Eros mendelik kaget mendengar pengakuan spontan dari Eris, sementara laki-laki yang keceplosan itu menautkan gigi atas dan bawahnya lalu membuang muka.Seolah kehabisan kata, Eros mendadak diam. Begitu pula Eris yang hanya menghela napas panjang. Dia bahkan tak berani menatap saudara kembarnya itu setelah pengakuan mendadaknya. "Kenapa ngomong seperti itu? Sekarang kamu menyesal sudah mengabaikan Hanin?" tanya Eros saat menatap kembarannya sekilas. Dia tersenyum tipis. Senyum sedikit mengejek karena sikap plin-plan Eris itu. "Sebelumnya aku sudah memberimu peringatan bahkan berulang kali menanyakan hal ini, tapi kamu tak percaya. Kamu selalu memandang Hanin sebelah mata sampai membuatnya patah dan menyerah. Sekarang setelah semua terjadi, kamu baru sadar jika Hanin tak seperti yang kamu bayangkan," lirih Eros. Mendengar kalimat itu, Eris kembali menyandarkan punggungnya ke kursi teras, sedangkan Eros yang sejak tadi berdiri di samping motor Eris kini ikut duduk di kursi. "Kamu ba
"Apa Fika beneran di dalam, Gi?" tanya Eris tergesa setelah dia dan Eros sampai tempat tujuan. Egi, asisten Eris mengangguk pelan. Laki-laki itu memang ditugaskan Eris untuk mengawasi Fika karena tak ingin kecolongan lagi dan lagi."Iya, Bos. Aku kan mengawasi istri bos sejak siang tadi. Sebelumnya dia ke rumah teman perempuannya di Jalan Cenderawasih itu, Bos. Nggak selang lama terima telepon, dia langsung meluncur ke sini. Dia masih di dalam sejak tadi, belum ada tanda-tanda keluar rumah," ucap Egi begitu meyakinkan.Eris manggut-manggut. Mendengar penjelasan Egi, Eris sedikit lega karena Fika memang pergi ke rumah Tania lebih dulu sesuai dengan izinnya. Namun, kini Eris penasaran kenapa istrinya bisa berada di rumah itu dengan pemilik mobil yang menabrak motor Hanin. "Bukan Fika pelakunya kan, Ris?" Eros melirik saudaranya yang sedikit gelisah. Eris menoleh lalu mengedikan bahu. Kakak beradik itu saling tatap beberapa saat."Mana kutahu. Dia memang istriku, tapi aku jelas tak bisa
Tangan Eros mengepal dengan gigi bergemeletuk. Dia benar-benar emosi melihat istrinya diperlakukan seperti ini. Perlahan membuka lakban di mulut Hanin lalu melepaskan ikatan tangannya. Keduanya pun saling tatap penuh keharuan."Sayang, kamu nggak apa-apa kan? Apa mereka melukaimu? Mereka benar-benar kurang aj*r, aku pasti akan membalas perlakuan mereka padamu, Sayang." Hanin tak membalas sepatah katapun. Melihat ekspresi istrinya yang begitu shock, Eros memegang kedua pipi Hanin lalu mengusap pipi dan sudut matanya yang basah. Dengan penuh cinta, Eros merapikan rambut panjang Hanin yang berantakan. Setelah itu mengambil hijab berwarna coklat milik Hanin yang tergeletak di lantai. Hanin benar-benar ketakutan. Dia berulang kali mengucap istighfar tiap mengingat kejadian mengerikan yang nyaris merenggut harga dirinya barusan. Hanin terisak di dada Eros yang terus berusaha menenangkannya, mengusap rambutnya pelan dan mencium puncak kepalanya. Kedua matanya memerah menahan amarah. Dia be
Di tengah persembunyiannya, Fika mulai kalut. Dia benar-benar ketakutan dan tak menyangka jika rencananya untuk menyakiti Hanin gagal total. Fika sebelumnya hanya ingin membuat Eros merasa jijik pada istrinya, tapi ternyata justru dia yang terjebak pada rencana busuknya sendiri. Seperti senjata makan tuan, dua lelaki kekar yang dia percaya itu justru memerasnya. Fika dijadikan budak dan diancam oleh anak buahnya sendiri. Fika mulai frustasi. Ajang balas dendamnya pada Hanin yang akhir-akhir ini selalu disebut Eris dalam tidurnya ternyata justru membuatnya tersudut. Dia tak bisa mendapatkan kembali cinta dan perhatian suaminya, bahkan sekarang terlibat masalah besar karena ketahuan berdusta dan merencanakan sesuatu yang fatal. Sebagai seorang perempuan, tindakannya kali ini memang benar-benar keterlaluan. Dia terlalu kelewat batas. Fika mulai berpikir keras. Bersembunyi sehari dua hari mungkin tak jadi soal, tapi bagaimana jika tabungannya habis? Bagaimana pula dia meredam kerinduann
[Kabur kemana kamu, Fik? Sampai lubang semut pun aku bakal cari kamu dan nggak akan membiarkanmu bebas begitu saja, Fika!]Pesan dari Eros membuat Fika tercekat. Dia tahu jika saat ini saudara kembar suaminya itu sangat emosi. Terlihat dari kalimatnya yang penuh penekanan dan ancaman. Fika hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena mulai cemas dan takut. Tak ada yang bisa diajak kompromi dan semua seolah menyudutkannya sampai dasar bumi. Fika mulai kehilangan kendali dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat awal merencanakan semua itu, dia memang terlalu tersulut emosi dan cemburu hingga tak bisa berpikir jernih. Dia tak mencoba menimbang segala sesuatunya, tak memikirkan akibat yang akan terjadi karena ulahnya. Fika hanya berpikir sesaat untuk balas dendam dan membuat Hanin ternoda. Itu saja. Sekarang, saat semua gagal, masalah demi masalah benar-benar mengejarnya. Dia tak bisa berpikir dengan tenang lagi karena selalu diliputi gelisah dan takut. Sebagai seorang istri dan ibu, Fika
Pulang dari rumah penyekapan itu, Eros mengajak Hanin ke rumah sakit untuk melakukan visum. Selain begitu mengkhawatirkan keadaan Hanin yang melihat sangat shock, Eros juga ingin memiliki bukti lain untuk menguatkan keputusannya menjebloskan Fika dan gerombolannya ke penjara. Laki-laki bercambang tipis itu tak rela melihat istri yang begitu dicintainya diperlakukan semena-menaa. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan keadilan dan membuat pelakunya jera dan tak mengulangi keslaahan yang sama di kemudian hari, terutama Fika. Eros ingin menghentikan sepak terjang Fika yang sudah kelewat batas menurutnya. Eros tak mungkin membiarkan para pelaku itu bebas dan menerima hukuman apa kadarnya. Dia ingin memperjuangkan hak Hanin. Dia tak ikhlas melihat Hanin sampai tak berdaya dengan ikatan kuat di kedua tangan dan kakinya. Tak hanya itu saja, bahkan mulutnya disumpal dengan kain dan dilakban sampai memar. Baginya, tindakan mereka benar-benar tak berperikemanusiaan. Eros tak
Anak buah Fika sudah berada di kantor polisi. Kini giliran Eris yang masih berusaha menjebak Fika agar dia pulang, tapi rupanya perempuan itu banyak akalnya. Dia sudah bisa menebak dan mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Belasan kali panggilan dan pesan dari Eris, tak sekalipun ditanggapi Fika. Dia sengaja mengabaikan semua yang berhubungan dengan Eris dan keluarganya karena tak ingin mereka tahu dimana dia berada. Pesan-pesan terbaru dari Eris pun tak ada yang dibalas. Bahkan Fika sengaja mematikan handphonenya semalaman dan belum mengaktifkannya lagi sampai sekarang. "Apa rencanamu sekarang, Ros? Fika nggak bisa dihubungi sejak semalam. Nomornya nggak aktif. Pesan-pesanku pun cuma dibaca tanpa dibalas," ucap Eris sembari menghela napas panjang. Saat ini Eris memang memilih bekerja sama dengan Eros untuk menjebak istrinya sendiri. Dia sudah muak dengan sikap Fika yang benar-benar di luar batas nalarnya. Dia malas berdebat dengan perempuan itu. Eris berpikir, mungkin m
"Maaf kalau aku terus merepotkan ibu dan bapak. Mau nggak mau, saat ini aku terpaksa harus mengajak Edo untuk tinggal di sini lagi. Rasanya nggak mungkin tinggal di kontrakan sama Edo dan Mbak Sri saja. Takutnya malah ada fitnah di antara kami berdua karena nggak ada Fika di sana." Eris duduk di sofa ruang tengah sembari mengusap kepala anak lelakinya. Ibu manggut-manggut mengerti, begitu pula dengan bapak. "Sekarang Mbak Sri di mana? Kamu pecat dia?" tanya ibu kemudian. "Nggak dipecat, Bu. Sekarang Mbak Sri masih beberes di kontrakan. Besok biar kujemput. Jadi, bisa bantu-bantu ibu juga di sini. Maaf kalau keputusan ini terkesan cukup mendadak dan nggak berunding dengan ibu, bapak dulu." Eris menambahkan. "Keputusanmu sudah betul, Ris. Nggak elok juga cuma kalian yang tinggal di sana. Meski tak melakukan hal aneh-aneh, tapi bujukan syetan bisa datang kapan saja apalagi Mbak Sri masih lumayan muda." Ibu menimpali dengan senyum hangat seperti biasanya. Eris menghela napas lega. Set