Share

Bab 42. Dito

Author: weni3
last update Last Updated: 2024-11-07 12:27:29

Gama menatap nyalang Dito yang masuk ke ruangannya. Tak biasa-biasanya dia begitu, entah mengapa menyangkut Zoya, Gama tak bisa santai.

Padahal jelas tadi Dito dan Zoya hanya berkomunikasi tak lebih dari dua menit tapi rasanya sudah membuat Gama ingin menggaruk wajah Dito.

Terlebih Zoya tak membalas pesannya. Entah Zoya sengaja atau memang tak suka dia berubah posesif seperti ini. Namun ini begitu saja dia rasakan setelah cintanya mulai berbalas.

"Ada apa?" tanya Gama. Dia sadar suaranya terdengar membuat salah paham dan sikapnya dingin menatap Dito yang kini pun memperhatikan.

Tatapan Dito seolah sedang mengingat sesuatu dan mencocokologi apa yang dilihat hingga kedua mata Dito menyipit menatap Gama.

"Ada apa, Dito? Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah denganku?" tanya Gama lagi. Dia cukup geregetan dengan Dito yang begitu aneh dalam memperhatikannya.

"Dito!"

"Eh iya maaf, Pak. Saya... " Dito menggaruk kepalanya. Dito terlihat bingung untuk menjelask
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Indah Kusumaningtyas
Sumpah manis banget sih gama, gua senyum2 sendiri toloongg
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Tuh benar kan tebakan ku bibir gama ada lipstik nya haha
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Makin parah si gama nih haha
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 43. Micu

    "Aku ajak ke rumah nggak mau," ujar Gama kemudian membuka pintu. "Apa sich, Kak? Mau apa? Jangan kemana-mana pikirannya! Aku marah nich!" sahut Zoya yang lama-lama geregetan juga. Ajakan Gama membuatnya negatif thinking saja. "Apa sich, Sayang? Pikiran kamu saja yang kemana-mana. Aku hanya mengajak kamu main ke rumah. Ada Bibi juga di rumah. Mau apa memangnya? Barang-barang kamu masih banyak di rumahku. Apa kamu tidak ingin membereskannya dari kamar Zein atau mau dipindahkan ke kamarku juga boleh?" tanya Gama yang kemudian duduk di sofa. Keduanya sampai di apartemen beberapa menit perjalanan dari kantor. Zoya menolak keras ajakan Gama yang tadi sangat ingin sekali dirinya berkunjung ke rumah pria itu. "Aku sudah tidak minat dengan barang-barangku yang masih tertinggal, Kak. Kamu bisa membuangnya saja. Terlalu buruk kenangan di sana." Zoya melangkah menuju dapur untuk membuatkan Gama kopi. "Jadi kamu tidak mau berkunjung ke rumahku lagi?" "Tidak minat juga. Rumah itu me

    Last Updated : 2024-11-08
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 44. Harga Diri Ani-ani

    Sampai di kantor tak ada lagi tambahan sarapan seperti yang Gama inginkan tadi. Yang ada adalah pekerjaan harus segera dijamah terlebih ada meeting dengan klien tempo hari. Zoya sendiri sibuk merapikan semua berkas yang akan dibawa dan mengemas semuanya sebelum mereka berangkat bersama. Ada Dito juga yang akan menyetir mobil nantinya dan mendampingi Gama juga. "Duduk di belakang, Zoya!" perintah Gama saat mereka sudah berada di depan mobil. Dito sudah membukakan pintu mobil untuk Gama tapi pria itu masih mempermasalahkan tempat duduk Zoya. "Tapi Pak, lebih baik saya di depan saja," tolak Zoya yang kemudian melirik Dito. Apa-apaan Gama ini, sudah tau ada Dito malah memintanya untuk duduk berdua. Bukan tak percaya mereka bisa bersikap profesional tapi Zoya takut Dito curiga. "Dito, apa kamu masih menyimpan rapat semuanya?" tanya Gama Dito karena mengerti alasan Zoya menolak duduk di belakang. Zoya tertegun mendengar pertanyaan Gama pada Dito. Sontak Zoya menoleh ke ara

    Last Updated : 2024-11-09
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 45. Merusak Mental

    "Dibayar berapa anda melakukan ini semua?" tanya Gama. Tatapannya berubah tajam hingga mengubah suasana menjadi mencekam. Sikap Gama mampu membuat semua yang ada di sana nampak terperangah kecuali Dion, asistennya. Sejak tadi Gama memang sengaja diam agar kliennya merasa senang dan seperti di atas awan hingga semakin terlihat kelicikannya. Untuk Zoya, Gama bisa menghandlenya nanti tapi untuk kliennya yang busuk ini tidak bisa dinanti-nanti. Gama tersenyum miring menatap sosok pria yang katanya bos itu. "Anda menyebut diri anda atasan seperti saya dan ingin dihormati juga tapi anda menjadi budak dari seseorang yang mana bos anda sesungguhnya. Saya hanya ingin bertanya, berapa bayaran anda hingga menggadaikan pekerjaan yang utama?" tanya Gama lagi. " Apa keuntungan bekerja sama dengan saya kurang banyak dari bayaran yang anda dapat dari orang itu? Orang yang sudah menjadikan anda babu. Bodoh sekali otak anda tapi saya mengalah jika memang dia bisa membayar sepuluh kali lipat

    Last Updated : 2024-11-11
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 46. Iseng!

    Zoya tak menyangka jika Zein masih saja dendam dengannya. Gemas sekali tapi dia mencoba tak perduli. Beruntung ada Gama yang selalu menjadi garda terdepan untuknya. Kali ini Zoya pun merasa sangat di lindungi oleh pria ini. Sangat dan sangat dilindungi melebihi dari sebelumnya. "Kak kamu tau dari mana tentang itu?" tanya Zoya yang masih menatap Gama dengan serius. "Aku tau sejak kemarin. Mungkin nanti aku akan menemuinya. Aku pun tidak bisa hanya diam saja. Dia terlalu menganggu dan tak bisa berpikir dewasa. Masih sangat kekanakan sekali." "Apa yang akan kamu lakukan, Kak? Aku tidak mau kamu dalam bahaya. Sudah biarkan saja! Jika lelah juga dia akan berhenti sendiri." "Kamu pikir anak kecil? Dia akan semakin menjadi jika didiamkan begitu. Aku hanya ingin bicara, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku!" Gama mengecup bibir Zoya dengan lembut dan merangkum kedua pipi Zoya. Tatapan pria itu begitu dalam dan tangan Zoya pun meraih kedua tangan Gama yang masih berada di pipinya.

    Last Updated : 2024-11-12
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 47. Pulang Ke Rumah

    "Kak.. " Lirih, sangat lirih dan tangan Zoya menahan Gama agar tidak melakukan hal yang akan merugikan. Sudah cukup berkelahi setiap kali bertemu dengan Zein hingga wajah lebam. Kali ini Zoya tak akan membiarkan itu terjadi. "Tenang saja, Sayang!" bisik Gama dan semakin mengeratkan genggaman tangan Zoya yang tadi hampir ingin dilepas oleh Zoya. "Blak-blakan sekali anda menyukai mantan istri saya. Memang Pak Gama ini sukanya dengan barang bekas ya tapi tidak mau mengakui kalau anda itu doyan sekali. Bagaimana rasanya bekas saya? Apa nikmat? Atau mau threesome sekalian agar lebih menantang? Kalau berdua sudah biasa bukan? Bertiga akan lebih terasa nikmat dan memuaskan." "Jangan banyak bicara kamu, Zein! Ada urusan apa kamu kesini? Barang yang kamu anggap bekas ini justru sudah membuatmu menyesal karena dia bukan barang bekas biasa tapi barang bekas yang mahal dan berkelas," sahut Gama. Rahang pria itu terlihat mengeras dan Zoya tau jika Gama emosi mendengar ucapan Zein. Zoy

    Last Updated : 2024-11-14
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 48. Masuklah Ke Dalam Pelukanku!

    "Maksudmu apa, Kak?" tanya Zoya tak mengerti dan Gama hanya tersenyum tipis mendengar itu. Gama kembali membuka mulutnya meminta Zoya menyuapinya lagi. Zoya pun mengangguk kemudian memberikan lagi suapan untuk Gama. Sakit tapi Gama begitu lahap. Satu mangkuk tapi Zoya masih bingung dengan apa yang Gama maksud. "Minum obatnya dulu, Kak. Setelah itu aku pulang ya. Kamu aku tinggal nggak apa-apa 'kan?" tanya Zoya pada Gama yang menggelengkan kepala. Zoya lega melihat itu. Dia bisa pulang dan beristirahat di rumah. Gama tak mempersulitnya. Toh sehabis minum obat, pria itu pasti segera terlelap. "Tidak mau ditinggal Sayang." "Eh aku kira nggak apa-apa aku tinggal pulang. Aku tidak janji bisa tidur dengan nyenyak di sini, Kak. Ijinkan aku untuk pulang ya," pinta Zoya dan Gama kembali menggelengkan kepalanya. Pria itu meraih tangannya dengan menatap begitu dalam. "Kamu bisa tidur di sini denganku, Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri. Ini sudah malam dan sa

    Last Updated : 2024-11-14
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 49. Aku Menginginkanmu, Sayang.

    Malam ini untuk pertama kalinya Zoya dan Gama tidur bersama. Hal yang tak pernah dibayangkan apalagi terpikirkan. Mereka saling berpelukan dan saling merasakan kehangatan malam seperti tanpa beban. Malam ini pun Gama sama sekali tak menunjukkan sisi liarnya. Sebenarnya Zoya tau jika pria itu bereaksi. Saat memeluk tak sengaja dia merasakan ada yang mengeras di bawah sana tapi Zoya berpura-pura tak tau saja. Wajar sebenarnya karena mereka lawan jenis yang saling mencintai. Normal Gama menginginkan lebih tapi sebisa mungkin Zoya tak memancing dengan membahas itu. Dia mencoba untuk tidur meskipun di awal agak sedikit gelisah hingga sulit terlelap. Namun sentuhan lembut Gama di punggungnya dan dekapan hangat itu mampu membuatnya nyaman hingga tak sadar jika hari beranjak pagi. Berbeda dengan mereka yang begitu saling mengasihi. Di suatu ruangan Zein tengah mengamuk dan berteriak karena dia berhasil diringkus polisi karena tuduhan penganiayaan. Kesialan yang datang karena ke

    Last Updated : 2024-11-16
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 50. Boneka Seks

    Bohong jika Zoya mengatakan tidak padahal nyatanya dia mengagumi milik Gama. Bahkan darah Zoya terasa mengalir sangat deras hingga debaran jantungnya tak dapat ia kendalikan. Zoya menelan salivanya. Ini saat dia harus mengeluarkan keahliannya untuk memuaskan Gama dari pada harus melakukan lebih. Zoya memang ingin tapi bagaimana jika terjadi sesuatu meskipun Gama sudah mengatakan akan menikahinya. Rasanya Zoya belum lega jika belum benar-benar ada ikatan pernikahan. Seingin-inginnya dia, banyak cara untuk menuntaskan tapi resiko jika sudah melakukan dengan Gama itu sangat besar. Rencana boleh saja tapi bukankah kita hanya bisa berencana tanpa tau hasilnya seperti apa. Haish... Rasanya ini terlalu penuh sekali jika masuk ke dalam mulutnya tetapi Zoya harus menuntaskan inginnya Gama, duda yang memiliki gairah sangat besar. Suara lenguhan dan desahan dari Gama menggema saat sesuatu keluar dan melegakan. Rasanya begitu indah. Kejutan yang tak terduga karena Zoya yang begitu pand

    Last Updated : 2024-11-18

Latest chapter

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 132. Sebuah Peluru

    Pekerjaan segera diselesaikan hari itu juga. Gama dan Zoya begitu giat karena memang ingin cuti. Jadi jangan sampai terlalu merepotkan Dito juga nantinya. Kasihan kalau sampai Asisten Dito dibuat repot sana sini. Sadar jika pekerjaan itu tanggung jawab mereka penuh. Khususnya Gama yang mana sebagai pemimpin di dua perusahaan. Siangnya Gama pun pergi ke perusahaan peninggalan sang Ayah. Gama meninggalkan Zoya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu pergi bersama dengan Asisten Dito tanpa mengajak Zoya. Namun sebelum pamit pada Zoya. Gama memastikan dulu kalau Zoya tidak masalah ditinggal. Gama terlihat sangat perhatian dan tidak ingin Zoya merasa tidak nyaman karena ditinggal sendirian. "Aku hanya sebentar, di sana juga harus aku bereskan. Kamu kalau sudah, tunggu aku saja di dalam. Jangan pulang sendiri! Nanti aku jemput." Gama mengusap kepala Zoya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Biasa bersama, meninggalkan Zoya begini terlihat sangat-sangat berat sekali.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 131. Tidak Buruk

    Zoya menatap semua orang yang ada di sana. Mereka semua terlihat tak percaya dengan apa yang mereka dengar sedangkan sebelumnya orang-orang itu sudah memprediksi jika dirinya ada hubungan terlarang dengan kakak ipar. Apalagi video dulu yang tersebar, mereka tau akan itu. Hanya saja memang Zoya dan Gama yang menjaga jarak, sempat mematahkan apa yang menjadi pemikiran mereka. "Bapak serius? Mendadak sekali, Pak? Tidak terlihat tau-tau menikah." "Iya Pak, tapi kami doakan semoga langgeng. Sakinah, mawadah, warahmah." "Aamiin... " Zoya mengangguk ramah dan tersenyum mendengar itu. Zoya menoleh ke arah Gama yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tatapan keduanya bertemu hingga Gama gemas dan mengacak rambutnya. Lagi-lagi keharmonisan itu membuat para karyawan yang melihat mereka nampak terkesima. "Undangan akan saya berikan via online. Saya juga meminta pada kalian untuk bekerja dengan baik. Saya akan ambil cuti. Jadi saya tidak ingin ada masalah pada kalian dan per

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 130. Ricuh

    Entah mengapa Zoya merasa curiga dengan keceriaan Sena. Wanita itu begitu mudah mengiyakan. Bukankah Sena suka dengan Gama? Harusnya tidak senang dengan apa yang akan terlaksana nanti. Usai sarapan, Zoya dan Gama pamit untuk berangkat ke kantor. Ini hari terakhir mereka bekerja sebelum besok mempersiapkan diri untuk hari pernikahan mereka. Tak ada orang tua dan sanak saudara yang sangat dekat, membuat keduanya lebih mendiri menghadapi semua ini. Gama juga tidak terlalu memusingkan karena selagi ada uang, semua bisa beres dengan cepat. Zoya pun berusaha untuk santai walaupun sebenarnya dia agak deg-degan menghadapi banyak tamu nanti yang pastinya memiliki pemikiran beragam pada mereka. "Dito, kita adakan meeting! Siapkan semua karyawan dan minta mereka berkumpul di bawah!" perintah Gama. "Baik, Tuan." Asisten Dito pun segera melaksanakan tugas. Pria itu segera mengumpulkan semua karyawan tanpa terkecuali melalui para manager tiap-tiap divisi. Gama pun bersiap untuk it

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 129. Undangan

    Pagi ini kembali Gama dan Zoya bergabung dengan keluarga Atmanegara dalam satu meja makan untuk sarapan bersama. Mereka sudah kembali berbaur dengan percakapan dan pembahasan yang lebih santai dari pada semalam. Mungkin karena nenek pun menyadari jika semalam sudah membuat situasi tidak nyaman jadi untuk pagi ini tidak menyinggung dulu masalah perusahaan ataupun rumah. "Gama mau langsung berangkat kerja?" tanya Nenek pada Gama yang terlihat lebih cerah pagi ini. Bagaimana tidak jika Gama sudah habis top up tadi. Sudah memberikan gebrakan pada sang istri dan ternyata juga pada tetangga kamar sebelah yang begitu penasaran pada Gama sampai-sampai sekarang belum turun. "Iya, Nek. Kami akan langsung kerja. Bagaimana dengan kesehatan Nenek? Apa sudah merasa lebih baik dari sebelumnya?" tanya Gama pada Nenek yang tersenyum mengangguk. Zoya hanya diam menyimak obrolan itu begitupun dengan Santi dan juga Bara. Mereka sudah lebih dulu sarapan dan tak menunggu Sena yang memang hobi

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR    Bab 128. Di Fajar Yang Nikmat

    Mendengar permintaan Zoya dengan suara yang manja tentu saja semakin membangkitkan gairah Gama yang sudah sangat memuncak. Hanya saja sebisa mungkin Gama menahannya. Zoya juga lupa padahal semalam dia merasa ragu untuk bercinta di rumah ini tapi setelah disentuh tepat pada titik sensitifnya, Zoya tak bisa menolak Gama dengan segala pesona pria itu. Awalnya menolak sekarang malah menggeliat meminta lebih. Itulah wanita ketika sudah kena titik sensitif di tubuhnya. Apalagi Gama yang tidak pernah meleset karena sudah sangat hafal mana saja tempat yang membuat Zoya membuka kedua kakinya. "Aku suka jika kamu meminta Sayang. Begini? Apa sudah nikmat? Atau kamu ingin yang lebih dari ini? Yang lebih kasar tapi membuat tubuhmu semakin menggeliat?" "Lakukan, Mas! Lakukan itu semua untukku!" sahut Zoya pasrah. Otak Zoya sudah dipenuhi dengan hal nikmat ini hingga dia tak lagi bisa mengatakan tidak. Ini sangat nikmat. Bercinta di pagi hari memang rasanya lebih gereget sekali.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR    Bab 127. Remas Yang satunya, Mas!

    Sulit memang jika sudah tidak suka dengan seseorang. Apa yang dilakukan tetap saja itu tidak baik di mata orang tersebut. Begitu juga dengan pandangan Sena pada Zoya saat ini. Setelah pertemuan mereka yang tidak baik kala itu membuat pandangan keduanya pun memburuk apa lagi Sena yang sangat tidak suka pada Zoya. "Mas jangan nakal! Ayo masuk aja! Kamu meresahkan sekali, Mas." Zoya menahan tangan Gama yang sudah mode iseng. "Masih ingin di sini Sayang. Ngadem enak, bikin pikiran tenang. Sini senderan di dada aku!" perintah Gama pada Zoya yang kemudian segera dituruti karena tangan pria itu sudah menarik tubuhnya. "Nah gini! Sekarang kita hitung Bintang!" "Nggak mau! Kamu kurang kerjaan banget sumpah. Kenapa nggak jelas banget, Mas," tolak Zoya. Ada saja Gama ini. Mana bisa terselesaikan sedangkan malam ini langit cerah bertabur bintang. "Nggak apa-apa, nanti aku bantuin, Sayang!" kata Gama gemas karena Zoya yang menolak. "Kamu bantu apa, Mas? Jangan bilang kalau kamu h

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 126. Independent women

    "Aku belum bisa memutuskan Nek dan istriku akan tetap ada di sampingku...." Jawaban itu terngiang di dalam ingatan Zoya. Gama dengan tegas menjawab demikian. Bukan apa, tapi Zoya sudah cukup tenang mendengar itu. Akhirnya Gama menjawab sesuai inginnya. Bukan Zoya ingin terus bersama dengan suami, mengikuti suami, menjadi satpam untuk suami. Hanya saja pengalaman mengajarkannya banyak hal. Termasuk bekerja di tempat yang berbeda. Sudah pasti akan ada saja godaannya. Entah dari Gama atau mungkin darinya. "Makannya dihabiskan, Nak! Nambah lagi!" ujar Nenek pada Zoya. Terlihat sekali jika Nenek saat ini merasa tidak enak pada Zoya. Mungkin karena sadar sudah sedikit mengatur sedangkan Gama dengan tegas tidak mau diatur. Lihat saja, mengenai harta yang banyak itu pun Gama masih berpikir puluhan kali padahal itu menguntungkan sekali bagi pria itu. Hanya saja memang Gama tidak hanya memikirkan untung saja tapi ke depannya juga. "Makasih banyak, Nek. Zoya sudah kenyang," ja

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 125. Tugas Membuka Kaki

    Usai Gama mandi, pria itu pun segera mengenakan pakaiannya. Sementara Zoya memperhatikan dari pantulan cermin saat Gama dengan santainya membuka handuk hingga milik pria itu terlihat jelas. "Pas loh, aku dari kemarin kemana saja? Yang aku tau hanya rasanya tanpa aku tau ukuran pembungkusnya. Oh Astaga Zoya... Otakmu lama-lama tidak beres karenanya." Zoya menggelengkan kepala sampai di tidak sadar jika Gama mendekati dan tiba-tiba mengecup pipinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" Deg Zoya terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Duh untung jantung aman meskipun seperti sedang maraton. Zoya menatap Gama dari pantulan cermin. Pria itu memeluknya dari belakang dan sesekali mengecup dengan gemas. "Kanapa Sayang? Apa kamu baru sadar jika milik suamimu besar? Aku tau kamu memperhatikannya, Sayang," tanya Gama dengan suara lirih di telinga Zoya. Seketika tubuh Zoya meremang merasakan nafas Gama yang begitu hangat menerpa kulitnya. Terlebih saat Gama yang sengaja mengusal

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 124. Besarnya Pas

    "Eh tunggu dulu! Jangan ditutup! Saya ingin memberikan ini untuk Pak Gama." Asisten Dito menahan pintu yang hampir saja ditutup. Wanita cantik yang Dito lihat tak mau menunggu lama. Apa lagi berbasa-basi terlebih dahulu. "Jadi kamu kurir? Kebanyakan bengong!" celetuk Sena. Ya, yang membukakan pintu adalah Sena. Maka jangan heran jika Sena galak. Untungnya masih bisa tertahan saat Dito mencoba menahan pintu tersebut. Jika sudah kembali di tutup akan repot lagi urusannya. "Saya ini bukan kurir paket, tapi asisten dari Pak Gama. Saya ditugaskan untuk mengantarkan pakaian ini. Tolong berikan pada Pak Gama!" ujar Asisten Dito. Setelah ini baru Asisten Dito akan menghubungi Gama. Paper bag itu pun segera diambil oleh Sena dengan wajah jutek kemudian merebut dengan kasar. Dito pun hanya tersenyum melihat itu. Namun Sena dengan cepat kembali menutup pintu. "Tunggu, Mbak!" Dito kembali menahannya. Lagian ini Sena kenapa buru-buru sekali. "Apa lagi? Mbak, Mbak, Mbak, emangnya

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status