Perjalanan di pesawat cukup menyenangkan bagi Sarah. Mereka menggunakan pesawat komersil dan duduk di kursi bisnis. Sofa pesawat dengan pembatas sangat membantu Sarah duduk berjarak dengan Marc.“Kenapa masih bekerja?” Marc yang duduk di sebelahnya menegur Sarah.“Karena ada pekerjaan.” Sarah menjawab singkat, lalu menaikkan pembatas sofa di antara mereka.Marc menyandarkan kepala di punggung sofa pesawat. Bagaimana caranya ia bisa dekat dengan Sarah jika perjalanan mereka seperti ini?Berbagai ide berputar di kepala Marc. Lalu, ia menemukan salah satu cara. Lelaki itu berdiri dan berjalan ke meja bar pesawat.Sambil menikmati minuman, Marc melirik Sarah. Wanita itu terlihat menutup laptopnya dan mulai berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Beberapa saat kemudian, perlahan Marc menghampiri kursi Sarah. Ia mengambil laptop dan mengotak-atik sebentar sebelum mengembalikan ke tempat semula.“Ketika membuka laptop ini, Sarah pasti meminta bantuanku.” Marc terkekeh sebelum kembali
Sarah mengangguk. Ia lalu membereskan pakaian-pakaian yang dibelinya dan menatanya di dalam lemari di dekat kamar mandi. Ia sama sekali tak sadar, Marc masih termangu heran.“Vitamin-vitamin ini sama dengan yang diminum Papa.” Marc bergumam sambil mengerutkan kening.“Apa? Kamu bicara padaku, Marc?” Sarah melongok dari pintu kamar mandi.“Tidak.” Marc balas berteriak. Ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut dan langsung memberikan catatan tersebut pada petugas villa.Sarah berdecak kesal. Setelah membilas tubuh, ia mengenakan pakaian yang baru ia beli. Dress pantai panjang itu terbuka di bagian atas. Terdapat tali di leher untuk menahan bagian dada agar tidak melorot.Berputar di depan cermin, Sarah juga melihat belahan di samping gaun memperlihatkan setengah pahanya.‘Sial. Semoga dengan gaun ini, Marc tidak mengira aku menggodanya.’ Sarah berucap dalam hati.Wanita itu keluar dan mendapati Marc yang sedang menelepon menghadap jendela. Sarah mengambil botol air mineral dan me
Selesai pertunjukan lumba-lumba, Sarah dan Marc mengikuti rombongan berjalan-jalan di sekitar villa. Petugas sedang menjelaskan berbagai macam fasilitas.“Kami juga akan membuka restoran outdoor di depan pantai dengan live music.”“Pagi hari di lapangan ini akan ada yoga bersama.”“Sarapan bisa diantar ke kamar bagi yang malas keluar dan masih ingin berenang di kamar masing-masing yang memiliki kolam private.”Petugas memberikan banyak keterangan. Sungguh ini adalah tempat yang indah. Sayangnya, Sarah harus menikmatinya dengan lelaki yang salah.Setelah makan malam, Sarah mendapat email dari perusahaannya. Hingga ketika tiba di kamar, ia langsung membuka laptop.Dahinya berkerut dalam saat laptop itu hanya menampilkan layar putih. Ia mencoba mereset ulang namun tidak ada perbaikan.Marc yang sedang bermain ponsel melirik Sarah dan menunggu wanita itu meminta bantuan. Persis seperti rencana agar Sarah menjalin komunikasi dengannya.Lelaki itu berpura-pura tidak memperhatikan saat Sarah
“Ooh, tidak. Tentu saja kita harus bercerai.” Sarah menggeleng keras.Marc mengerutkan kening tak suka. Saat banyak wanita ingin menjadi istrinya, kini wanita yang telah sah mendampingi hidupnya malah mendesak untuk berpisah? Sungguh ia merasa sakit hati.“Sepertinya kamu antusias sekali kita akan bercerai? Apa sudah memiliki kekasih lain? Bos mu itu mungkin?” Marc mengendik pada layar laptop Sarah dengan wajah dingin.Tiba-tiba saja terlintas pertemuan antara Sarah dengan Bos-nya di restoran makanan sehat di otak Marc. Lelaki yang cukup tampan dan ramah itu yang bersenda gurau dengan istrinya.“Sembarangan saja kalau bicara. Bagaimana denganmu? Apa saja yang sudah kamu lakukan bersama Marsha?” Sarah balas menyahut dengan nada tinggi.“Kamu menuduhku yang tidak-tidak.”“Kamu yang lebih dulu menuduhku yang tidak-tidak.”Gila. Baru satu hari berduaan, rasanya kepala Sarah sudah mau pecah. Perceraian memang jalan terbaik, batin Sarah mendesah.Sarah menutup laptopnya. Ia berjalan ke ranj
“Duduk!”Sarah tersentak mendengar Marc membentaknya. Sedikit gentar, ia duduk di sofa dengan jari-jari saling bertautan.“Aku tidak mau dengar kata-kata itu lagi.” Entah kenapa semakin Sarah menginginkan perceraian, Marc semakin tertantang untuk mempertahankannya.“Kita tidak bisa bersama, Marc.”“Siapa bilang?”“Ini ... demi Papa.” Sarah menundukkan pandangan.“Justru Papa menginginkan kita bersama.”Sarah menggeleng. Ingin sekali ia membeberkan rahasia ini. Sebisa mungkin ia tahan, karena respons Marc mungkin akan membuat semuanya bertambah runyam.“Kalau kita bersama akan lebih berbahaya.”“Aku tidak mengerti Sarah. Sepertinya terlalu banyak misteri ketika kamu kembali.” Marc mendesah.“Misteri?” Sarah menatap wajah Marc dengan kedua alis terangkat sedikit.“Kamu banyak berubah. Penampilan, pola hidup, selera makan, sikap dan gerik-gerikmu pun berbeda.”Haruskah Sarah senang karena ternyata Marc memperhatikannya? Tidak, jangan ge-er, Sarah. Wanita itu mengingatkan dirinya sendiri.
Marc dan Sarah berjalan-jalan di sekitar area pantai. Banyak pertokoan yang menjual aksesoris dan cidera mata.“Mau membeli oleh-oleh?” Marc menawarkan saat melihat Sarah menatap lama etalase toko.Sarah menoleh menatap Marc. “Boleh?”Tanpa kata, Marc menggandeng tangan Sarah memasuki toko. Sarah tercenung dan menatap sekilas tangannya yang dipegang Marc.“Pilih dan beli apa pun yang kamu suka.” Marc berkata saat mereka telah berada di dalam toko.Sesungguhnya, Sarah tidak tau apa yang harus ia beli. Ia tidak memiliki keluarga ataupun teman dekat. Akhirnya, ia hanya membeli beberapa kain pantai dan hiasan rumah untuk Ibu Irma.Sarah tidak menemukan benda yang bisa ia berikan pada keluarga Carrington. Ia menunjukkan barang belanjaannya pada Marc.“Itu saja?” Marc melihat sekilas keranjang belanjaan istrinya.Kepala Sarah mengangguk. “Iya, ini saja.”Marc mengambil alih keranjang lalu memberikannya pada kasir. Ia juga membayar tagihan belanja dan membawakan paperbag.“Biar aku saja yang
Semua mata menatap Frank. Adrian yang sejak tadi berdiri tak jauh dari bosnya ikut menahan napas mendengar nada suara Frank yang tampak curiga.“Benarkan?” Frank menatap Marsha. “Jika kamu menikah dengan Marc dalam waktu dekat, kalian belum bisa langsung memiliki anak karena .... ““Iya, tentu saja.” Tinna langsung memotong kalimat Frank. “Tadi, kami hanya berkhayal karena sangat antusias dengan pernikahan Marc dan Marsha kelak.”Alasan Tinna tidak membuat Frank percaya begitu saja. Melalui sudut matanya, ia mengamati Marsha yang sedang mengesap teh hangat dengan sikap elegan.Bukan sekali ini saja, Frank memergoki Marsha. Gaya hidup dan pola makannya hanya berubah saat wanita itu bersama keluarga Carrington.Frank pernah juga mendapat laporan dari beberapa orang, termasuk Larry tentang kebiasaan-kebiasaan Marsha yang jauh dari hidup sehat. Ia sempat berkilah itu semua karena Marsha masih muda dan tentunya lebih sehat.Namun di saat lain, Marsha terlihat rapuh. Sering mengeluh luka sa
Malam itu Sarah cukup bahagia. Ternyata pemilik resort juga mengenal Ayah dan Ibunya. Mereka bernostalgia bersama.“Siapa yang tidak mengenal Ayahmu? Di mana ada Frank, di situ ada Thomas.” Om Hansel berucap.“Dan kamu sangat mirip dengan Ibumu, Sarah.” Tante Audi menimpali.Setelah beberapa saat berbincang tentang orang tua Sarah, Om Hansel menatap Marc.“Om baru mendengar tentang kabar Papamu. Ia baik-baik saja sekarang, ‘kan?”“Baik, Om. Terima kasih atas perhatiannya. Maaf, kami memang tidak sempat mengabari Om dan Tante tentang keadaan Papa.”“Tak apa, kami mengerti. Yang penting Frank sekarang sudah sehat.”“Keluarga kalian beruntung ada yang mendonasikan ginjalnya untuk Frank. Kakakku hingga saat ini masih menunggu donor.” Tante Audi menggeleng sedih.Mereka kini berbincang tentang keadaan Frank setelah dioperasi. Sarah hanya mendengarkan dengan senyum tipis. Ikut senang mendengar perkembangan kesehatan Papa mertuanya.“Itu artinya kalian mendapat ginjal yang bagus.”“Betul. Te
Tiga tahun berlalu dengan cepat. Keluarga Carrington sedang berlibur di sebuah perkemahan mewah. Mereka juga mengajak keluarga Ibu Irma.Irwan dan Vania telah menikah dan memiliki satu orang anak perempuan yang dinamai Nirvana."Kenapa Kak Arzan jagain Vana terus?" Vivi memberengut kesal saat ia minta Arzan menemaninya main tetapi anak lelaki itu sedang sibuk menjaga adiknya."Vana masih kecil, Vivi. Sini, kita main sama-sama." Arzan menepuk sisinya yang kosong. Namun, Vivi malah melengos dan memilih bergelayut manja di kaki Papanya."Aku panggil Irwan dulu biar ia menjaga Vana." Vania yang sedang memasak dapur merasa tak enak hati mendengar pembicaraan Arzan dan Vivi."Sudah, biarkan saja. Gak papa, kok." Sarah yang sedang hamil besar menenangkan Vania."Aku gak enak, Sarah. Sepertinya Vivi cemburu karena Arzan menjaga Vana terus.""Lihat itu." Sarah mengendik pada Vivi yang kini asyik bermain bersama Marc. "Dia kesal cuma sebentar, kok."Vania tersenyum simpul dan mengangguk. Apalagi
Ulang tahun pertama Vivi sangat meriah. Meski anak perempuan itu belum memiliki banyak teman, tetapi tamu-tamu undangan mulai dari balita hingga kakek nenek banyak yang hadir.Marc menyulap taman belakang menjadi taman bermain yang nyaman dengan tenda dan AC portable di mana-mana. Berbagai makanan sehat tersebar di penjuru taman.Sebagian tamu adalah teman-teman Arzan yang membawa adik-adik mereka. Vivi jadi memiliki teman sebaya."Sepertinya, prediksi Arzan tepat. Akhir-akhir ini mereka jadi dekat, bukan?" Sarah melirik pada Irwan dan Vania yang tampak asyik berbincang dengan ibu Irma.Tanpa melihat objek pembicaraan mereka, Marc mengangguk. Lelaki itu melingkari tangan di pinggang sang istri dan membawanya ke meja makan."Masih lapar?" Sarah mengamati suaminya yang mengambil makanan cukup banyak."Apa kamu tidak lihat? Aku tadi lari-larian mengikuti Vivi?" Marc memotong steak ayam lalu menyuapi dirinya. "Lagipula, steak ini lezat sekali."Bahkan Sarah akhirnya ikut makan karena Mrac
Sesuai rencana, berita tentang Marc dan Vania menghilang. Tentu saja itu tidak lepas dari tim yang dibuat Adrian untuk menghapus semua postingan tersebut.“Sayang.” Marc menyapa istrinya yang sedang menyusui Vivi.“Ya?”“Jam berapa Arzan datang?”“Vania bilang, mereka sudah dalam perjalanan.”“Hmm ... aku ada rapat. Sengaja kubuat online. Tapi kalau Arzan datang dan aku belum selesai, minta ia ke ruang kerjaku saja, ya.”“Oke. Selamat rapat.”Marc mengangguk. Lalu, membungkuk sedikit untuk mencium pipi istri dan putrinya. Setelah itu, ia keluar dari ruang bayi.Setelah Marc keluar, seorang pelayan masuk membawa paket untuk Sarah.“Tolong dibuka,” pinta Sarah pada pelayan yang langsung mengangguk.Sarah tau isi paket itu adalah buku-buku Vania yang ia pesan secara online. Pelayan memberikan buku -buku yang masih berplastik itu pada Sarah lalu keluar.Vivi melepas puncak dada Mamanya karena tertarik dengan buku yang dipegang Sarah. Ia merebut buku tersebut lalu ikut membolak-balik halam
“Maafkan aku. Aku mengaku salah.” Khanza menunduk dalam-dalam.Adrian dan pengacara mendatangi kantor penerbit buku Vania. Mereka memberikan data bahwa Khanza membuat berita kebohongan agar publik tertarik pada cerita Vania dan membeli buku terbarunya.Direktur penerbitan menggeleng samar melihat data-data tersebut. Ia tidak menyangka Khanza berbuat seperti itu.“Aku melakukannya untuk Vania.” Khanza berkilah, membela diri.“Aku yakin Vania pun tak setuju kamu membantu dengan cara ini.” Adrian mengecam.“Vania sedang tidak fokus. Banyak pikiran. Jadi, aku pikir, aku perlu membantunya sedikit.”Direktur menggeleng. Ia juga tampak tidak setuju. Apalagi sampai ada pengacara yang menuntut mereka.“Masalahnya, Nona.” Pengacara menatap wajah Khanza dengan pandangan tajam. “Yang anda cemarkan adalah keluarga Carrington, terutama Tuan Marc.”“Lelaki yang selama ini terkenal dingin dan tidak bersosialisasi dengan media.” Adrian menambahkan.Direktur menengahi. Mereka akan membuat pengumuman pe
Pagi di bumi perkemahan cukup cerah setelah semalaman hujan. Pengelola bahkan tidak mengizinkan peserta kemping untuk melakukan trekking.“Terus kita ngapain, Om?” Arzan mengguncang-guncang tangan Irwan.“Masih ada pilihan untuk memancing. Kamu mau?”“Om bisa memancing?”“Bisa, dong.”“Mauuu.” Arzan menjerit senang.Vania menatap kebersamaan Irwan dan Arzan. Seandainya Bryan masih hidup, mungkin yang berdiri di depannya sekarang ada sosok Bryan dan Arzan. Vania menggeleng membuyarkan lamunannya.Telah lima tahun berlalu, tetapi rasanya masih sama. Kehilangan dan kedukaan itu masih sangat jelas di mata Vania.“Ibu, ayo ikut memancing,” ajak Arzan.Vania tau, Arzan pasti disuruh Irwan. Ia sebenarnya tidak tau apa-apa tentang memancing, tetapi demi menemani Arzan, Vania mengangguk.Perahu disiapkan pengelola perkemahan. Vania melihat Irwan berbincang dengan penjaga Arzan. Seperti setiap kegiatan Arzan, harus dilaporkan pada keluarga Carrington.Akhirnya mereka bertiga di atas perahu. Mer
Irwan menunggu. Vania mungkin sedang mengumpulkan kekuatan untuk memceritakan kisah kelamnya pada seseorang. Apalagi ia adalah orang baru yang pertama kali ditemui."Aku dan Bryan, ayah Arzan menikah tanpa restu. Kami lari dari keluarga karena memilih mempertahankan cinta."Vania mengembuskan napas kasar. Ia menyandarkan punggung pada dinding. Jari-jari tangannya saling bertautan."Di perkemahan seperti ini lah kami berbulan madu. Tiga bulan kemudian, aku hamil. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, beberapa bulan berikutnya, Bryan didiagnosis menderita kanker usus."Isakan Vania membuat Irwan memeluk erat Arzan. Ia tak ingin Arzan terbangun. Vania lalu sadar untuk segera menguasai diri.Sembari mengatur napas, Vania mengusap air matanya. Kini ia duduk sambil memeluk kaki-kakinya yang ditekuk.Dalam keadaan hamil, Vania merawat Bryan. Bryan cukup tegar dan berusaha menjalani pengobatan didampingi Vania.Pilihan itu datang saat Vania melahirkan. Kondisi Bryan bertambah lemah. Keuanga
Alrzan langsung bersembunyi di balik tubuh Vania. Wanita itu menyorotkan lampu senter pada lelaki yang berdiri di kegelapan. Arzan mengintip lalu bersorak.“Om Irwan.” Arzan langsung berlari menghampiri dan memeluk Irwan. “Lampu kabin kami mati, Om.”Irwan mengusap kepala Arzan. “Iya, kabin Om juga. Tadinya Om mau mencari bantuan tapi mendengar teriakan. Kebetulan sekali kita ada di sini, ya."“Aku bersama Ibu Vania. Cuma berdua.” Arzan menunjuk Vania yang terpaku di tempat melihat kedekatan putranya dengan lelaki yang dipanggil Om Irwan tersebut.Irwan mengangguk. Setelah berada pada jarak cukup dekat, Irwan menjulurkan tangan. Vania menyambutnya dan tersenyum penuh kelegaan.“Irwan. Aku putra Ibu Irma.”Sejenak setelah balas menyebut namanya, Vania mengamati Irwan. Rasanya ia pernah bertemu dengan lelaki ini. Tetapi, ia tidak ingat meskipun ia sering berada di kafe.“Kita memang belum pernah bertemu sebelum ini.” Irwan menjawab pengamatan Vania pada dirinya. “Oh, mungkin sekali. Saa
“Jadi Khanza, editor Vania yang menjadi otak gosip antara kamu dan Vania?” Sarah mengangkat alisnya. Tak menyangka bahwa ternyata orang terdekat Vania lah yang membuat kebohongan tersebut.“Iya. Itu dilakukan untuk mendongkrak penjualan buku Vania. Kamu ingat? Gosip itu beredar tak lama novel baru Vania terbit di pasaran.”Sarah mengangguk mengerti. “Vania tau?”“Itu sedang diselidiki Om Adrian.”“Perasaanku mengatakan Vania tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua.”Pernyataan Sarah dikuatkan oleh dugaan bahwa Vania tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya. Jika ia memang terlibat dan keluarga Carrington tau, ia pasti tidak akan bertemu lagi dengan Arzan. Bahkan Sarah sendiri pun akan melarangnya.Marc mengangguk setuju. Ia berharap hari ini juga sudah mendapat kabar dari orang-orang Adrian yang bekerja untuk mengusut kasus pencemaran nama baik ini.“Jika Arzan sudah pulang, kemungkinan ia menemukan berita tersebut akan besar. Aku tidak ingin itu terjadi.”“Aku tau.” Sarah mencebi
Dua hari kemudian, Vania menjemput Arzan. Selama akhir minggu, ia akhirnya memperoleh izin membawa Arzan hanya berdua saja. Vania menjemput Arzan di rumah keluarga Carrington.Sarah menyambut Vania sambil menggandeng Arzan. Ia menyerahkan tangan Arzan pada Vania dan hanya berpesan untuk bersenang-senang.“Ingat pesan Mama ya, Sayang.” Sarah mengelus kepala Arzan sebelum putra angkatnya itu masuk ke dalam mobil.Arzan mengangguk lalu memeluk Sarah erat-erat. Ia juga mencium pipi Sarah dan berkata akan menurut pada pesan sang Mama. Vania memperhatikan inetraksi tersebut dengan rasa haru.Selalu saja ada rasa iri di hati Vania. Tapi, ia merasa itu hal yang wajar. Ia bertanya dalam hati kapan Arzan akan sehangat itu pada dirinya.Dalam perjalanan, Arzan lebih banyak mengamati jalanan. Sesekali ia menengok ke belakang. Sebuah mobil van mengikuti kendaraan Vania.“Ada mobil penjagamu, ya?” Vania tersenyum pada Arzan.Anak lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan ibu kandu