Part 2
"De-dewi??" ucapnya dengan wajah pias. "Mbak De-wi?" sahut Geni tak kalah kagetnya. Tapi ekspresinya langsung berubah cuek dan sama sekali tidak merasa bersalah. Mereka bangkit berdiri, menatap penampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kenapa Mbak ke sini? Mau cari calon suaminya ya? Duh, sayang banget tapi Mas Gala udah milih aku, Mbak! Tolong ikhlasin saja ya!" tanya Geni dengan raut masam. "Dasar pengkhianat kalian! Kau juga, Gen, kenapa kau tega lakukan ini padaku, padahal kita ini saudara!" teriakku lagi. Geni justru tersenyum masam. Ia berjalan mendekat ke arahku dengan tangan bersidekap di dada, seolah menunjukkan sikap angkuhnya. "Maaf ya, Mbak Dewi. Bukannya aku mau merebut Mas Gala dari Mbak. Tapi, Mas Gala sendiri yang datang ke sini dan melamarku. Dia bilang dia ingin menikah dengan gadis yang masih perawan tingting bukan gadis bekas orang!" Plaaakkk!!! Tanpa sadar kulayangkan tamparan pada pipi gadis itu. "Jaga bicaramu, Geni! Jangan menuduhku sembarangan!" Geni meringis kesakitan sembari memegangi pipinya. Ia balas menatapku tajam. "Aku gak menuduhmu, Mbak! Memang kenyataa----" "BERHENTIII!" teriakku. "Lebih baik kamu yang berhenti Dewi! Jangan buat kekacauan di sini!" tukas Mas Gala tiba-tiba membuat mulut ini bungkam seketika. Lelaki itu merangkul pundak Geni dan membelai pipinya yang tadi kutampar. Terlihat lembut dan perhatian. Melihat tak ada rasa canggung diantara mereka seperti itu, aku yakin ini bukan pertama kalinya mereka menjadi dekat. Pasti sudah dari jauh-jauh hari, hanya saja aku tak menyadari. Aku memundurkan langkah saat Mas Gala brengsek itu hendak mendekat ke arahku. Ketika aku berbalik rupanya bapak sudah ada di belakangku, tanpa ba bi bu lagi, bapak menghajar Mas Gala hingga menimbulkan kehebohan. Keadaan di sekitar rumah Geni langsung menjadi kacau. Terdengar teriakan, hingga mengundang perhatian tetangga yang kini mulai berdatangan. Sedangkan aku masih berdiri terpaku. Bapak melayangkan pukulan kepada Mas Gala dengan penuh amarah meski sudah dilerai beberapa orang. Wajah Mas Gala memerah, namun ia tidak berani membalas ataupun melawannya. "Pantaskah kau lakukan ini pada putriku 'hah? Membatalkan acara pernikahan secara sepihak tanpa bicara dulu?! Kau sungguh tidak beradab, Gala!" Buugg! Buugg!! "Apalagi kamu justru datang ke sini untuk melamar Geni! Apa kau sudah gak waras 'hah?!" "Sudah, Pak Dhe! Jangan! Jangan! Jangan sakiti Mas Gala!" teriak Geni sembari berdiri di tengah-tengah sembari merentangkan tangannya, berusaha mencegah Bapak agar berhenti memukul. Napas bapak terlihat memburu, dadanya naik turun, menatap Geni dengan mata penuh kemarahan. "Jangan campuri urusan ini! Ini adalah masalahku dan Gala. Dia harus tahu betapa besar penghinaannya terhadap putriku!" Meski tampak ketakutan, Geni tetap berdiri tegak di depan Mas Gala. "Pak Dhe, mohon hentikan! Kalau Pak Dhe mau pukul, pukul aku saja! Jangan pukul Mas Gala!" teriak Geni cukup lantang. Tanpa takut, matanya mendongak menatap Bapak. Bapak akhirnya berhenti, napasnya masih memburu. Ia menatap Geni lalu beralih menatap Mas Gala dengan tatapan emosi. Aku tahu bapak hanya ingin membalas sakit hati anak perempuannya. Aku berdiri mematung, merasa tidak berdaya. Semua terjadi terlalu cepat, aku merasa seolah terjebak dalam mimpi buruk. Kuhela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, mengatur napas agar tidak terisak lebih keras. Dengan langkah gontai, aku mendekati Bapak. "Bapak, sudah cukup. Kita pulang saja," ucapku dengan suara lemah. Aku kalah. Bapak memandangku dengan tatapan iba. Segera kuhapus butiran bening yang menetes di pipi. Lalu kuberanikan diri menatap Geni dan Mas Gala. "Kalau itu yang kau inginkan, silakan ambil saja calon suamiku! Perebut memang pantas dengan seorang pecundang!" Keduanya membulatkan mata saat mendengar sindiran pedas dariku. "Jadi kau menganggapku sebagai pecundang? Jangan berkata sembarangan atau kau akan menyesal, Dewi!!" pekik Mas Gala dengan nada kesal. "Bukan aku yang menyesal, tapi kamu, Mas!" tukasku tak mau kalah. "Ayo Pak, kita pulang! Gak ada gunanya kita di sini!" Dengan susah payah, aku menggandeng tangan Bapak dan berusaha berjalan keluar dari kerumunan tetangga yang masih terlihat penasaran. Aku merasa semua orang menatap kasihan padaku. Seorang pengantin yang batal menikah karena sang mempelai pria justru lebih memilih bersama wanita lain. Saat kami melangkah pergi, aku merasakan tekanan semakin berat, dada ini terasa begitu sesak seolah ada beban besar yang menghimpit. Aku tahu, yang terjadi hari ini tidak akan pernah mudah dilupakan. Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini. Hancur? Sudah pasti. Begitu sampai di rumah, suasana menjadi hening. Semua mata memandang ke arah kami dengan tatapan bertanya. Ibu yang khawatir langsung memelukku sambil menangis. Sedangkan bapak masih berdiri di sampingku, mengamati dengan raut wajah khawatir. "Jadi bagaimana ini keputusannya, Pak? Pernikahan dilanjut atau dibatalkan? Saya tidak bisa berlama-lama di sini karena masih ada jadwal ijab di desa lain," ujar Pak Penghulu menghampiri kami. Bapak dan ibu saling pandang. Aku tahu, mereka pasti sama kalutnya denganku. Miris sekali nasibku bukan? "Batal, Pak. Bagaimana bisa aku menikah sementara pengantin prianya tidak datang," ucapku dengan nada bergetar. "Saya bersedia menjadi mempelai prianya," kata seorang pria dengan suara tegas. Spontanitas kami semua menoleh. Tetiba, seorang pria berpakaian kemeja putih muncul dari kerumunan, menarik perhatian semua orang. Wajahnya tampak serius tapi penuh tekad. Bapak dan ibu tertegun mendengar ucapannya. Sementara aku masih menatapnya seolah tak percaya. "Jika pengantin prianya tidak datang, biar saya yang menggantikannya, saya akan menikahi Dewi," ujarnya mantap, seolah meyakinkan tatapan orang-orang. "Mas Aksara ...." lirihku. Bapak dan ibu memandangku. "Dewi, kamu mengenalinya?" "Pak, dia ....."Part 3"Pak, dia .....""Nama saya, Aksara, Pak." Lelaki itu memperkenalkan diri pada bapak dan juga ibu, sembari tersenyum ramah memperlihatkan deretan giginya yang putih."Pak, Mas Aksara ini bosku. Pemilik toko kue tempatku kerja," jelasku dengan nada bergetar.Bapak dan ibu terlihat bingung, seolah tak percaya apa yang baru saja kukatakan."Jadi Mas ini bosnya Dewi? Ibu pikir bos kamu itu udah berumur, ternyata masih muda?!" ujar ibu dengan polosnya Mas Aksara mengangguk dan tersenyum. Aku memang jarang cerita mengenai pekerjaanku pada bapak maupun ibu. Karena mereka pun sibuk bertani. Kumpul di rumah sudah sama-sama capek."Mas Aksara, kenapa tiba-tiba menawarkan diri ingin menikahi Dewi? tanya bapak, mencoba memahami situasi yang semakin membingungkan.Mas Aksara menatapku dengan lembut. "Saya tahu keputusan ini mungkin tampak aneh, tetapi saya percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk bahagia."Bapak dan Ibu saling memandang, sepertinya mempertimbangkan
Part 4Beberapa jam sebelumnya di rumah Geni "Awww ... Ssshh ..." desis Gala sembari meringis kesakitan saat Geni mengompres luka memar di wajahnya."Sakit ya, Mas?"Gala mengangguk pelan."Emang dasar Pak Dhe sialan, datang-datang langsung hajar kamu, malu-maluin!" rutuk Geni kesal."Mbak Dewi juga ngapain nyusul kesini padahal udah jelas-jelas pernikahan dibatalkan! Bikin enek aja!"Gala hanya diam saat Geni masih menggerutu kesal. Pasca keributan tadi pagi, mereka jadi bahan ghibah para tetangga. "Gila kamu ya, Geni! Kok kamu malah ngerebut calon suami Dewi! Gak punya perasaan kamu!" teriak salah satu warga."Kamu juga! Laki-laki macam apa yang membatalkan pernikahan tapi malah lamar gadis lain!""Bukan aku atau Mas Gala yang gila! Mbak Dewi sendiri yang gak bisa jaga kehormatan. Mau nikah malah berhubungan sama pria lain! Laki-laki mana yang mau kalau calon istrinya bekas orang?!" sangkal Geni saat itu tak mau kalah.Geni menggelengkan kepalanya berusaha membuyarkan ingatannya t
Part 5“Arrgghh! Sungguh menyebalkan! Kenapa tiba-tiba Mbak Dewi nikah sama Mas Aksara sih?!” gerutu Geni dengan sangat kesal.“Malah dikasih barang-barang hadiah dan seserahan yang lengkap pula! Harusnya kan dia menderita bukan malah bahagia kayak gini!”Geni berjalan mondar-mandir di ruang tamu, perasaannya begitu gelisah. Karena yang terjadi tak sesuai dengan rencananya. Kedua tangannya mengepal erat, amarahnya meluap-luap.“Kalau kayak gini Mbak Dewi makin besar kepala! Dia pasti akan menghinaku kembali, ckk!” Geni memanyunkan wajahnya, bibirnya terkatup rapat. Ia merasa tak habis pikir kenapa keberuntungan selalu berpihak pada kakak sepupunya itu.Perempuan itu menghempaskan tubuhnya duduk di sofa. Ia mengambil ponsel ingin menghubungi Gala, dan segera membuka aplikasi whattsapp.Namun matanya terpaku pada status WA Dewi yang baru saja muncul. Karena rasa penasaran, ia mengklik status WA kakak sepupunya itu"Terima kasih, Mas Aksara. Aku gak nyangka kamu malah ngasih kejutan seb
Part 6[Mbak Dewi, jangan gak tau malu ya, cepat balikin uang mahar dan seserahan yang diberikan Mas Gala! Pernikahan kalian kan udah batal! Jangan makan hak orang lain!][Jangan khawatir, akan kukembalikan semua yang bukan menjadi hakku.] Balas Dewi dengan perasaan kesal.[Baguslah kalau Mbak tahu diri.][Tentu saja, aku tidak seperti kamu!][Apa maksudmu, Mbak?]Dewi mengusap wajahnya sembari menghela napas panjang. Seolah melepaskan beban penat di hatinya. Bagaimana mungkin ia mengembalikan uang seserahan itu sementara uangnya sudah terpakai untuk keperluan hajatan kemarin. Ia menggelengkan kepalanya pelan.Melihat raut wajah sang istri yang berubah, Aksara berjalan mendekat."Kenapa? Ada apa, Dewi?" tanya Aksara. Karena Dewi tak kunjung menjawabnya, Aksaraa mengambil ponsel dari tangan istrinya lalu membaca pesan yang dikirimkan oleh Geni."Berapa?"Dewi menatap Aksara dengan tatapan berkaca-kaca. Ingin berbicara tapi rasanya sungkan."Berapa uang mahar dan seserahan yang laki-lak
Part 7Gala mengepalkan tangannya sembari menggeram kesal.“Gal, ini dibawa masuk semua, lumayan lho buat ngasih ke Geni jadi gak perlu beli lagi. Perawakan mereka kan sama, jadi cocoklah ukurannya,” ujar Tante Rahayu.Gala menoleh dengan ekspresi datar kemudian pergi begitu saja. “Kamu mau kemana?” “Aku keluar dulu, Tante saja yang urus semua ini!” tukasnya. Ia langsung menuju motornya dan melajukan kendaraan roda dua itu berusaha mengejar mobil Aksara.“Apa aku gak salah dengar, dia memanggil Dewi sayang? Cih, sebenarnya sudah berapa lama mereka berhubungan?!” Pikiran Gala terus berputar-putar saat terbayang Dewi diperlakukan baik oleh lelaki itu.Gala menghentikan motornya saat mobil itu berhenti di depan toko kue Aksara. Ia mengamatinya dari jauh. Namun hatinya makin panas saat melihat Aksara dan Dewi tampak tertawa bersama.“Sial!” umpatnya. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya pada diri sendiri. Dia turun dari motornya dan melangkah mendekat, bersembunyi di balik mobil yang
Part 8“Siapa yang mengirim foto-foto itu? Lu harus usut sih,” tukas Riko lagi.“Entahlah. Gue dapat dari nomor asing.”“Nomor asing lu percaya gitu aja? E buseeet, gak ada hati ya lu, gak dipikir dulu, main batal aja, gimana perasaan dia coba! Dasar sengklek lu!”Gala membuang napasnya dengan kasar. “Gue tahu, tapi itu semua bikin gue parno! Dia bilang dia enggak pernah melakukan hal itu, tapi foto-foto itu... bisa bikin siapa aja ragu.”Gala tampak bingung, entah kenapa dada rasanya sesak saat mengetahui situasi yang sebenarnya. Itu sungguh menyakitkan.“Gue pengen tahu lebih dalam soal ini, tapi rasanya udah telat. Dia udah nikah sama pria lain,” ujarnya penuh sesal. “Iya, resiko Gal. Lo yang nuduh dan ninggalin dia. Walaupun berat, lo harus bisa melepaskan. Tapi kalau lo merasa ada yang nggak beres, nggak ada salahnya untuk cari tahu kebenarannya.”Gala mengacak rambutnya frustasi. Bayangan Dewi yang menangis saat itu muncul dalam benaknya. "Pasti ada yang iri dengan kalian dan
Part 9"Hallo, Mas, kenapa baru diangkat sih? Aku hubungi dari tadi lho! Cepat pulang, kami kangen!" sahut suara manja di seberang telepon."Ada apa, Bel?""Ih Mas Aksara mah selalu gitu! Ketus banget kalau ditelepon!"Aksara menghela napas dalam. "Iya ada apa?" "Mas disuruh pulang sama Papa," Bella melanjutkan.Aksara mengerutkan dahi. "Kenapa? Ada masalah apa?""Papa bilang ada sesuatu yang penting. Dia tidak mau membahasnya lewat telepon," jawab Bella, nada suaranya semakin tegang.“Penting bagaimana?” tanya Aksara.“Entahlah. Dia hanya bilang kamu harus segera pulang. Kita disuruh kumpul semua termasuk Mas Arjuna juga, Mas.” Bella mengeluh.Aksara terdiam sejenak sembari menatap Dewi dengan cemas. "Mas?! Mas Aksa bisa pulang 'kan?" Suara manja Bella kembali terdengar di telinganya."Hmmm ....""Jangan hmm hmmm doang, nanti Papa marah lagi sama aku.""Kamu bikin kesalahan lagi?""Enggak kok! Aku gak berani. Masa hukumanku aja belum selesai." Terdengar ia membuang napas panjangnya
Part 10"Uhuk-uhuk!! Mas, tolong lepasin aku!"Gala menggenggam leher Geni dengan kuat. Otot-otot tangannya menegang, urat-uratnya menonjol menandakan lelaki itu benar-benar marahGadis itu meronta, tangannya mencoba mendorong Gala namun sia-sia."Uhuk-uhuk!!""Mas, tolong lepasin. Aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf," suara Geni tercekat, matanya memandang Gala dengan penuh ketakutan.Geni merasakan sakit di lehernya dan juga sulit bernapas. Di dalam hati Geni, ia merasa menyesal. Sekaligus tak percaya Gala akan membvnuhnya dengan cara seperti ini. Tiba-tiba, suara keras dari arah pintu mengalihkan perhatian mereka. Ibu Geni, yang baru pulang dari kondangan, melihat anaknya terdesak. Buugghhtt!Dengan cepat, Bu Wanda melangkah maju dan memukul Gala dengan tas belanjaan yang penuh. “Lepaskan anak saya!” teriaknya, suaranya penuh ketegasan."Toloooong .... tolooooong!" teriak Bu Wanda berharap para tetangga segera datang.Gala, terkejut, segera melepaskan cengkramannya. Geni
Dewi menggenggam tangannya erat, lalu mereka berdua berjalan pergi, meninggalkan Gala dan gengnya yang masih terdiam dalam kekalahan.Setelah berjalan beberapa langkah menjauhi gang itu, Dewi masih menggenggam tangan Aksara dengan erat. Ia bisa merasakan detak jantungnya masih berdegup kencang akibat kejadian barusan.Aksara menoleh ke arahnya, melihat betapa tegang wajah istrinya. "Kamu masih takut?" tanyanya dengan suara lembut.Dewi menghela napas panjang, mencoba mengendalikan dirinya. "Aku nggak nyangka bakal ketemu Gala lagi, Mas. Aku pikir dia udah pergi jauh dan nggak akan muncul lagi dalam hidupku."Aksara menggenggam tangan Dewi erat, mencoba memberikan rasa aman. "Sekarang kamu sama aku. Dia nggak akan berani macam-macam lagi."Dewi tersenyum tipis, meskipun hatinya masih sedikit bergetar. "Aku tahu, Mas. Tapi … aku nggak suka lihat kamu harus berkelahi seperti tadi."Aksara mengusap punggung tangannya, menenangkan. "A
"Jangan hina suamiku, Mas!" seru Dewi kesal.Gala tak menanggapinya, ia justru mencibir Aksara. "Lucu sekali. Seorang lelaki yang cuma jualan roti, berani-beraninya mengambil calon istriku.""Mas Gala, jangan playing victim! Kamu yang dulu meninggalkanku. Jangan cari masalah deh!"Namun, Gala justru tertawa kecil, ia senang karena bisa memancing amarah mantan kekasihnya itu. Lelaki itu lalu menoleh ke belakang.Dari gang kecil itu, empat pria lain muncul. Mereka adalah teman-teman tongkrongannya."Minggir, Mas! Jangan halangi jalan kami!" ucap Dewi tegas.Tapi Gala hanya melipat tangan dan menatap Aksara dengan licik. "Aku ingin lihat seberapa hebat suamimu ini." Gala menoleh ke belakang dan memberi kode.Tanpa aba-aba, salah satu dari mereka langsung menyerang. Sebuah pukulan mengarah ke wajah Aksara, tapi dengan refleks cepat, ia berhasil menghindar dan membalas dengan satu serangan balik yang membuat pria itu mun
Aksara menatap Arjuna dengan serius. "Dia hampir terjerumus ke dalam hubungan toksik."Arjuna terdiam, menunggu Aksara melanjutkan."Waktu itu dia dekat dengan seorang laki-laki. Awalnya kami pikir nggak ada masalah, tapi ternyata dia manipulator. Dia sengaja menjauhkan Bella dari keluarga, membuatnya percaya kalau cuma dia yang peduli. Bella jadi sering membangkang, bahkan pernah kabur dari rumah." "Saat itu Papa murka. Bela akhirnya dihukum. Papa nggak mengizinkannya keluar rumah selama berbulan-bulan, bahkan semua alat komunikasinya diambil. Awalnya dia marah, tapi lama-lama dia sadar kalau laki-laki itu cuma memanfaatkan dia."Arjuna mengepalkan tangannya. "Kenapa nggak ada yang cerita soal ini ke aku?"Aksara tersenyum miris. "Bagaimana caranya? Kamu sendiri menghilang tanpa kabar."Arjuna menunduk, merasa bersalah. Penyesalan menggulungnya dalam ombak rasa bersalah yang tak tertahankan."Aku pikir … aku melakukan
Geni menatapnya tanpa berkedip. Tangannya mengepal, menahan gemetar yang mulai menjalar di tubuhnya."Gara-gara percaya omonganmu juga, aku harus putus dengan Dewi!""Kau menyalahkanku, Mas?""Tentu saja, semua ini kan gara-gara kamu! Dewi malah nikah sama si banci itu!" "Lalu kau anggap aku ini apa, Mas? Hubungan kita selama beberapa bulan yang lalu apa gak berarti buatmu?"Gala menyeringai sinis. "Kamu itu cuma pelarian. Yang aku cinta itu Dewi!"Geni masih menatapnya dengan tajam."Dan dengar ini, Gen, kamu pernah di penjara. Apa kata keluarga dan teman-temanku nanti kalau istriku mantan napi. Hiyy hancur sudah reputasiku!""Aku mungkin mantan napi, tapi kamu? Kamu cuma pecundang yang takut menghadapi konsekuensi dari perbuatanmu sendiri."Wajah Gala langsung memerah. "Kamu—""Kenapa? Yang aku katakan benar 'kan? Mas ninggalin Dewi di hari pernikahan gara-gara video itu! Dasar laki-laki tak
Beberapa hari berlalu ...Pagi itu, mereka baru saja membuka toko ketika seorang pelanggan tetap datang, seorang ibu paruh baya yang sering membeli roti untuk keluarganya."Mas Aksara, pagi ini roti gandumnya masih ada, kan?" tanya ibu itu dengan ramah."Ada, Bu! Saya ambilkan, ya," jawab Aksara sambil tersenyum dan berjalan ke rak penyimpanan.Dewi ikut membantu membungkus pesanan sang ibu. Sambil menunggu, ibu itu berbasa-basi, "Mas Aksara, saya pernah lihat seseorang yang mirip sekali dengan Mas. Saya kira tadi Mas kerja di bengkel, ternyata ada di sini."Aksara mengernyit. "Bengkel? Bengkel mana, Bu?""Di dekat pasar, bengkel kecil di sebelah toko elektronik. Saya pikir tadi Mas sedang memperbaiki motor, tapi setelah diperhatikan, orang itu punya wajah yang sangat mirip dengan Mas," jelas ibu itu sambil tertawa kecil.Dewi yang mendengar itu langsung menoleh ke arah suaminya. Aksara terdiam sejenak, pikirannya melayang ke satu nama."Mas mungkin saja itu Mas Arjuna?" bisik Dewi se
Part 21aDewi mendongak. "Geni? Kau sudah bebas?"Geni tersenyum sinis. "Kenapa? Mbak berharap aku terus di penjara?"Dewi menatap Geni dengan sorot mata terkejut. Kalung di tangannya nyaris terjatuh, tapi ia segera menggenggamnya erat. Ia menghela napas, mencoba menguasai diri."Bukan begitu, tapi siapa---""Hahaha, Mbak gak usah kepo tentang siapa yang menjaminku keluar, yang jelas aku udah ada di sini sekarang."Geni terus mendekat. Langkahnya yang percaya diri menciptakan suara yang memecah keheningan ruangan. Ia menyapu pandangannya ke sekitar rumah, lalu tertawa kecil—tertawa yang terdengar lebih seperti ejekan.Dewi bangkit berdiri, menghadapi Geni. Matanya menyipit, menyembunyikan kebingungannya."Lalu mau apa kamu kesini, Geni?"Geni mengangkat bahu. "Sepertinya aku akan sering main ke sini. Aku suka melihat ekspresi Mbak yang seperti ini—bingung, takut, tapi berpura-pura tegar."Senyumnya melebar, dan ia melangkah lebih dekat hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa inci.
Part 20b“Kamu baik-baik aja kan?” Arjuna bertanya dengan nada khawatir.Dewi mengangguk. “Iya, terima kasih banyak, Mas! Aku hampir—” Dewi mulai menjelaskan, tapi Aksara tiba-tiba muncul, ia berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.“Dewi! Apa yang terjadi?” Aksara melihat ke arah mereka berdua dan terkejut. “Kamu di sini, Arjuna?”“Aku cuma bantuin istrimu, dia hampir tertabrak,” jawab Arjuna, terlihat sedikit canggung.Aksara menghela napas, merasa lega melihat Dewi baik-baik saja. "Terima kasih, Arjuna."“Gak masalah. Yang penting dia selamat,” jawab Arjuna datar. Ia segera bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mereka.Aksara menatap saudara kembarnya, yang saat ini hanya memakai kaos oblong, dan beberapa noda bekas oli di celana jeansnya."Tunggu!" Aksara mencegat langkahnya. "Kenapa kamu selalu pergi sebelum aku selesai bicara?" Arjuna menghentikan langkahnya. "Aku harus kembali kerja."
Part 20Aksara dan Dewi duduk santai di teras belakang sambil menikmati secangkir kopi. Mereka menanti kue yang dibuat Aksara untuk sampel produksi besok pagi. Suasana malam itu tenang, dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.“Maaf ya, Wi, aku belum bisa memberikan rumah yang nyaman untukmu. Kita masih sempit-sempitan tinggal di sini,” ucap Aksara, matanya menerawang jauh ke depan, merenungkan keadaan mereka.“Tidak apa-apa, Mas. Aku justru senang. Di sini terasa lebih hangat. Apalagi ada aroma kue yang manis,” Dewi menjawab dengan lembut, matanya berbinar saat merasakan kehangatan dalam situasi sederhana itu.Aksara tersenyum, merasa lega mendengar jawaban Dewi. “Aku sengaja tidak memperpanjang sewa di perumahan, karena tadinya ingin pulang saja dan tinggal di rumah, tapi kenyataannya berkata lain.”“Mas, kamu sudah memberikan banyak untukku. Kalau kamu rindu suasana rumah, kita bisa pulang ke rumah orang tuaku. Kita kan sudah menjadi
Part 19b.Bella terdiam, pertanyaan ayahnya mengusik pikirannya. “Aku cuma gak mau Mas Aksara seperti Mas Arjun, ia benar-benar pergi dan bahkan gak peduli lagi dengan kita!”Pak Arif menatap Bella lebih dalam setelah mendengar nama Arjuna disebut. Wajahnya mengeras sejenak, mengingat putranya yang lebih memilih pergi menjauh dari keluarga dan tidak pernah kembali. Suasana makan malam itu tiba-tiba terasa semakin tegang, seolah beban masa lalu ikut hadir di antara mereka.“Arjuna berbeda, Bella. Jangan bandingkan Aksara dengan Arjun,” ujar Pak Arif dengan nada dingin, jelas menunjukkan bahwa topik Arjuna bukanlah sesuatu yang ingin ia bahas lebih jauh.“Tapi Pa, Mas Aksa bisa aja mengikuti jejak Mas Arjun kalau Papa terus membiarkan ini terjadi. Dewi bisa mempengaruhinya, dan dia akan meninggalkan kita juga!” Bella mengucapkannya dengan nada getir dan penuh kekhawatiran.Pak Arif meletakkan kedua tangannya di meja, menatap putri