Api unggun kecil berkobar di tengah gua, menghasilkan cahaya yang menghibur di tengah kegelapan. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilinginya, wajah mereka terang oleh cahaya api, tetapi luka-luka yang masih mereka derita tampak jelas. Beberapa hari telah berlalu sejak mereka bersembunyi di gua ini, memberikan mereka waktu untuk memulihkan tenaga dan merencanakan langkah selanjutnya."Kita harus memikirkan cara untuk membalas kematian Tuan Gu," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit lemah, tetapi ada seutas tekad yang kuat di dalamnya. Ia menatap api unggun, matanya berkilat dengan tekad."Aku setuju," kata Master Jian, ia menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati, merasa rasa sakit di punggungnya yang masih berdenyut. "Kita tidak bisa membiarkan kematiannya sia-sia.""Tapi bagaimana kita bisa melakukan itu?" tanya Mei Lin, ia menggerakkan kakinya dengan hati-hati, mer
Hutan lebat menjadi medan pertempuran mereka. Sinar matahari yang jarang menembus kanopi pohon menciptakan suasana suram dan mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin bergerak seperti bayangan di antara pepohonan dan vegetasi yang lebat, menggunakan lingkungan sekitar untuk menghindari deteksi musuh. Rencana mereka telah dimulai."Pos pertahanan pertama di depan," bisik Lie Feng, matanya memandang sebuah pos pertahanan kecil yang tersembunyi di balik semak belukar yang lebat. "Aku akan menarik perhatian mereka.""Baiklah," jawab Master Jian, ia mengeratkan pegangan pedangnya. "Aku akan menciptakan angin kencang untuk menghalangi mereka jika diperlukan.""Dan aku akan memberikan dukungan dari jarak jauh," kata Mei Lin, ia menarik napas dalam-dalam, menghidupkan energi dalam tubuhnya. "Aku akan menargetkan pemimpin mereka."Lie Feng menghilang di antara pepohonan, bergerak dengan cepat dan lincah. Ia menggunakan K
Udara dingin menusuk tulang di dalam gua sempit itu. Lie Feng, dengan luka yang masih berdenyut, memegang surat itu dengan tangan yang gemetar. Master Jian dan Mei Lin menunggu dengan gelisah, mengetahui betapa berat beban yang ditanggung Lie Feng saat ini."Kau pasti bercanda," kata Lie Feng, suaranya bergetar, matanya terpaku pada tulisan yang sangat dikenalinya. "Zhao Li... teman sejatiku... dia mengkhianati kita?"Master Jian menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan suasana. "Surat ini jelas, Lie Feng. Tulisannya tidak bisa dipalsukan. Ia memberikan informasi tentang lokasi kita kepada Kelompok Naga Hitam."Mei Lin menambahkan, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan, "Tapi... mengapa? Zhao Li adalah teman sejati kau. Aku tidak bisa memahami ini."Lie Feng menjatuhkan surat itu ke tanah, kepala menunduk dalam kecewa. "Aku juga tidak memahaminya. Kita bersama-sama
Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Lie Feng, menjatuhkannya ke tanah tanpa kesadaran. Bayangan itu, yang ternyata adalah salah satu pembunuh bayangan Kelompok Naga Hitam, dengan cepat menarik Lie Feng ke dalam kegelapan penginapan. Zhao Li, dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan penyesalan, hanya bisa memandang dengan tak berdaya.Ketika Lie Feng sadar, ia terikat kuat di sebuah kursi kayu yang keras dan dingin. Ruangan itu gelap dan lembap, hanya di terangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang bergoyang perlahan. Ia bisa merasakan luka di tengkuknya berdenyut keras. Di hadapannya, duduk Zhao Li dengan wajah yang pucat dan mata yang penuh dengan air mata."Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih lemah. "Jelaskan segalanya padaku. Mengapa kau melakukan ini?"Zhao Li menangis sejadi-jadinya. "Aku tidak mau melakukan ini, Lie Feng. Aku benar-benar tidak mau
Alhirnya Lie Feng berhasil melarikan diri tanpa adanya pertarungan, yang seharus nya patut dihindari." Akhir nya aku bisa keluar dari sana ". seru Lie feng dalam hati,Lie Feng melanjutkan langkah nya untuk kembali.Udara di dalam gua terasa berat, dipenuhi ketegangan yang mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilingi api unggun kecil, wajah Lie Feng dipenuhi luka dan kelelahan. Bayangan kejadian di penginapan masih berputar di benak Lie Feng. Pengkhianatan Zhao Li, serangan tiba-tiba, dan sosok misterius yang menyelamatkannyaâsemuanya membingungkan dan mengancam."Kita harus membahas Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit serak. "Aku tidak bisa menerima bahwa dia mengkhianati kita begitu saja. Ada sesuatu yang tidak beres."Master Jian mengangguk. "Aku setuju. Bukti menunjukkan bahwa dia memberikan informasi kepada Kelompok Naga Hitam, tetapi aku juga merasa ada sesuatu yang tidak
Angin malam mengoyak reruntuhan Kuil Dewa Langit dengan raungan yang nyaris seperti jeritan hantu. Tetapi angin yang berbisik cerita-cerita dari masa lalu, membawa aroma tanah lembap yang bercampur dengan bau rempah-rempah kuno dan debu berabad-abad."Tempat ini... benar-benar mati," gumam seorang prajurit berjubah hitam, suaranya bergetar diterpa angin. "Apakah kita yakin harus mencari di sini?""Perintah adalah perintah," jawab rekannya, matanya menyipit menembus kegelapan. "Kita harus menemukan apa yang mereka sembunyikan, apa pun itu.""Lihat," prajurit pertama menunjuk ke reruntuhan di depan mereka. "Bangunan itu... dulunya pasti sangat megah.""Tapi sekarang hanya tinggal puing-puing," sahut rekannya, mendengus. "Seperti harapan yang terkubur.""Apa maksud dari ukiran-ukiran ini?" tanya prajurit pertama, mengamati dinding yang remuk. "Apakah ini semacam peringatan?""Entahlah," jawab rekannya, mengangkat bahu. "Yang penting kita menemukan apa yang kita cari, lalu pergi dari te
Setelah bertahun-tahun berlatih keras, Lie Feng akhirnya menguasai Jurus Tapak Dewa. Ia mampu melepaskan kekuatan spiritual dahsyat, menciptakan bayangan seribu tangan yang menghancurkan lawan seketika."Lie Feng," kata Guru Agung, suaranya berat namun lembut, "Kekuatan ini harus digunakan dengan bijak. Untuk kebaikan, bukan kejahatan."Lie Feng mengangguk, matanya berbinar. "Saya berjanji, Guru Agung. Saya akan melindungi yang lemah dan menegakkan keadilan."Lie Feng, kini pemuda tampan dengan mata tajam, berdiri di reruntuhan Kuil Dewa Langit. Rambut hitamnya berkilauan. Tubuhnya, hasil latihan keras, memancarkan kekuatan dan kelenturan luar biasa.Guru Agung mengamati dari kejauhan. "Perjalananmu baru dimulai, Lie Feng. Dunia persilatan penuh bahaya dan intrik."Suatu senja, Guru Agung memanggil Lie Feng. Mereka menuju ruangan rahasia, beraroma rempah kuno. Di tengah ruangan, altar kuno dengan patung dewa yang megah. Senjata kuno mengelilinginya."Lie Feng," Guru Agung menun
Guru Agung, dengan jubahnya yang usang, memimpin Lie Feng menyusuri lorong gelap Kuil Dewa Langit. Udara dingin dan lembap menyelimuti mereka. "Guru Agung, apakah kita akan sampai?" Suaranya gemetar sedikit karena kegelapan."Sabar, Lie Feng. Jalan menuju pencerahan selalu berliku dan penuh tantangan. Ketakutanmu adalah ujian pertamamu." "Tapi... gelap sekali, Guru Agung. Aku takut." Guru Agung berhenti, menoleh ke Lie Feng. "Ketakutan adalah bagian dari kehidupan, Lie Feng. Yang penting adalah bagaimana kau menghadapinya. Lihatlah ukiran di dinding ini. Mereka adalah kisah para pendekar terdahulu. Mereka juga menghadapi ketakutan, tetapi mereka mengalahkannya dengan keberanian dan tekad." Lie Feng menunjuk ke sebuah ukiran yang menggambarkan seorang pendekar melawan naga. "Apakah dia berhasil, Guru Agung?" Guru Agung tersenyum. "Itulah yang akan kau pelajari, Lie Feng. Setiap ukiran menyimpan sebuah pelajaran. Setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh lebih kuat." Lie Fen
Alhirnya Lie Feng berhasil melarikan diri tanpa adanya pertarungan, yang seharus nya patut dihindari." Akhir nya aku bisa keluar dari sana ". seru Lie feng dalam hati,Lie Feng melanjutkan langkah nya untuk kembali.Udara di dalam gua terasa berat, dipenuhi ketegangan yang mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilingi api unggun kecil, wajah Lie Feng dipenuhi luka dan kelelahan. Bayangan kejadian di penginapan masih berputar di benak Lie Feng. Pengkhianatan Zhao Li, serangan tiba-tiba, dan sosok misterius yang menyelamatkannyaâsemuanya membingungkan dan mengancam."Kita harus membahas Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit serak. "Aku tidak bisa menerima bahwa dia mengkhianati kita begitu saja. Ada sesuatu yang tidak beres."Master Jian mengangguk. "Aku setuju. Bukti menunjukkan bahwa dia memberikan informasi kepada Kelompok Naga Hitam, tetapi aku juga merasa ada sesuatu yang tidak
Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Lie Feng, menjatuhkannya ke tanah tanpa kesadaran. Bayangan itu, yang ternyata adalah salah satu pembunuh bayangan Kelompok Naga Hitam, dengan cepat menarik Lie Feng ke dalam kegelapan penginapan. Zhao Li, dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan penyesalan, hanya bisa memandang dengan tak berdaya.Ketika Lie Feng sadar, ia terikat kuat di sebuah kursi kayu yang keras dan dingin. Ruangan itu gelap dan lembap, hanya di terangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang bergoyang perlahan. Ia bisa merasakan luka di tengkuknya berdenyut keras. Di hadapannya, duduk Zhao Li dengan wajah yang pucat dan mata yang penuh dengan air mata."Zhao Li," kata Lie Feng, suaranya masih lemah. "Jelaskan segalanya padaku. Mengapa kau melakukan ini?"Zhao Li menangis sejadi-jadinya. "Aku tidak mau melakukan ini, Lie Feng. Aku benar-benar tidak mau
Udara dingin menusuk tulang di dalam gua sempit itu. Lie Feng, dengan luka yang masih berdenyut, memegang surat itu dengan tangan yang gemetar. Master Jian dan Mei Lin menunggu dengan gelisah, mengetahui betapa berat beban yang ditanggung Lie Feng saat ini."Kau pasti bercanda," kata Lie Feng, suaranya bergetar, matanya terpaku pada tulisan yang sangat dikenalinya. "Zhao Li... teman sejatiku... dia mengkhianati kita?"Master Jian menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan suasana. "Surat ini jelas, Lie Feng. Tulisannya tidak bisa dipalsukan. Ia memberikan informasi tentang lokasi kita kepada Kelompok Naga Hitam."Mei Lin menambahkan, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan, "Tapi... mengapa? Zhao Li adalah teman sejati kau. Aku tidak bisa memahami ini."Lie Feng menjatuhkan surat itu ke tanah, kepala menunduk dalam kecewa. "Aku juga tidak memahaminya. Kita bersama-sama
Hutan lebat menjadi medan pertempuran mereka. Sinar matahari yang jarang menembus kanopi pohon menciptakan suasana suram dan mencekam. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin bergerak seperti bayangan di antara pepohonan dan vegetasi yang lebat, menggunakan lingkungan sekitar untuk menghindari deteksi musuh. Rencana mereka telah dimulai."Pos pertahanan pertama di depan," bisik Lie Feng, matanya memandang sebuah pos pertahanan kecil yang tersembunyi di balik semak belukar yang lebat. "Aku akan menarik perhatian mereka.""Baiklah," jawab Master Jian, ia mengeratkan pegangan pedangnya. "Aku akan menciptakan angin kencang untuk menghalangi mereka jika diperlukan.""Dan aku akan memberikan dukungan dari jarak jauh," kata Mei Lin, ia menarik napas dalam-dalam, menghidupkan energi dalam tubuhnya. "Aku akan menargetkan pemimpin mereka."Lie Feng menghilang di antara pepohonan, bergerak dengan cepat dan lincah. Ia menggunakan K
Api unggun kecil berkobar di tengah gua, menghasilkan cahaya yang menghibur di tengah kegelapan. Lie Feng, Master Jian, dan Mei Lin duduk mengelilinginya, wajah mereka terang oleh cahaya api, tetapi luka-luka yang masih mereka derita tampak jelas. Beberapa hari telah berlalu sejak mereka bersembunyi di gua ini, memberikan mereka waktu untuk memulihkan tenaga dan merencanakan langkah selanjutnya."Kita harus memikirkan cara untuk membalas kematian Tuan Gu," kata Lie Feng, suaranya masih sedikit lemah, tetapi ada seutas tekad yang kuat di dalamnya. Ia menatap api unggun, matanya berkilat dengan tekad."Aku setuju," kata Master Jian, ia menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati, merasa rasa sakit di punggungnya yang masih berdenyut. "Kita tidak bisa membiarkan kematiannya sia-sia.""Tapi bagaimana kita bisa melakukan itu?" tanya Mei Lin, ia menggerakkan kakinya dengan hati-hati, mer
Udara lembap dan dingin menusuk tulang. Bau tanah basah dan aroma anyir darah masih memenuhi rongga sempit gua. Lie Feng, dengan luka di lengan dan rusuknya yang berdenyut keras, mencoba untuk menangani luka-lukanya dengan tangan yang gemetar. Master Jian, dengan luka di punggungnya yang menyiksa, bersandar lemas pada dinding batu yang dingin. Mei Lin, wajahnya pucat karena kehilangan darah, mencoba untuk menahan rasa sakit yang menyiksa di kakinya. Ketiga kombatan itu terdiam, hanya suara napas yang tersengal-sengal dan rintihan sakit yang memecah kesunyian yang menekan. Kehilangan Tuan Gu masih terasa sangat berat."Ini... ini semua salahku," gumam Lie Feng, suaranya teredam oleh kesedihan. Air mata mengalir di pipinya, mencampur dengan keringat dan darah. "Aku seharusnya bisa melindunginya."Master Jian, dengan suara yang lemah, menjawab, "Jangan katakan itu, Lie Feng. Kita semua telah berjuang sekuat
Napas Lie Feng memburu. Luka-lukanya berdenyut hebat, setiap gerakan terasa seperti siksaan. Master Jian, dengan tubuh yang berlumuran darah, bersandar pada dinding batu, tebasan pedangnya sudah tidak sekuat sebelumnya. Mei Lin, dengan mata yang sayu, mencoba untuk menembakkan sinar energi, tetapi tenaganya hampir habis. Mereka terpojok. Mereka hampir tidak berdaya. Musuh mengepung mereka dari semua arah."Kita tidak bisa bertahan lama lagi," kata Master Jian, suaranya lemah dan terengah-engah. "Mereka terlalu banyak.""Aku tahu," jawab Lie Feng, ia menghindari serangan musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. "Tapi kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.""Tidak ada cara," kata Mei Lin, ia menembakkan sinar energi yang lemah ke arah musuh, tetapi sinar energi itu dengan mudah dihalau. "Kita akan mati di tempat ini."Lie Feng menatap sekitar, menca
Matahari mulai tenggelam, menorehkan bayangan panjang di lembah yang sunyi dan mengerikan. Lie Feng, Master Jian, Mei Lin, dan Lin Xue terus berjuang, namun mereka semakin terdesak. Luka-luka mereka semakin parah, tenaga mereka semakin menipis. Harapan untuk bertahan hidup mulai memudar di balik bayangan senja yang semakin gelap."Kita tidak bisa terus berlari," kata Lie Feng, suaranya lemah dan serak. Ia menghindari tebasan pedang musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. Tubuhnya bergetar karena kelelahan dan rasa sakit."Aku tahu," jawab Master Jian, ia menciptakan pusaran angin untuk menghalangi serangan musuh, tetapi pusaran angin itu sudah tidak sekuat sebelumnya. Luka di punggungnya semakin perih. "Tapi kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.""Kita tidak memiliki waktu untuk itu," kata Mei Lin, ia menembakkan sinar energi ke ara
Kelelahan dan luka-luka mulai menunjukkan efeknya yang menghancurkan. Napas Lie Feng tersengal-sengal, tubuhnya bergetar karena kelelahan dan rasa sakit. Luka di lengan dan rusuknya berdenyut keras, mengingatkannya pada pertempuran yang sangat sengit. Master Jian, dengan luka di punggungnya, bergerak dengan lambat, tebasan-tebasannya tidak secepat dan sekuat sebelumnya. Mei Lin, meskipun masih cepat, tampak lelah dan terluka. Lin Xue, dengan wajah pucat, terus mencoba untuk menangani luka-luka mereka, tetapi ia juga mulai kehabisan tenaga. Tuan Gu, dengan luka yang semakin parah, berjuang keras untuk mempertahankan perisai energinya."Kita tidak bisa terus berlari!" teriak Lie Feng, ia menghindari serangan musuh dengan cepat, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. "Mereka akan mengejar kita terus menerus!""Aku tahu," jawab Master Jian, ia menciptakan pusaran angin yang