Perkataan itu tidak salah. Embun mengingat jelas kata-kata Adzriel saat mereka pertama bertemu. Hanya saja tidak seharusnya dalam situasi saat ini —atau mungkin memang inilah saat yang tepat— untuk pria itu mengingatkan. Agar Embun tidak terlena pada kebahagiaan semu.
“Kita menikah karena dijodohkan, bukan karena cinta.”Embun tidak segera menjawab, ia malah mengisi kembali gelas wine miliknya. Setelah menuangkannya hingga penuh dan membawa gelas itu tepat di ujung bibir. Ia menikmati aroma manis dari anggur merah sambil diam-diam memperhatikan ekspresi Adzriel. Mata sehitam jelaga tertuju pada gelas ditangan sang gadis.“Jangan berlebihan,” katanya pada akhirnya.Tidak menggubris peringatan suaminya, Embun menegak wine hingga tandas dalam sekali minum. Ia bahkan membiarkan cairan merah pekat jatuh di sela bibir. Turun mengikuti lekuk wajah hingga ke leher dan berakhir masuk di antara dua gunung kembarnya. Adzirel memalingkan wajah, merasa melakukan kesalahan karena tidak bisa menjaga matanya.“Aku mencintaimu. Kalau kamu lupa, Kak.” Suaranya terdengar putus-asa.Mata hitam cemerlangnya menatap lurus ke arah Adzriel penuh damba. “Empat tahun, Kak. Aku memendam rasa ini dan aku tidak minta kamu untuk membalasnya. Hanya saja… tidak bisakah kamu bersikap lembut padaku hari ini? Untuk malam ini, biarkan pantulanku ada di matamu.”Suara berderak dari kaki kursi terdengar tiba-tiba. Embun berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari Adzriel. Seakan meminta izin untuk mendekat dan pria itu memalingkan wajah. Enggan menjawab ataupun berdebat di malam yang panjang dan melelahkan ini. Tetapi nyatanya jawaban tak tersirat itu diabaikan. Embun menghampiri, duduk di lantai dengan kedua tangan terlipat di atas paha suaminya.Tarikan napas panjang dengan helaan lelah terdengar dari Adzriel. Ia menurunkan mata, membalas tatapan Embun yang sendu. Aroma paduan kayu manis dan cinnamon serta asamnya anggur merah tercium dari tubuh Embun. Rambut sehitam malam yang digerai dan masih agak basah, serta gaun tidur tipis berwarna merah tanpa lengan. Membuat pemuda itu sontak menelan ludah.Meski hati dan kepalanya menolak pernikahan ini. Adzriel masihlah pria sehat penuh gairah yang bisa kapan saja melepas genggaman kuat pada tali imannya. Dan pegangan itu lepas ketika Embun menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Tarikan kasar di dagu mengejutkan sang gadis. Lebih lagi saat ia merasakan sesuatu menekan bibir dan mengecupnya singkat.Dua pasang mata saling bersitatap, sedetik kemudian kecupan kedua terjadi. Tangan besar itu beralih dari dagu mungil Embun ke pipi. Lalu menelusup masuk ke tengkuk di sela-sela rambut panjang, menggelitiknya sebelum rasa geli berubah menjadi rangsangan dan membuat bulu kuduk Embun meremang.“Ngh–!” Lenguhan manja terdengar di sela-sela kecupan.Adzriel masih bertahan ketika Embun sudah memejamkan kedua mata. Pria itu kali ini berniat melumat bibir istrinya. Sesekali dijilatnya sebelum menggigit bibir bawah Embun membuatnya mengaduh. Saat itulah, daging tebal menerobos masuk ke dalam gua mulut dan berkelit di dalamnya. Napas pengantin baru yang tengah bercumbu mulai berat.“Haa… haa… Kak Riel,” panggil Embun di sela-sela ciuman panas.“Buka mulutmu,” suara berat Adzriel berbisik tepat di telinga Embun yang sensitif.Embun menurut, ia melakukan sesuai perintah Adzriel. Hanya untuk hampir limbung saat pria itu menciumnya lagi. Secara insting, kedua tangan segera melingkar di leher Adzriel. Salah satu tangan bahkan sudah meremas pelan rambut belakang kepala sang pria. Desahan demi desahan mulai memenuhi kamar hotel, bersama deru napas panas penuh gairah. Adzriel menarik tangan Embun agar beranjak dari lantai dan duduk di pangkuannya.Saat gadis itu duduk di atasnya, bagian bawah perut Adzriel sontak menegang. Embun melipat dahi begitu merasakan ada yang mengganjal di bawah sana.“Ka-Kak Adzriel… ini yang keras apa—Ngh!”Enggan menjawab, ia lebih memilih membungkam mulut Embun. Sementara tangannya mulai nakal, menarik tali gaun tidur sampai bawah. Kecupan dari bibir pindah ke leher, meninggalkan banyak jejak merah di sana.Tidak kuat lagi menahan diri. Adzriel mengangkat tubuh Embun. Mengejutkan sang gadis sampai-sampai ia sontak memeluk kepala suaminya. Kaki panjang itu berayun ke arah petiduran berukuran king size. Ia menidurkan Embun hati-hati lalu kembali melumat bibir tipis istrinya.Ujung kepala petiduran bergoyang maju mundur."Ngh… ja-jangan terlalu… dalam, Kak —Ah!"Ketika titik sensitifnya kembali disentuh untuk yang kesekian kalinya. Tubuh mungil itu melengkung semakin dalam, bersama deru napas memburu. Embun memeluk erat tubuh polos suaminya. Membiarkan dirinya kembali naik turun mengikuti irama dari hentakan pinggul Adzriel.Malam panjang seperti mimpi itu sayangnya harus berakhir di hari berikutnya. Embun mendapati dirinya seorang diri tanpa sang suami disisinya....Continue…Embun Kinanti adalah seorang perempuan muda dewasa yang tengah sibuk dengan persiapan sidang. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, tidak ada lagi waktu bermain-main. Ia bahkan harus menginap di rumah teman dan begadang demi skripsi. Sudah tiga hari gadis itu tidak pulang ke rumah, tidak mandi dan tidak ganti baju. Semua penderitaan dilalui demi lembaran-lembaran kertas sialan, penentu kelulusan. Sungguh muak rasanya harus menghabiskan hari dengan ribuan kata ditemani sebungkus roti warung dan kopi sasetan.Jika dulu Embun kerap kali pergi makan di luar. Maka saat ini, gadis berumur dua puluh satu tahun itu merindukan masakan sang bunda.Saat akhirnya ia bisa pulang ke rumah. Langit sudah berada di ujung cakrawala, menarik diri bersama lembayung senja. Embun turun dari ojek motor di depan salah satu rumah yang ada di perumahan cluster. Ia memberikan helm pada abang ojek, lalu menyeret kakinya menuju rumah bercat putih kemudian membuka pintu lebar-lebar. “Mama, Pah! Embun pulang!” Suaranya
Suasana makan malam yang semula menyenangkan, kini berubah canggung. Dikarenakan putri semata wayang Pak Ahmad dan Bu Linda menolak dijodohkan. Bukan tanpa sebab mengapa Embun seperti itu. Mengingat memang sudah bukan zamannya lagi. memaksa anak untuk menikah sesuai pilihan orang tua. Hatinya tengah mendambakan seorang pemuda yang ia kenal sejak semester awal. “Embun boleh menolak?” sekali lagi ia bertanya dengan nada pelan. Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Linda dan Ahmad justru saling tatap seakan melakukan telepati. Memikirkan bagaimana putri mereka setuju dan memahami bahwa ini demi kebaikannya sendiri. Wanita paruh baya itu menaruh sendok dan meraih tangan Embun untuk diusap. Kebiasaan sang ibu ketika hendak menjelaskan sesuatu agar putrinya mengerti. “Nak, kami tahu kalau kamu sudah cukup dewasa untuk memilih pasangan hidupmu. Mama sama papa cuma jadi perantara, mengenalkan. Setidaknya temui, kenalan dulu, siapa tahu cocok. Kalau tidak, ya sudah… belum jodoh namanya.
Acara pernikahan yang dilangsungkan di daerah Jakarta Pusat berakhir baik. Setelah menginap satu hari di hotel. Dua keluarga yang kini resmi menjadi keluarga besar berkumpul di lobi. Linda dan suaminya Ahmad nampak serasi dengan baju batik berwarna coklat tua. Sementara orang tua Adzriel tampak lebih formal dikarenakan setelah ini mereka harus terbang ke luar kota.Dua keluarga ini tengah mengobrol ringan sambil menunggu kedatangan Embun. Pengantin baru yang baru saja menikah kemarin siang. Orang pertama yang melihat kedatangan Embun adalah sang ayah mertua, Sebastian. Pria paruh baya berpostur tubuh tinggi tegap seperti putranya. Meski sudah berumur hampir lima puluh tahun, kerutan tanda penuaan di wajah nampak samar. Membuatnya sering dikira lebih muda sepuluh tahun. “Selamat pagi menantu ayah,” sapa Sebastian ramah. Embun membungkuk sedikit dan membalas sapaan ayah mertuanya. “Pagi juga, ayah. Ibu, Mama dan Papa yakin mau pulang sekarang? Tidak mau nunggu, Kak Adzriel?”“Tidak us
Kereta besi berwarna biru langit berhenti di sebuah rumah berlantai dua. Salah satu rumah di komplek perumahan cluster di daerah Jakarta Barat. Embun turun dari kursi penumpang, disusul supir taksi membantu menurunkan barang bawaan. Setelah bayar ongkos dan mengucapkan terima kasih, Embun menyeret koper memasuki halaman rumah. Rumah ini adalah hadiah pernikahan dari orang tua Adzriel. Betapa bersyukurnya gadis itu saat mendengarnya di acara lamaran waktu lalu.Menggunakan kunci cadangan, Embun membuka pintu depan. Ia melangkah masuk sambil menatap kagum desain rumah yang minimalis dan elegan. Siapa sangka gaya rumah ini sesuai seleranya yang menyukai tipe LDk. Walau bedanya ada beberapa sekat di antara dua area. Tetapi itu tidak mengurangi rasa senangnya dan malah semakin menyukai rumah barunya. Embun berjalan menuju kamar utama, letaknya ada di samping ruang tengah. Wanita itu membuka pintu, masuk dan segera membuka koper. Ia harus secepatnya selesai beres-beres, merapikan semua pak
Mentari sudah tumbang digantikan rembulan saat pintu kamar utama dibuka. Adzriel keluar dari kamar terlihat lebih segar, rambutnya agak basah tanda habis keramas. Ia memakai kaos polos dan celana training hitam. Embun yang berada di ruang keluarga sedang menonton, sontak berdiri. Ia menghampiri suaminya, senyuman manis terpatri di wajah.“Kak Riel pasti lapar, Embun sudah siapkan makan malam kesukaan kamu.”Mata sehitam jelaga menatap tajam, lalu melengos, “saya makan di luar.” katanya mengejutkan Embun. “Tapi aku sudah masak loh, Kak. Sayang makanannya, nanti nangis lagi.” Embun berusaha membujuk, meski rayuannya lebih mirip kata-kata seorang ibu kepada anaknya. “Kata ibu, Kak Riel suka minum teh jahe selepas makan malam. Embun sudah siapkan seteko juga untuk temani Kak Riel bersantai di teras rumah.” selain suaranya yang lembut dan santun, Embun juga coba membujuknya dengan memegang lengan Adzriel. Tapi baru sedetik ia menyentuh lengan, Adzriel segera menepis tangan Embun. Raut wa
Tepat pukul lima pagi, layar ponsel Embun berkedip beberapa kali. Alarm berbunyi nyaring. Membangunkan wanita berumur 21 tahun dari tidur nyenyaknya. ia segera beranjak duduk, butuh waktu sekitar lima menit sampai nyawanya terkumpul. Sejenak kemudian Embun menyibak selimut tebal dan beranjak dari petiduran. Ia membuka pintu kamar di samping kamar utama. Sesuai perintah dari suaminya beberapa hari lalu, mereka pisah ranjang. Meski begitu Embun menolak untuk tidak mengurus Adzriel.Sudah menjadi salah satu mimpinya, dapat melayani dan menyiapkan segala keperluan sang suami. Karena itulah Embun sudah memakai celemek dan menyiapkan bumbu dapur pagi-pagi. Ia berniat membuatkan makan pagi dan bekal untuk Adzriel. Meski kemampuan masaknya tidak sehebat istri-istri diluar sana. Setidaknya wanita itu percaya, dia tidak akan kalah jika menyangkut berapa besar cintanya untuk pak suami.Embun bergerak gesit, mengupas bawang putih dan merah. Memotong tomat, kentang kemudian mengiris daun bawang. I
Layar ponsel kembali gelap usai sambungan telepon terputus, setelah satu jam terhubung. Embun menarik napas panjang, tersenyum tipis. Semangatnya naik setelah berbincang lama dengan mama mertua. Ucapan adalah doa, meskipun dalam bentuk kebohongan putih yang Embun katakan pada Giselle. Pernikahan yang dilandasi perjodohan bisa dianggap sebagai ujian pertama berumah tangga. Ada baiknya Embun mengubah mindset-nya. Menganggap misi membuka hati suaminya adalah rintangan pertama yang harus ia selesaikan. Demi hadiah cinta dan kesetiaan yang akan dia dapatkan nantinya. Belum sempat Embun menaruh ponsel di atas meja, layar kembali berkedip, tanda pesan masuk. Matanya mengerjap beberapa kali, terkejut melihat nama kontak si pengirim. Jari telunjuk bergerak cepat, mengetuk layar dan membaca pesan singkat. Hai pengantin baru. Cuma mau tanya saja, kapan siap terima projek lagi? Tidak usah freelance di tempatku, langsung jadi karyawan tetap saja, mau ya? —terbaca. Segaris senyum tipis merekah
Adzriel turun dari mobil dengan badan sempoyongan. Seragam kerja yang membalut tubuh atletisnya nampak kusut, semua kancing dilepas. Baju dalaman berwarna putih terlihat buram akibat basah oleh keringat. Wajah yang selalu datar dan dingin itu kali ini terlihat payah. Wajahnya merah padam, bibir pucat dan butir-butir sebesar biji jagung mengalir turun dari pelipis. Baru selangkah ia melangkah, tubuhnya ambruk ke lantai. Embun kaget bukan main melihat kondisi suaminya.“Kak Riel, bangun ka! Kamu kenapa, kak?” susah payah Embun membalik tubuh besar sang suami. Ia segera mengecek suhu tubuh dengan menyentuh kening. Panas. Suaminya ternyata sakit dan demamnya cukup tinggi. Embun berusaha membawa Adzriel masuk ke dalam rumah. Ia mati-matian membopong suami yang kesadarannya kian menipis.Tiga jam lamanya Adzriel tertidur sejak pulang kerja. Embun dengan telaten menggantikan baju suaminya dengan pakaian lebih nyaman. ia menyiapkan obat-obatan di atas nakas, juga kompresan penurun panas. Embu