Beranda / Rumah Tangga / RANJANG PANAS KAKAK IPAR / Bab 04. Aku tunggu di kamar!

Share

Bab 04. Aku tunggu di kamar!

Penulis: weni3
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-19 12:18:26

“Butuh bantuan untuk berpisah darinya?”

Zoya terdiam saat ingin membuka pintu kamar. Dia tak menoleh ke asal suara, karena jelas suara yang familiar itu milik Gama. Sejenak mengurungkan niatnya untuk bergerak masuk.

Melihat Gama yang berdiri diam menatapnya penuh tanya. Zoya pun melengos membuang muka. Namun sebelum Zoya benar-benar masuk, dia sempatkan untuk berbicara pada Gama.

"Jangan sok menjadi pahlawan, Kak! Kamu tidak ada bedanya dengan Zein!"

Hal yang tertutup rapat terumbar karena suatu perkara. Tak dapat ia sangkal jika kali ini melebihi dari sebelumnya dan bisa-bisanya Gama ingin membantunya untuk bercerai padahal di mata Zoya, Gama tidak ada bedanya dengan Zein. Sama-sama buruk setelah malam itu.

Zein memang pria yang sedikit temperamen. Zoya sudah tau dan paham akan itu. Dia pun mengerti tanpa mengeluh.

Sebab, bukannya jodoh saling melengkapi dan dan menutup kekurangan pasangannya masing-masing? Itu yang Zoya tau dan berharap sikap Zein lambat laun bisa berubah.

Zoya pun segera masuk kamar meninggalkan Gama yang masih diam di sana. Dia tak ingin Gama semakin ikut campur akan rumah tangganya.

Zoya yakin dia bisa mengatasinya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Meskipun dia sadar jika masalah sekarang membuatnya ragu untuk menghadapi Zein.

Namun, Zoya tak ingin Gama semakin masuk ke dalam kehidupannya. Apalagi secara tidak langsung Gama memberikan perhatian atas sikap buruk Zein padanya.

Seharian Zoya tidak keluar kamar. Dia memilih mengistirahatkan diri tetapi jangankan bisa terlelap dan tidur nyenyak. Memejamkan mata saja sulit ia lakukan.

Bayangan akan semalam dengan Gama kembali berputar dalam ingatan. Zoya berusaha keras melupakan semua yang terjadi dan menganggap tak ada yang berarti, tetapi nyatanya tak semudah yang ia pikir.

Bahkan bayangan pagi tadi saat pertengkaran dengan Zein terjadi hingga disaksikan oleh Gama membuatnya gelisah. Seketika ancaman dari Zein kembali terngiang diingatan.

Bagaimana jika Zein mencari tau kejadian yang sebenarnya? Zoya pusing memikirkan semua yang telah terjadi.

Terlebih sikap Zein yang semakin hari semakin kasar padanya. Dia bisa benar-benar mati di tangan Zein.

"Sudah sore, sebentar lagi Mas Zein pulang. Aku harus menyiapkan makan malam untuknya," gumam Zoya sembari bergegas ke dapur setelah seharian meratapi takdirnya yang seakan sedang bercanda.

Zoya pun mulai menyibukkan diri di dapur, karena seperti biasa, dia akan memasak untuk suaminya. Hanya saja, hari ini ia bolos bekerja sehingga bisa mulai masak lebih awal.

Zoya tak peduli akan resiko kena semprot manager atau Gama sekalipun, karena ia hanya ingin mengistirahatkan diri dan menenangkan pikirannya yang kacau.

Zoya yang sibuk dengan pikiran dan masakannya tidak sadar kalau Gama datang. Pria itu haus dan ingin mengambil minum.

Gama melangkah menuju kulkas bertepatan dengan Zoya yang melangkah mundur lalu berbalik tanpa melihat situasi.

Brugh

Tubuh keduanya bertabrakan bahkan menempel tak berjarak. Kedua mata itu terpaut dalam satu arah. Nafas pun terasa hangat menyapa hingga menimbulkan rasa canggung diantara mereka.

Hening, hanya debaran jantung keduanya yang bertalu terdengar nyaring. Nyatanya usaha mereka menjaga jarak dan berusaha bersikap biasa, tak seiring dengan jalan yang telah digariskan.

Justru takdir mengkhianati keinginan mereka, karena keduanya kembali bersinggungan tanpa sengaja. Lagi dan lagi, bertemu dengan posisi yang membuat salah paham.

Zoya bergegas mundur menghindar, tanpa ia sadar jika di belakangnya ada kompor sedang menyala. Beruntung tangan kekar pria itu menahan dan menarik tubuhnya. Namun niat baik untuk melindung justru membuat keduanya kembali bersinggungan.

Pelukan itu terasa hangat dan dapat Zoya rasakan debaran jantung Gama pun tak biasa. Zoya pun nampak kaku saat dada bidang Gama begitu posesif ia rasakan.

"Jangan mundur-mundur! Kamu belum mematikan kompornya," bisik Gama dengan terus menatap lekat wajah Zoya.

Sama-sama berdebar hingga dentumannya seakan beradu dalam satu titik karena jarak yang tak bersekat. Perlahan pelukan itu tak lagi Zoya rasakan setelah Gama melepaskannya.

Terlihat pria itu segera mengambil minum dari dalam kulkas lalu melangkah kembali ke kamar dan meninggalkannya yang masih berdebar tanpa mengatakan apa-apa.

Bergegas Zoya mematikan kompornya dan bersandar di meja dapur. Dia menghela nafas lega setelah melihat Gama sudah kembali ke kamar. Zoya tak tau jika Gama pun tidak berangkat ke kantor.

Mungkin lelah atau memang sengaja karena tak ada pekerjaan yang penting hari ini. Namun dengan adanya Gama di rumah membuat Zoya tak nyaman.

....

Malam ini Zoya melayani sang suami dengan baik. Mengisi piring Zein dan memperhatikan kebutuhan suaminya. Pemandangan yang selalu Gama lihat setiap pagi dan malam hari. Sudah tak heran tetapi malam ini terasa berbeda.

Hal yang membuat iri bagi siapa saja yang melihat. Zoya yang begitu telaten. Hingga rasa rindu pada masa itu hadir.

Gama yang sudah cukup lama menduda tak lagi merasakan manisnya pelayanan dari seorang istri setelah perceraian beberapa tahun yang lalu.

"Mau nambah udangnya, Mas?" tanya Zoya pada sang suami.

"Sudah cukup Zoya, kamu makanlah yang banyak agar malam ini staminamu terjaga!" perintah Zein yang membuat Zoya terdiam.

Dia tau maksud suaminya, tetapi bagaimana mungkin dia melayani Zein malam ini jika jejak yang ditinggalkan oleh Gama masih ada.

Zoya harap Gama tak mendengar ucapan suaminya. Zoya berusaha bersikap santai dan segera menghabiskan makanannya tanpa menjawab perintah dari Zein. Menunduk tak ingin sama sekali kembali bersitatap dengan Gama.

Namun, Zoya tau jika sejak tadi Gama memperhatikannya. Apa mungkin pria itu mendengar semuanya? Bisakah sejenak menulikan telinga agar dirinya tidak semakin malu akan permintaan Zein yang blak-blakan seperti tadi.

Zoya yakin Gama pun mengingat akan tanda yang telah dia buat di tubuhnya. Rasanya Zoya pusing sendiri memikirkan ini. Berharap tak ada satu kata pun dari Gama yang menyinggung akan itu.

“Aku tunggu di kamar!” Zein segera beranjak setelah menyelesaikan makannya dan tak lama Gama pun meninggalkan meja makan.

Zoya hanya diam melihat itu. Rasa takut kembali hadir dalam dirinya akan permintaan Zein malam ini. Tanpa dia tau jika Gama pun merasakan perasaan yang sama.

Zoya melangkah menuju kamar dengan perasaan yang tak menentu. Rasa takut semakin menjadi, khawatir, dan juga bingung. Kalimat apa yang pas untuk menolak ajakan suaminya.

"Zoya!"

Deg.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Isabella
Hem .... membaca dg deg deg an
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Apa yg terjadi kalo Zein lihat badan Zoya penuh tanda kepemilikan dari gama
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Kok mereka tinggal bersama ya ,kan Zein Zoya udah nikah harusnya pisah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 05. Jejak Di Tubuh

    Zoya terdiam di undakan tangga saat mendengar panggilan dari Gama. Zoya menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Dia tau siapa yang memanggilnya hingga ia tak ingin menoleh dan lebih memilih untuk menunduk. Egois sedang mendominasi diri Zoya sampai dimana dia mengabaikan sopan santun. "Jangan katakan apapun, Kak! Zoya tau apa yang akan kakak pertanyakan." "Bagaimana dengan jejak di tubuh…." "Kak aku mohon! Jangan ungkit itu lagi!" pinta Zoya lalu melangkah panjang meninggalkan Gama yang diam dengan helaan nafas berat. Namun setelahnya pria itu mengedikkan pundak dan masuk kamar tanpa beban. Zoya tak terima apapun sikap Gama padanya. Bagi Zoya itu hanya akan memperkeruh suasana. Mereka harus memiliki batasan jika perlu menjadi asing agar lebih nyaman melanjutkan hidup masing-masing. Walaupun Zoya tau perangai Gama yang sebenarnya baik tetapi setelah malam itu, pandangannya pada Gama tak lagi sama. Zoya nampak ragu untuk masuk kamar. Rasa takut membu

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-19
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 06. Nekat

    “Masuk ke mobil!” perintah Gama terdengar lugas. "Terima kasih. Aku lebih tertarik naik taksi," tolak Zoya dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah untuk Bersiap-siap. Tak ingin dia dikasihani oleh Kakak iparnya yang pagi ini pun membuat geregetan. Sesampainya di kantor, Zoya bergegas untuk turun dari taksi online dan berlari masuk ke dalam kantor menuju lift agar cepat sampai ke ruangannya. Beruntung belum telat meskipun dia sudah di penghujung waktu. Namun sialnya masih harus melewati lift khusus karyawan yang terkenal penuh sesak. Pagi-pagi lift karyawan selalu ramai. Dia yang baru datang sudah pasti terjebak antrian. Tak seperti lift khusus CEO yang lancar jaya. Belum lagi saat penuh begini tercium bermacam-macam aroma yang membuatnya mual. Sungguh ujian setiap pagi di waktu yang mepet. Zoya berdiri agak belakang sembari menunggu gilirannya untuk masuk. Ekspresinya gelisah dan terus menerus melirik ke arah jam tangan, karena tinggal tersisa lima menit lagi untuk b

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-19
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 07. Kabar Buruk Itu.

    Zoya terdiam masih berdiri menunggu Gama yang terus sibuk tanpa memperdulikan dirinya. Sudah hampir satu jam berlalu setelah pria itu menahannya untuk tetap di sana. Terus menunggu tetapi Gama nampak santai saja tanpa menyentuh berkas yang ia berikan. Zoya frustasi sendiri, kakinya pegal sekali tetapi Gama tetap cuek seakan tak minat. Sengaja menahannya tanpa kejelasan. Rasanya Zoya ingin mengumpat pria itu tapi semua hanya di angan karena dia tak seberani yang dibayangkan. Zoya mendengus kesal, terdengar helaan nafas kasar darinya yang ternyata bisa menarik hati pria itu. Gama melirik ke arahnya dan menyandarkan tubuh di kursi kebanggaannya. "Bosan?" "Anda masih sibuk, Pak." "Tidak sabaran." celetuk Gama yang kemudian berdecak dan mengambil berkas yang Zoya berikan tadi. Meneliti beberapa saat dan kembali menatapnya dengan lekat. Zoya menegakkan tubuhnya saat sadar Gama memperhatikan. Berharap tak ada yang harus kembali direvisi agar dia bisa mengerjakan pekerjaan

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-25
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 08. Istri Nggak Berguna!

    Zoya menarik nafas dalam dan beranjak dari duduknya. Sekuat hati dia berusaha untuk tetap tenang. Ingat, harus banyak bukti untuk bisa memberontak dari pria seperti Zein jika tidak ingin hanya dijadikan angin lalu oleh pria itu. Zoya tersenyum menyambut langkah suaminya yang mendekati dan segera mengambil alih tas dan juga jas Zein. Sebenarnya ada rasa takut untuknya kelak memberontak. Zoya tak memiliki siapa-siapa lagi selain Zein. Jika dia dicampakkan oleh Zein lalu bagaimana dengan nasibnya kelak. Zoya melangkah mendekati Zein yang mulai membuka kancing lengan kemejanya. Dengan sigap pun Zoya mulai membantu membukakan kancing kemeja yang Zein kenakan. Aroma parfum yang sudah bercampur dengan parfum wanita membuat dada Zoya semakin sesak bahkan tangannya sedikit gemetar karena dia harus menahan rasa sakit yang semakin dalam. "Mas, tau kamu pulang lebih cepat. Aku tadi minta jemput sekalian. Aku lelah banget, Mas. Mana harus menunggu taksinya lama." "Jangan manja!" k

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-27
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 09. Layani aku, Zoya! (21+)

    Zoya tersentak saat mendengar suara pintu kamar terbuka sangat kencang. Kedatangan Zein membuatnya yang baru saja terlelap seketika beranjak dari tidurnya. Zoya menatap heran saat Zein pulang sempoyongan tak seperti saat berangkat tadi. Zoya hendak turun dari ranjang untuk menyambut dan membantu tetapi dengan cepat Zein menghampiri. Zein menyibak selimut yang menutupi bagian tubuh bawahnya, hingga kedua mata Zoya terbelalak melihat itu. Terekspos lah kedua kaki jenjangnya yang putih mulus membuat kedua mata Zein berbinar melihatnya. Pria itu pun merangkak naik dan menyerang tanpa aba-aba. "Mas Zein!" "Layani aku, Zoya!" bisik Zein yang kemudian mendongak dan mencium ceruk leher Zoya yang terpampang indah, putih menggoda. Layaknya aliran sungai yang jernih begitu lancar mengalir lidah Zein menyusuri leher itu. Memberikan percikan gairah dan membangkitkan nafsu yang bercampur dengan rasa yang menggebu. Kedua tangan Zoya mencengkeram kuat sprei menahan gelora nikmat yang Z

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-30
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 10. Pernikahan Toxic

    Zoya terperangah mendengar tuduhan itu. Belum tenang hatinya karena Gama melihat kejadian semalam, Zein tiba-tiba menuduhnya berbohong hingga membuatnya ketakutan. Tatapan mata Zein begitu tajam padanya sampai Zoya sulit menelan kasar salivanya. Zein berdiri di hadapannya dan menekan tubuhnya hingga membuat Zoya sesak karena terhimpit oleh pintu dan tubuh pria itu. "A... Ada apa, Mas?" "Kamu pembohong, Zoya! Kamu mengatakan padaku jika masih belum bisa, tapi semalam apa? Satu tetes darah pun tidak terlihat. Sprei bersih sampai pagi. Sudah berani kamu membohongiku, hah?" "Mas!" pekik Zoya saat kedua pipinya ditekan kuat hingga kedua mata pun basah. Zein juga semakin menghimpit tubuhnya hingga ia sulit bergerak dan melepaskan diri dari pria itu. "Mas sakit, aku... " PLAK Kedua mata Zoya terpejam kuat merasakan panas menjalar ke seluruh pipi kanannya. Air mata itu pun tak lagi bisa dibendung. Bahkan dadanya begitu sesak hingga dia hanya bisa tertunduk terisak. Semalam

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-01
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 11. Aku Istrimu, Mas!

    "Kopinya, Mas." Zoya meletakkan secangkir kopi di atas nakas tepat Zein sedang sibuk dengan ponselnya. Tanpa menjawab, pria itu pun terlihat sibuk sekali. Zoya duduk di hadapan Zein membuat pria itu melirik tajam ke arahnya. Tatapan penuh keraguan pun terlihat jelas dari kedua mata Zoya. Antara takut tetapi dia ingin apa yang Gama katakan tadi masih bisa diperbaiki. "Mau apa kamu?" tanya Zein seakan mengerti apa yang ingin dia lakukan setelah ini. "Hanya ingin berbicara sama kamu, Mas." Zoya meraih tangan Zein yang kosong. Menggenggam tangan itu kemudian menatap wajah Zein yang terlihat tak suka melihatnya. "Mas aku tidak bermaksud membohongimu. Aku minta maaf jika sikapku membuatmu marah tapi apa tidak bisa jika kamu sedikit saja lembut padaku, Mas? Aku ingin kita seperti dulu. Sebelum kamu kasar padaku, kamu pernah sangat lembut memperhatikanku, Mas." "Jangan banyak meminta, Zoya! Wajar di awal menikah pasti manis. Semua juga begitu. Kamunya aja yang berlebihan! Aku ng

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-03
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 12. Semakin Menjadi

    "Dan apa jika aku mengatakannya sejak awal, kamu akan percaya? Ketika seseorang jatuh cinta dia seperti orang yang sedang mati rasa, Zoya! Kamu tidak akan perduli dan tetap fokus pada cintamu," kata Gama santai kemudian beranjak dari sana. "Keputusan ada di kamu. Tetap bertahan hingga sekarat atau berusaha lepas dari kesakitan. Aku hanya iba, karena kamu korban." Gama melangkah santai pergi dari hadapan Zoya. Semua yang pria itu katakan mengandung makna yang mendalam sedangkan Zoya saat ini begitu sakit mengetahui apa yang suaminya lakukan di luar sana. "Mas kamu sama siapa? Siapa wanita itu sebenarnya? Kenapa Kak Gama begitu mengenal? Sedang aku tidak bisa mengira-ngira." Pulang telat seperti sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Zein. Sudah beberapa hari ini Zein pulang semakin malam bahkan pagi. Tak ada lagi kehangatan yang Zoya rasakan. Zein begitu sibuk hingga membuatnya kesepian. Beralasan tak jelas dan tak mau banyak ditanya. Itulah sikap Zein setiap kali ingin

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-05

Bab terbaru

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 132. Sebuah Peluru

    Pekerjaan segera diselesaikan hari itu juga. Gama dan Zoya begitu giat karena memang ingin cuti. Jadi jangan sampai terlalu merepotkan Dito juga nantinya. Kasihan kalau sampai Asisten Dito dibuat repot sana sini. Sadar jika pekerjaan itu tanggung jawab mereka penuh. Khususnya Gama yang mana sebagai pemimpin di dua perusahaan. Siangnya Gama pun pergi ke perusahaan peninggalan sang Ayah. Gama meninggalkan Zoya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu pergi bersama dengan Asisten Dito tanpa mengajak Zoya. Namun sebelum pamit pada Zoya. Gama memastikan dulu kalau Zoya tidak masalah ditinggal. Gama terlihat sangat perhatian dan tidak ingin Zoya merasa tidak nyaman karena ditinggal sendirian. "Aku hanya sebentar, di sana juga harus aku bereskan. Kamu kalau sudah, tunggu aku saja di dalam. Jangan pulang sendiri! Nanti aku jemput." Gama mengusap kepala Zoya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Biasa bersama, meninggalkan Zoya begini terlihat sangat-sangat berat sekali.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 131. Tidak Buruk

    Zoya menatap semua orang yang ada di sana. Mereka semua terlihat tak percaya dengan apa yang mereka dengar sedangkan sebelumnya orang-orang itu sudah memprediksi jika dirinya ada hubungan terlarang dengan kakak ipar. Apalagi video dulu yang tersebar, mereka tau akan itu. Hanya saja memang Zoya dan Gama yang menjaga jarak, sempat mematahkan apa yang menjadi pemikiran mereka. "Bapak serius? Mendadak sekali, Pak? Tidak terlihat tau-tau menikah." "Iya Pak, tapi kami doakan semoga langgeng. Sakinah, mawadah, warahmah." "Aamiin... " Zoya mengangguk ramah dan tersenyum mendengar itu. Zoya menoleh ke arah Gama yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tatapan keduanya bertemu hingga Gama gemas dan mengacak rambutnya. Lagi-lagi keharmonisan itu membuat para karyawan yang melihat mereka nampak terkesima. "Undangan akan saya berikan via online. Saya juga meminta pada kalian untuk bekerja dengan baik. Saya akan ambil cuti. Jadi saya tidak ingin ada masalah pada kalian dan per

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 130. Ricuh

    Entah mengapa Zoya merasa curiga dengan keceriaan Sena. Wanita itu begitu mudah mengiyakan. Bukankah Sena suka dengan Gama? Harusnya tidak senang dengan apa yang akan terlaksana nanti. Usai sarapan, Zoya dan Gama pamit untuk berangkat ke kantor. Ini hari terakhir mereka bekerja sebelum besok mempersiapkan diri untuk hari pernikahan mereka. Tak ada orang tua dan sanak saudara yang sangat dekat, membuat keduanya lebih mendiri menghadapi semua ini. Gama juga tidak terlalu memusingkan karena selagi ada uang, semua bisa beres dengan cepat. Zoya pun berusaha untuk santai walaupun sebenarnya dia agak deg-degan menghadapi banyak tamu nanti yang pastinya memiliki pemikiran beragam pada mereka. "Dito, kita adakan meeting! Siapkan semua karyawan dan minta mereka berkumpul di bawah!" perintah Gama. "Baik, Tuan." Asisten Dito pun segera melaksanakan tugas. Pria itu segera mengumpulkan semua karyawan tanpa terkecuali melalui para manager tiap-tiap divisi. Gama pun bersiap untuk it

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 129. Undangan

    Pagi ini kembali Gama dan Zoya bergabung dengan keluarga Atmanegara dalam satu meja makan untuk sarapan bersama. Mereka sudah kembali berbaur dengan percakapan dan pembahasan yang lebih santai dari pada semalam. Mungkin karena nenek pun menyadari jika semalam sudah membuat situasi tidak nyaman jadi untuk pagi ini tidak menyinggung dulu masalah perusahaan ataupun rumah. "Gama mau langsung berangkat kerja?" tanya Nenek pada Gama yang terlihat lebih cerah pagi ini. Bagaimana tidak jika Gama sudah habis top up tadi. Sudah memberikan gebrakan pada sang istri dan ternyata juga pada tetangga kamar sebelah yang begitu penasaran pada Gama sampai-sampai sekarang belum turun. "Iya, Nek. Kami akan langsung kerja. Bagaimana dengan kesehatan Nenek? Apa sudah merasa lebih baik dari sebelumnya?" tanya Gama pada Nenek yang tersenyum mengangguk. Zoya hanya diam menyimak obrolan itu begitupun dengan Santi dan juga Bara. Mereka sudah lebih dulu sarapan dan tak menunggu Sena yang memang hobi

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR    Bab 128. Di Fajar Yang Nikmat

    Mendengar permintaan Zoya dengan suara yang manja tentu saja semakin membangkitkan gairah Gama yang sudah sangat memuncak. Hanya saja sebisa mungkin Gama menahannya. Zoya juga lupa padahal semalam dia merasa ragu untuk bercinta di rumah ini tapi setelah disentuh tepat pada titik sensitifnya, Zoya tak bisa menolak Gama dengan segala pesona pria itu. Awalnya menolak sekarang malah menggeliat meminta lebih. Itulah wanita ketika sudah kena titik sensitif di tubuhnya. Apalagi Gama yang tidak pernah meleset karena sudah sangat hafal mana saja tempat yang membuat Zoya membuka kedua kakinya. "Aku suka jika kamu meminta Sayang. Begini? Apa sudah nikmat? Atau kamu ingin yang lebih dari ini? Yang lebih kasar tapi membuat tubuhmu semakin menggeliat?" "Lakukan, Mas! Lakukan itu semua untukku!" sahut Zoya pasrah. Otak Zoya sudah dipenuhi dengan hal nikmat ini hingga dia tak lagi bisa mengatakan tidak. Ini sangat nikmat. Bercinta di pagi hari memang rasanya lebih gereget sekali.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR    Bab 127. Remas Yang satunya, Mas!

    Sulit memang jika sudah tidak suka dengan seseorang. Apa yang dilakukan tetap saja itu tidak baik di mata orang tersebut. Begitu juga dengan pandangan Sena pada Zoya saat ini. Setelah pertemuan mereka yang tidak baik kala itu membuat pandangan keduanya pun memburuk apa lagi Sena yang sangat tidak suka pada Zoya. "Mas jangan nakal! Ayo masuk aja! Kamu meresahkan sekali, Mas." Zoya menahan tangan Gama yang sudah mode iseng. "Masih ingin di sini Sayang. Ngadem enak, bikin pikiran tenang. Sini senderan di dada aku!" perintah Gama pada Zoya yang kemudian segera dituruti karena tangan pria itu sudah menarik tubuhnya. "Nah gini! Sekarang kita hitung Bintang!" "Nggak mau! Kamu kurang kerjaan banget sumpah. Kenapa nggak jelas banget, Mas," tolak Zoya. Ada saja Gama ini. Mana bisa terselesaikan sedangkan malam ini langit cerah bertabur bintang. "Nggak apa-apa, nanti aku bantuin, Sayang!" kata Gama gemas karena Zoya yang menolak. "Kamu bantu apa, Mas? Jangan bilang kalau kamu h

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 126. Independent women

    "Aku belum bisa memutuskan Nek dan istriku akan tetap ada di sampingku...." Jawaban itu terngiang di dalam ingatan Zoya. Gama dengan tegas menjawab demikian. Bukan apa, tapi Zoya sudah cukup tenang mendengar itu. Akhirnya Gama menjawab sesuai inginnya. Bukan Zoya ingin terus bersama dengan suami, mengikuti suami, menjadi satpam untuk suami. Hanya saja pengalaman mengajarkannya banyak hal. Termasuk bekerja di tempat yang berbeda. Sudah pasti akan ada saja godaannya. Entah dari Gama atau mungkin darinya. "Makannya dihabiskan, Nak! Nambah lagi!" ujar Nenek pada Zoya. Terlihat sekali jika Nenek saat ini merasa tidak enak pada Zoya. Mungkin karena sadar sudah sedikit mengatur sedangkan Gama dengan tegas tidak mau diatur. Lihat saja, mengenai harta yang banyak itu pun Gama masih berpikir puluhan kali padahal itu menguntungkan sekali bagi pria itu. Hanya saja memang Gama tidak hanya memikirkan untung saja tapi ke depannya juga. "Makasih banyak, Nek. Zoya sudah kenyang," ja

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 125. Tugas Membuka Kaki

    Usai Gama mandi, pria itu pun segera mengenakan pakaiannya. Sementara Zoya memperhatikan dari pantulan cermin saat Gama dengan santainya membuka handuk hingga milik pria itu terlihat jelas. "Pas loh, aku dari kemarin kemana saja? Yang aku tau hanya rasanya tanpa aku tau ukuran pembungkusnya. Oh Astaga Zoya... Otakmu lama-lama tidak beres karenanya." Zoya menggelengkan kepala sampai di tidak sadar jika Gama mendekati dan tiba-tiba mengecup pipinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" Deg Zoya terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Duh untung jantung aman meskipun seperti sedang maraton. Zoya menatap Gama dari pantulan cermin. Pria itu memeluknya dari belakang dan sesekali mengecup dengan gemas. "Kanapa Sayang? Apa kamu baru sadar jika milik suamimu besar? Aku tau kamu memperhatikannya, Sayang," tanya Gama dengan suara lirih di telinga Zoya. Seketika tubuh Zoya meremang merasakan nafas Gama yang begitu hangat menerpa kulitnya. Terlebih saat Gama yang sengaja mengusal

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 124. Besarnya Pas

    "Eh tunggu dulu! Jangan ditutup! Saya ingin memberikan ini untuk Pak Gama." Asisten Dito menahan pintu yang hampir saja ditutup. Wanita cantik yang Dito lihat tak mau menunggu lama. Apa lagi berbasa-basi terlebih dahulu. "Jadi kamu kurir? Kebanyakan bengong!" celetuk Sena. Ya, yang membukakan pintu adalah Sena. Maka jangan heran jika Sena galak. Untungnya masih bisa tertahan saat Dito mencoba menahan pintu tersebut. Jika sudah kembali di tutup akan repot lagi urusannya. "Saya ini bukan kurir paket, tapi asisten dari Pak Gama. Saya ditugaskan untuk mengantarkan pakaian ini. Tolong berikan pada Pak Gama!" ujar Asisten Dito. Setelah ini baru Asisten Dito akan menghubungi Gama. Paper bag itu pun segera diambil oleh Sena dengan wajah jutek kemudian merebut dengan kasar. Dito pun hanya tersenyum melihat itu. Namun Sena dengan cepat kembali menutup pintu. "Tunggu, Mbak!" Dito kembali menahannya. Lagian ini Sena kenapa buru-buru sekali. "Apa lagi? Mbak, Mbak, Mbak, emangnya

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status