“Huh? Anda akan mengikrarkan diri sebagai pengawal Putri Mahkota secara resmi? Tiba-tiba?!”Pagi hari di ruang tamu kediaman Gracious tempat tinggal Darissa sekarang, di waktu setelah tiga hari berlalu semenjak hari penobatan putra mahkota, … si gadis berkepala biru cerah itu, tampaknya merasa sedikit terkejut dengan apa yang dibahas oleh sang tunangan kali ini.“Kenapa harus Anda? Bukankah orang lain juga masih bany–nyak?”Darissa mendadak merasa tercekat begitu saja, tatkala sang lawan bicara yakni tunangannya, Antshel, … terlihat memberikan pandangan dingin, di saat dirinya mengutarakan perkataan barusan.Meremas lengannya gugup dengan wajah tertunduk, Darissa memberanikan diri untuk kembali berceloteh. “M-maksud Saya, Saya sangat mengkhawatirkan kesehatan Anda, Young Duke. Banyak hal yang harus diurus sebagai bakal penerus His Grace. D-dan juga ….”Aneh sekali. Ini pertama kalinya Darissa merasa sedikit sakit dihatinya, karena tatapan tak beralasan yang terasa menghantam perasaan
“Jadi, Anda mengatakan bahwa Tunangan Saya, Putri Mahkota, … tampak seperti memiliki hubungan yang spesial dengan pengawal pribadinya, yakni putra sang Duke, Lord Antshel, begitu?” Menerima kunjungan mendadak di tengah-tengah sibuknya ia mengurusi semua limpahan pekerjaan menumpuk milik ayahnya yang sakit, sang putra mahkota kerajaan Aethelred, Lancient, … mengaduk teh miliknya dengan mata yang tertuju ke arah lawan bicara. “Bagaimana Anda bisa sampai seyakin itu, Dear My Friend, … Lady Darissa?” Darissa Na Eiren, tamu dadakan yang Lancient pedulikan lebih dari pekerjaannya itu, hanya tampak menundukkan wajah tak berani dengan tangannya yang meremas gaun secara gemetaran. “Saya sangat yakin akan hal itu, l-lewat sikap yang mereka tunjukkan.” “Uh okay. Uhm, … Lady, apa Anda baik-baik saja?” tanya khawatir Lancient, sembari mengarahkan lengannya ke depan tuk menyadarkan Darissa yang menurutnya sedang bertingkah aneh sekarang. Di musim yang masih termasuk ke waktu musim panas ini,
//Hei, … Ayah.Tepat di hari ini, adalah hari peringatan ke-tiga terkait kematianmu.Penyelidikan yang Ibu lakukan untuk mencari tahu siapa orang yang telah membuatmu meninggalkannya dan aku, masih terus dilakukan.Apa kau melihatnya dari sana? Ibu tak pernah sekali pun tertidur dengan nyenyak sepanjang malam, karena ia sangat merindukanmu.Saat kutanya kenapa dia tak pernah lagi menidurkan diri tuk memejamkan mata selama jam yang seharusnya ia lakukan selagi masih bersamamu, ibu akan menjawabku dengan jawaban yang sama.Katanya, setiap kali ia tertidur lama, ia pasti akan bermimpi. Di mimpi itu, Ibu melihatmu. Lalu, ketika terbangun dari tidur yang menghasilkan mimpi, ibu akan sangat menyesal karena tak bisa tertidur selamanya, untuk bisa kembali bersama-sama denganmu.Berkat dirimu yang mengajariku dulu, aku sudah lancar menulis dan membaca catatan sendiri. Sama seperti sekarang.Kau tahu, … Ayah? Aku baru menyadari bahwa aku ini adalah seorang anak yang memiliki darah keturuna
-“Ah, akhem! Apa semuanya sudah berkumpul di sini?”--“Ya, Your Excellency?”--“Kami semua sudah berkumpul di mari atas arahan dari Anda.”--“Apa Anda memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan pada kami?”-Semua orang yang bekerja di kediaman sini, merasa begitu heran tatkala mereka disuruh oleh sang Marquess Eiren muda, Myles, … tuk berkumpul di aula mansion pada malam hari di musim dingin begini.-“Ukh, ukhum. Aku ingin memperlihatkan sesuatu pada kalian.”-Myles yang entah kenapa terlihat menampilkan raut muka bangga dengan wajah memerahnya itu, memberikan putri pertamanya yang baru menginjak satu tahun lebih dari pangkuannya, … ke dekapan sang istri, Gloriella.Mereka berdua yang tadinya berdiri bersama secara berdampingan, kini berpisah saling berhadapan satu sama lain, … dengan posisi masing-masing yang berada di ujung dekat lonjongnya kerumunan para pekerja rumah.-“Lihat betul-betul! Alesya kecilku sudah bisa berjalan banyak.”-Kaki yang ditekuk satu, disertai tangan yang
“Ini sudah satu tahun ya, … Leira.”Di musim semi ini, sang Marquess of Eiren, Hisahilde, … tengah mengunjungi makam keluarga Eiren lain. Terutama, makamnya Alesya Eilaira, … dengan membawakan karangan bunga eglantine yang diletakan di dekat batu nisan.“Kau tahu, aku sudah banyak-banyak berusaha untuk tetap bangkit setelah terpuruk dengan momen di mana aku harus kehilanganmu. Ray juga begitu.”Kupu-kupu sihir bersayap merah muda, bertebaran di antara Hisahilde yang berdiri dengan tegap mengenakan topi komandan militer dan jubah kebesaran bersimbol kalajengking hitam, … menghadap lurus ke arah terbaringnya makam Alesya.“Aku berusaha dengan sangat keras untuk mengembangkan bakat kekuatan mata Ray. Sekarang, aku tahu kalau mata terkutuknya memiliki kekuatan telepati.”Menatap sendu batu nisan bertuliskan nama yang terbilang cukup rumit diucapkan itu, Hisahilde kembali bergumam. “Demi membawa kembali Darissa kita. Demi membalaskan kematianmu karenanya. Aku, akan melakukan operasi besar
“Tolong! To-t-tolong Saya! A-ada orang yang mengejar Saya!”Berlari ke sana kemari mencari pertolongan dengan penampilan kacaunya yang mengkhawatirkan, seorang anak perempuan yang berambut hitam acak-acakan, mata biru yang melelehkan air mata, gaun cantiknya yang robek-robek dengan kaki yang beralas sepatu sebelah, … menjauhi kereta kuda yang terguling karena dipepetkan oleh kejaran orang-orang yang menangkap ibunya kemarin malam.“Hei, jangan bantu dia. Sepertinya dia memiliki masalah dengan seseorang. Bisa gawat nanti kalau kita terlibat.”“Diam saja. Jangan lihat dia.”“Aku tidak lihat~ aku tidak lihat~”Akan tetapi, bukan uluran pertolongan yang ia dapatkan, … melainkan, hanya pembicaraan yang menampakkan bahwa mereka semua terang-terangan mengabaikan permintaan penuh pengharapan darinya.Tak ada pilihan lain.Si anak perempuan itu yang sekarang berada di posisi wilayah kekuasaan Mark Eiren, segera menggerakkan kakinya yang sakit dengan langkah cepat secara terpaksa, … menuju ke r
“Hisahilde.”Huh?“Hei! Hisahilde.”Membuka matanya lebar-lebar dan lekas menjelajahi pemandangan di sekeliling yang hanya berupa sekumpulan awan kabut putih, … Hisahilde merasakan sebuah kebingungan yang sangat-sangat memusingkan.Apa ini? Dia sudah berada di alam baka secepat ini?Padahal, dia masih ingat betul. Barusan, dia hanya terkena tusukan pedang Lingmao di perut, lalu di tusuk lagi oleh Antshel yang membangkitkan diri secara tertatih-tatih, … menghunjami tulang rusuknya dengan beberapa dorongan ayunan pedang. “Hisahilde~”Baru sadar kalau namanya telah dipanggil selama tiga kali oleh dua orang yang begitu ia kenal, Hisahilde … mengerutkan alisnya keheranan.“Paman, Bibi? Kenapa kalian ada di sana?"Ya. Mereka berdua, yang memanggil Hisahilde beberapa saat lalu itu … adalah pasangan Eiren yang muncul di hidup si laki-laki berambut navy tersebut, sewaktu mereka masih menjadi orang tua muda.“Ayo ke sini."“Menyeberanglah kemari.”Pasangan suami-istri muda itu mengulurkan ren
Sebenarnya ….ZRASHH!“Hei, bangun!”… Kesalahan apa yang telah ia perbuat, sampai-sampai dirinya ditangkap oleh seseorang dan dibawa ke tempat yang sangat asing ini?“Hei! Kubilang bangun!”Meringis nyeri karena orang yang telah membawanya ke tempat ini menjambak rambutnya yang telah basah akibat diguyur seember air barusan di musim gugur yang sejuk, … orang yang dijambak tersebut, putri bungsu Marquess Myles Na Eiren, juga adiknya Marchioness baru, Alesya Eilaira Na Eiren, … Darissa, … menatap si orang yang menutupi mukanya dengan sehelai kain hitam, dengan pandangan yang benar-benar takut.“Jangan bersikap tidak sopan, apalagi sampai bersikap kurang ajar di depan Tuan Putri.”Memasangkan kalung besi yang dipakaikan sihir pengacau Mana pada Darissa, orang itu juga tak luput mengikatkan si gadis pemilik rambut biru langit itu sebuah rantai pengekang kaki dan tangan yang terikat ke tembok. Hal ini berupaya untuk membuatnya menjadi tak akan mampu melarikan diri dengan sangat mudah.“J
“Semangat~! Lancient~! Semangat~!”Aira bersorak-sorai di pinggir lapangan, dekat petak bagian yang digunakan oleh ketiga anak lelaki yang sudah mengingat masa lalu mereka itu, sebagai tempat pelatihan mereka bertiga supaya mengasah kemampuan bela diri mereka agar lebih tajam lagi.Masing-masing dari mereka berdiri di tiga tempat berbeda, saling berhadapan dengan satu dan lainnya, selagi membawa senjata yang terbuat dari sihir. “….”“….”“Semangat~! Lancient~! Kyaaa~!”Selain dari anak bersangkutan yang namanya terus-menerus dipanggilkan sebagai bentuk penyemangat, ada dua anak lain.Yakni, Ruffin dan Hisahilde.Keduanya kini malah saling memandang satu dengan yang lainnya dengan tatapan serupa, yaitu, tatapan mata penuh rasa ngeri dan geli.Tak berlangsung lama, mereka pun lekas mengalihkan tatapan tersebut kepada sang pangeran berambut pirang, Lancient.“Oh, serius. Dia sangat mengganggu!” tukas Ruffin mengeluhkan isi hatinya secara blak-blakan. Sedangkan itu, Hisahilde, ….“Apa A
“A—?! Apa-apaan Anda ini?!” tegur Alesya, seraya menolehkan kepalanya ke arah samping kiri, memandang Hisahilde dengan penuh kekesalan.“Saya belum mengizinkan Anda untuk duduk di samping Saya lo~!?”Dia menghardik sang sepupu yang tidaklah berhubungan dekat dengannya itu, menggunakan bahasa formal.Struktur kalimatnya dipenuhi oleh kesopanan, memang. Namun, tidak dengan nada suara yang ia keluarkan.Mendapati yang ditegurnya tidak mengindahkan teguran itu sama sekali, malahan dia bersikap cuek bebek saja dengan mulai menyantap makanannya sendiri, … kekesalan yang Alesya rasa, kini mulai semakin memuncak.“Anda benar-benar ya …!?”Dalam hatinya, ia berpikiran bahwa dirinya memiliki niatan kurang bagus, berupa ingin menyingkirkan sepupunya itu pergi dengan cara mendorongnya dari kursi.Namun, ….“Biarkan saja, kakak.”… Berkat Darissa yang berkata seperti itu, Alesya pun akhirnya menyerah juga.“Haa … dasar.”Dia menghela nafasnya pasrah, dan lekas menukar raut muka penuh rasa keki itu
TUK! TUK!“…?”Ketukan pada salah satu meja kantin yang tengah ditempati olehnya bersama Alvina, mengalihkan perhatian dari mata hitam gelap kepunyaan sang putri dari Kekaisaran agung Violegrent, Rosalina Earlene Gina, tuk tertuju kepada si pengetuk.“Boleh minta waktunya sebentar, ….”Manik mata yang seindah batu obsidian itu terbelalak lumayan lebar, merasa tidak memercayai akan hal macam apa yang pupil matanya pantulkan.“… Your Royal Highness?”Hadir di samping mejanya sana, seorang anak lelaki pemilik warna rambut biru tua dan juga mata merah menyala, yang berdiri dengan tegap sembari menyembunyikan lipatan tangan di belakang punggungnya ala-ala ksatria.“…!”Anak lelaki itu biasanya bermuka masam dan menampilkan ekspresi tidak suka terhadap kehadiran Rosalina. Namun, kali ini justru bersikap berbeda lewat segaris senyuman tulus yang disunggingkannya, … sampai-sampai sang putri kesayangannya Kaisar Violegrent itu terperangah dengan pipi merah merekah.“U-uhm, uh.”Rosalina tidak
“Huh …? K-Kanselir? B-Bernium?” Hisahilde terbengong untuk sesaat. Benaknya kini berusaha lebih keras tuk mengingat-ingat terkait nama bangsawan “Bernium”, yang sungguh terdengar sangat asing ditelinga. Seingatnya, seumur hidupnya di masa lalu sebagai bagian dari ksatria kediaman Eiren itu, ia tak pernah mendengarnya di mana pun. Lalu mengapa, sekarang ini …. “Apa yang sebenarnya sedang kau lamunkan, Tuan muda Bernium?” … Panggilan nama belakang yang kedengarannya milik bangsawan kenamaan, justru dilayangkan kepadanya seorang? “Anu … itu …. S-sejak kapan Saya bukan lagi bagian dari Eiren? Sampai kapan pun, sepertinya Saya akan terus terikat dengan rumah itu secara senang hati,” tukas Hisahilde ragu-ragu, menatap Ruffin sambil mengusap tengkuknya yang terasa pegal. “Sejak aku mengirimkan ayahku supaya mencegah ayahmu melakukan percobaan bunuh diri tentunya. Memangnya apa lagi?” balas Ruffin penuh percaya diri, dilihat dari dirinya berdiri dari tempatnya duduk, lalu mengusap pon
“Oh! Syukurlah! Akhirnya kau sadar, Rui!”Ruffin mengerjapkan matanya beberapa kali.Mendengar dan melihat, juga positif memastikan kalau hanya ada Lancient saja di samping, anak laki-laki berambut merah itu berpikir, ia bebas berekspresi.“Sialan!” umpatnya, sembari mendudukkan diri dan langsung memegangi kepala. “Kepalaku serasa ingin meledak.”“Tapi ini adalah rekor baru loh,” timpal Lancient antusias, memandang master sihirnya di masa lalu dengan berbinar-binar.“Kau hanya tidak sadarkan diri selama seharian penuh saja. Tidak seperti saat kau pingsan setelah mengembalikan ingatanku.”Hm, … benarkah?Ekhem!Mendapatkan ucapan kekaguman dari si pangeran berambut pirang tersebut, tak ayal, sudut bibir Ruffin terasa gatal.Dia yang tadinya mengerahkan sebelah tangan kanan untuk memegangi kepala dan sedikit meremas rambutnya akibat merasa pusing, kini mulai beralih.Mengalihkan pergerakan jari-jemarinya tersebut, tuk mengusap poninya supaya tersisir ke belakang.“Well yeah. Siapa dulu
“….”TRP!Putri pedang kepercayaan sang Kaisar Violegrent, Alvina Desideria Kennard, berdiri beberapa langkah dari seseorang yang tengah duduk meringkuk memeluk lutut, … sembari memasang ekspresi muka yang datar.Gadis berambut biru beri itu terfokus melihat bagaimana tubuh sang putri kekaisaran yang dikejarnya, yakni saudari kembarnya orang yang ia suka, Rosalina, bergetar karena sesenggukan.Dia sedang menangis, … rupanya.“Your Royal Highness.”Alvina memanggil dengan lembut padahal.Namun, panggilannya itu justru membuat sang putri tersentak hebat.“Bolehkah Saya mendekati Anda sekarang?” Tanyanya meminta izin secara hormat, dikarenakan hubungan pertemanan mereka sudah lumaya
“Hm~!”Ah, hari yang indah.Hisahilde tak bisa berhenti tersenyum, setelah ia menang untuk pertama kalinya melawan Fennel Eglantine, pada satu minggu yang lalu.Ini adalah sebuah kebanggaan yang patut dikenang lama.Sebuah kemenangan yang ia dapat, setelah berkali-kali melawan dan tak lelah berlari keras, untuk mendapatkan kehormatan tersebut.Walaupun hanya sekali, tetap saja ini patut diapresiasi.Tak apa jika tak diapresiasi oleh orang lain.Setidaknya, ia harus mengapresiasi kerja kerasnya sendiri.Dia mengambil waktu luang untuk memanjakan tubuh.Mulai dari mandi sampai ke mengenakan pakaian rapi, memakai wewangian, dan menyisir poni rambutnya ke belakang, … semuanya ia lakukan secara mandiri.&nbs
“Miss Eiren. Anda kemari lagi hari ini?”“Tentu saja~!”“….”Aira menatap kosong gadis berambut permen kapas, yang tengah mengobrol dengan sok akrab bersama resepsionis perpustakaan di lantai dasar sana, dari lantai kedua.“Saya permisi dulu ya~!”“Ya! Nikmati waktu luang Anda dengan membaca buku yang bermanfaat!”Manik putih ivory miliknya yang seindah mutiara, menggelincir. Keduanya bergerak mengikuti langkah si penyandang nama kehormatan Eiren itu, di mana dia mulai berjalan mendekati lantai tepat di bawah Aira.“Hm, ….”Gumamannya keluar, begitu sudut matanya menangkap gambaran benda ditangan, sebuah buku bervolume tebal nan cukup berat.Ide licik dan terbilang sangat jahat pun muncul.“Ups!”Aira melemparkan buku yang barusan masih ada dalam pertanggungjawabannya itu, supaya sengaja jatuh mengikut gaya gravitasi.SRAKK!Secara cepat, kertas-kertas yang terbuka juga disapu angin lalu sampai-sampai suara bolak-baliknya terdengar jelas, mengundang Alesya tuk melongok ke atas.Dan,
BUK! BUK! BUK!“Uwahhh!”“Hm~?”Seorang pelayan peneman murid perempuan berambut merah muda, yang tengah merasa gemas karena ia memukul-mukul bantal di atas ranjang milik sendiri, tersenyum mengamati.“Miss Alesya,” panggilnya lembut, berusaha menyudahi aksi dari majikan mudanya ini dengan sebuah pertanyaan.“Apa ada yang bisa Saya bantu?”Poppy, itu adalah namanya.Pelayan muda yang usianya kurang lebih sebaya dengan sang nona yang ia layani ini, memiliki rambut berwarna merah ati.Mata hijau anggurnya yang menyorot halus, memandang sang nona secara teliti.Tidak lupa, sebuah senyuman mulai merayap dan membentuk sebuah patri.“Uhh, aku hanya ….”Ah, sungguh.Mendapati putri sulung Marquess Eiren bahagia seperti itu, di mana gadis berambut permen kapas tersebut, mulai memeluk dan menyelusupkan sebagian wajah ayunya kepada bantal yang tadi ia pukuli dengan muka terlihat begitu merah merona, … ini mendorong Poppy secara alami ikutan bahagia.“Hanya …!”Alesya melirik Poppy menggunakan e