Share

BERTEMU KEMBALI

Author: Haii'Fer
last update Last Updated: 2024-09-23 22:51:09

“Itu hanya hubungan satu malam.” Ucap Felice saat menerima panggilan telepon dari Direktur Arina sambil berjalan keluar café meninggalkan Luca.

Xavier langsung menoleh ke arah sumber suara dan menemukan bahwa suara itu berasal dari suara wanita yang tadi bertemu dengannya di lift.

“Dia bilang dia mabuk. Hal itu kerap terjadi. Lupakan saja dia. Payah jika kamu terus memikirkannya.” Ucap Felice saat melewati Xavier.

“Bagaimana dengan Luca?” Tanya Direktur Arina.

“Aku sudah memberinya peringatan. Jadi, dia tidak akan mengulanginya lagi. Kabar itu tidak akan tersebar. Jadi, Presdir Edward tidak akan tahu.” Ucap Felice sambil berjalan hendak membeli makanan ringan untuk mengganjal perutnya.

“Benarkah? Oh ya! Kamu harus membeli tas baru. Kamu sudah lama membeli tas itu.” Balas Direktur Arina yang sontak saja membuat Felice memperhatikan tas yang sedang Ia pakai.

“Presdir Edward bilang janji temunya pukul 20.00. Aku sudah buat janji di salon untukmu. Jangan terlambat.” Ucap Felice lalu menutup teleponnya.

 Setelah menutup telepon dari Felice, Direktur Arina masih dalam keadaan kacau. Dia hendak pergi dari kamar itu namun saat berjalan Ia menemukan Jam tangan milik Luca yang membuatnya menghentikan langkah kakinya.

Melihat jam tangan itu membuatnya ingin minum agar merasa mabuk lalu saat membuka kulkas kecil ada whisky yang isinya masih banyak. Kemudian Direktur Arina menenggak whisky itu sampai habis dan sampai Ia merasa mabuk.

“Luca sialan. Beraninya dia menghianatiku.” Gumam Direktur Arina.

“Pertemuan? Kencan? Aku muak dengan semuanya” Gumam Direktur Arina saat duduk di sofa kamar hotel.

***

“Kita mau kemana?” Tanya Xavier pada Arka yang berhasil masuk ke kamar Apartemen Xavier.

“Ke restaurant yang sangat populer di kalangan pasangan saat ini.” Balas Arka.

“Untuk apa aku ke sana bersama kamu?” Tanya Xavier.

“Haha! Berkat kamu, aku tidak perlu membayar kamar hotel. Aku akan mentraktirmu makan malam. Jadi, datanglah tepat waktu. Astaga, aku sangat kurang tidur karena pekerjaan. Aku lelah.” Balas Arka.

“Kamu mau kemana sekarang jika kamu selelah itu? Bukankah sebaiknya kamu istirahat setelah perjalanan panjang ini?” Tanya Xavier.

“Ada banyak peragaan busana. Aku harus bertemu orang-orang dan membangun koneksi.” Ucap Arka.

“Pertunjukan utama baru mulai besok. Tidurlah dahulu.” Balas Xavier.

“Hei, jangan menunda apapun dalam hidup. Jika tidak bertindak sekarang, kamu bisa kehilangan itu selamanya. Jadi, ambil tiap ada kesempatan yang mendekatimu. Temui aku pukul 20.00. Tempatnya mahal. Jadi, berdandanlah dengan rapi.” Balas Arka lalu dia segera pergi dari kamar Xavier.

***

Saat sedang mengantri untuk membeli makanan ringan di booth store yang ada di acara fashion week, Felice menerima telepon dari Vareena.

“Nona Felice ada kabar buruk. Pertemuannya dibatalkan hari ini.” Ucap Vareena.

“Apa maksud kamu?” Tanya Felice.

“Ini sungguh sulit dipercaya. Anthony mengeluh tentang kondisinya yang penat karena penerbangan, lalu tiba-tiba menunda semuanya ke besok. Bukankah ini tidak sopan?” Ucap Vareena yang mengeluhkan tindakan Anthony.

Heah! Felice hanya bisa bisa menghela nafas untuk berusaha bersabar. “Baiklah aku paham. Konfirmasi jadwal besok dan pergilah.” Ucap Felice.

“Baiklah!” Balas Vareena yang masih kesal.

“Ya. Terima kasih.” Balas Felice. Kemudian menutup panggilan telepon dari Vareena dan kembali menunggu antrian untuk membeli makanan.

Belum 5 menit Felice menutup telepon dari Vareena sudah ada yang kembali menghubunginya. “Hello! Aku Felice Chiara Farfalla dari The Premiére.” Ucap Felice.

“Nona! Reservasi atas nama Arina Greesa Reine mau dilanjutkan atau bagaimana? Karena beliau masih belum hadir.” Ucap receptionist salon.

“Hah? Arina belum datang? Maaf akan aku periksa dahulu. Akan segera aku kabari.” Balas Felice sambil melihat jam di tangannya.

Sudah pukul 17.45. Namun, Felice masih belum datang ke salon juga. Felice segera menghubungi Direktur Arina.

“Halo.” Ucap Direktur Arina.

“Dimana kamu?” Ucap Felice.

“Felice! Luca si brengsek itu, belum menelepon aku sekalipun. Dia bahkan meninggalkan jam tangan yang aku belikan untuknya di Milan. Dia tidak kembali untuk mengambilnya.” Ucap Direktur Arina.

“Kubilang kamu ada janji pukul 20.00. Tetap di situ. Aku akan datang kesana.” Ucap Felice lalu pergi meninggalkan antrian di booth store untuk segera menemui Direktur Arina.

Saat Felice sampai di kamar itu, kondisi Arina sangat mengenaskan. Dia terlihat sudah mabuk dengan baju compang camping dan banyak luka di lehernya.

“Aku menyuruhmu bicara baik-baik dengannya, tapi kamu malah mengamuk? Kenapa kamu harus mengamuk? Kamu benar-benar kehilangan pesonamu.” Ucap Felice yang berdiri di hadapan Direktur Arina.

“Aku juga kehilangan kepercayaan diriku.” Sahut Direktur Arina yang menidurkan dirinya di sofa.

“Kamu menghabiskan terlalu banyak.” Ucap Felice kemudian membawakan Direktur Arina air putih.

“Aku menghabiskan banyak uang di salon hanya untuk tetap muda. Kulitku mungkin kencang tapi tulangku pasti berongga dan punggungku tetap tidak bisa membohongi usiaku.” Gumam Direktur Arina.

“Oh astaga, wanita itu. Apa karena dia masih muda? Dia kuat dan bisa menerima pukulan.” Ucap Direktur Arina.

“Kamu tidak usah ke salon. Kamu bisa datang tepat waktu jika hanya dengan memperbaiki make up kamu.” Ucap Felice saat memberikan minuman untuk Direktur Arina.

“Wanita itu sangat percaya diri. Dia bilang kepada Luca, aku hanya dompet mahal. Luca kasihan karena aku tidak tahu wanita itu menghinaku. Jadi dia pura-pura mendengarkan ucapannya saja.” Ucap Direktur Arina yang terus membahas wanita yang sudah tidur dengan kekasihnya itu.

Felice yang tidak peduli dengan apa yang dikatakan Direktur Arina terus mengatakan hal yang lebih mendesak. “Dengarkan aku! Pria ini berasal dari lingkungan lama ayahmu dan sebelum meninggal, dia adalah dokter yang dihormati. Kamu akan bertemu putranya. Jadi, dia berharap banyak soal latar belakang dan sikapmu. Jika kamu bisa menerima konsekuensi akibat tidak menemuinya tetaplah disini dan menangis saja.” Ucap Felice dengan santai namun terkesan mengancam.

Direktur Arina merasa Felice tidak memahami perasaannya yang sudah dicampakkan dan dikhianati oleh kekasihnya. “Felice Chiara Farfalla!” Ucap Direktur Arina. “Sekalipun aku menghabiskan banyak uang untuk nya, dia harus peduli padaku. Anggap saja untuk membayar bunganya.” Lanjut Direktur Arina.

“Nanti saja menyesalnya. Minumlah!” Sahut Felice sambil menyodorkan gelas minum. Namun, diabaikan oleh Direktur Arina.

“Kamu sudah cukup menderita. Berhentilah bermain dengan perasaan dan emosi lalu jalanilah hidup yang aman dan stabil, ya? Pria tidak berarti apa-apa.” Ucap Felice sambil kembali menyodorkan gelas berisi air putih. Namun, Direktur Arina menepisnya sampai airnya tumpah ke tangan dan pakaian Felice.

“Hei. Soal aku hanya bersenang-senang dengan Luca atau serius, memangnya kamu tahu apa? Pria? Ya, aku memang mendambakan pria. Memangnya kamu tidak? Apa yang kamu lakukan saat mematikan ponselmu?” Ucap Direktur Arina dengan angkuhnya.

Ucapan itu membuat Felice teringat dengan malam panas yang penuh gairah dengan pria itu. Dengan pria itu di bawah kembang api yang meriah dan dekpaan yang hangat dan penuh gairah itu semua sangat sweet.

Namun, Felice juga kesal dengan sikap Direktur Arina yang selalu arogan dan selalu merendahkannya. Felice segera mengambil tisu yang ada di hadapannya untuk mengeringkan tangannya yang terkena air. “Jangan bersikap sok berkelas. Hanya karena berlagak tidak peduli, bukan berarti kamu berbeda.” Ucap Direktur Arina.

“Aku memang berbeda. Kamu meyakini hal-hal tidak berguna seperti pria dan cinta tapi aku tidak. Satu pengalaman sudah cukup bagiku.” Ucap Felice dengan tenang dan tidak terpancing amarah Direktur Arina.

“Dasar penyihir! Kenapa kamu tidak pernah bersikap sedikit saja untuk menjadi sahabat?” Ucap Direktur Arina.

“Kamu tidak pernah minta maaf padaku. Untung saja itu hanya air putih, jadi tidak akan meninggalkan noda. Sebatas itu lah hubungan kita berdua. Jangan mengharapkan pertemanan yang seperti keluarga.” Balas Felice.

“Bagimu, kepercayaan dan bantuan ayahku lebih penting daripada teman?” Ucap Direktur Arina.

“Tidak seperti kamu atau ayahmu, aku tidak punya banyak uang untuk berinvestasi demi mendapat keuntungan. Aku harus berlarian sepanjang hari meskipun aku kelaparan karena tidak punya waktu walau hanya lima menit untuk makan pastry.” Ucap Felice.

“Kamu tidak melihat aku ingin mati, bukan?” Tanya Direktur Arina.

“Bahkan pada saat aku kelaparan, aku selalu berterima kasih atas perbuatanmu. Seperti itulah sikapku padamu.” Ucap Felice.

Kemudian Felice berusaha untuk membangunkan Direktur Arina agar segera sadar dari mabuknya. “Udara dingin akan membantumu sadar.” Ucap Felice.

“Aku tidak bisa pergi. Tidak. Aku tidak mau pergi. Aku tidak bisa pergi seperti ini.” Ucap Direktur Arin yang berdiri dengan sempoyongan.

“Apa?” Sahut Felice.

“Pria itu akan mengatakan. ‘Putrimu tampak setengah mabuk dan lehernya memar.’ Ayahku akan segera tahu soal ini. Dia pasti akan sangat marah juga.” Ucap Direktur Arina.

“Kita bisa membuat alasan untuk itu. Kamu akan bersalah jika tidak datang sama sekali.” Sahut Felice.

“Kamu saja yang datang dan menjadi Arina Greesa Reine malam ini.” Pinta Direktur Arina.

“Telepon ayahmu dan katakan itu kepadanya sendiri. Aku akan menggantikanmu jika dia setuju.” Ucap Felice sambil memberikan ponselnya ke hadapan Direktur Arina.

“Lakukan saja.” Ucap Direktur Arina.

“Lakukan saja?” Tanya Felice.

“Dia justru akan menyalahkanmu karena kurang memperhatikanku. Kamu mau disalahkan?” Ucap Direktur Arina.

“Direktur Arina!!!” Sahut Felice dengan nada yang cukup tinggi.

“Mari kita rahasiakan ini sampai seterusnya. Pagi ini, aku dicampakkan oleh pria yang menginginkan uangku. Lalu malamnya aku harus temui pria yang menginginkan uang ayahku? Aku sungguh tidak bisa melakukan itu. Mengerti?” Ucap Direktur Arina.

Kepala Felice sepertinya mau pecah menghadapi tingkah dan masalah percintaan Direktur Arina. Felice melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 19.30.

***

“Aku akan menyiapkan semuanya untuk acaranya.” Ucap waitress.

Kemudian waitress itu menuliskan sebuah nama. “Arina Greesa Reine love Xavier Oda Valent.”

Xavier yang melihat kalimat itu sangat kesal dengan kelakuan kakak sepupunya itu. “Aishh si bodoh itu. Astaga!” Gumam Xavier saat sedang menghubungi Arka.

Namun Arka tidak menerima panggilan telepon dari Xavier karena sedang menerima panggilan telepon dari Ibunya Xavier. “Hallo tante! Aku sudah menelepon restoran. Dia tiba disana tepat waktu.” Ucap Arka.

“Arka! Maaf mengganggu kamu saat kamu sedang sibuk. Dia makin tua, sebagai ibunya aku harus melakukan sesuatu. Jadi aku meminta bantuanmu.” Ucap Camilla ibunya Xavier.

“Keputusan Anda tepat sekali. Tapi tante, siapa wanita yang akan datang?” Tanya Arka.

***

Wanita yang akhirnya datang ke pertemuan itu adalah Felice Chiara Farfalla. Dia datang masih dengan baju yang dia pakai dari tadi pagi.

“Maaf aku terlambat.” Ucap Felice yang sedang menyamar jadi Direktur Arina.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   PENAWARAN

    Wanita yang akhirnya datang ke pertemuan itu adalah Felice Chiara Farfalla. Dia datang masih dengan baju yang dia pakai dari tadi pagi. Felice terpaksa datang karena tidak ingin menimbulkan keributan atau menjadi sasaran kemaraha Presdir Edward.Tak tuk tak tuk“Maaf aku terlambat.” Ucap Felice yang sedang menyamar jadi Direktur Arina.Xavier yang awalnya ingin memutuskan pergi setelah tahu dibohongi oleh Arka mendadak diam membeku setelah melihat wanita itu. Arka melirik ke arah tulisan nama yang ada piring yang sudah disiapkan waitress. Disitu tertulis nama Xavier Oda Valent dan Arina Greesa Reine.“Kamu nona Arina Greesa Reine?” Tanya Xavier.“Anggap saja begitu.” Balas Felice mengangguk.“Aku Xavier Oda Valent.” Ucap Xavier.Rencana awal Felice setelah datang ke tempat itu adalah hanya untuk hadir lalu pulang ke hotel. “Maaf ada masalah di kantor. Aku tahu ini tidak sopan, tapi aku harus…” Ucap Felice terhenti saat waitress membuka menu steak daging yang terlihat menggiurkan di de

    Last Updated : 2024-10-25
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   PENOLAKAN

    Hari esok pun tiba. Xavier menerima tawaran Felice untuk menjadi Fotografer mereka. Felice dan team segera menyiapkan semua keperluan untuk foto.Suasana photoshoot sudah cukup ramai dengan staff yang berlalu lalang untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Fotoshoot dilakukan di outdoor, sesuai dengan tema yang sudah ditentukan.Felice sudah menyiapkan semuanya dengan detail. Apa yang akan dipakai oleh model sudah tertera di papan informasi.“Baris pertama Rosalia dalam urutan ini. Dan Luca?” Ucap Felice.“Skema warnanya tumpang tindih.” Ucap Luna.“Kita akan pakai gaun?” Tanya Felice. “Ya. Tidak apa-apa?” Ucap Luna. “Ya tidak masalah.” Balas Felice.“Oke.” Balas Luna.“Vareena, periksa rambut dan riasan para model.” Ucap Felice.“Baiklah.” Vareena.“Apa itu sudah disiapkan?” Tanya Felice pada staff yang sedang menyiapkan properti untuk foto.“Sudah.” Ucap staff properti foto.Ckrek ckrek ckrek.Xavier terus mengambil foto Felice dalam keadaan apapun. Baginya Felice terlihat sang

    Last Updated : 2024-10-26
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   AKHIRNYA AKU TAHU

    “Menemui Anthony. Setidaknya kita harus memberitahunya apa yang dia lewatkan dari kita.” Balas Felice.Saat Felice pergi ternyata Xavier mendengarkan percakapan mereka berdua. Namun, Felice dan Luna tidak menyadari ada Xavier di dekat mereka.***Sesuai dengan ucapannya, Felice benar menemui Anthony di acara Special Party. Hanya orang-orang yang memiliki tiket undangan yang bisa datang ke acara itu. Dalam party itu Felice mendekati Anthony untuk membujuknya agar mau melihat hasil desainnya dan mau diajak bekerja sama.Xavier yang menyadari Felice akan menemui Anthony di Special Party, membuatnya jadi pergi ke acara tersebut. Namun, Xavier datang menggunakan tiket undangan milik Arka. Saat Xavier berada di pintu masuk Xavier tidak sengaja menginjak kaki wanita dibelakangnya, Xavier segera menangkap tubuh wanita itu agar tidak jatuh.Bugh! Mata mereka saling bertatapan. Wanita itu tersenyum kepada Xavier. “Arina Greesa Reine.” Gumam Xavier dalam hati. Yaps benar wanita itu yang ia bantu

    Last Updated : 2024-10-27
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   INFLUENCER

    Hal pertama yang perlu dilakukan setelah gagal adalah mencoba cara lain yang lebih ekstrem. Itu semua bisa dimulai dengan mencari tahu apa yang orang inginkan.Psikologi orang yang ingin memakai warna berani seperti warna neon chartreuse atau warna kulit merah itu sebagai bentuk pelarian dari kenyataan yang penuh tekanan.“Vareena, kamu bertanggung jawab atas kaus polos, dan Sabrina kamu bertanggung jawab atas gaun. Minta sampel kain pada tim manufktur handmade. Aku akan pergi untuk mengatur semuanya.” Ucap Felice saat rapat tim.Setiap tahun, kurang lebih para desainer membuat 200.000 pakaian. Tapi pakaian bukanlah sekedar rancangan. Namun, para desainer merancang kebutuhan 200.000 orang.Kebutuhan akan mantra yang orang yakini agar mereka akan tampak menonjol atau tampil cantik dengan pakaian tertentu. Sebut saja itu hipnosis diri atau penghiburan diri. Satu pakaian membuat ilusi orang menjadi kenyataan. Jika kamu ingin bahagia, jadikanlah i

    Last Updated : 2024-10-28
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   KESALAHPAHAMAN

    “Tunggu disini. Aku akan meneleponmu begitu aku selesai.” Sahut Arka saat sampai di kantornya.“Apa Pak Yovie sudah tiba?” Tanya Arka saat menghubungi Liam.Setelah Arka masuk ke kantor, tidak lama kemudian Felice dan Direktur Arina tiba disana. Mereka segera berlari masuk ke kantor Arka.Situasi jadi sangat menegangkan dengan semua kekacauan yang Krystal buat. “Bagaimana ini Pak Yovie?” Tanya Arka yang sudah gemetar.“Aku sudah memberitahu Krystal bahwa kita menerima uangnya dan membuat kesepakatan. Tapi Influencer yang Pengikutnya lebih sedikit akan promosikan Layr. Jadi, dia berpikir bahwa dia salah mempromosikan merek local. Ah, dia juga membuatku sakit kepala.” Sahut Pak Yovie, manajer Krystal.“Sudah kirim daftar undangan?” Ucap Arka.“Mereka akan melakukan pencocokan ukuran pakaian besok.” Balas Liam.“Oke, dia akan dapat gift card tambahan. Dia akan menjadi yang terakhir berdiri di zona foto, dan kita akan memberikannya Limosin yang terbaik. Kita juga akan mempekerjakan pengaw

    Last Updated : 2024-10-28
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   HURU-HARA KRYSTAL

    Drtt drtt“Kamu ada dimana? Paris? Jakarta? Seoul?” Pesan dari Irene untuk Xavier. Setelah melihat pesan dari Irene, Xavier segera melihat postingan-postingan sosial media Irene.“Aku tiba di Jakarta siang tadi. Bagaimana kabarmu?” Balas Xavier pada Irene.***Saat sedang memilih setelan untuk acara pensiun Ezra, Papa Felice yang akan segera pensiun sebagai PNS. Yuri, Mama Felice terus membujuk agar Felice mau dikenalkan dengan anak kenalannya.“Felice mama mau kenalkan kamu dengan anak kenalan mama. Dia tinggal di Prancis.” Ucap Yuri.“Dia tingal di Prancis?” Sahut Felice sambil terus memilih-milih pakaian yang cocok untuk Papahnya.“Ya, itu dia intinya. Jika dia tinggal disini, wanita lain akan merebutnya. Dia gagal menemukan seseorang di Prancis.” Sahut Yuri.“Mungkin itu artinya ada yang salah dengannya.” Sahut Felice sambil terus melihat lihat setelan dan harganya.“Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu masih lajang karena merasa sangat hebat dan sempurna?” Tanya Yuri sambil terus

    Last Updated : 2024-10-29
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   HARGA DIRI

    Tuut tuuut“Halo.” Sahut Xavier.“Oh, Xavier. Aku sudah mengirim setelan yang harus kamu pakai untuk acara besok, ke kamar hotelmu.” Sahut Camilla.“Apa Arka memberitahumu di mana aku tinggal?” Sahut Xavier yang sedang melakukan treadmil.“Berhubung kamu ada disini dan ini peringatan ke 5 tahun kematiannya. Aku rasa, kita harus mengadakan upacara yang layak. Berpakaianlah yang sesuai.” Sahut Camilla.“Aku akan memakai yang cocok untukku.” Balas Xavier.“Aku mengirim kemeja dan dasi. Pakai yang ibu kirimkan. Sampai jumpa.” Sahut Camilla kemudian Ia mematikan sambungan teleponnya.Setelah Camilla mematikan teleponnya, Xavier menaikan speed treadmil untuk menyalurkan emosinya. Xavier paling tidak suka jika Ibu tirinya itu ikut campur dalam semua urusannya.***Krystal s

    Last Updated : 2024-10-30
  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   KENAPA HARUS KAMU ORANGNYA

    “Karena itu, menurutku dia profesional karena karyanya menyentuh perasaan seseorang yang melihatnya.” Ucap Felice.Flashback on.Paris, 5 tahun lalu.Suatu hari ketika sedang berjalan di keramaian dan sedang menganalisis apa yang disukai oleh masyarakat, Felice tersentuh dengan salah satu foto yang dijual oleh pedagang foto di pinggir jalan. Meskipun sedang membawa barang bawaan yang banyak di tangan kanan dan kirinya. Felice menyempatkan waktu untuk berhenti dan mengamati foto yang menarik perhatiannya itu.Felice terpaku pada salah satu foto yang menunjukkan jalanan yang baru terkena hujan. “Ini berapa harganya?” Tanya Felice pada pedagang foto.“Ini 20 euro.” Balas pria pedagang foto.Felice segera mengeluarkan uang yang Ia miliki untuk membeli foto itu. Setelah menyerahkan uangnya, barulah pedagang itu memberikan fotonya dan k

    Last Updated : 2024-10-31

Latest chapter

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   ENDING

    Janji yang kita buat dan cintamu menunjukkan jalannya. Serta berjalan di jalur itu adalah caraku membalas kepadamu. Felice Chiara FarfallaXavier menikmati tempat rekreasi itu sambil naik gondola untuk melihat pemandangan di sekitarnya. Saat sedang melihat ke sekitar, Xavier tidak sengaja berpapasan dengan wanita yang mirip Felice sedang naik gondola yang berbeda arah dengannya. Matanya langsung tertuju pada wanita cantik itu.Xavier ingin memastikan itu benar atau tidak. Namun, gondolanya terlalu cepat bergerak dan mereka saling menjauhi satu sama lain. Xavier terus memperhatikan sampai benar-benar tidak terlihat.Nalurinya berkata bahwa itu adalah Felice. Tapi bagaimana mungkin Felice masih tidak berubah sejak terakhir bertemu. Dia masih selalu cantik, anggun dan elegant. Xavier berharap ingin bertemu orang itu lagi untuk memastikan dia Felice atau bukan.Setelah turun dari gondol

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   AKHIR BAHAGIA

    Berjalan di jalanan yang sama seperti dua tahun lalu, di malam yang berbeda dan tidak ada yang seseorang yang menemani setiap langkah kaki ini terasa sangat asing bagi Xavier. Udara di sekitar, pepohonan yang rindang jalanan yang basah setelah diguyur hujan, semuanya tidak banyak yang berubah.Xavier memandangi pemandangan di jalanan yang terguyur hujan itu sambil memikirkan kenangan dua tahun lalu bersama Felice. Matanya terus memperhatikan setiap sudut di kanan dan kiri jalanan itu.“Satu atau dua tahun dari hari ini. Jika aku bisa berjalan di jalur seperti ini di hari ini, aku akan memikirkanmu dan kita hari ini.” Suara hati Xavier.Drttt drttt [+62813003680996]Xavier menghentikan langkahnya untuk membuka pesan di ponselnya.“Aku mengirimimu pesan dari Jakarta. Apa kamu tiba dengan selamat? Sampai jumpa besok di Jakarta.”Setelah membaca pesan itu, enta

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   HANYA ITU SAJA

    “Kamu sudah menikah?” Tanya Xavier.“Astaga! Kamu bahkan tidak mengirimi aku undangan pernikahan. Kamu pikir seperti itulah teman yang setia? Wahh! Aku kecewa padamu.” Keluh Xavier.“Haha. Tenang dulu! Kita tidak menikah. Kita hanya tinggal bersama.” Jawab Arka.“Benarkah? Kamu tidak takut dengan omongan orang? Ini Indonesia bukan Eropa atau America.” Ujar Xavier.Drttt drtt [Nona Luna]“Halo, ini Arka Nolan Jude, CEO Galaxy PR.”“Halo, Pak Arka. Aku menelepon dari tim Lauré.” Ujar Luna.“Ya, Nona Luna.” Balas Arka sambil melihat ke arah posisi Xavier duduk beberapa saat.“Bagaimana perkembangan iklan produk kami?” Tanya Luna.“Oh itu Pak Liam yang akan bertanggung jawab atas iklan produk tahun ini. Anda tidak usah khawatir. Tenag saja. Tunggu saja

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   HIDUP TERUS BERLANJUT

    Xavier hanya sempat memasak mie instan hari ini. Saat mie sudah dimasukan, Xavier hendak memasukan telur. Namun, Xavier teringat sesuatu saat memegang telur itu.Flashback On“Kamu selalu mengaduk telur setelah menambahkannya ke mie instan, bukan?” Ujar Felice.“Tidak.” Balas Xavier.“Wah! Astaga, kita sungguh berbeda. Kita benar-benar tidak cocok. Sepertinya kita akan sering bertengkar.” Balas Felice.Flashback OffXavier membatalkan niatnya yang akan langsung memecahkan telur di atas mienya. Dia memutuskan untuk mencoba selera makan Felice.Xavier pecahkan telur itu di atas mangkuk kecil lalu diaduk hingga terampur rata. Setelah itu baru dimasukan ke dalam mie.Setelah mienya matang, Xavier segera memakannya sebelum mie itu menjadi dingin. Xavier makan mie sambil sesekali melihat ke arah foto Felice yang ada di hadapannya.Flashback On

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   HALUSINASI 2

    “Itu sesuatu yang harus kamu ulur dan kamu bumbui sedikit. Hehehe…” Ujar Alano yang agak malu malu tapi akhirnya mengaku juga.“Hahaha!”“Hehe! Ya, memang aku yang mengatur semua ini.” Ujar Alano sambil mengajak yang lain untuk cheers.“Terima kasih, Pak Al dan semua yang hadir di sini. Aku akan menerima semua bantuan kalian.” Ujar Felice.“Heah! [Menghela nafas] Aku sangat putus asa hingga tidak peduli untuk menyelamatkan wajahku. Kini aku punya dua pegawai yang harus kuberi makan. Aku terima tawaran kalian dengan senang hari dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.” Ucap Felice dengan berlinang air mata penuh haru“Kamu pasti bisa, Nona Felice!” Ujar Diana.“Aku akan memasok kain terbaik. Tenang saja! kamu tinggal buat desain yang bagus untuk karya baru di brand pribadimu.” Ujar Budi.“Hubungi aku meski hanya untuk satu atau dua hal. Aku akan menjahitnya meskipun harus mengurangi waktu tidurku.” Ujar Selena.“Wahh!”“Astaga! Benarkah?” Ujar Felice.“Ya!” Balas Selena.“W

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   HALUSINASI

    Pagi ini, Felice memulai harinya dengan mengecek semua hasil desainnya kemarin. Felice melihatnya satu persatu. Desainnya cukup unik tapi Felice merasa bingung bagaimana cara merealisasikan gambar ini di saat tidak ada orang yang mempercayainya.“Kamu membuat semua desain ini? Dalam sebulan?” Ujar Xavier.“Ya.” Balas Felice sembari tersenyum.Felice melirik ke sebelah kanannya sambil tersenyum senang. Felice merasakan Xavier membuka sketsa desainnya lembar demi lembar.“Wah!” Puji Xavier.“Bagaimana bisa kamu menyimpan semua ini?” Tanya Xavier sembari terus membuka lembaran pada buku itu.“Aku tidak tahu apakah aku sangat berbakat atau sedang penuh inspirasi. Aku merasa seperti Mozart.” Ujar Felice.“Apa kamu juga genius? Hehe!” Puji Xavier.“Hehe..” Felice tersenyum bahagia sambil merasakan Xavier membuka buk

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   SETELAH MEREKA PERGI

    “Tidak apa-apa. Ya, sampai jumpa.” Ujar Felice yang masih berusaha menghubungi rekan kerja lamanya.“Huftt!” Gumam Felice setelah mematikan teleponnya.“Tidak apa-apa. Aku bisa mencoba lagi.” Ucap Felice.Felice melakukan peregangan agar leher, bahu, punggung dan tangannya tidak kaku. Lalu Felice melihat dirinya di dalam cermin.“Apa aku tidak cukup merawat diriku?” Ujar Felice saat merasa wajahnya terlihat kusam dan ada beberapa kerutan di wajah yang cukup menganggu penampilannya.Felice mengambil minuman collagen dan vitamin booster. Lalu menyeduhnya dalam gelas. Kemudian dia minum sampai habis. Lalu kembali pada pekerjaannya.Ting nong [Suara bel]“Siapa itu?” Ujar Felice.Felice membukakan pintu untuk tamunya. Lalu kembali ke meja makan yang sedang Felice gunakan untuk bekerja.Berkas-berkas yang ada di atas meja itu mereka rapikan dan disis

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   MEMULAI KEMBALI DARI NOL

    Kegiatan Felice saat ini adalah disibukkan dengan kartu-kartu nama dan daftar list yang harus Felice hubungi untuk keperluan labelnya sendiri.“Halo, Pak Akbar, apa kabar? Aku akan meluncurkan labelku sendiri.”“Hai, ini Felice Chiara Farfalla. Ini tentang lini mini yang ku sebutkan sebelumnya.”“Kamu tidak sanggup lagi? Oh baiklah.”“Ah sayang sekali.” Ucap Felice saat mencoret beberapa daftar nama dalam listnya.***Drtt drttt [Suara telepon Manajer Umum Alano]Manajer Alano mengangkat telepon itu, “Halo.”“Halo, Pak Al. Ini Pak Belva.”“Ya, ada apa?” Ujar Manajer Alano.“Saya ingin tanya. Apa benar Nona Felice meluncurkan brandnya sendiri?” Ujar Budi.“Apa kamu memutuskan untuk bekerj

  • SENTUHAN SEMALAM DENGAN ADIK MANTAN   KENANGAN DAN MENGENANG

    “Apa katamu?” Ujar Mama Yuri.“Aku berhenti bekerja.” Ujar Felice.“Kapan?” Tanya Mama Yuri.“Ini hari terakhirku.” Ujar Felice.“Kenapa kamu berhenti?” Tanya Mama Yuri.“Alasan yang sama dengan Mama.” Balas Felice.“Apa?”“Jika aku melihat kembali hidupku, itu tidak terlalu buruk. Ada saat-saat bahagia dan berharga, tapi aku ingin mulai melakukan apa yang selalu ingin kulakukan, tapi terlalu takut untuk mencobanya.” Ujar Felice“Maaf, aku tidak punya lagi posisi penting di perusahaan besar.” Ujar Felice sembari tersenyum.“Jangan konyol. Mama tidak pernah meminta hal seperti itu.” Ucap Mama Yuri.Mama Yuri mendekat pada Felice, memegang tangannya, “Kamu sudah bekerja dengan baik. Bekerja sangat keras selagi melakukan tugasmu sebagai anak kami. Kamu putri terbaik yang bisa diharapkan siapa pun.”“Mah! Masalahnya, aku tidak punya apa-apa sekarang. Belum ada yang diputuskan.” Ujar Felice.“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu jadi ceroboh begini?” Ujar Mama Yuri.“Benar, bukan Ma

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status