Di ruang kerja.Tuan Besar Latief berkata dengan tulus, "Maxime, Nana. Kalian pastinya ngerti posisiku, sebagai orang yang lebih tua, aku mau membantu para orang muda yang kurang berhasil."Ucapan Tuan Besar Latief ini sangat konyol.Saat Maxime pertama kali menerima aset Keluarga Sunandar, sudah berapa kali dia jadi sasaran dan hampir mati, namun Tuan Besar Latief tidak menolongnya.Sebenarnya alasan Tuan Besar Latief mengambil keputusan ini karena Maxime sendiri sudah menjadi lebih kuat."Kakek, semua itu harta pribadimu. Kamu bisa kasih ke siapa pun yang kamu mau, kami menghormati keputusanmu," ucap Maxime.Tuan Besar Latief tahu sebenarnya Maxime tidak terima keputusan ini, dia pun memohon, "Maxime, gimana juga Aarav itu pamanmu dan Rendy itu sepupumu. Kamu nggak boleh menyakiti mereka."Tuan Besar Latief sebenarnya tahu kejahatan yang dilakukan Aarav dan Rendy.Maxime tidak terpengaruh dan berjanji, "Aku nggak akan menyakiti siapa pun kecuali mereka yang mulai duluan.""Kamu ....!
Jess cukup terkejut, tapi dia langsung sadar dan mengangguk."Oke, aku cari restoran terdekat."Jess mengeluarkan ponselnya untuk mencari informasi.Morgan berkata, "Kita makan masakan yang pedas.""Bukannya Tuan Morgan nggak bisa makan makanan pedas? Dulu bilangnya lebih suka makanan yang nggak terlalu berbumbu?" ucap Jess.Morgan menambahkan, "Aku mau makan makanan pedas hari ini."Jess merasa Morgan agak aneh hari ini, tapi dia tetap mengikuti permintaan Morgan dan memilih restoran pedas.Morgan tidak bisa makan makanan pedas, tapi dia pernah melihat Jess memakannya.Dulu, dia selalu mengira Jess, seperti dirinya, tidak bisa makan makanan pedas.Setelah menyelidiki Jess, Morgan baru tahu sebenarnya dari kecil Jess suka masakan pedas. Setiap kali Jess makan sendirian, dia pasti pesan makanan pedas.Tapi sejak merawat dan bekerja dengan Morgan, Jess jadi ikut mengubah pola makannya.Mereka duduk di sebuah restoran dan setelah makanan disajikan, Jess yang khawatir Morgan akan kepedasan
Erik tertegun dan bertanya dengan polos, "Kamu marah?"Jess menggeleng, "Nggak sih , cuma menurutku kamu terlalu kekanak-kanakan."Kekanak-kanakan?Wajah tampan Erik menegang.Dia sudah bisa menerima sikap Jess yang terlalu lurus, tapi tidak menyangka bakal dianggap kekanak-kanakan.Setelah beberapa lama, ekspresi Erik kembali natural dan dia menyentuh hidungnya, "Maaf, aku nggak punya banyak pengalaman, lain kali aku akan bersikap lebih dewasa."Baru kali ini dia punya rival dalam urusan cinta.Erik mengakui kesalahannya dan menghibur diri sendiri, lalu menegak habis air minum yang disuguhkan Jess.Jess tidak menyangka Erik akan begitu haus, "Kamu haus? Mau minum lagi?""Nggak usah." Erik melambaikan tangannya berulang kali.Setelah itu suasana hening.Erik duduk di sofa, tidak terlihat berniat untuk pergi.Jess yang merasa capek pun bertanya, "Kamu belum mau pulang?"Begitu ditanya, Erik malah tidak ingin pulang."Bukannya kita mau tunangan? Perlu nggak kita coba pernikahan percobaan
Di kediaman utama Keluarga Sunandar.Setelah Melisha kembali ke kediamannya sendiri, dia menelepon Syena balik."Ada apa?" tanyanya.Melihat Melisha kembali meneleponnya, Syena langsung mengangkatnya, "Liane berencana ngasih semua hartanya ke Reina sekarang.""Apa?" Melisha sangat terkejut sekaligus iri pada keberuntungan Reina.Bahkan keluarga Melisha sendiri saja tidak pernah membicarakan tentang pembagian harta padanya."Syena, sepertinya Liane sedang mengawasimu. Sebaiknya kamu transfer semua uang perusahaan secepat mungkin."Syena sadar hal ini, tapi meski bisa melakukannya pun dia tidak bisa mentransfer sebesar sebelumnya, karena sudah tidak punya kekuasaan.Keluarga Yinandar punya bisnis bagai raksasa, tidak takut Syena yang mentransfer sebagian aset mereka."Aku benar-benar nggak rela."Melisha tiba-tiba mendapat ide, "Syena, aku kenal banyak orang di Kota Simaliki. Kalau kamu percaya sama aku, aku bisa ngenalin mereka ke kamu, siapa tahu mereka bisa mengatasi kekhawatiranmu."
Saat Maxime turun, dia melihat punggung Sisil melaju pergi dengan ceria.Maxime mengangkat alis tajamnya, "Ada kabar baik apa hari ini?"Reina tersenyum, "Ah .... Sisil mau pergi kencan."Kencan ....Maxime menatap Reina. Dia dan Reina sudah lama tidak berkencan, malah sekarang mereka tidur di kamar terpisah."Nana.""Hm?" Reina menatap Maxime dengan bingung."Gimana kalau kita jalan-jalan hari ini?" Maxime menyarankan.Reina menggeleng, "Nggak ah, aku masih banyak kerjaan di kantor yang harus kuselesaikan. Lagian aku belum punya bukti kalau Syena sudah transfer aset perusahaan."Maxime tidak berdaya.Dia tidak menyangka Reina akan bekerja lebih keras darinya dalam hal pekerjaan."Oke, kalau sudah selesai, kita jalan-jalan ya."Reina mengangguk, "Oke."Maxime mengantarnya ke Grup Yinandar.Ketika Reina keluar dari mobil, Maxime meraih tangan Reina.Reina kembali menatapnya dengan bingung, "Hm? Ada apa?"Maxime menatap wajahnya dalam-dalam, "Nggak apa-apa. Nanti malam aku jemput ya.""K
Manajer itu bingung.Mereka mengundang Marshanda dengan susah payah.Maxime berjalan ke depan dan Marshanda buru-buru mengejarnya setelah mendengar komentar Maxime."Pak Maxime, aku sudah berubah, tolong beri aku kesempatan ini. Aku sudah tandatangan kontrak." Dengan berbagai cara akhirnya Marshanda bisa punya kontrak kerja sama dengan Grup IM.Maxime terdiam sesaat, "Jangan khawatir, karena kamu sudah menandatangani kontrak, perusahaan akan bayar ganti rugi."Marshanda tercengang.Marshanda memberanikan diri menghadang Maxime."Pak Maxime, masa Anda nggak bisa memberikan kesempatan orang untuk menebus kesalahan? Bukannya Nana juga sudah maafin aku? Dulu aku 'kan cuma suka Anda, apa salahnya? Aku 'kan nggak melakukan kejahatan yang keterlaluan?"Maxime masih tidak tahu hilangnya Reina setahun yang lalu ada hubungannya dengan Marshanda atau tidak.Alasan kenapa dia menahan Marshanda waktu itu adalah karena mungkin dia tahu keberadaan Reina.Maxime menatap Marshanda dengan tidak sabar, "
Marshanda pikir setelah Reina amnesia, dia bisa menyetir Reina. Tidak disangka sikap Reina masih sama seperti dulu.Suasana hati Marshanda jadi sangat buruk saat Reina mengusirnya.Dia masuk ke dalam mobil dan hendak minta sopir melaju pergi saat dilihatnya Syena berdiri tidak jauh dari situ.Marshanda mengenakan kacamata hitam dan maskernya, lalu berjalan menghampiri Syena."Nona Syena, kok kamu di sini sendirian?"Syena sampai gemetar ketakutan karena terkejut.Syena menoleh dan memelototi Marshanda, "Aku mau di mana kek ya bukan urusanmu. Kamu ngapain juga ada di sini?"Marshanda tidak bisa lagi menahan amarahnya.Dia memberi tahu Syena tentang kesepakatan kerjasama yang dia terima, tapi dibatalkan.Dia pikir Syena akan menghiburnya, ternyata tidak.Syena berkata padanya dengan sinis, "Kamu benar-benar nggak berguna. Kalau aku jadi kamu, nggak mungkin jadi seperti ini."Sesabar apa pun Marshanda, dia sudah tidak bisa terima lagi."Cih! Yah, seenggak bergunanya aku, aku nggak pernah
"Oke, ayo pulang," ucap Marshanda pada sopir.Dalam perjalanan, asisten Marshanda mengernyit bingung, "Kak Marsha, yang tadi di luar itu Nona Syena?"Marshanda menatapnya, "Pura-pura aja nggak lihat apa pun dan nggak usah ngomong apa-apa ya."Asisten Marshanda menjadi semakin bingung.Bukannya mereka baru melihat Syena di luar restoran? Kenapa harus berpura-pura tidak melihat, tidak boleh mengatakan apa pun pula?Marshanda tidak menjelaskan. Meski dia tahu apa yang akan dihadapi Reina, dia tidak berencana memberi tahu siapa pun.Karena di lubuk hatinya, dia masih berharap Reina akan mati!Dia benci Reina, kenapa Reina bisa mendapatkan segalanya. Kenapa dirinya harus bekerja begitu keras tapi semua usahanya berakhir sia-sia?Kenapa hidup Reina lebih baik darinya?Marshanda tidak terima!Dia baru merasa damai setelah Reina meninggal karena artinya semua sudah benar-benar berakhir.Marshanda pun memejamkan mata dan tertidur....Saat ini di Grup Yinandar.Rizki melewati pintu kantor Reina
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba