Home / Lain / Putri Istimewaku / Bab 1 Detik-detik Kelahiran

Share

Putri Istimewaku
Putri Istimewaku
Author: Hanafa

Bab 1 Detik-detik Kelahiran

Author: Hanafa
last update Last Updated: 2021-05-29 22:51:48

Putri Istimewaku

By. Hanafa

🌾🌾🌾

Kisah ini terinspirasi dari Kisah Nyata Seorang gadis kecil yang memiliki kelebihan melihat makhluk-makhluk tak kasta mata. Nama pelaku dalam cerita ini disamarkan. Beginilah kisahnya.

🌾🌾🌾

Saatku sedang tidur terasa ada yang keluar dari jalan lahirku. Kaget, panik, campur aduk yang aku lihat rembesan air aku pikir apakah ini air ketuban?

Langsung aku membangunkan suamiku dan dia pun panik maklum hari itu sudah tengah malam dan kami tidak punya kendaraan apapun untuk mengantarkanku kebidan atau rumah sakit.

Dengan paniknya suamiku mengedor rumah tetanggaku dengan maksud untuk meminjam motornya. Alhamdullilah tetanggaku itu mau meminjamkan motornya. Langsung kami mengendarai motor itu ke bidan tapi sayang bidan itu tidak mau menanganiku dengan alasan resiko. Dan akhirnya merujukku ke sebuah rumah sakit F*t****. 

Dalam perjalanan, tiba-tiba motor yang kami kendarai berhenti. Ya Tuhan, ternyata bensinnya habis dan sialnya karena panik dan terburu-buru suamiku lupa membawa dompetnya. Akhirnya kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Aku duduk di motor dan suamiku mendorongnya. Dengan perasaan khawatir, campur aduk bagaimana dengan keadaan buah hati pertama kami didalam perutku ini. Ga henti-hentinya aku berdoa dan berzikir tolonglah hambaMu ini ya Allah. 

Tiba-tiba ada motor besar berhenti di samping kami.

 "Pak, kenapa motornya mogok?" Kata orang itu yang perawakannya serba hitam dari pakaian, helm, bahkan motor.

"Iya, pak kehabisan bensin." Kata suamiku.

"Bapak, mau kemana? Loh itu istrinya mau melahirkan kah?" Kata orang itu.

"Iya pak kayaknya daritadi sudah keluar air terus". Kata suamiku.

"Ya sudah biar istri bapak saya yang antar ke rumah sakit bapak beli bensin kira-kira di depan ada yang jual bensin."

"Maaf pak saya lupa bawa uang sangking paniknya tadi." Kata suamiku.

"Ya, sudah bapak pakai uang saya saja dulu." Kata orang itu sambil menyodorkan uangnya kepada suamiku.

Setengah jam perjalanan akhirnya saya sampai di rumah sakit begitupun dengan suami. Dan saya langsung ditangani oleh suster yang bertugas saat itu.

Setelah masuk diruang UGD untuk observasi kata dokternya karena ternyata belum ada pembukaan sama sekali.

Aku langsung teringat dengan orang yang menolong kami tadi.

Langsung aku menanyakan kepada suami.

"Yah, bapak tadi yang membantu kita kemana ya? Apa ayah sudah bilang terima kasih. Tadi aku belum sempat bilang terima kasih wajahnya saja aku tidak lihat. Apa ayah tau namanya?." Tanyaku.

"Y Allah ayah juga belum mengucapkan terima kasih bun. Sangking paniknya tadi ayah langsung ke ruang administrasi cuma ayah sempat aneh ayah tidak bisa melihat wajah orang itu sama sekali. Maksudnya biar kalau kita ketemu lagi ayah bisa mengenalinya. 

Tapi, anehnya bakalan kita sempet berbicara dengannya tapi mengapa wajahnya tidak terlihat bikin merinding saja bun." Jelas suamiku.

"Ah ayah jangan berpikir macam-macam bunda jadi takut." Kataku sedikit ketakutan.

Mendengar perkataan dari suamiku jujur saat itu agak merinding juga apalagi aku agak sensitif dengan hal-hal seperti itu.

Dan ini rumah sakit makhluk tak kasat matanya banyak.

🌾🌾🌾

Di rumah sakit hatiku tidak tenang belum lagi banyak makhluk tak kasat mata yang aku lihat bikin tambah resah. Sedangkan suamiku sering keluar masuk ruangan hanya untuk ijin merokok. Hmm..Namanya laki-laki memang susah untuk berhenti merokok hanya sekedar menungguku lahiran saja tidak bisa, gerutuku.

Sampai pagi pun tidak ada tanda-tanda pembukaan sama sekali, yang ada hanya rembesan air seperti aku mengompol. Merembes begitu saja tidak bisa aku tahan. Alhasil aku sering mengganti baju dan pakaian dalam. Saat itu aku baru tau kata orang yang satu ruangan denganku itu bilangnya "Kembar air". Karena katanya aku selama hamil suka main air. Kalau diingat-ingat memang benar aku suka main air apapun aku senang sekali merendam kakiku di air.

Risih juga di rumah sakit ini aku selalu di observasi oleh kebanyakan dokter pria apa tidak adakah dokter wanita satupun pikirku. 

Saat dokter memeriksaku, 

"Aduh, bu kok rembesan air terus ya yg keluar, ini juga belum HPLnya kan?"

"Iya dok memamg belum saya tidak tau kenapa keluarnya air terus".

"Ya sudah kita usg dulu y."

Hasil USG menyatakan ketubanku sudah ada yang keluar dan kata dokter si jabang bayi sudah stres di dalam sana.

Alhasil karena hasil USG itu, Dokter memberiku pilihan apa dioperasi sesar saja atau diinduksi.

Aku pikir karena ini anak pertama bila aku operasi sesar berarti untuk anak selanjutnya bakalan sesar lagi, jadi aku memutuskan diinduksi saat itu.

Masya allah rasanya diinduksi 3 hari 2 malam setiap jam aku selalu diobservasi setiap beberapa jam tidak bertambah bukaannya maka dosis induksinya ditambah.

Selama proses itu rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya sangking sakitnya aku menahan. Alhasil setelah hari ke 3 jam menunjukkan 00.30 saat itu aku tidak kuat menahan dan aku berteriak dan mengejan sekuatnya. 

Bidan dan perawat yang piket malam itu kaget dan berteriak.

"Ibu jangan mengejan dulu belum pembukaan lengkap".

"Saya sudah tidak kuat bu bidan ini rasanya ingin keluar".

Entah kenapa, saat itu mereka langsung menyiapkan peralatan melahirkan.

Karena sudah kehabisan tenaga, Aku sudah tidak kuat mengejan.

Saat itu sempat aku dengar bunyi klek.

Aku pikir saat itu jalan lahirku yang robek karena aku sempat mengangkat badanku yang kata mereka harusnya jangan.

Selang beberapa lama, tepatnya tanggal 26 April 2009 pukul. 01.00 lahirlah putriku.

Tapi anehnya kenapa sama bidan dan perawat langsung dibawa ke ruang bayi tanpa diperlihatkan padaku. Ada apa ini perasaanku campur aduk. Ada apa dengan putri kecilku?

Saat aku bertanya kata mereka tidak apa-apa bu mau dibersihkan dulu. Tapi sampai beberapa jam bayiku tidak diperlihatkan padaku bahkan untuk memberikannya asi sekalipun. Bukankah bayi baru lahir biasanya langsung diberikan asi oleh ibunya tapi kenapa sampai pagi pun bayiku tidak diperlihatkan padaku.

Rasa berkecamuk dalam hati. Ada yang aneh pikirku. Walau masih lemas pasca melahirkan aku memaksa suamiku untuk mengantarkanku ke ruang bayi dan memaksa dokter dan perawat yang jaga saat itu bahwa hari itu aku harus memberikan bayiku asi dan suamiku belum mengazani bayiku. Mereka beralasan karena bayiku lahir prematur makanya mereka tidak memperlihatkannya padaku dan langsung menaruhnya diinkubator.

Saat sedang asik-asiknya memberikan asi. Si cantik arabku asi. Dia mengompol. Aku memanggil perawat minta bantuan, tapi entah kemana mereka, lalu aku meminta suamiku membantuku karena jahitan pasca melahirkanku belum kering jadi aku belum bisa gesit untuk bergerak.

Saat suami membuka bedongan bayiku untuk mengganti popoknya. Aku teriak histeris.

"Astagfirullah ayah, Bayi kita kenapa?"

Saat suamiku membuka bedongan bayiku karena dia mengompol betapa kagetnya aku reflek aku istigfar dan teriak histeris.

Ya, kaki anakku tidak sempurna dia digips karna tulang kakinya pecah. Pantas saja dokter, bidan dan perawat tidak memperlihatkannya padaku mereka langsung membawanya ke ruang bayi.

Tapi mengapa mereka tidak memberitahuku malah menyembunyikannya dari kami. Ada apa ini sebenarnya? Bukankah saat USG mereka bilang bayiku normal-normal saja. Apakah bunyi klek itu bukan suara dari jalan lahirku yang sobek tapi sebenarnya adalah..? Ya Allah..

Tanpa pikir panjang dengan rasa hati yang berkecamuk langsung aku tanyakan kepada bidan dan perawat yang ada di ruang itu.

"Bu, maaf ini bayiku kenapa? Kenapa kakinya seperti ini?" Tanyaku kepada salah satu perawat di situ.

Bukannya menjelaskan mereka malah saling salah menyalahkan sedangkan aku tahu merekalah orang yang membantuku  persalinan saat itu.

"Maaf bu kami juga tidak tahu tunggu nanti tanyakan saja ke dokternya saat dia datang nanti." Jawab perawat itu.

"Jam berapa dokternya datang? Tanyaku.

"Sebentar lagi bu."

"Baik saya tunggu."

Sambil menunggu dokter itu datang suamiku menenangkanku. Karena saat itu aku hanya bisa menangis meratapi nasib putri kecilku. Kakinya ya Allah. Bayi mungilku harus digips yang gipsnya saja lebih besar daripada badan putri kecilku.

Ya putriku lahir saat itu hanya memiliki berat 1,7 kilo dan panjang 42 cm. Aku hanya bisa merutuki diriku sendiri mengapa tidak becus jadi seorang ibu.

🌾🌾🌾

1 jam kemudian 

🌾🌾🌾

Dokter yang menangani persalinanku itu datang. Tanpa basa basi, Aku langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan saat berbicara pun aku sambil menangis sangking untuk menahan emosiku.

Tapi apa jawaban dokter itu. Dia bilang tidak tahu menahu dan masih tetap saling menyalahkan antara bidan dan perawat yang menanganiku saat itu."

"Bagaimana bisa dokter bilang tidak tahu apa-apa! Kalian tidak tahu apa-apa! Ijin siapa sampai bayiku harus digips sedangkan aku dan suamiku tidak menandatangani apapun! Kalau ini memang kesalahan kalian semua. Kalian akan saya tuntut beserta rumah sakit ini!" Teriakku sambil menangis.

Suamiku mencoba menenangkanku.

"Bun, sabar istigfar ini mungkin cobaan anak kita kamu habis melahirkan jangan seperti ini nanti kamu sakit." Kata suamiku mencoba menenangkanku.

"Kenapa ayah diam saja! Ayah tidak berani walaupun kita orang kecil aku ga terima anakku jadi seperti ini. Aku ga terima!" (Kataku sambil menangis dipelukan suamiku).

"Kalaupun kita harus menuntut kita pasti kalah bun, Lebih baik uangnya buat terapi dan berobat anak kita, kita harus sabar."

🌾🌾🌾

Setelah 2 bulan

🌾🌾🌾

Bayiku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Yang seharusnya saat itu pulang pagi aku ngotot kalau harus sore itu juga pulang. Alhasil magrib pun kami masih di jalan.

Sesampainya di kontrakan kami. Aku meletakkan si arabku (sebutan sayangku pada bayiku) di tempat tidurnya. Tapi anehnya, bayiku langsung terbangun dan menangis, Saat itu aku pikir dia ingin menyusu karena terlalu lama di rumah sakit dia tidak mau meminum asiku mau tidak mau aku membuatnya susu formula. Tapi saat aku ingin meminuminya dia tidak mau meminumnya, matanya selalu melihat ke atas.

Aku pikir mungkin dia mau dengan ayahnya, tapi tidak dia tetap menangis makin kencang.

Sampai tetangga sebelah kami datang.

"Ya, Allah kak kapan datang. Kenapa itu kok si dede nangis. Mau nyusu kali?" Tanyanya.

"Tidak teh, Aku sudah membuatkan susu tapi malah menangis terus, Aku sudah mengecek kasurnya aku pikir ada semut yang menggigitnya tapi tidak ada, di badannya pun tidak ada, Aku bingung kenapa nangis terus." Kataku panik.

"Coba sini bawa ke kontrakanku saja mungkin dia panas." Ajaknya.

Anehnya, Disaat bayiku dibawa ke kontrakan tetanggaku dia langsung diam, Ku berikan susu dia langsung tertidur. Tapi di saat aku membawa dia kembali ke kontrakanku dia menangis histeris lagi.

Kenapa dengan putri kecilku Y Allah?.

🌾🌾🌾

Related chapters

  • Putri Istimewaku   Bab 2 Ketempelan

    Aku sempat bingung, panik campur aduk kenapa setiap magrib bayiku menangis tiada henti dan matanya selalu melotot ke atas. Bahkan sampai aku beri susu pun dia tidak mau. Dan dia akan berhenti menangis setelah suara azan subuh berkumandang. Baru itu bayiku bisa tidur dengan nyenyak dan dapat minum susu dengan kenyang.Dan itu berlangsung sampai beberapa hari. Akhirnya suamiku berinisiatif untuk menutup kedua mata bayiku dengan kasa yang diplester. Tega tidak tega saat itu tapi dengan begitu barulah bayiku bisa tidur nyenyak dan meminum susunya. Anehnya setiap malam sudah aku usahakan untuk shalat malam dan tadarus tapi tetap tidak ada perubahan. Bila aku dan suamiku lupa menutup mata bayiku menjelang magrib kejadian itu terulang lagi. Dan anehnya aku sama sekali tidak bisa melihat siapa yang mengganggunya.Akhirnya suamiku mencari-cari info soal orang pintar dan mendatangi orang itu bersama kerabatnya dengan membawa bayiku tanpa sepengetahuanku. Karena hari itu memang

    Last Updated : 2021-05-29
  • Putri Istimewaku   Bab 3 Pulang dari Rumah Sakit

    Selama beberapa hari di rumah sakit alhamdullilah bayiku berangsur pulih.Saat sedang memberikannya susu.Ada seorang bapak berkarismatik yang mengunjungi salah satu pasien yang kebetulan satu kamar dengan bayiku. Sesaat dia menoleh dan menghampiriku."Eh ade cantik sakit apa nak?" Tanyanya."Kata dokter dehidrasi hebat pak." Jawabku."Ya Allah, Syafakillah ya nak."Lalu entah dengan pandangan yang sukar aku jelaskan. Dia menatap bayiku seperti tatapan yang sangat aneh. Seperti penuh tanda tanya.Lalu beliau berkata, "Anak kamu ini sangat istimewa jaga dia baik-baik. Suatu hari nanti dia yang menjadi perisai buat kamu dan akan mengangkat derajatmu." Kata orang itu sambil tersenyum."Ya sudah saya permisi dulu." Sambil berpamitan dan mengelus lembut pipi bayiku.Sempat agak aneh aku memikirkan kata-katanya tapi ya sudahlah aku anggap biasa saja.Saat suamiku pulang kerja dan menjenguk kami ke rumah s

    Last Updated : 2021-05-29
  • Putri Istimewaku   Bab 4 Kontrakan Baru

    Sehari aku menempati kontrakan ini. Aku merasa ada yang aneh. Seperti ada yang selalu memperhatikan gerak-gerikku.Saat itu aku mengontrak di sekitar daerah Jakarta Selatan. Dan dekat dengan sebuah kali."Bun, kayaknya ayah besok-besok jarang pulang mungkin seminggu sekali baru pulang sabtu sore pulangnya tapi minggu sorenya ayah harus balik lagi ke mess. Maaf ya bun biar irit di ongkos juga. Maklum kan ayah belum punya kendaraan sendiri. Bagaimana bun ga apa-apa ya?" Kata suamiku sambil membujuk.Walaupun dengan berat hati saat itu aku mengijinkannya.Sebenarnya aku sangat berat. Mana baru pindah sehari. Tinggal hanya berdua dengan bayiku. Belum ada satupun orang yang aku kenal di sini. Malah mau di tinggal suamiku bekerja dan jarang pulang lagi. Walaupun kontrakanku dekat dengan mertua rasanya kan pasti beda.🌾🌾🌾Alhamdullilah baru beberapa hari di sini. Aku sudah memiliki banyak teman. Biasalah emak-emak suka ngerumpi. Atau sek

    Last Updated : 2021-05-29
  • Putri Istimewaku   Bab 5 Sosok Misterius

    Spontan aku kaget. Melihat sosok itu seorang perempuan cantik aku rasa, berpakaian semua serba hitam, berbibir merah terang. Remang-remang aku melihatnya."Si..si...Siapa kamu? Kok bisa masuk ke dalam rumahku."Sangat kaget aku dan terheran- heran masuk dari mana dia sedangkan pintu semua terkunci dari dalam."Jangan takut. Maaf ya aku mengagetkanmu. Karena besok kamu sudah mau pindah dari sini. Tugasku untuk menjagamu dan putrimu sudah selesai. Selalu berhati-hatilah. Sampai ketemu lagi. Anakmu sangat lucu banyak sekali yang menyayanginya. Aku pamit ya." Langsung cling menghilang begitu saja.Masya Allah apa itu aku kaget. Aku spontan langsung berdiri dan jalan bolak balik dari ruangan depan, belakang, dan dapur. Masih penasaran aku siapa dia sebenarnya. Tapi aku bolak balik tidak ada orang. Aku reflek buka pintu rumah dengan berpikiran mungkin saja sosok itu masih ada di situ. Ternyata tidak, aku tengak tengok jalanan sudah sepi maklum saat itu su

    Last Updated : 2021-05-31
  • Putri Istimewaku   Bab 6

    Setelah beberapa hari di bidan. Aku sudah diperbolehkan pulang. Hari-hari kulalui bersama putra putriku jujur sangat merepotkan tapi juga mengasyikkan.Naya sangat pencemburu, tapi dia juga sangat sayang adiknya."Iba tu imut aku.""Bunda, itu selimut aku." Saat dia melihat selimut bayinya dipakai oleh adiknya."Adik pinjam ya kak. Bolehkan? Kakak Naya kan sudah besar sudah tidak muat jadi boleh buat adik. Kasian adiknya kedinginan nak. Ga ada selimut." Kataku membujuknya."Ya oleh."" Ya boleh."Begitu juga saat baju bayi Naya, bantal dan gulingnya dipakai adiknya. Semua pertanyaan yang sama. Ujungnya aku harus membujuknya. Memang bukan salahnya masih kecil sekali sudah punya adik. Jadi dia belum mengerti.Walau begitu Naya sangat menyayangi adiknya. Saat itu bayiku sedang tidur. Putri sulungku sedang asyik menonton kartun di TV sambil memakan cemilan yang dia suka."Kakak sayang bunda mau mandi dulu. Ade kan sedang tidur, k

    Last Updated : 2021-06-01
  • Putri Istimewaku   Bab 7 Masuk TK

    Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. Naya sekarang sudah berusia 5 tahun. Sejak hampir setahun aku pisah dengan suami. Akhirnya aku memberikan dia kesempatan sekali lagi. Ya kami rujuk dan akhirnya pindah kontrakan di daerah SU*****i.Tadinya mau aku masukkan Naya langsung SD karena sudah fasih membaca juga. Tapi ternyata umur Naya belum cukup untuk masuk SD. Ya umurnya baru 5 tahun. Mau tidak mau saya memasukkannya lagi ke sebuah TK. Semenjak masuk TK tidak sekalipun aku meninggalkan Naya pulang. Selalu aku yang mengantarkannya dan menungguinya di sekolah sampai pulang walau repot membawa Raihan. Kenapa Raihan tidak bersekolah? Karena Raihan anak berkebutuhan khusus apalagi belum bisa bicara dan masih menjalankan terapi saat itu. Tadinya mau aku masukkan SLB. Tapi banyak yang melarang. Karena Raihan normal kok. Dia tanggap dan mendengar kalau kita menyuruhnya. Dia mengerti dan bisa melakukannya. Ditakutkan kalau masuk SLB dia malah makin tidak mau belajar

    Last Updated : 2021-06-01
  • Putri Istimewaku   Bab 8 Masuk SD

    Tidak terasa putri istimewaku sudah berumur 6,4 tahun. Aku agak pesimis tadinya apakah dia bisa masuk SD Negeri dengan umurnya yang masih kurang saat itu. Yang belum genap berumur 7 tahun. Saat tes masuk SD. Naya sangat santai. Dia meyakinkanku bahwa aku putri bunda akan di terima di SD Negeri. Aku senyum-senyum saja saat itu sambil mengucapkan bismillah ya nak.Saat nama Naya di panggil untuk tes. Dag dig dug rasanya. Putriku yang mau di tes tapi aku yang resahnya bukan main. Sampai bolak balik ke kamar mandi.Setelah di tes. Salah satu guru di sekolah tersebut mengumumkan bahwa hasil tes akan diumumkan esok hari. Masya allah makin dag dig duglah hatiku.🌾🌾🌾Keesokan harinya.🌾🌾🌾Hari ini adalah hari pengumuman Naya masuk SD Negeri. Dan pengumumannya terpampang di sebuah papan mading di sekolah itu. Aku sudah resah melihat kertas pertama tidak ada nama Naya. Tp setelah kertas berikutnya aku lihat."Alhamdullilah ya Allah. Alhamdul

    Last Updated : 2021-06-01
  • Putri Istimewaku   Bab 9

    Tidak lama les pun di mulai. Alhamdullilah hari itu berjalan lancar lesnya. Dan akhirnya les selesai. Murid-murid yang mengikuti les hari itu diperbolehkan pulang.Sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Kami berjalan kaki. Naya antusias sekali menceritakan sosok anak itu. Naya bilang."Bunda, temanku tadi cantik sekali bukan? Tapi meninggalnya mengenaskan. Dia kecelakaan saat pulang sekolah. Kasian kan bunda. Mana dulu kalau sekolah dia tidak pernah di antar orang tuanya. Beda dengan Naya yang selalu didampingi bunda." Jelasnya.Mendengar dia bercerita sepanjang perjalanan kami ke rumah. Aku agak khawatir kenapa semakin besar bukannya hilang malah makin menjadi kelebihannya melihat makhluk tak kasat mata itu."Naya, Naya sekarang sudah SD kan nak. Bisa tidak kalau ada sosok-sosok seperti itu Naya abaikan saja. Pura-pura tidak melihat nak. Nanti orang awam yang tidak tahu kelebihan Naya. Nanti Naya dibilang aneh lagi. Naya paham maksud bunda kan." Kat

    Last Updated : 2021-06-05

Latest chapter

  • Putri Istimewaku   Bab 18

    Dan keesokan harinya. Aku janjian dengan temanku itu untuk menemui seorang ustad untuk menanyakan perihal tentang rumah tanggaku yang aku rasa aneh. Setelah ku dengar bel sekolah berbunyi aku berpamitan pada putriku Naya."Nak, nanti kalau Naya pulang sekolah belum ada Bunda. Naya tunggu Bunda di kantin saja ya. Jangan langsung pulang sendirian ya. Tunggu Bunda datang jemput Naya." Terangku."Memang Bunda mau kemana sih? Kok tumben biasanya menunggu Naya sampai pulang sekolah." Tanyanya sambil kening mengkerut."Bunda lagi ada urusan Nak sama Tante Nina." Terangku lagi sambil mengusap rambutnya."Urusan apa sih Bunda. Naya kepo hehe.." Tanyanya sambil cengengesan."Anak kecil mau tau aja urusan orang tua. Sudah sana masuk kelas nanti bu guru keburu masuk kelas.""Ya sudah Naya masuk kelas dulu ya Bun. Tapi Bunda sama Tante Nina jangan lama-lama perginya. Takut Naya keburu pulang sekolah." Katanya sambil berlalu masuk ke kelasnya.

  • Putri Istimewaku   Bab 17

    Tapi di saat istirahat sekolah tiba. Aku dipanggil oleh wali kelasnya Naya.Tok..tok..(Suara pintu diketuk)."Assalamualaikum bu guru." Kataku."Walaikumsalam. Eh Bunda Naya ayo silahkan masuk bun." Jawab Bu Guru."Maaf bu guru. Ada apa ya memanggil saya. Apakah ada masalah dengan Naya saat mengikuti pelajaran?" Tanyaku penasaran."Oh engga bun. Ini saya mau menanyakan sesuatu kepada bunda. Tapi, sebelumnya saya minta maaf. Kalau mungkin nanti pertanyaan saya agak sedikit pribadi dan takut menyinggung Bundanya Naya." Kata Bu Guru yang bikin aku tambah penasaran."Sebenarnya pertanyaan tentang apa ya Bu Guru saya jadi agak deg degan ini?" Tanyaku agak khawatir."Hmm..Ini Bunda. Saya ingin menanyakan tentang Naya. Saya lihat ada beberapa lebam di tangan dan wajah Naya bun. Saya melihatnya agak ngilu karena itu pasti sangat sakit sekali. Apalagi untuk anak kecil seumuran Naya. Kalau boleh tahu itu lukanya kenapa bu? Kalau memang Na

  • Putri Istimewaku   Bab 16

    Bukkk...bukkk!!Melihat aku dihujami pukulan dan tendangan, Putriku Naya coba melindungiku. Tapi naasnya mengenai tangan mungil Naya."Aduhhhh...sakiitt Bunda!! Ayah jahat!!" Tangisnya sambil menahan sakit akibat kena tendangan ayahnya."Ya Allah Nayaa!!!" Teriakku."Jahat sekali kamu Yah!! Aku boleh kamu sakiti tapi jangan anak kita!! Apa salah kita sama kamu hingga kamu perlakukan seperti ini!" Kataku sambil menangis."Alah cengeng sekali kalian. Kayak gitu saja nangis. Dan kamu anak kecil ga usah sok ikut campur urusan orang tua. Sana kembali tidur!!" Suruhnya sambil melempar badan Naya ke atas tempat tidur."Sudah cukup Yah. Jangan kamu sakiti lagi Naya! Tidak ada sedikit hatikah kamu buat kami!" Isakku sambil menggendong Naya.Mendengar itu dia hanya melotot dan berhambur pergi dengan mengendarai motornya. Entah mengapa melihatnya pergi. Aku merasa sedikit lega. Paling tidak aku merasa dan anak-anak sudah aman sekarang.

  • Putri Istimewaku   Bab 15

    Mendengar suara keras itu. Aku langsung berlari ke Teras. "Ya Allah, Naya! Kamu kenapa nak? Kok bisa jatuh." Tanyaku kaget. Sambil mencoba membangunkannya. Aku melihat Naya merintih dan menahan tangisnya. "Kamu kenapa nak?" Tanyaku heran sambil melirik kearah suamiku. "Alah anakmu cengeng. Lihat tuh perbuatan anak yang selalu kau manja. Sampai menumpahkan kopiku!" Kata Suamiku marah. "Ya Allah yah cuma karena menumpahkan kopi. Ayah sampai mendorong Naya seperti ini Yah? Kasihan Naya yah." "Apa kamu bilang hanya menumpahkan kopi?! Ga lihat kamu itu mengenai celanaku!" Bentaknya. "Cuma karena itu kamu berlaku kasar pada anak kita yah. Kamu tahu kan Naya kakinya ga sempurna! Kakinya sakit yah. Tapi malah kamu mendorongnya. Tidak bisakah kamu bicara baik-baik dengan anakmu yah. Celana kena kopi kan bisa diganti nanti tapi hati anakmu yang sudah kau lukai, bisakah kau menggantinya?" Kataku hampir menangis. "Alah manjak

  • Putri Istimewaku   Bab 14

    Saat sedang naik ojek menuju ke pasar. Dan sesampainya di sana. Aku dikagetkan karena melihat sesuatu. Yah, dikagetkan oleh suamiku yang saat itu sedang asyik makan bersama teman-temannya di sebuah warung makan. Melihat itu aku hanya membatin dan mengucapkan istigfar."Bisa-bisanya dia di sini makan-makan. Sedangkan anak-anakku kelaparan. Hmm..ga boleh suuzon Cha, mungkin saja dia sedang ditraktir temannya." Batinku.Tapi saat mendengar mendengar celotehan teman-temannya."Ri, kamu ga apa-apa ni traktir kita makan kayak gini. Itu anak istrimu bagaimana?" Tanya salah satu temannya."Alah ga usah bahas mereka. Bodo amat aku di sini mau senang-senang. Jadi please ga usah bicarain anak istri aku. Biarin aja mereka cari makan sendiri. Biar tahu rasa cari duit tuh susah. Jadi ga kerjanya ma aku tuh minta..minta dan minta." Jawab suamiku.Mendengar kata-katanya sakit sekali hatiku. Tak terasa butiran airmata jatuh di pipiku. Inikah suamiku yang sedang ber

  • Putri Istimewaku   Bab 13

    Saat sedang asyik berbicara dengan Naya. Aku dikagetkan dengan suara pintu yang dibuka kasar. "Brakkk..!" Ya Allah ternyata suamiku yang membuka pintu itu dengan kasarnya. Tanpa mengucapkan salam pula. "Ya Allah ayah. Kok buka pintu seperti itu aku dan Naya sampai kaget tadi." Tanyaku berusaha selembut mungkin. "Makanya kalau suami pulang kuping dibuka lebar-lebar jadi dengar kalau aku masuk rumah." Jawabnya ketus. "Astagfirullah yah. Tadi benar bunda tidak mendengar salam ayah sama sekali. Makanya bunda tidak tahu kalau ayah pulang. Bunda minta maaf." Kataku lembut sambil menunduk. "Ya sudah besok-besok tidak bunda ulangi lagi." "Ya sudah. Ga usah banyak bacot. Aku lapar siapin makanan sana!" Bentaknya. "Iya sebentar ya. Ayah tidak mandi atau ganti baju dulu. Nanti bunda siapkan?" "Sudah ga usah bawel aku mau makan dulu ga usah ngatur-ngatur. Buruan!! Kamu dengar ga!!" Bentaknya. Melihat suamiku y

  • Putri Istimewaku   Bab 12

    "Serius bun." Kata temanku yang juga orang tua wali murid teman sekelas Naya setelah mendengar ceritaku."Iya Na. Malah sekarang pundakku terasa berat dan sakit. Seperti sedang mengangkat berkarung-karung beras rasanya. Apa kamu kenal orang yang bisa mengobati non medis Na? Feel aku ini bukan penyakit medis lagi Na." Tanyaku sambil meringis kesakitan."Aduh siapa ya Cha( Panggilanku)? Coba deh nanti aku tanya-tanya ya. Karena aku juga belum pernah berobat dengan kasus non medis kayak begitu." Terangnya."Iya Na. Tolong ya kali saja kamu mengenal seseorang yang bisa mengobati non medis. Atau mungkin kamu punya kenalan yang tahu info orang bisa mengobati non medis. Jujur aku sudah ga tahan sakitnya ini." Kataku."Iya..iya coba aku cari info nanti ya. Semoga saja ada yang tahu. Oh iya Cha, suamimu tahu tidak kejadian malam itu atau dia tahu tidak kamu sedang sakit seperti ini?" Tanya temanku itu."Alah kamu tahu sendiri kan. Kita sehat aja dia ga pedu

  • Putri Istimewaku   Bab 11

    Hingga pada suatu saat, saat Naya pulang sekolahAssalamualaikummm. Bundaaaa cepat buka pintunyaaaa!! Bundaaaa....bundaaa cepat buka pintunyaa. Naya takuttt.""Walaikumsalam." Jawabku sambil membuka pintu."Loh. Nak kamu kenapa?! Kok ngos-ngosan gitu. Jangan lari-lari kaki Naya nanti sakit lagi."Sambil menutup pintu."Ituuu bundaa..ituuu." Jawabnya dengan napas yang tersengal-sengal.🌾🌾🌾"Ada apa sih nak? Kok lari-larian gitu. Kaki Naya baru saja sembuh kan?""Itu bunda..itu.""Ya sudah kakak minum dulu. Jangan lupa baca doa. Nanti setelah minum baru cerita sama bunda."Sambil putriku meneguk air putih di gelas yang tadi ku berikan."Nah sekarang kalau kakak sudah tenang baru cerita sama bunda. Kenapa kakak tadi lari-lari kayak ketakutan gitu?" Tanyaku."Itu.." sambil napas yang masih tersengal-sengal."Bunda tahu gudang sekolah kan?""Iya tahu. Kenapa nak?""Tadi Naya

  • Putri Istimewaku   Bab 10

    Saat sedang ngerumpi dengan emak-emak. Naya menghampiriku dengan ekspresi sedih. Saat itu Naya sedang pelajaran olahraga lompat jauh."Huhuhu...bunda." katanya manja dengan ekspresi sedih sambil memelukku.Saat itu aku pikir ada yang menakalinya."Loh anak cantik bunda. Kenapa mewek? Memang sudah selesai pelajaran olahraganya. Kok Naya ke bunda. Ayo balik sana nanti di omelin pak guru. Kan belum waktunya istirahat.""Pak guru jahat bunda. Aku ga boleh ikutan lompat. Huhuhu." Jawabnya sambil menangis."Kenapa ga boleh ikutan lompat. Apa tadi Naya nakal. Jadi dapat hukuman dari Pak Guru." Tanyaku penasaran."Engga..Naya ga nakal. Kata Pak Guru takut kaki Naya sakit kalau ikutan lompat. Tapi Naya mau coba bun huhu." Terangnya sambil tidak berhenti menangis."Hmm.. berarti pak guru sayang sama Naya. Takut kalau nanti Naya ikutan pelajaran itu takutnya nanti kakinya sakit.""Terus nanti kalau Naya ga ikutan lompat. Ga dapat nilai do

DMCA.com Protection Status