Setelah acara makan mereka selesai, Amira membereskan sisa makanan. Michelle dan Febby pun ikut membantu. Belum juga meja di depan mereka bersih, Raga sudah menarik tangan Amira. “Ikut gue,” ujar Raga, dengan nada memerintah. Evan berdiri, hendak menyela. Namun, Amira mencegahnya. Raga berdiri tepat di depan Evan. “Jangan ganggu.” Dia memberikan peringatan. “Gue pingin pacaran.”Amira bisa mendengar decak kesal dari Evan. Meski begitu, Evan tidak mengejar sama sekali. “Kita cari tempat yang lebih tenang,” sambung Raga. “Biar bisa ngomong, tanpa gangguan.”Amira mengangguk pelan, meskipun matanya tampak ragu. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah yang sepi, langkah kaki keduanya bergema di sepanjang jalan. Beberapa siswa lain sudah kembali ke kelas, membuat lorong menjadi lebih lengang.Raga berhenti di sebuah lorong yang jarang dilalui, jauh dari ruang kelas dan sudut sekolah yang biasanya ramai. “Di sini aja.” Raga memilih sudut lorong. “Gak bakal ada yang lewat.”Amir
"Akhirnya kalian datang juga!” Michelle berseru sambil melambai pada Amira dan Raga yang baru masuk ke dalam kelas. “Ada apa?” Amira mendapati suasana kelas yang tampak berbeda. Beberapa siswa sibuk mengobrol. Amira mendengar sebagian topiknya, pemilihan.“Kita diminta buat kampanye.” Ucapan Evan membuat Amira memandang cowok itu bingung. Amira sampai harus terdiam sebentar untuk mencernanya. Evan tadi bilang apa?"Kampanye?" Amira mengerutkan kening. Rasanya Amira dan Raga baru pergi sebentar. Dalam waktu sesingkat itu, mereka tiba-tiba saja diminta untuk kampanye. “Kampanye apa?” Amira masih tidak mengerti. Pemilihan apa yang akan dilakukan oleh Laveire? Ding!Nada untuk pengumuman terdengar lewat speaker di dalam kelas. Suara Reynald bergema setelahnya. “Kepada siswa kelas XI bernama Evan, Amira, Raga, dan Michelle, segera datang ke ruang kepala sekolah. Sekarang.”Raga yang pertama berdecak keras. Padahal baru hari pertama, tapi Laveire sudah merepotkan begini. “Yuk!” Evan
“Kalian bisa mulai sekarang,” ucap Reynald tanpa beban. “Sekarang juga?” Amira pikir dia masih memiliki waktu tersisa, tapi sepertinya tidak ada. Pintu ruangan Reynald kembali diketuk. Saat Reynald memberikan izin masuk, terlihat Sonya yang muncul dari balik pintu. “Kelasnya sudah saya siapkan, Pak Reynald.” Sonya memberikan tanda jika mereka bisa memulai kampanye ini. Reynald pun bangkit dari kursinya. Dia melirik ke arah empat murid yang sejak tadi sudah berada di dalam ruangan. “Ayo,” ajak Reynald. Tangannya membawa kotak suara, sementara kertas yang sudah disiapkan, diberikan pada Sonya. Evan mengangkat bahu. Dia terlihat senang di balik senyum samarnya. “Yah, mau gimana lagi? Lebih cepat lebih baik, kan?” Mereka berjalan menyusuri lorong Laveire. Langkah mereka kemudian berhenti di kelas pertama. Kelas X. Harusnya adik kelas tidak membuat mereka tegang. Namun, ternyata tidak demikian. Amira berulang kali menarik napas untuk menyiapkan diri. Sonya mendahului. Dia masuk
"Tenang dulu!" Sonya meminta perhatian seisi kelas. Dia menunggu suasana kondusif sebelum menjelaskan cara memberikan suara. "Ibu akan memberikan kertas ini. Silakan tulis nama calon yang kalian pilih, lalu lipat kertasnya." Tangan Sonya menunjuk ke arah kotak suara yang sudah diletakkan Reynald di atas meja guru di depan kelas. "Setelah itu, masukkan kertasnya ke kotak ini." Para siswa mengangguk mengerti. Setelah yakin tidak ada yang bertanya, Sonya membagikan kertas yang sejak tadi ada di tangannya. Semua siswa kelas X menuliskan pilihan mereka di kertas yang dibagikan lalu memasukkannya ke dalam kotak suara. “Kalian bisa melanjutkan pelajaran.” Sonya mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kelas. Sekarang, mereka menuju ke kelas berikutnya. Di kelas XI, tidak ada hal yang jauh berbeda. Hanya saja, ada satu orang yang membuat suasana persaingan menjadi panas. "Aku akan pilih Amira," ucap Dina dengan suara lantang. Saat itu, Amira hanya bisa memberikan sebuah
“Maksudnya, Pak?” Amira melirik Reynald dengan ekspresi penuh tanya. Michelle juga tidak percaya. Reynald tersenyum. "Dari hasil penghitungan suara, yang terpilih sebagai ketua OSIS Laveire adalah Raga." “Benar. Raga mendapatkan suara terbanyak.” Sonya menunjukkan hasil penghitungan di tangannya. Raga memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan. Sementara itu, Amira dan Evan hanya terpaut satu suara, menempatkan Amira sebagai wakil ketua OSIS. Evan, yang berada di posisi ketiga, akan menjabat sebagai sekretaris. Michelle sendiri akan mengisi posisi bendahara dengan jumlah suara paling sedikit. Evan langsung memprotes. "Bapak yakin nggak salah hitung?" Reynald mengerutkan dahi. "Kamu mau saya hitung ulang?" Evan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia tahu Reynald pasti menghitung dengan benar. Evan menyaksikannya sendiri sejak tadi. Michelle menoleh ke Raga. "Raga ... lo jadi ketua OSIS." Raga memandang Michelle dengan wajah kesal. Decak keras keluar dari mulutnya berkali-k
“Gue nggak mau,” kata Raga, bersedekap.Tubuhnya bersandar pada kursi. Matanya memandang penuh penolakan. Amira sudah menduganya, tapi tetap saja dia menghela napas. “Tapi lo kan ketua OSIS,” sahut Amira. Evan memukul meja di depan mereka. Dia menunjuk Raga tidak sabaran. “Amira bener! Lo ketua OSIS. Wajah OSIS. Harusnya lo yang jadi model, mewakili semua siswa Laveire.”Raga hanya mendengus mendengar protes dari Evan. Dia balas menantang. “Ketua OSIS bukan berarti gue harus jadi model,” sahut Raga, sinis. “Malah harusnya gue yang pilih siapa modelnya.”Suasana di ruang OSIS berubah tidak nyaman. Mereka saling pandang dalam diam, seolah menunggu seseorang angkat bicara. Evan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan gelisah, sementara Amira melipat tangan, berpikir keras. Di sisi lain, Michelle hanya menunduk, berharap dirinya tidak tiba-tiba terseret dalam keputusan ini.Akhirnya, Evan menepuk dadanya sendiri. “Ya udah! Gue aja!”Evan angkat suara. Dia tidak bisa terus menunggu, t
"Lo masih kepikiran soal Dina?" Raga tak bisa terus diam melihat raut wajah Amira yang gelisah. Sejak tadi, Amira hanya menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap pemandangan kota yang bergerak cepat. “Masih,” sahut Amira jujur. Rasa bersalah merayapi dada Amira. Dia menyesal, menyadari betapa mudahnya dia dulu mengambil kesimpulan hanya dari potongan masa depan.Amira menghela napas panjang. "Bukan cuma Dina. Gue jadi kepikiran, selama ini ... berapa banyak hal yang gue salah artikan?"Amira terlalu yakin pada apa yang dilihatnya, tanpa mempertimbangkan bahwa kenyataan selalu lebih rumit dari sekadar bayangan sesaat.Raga mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Amira erat. "Lo yang bisa ngeliat masa depan itu emang anugerah, tapi bukan berarti lo harus nyalahin diri sendiri buat semua hal yang lo nggak pahamin dulu." Amira masih terus menghela. Dia tidak merasa lebih nyaman meski Raga sudah berusaha menghiburnya. Rasanya, pundak Amira masih berat dengan beban rasa bersal
“Setidaknya kamu menunjukkan kalau Laveire adalah sekolah yang bagus.” Sindiran Heri membuat Raga menatap tidak senang. Namun, Amira melarang Raga untuk mengajukan protes dengan sebuah gelengan. Jelas Amira tahu jika Raga kesal. Amira sendiri sama. Dia berusaha menjawab sebaik mungkin pertanyaan Heri, tapi tetap saja, kakek sang pacar malah memuji sekolahnya, bukan dia. “Terima kasih. Saya beruntung bisa masuk ke sekolah sebaik Laveire,” jawab Amira sopan. “Kamu juga beruntung bisa bertemu cucuku!” sahut Heri, dengan tatapan tajam. Heri berusaha mengintimidasi Amira. Namun, Amira hanya menanggapi dengan senyuman. Sikapnya tenang, seolah sindiran Heri tidak mengiris hatinya. Saat Heri akhirnya berbalik untuk pergi, Amira dengan refleks mengulurkan tangannya. “Hati-hati, Kek.” Namun, begitu tangannya menyentuh kulit Heri, sekejap pandangan Amira berubah menjadi kilasan bayangan masa depan. Dalam penglihatan Amira, Heri tampak memegang kepalanya sambil meringis. Tubuhnya sedi
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.
“Mau apa?” Amira bertanya bingung. Dilihatnya Raga mengambil handphone dan malah sibuk sendiri. Tak lama, Amira merasakan getaran dari ponselnya. Dia mengeluarkan handphone dari saku dan melihat kontak yang menghubungi. “Ngapain lo nelpon gue?!” Amira menunjukkan layar handphone miliknya yang menyala. Tertulis kontak Raga di sana.Amira tak mengerti. Untuk apa Raga menghubungi dia? Mereka kan saling berhadapan begini. “Jangan tutup telepon dari gue,” ancam Raga saat cowok itu berpamitan. “Pokoknya jangan matiin sampai lo tidur.”“Hah?” Amira mengernyit bingung. Dia tidak mengerti. “Hari pertama lo di tempat baru. Gue enggak mau sampai terjadi apa-apa sama pacar gue.”Amira menilik wajah Raga. Dia menarik tangan cowok itu penasaran. Seketika, sekelebat bayangan masa depan terlihat dalam benaknya. “Lo cemburu?” Amira menghela. “Mau tau gue ngapain aja?” Raga cuma menunjukkan satu jari. “Ha