beberapa teman kerjanya mewakili agensi di sebuah fashion show. Keikutsertaan mereka ini adalah sebagai salah satu bentuk promosi agar agensi mereka semakin dikenal publik.Mereka menyuguhkan beberapa jenis riasan, dan Fibi kebetulan kedapatan riasan bertema alam. Tentu saja sebelumnya Fibi sudah banyak berlatih dengan tema ini hingga akhirnya dia bisa memberikan hasil yang memuaskan. Sekarang dia tengah berdiri di belakang panggung untuk melihat para model yang tengah tampil. Senyum puas dia sunggingkan saat model yang dia rias mendapat sambutan yang baik dari penonton.Setelah para model tampil di atas panggung, mereka kembali ke belakang panggung untuk memeriksa riasan mereka. Setelah semua dipastikan rapi dan cantik, mereka keluar. Para model kini berdiri di stan milik agensi masing-masing sambil ditemani fotografer dan dua orang yang bertugas menjelaskan tentang agensi.Para pengunjung memang diperbol
Ada yang berbeda dengan Kevin hari ini. Sedari tadi Fibi perhatikan, tak tampak sedikit pun senyum di bibir laki-laki itu. Sejak sampai di kantor, Kevin tampak menghindari interaksi dengan orang lain. Dia menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan yang biasanya bisa dia lakukan dengan santai.Tidak ada satu pun yang berani mendekati Kevin. Apalagi setelah melihat Raka, teman terdekat Kevin, ditolak saat berusaha membantu.“Mas Raka,” panggil Fibi saat melihat Raka yang sepertinya akan ke kantin.“Mau ke kantin?” tanya Fibi setelah berada di samping Raka.“Iya, mau bareng? Mumpung gue nggak ada teman nih,” jawab Raka sambil matanya melirik ke arah Kevin yang masih sibuk di mejanya. Fibi pun setuju.“Mas Kevin kenapa ya, Mas? Tumben banget dia gitu,” ucap Fibi sambil mengaduk makanannya agar tercampur rata.“Biasa. Ada masalah pasti sama Sarah,” jawab Raka yang kini sudah menghabiskan hampir separuh porsi makannya.“Masalah? Tapi perasaan kemarin mereka baik-baik saja deh.”Fibi ingat
Edwin menatap heran Fibi yang kini sudah membuka makanan ringan yang kelima. Bukan hanya itu, dia juga sudah menghabiskan hampir satu kotak besar es krim. Edwin menggeleng pelan. Walaupun sudah sering melihat Fibi yang mendadak menjadi super rakus saat hari pertama menstruasi, Edwin masih saja terkejut. Bagaimana tidak? Tiga jam lalu, Fibi masih terkapar di kasurnya. Tidak bisa bergerak bahkan satu inci pun. Hanya bibirnya yang terus mengucap kata sakit berulang kali. Namun, lihat sekarang? Wajah kesakitannya tadi sudah benar-benar hilang.“Salah gue udah khawatir setengah mati tadi,” gumam Edwin. Baru saja dia akan mengambil salah satu camilan, tapi tangannya langsung dipukul oleh Fibi.“Punya gue!”“Minta satu doang,” sahut Edwin. Namun Fibi justru menghalangi tangan Edwin dari menyentuh camilannya.“Itu gue yang beli semua ya! Sini, minta satu aja!”Edwin seketika menyesali ucapannya saat melihat mata Fibi yang kini berkaca-kaca. Fibi menatap Edwin dengan pandangan tersakiti, lal
Fibi menatap Edwin yang sibuk dengan laptopnya. Sejak Fibi tiba di Sunrise, Edwin sama sekali tak bicara dengannya. Beberapa kali Fibi mencoba mengajak bicara, tapi Edwin selalu menghindar dengan alasan sibuk. Fibi pun menyerah dan memilih menunggu Edwin dengan tenang.Sebenarnya, Edwin tidak benar-benar sibuk. Memang ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi sebenarnya dia masih bisa mengobrol. Hanya saja, mengingat perdebatan mereka tadi malam lewat ponsel, membuat Edwin enggan untuk bicara.“Ed, lo kenapa?” tanya Fibi malam itu, mengawali panggilan telpon mereka.“Kenapa apanya?”“Muka lo kelihatan nggak biasa pas pulang. Kenapa?”Awalnya, Edwin ingin mengelak, tapi Fibi terus mendesaknya. Hingga akhirnya laki-laki itu mengeluarkan unek-uneknya tentang Fibi dan Kevin. Mengesampingkan perasaannya, Edwin sungguh tidak ingin Fibi terjebak dalam hubungan yang akan merugikannya di masa depan.“Lo serius marah sama gue karena itu? Ed, apa salahnya sih gue suka sama Mas Kevin?”
“Tante,” panggil Fibi ketika melihat Tante Lisa ternyata sudah pulang. Tante Lisa tersenyum melihat Fibi.“Edwin rewel?” tanya Tante Lisa.“Lumayan. Tante pulang dari tadi? Kok nggak bangunin Fibi?”“Baru saja kok. Nggak tega mau bangunin kamu. Lagian, lenganmu juga dipakek guling sama si Ed,” ucap Tante Lisa sambil tertawa pelan. “Iya, sampek pegel tangan Fibi. Oh iya, tante katanya pulang jam tujuh? Sekarang masih jam empat,” ucap Fibi sambil berjalan mendekat.“Tante ambil izin, dan untungnya boleh karena kerjaan tante udah selesai. Kamu mandi dulu sama! Tadi tante bawain baju gantimu. Tumben juga Tantemu di rumah jam segini,” ucap Tante Lisa sambil tangannya masih aktif mengiris bawang.“Tante Anya di rumah? Tadi pagi perasaan kerja deh,” gumam Fibi.“Mungkin pulang cepat juga. Udah sana mandi dulu! Bajunya di kamar tante ya.”Fibi pun menurut. Dia mengambil baju gantinya di kamar tante Lisa lalu membawanya ke kamar mandi. Sementara Fibi mandi, Tante Lisa masih asyik dengan kegia
Fibi langsung menuju ruangan Edwin begitu sampai di Sunrise. Di sana dia mendapati Edwin yang tengah terbaring lemah sendirian. Fibi meletakkan tasnya di meja, lalu mengambil kotak P3K di laci meja Edwin.“Ed, ukur suhu dulu,” ucap Fibi sambil menggoyang pelan tubuh Edwin. Laki-laki itu pun mengamit termometer yang diberikan Fibi di ketiaknya. Tidak lama, termometer pun berbunyi.“Tiga delapan. Lo udah makan?” tanya Fibi sambil menyimpan kembali termometer ke kotak P3K.“Nggak nafsu,” jawab Edwin. Dia lalu dengan manja memeluk tangan Fibi.“Antar gue pulang,” pinta Edwin.“Iya, ini gue udah pesen taksi online.” Fibi membuka ponselnya, dilihatnya taksi online yang dia pesan masih dalam perjalanan. Sembari menunggu, dia pun menelpon mamanya Edwin.“Halo, Tante. Fibi mau ngabarin, ini si Ed badannya panas,” ucap Fibi saat panggilan telpon tersambung.“Loh, tadi pagi kayaknya baik-baik saja. Demam berapa derajat, Fib?” tanya Tante Lisa.“Tiga delapan, Tan. Ini mau Fibi antar pulang ke rum
“Fibi!”Fibi menoleh dan mendapati Sarah yang kini menunggunya di mejanya. Fibi yang baru saja dari kantin pun berlari menghampiri Sarah.“Mbak, ada apa? Ada jadwal pemotretan kah?” tanya Fibi begitu sampai di depan Sarah.“Nggak. Aku lagi nyari Kevin. Kamu tahu nggak dia di mana?”“Loh, Mas Kevin kan di Surabaya, Mbak,” jawab Fibi.“Hah? Kapan? Ngapain?”“Semalam berangkat. Katanya dia bantu urus nikahan temennya,” jawab Fibi. Sarah seketika terdiam untuk beberapa waktu. Fibi yang melihat wajah Sarah pun bingung. Apa dia salah bicara?“Nikahan temannya?”“Iya. Mas Abian sama Mbak Sheila.”“Abian sama Sheila nikah?” gumam Sarah. Beberapa saat kemudian, dia kembali berkata, “Tunggu, kok kamu kenal mereka?”“Aku bakal jadi MUA-nya Mbak Sheila, Mbak.”“Terus, kenapa kamu masih di sini?” tanya Sarah lagi.“Ya, acaranya masih dua minggu lagi.”Sarah terdiam. Dia sama sekali tidak tahu jika Abian dan Sheila akan menikah. Dia bahkan tidak tahu Kevin sedang di Surabaya. Dia tidak tahu apa-apa
Pukul sebelas malam, mobil Kevin berhenti di pinggir jalan. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan aman, Kevin dan Fibi pun keluar. Di seberang jalan ada sebuah warung makan yang sangat ramai. Fibi bilang, warung ini memang khusus buka di jam-jam malam.Begitu masuk ke dalam, Kevin dan Fibi disuguhkan dengan berbagai macam olahan makanan yang tampak menggugah selera. Kevin sampai kebingungan memilih menu.“Cumi hitamnya juara sih, Mas,” ucap Fibi yang sudah menentukan pilihan lebih dulu. Sementara Kevin masih melihat-lihat. Kebanyakan lauk memang berupa olahan seafood. Namun masih ada beberapa lauk lain seperti ayam, daging, ampela, sampai babat.“Kamu sudah pernah coba semua?” tanya Kevin.“Nggak sih. Setiap kesini aku paling pesen cumi hitam atau babat. Kalau Ed, dia suka udang asam manisnya,” jelas Fibi.Setelah dilanda kebimbangan memilih menu, Kevin akhirnya menjatuhkan pilihannya pada gulai daging. Setelah mendapatkan makanan dan minuman, keduanya pun mencari tempat duduk.
Fibi menghela napas setelah mendengarkan pesan suara yang dikirim Sheila. Pesan suara itu berisi do and don’t untuk riasan Sheila bulan depan. Saat pertama bertemu Sheila, Fibi kira gadis itu adalah tipe yang menyenangkan dan santai. Fibi sama sekali tidak menyangka jika Sheila adalah tipe gadis yang sangat cerewet dan banyak mau.Selama ini, Fibi sudah bekerja dengan cukup banyak model. Biasanya Fibi hanya akan menerima konsep riasan yang diinginkan dan selebihnya terserah bagaimana Fibi mengkreasikannya. Paling sering, Fibi hanya diminta untuk tidak menggunakan merk tertentu karena si model tidak cocok.Tidak dengan Sheila. Gadis itu memberi Fibi list produk yang harus Fibi pakai, dan semua harus baru. Belum lagi permintaannya untuk warna, bentuk, dan yang lainnya. Yang jelas, Sheila ada klien paling ribet yang pernah ditemui Fibi. Untungnya saja, bayaran dari Abian bisa dibilang tidak sedikit.“Mukamu kenapa ditekuk gitu, Fib?” tanya Raka yang baru keluar dari ruang photography sam
“Kamu belum pulang, Fib?” sapa Kevin yang baru akan keluar dari kantor. Kantor mereka sudah sepi karena ini sudah pukul sembilan malam. Jika pun ada yang masih bekerja, mereka jelas bekerja di luar kantor.“Aku baru selesai pemotretan sama brand, Mas. Ini balik ke kantor soalnya charger-ku ketinggalan,” ucap Fibi sambil memperlihatkan charger yang dari tadi dicarinya.“Mas Kevin sendiri? Kok belum pulang?” tanya Fibi sambil merapikan mejanya dan memasukkan charger-nya ke tas.“Ini baru mau pulang. Baru selesai beresin file foto yang harus dikirim besok,” jawab Kevin.“Mau bareng aja sekalian? Kamu nggak bawa motor kan?” tawar Kevin. Fibi memang tidak membawa motor hari ini, tadi dia kembali ke kantor menggunakan ojek online.“Boleh, kalau nggak ngerepotin,” jawab Fibi. Kevin pun tersenyum lalu mengajak Fibi keluar bersama.“Kamu sudah makan?” tanya Kevin. Fibi yang ditanya pun menggeleng.“Mau makan bareng sekalian? Saya juga belum makan,” tawar Kevin lagi. Setelah menimbang untuk beb
Kevin berhenti tepat di depan rumah Sarah. Hari ini mereka sengaja bertemu untuk menyelesaikan masalah, tapi yang terjadi justru perdebatan panjang yang tidak ada ujungnya. Sarah masih tetap pada pendiriannya, dan begitu pun Kevin. Kini, keduanya saling diam di mobil.“Kamu sayang sama aku, Sar?” tanya Kevin memecah keheningan.“Kamu perlu tanya itu?”“Kamu mau nikah sama aku, Sar?” tanya Kevin lagi. Kini Sarah yang tadinya membuang muka pun berbalik menatap Kevin.“Pertanyaanmu itu, kamu udah tahu jawabannya, Vin. Aku sayang kamu, aku mau nikah sama kamu.” Sarah mengambil jeda sejenak sebelum kembali berucap, “Tapi bukan berarti aku harus korbanin diriku dan karirku. Kamu tahu aku sangat mencintai dunia model, Vin. Kamu tahu, menjadi model itu impianku.”“Dan kamu juga tahu aku nggak mungkin ngelawan orang tuaku! Mereka orang tuaku, Sar. Keluargaku. Mereka ada buat aku jauh sebelum kamu hadir di hidupku!” sahut Kevin.“Lalu? Karena aku orang baru, aku yang harus mengalah?” jawab Sara
Fibi menatap Tante Anya dengan penuh harap. Beberapa saat lalu, Fibi sudah membicarakan tentang pekerjaan yang ditawarkan Kevin dengan Tante Anya. Setelah menjelaskan semua yang diperlukan, kini Fibi menunggu jawaban dari Tante Anya.Sebelumnya, Fibi memang sudah berjanji pada Edwin untuk tidak dekat-dekat Kevin sebelum Kevin dan Sarah resmi putus. Namun, Fibi tidak bisa melewatkan pekerjaan ini. Selain karena profesionalitas, ini juga tentang jenjang karir Fibi ke depannya sebagai MUA. Semakin sering dia menjadi MUA tunggal di beberapa acara besar, termasuk pernikahan, akan semakin dikenal pula namanya.“Jadi?” tanya Fibi yang tak sabar karena Tante Anya dari tadi hanya diam.“Oke. Tante kasih kepercayaan ke kamu. Tapi dengan syarat!” Tante Anya diam sebentar, lalu kembali berucap, “Jangan lupa untuk hubungi Tante. Setiap kamu pindah tempat, hubungi Tante!” Fibi seketika mengangguk antusias. Dia berhambur memeluk Tante Anya sambil mengucap terima kasih berulang kali. Di dunia ini, T
“Fib.”Fibi yang tengah asyik menyantap bekalnya, seketika mendongak dan mendapati Kevin sudah berada di depan mejanya. Beberapa hari terakhir ini Kevin selalu diam. Tak bicara dengan siapa pun, hanya ke kantor saat dia memiliki pekerjaan, selebihnya dia tidak terlihat. Dan hari ini untuk pertama kalinya dia membuka mulutnya lagi, dan orang pertama yang dia sapa adalah Fibi. Bahkan Raka, teman terdekat Kevin, pun ikut menoleh saat mendengar Kevin memanggil Fibi.“Kenapa, Mas?” tanya Fibi. Wajah Kevin masih tampak murung. Sepertinya masalahnya belum selesai.“Kamu mau jadi MUA buat nikahan?”Deg. Apa ini artinya dia sudah tidak punya kesempatan? Fibi berusaha mengontrol wajahnya agar tidak terlihat sedih atau kecewa dengan memberi senyum seperti biasa. Namun sungguh, hatinya sangat sakit sekarang.“Boleh, Mas. Buat siapa?” tanya Fibi. Dia sudah benar-benar menyiapkan hatinya untuk mendengar jawaban dari Kevin.“Sahabat saya. Mereka mau nikah bulan depan.”Seketika Fibi menghela napas l