Tak terasa, satu bulan telah berlalu dari kejadian besar yang menimpa dirinya. Hubungan bersama kekasihnya hancur, keperawanannya hilang. Semuanya terjadi hanya dalam waktu satu malam saja.Dan hal itu, membuat Rania terus saja menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan agar tidak mengingat kejadian malam itu.Sampai saat ini, ia juga belum tahu siapa orang yang telah bercumbu mesra dengannya malam itu. Keadaan benar-benar Tidak mendukungnya untuk mengingat laki-laki itu, karena ia berada dalam pengaruh obat.Bahkan ketika pagi, karena terkejut dengan keadaan yang ada, ia sampai lupa untuk melihat wajah laki-laki itu. Sungguh bodoh sekali bukan? Tapi, itulah dirinya.Saat ini, ia sedang melakukan presentasi untuk pekerjaannya pada klien. Tapi, ketika sedang mencoba menjelaskan tentang ide dari persentase itu sendiri, tiba-tiba saja ia jatuh pingsan.Sontak saja, hal itu langsung membuat semua orang yang ada disana pun kaget. Memang tadi, salah satu rekan nya sudah bertanya padanya,
"Katakan pada ayah, siapa yang menghamilimu!" bentak sang ayah ketika mereka semua, sudah berada di rumah.Rania menggenggam erat tangan nya sendiri. Selama ia hidup, ini adalah kali pertama sang ayah membentaknya.Ingin sekali rasanya menangis, namun hal itu sama sekali tak bisa ia lakukan dalam keadaan ini."Jawab Rania! Siapa yang telah menghamilimu? Apakah kamu berbohong pada kami hari itu? Laki-laki mana yang kamu tiduri huh?" lanjut Syailendra lagi. Ia tak lagi bisa mengendalikan emosinya.Mendengar anaknya hamil, ayah mana yang tidak sakit hati. Tak pernah ia sangka sebelumnya, kasih sayang yang ia berikan dengan tulus, malah dibalas dengan hal seperti ini dengan Rania. Padahal Syailendra banyak berharap kepada putrinya itu.Karla dan Ibunya duduk di sofa yang sama, karena mereka cukup sadar diri jadi mereka hanya diam saja. Tapi, di perjalanan pulang tadi, Sonya telah memberikan bumbu provokasi pada Syailendra. Ini adalah kesempatan dirinya untuk mengusir Rania, dan ia tak aka
Seperti yang sudah mereka bicarakan lewat telepon sebelumnya, Sinta menunggu Nadia di kafe yang biasa mereka datangi bersama.Namun, setelah cukup lama menunggu dari waktu yang sudah dijanjikan, Nadia tak juga menampakkan batang hidungnya.Rasa gelisah dan khawatir pun mulai terasa bercampur di hati Sinta. Gadis ini pun mulai mengirimkan puluhan chat pada Nadia, bertanya di mana keberadaan gadis itu sekarang? Dia juga berusaha meneleponnya, tapi baik chat maupun telepon darinya, Nadia tidak menjawab keduanya.Hari pun sudah semakin bertambah sore, Sinta pun terlihat terus mengecek ponselnya, berharap Nadia akan segera menghubunginya atau meninggalkan satu dua patah kata untuk sekedar mengabarinya. Entah itu memberitahunya dia tidak bisa bertemu hari ini, atau memberitahu Sinta apa yang terjadi kepadanya.Namun, Nadia masih juga tidak memberi kabar apapun darinya. Puluhan chat yang sudah dikirim Shinta pun tak kunjung dibuka, seolah-olah, Nadia ‘menghilang’ tertelan bumiIni jelas buka
"Jadi, kenapa kamu duduk sendirian di sana? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Sinta?" tanya Devan kemudian.Saat ini, Devan yang tidak sengaja bertemu dengan Sinta di halte bus, memutuskan untuk membawa gadis itu ke apartementnya.Sedikitnya, Devan telah mendengar kabar simpang-siur terkait Sinta Premesti yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan menjadi penerus utama dan menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO Syailendra Grup."Aku ... nggak tahu, berita apa saja yang sudah kamu dengar tentangku, tapi ... kalau kamu ingin memastikan tentang rumor yang beredar, jawabannya 'ya', saat ini aku sedang hamil Devan. Dan Papa, satu-satunya orang yang aku pikir akan melindungiku dan menerimaku, justru memilih untuk mengusirku dari rumah yang sudah dua puluh tahun lebih kutempati! Beliau juga bilang, jika aku bukan anaknya lagi." Sinta mengatakan semua itu dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampak kontras dengan sorot matanya yang sendu.Devan yang sedari dulu diam-diam memiliki peras
Devan yang baru saja sampai di lobby utama kantornya itu, langsung menelisik di mana keberadaan Sinta.Terlihat Sinta yang sedang duduk dengan membawa file yang ia minta, dan juga sekotak pizza yang berada di atas meja.Devan langsung melangkahkan kedua kakinya, untuk menghampiri Sinta."Sinta! Kamu ngapain di sini?!" tanya Devan dengan tegas.Sinta terhenyak dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba. Sinta berdiri dari duduknya, wajahnya yang tadi berseri-seri, kini langsung masam seketika."Kamu gitu banget sih, Devan. Aku niatnya baik kok, gak ada niat jahat sekalipun."Devan membuang nafas kasar, "Kamu ini harusnya sedang beristirahat di apartemen, Sinta. Bukan malah datang ke sini."Devan menatap ke arah kotak pizza yang dibawa Sinta, "Apa kamu ingin menyogokku dengan sekotak pizza?"Devan mengangkat sebelah alisnya seraya melipat kedua tangannya di atas dada."Ck!" Sinta berdecak, "Dari pertama kamu di depan aku, perasaan kamu ngatain semua hal tentang negatif. Apa kamu gak suka, k
Ethan masih diam, memikirkan penjelasan Devan padanya. Ia termenung cukup lama hingga membuat Devan sedikit bingung menunggu Ethan membalas perkataannya.“Pak Ethan?” panggil Devan kepada Ethan yang berdiri membelakanginya.Ethan diam, tidak menjawab panggilan Devan. Ia masih tidak sadar dari lamunannya mengenai gadis yang pernah menghabiskan malam dengannya itu.“Pak Ethan? Anda tidak apa-apa?” panggil Devan sekali lagi dengan nada suara yang dinaikkan sedikit, untuk menyadarkan Ethan yang terdiam sejak ia selesai menjelaskan hasil penemuan informasinya itu.Ethan tersentak setelah mendengar panggilan Devan. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak lalu membalikkan badannya menghadap Devan yang berdiri tegak sejak masuk ke ruangannya.“Maaf, Pak. Hanya itu informasi yang bisa saya temukan mengenai gadis tersebut. Saya akan lebih berusaha lagi mencari informasi lainnya mengenai gadis yang Anda cari.”Devan menunduk takut karena merasa tidak berguna dalam pencariannya yang tidak mendapatka
Saat mengintip dari balik dinding, Sinta pun langsung disuguhkan sebuah pemandangan di mana ada seorang wanita dan seorang pria yang sepertinya sedang terlibat cekcok tepat di depan pintu toilet.‘Apa mereka sepasang kekasih?’ gumam Sinta dalam batinnya.Sinta awalnya berniat untuk tidak peduli dan pergi meninggalkan dua orang yang ia pikir adalah sepasang kekasih itu, seketika mengurungkan niatnya tersebut saat mendengar suara teriakan sang wanita yang melengking nyaring.“Lepaskan tanganmu dariku! Ini termasuk pelecehan seksual!” seru wanita itu sambil melepaskan genggaman pria yang menahannya.‘Huh? Pelecehan seksual?!’Sinta lantas kembali mengintip dari balik dinding tersebut, sembari menajamkan indera pendengarannya. Dia harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.Kalau memang benar ini pelecehan seksual, Sinta harus segera meminta bantuan!Pria itu menahan wanita tersebut untuk pergi, karena wanita itu berniat melaporkannya.“Jika aku melepaskan tanganmu, maka kamu aka
Wanita dan pria tersebut masih menundukkan kepalanya, tidak berani menjawab pertanyaan Ethan.Mereka semakin merasa tersudutkan, akibat dari tatapan tajam Ethan yang seperti menusuk mereka secara perlahan.Sinta yang sejak tadi menyimak mereka langsung berdehem untuk memperbaiki suasana yang tiba-tiba menegang ini.“Ehm … maaf mengganggu, biar saya yang menjelaskan apa yang terjadi di sini."Sinta menolehkan kepalanya, menatap Ethan yang tanpa sengaja sebelumnya ia bersandar di dada bidang milik Ethan.“Ah, sebelumnya terima kasih karena sudah menolong saya tadi,” ucap Sinta sedikit membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih kepada Ethan.Ethan melirik ke arah Sinta yang sejak tadi diabaikannya, karena terlalu fokus kepada dua orang yang membuat keributan di perusahaannya itu.Sinta menatap sejenak ke arah Ethan yang hanya diam tanpa menjawabnya itu.“Saya di sini hanya orang luar yang kebetulan ada keperluan di perusahaan ini. Saat sedang menunggu lift, tidak sengaja saya mend
Wanita dan pria tersebut masih menundukkan kepalanya, tidak berani menjawab pertanyaan Ethan.Mereka semakin merasa tersudutkan, akibat dari tatapan tajam Ethan yang seperti menusuk mereka secara perlahan.Sinta yang sejak tadi menyimak mereka langsung berdehem untuk memperbaiki suasana yang tiba-tiba menegang ini.“Ehm … maaf mengganggu, biar saya yang menjelaskan apa yang terjadi di sini."Sinta menolehkan kepalanya, menatap Ethan yang tanpa sengaja sebelumnya ia bersandar di dada bidang milik Ethan.“Ah, sebelumnya terima kasih karena sudah menolong saya tadi,” ucap Sinta sedikit membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih kepada Ethan.Ethan melirik ke arah Sinta yang sejak tadi diabaikannya, karena terlalu fokus kepada dua orang yang membuat keributan di perusahaannya itu.Sinta menatap sejenak ke arah Ethan yang hanya diam tanpa menjawabnya itu.“Saya di sini hanya orang luar yang kebetulan ada keperluan di perusahaan ini. Saat sedang menunggu lift, tidak sengaja saya mend
Saat mengintip dari balik dinding, Sinta pun langsung disuguhkan sebuah pemandangan di mana ada seorang wanita dan seorang pria yang sepertinya sedang terlibat cekcok tepat di depan pintu toilet.‘Apa mereka sepasang kekasih?’ gumam Sinta dalam batinnya.Sinta awalnya berniat untuk tidak peduli dan pergi meninggalkan dua orang yang ia pikir adalah sepasang kekasih itu, seketika mengurungkan niatnya tersebut saat mendengar suara teriakan sang wanita yang melengking nyaring.“Lepaskan tanganmu dariku! Ini termasuk pelecehan seksual!” seru wanita itu sambil melepaskan genggaman pria yang menahannya.‘Huh? Pelecehan seksual?!’Sinta lantas kembali mengintip dari balik dinding tersebut, sembari menajamkan indera pendengarannya. Dia harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.Kalau memang benar ini pelecehan seksual, Sinta harus segera meminta bantuan!Pria itu menahan wanita tersebut untuk pergi, karena wanita itu berniat melaporkannya.“Jika aku melepaskan tanganmu, maka kamu aka
Ethan masih diam, memikirkan penjelasan Devan padanya. Ia termenung cukup lama hingga membuat Devan sedikit bingung menunggu Ethan membalas perkataannya.“Pak Ethan?” panggil Devan kepada Ethan yang berdiri membelakanginya.Ethan diam, tidak menjawab panggilan Devan. Ia masih tidak sadar dari lamunannya mengenai gadis yang pernah menghabiskan malam dengannya itu.“Pak Ethan? Anda tidak apa-apa?” panggil Devan sekali lagi dengan nada suara yang dinaikkan sedikit, untuk menyadarkan Ethan yang terdiam sejak ia selesai menjelaskan hasil penemuan informasinya itu.Ethan tersentak setelah mendengar panggilan Devan. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak lalu membalikkan badannya menghadap Devan yang berdiri tegak sejak masuk ke ruangannya.“Maaf, Pak. Hanya itu informasi yang bisa saya temukan mengenai gadis tersebut. Saya akan lebih berusaha lagi mencari informasi lainnya mengenai gadis yang Anda cari.”Devan menunduk takut karena merasa tidak berguna dalam pencariannya yang tidak mendapatka
Devan yang baru saja sampai di lobby utama kantornya itu, langsung menelisik di mana keberadaan Sinta.Terlihat Sinta yang sedang duduk dengan membawa file yang ia minta, dan juga sekotak pizza yang berada di atas meja.Devan langsung melangkahkan kedua kakinya, untuk menghampiri Sinta."Sinta! Kamu ngapain di sini?!" tanya Devan dengan tegas.Sinta terhenyak dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba. Sinta berdiri dari duduknya, wajahnya yang tadi berseri-seri, kini langsung masam seketika."Kamu gitu banget sih, Devan. Aku niatnya baik kok, gak ada niat jahat sekalipun."Devan membuang nafas kasar, "Kamu ini harusnya sedang beristirahat di apartemen, Sinta. Bukan malah datang ke sini."Devan menatap ke arah kotak pizza yang dibawa Sinta, "Apa kamu ingin menyogokku dengan sekotak pizza?"Devan mengangkat sebelah alisnya seraya melipat kedua tangannya di atas dada."Ck!" Sinta berdecak, "Dari pertama kamu di depan aku, perasaan kamu ngatain semua hal tentang negatif. Apa kamu gak suka, k
"Jadi, kenapa kamu duduk sendirian di sana? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Sinta?" tanya Devan kemudian.Saat ini, Devan yang tidak sengaja bertemu dengan Sinta di halte bus, memutuskan untuk membawa gadis itu ke apartementnya.Sedikitnya, Devan telah mendengar kabar simpang-siur terkait Sinta Premesti yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan menjadi penerus utama dan menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO Syailendra Grup."Aku ... nggak tahu, berita apa saja yang sudah kamu dengar tentangku, tapi ... kalau kamu ingin memastikan tentang rumor yang beredar, jawabannya 'ya', saat ini aku sedang hamil Devan. Dan Papa, satu-satunya orang yang aku pikir akan melindungiku dan menerimaku, justru memilih untuk mengusirku dari rumah yang sudah dua puluh tahun lebih kutempati! Beliau juga bilang, jika aku bukan anaknya lagi." Sinta mengatakan semua itu dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampak kontras dengan sorot matanya yang sendu.Devan yang sedari dulu diam-diam memiliki peras
Seperti yang sudah mereka bicarakan lewat telepon sebelumnya, Sinta menunggu Nadia di kafe yang biasa mereka datangi bersama.Namun, setelah cukup lama menunggu dari waktu yang sudah dijanjikan, Nadia tak juga menampakkan batang hidungnya.Rasa gelisah dan khawatir pun mulai terasa bercampur di hati Sinta. Gadis ini pun mulai mengirimkan puluhan chat pada Nadia, bertanya di mana keberadaan gadis itu sekarang? Dia juga berusaha meneleponnya, tapi baik chat maupun telepon darinya, Nadia tidak menjawab keduanya.Hari pun sudah semakin bertambah sore, Sinta pun terlihat terus mengecek ponselnya, berharap Nadia akan segera menghubunginya atau meninggalkan satu dua patah kata untuk sekedar mengabarinya. Entah itu memberitahunya dia tidak bisa bertemu hari ini, atau memberitahu Sinta apa yang terjadi kepadanya.Namun, Nadia masih juga tidak memberi kabar apapun darinya. Puluhan chat yang sudah dikirim Shinta pun tak kunjung dibuka, seolah-olah, Nadia ‘menghilang’ tertelan bumiIni jelas buka
"Katakan pada ayah, siapa yang menghamilimu!" bentak sang ayah ketika mereka semua, sudah berada di rumah.Rania menggenggam erat tangan nya sendiri. Selama ia hidup, ini adalah kali pertama sang ayah membentaknya.Ingin sekali rasanya menangis, namun hal itu sama sekali tak bisa ia lakukan dalam keadaan ini."Jawab Rania! Siapa yang telah menghamilimu? Apakah kamu berbohong pada kami hari itu? Laki-laki mana yang kamu tiduri huh?" lanjut Syailendra lagi. Ia tak lagi bisa mengendalikan emosinya.Mendengar anaknya hamil, ayah mana yang tidak sakit hati. Tak pernah ia sangka sebelumnya, kasih sayang yang ia berikan dengan tulus, malah dibalas dengan hal seperti ini dengan Rania. Padahal Syailendra banyak berharap kepada putrinya itu.Karla dan Ibunya duduk di sofa yang sama, karena mereka cukup sadar diri jadi mereka hanya diam saja. Tapi, di perjalanan pulang tadi, Sonya telah memberikan bumbu provokasi pada Syailendra. Ini adalah kesempatan dirinya untuk mengusir Rania, dan ia tak aka
Tak terasa, satu bulan telah berlalu dari kejadian besar yang menimpa dirinya. Hubungan bersama kekasihnya hancur, keperawanannya hilang. Semuanya terjadi hanya dalam waktu satu malam saja.Dan hal itu, membuat Rania terus saja menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan agar tidak mengingat kejadian malam itu.Sampai saat ini, ia juga belum tahu siapa orang yang telah bercumbu mesra dengannya malam itu. Keadaan benar-benar Tidak mendukungnya untuk mengingat laki-laki itu, karena ia berada dalam pengaruh obat.Bahkan ketika pagi, karena terkejut dengan keadaan yang ada, ia sampai lupa untuk melihat wajah laki-laki itu. Sungguh bodoh sekali bukan? Tapi, itulah dirinya.Saat ini, ia sedang melakukan presentasi untuk pekerjaannya pada klien. Tapi, ketika sedang mencoba menjelaskan tentang ide dari persentase itu sendiri, tiba-tiba saja ia jatuh pingsan.Sontak saja, hal itu langsung membuat semua orang yang ada disana pun kaget. Memang tadi, salah satu rekan nya sudah bertanya padanya,
Di tempat lain—tepatnya di sebuah hotel, sosok Ethan terlihat melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajahnya yang tampak kusut.“Damn! This is getting annoying!” gerutu pria itu sambil terus berjalan cepat.Bagaimana tidak?Semenjak kejadian satu minggu yang lalu—saat di mana ia bercinta dengan seorang gadis yang dia pikir merupakan salah satu gadis sewaan, Ethan tidak bisa lagi memuaskan hasratnya!Setiap kali dia bercinta dengan wanita lain yang ditemuinya, Ethan akan selalu tiba-tiba mengingat suara serta bayangan gadis ‘perawan’ itu, tapi tidak dengan wajahnya!Hal itulah yang semakin membuat Ethan kesal.Dia mengingat semua hal yang ada pada gadis itu, entah suaranya, hangat tubuhnya dan bagaimana tubuhnya bergetar di bawah pelukannya, tapi tidak dengan wajahnya!Bukankah itu sangat menyebalkan?“Pak Ethan.”Sosok pria lainnya yang bertubuh tinggi tegap serta memiliki paras yang rupawan pun, tampak berdiri menyapa Ethan yang melangkah keluar dari lobi utama.Dia adalah Devan