Perkataan Riki menarik perhatian Deron."Tante Sisil kenapa?""Tante Sisil hebat banget," puji Riki. "Dia itu manis dan pintar berkelahi, pasti banyak pria suka sama dia."Riki sengaja berkata seperti itu.Deron jelas cemburu, terkadang laju mobil mereka terlalu cepat, kadang selambat kura-kura."Serius?""Iya lah. Dulu waktu dia ketemu klien di luar, banyak lho yang suka sama dia." Riki berkata sambil menopang dagunya. "Jadi kalau dibanding Tante Sisil, Om Deron harus berusaha lebih keras. Coba lihat wajah Om Deron yang dingin kayak kulkas gitu, mana ada wanita yang berani deketin Om?""Om 'kan sudah nggak muda, orangtua Om juga mulai mendesak untuk menikah, 'kan?"Bicara tentang orang tuanya, Deron merasa gelisah.Dia menghentikan Riki bergosip, "PR-mu sudah selesai semua belum? Kalau belum, cepat selesaikan."Awalnya Riki masih ingin menggoda Deron, tetapi begitu diingatkan tentang PR, dia langsung mengeluarkan bukunya.Setelah Deron mengantar Riki ke TK, dalam perjalanan pulang dia
Reina juga sangat terkejut. Sisil di toilet selama satu jam lho, kenapa belum keluar juga?Melihat Deron masih menunggu Sisil, Reina pun menelepon Sisil."Sisil, ngapain kamu di toilet? Lama banget?"Sisil menjawab ragu-ragu, "Apa Deron sudah pergi?"Reina tidak mengerti maksudnya, "Belum, kenapa?""Kalau gitu mendingan aku tetap di toilet deh. Nanti aku keluar kalau dia sudah pergi." Sisil benar-benar tidak ingin menghadapi pria yang disukainya.Akhirnya Reina paham kenapa Sisil tidak kunjung keluar dari toilet."Sisil, justru dia di sini buat nungguin kamu. Cepat keluar," kata Reina."Dia nungguin aku?" Sisil mengernyit bingung, lalu menggeleng, "Nggak usah deh, suruh dia pergi aja."Sisil tidak ingin terluka lagi."Kamu nggak mau nanya kenapa dia mau ketemu kamu?" Reina bertanya."Nggak usah, aku nggak mau mikir apa-apa sekarang." Sisil menghela napas dan bersembunyi di pojok sendirian.Reina juga sudah mendengar cerita mereka kemarin."Mau aku tanyakan nggak?"Reina merasa, seperti
Dalam rekaman yang dibawakan Deron, terdengar jelas Syena akan bergabung dengan rival bisnis untuk memfitnah Grup Yinandar, bahkan merusak saham Grup Yinandar.Reina benar-benar tidak menyangka Syena akan begitu kejam.Reina tentu saja harus menemukan cara untuk mencegah hal ini.Kantor Rizki ada di sebelah kantornya, Rizki sering masuk ke kantor Reina untuk menanyakan apa ada yang bisa dia bantu, dia khawatir Reina diintimidasi para eksekutif senior perusahaan.Reina sudah tahu perbuatan Rizki padanya dan Riko, jadi Reina bersikap dingin padanya.Rizki bisa melihat dendam Reina terhadapnya. Alasan kenapa dia bisa bertahan di perusahaan adalah berkat toleransi Reina.Rizki tidak meminta lebih, dia hanya ingin melindungi Liane sekeluarga dari balik layar.Saat ini, di rumah sakit.Kondisi Liane tidak terlalu optimis, dia hanya bangun beberapa jam saja dalam sehari, sisanya dia hanya bisa tidur.Sesekali dia juga menjenguk putri Syena, dia merasa kasihan pada anak itu."Syena nggak jengu
"Syena, tolong urus administrasi biar Ibu bisa pulang dari rumah sakit," ucap Liane.Syena adalah putri yang sudah dia besarkan selama ini, meski bukan putri kandung, tetap saja ada perasaan yang terjalin antara keduanya. Liane ingin melihat, apa Syena sungguh sekejam itu padanya?Ekspresi Syena langsung berubah, "Oke, aku urus sekarang."Setelah itu, Syena menatap sekretaris Liane dengan bangga."Bu Lisia, aku itu lebih memperhatikan pada kesehatan ibu daripada kamu. Kalau ibu ikut aku pulang, dia pasti lebih cepat sembuh."Ekspresi Lisia berubah dan hanya bisa menatap Syena yang pergi dengan bangga.Setelah Syena pergi, Lisia pun bertanya pada Liane, "Bu Liane, Anda belum boleh pulang."Entah mengapa Lisia merasa pasti ada hal buruk yang terjadi jika Liane pulang.Jelas-jelas Liane sudah rutin melakukan pemeriksaan dan mendapat perawatan terbaik, tapi kondisi Liane terus memburuk. Apalagi dokter bilang kemungkinan dari makanan, Lisia pun curiga.Liane tahu kekhawatiran Lisia, dia men
Ternyata tidak semua karyawan Grup Yinandar itu orang biasa. Ada seorang perempuan yang jumlah pengikutnya di media sosial mencapai jutaan orang.Perempuan itulah yang merekam dan mengunggah semua perkataan Syena."Padahal kami juga nggak mengobrol sama sekali waktu jam kerja," lanjut perempuan itu tanpa rasa takut. "Paling pas jam makan siang.""Status kami di sini 'kan karyawan, bukan budak. Masa kami nggak berhak mengobrol?""Pemimpin perusahaan saat ini benar-benar nyeremin."Sementara itu, kedua rekannya yang lain hanya memiliki beberapa orang pengikut, tetapi mereka tetap mengunggah video pernyataan Syena.Amarah para pengguna media sosial langsung tersulut."Wah, ternyata ada juga kejadian kayak gitu di perusahaan sebesar itu!""Bukannya sudah ada kontrak yang mengikat? Masa mereka main dipecat sepihak cuma gara-gara ngobrol?""Di dunia ini memang ada orang yang meremehkan hukum! Lebih baik si pelapor mengajukan tuntutan atau melaporkan perusahaan itu."Saat melihat komentar itu
"Kalau kamu nggak mau minta maaf, Tante juga nggak bisa apa-apa," kata Naria dengan dingin. "Biar Tante telepon Nana dan memintanya menyuruh departmen personalia untuk minta maaf atas namamu. Tapi, kamu nggak boleh kembali ke perusahaan untuk sementara waktu."Pernyataan Naria ini sangat jelas menyatakan bahwa perusahaan akan mengorbankan Syena demi membungkam opini publik dan menyelamatkan nama baik perusahaan.Syena sontak tertegun, "Tante, bisa-bisanya Tante memperlakukanku begini?""Kamu pikir saja baik-baik. Tante kasih waktu satu hari, besok berikan jawabanmu pada Tante."Naria pun menutup telepon dan menelepon Reina.Reina sudah tahu tentang berita yang viral itu. Dia juga tahu bahwa solusi terbaik saat ini adalah dengan meminta maaf dan berdamai dengan ketiga karyawan yang dipecat itu.Naria meminta Reina untuk menunggu.Reina setuju.Setelah itu, Reina menelepon manajer departemen personalia."Bu Reina, saya benar-benar nggak menyangka masalah ini akan merembet begini dan meni
"Oh, sudah pulang, ya.""Iya," jawab Syena sambil mengangguk dengan santai.Dia pun berjalan ke dapur, "Aku bikinin susu, ya, Bu. Minum segelas susu di malam hari itu baik buat kesehatan Ibu.""Oke," kata Liane sambil menatap Syena dengan tenang.Sesampainya di dapur, Syena dengan jahatnya kembali menuangkan obat ke dalam gelas Liane.Dia tidak percaya Liane bisa selalu selamat dari marabahaya dan berumur panjang.Jika Liane meninggal malam ini, besok pagi Syena bisa mendesak Reina untuk mundur dari posisi CEO!Begitu terpikir akan hal itu, tangan Syena sontak gemetar, hampir saja menumpahkan obat itu. Untung, dia langsung sadar.Syena menuangkan susu panas ke dalam gelas, lalu berjalan menghampiri Liane, "Ini Bu, ayo minum."Liane mengambil gelas itu.Syena terus mengawasi pergerakan Liane. Liane terdiam sesaat, lalu akhirnya berkata, "Nanti saja Ibu minumnya, Ibu belum mau tidur.""Minum saja sekarang Bu, kalau nanti takutnya jadi dingin," bujuk Syena. Dia takut rencananya gagal."Ka
Syena merasa lega dan kembali beristirahat.Sekarang dia tinggal menunggu berita kematian Liane besok pagi.Karena sangat bersemangat, Syena sampai tidak bisa tidur sepanjang malam. Keesokan paginya, rumah sangat sunyi.Saat Syena bangun, dia masih tidak melihat Liane. Syena pun bertanya-tanya."Ibuku belum bangun?" tanyanya pada pelayan.Namun, jawaban pelayan membuat Syena berkeringat dingin, "Nona sudah bangun? Bu Liane minta Nona pergi ke rumah sakit.""Apa?" Syena membelalak.Kalau dilihat dari waktu, mustahil Liane masih hidup.Syena merasa heran dan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke rumah sakit dengan keraguan di benaknya.Sesampainya di rumah sakit, Syena mendapati ada Lisia juga Pak Gilbert.Sedangkan Liane sedang duduk tegak di ranjang rumah sakit. Kondisinya tidak terlihat memburuk dan malah terlihat lebih segar."Bu, kapan ibu ke rumah sakit? Kok nggak ngasih tahu aku?" Syena bertanya dengan cemas.Samar-samar, firasat Syena mengatakan ada sesuatu yang buruk terjadi.Lian
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba