Matahari mulai tenggelam, menorehkan bayangan panjang di lembah yang sunyi dan mengerikan. Lie Feng, Master Jian, Mei Lin, dan Lin Xue terus berjuang, namun mereka semakin terdesak. Luka-luka mereka semakin parah, tenaga mereka semakin menipis. Harapan untuk bertahan hidup mulai memudar di balik bayangan senja yang semakin gelap."Kita tidak bisa terus berlari," kata Lie Feng, suaranya lemah dan serak. Ia menghindari tebasan pedang musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. Tubuhnya bergetar karena kelelahan dan rasa sakit."Aku tahu," jawab Master Jian, ia menciptakan pusaran angin untuk menghalangi serangan musuh, tetapi pusaran angin itu sudah tidak sekuat sebelumnya. Luka di punggungnya semakin perih. "Tapi kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.""Kita tidak memiliki waktu untuk itu," kata Mei Lin, ia menembakkan sinar energi ke ara
Napas Lie Feng memburu. Luka-lukanya berdenyut hebat, setiap gerakan terasa seperti siksaan. Master Jian, dengan tubuh yang berlumuran darah, bersandar pada dinding batu, tebasan pedangnya sudah tidak sekuat sebelumnya. Mei Lin, dengan mata yang sayu, mencoba untuk menembakkan sinar energi, tetapi tenaganya hampir habis. Mereka terpojok. Mereka hampir tidak berdaya. Musuh mengepung mereka dari semua arah."Kita tidak bisa bertahan lama lagi," kata Master Jian, suaranya lemah dan terengah-engah. "Mereka terlalu banyak.""Aku tahu," jawab Lie Feng, ia menghindari serangan musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. "Tapi kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.""Tidak ada cara," kata Mei Lin, ia menembakkan sinar energi yang lemah ke arah musuh, tetapi sinar energi itu dengan mudah dihalau. "Kita akan mati di tempat ini."Lie Feng menatap sekitar, menca
Udara lembap dan dingin menusuk tulang. Bau tanah basah dan aroma anyir darah masih memenuhi rongga sempit gua. Lie Feng, dengan luka di lengan dan rusuknya yang berdenyut keras, mencoba untuk menangani luka-lukanya dengan tangan yang gemetar. Master Jian, dengan luka di punggungnya yang menyiksa, bersandar lemas pada dinding batu yang dingin. Mei Lin, wajahnya pucat karena kehilangan darah, mencoba untuk menahan rasa sakit yang menyiksa di kakinya. Ketiga kombatan itu terdiam, hanya suara napas yang tersengal-sengal dan rintihan sakit yang memecah kesunyian yang menekan. Kehilangan Tuan Gu masih terasa sangat berat."Ini... ini semua salahku," gumam Lie Feng, suaranya teredam oleh kesedihan. Air mata mengalir di pipinya, mencampur dengan keringat dan darah. "Aku seharusnya bisa melindunginya."Master Jian, dengan suara yang lemah, menjawab, "Jangan katakan itu, Lie Feng. Kita semua telah berjuang sekuat
Api unggun kecil berkobar di tengah gua, menghasilkan cahaya yang menghibur di tengah kegelapan. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilinginya, wajah mereka terang oleh cahaya api, tetapi luka-luka yang masih mereka derita tampak jelas. Beberapa hari telah berlalu sejak mereka bersembunyi di gua ini, memberikan mereka waktu untuk memulihkan tenaga dan merencanakan langkah selanjutnya."Kita harus memikirkan cara untuk membalas kematian Tuan Gu," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit lemah, tetapi ada seutas tekad yang kuat di dalamnya. Ia menatap api unggun, matanya berkilat dengan tekad."Aku setuju," kata Master Jian, ia menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati, merasa rasa sakit di punggungnya yang masih berdenyut. "Kita tidak bisa membiarkan kematiannya sia-sia.""Tapi bagaimana kita bisa melakukan itu?" tanya Mei Lin, ia menggerakkan kakinya dengan hati-hati, mer
Hutan lebat menjadi medan pertempuran mereka. Sinar matahari yang jarang menembus kanopi pohon menciptakan suasana suram dan mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin bergerak seperti bayangan di antara pepohonan dan vegetasi yang lebat, menggunakan lingkungan sekitar untuk menghindari deteksi musuh. Rencana mereka telah dimulai."Pos pertahanan pertama di depan," bisik Lie Feng, matanya memandang sebuah pos pertahanan kecil yang tersembunyi di balik semak belukar yang lebat. "Aku akan menarik perhatian mereka.""Baiklah," jawab Master Jian, ia mengeratkan pegangan pedangnya. "Aku akan menciptakan angin kencang untuk menghalangi mereka jika diperlukan.""Dan aku akan memberikan dukungan dari jarak jauh," kata Mei Lin, ia menarik napas dalam-dalam, menghidupkan energi dalam tubuhnya. "Aku akan menargetkan pemimpin mereka."Lie Feng menghilang di antara pepohonan, bergerak dengan cepat dan lincah. Ia menggunakan K
Udara dingin menusuk tulang di dalam gua sempit itu. Lie Feng, dengan luka yang masih berdenyut, memegang surat itu dengan tangan yang gemetar. Master Jian dan Mei Lin menunggu dengan gelisah, mengetahui betapa berat beban yang ditanggung Lie Feng saat ini."Kau pasti bercanda," kata Lie Feng, suaranya bergetar, matanya terpaku pada tulisan yang sangat dikenalinya. "Zhao Li... teman sejatiku... dia mengkhianati kita?"Master Jian menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan suasana. "Surat ini jelas, Lie Feng. Tulisannya tidak bisa dipalsukan. Ia memberikan informasi tentang lokasi kita kepada Kelompok Naga Hitam."Mei Lin menambahkan, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan, "Tapi... mengapa? Zhao Li adalah teman sejati kau. Aku tidak bisa memahami ini."Lie Feng menjatuhkan surat itu ke tanah, kepala menunduk dalam kecewa. "Aku juga tidak memahaminya. Kita bersama-sama
Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Lie Feng, menjatuhkannya ke tanah tanpa kesadaran. Bayangan itu, yang ternyata adalah salah satu pembunuh bayangan Kelompok Naga Hitam, dengan cepat menarik Lie Feng ke dalam kegelapan penginapan. Zhao Li, dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan penyesalan, hanya bisa memandang dengan tak berdaya.Ketika Lie Feng sadar, ia terikat kuat di sebuah kursi kayu yang keras dan dingin. Ruangan itu gelap dan lembap, hanya di terangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang bergoyang perlahan. Ia bisa merasakan luka di tengkuknya berdenyut keras. Di hadapannya, duduk Zhao Li dengan wajah yang pucat dan mata yang penuh dengan air mata."Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih lemah. "Jelaskan segalanya padaku. Mengapa kau melakukan ini?"Zhao Li menangis sejadi-jadinya. "Aku tidak mau melakukan ini, Lie Feng. Aku benar-benar tidak mau
Alhirnya Lie Feng berhasil melarikan diri tanpa adanya pertarungan, yang seharus nya patut dihindari." Akhir nya aku bisa keluar dari sana ". seru Lie feng dalam hati,Lie Feng melanjutkan langkah nya untuk kembali.Udara di dalam gua terasa berat, dipenuhi ketegangan yang mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilingi api unggun kecil, wajah Lie Feng dipenuhi luka dan kelelahan. Bayangan kejadian di penginapan masih berputar di benak Lie Feng. Pengkhianatan Zhao Li, serangan tiba-tiba, dan sosok misterius yang menyelamatkannya—semuanya membingungkan dan mengancam."Kita harus membahas Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit serak. "Aku tidak bisa menerima bahwa dia mengkhianati kita begitu saja. Ada sesuatu yang tidak beres."Master Jian mengangguk. "Aku setuju. Bukti menunjukkan bahwa dia memberikan informasi kepada Kelompok Naga Hitam, tetapi aku juga merasa ada sesuatu yang tidak
Alhirnya Lie Feng berhasil melarikan diri tanpa adanya pertarungan, yang seharus nya patut dihindari." Akhir nya aku bisa keluar dari sana ". seru Lie feng dalam hati,Lie Feng melanjutkan langkah nya untuk kembali.Udara di dalam gua terasa berat, dipenuhi ketegangan yang mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilingi api unggun kecil, wajah Lie Feng dipenuhi luka dan kelelahan. Bayangan kejadian di penginapan masih berputar di benak Lie Feng. Pengkhianatan Zhao Li, serangan tiba-tiba, dan sosok misterius yang menyelamatkannya—semuanya membingungkan dan mengancam."Kita harus membahas Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit serak. "Aku tidak bisa menerima bahwa dia mengkhianati kita begitu saja. Ada sesuatu yang tidak beres."Master Jian mengangguk. "Aku setuju. Bukti menunjukkan bahwa dia memberikan informasi kepada Kelompok Naga Hitam, tetapi aku juga merasa ada sesuatu yang tidak
Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Lie Feng, menjatuhkannya ke tanah tanpa kesadaran. Bayangan itu, yang ternyata adalah salah satu pembunuh bayangan Kelompok Naga Hitam, dengan cepat menarik Lie Feng ke dalam kegelapan penginapan. Zhao Li, dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan penyesalan, hanya bisa memandang dengan tak berdaya.Ketika Lie Feng sadar, ia terikat kuat di sebuah kursi kayu yang keras dan dingin. Ruangan itu gelap dan lembap, hanya di terangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang bergoyang perlahan. Ia bisa merasakan luka di tengkuknya berdenyut keras. Di hadapannya, duduk Zhao Li dengan wajah yang pucat dan mata yang penuh dengan air mata."Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih lemah. "Jelaskan segalanya padaku. Mengapa kau melakukan ini?"Zhao Li menangis sejadi-jadinya. "Aku tidak mau melakukan ini, Lie Feng. Aku benar-benar tidak mau
Udara dingin menusuk tulang di dalam gua sempit itu. Lie Feng, dengan luka yang masih berdenyut, memegang surat itu dengan tangan yang gemetar. Master Jian dan Mei Lin menunggu dengan gelisah, mengetahui betapa berat beban yang ditanggung Lie Feng saat ini."Kau pasti bercanda," kata Lie Feng, suaranya bergetar, matanya terpaku pada tulisan yang sangat dikenalinya. "Zhao Li... teman sejatiku... dia mengkhianati kita?"Master Jian menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan suasana. "Surat ini jelas, Lie Feng. Tulisannya tidak bisa dipalsukan. Ia memberikan informasi tentang lokasi kita kepada Kelompok Naga Hitam."Mei Lin menambahkan, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan, "Tapi... mengapa? Zhao Li adalah teman sejati kau. Aku tidak bisa memahami ini."Lie Feng menjatuhkan surat itu ke tanah, kepala menunduk dalam kecewa. "Aku juga tidak memahaminya. Kita bersama-sama
Hutan lebat menjadi medan pertempuran mereka. Sinar matahari yang jarang menembus kanopi pohon menciptakan suasana suram dan mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin bergerak seperti bayangan di antara pepohonan dan vegetasi yang lebat, menggunakan lingkungan sekitar untuk menghindari deteksi musuh. Rencana mereka telah dimulai."Pos pertahanan pertama di depan," bisik Lie Feng, matanya memandang sebuah pos pertahanan kecil yang tersembunyi di balik semak belukar yang lebat. "Aku akan menarik perhatian mereka.""Baiklah," jawab Master Jian, ia mengeratkan pegangan pedangnya. "Aku akan menciptakan angin kencang untuk menghalangi mereka jika diperlukan.""Dan aku akan memberikan dukungan dari jarak jauh," kata Mei Lin, ia menarik napas dalam-dalam, menghidupkan energi dalam tubuhnya. "Aku akan menargetkan pemimpin mereka."Lie Feng menghilang di antara pepohonan, bergerak dengan cepat dan lincah. Ia menggunakan K
Api unggun kecil berkobar di tengah gua, menghasilkan cahaya yang menghibur di tengah kegelapan. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilinginya, wajah mereka terang oleh cahaya api, tetapi luka-luka yang masih mereka derita tampak jelas. Beberapa hari telah berlalu sejak mereka bersembunyi di gua ini, memberikan mereka waktu untuk memulihkan tenaga dan merencanakan langkah selanjutnya."Kita harus memikirkan cara untuk membalas kematian Tuan Gu," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit lemah, tetapi ada seutas tekad yang kuat di dalamnya. Ia menatap api unggun, matanya berkilat dengan tekad."Aku setuju," kata Master Jian, ia menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati, merasa rasa sakit di punggungnya yang masih berdenyut. "Kita tidak bisa membiarkan kematiannya sia-sia.""Tapi bagaimana kita bisa melakukan itu?" tanya Mei Lin, ia menggerakkan kakinya dengan hati-hati, mer
Udara lembap dan dingin menusuk tulang. Bau tanah basah dan aroma anyir darah masih memenuhi rongga sempit gua. Lie Feng, dengan luka di lengan dan rusuknya yang berdenyut keras, mencoba untuk menangani luka-lukanya dengan tangan yang gemetar. Master Jian, dengan luka di punggungnya yang menyiksa, bersandar lemas pada dinding batu yang dingin. Mei Lin, wajahnya pucat karena kehilangan darah, mencoba untuk menahan rasa sakit yang menyiksa di kakinya. Ketiga kombatan itu terdiam, hanya suara napas yang tersengal-sengal dan rintihan sakit yang memecah kesunyian yang menekan. Kehilangan Tuan Gu masih terasa sangat berat."Ini... ini semua salahku," gumam Lie Feng, suaranya teredam oleh kesedihan. Air mata mengalir di pipinya, mencampur dengan keringat dan darah. "Aku seharusnya bisa melindunginya."Master Jian, dengan suara yang lemah, menjawab, "Jangan katakan itu, Lie Feng. Kita semua telah berjuang sekuat
Napas Lie Feng memburu. Luka-lukanya berdenyut hebat, setiap gerakan terasa seperti siksaan. Master Jian, dengan tubuh yang berlumuran darah, bersandar pada dinding batu, tebasan pedangnya sudah tidak sekuat sebelumnya. Mei Lin, dengan mata yang sayu, mencoba untuk menembakkan sinar energi, tetapi tenaganya hampir habis. Mereka terpojok. Mereka hampir tidak berdaya. Musuh mengepung mereka dari semua arah."Kita tidak bisa bertahan lama lagi," kata Master Jian, suaranya lemah dan terengah-engah. "Mereka terlalu banyak.""Aku tahu," jawab Lie Feng, ia menghindari serangan musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. "Tapi kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.""Tidak ada cara," kata Mei Lin, ia menembakkan sinar energi yang lemah ke arah musuh, tetapi sinar energi itu dengan mudah dihalau. "Kita akan mati di tempat ini."Lie Feng menatap sekitar, menca
Matahari mulai tenggelam, menorehkan bayangan panjang di lembah yang sunyi dan mengerikan. Lie Feng, Master Jian, Mei Lin, dan Lin Xue terus berjuang, namun mereka semakin terdesak. Luka-luka mereka semakin parah, tenaga mereka semakin menipis. Harapan untuk bertahan hidup mulai memudar di balik bayangan senja yang semakin gelap."Kita tidak bisa terus berlari," kata Lie Feng, suaranya lemah dan serak. Ia menghindari tebasan pedang musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. Tubuhnya bergetar karena kelelahan dan rasa sakit."Aku tahu," jawab Master Jian, ia menciptakan pusaran angin untuk menghalangi serangan musuh, tetapi pusaran angin itu sudah tidak sekuat sebelumnya. Luka di punggungnya semakin perih. "Tapi kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.""Kita tidak memiliki waktu untuk itu," kata Mei Lin, ia menembakkan sinar energi ke ara
Kelelahan dan luka-luka mulai menunjukkan efeknya yang menghancurkan. Napas Lie Feng tersengal-sengal, tubuhnya bergetar karena kelelahan dan rasa sakit. Luka di lengan dan rusuknya berdenyut keras, mengingatkannya pada pertempuran yang sangat sengit. Master Jian, dengan luka di punggungnya, bergerak dengan lambat, tebasan-tebasannya tidak secepat dan sekuat sebelumnya. Mei Lin, meskipun masih cepat, tampak lelah dan terluka. Lin Xue, dengan wajah pucat, terus mencoba untuk menangani luka-luka mereka, tetapi ia juga mulai kehabisan tenaga. Tuan Gu, dengan luka yang semakin parah, berjuang keras untuk mempertahankan perisai energinya."Kita tidak bisa terus berlari!" teriak Lie Feng, ia menghindari serangan musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. "Mereka akan mengejar kita terus menerus!""Aku tahu," jawab Master Jian, ia menciptakan pusaran angin yang