Share

Bab 43. Micu

Penulis: weni3
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-08 14:35:19

"Aku ajak ke rumah nggak mau," ujar Gama kemudian membuka pintu.

"Apa sich, Kak? Mau apa? Jangan kemana-mana pikirannya! Aku marah nich!" sahut Zoya yang lama-lama geregetan juga. Ajakan Gama membuatnya negatif thinking saja.

"Apa sich, Sayang? Pikiran kamu saja yang kemana-mana. Aku hanya mengajak kamu main ke rumah. Ada Bibi juga di rumah. Mau apa memangnya? Barang-barang kamu masih banyak di rumahku. Apa kamu tidak ingin membereskannya dari kamar Zein atau mau dipindahkan ke kamarku juga boleh?" tanya Gama yang kemudian duduk di sofa.

Keduanya sampai di apartemen beberapa menit perjalanan dari kantor. Zoya menolak keras ajakan Gama yang tadi sangat ingin sekali dirinya berkunjung ke rumah pria itu.

"Aku sudah tidak minat dengan barang-barangku yang masih tertinggal, Kak. Kamu bisa membuangnya saja. Terlalu buruk kenangan di sana." Zoya melangkah menuju dapur untuk membuatkan Gama kopi.

"Jadi kamu tidak mau berkunjung ke rumahku lagi?"

"Tidak minat juga. Rumah itu me
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Benar2 dua orang ini hijih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 44. Harga Diri Ani-ani

    Sampai di kantor tak ada lagi tambahan sarapan seperti yang Gama inginkan tadi. Yang ada adalah pekerjaan harus segera dijamah terlebih ada meeting dengan klien tempo hari. Zoya sendiri sibuk merapikan semua berkas yang akan dibawa dan mengemas semuanya sebelum mereka berangkat bersama. Ada Dito juga yang akan menyetir mobil nantinya dan mendampingi Gama juga. "Duduk di belakang, Zoya!" perintah Gama saat mereka sudah berada di depan mobil. Dito sudah membukakan pintu mobil untuk Gama tapi pria itu masih mempermasalahkan tempat duduk Zoya. "Tapi Pak, lebih baik saya di depan saja," tolak Zoya yang kemudian melirik Dito. Apa-apaan Gama ini, sudah tau ada Dito malah memintanya untuk duduk berdua. Bukan tak percaya mereka bisa bersikap profesional tapi Zoya takut Dito curiga. "Dito, apa kamu masih menyimpan rapat semuanya?" tanya Gama Dito karena mengerti alasan Zoya menolak duduk di belakang. Zoya tertegun mendengar pertanyaan Gama pada Dito. Sontak Zoya menoleh ke ara

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-09
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 45. Merusak Mental

    "Dibayar berapa anda melakukan ini semua?" tanya Gama. Tatapannya berubah tajam hingga mengubah suasana menjadi mencekam. Sikap Gama mampu membuat semua yang ada di sana nampak terperangah kecuali Dion, asistennya. Sejak tadi Gama memang sengaja diam agar kliennya merasa senang dan seperti di atas awan hingga semakin terlihat kelicikannya. Untuk Zoya, Gama bisa menghandlenya nanti tapi untuk kliennya yang busuk ini tidak bisa dinanti-nanti. Gama tersenyum miring menatap sosok pria yang katanya bos itu. "Anda menyebut diri anda atasan seperti saya dan ingin dihormati juga tapi anda menjadi budak dari seseorang yang mana bos anda sesungguhnya. Saya hanya ingin bertanya, berapa bayaran anda hingga menggadaikan pekerjaan yang utama?" tanya Gama lagi. " Apa keuntungan bekerja sama dengan saya kurang banyak dari bayaran yang anda dapat dari orang itu? Orang yang sudah menjadikan anda babu. Bodoh sekali otak anda tapi saya mengalah jika memang dia bisa membayar sepuluh kali lipat

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-11
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 46. Iseng!

    Zoya tak menyangka jika Zein masih saja dendam dengannya. Gemas sekali tapi dia mencoba tak perduli. Beruntung ada Gama yang selalu menjadi garda terdepan untuknya. Kali ini Zoya pun merasa sangat di lindungi oleh pria ini. Sangat dan sangat dilindungi melebihi dari sebelumnya. "Kak kamu tau dari mana tentang itu?" tanya Zoya yang masih menatap Gama dengan serius. "Aku tau sejak kemarin. Mungkin nanti aku akan menemuinya. Aku pun tidak bisa hanya diam saja. Dia terlalu menganggu dan tak bisa berpikir dewasa. Masih sangat kekanakan sekali." "Apa yang akan kamu lakukan, Kak? Aku tidak mau kamu dalam bahaya. Sudah biarkan saja! Jika lelah juga dia akan berhenti sendiri." "Kamu pikir anak kecil? Dia akan semakin menjadi jika didiamkan begitu. Aku hanya ingin bicara, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku!" Gama mengecup bibir Zoya dengan lembut dan merangkum kedua pipi Zoya. Tatapan pria itu begitu dalam dan tangan Zoya pun meraih kedua tangan Gama yang masih berada di pipinya.

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-12
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 47. Pulang Ke Rumah

    "Kak.. " Lirih, sangat lirih dan tangan Zoya menahan Gama agar tidak melakukan hal yang akan merugikan. Sudah cukup berkelahi setiap kali bertemu dengan Zein hingga wajah lebam. Kali ini Zoya tak akan membiarkan itu terjadi. "Tenang saja, Sayang!" bisik Gama dan semakin mengeratkan genggaman tangan Zoya yang tadi hampir ingin dilepas oleh Zoya. "Blak-blakan sekali anda menyukai mantan istri saya. Memang Pak Gama ini sukanya dengan barang bekas ya tapi tidak mau mengakui kalau anda itu doyan sekali. Bagaimana rasanya bekas saya? Apa nikmat? Atau mau threesome sekalian agar lebih menantang? Kalau berdua sudah biasa bukan? Bertiga akan lebih terasa nikmat dan memuaskan." "Jangan banyak bicara kamu, Zein! Ada urusan apa kamu kesini? Barang yang kamu anggap bekas ini justru sudah membuatmu menyesal karena dia bukan barang bekas biasa tapi barang bekas yang mahal dan berkelas," sahut Gama. Rahang pria itu terlihat mengeras dan Zoya tau jika Gama emosi mendengar ucapan Zein. Zoy

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-14
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 48. Masuklah Ke Dalam Pelukanku!

    "Maksudmu apa, Kak?" tanya Zoya tak mengerti dan Gama hanya tersenyum tipis mendengar itu. Gama kembali membuka mulutnya meminta Zoya menyuapinya lagi. Zoya pun mengangguk kemudian memberikan lagi suapan untuk Gama. Sakit tapi Gama begitu lahap. Satu mangkuk tapi Zoya masih bingung dengan apa yang Gama maksud. "Minum obatnya dulu, Kak. Setelah itu aku pulang ya. Kamu aku tinggal nggak apa-apa 'kan?" tanya Zoya pada Gama yang menggelengkan kepala. Zoya lega melihat itu. Dia bisa pulang dan beristirahat di rumah. Gama tak mempersulitnya. Toh sehabis minum obat, pria itu pasti segera terlelap. "Tidak mau ditinggal Sayang." "Eh aku kira nggak apa-apa aku tinggal pulang. Aku tidak janji bisa tidur dengan nyenyak di sini, Kak. Ijinkan aku untuk pulang ya," pinta Zoya dan Gama kembali menggelengkan kepalanya. Pria itu meraih tangannya dengan menatap begitu dalam. "Kamu bisa tidur di sini denganku, Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri. Ini sudah malam dan sa

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-14
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 49. Aku Menginginkanmu, Sayang.

    Malam ini untuk pertama kalinya Zoya dan Gama tidur bersama. Hal yang tak pernah dibayangkan apalagi terpikirkan. Mereka saling berpelukan dan saling merasakan kehangatan malam seperti tanpa beban. Malam ini pun Gama sama sekali tak menunjukkan sisi liarnya. Sebenarnya Zoya tau jika pria itu bereaksi. Saat memeluk tak sengaja dia merasakan ada yang mengeras di bawah sana tapi Zoya berpura-pura tak tau saja. Wajar sebenarnya karena mereka lawan jenis yang saling mencintai. Normal Gama menginginkan lebih tapi sebisa mungkin Zoya tak memancing dengan membahas itu. Dia mencoba untuk tidur meskipun di awal agak sedikit gelisah hingga sulit terlelap. Namun sentuhan lembut Gama di punggungnya dan dekapan hangat itu mampu membuatnya nyaman hingga tak sadar jika hari beranjak pagi. Berbeda dengan mereka yang begitu saling mengasihi. Di suatu ruangan Zein tengah mengamuk dan berteriak karena dia berhasil diringkus polisi karena tuduhan penganiayaan. Kesialan yang datang karena ke

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-16
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 50. Boneka Seks

    Bohong jika Zoya mengatakan tidak padahal nyatanya dia mengagumi milik Gama. Bahkan darah Zoya terasa mengalir sangat deras hingga debaran jantungnya tak dapat ia kendalikan. Zoya menelan salivanya. Ini saat dia harus mengeluarkan keahliannya untuk memuaskan Gama dari pada harus melakukan lebih. Zoya memang ingin tapi bagaimana jika terjadi sesuatu meskipun Gama sudah mengatakan akan menikahinya. Rasanya Zoya belum lega jika belum benar-benar ada ikatan pernikahan. Seingin-inginnya dia, banyak cara untuk menuntaskan tapi resiko jika sudah melakukan dengan Gama itu sangat besar. Rencana boleh saja tapi bukankah kita hanya bisa berencana tanpa tau hasilnya seperti apa. Haish... Rasanya ini terlalu penuh sekali jika masuk ke dalam mulutnya tetapi Zoya harus menuntaskan inginnya Gama, duda yang memiliki gairah sangat besar. Suara lenguhan dan desahan dari Gama menggema saat sesuatu keluar dan melegakan. Rasanya begitu indah. Kejutan yang tak terduga karena Zoya yang begitu pand

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-18
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 51. Menikah Sekarang

    "Apalagi Sayang? Bukan aku tidak sayang pada adikku tapi dia sudah sangat keterlaluan. Kurang apa aku selama ini? Tapi jika dia terus menyakiti orang yang aku sayang. Tak mungkin aku hanya diam." Zoya benar-benar tak menyangka jika Zein masuk penjara. Semudah itu? Gama memang tak bisa dianggap sepele. Gama bisa mudah memenjarakan orang dengan bukti-bukti yang pria itu dapatkan. Gama terlihat tenang, tanpa kita tau pergerakan Gama sangatlah lihai. Tak terlihat saat sedang mencari bukti kesalahan orang tetapi hasil tak main-main. Sekali membuat laporan, orang yang bersangkutan langsung kena pasal. "Kak aku kok jadi ngeri. Bagaimana jika Mas Zein semakin murka dan ingin balas dendam? Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Bisa nggak jangan bikin aku khawatir?" "Justru jika manusia seperti Zein dibiarkan saja. Dia akan semakin menjadi Sayang. Biarkan saja dia menikmati hukuman yang ada! Bukankah sudah waktunya kita bahagia?" "Terlalu cepat jika semua orang tau kamu menikahiku, Ka

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-20

Bab terbaru

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 76. Mas Suami Meresahkan

    Pagi ini di rumah baru, Zoya tidak terlalu sibuk karena memang tidak ada yang harus diurus selain Gama. Belum ada bahan masakan yang harus dimasak dan kebetulan akan dipersiapkan nanti. Zoya yang terjaga lebih dulu pun segera beranjak dari saat. Namun bangun tidur badan agak ngilu, mungkin karena saking semangatnya main terus sama Mas suami. Begitu nikmat sampai nagih dan tidak memikirkan bagaimana tubuhnya setelah itu. Hawa rindu menggebu, jadi inginnya sayang-sayangan terus. Padahal tubuh juga butuh istirahat. Namun pagi ini harus berkegiatan seperti biasanya. Zoya memutuskan untuk lebih dulu mandi sebelum Gama bangun. Niatnya mau cari sarapan tapi masih asing di sini. Mana ada yang jualan pinggir jalan di dalam kompleks yang mewah seperti ini? Alhasil Zoya order saja yang penting suami bangun sarapan sudah ada. "Sayang... " Zoya terkejut saat tiba-tiba merasakan pelukan dari seseorang yang tentunya itu adalah Mas suami. Ya, siapa lagi jika bukan Gama. Mereka hanya be

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 75. Nakal

    Gimana konsepnya, sudah mandi malah diajak mandi lagi. Apa tidak nakal itu namanya. Begitulah Zoya mengajak Gama mandi lagi. Mereka pun menikmati moment itu sampai sayang sekali ingin mengakhiri tapi jemari mereka sudah terlihat mengkerut karena dingin. Gama pun tak ingin Zoya sakit lagi. Usai mandi lanjut makan. Keduanya begitu menikmati hingga makanan mereka pun habis tak tersisa. Zoya menyandarkan tubuhnya di kursi setelah semua masuk ke dalam perut. "Habis sakit kok banyak makan ya, Mas? Ini aku doyan atau memang kelaparan? Sampai habis begini. Perut aku penuh banget rasanya." Laper ngeluh, kenyang juga tambah berisik. Namun memang benar, perut Zoya penuh sekali. Tak biasanya dia menghabiskan makan dengan porsi banyak. "Bagus dong Sayang. Memang kamu harus banyak makan karena kita akan segera melangsungkan acara pernikahan. Kamu harus sehat terus karena aku akan mengadakan acara yang mewah, Sayang." "Mas ini pernikahan kedua loh. Nggak perlu megah-megah juga nggak m

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 74. Mas Jangan dilepas!

    Suara desahan saling bersahutan begitu menghiasi kamar mewah yang belum ada 24 jam mereka huni. Di sini, di kamar ini, kedua insan saling melebur menjadi satu menggumamkan kalimat cinta yang membuat permainan semakin panas. Gama tentu tidak bisa menolak ajakan Zoya terlebih sudah melihat tubuh sang istri tanpa busana seperti ini. Niat hati nanti dulu tapi istri malah merayu. Hajar tipis-tipis dengan ritme yang lembut mengimbangi Zoya yang baru pulih. Gama begitu menikmati sesapan, lumatan dan goyangan yang Zoya berikan. Rasanya sungguh luar biasa dan dari moment bercinta yang pernah mereka lakukan, hari inilah yang sangat panas hingga membuat Gama geleng-geleng kepala melihat lincahnya Zoya. "Pelan-pelan saja, Sayang! Kamu baru sembuh," ucap Gama mengingatkan tapi Zoya justru menyerang bibirnya, membungkamnya dan tak membiarkannya melarang apa yang menjadi kesenangan sang istri. Rupanya bahagia membuat Zoya agresif sekali. Tentu saja Gama sangat senang hati mendapatkan itu.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 73. Menegang di Balik Kain Segitiga

    Zoya kagum melihat kamarnya yang sangat luas dengan desain modern dan benar-benar nyaman sekali. Dia dibuat terperangah sampai tidak sadar jika masih berada dalam gendongan Gama. "Ya Tuhan... Rasanya aku seperti mimpi." Zoya sampai tak berkedip melihat kamar utama yang akan menjadi tempat ternyamannya. Dia yang lupa jika masih berada di dalam gendongan Gama pun hendak melangkah menuju kamar mandi untuk melihat keadaan di dalam sana tapi baru saja bergerak, dia tersadar jika masih berada dalam gendongan Gama. "Astaga Mas! Aku mau lihat-lihat. Ini gimana caranya? Sampai lupa aku kalau masih kamu gendong begini," ujar Zoya yang membuat Gama terkekeh mendengar itu. "Kamu terlalu serius Sayang, atau malah kamu menikmati gendonganku?" tanya Gama dengan kedua alis terangkat. "Mas kamu jangan ngarang! Aku mau turun. Penasaran banget sama kamar mandinya. Boleh aku lihat, Mas?" "Boleh, Sayang." Zoya yang masih mengalungkan kedua tangannya di leher Gama pun perlahan mengendurk

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 72. Kejutan Untuk Zoya

    Permintaan Zoya tak diabaikan begitu saja oleh Gama. Usai mengatakan demikian, Zoya melihat Gama begitu sibuk sekali menghubungi seseorang. Samar terdengar, Gama meminta orang tersebut untuk mencarikan rumah untuk mereka tinggal. Zoya berpura-pura tidur saja padahal dia mendengar apa saja yang Gama katakan. Dalam hati Zoya merasa Gama sangat menyayanginya. Padahal Zoya sempat tidak yakin Gama mau, mengingat sebelumnya pun Gama menolak. Beberapa hari di rumah sakit, kini tiba saatnya Zoya diperbolehkan pulang oleh dokter. Senang tentunya karena sudah tidak betah lagi berlama-lama di sana. Kasihan Gama juga yang lelah menunggu dan mengurusnya. "Kita pulang kemana, Mas? Apartemen?" tanya Zoya sasaat setelah mereka sudah masuk mobil. Namun saat Zoya memperhatikan Gama, terlihat pria itu hanya diam tak minat menjawab. Jelas hal itu membuat Zoya pun penasaran dan geregetan juga pastinya. Ada apa dengan suaminya? "Mas! Kok kamu diam aja? Lagi mikirin apa? Bingung ya mau ajak ak

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 71. Permintaan Zoya

    "Mas... " "Ya Tuhan... Sayang kamu sudah sadar?" tanya Gama kemudian beranjak dari sana. Zoya tersenyum tipis mendengar itu. Zoya tersenyum merasakan Gama yang memeluk erat dan tiba-tiba Zoya merasakan pundaknya basah. Apa itu karena air mata Gama? Ya, pria itu kembali menangis. Zoya sampai tak habis pikir, ternyata Gama bisa menangis juga dan yang ditangisi adalah dirinya. "Mas pelan-pelan sakit!" keluh Zoya karena Gama yang yang memeluknya semakin erat. Rasanya tubuh seperti dihimpit sesuatu. Mungkin efek kecelakaan juga membuat Zoya merasakan tubuhnya sakit semua. "Eh iya maaf Sayang. Maaf ya, aku sangat bersyukur kamu sudah bangun. Aku takut, Zoya." Gama tertunduk mengecup tangan Zoya. Tangan pria itu mengusap air mata sebelum kembali menatap Zoya. Zoya mengerti, Gama pasti malu terlihat sedih hingga menangis, tapi Zoya paham, laki-laki tak akan sampai seperti ini jika tidak dengan tulus mencintai. "Mas apa kamu setakut itu?" "Apa yang kamu pikirkan Sayang? M

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 70. Menunggu

    Yang katanya sudah keluar dari masa kritis itu tidak serta merta membuat Zoya segera sadarkan diri. Sudah dua hari masih belum ada perkembangan yang signifikan. Zoya belum terjaga dari tidur panjangnya. Gama pun masih setia menunggu di sana. Sama sekali Gama tidak meninggalkan Zoya barang sekejap pun. Bahkan Gama juga tidak makan selama dua hari ini. Mana selera makan di saat hati gundah gulana begini. Bisa masuk air saja sudah sangat bersyukur sekali. Zoya sakit dan Gama merasakan kesakitan yang sama. Hanya saja bukan fisik, karena lapar masih bisa di tahan melainkan hati yang sangat geram dengan apa yang telah terjadi. Mengapa harus Zoya yang menjadi korban? Setiap harinya Asisten Dion datang membawakan makanan dan itu hanya dibiarkan oleh Gama di atas meja sofa tanpa minat membukanya hingga terpaksa Asisten Dion buang setelah keesokan harinya. Gama diam di samping Zoya dengan terus memperhatikan sang istri yang terbaring lemas.. "Kapan kamu bangun, Sayang? Apa kamu tidak

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 69. Dia..

    "Cepat cari pendonor darah untuk istriku, Dion! Jangan sampai istriku tidak bisa diselamatkan! Kalau perlu bayar mereka dengan uang yang banyak untuk setiap tetes darah yang mereka sumbangkan!" perintah Gama setelah Dokter kembali ke ruangan beliau. Gama tak ingin menyalahkan pihak rumah sakit yang sedang kehabisan stok darah. Namun Gama menyesalkan itu harus terjadi karena Zoya sangat membutuhkan saat ini. Bagaimana jika terlambat? Pikiran Gama sudah diisi dengan hal buruk tentang Zoya terlebih dokter mengatakan jika Zoya kritis saat ini. "Baik Pak." Dion pun segera pergi dari sana untuk mencari pendonor darah yang sesuai dengan Zoya. Urgent dan harus bergerak cepat. Jika tidak, sudah pasti Dion pun mendapatkan amukan dari Gama. Gama belum diperbolehkan untuk menjenguk karena Zoya yang masih mendapatkan penanganan serius oleh dokter lainnya. Sementara di ruangan itu masuk satu korban lainnya yaitu Amanda yang baru saja tiba tetapi Gama tidak perduli akan wanita itu. Dia

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 68. Bersimbah Darah

    "Zoya kamu gila!" teriak Amanda saat tubuhnya terpelanting dan beruntungnya dia masih kuat berpegangan pada pintu mobil. Semua itu karena tendangan dari Zoya yang mengakibatkan Amanda terpental hampir keluar padahal mobil masih melaju kencang. "Jika kegilaanmu membuat kamu bisa mencelakaiku sesuka hati, kenapa aku tidak mengikuti? Dan akan aku celakai kamu juga hingga kamu tidak lagi bisa menggangguku!" Pintu mobil semakin terbuka dan Amanda hampir saja jatuh jika kakinya tidak wanita itu jepit kan pada jok mobil, sedangkan Zoya mengambil alih kemudi dengan membelokkan ketepian. Mobil menabrak pengendara lain hingga benturan itu membuat Amanda tak mampu bertahan dan terseret ke jalan. CKIIIIIITTTT BRAAKK Suara sirine mobil polisi pun begitu terdengar kencang disusul dengan ambulan yang mendekati. Zoya sudah tak sadarkan diri akibat benturan kencang di kepalanya sedangkan Amanda terpental keluar dari mobil hingga membuat wanita itu terluka parah. Kecelakaan ini jel

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status