Langit semakin gelap, senja cepat berganti malam. Suasana ladang sunyi, hanya desiran angin yang terdengar. Petani-petani pulang, kecuali satu wajah yang tertinggal—Agung.Agung berjalan perlahan, matanya penuh kebencian. Setiap langkahnya di tanah kering terdengar seperti ancaman bagi Bagas.Tatapan Agung penuh rencana, ingin membalas penghinaan Bagas. Setiap langkahnya membuat Bagas merasa ada yang aneh.Bagas menggeleng. Pikiran tentang tatapan Agung ia abaikan. Masalah lain lebih besar memenuhi kepalanya.Dia mengingat lagi ucapan Ratih tentang tiga hari yang hilang. Sesuatu terasa janggal."Ratih pasti salah," gumamnya, mencoba menenangkan diri. "Dia memang sering berlebihan."Bagas menepuk dahinya, berusaha melupakan semuanya.Ladang itu gelap, hanya bayang-bayang samar yang terlihat. Bagas duduk di kursi kayu, diam. Udara dingin menusuk tubuhnya.Pikirannya kacau. Wajah Agung terus terbayang. Kecurigaan mulai mengusik hatinya.Tiba-tiba, terdengar suara aneh.Srek! Srek!Bagas
Agung mundur selangkah. Matanya melebar, tubuhnya gemetar. "Ka—kamu kenapa , Bagas?" Bagas bangkit perlahan. Tatapannya dingin, menushm seperti belati. "Aku baik-baik aja, Gung. Hanya sedikit tersadar ... Bahwa aku terlalu baik sama kamu!" Pisau itu kini mengarah ke Agung. Bagas memutar-mutar gagangnya dengan santai, tapi sorott mata penuh ancaman, seolah siap mengoyak lawannya kapan saja."Kamu berhasil buat aku berdarah," ucapnya, senyum menyeringai lebar. "Sekarang, giliran kamu."Agung semakin gemetar. Keringat dingin membasahi wajahnya. Dia mencoba mundur lagi, tapi kakinya tersandung akar pohon, membuat tubuhnya tersungkur. "Bagas, tunggu! Jangan!" Agung berusaha menghentikan langkah Bagas yang kini semakin liar. Namun Bagas tidak peduli. Pisau itu tetap berada di tangannya, mengarah langsung ke Agung. Tapi langkah tiba-tiba terhenti. Bagas mendongak, mantap ke langit gelap. Bibirnya bergerakpelan, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak dimengerti oleh Agung.Agung memici
Ratih tersenyum kecil, lalu kembali memejamkan mata. "Kamu kenapa malam banget pulangnya, Mas?" gumamnya pelan, seolah tidak sadar ada sesuatu yang salah.Bagas berdiri di pintu kamar, memandangi adegan itu dengan perasaan campur aduk. Dia tahu apa yang akan terjadi, tapi dia tidak bisa—atau tidak mau—menghentikannya. Dengan tangan gemetar, dia menutup pintu perlahan.Dari balik pintu, terdengar suara napas berat yang berubah menjadi gemuruh rendah. Bagas tahu suara itu, tapi dia tidak ingin memikirkannya. Langkah kakinya perlahan menjauh dari pintu, keluar rumah.Udara malam menusuk kulitnya. Tapi yang paling menghantuinya adalah suara tawa samar dari dalam kamar.Dia berdiri di bawah pohon tua di dekat rumah, memandang ke langit yang gelap. "Ini terakhir kali," gumamnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi jauh di dalam hati, dia tahu itu kebohongan.Harga ini sudah terlalu sering dia bayar. Dan dia tahu, semakin lama, harga itu akan semakin mahal.Ratih kembali memej
Ratih mengguncang tubuh Bagas dengan panik. “Mas Bagas, bangun!” ujarnya, suaranya penuh ketegangan.Bagas terbangun dengan terkejut, matanya masih setengah terpejam. “Argh! Apa sih?!” Dia menghempaskan tangan Ratih yang menggoyangnya.Ratih mundur sejenak, napasnya terengah-engah. Matanya berkaca-kaca, namun ada rasa ragu yang mendalam. Dia menatap Bagas, matanya mencoba mencari jawaban yang dia tak tahu harus dicari di mana. Namun, mulutnya tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya. Bahkan, hati kecilnya menolak percaya bahwa semalam bukan Bagas yang bersamanya.“Ma—mas!” suara Ratih terdengar gemetar, namun dia masih ragu mengucapkan kata itu. Rasa takut dan bingung bercampur menjadi satu.Bagas memandangnya dengan tatapan tajam. "Apa lagi sih, Tih?!" Suaranya terdengar kasar, seperti menahan amarah. Dia langsung duduk bersandar di tempat tidurnya, mengusap wajahnya dengan kasar.Ratih diam sejenak, kemudian perlahan memegang lengan suaminya, mengarahkan matanya pada tubuhnya y
"Nak Bagas!" Kyai Ahmad menyapa dengan suara lembut.Namun, Bagas hanya terus memeriksa hasil panennya. Kyai Ahmad berdiri beberapa langkah dari Bagas, melihatnya dengan penuh pertanyaan."Ah, lagi sibuk, ya? Ya, udah kalau begitu," katanya sambil menghela napas.Saat mau pergi, langkahnya terhenti sejenak. Kyai tahu ada sesuatu yang berbeda lagi dari diri Bagas.Kecurigaan Kyai mulai muncul. Aura gelap yang mengelilingi Bagas semakin terasa kuat. "Seperti ada yang nggak beres," gumam kyai Ahmad, hampir tidak terdengar.Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Namun, mata itu tetap tertuju pada Bagas. Tiba-tiba, seorang petani datang mendekat dan berbicara dengan cepat pada Bagas. Kyai mengamati dari kejauhan."Apa yang sedang mereka bicarakan?" Petani itu tampak tergesa-gesa, berbicara dalam bisikan. Setelah beberapa saat, Bagas mengangguk. Tanpa berkata banyak, Bagas berdiri dan mengikuti petani itu.Insting kyai yang tajam segera mengikuti mereka. "Ada yang nggak beres," pikirn
Ratih berdiri di depan Kyai, tubuhnya gemetar hebat, napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat, dan matanya yang merah menandakan kekhawatiran yang mendalam. "Mas Bagas pulang tengah malam, Kyai..." suaranya bergetar, seolah ada sesuatu yang menghalangi napasnya.Dia menghela napas panjang, berusaha mengendalikan diri, tapi kepanikan itu tak bisa dia tahan. "Dia... dia seperti berbeda. Ini bukan hanya kecurigaan kosong!" Ratih mengangkat tangannya, gemetar, mencoba mengontrol diri. Matanya penuh cemas, seolah mencari jawaban yang tak kunjung datang.Kyai menatap Ratih dengan penuh perhatian, mendorongnya untuk melanjutkan. "Tenang, Nak," kata Kyai dengan lembut. "Ceritakan semuanya. Apa yang membuatmu merasa seperti itu?"Ratih menatap Kyai dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku pernah mengalami malam-malam aneh sebelumnya, Kyai... dan Kyai tau kan?" katanya, suaranya semakin lirih, penuh kesedihan yang terpendam.Kyai mengangguk perlahan, matanya seakan menembus jauh ke dalam di
"Ratih ... Ratih!" Suara teriakan Bagas memecah kesunyian.Wajahnya yang gelap dipenuhi rasa cemas. Seolah-olah dia sedang mengejar waktu yang terus berjalan. Bagas berlari ke dalam rumah. Dia kembali memanggil istrinya yang belum juga muncul. "Ah, mana sih dia ini!" gumamnya dengan kesal.Bagas merasa ada sesuatu yang tidak beres. Suasana rumah yang biasanya tenang kini terasa begitu mencekam. Seakan ada ketegangan yang mengendap di udara.Tidak lama setelahnya, terdengar suara hiruk-pikuk dari kejauhan. Suara teriakan penduduk desa yang begitu lantang semakin mendekat dan jelas."Ayo, kita usir aja dia dari sini!" teriak salah seorang warga dengan penuh kebencian. "Iya, benar! Usir ... Usir!" seru yang lain."Kalau perlu kita bakar dia hidup-hidup!" suara yang lebih keras terdengar penuh amarah."Apa-apaan ini?" Bagas terperanjat. Jantung berdegup kencang. Mereka terdengar begitu penuh kebencian dan niat jahat. Seakan-akan mereka sudah menunggu kesempatan sejak lama. Dalam bebera
"Feri ke sini!" teriak salah satu penduduk desa. Mendengar nama itu, Bagas matanya langsung melotot. 'Nggak! Nggak mungkin dia kan? Dia kan udah mati! Nggak mungkin dia bisa bangkit dari kuburkan?!' batin Bagas bertanya-tanya. Feri berjalan perlahan dari kerumunan penduduk desa. Dialah anak Pak Lurah Marwan. “Ratih, aku nggak suka kamu bicara seolah-olah kami ini cuma menuduh tanpa alasan,” kata salah satu penduduk desa. Dia melangkah maju, menunjuk Bagas dengan tongkat kayunya. “Kami semua udah cukup lama tau apa yang dilakukan suamimu!” Ratih terkejut. Dia memandang Feri dengan tatapan bingung, lalu kembali melirik Bagas yang mulai menggertakkan gigi. “Feri ...!" Penduduk desa yang lainnya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar seseorang dari kerumunan maju. Seorang petani yang bekerja di ladang Bagas. Wajahnya pucat, ketakutan. “Aku lihat sendiri, Bu Ratih,” ujar petani itu sambil menundukkan kepala. “Juragan membuat Feri ketakutan. Saya juga lihat ada sosok yang se
"Jagat... Kala, hentikan!"Suasana begitu mencekam.Ratih berdiri dengan tubuh gemetar, matanya tak bisa lepas dari pemandangan mengerikan di hadapannya. Jagat dan Kala sedang melahap beberapa kambing hidup. Daging dan darah segar berceceran, memenuhi tanah kandang ternak.Mereka seperti binatang buas yang kelaparan. Tidak—mereka lebih dari itu. Mereka bukan lagi manusia sepenuhnya.Walaupun Kala tampak lebih normal, tetap saja sifat iblis mengalir dalam darahnya, sama seperti Jagat, kakaknya.Kala menoleh dengan mulut berlumuran darah."Ini enak, Bu. Mau coba?"Suara itu tidak keluar dari mulutnya—suara itu menggema di dalam kepala Ratih.Ratih melangkah mundur, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Mata kedua anaknya semakin tajam, semakin menyeramkan.Dan yang lebih menakutkan—mereka bahkan tidak ragu untuk menyerangnya."Jagat... Kala! Hentikan perbuatan kalian!"Ratih berteriak, suaranya menggema di kandang ternak milik seorang warga yang baru saja pindah ke desa Sumb
"Jangan...!"Napas Ratih memburu, memenuhi ruangan yang kini terasa semakin sempit. Tubuhnya gemetar hebat, peluh membasahi pelipisnya."Tidak mungkin... Ini tidak akan terjadi!"Ratih berdiri dari duduknya dengan tergesa, tangannya meraih teko air di atas meja dan meneguk beberapa gelas sekaligus. Namun, rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda."Mimpi itu datang lagi!"Tangan Ratih semakin gemetar. Keringat dingin mengalir deras di punggungnya. Kenapa dia selalu bermimpi buruk tentang masa depan? Mengapa bayangan Jagat dan Kala yang berubah menjadi sosok mengerikan selalu menghantuinya?Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berkecamuk."Tidak mungkin ini akan terjadi, kan? Apa yang harus aku lakukan jika semua itu benar-benar terjadi?"Krek!Ratih terperanjat.Suara itu datang dari belakangnya—suara seperti kuku yang mencakar kayu.Krek!Kali ini suara itu semakin jelas. Seolah-olah sesuatu sedang merayap mendekat.Ratih membeku. Tangannya men
“Bakar rumahnya!”Teriakan itu menggema di sepanjang gang sempit menuju rumah kontrakan Ratih. Puluhan warga dari Desa Sumberarum dan Karangjati berkumpul dengan wajah penuh amarah. Beberapa membawa obor, yang lainnya menggenggam golok, kayu, atau batu. Mereka datang bukan untuk berdialog, melainkan untuk menghakimi."Keluar, Ratih! Jangan sembunyikan lagi anak-anak setanmu itu!"Suara-suara itu semakin mendekat. Ratih yang berada di dalam rumah segera meraih kedua anak balitanya, Jagat dan Kala, lalu berlari ke dalam kamar.“Diam ya, Nak… jangan bersuara,” bisiknya dengan napas memburu.Tangannya gemetar saat membuka lemari pakaian kayu yang mulai lapuk. Dia memasukkan kedua anaknya ke dalam, lalu menutup pintunya pelan."Jangan keluar sampai Ibu bilang, ya?" suaranya nyaris berbisik.Jagat dan Kala menatapnya dengan mata bulat mereka yang hitam pekat. Mereka tidak menangis, tidak bersuara.Ratih menarik napas dalam, lalu berbalik. Di luar, suara warga semakin memanas.Braak! Braak!
Ratih melangkah perlahan memasuki kediaman Kiai Ahmad. Hatinya diliputi kegelisahan, tetapi dia berusaha menenangkan diri. Dua hari telah berlalu sejak Kiai Ahmad dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian mengerikan di pendopo. Ratih masih belum bisa melupakan peristiwa itu, terutama sosok dua anaknya yang dia lihat di sana.Namun, kali ini dia memilih diam.Di dalam rumah, dia melihat Kiai Ahmad sedang beristirahat di dipan, tubuhnya dipenuhi perban. Luka-luka yang tampak di lengan dan wajahnya membuat dada Ratih semakin sesak."Kiai, bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan suara pelan.Seorang perempuan muda yang duduk di dekat Kiai Ahmad menoleh. Dia adalah anak perempuan Kiai Ahmad, seorang wanita yang terlihat kuat namun tetap lembut dalam sikapnya."Ini sudah lebih baik, Mbak Ratih," jawabnya dengan senyum tipis.Ratih mengangguk. "Syukur alhamdulillah," ucapnya lega, meskipun di dalam hati, dia masih menyimpan banyak pertanyaan.Dia duduk di kursi kayu yang berada di samping tem
"Ada apa itu?""Sepertinya dari rumah Pak Windra!"Suara teriakan dari arah ladang membuat Ratih tersentak. Warga desa yang masih berkumpul di pendopo pun langsung menoleh.Beberapa warga segera berlari ke arah sumber suara. Ratih berdiri mematung, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan. Jagat dan Kala masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan senyum aneh itu."Ayo-ayo kita kesana!""Iya, ada apa di sana?"Ratih tidak mau tahu. Dia harus pergi ke rumah Pak Windra! Dia harus memastikan.Dengan cepat, Ratih berlari menyusul warga yang sudah lebih dulu sampai. Ketika dia tiba di sana, teriakan histeris memenuhi udara."Ya Allah, Pak Windra!"Ratih menyibak kerumunan dan langsung terkejut.Pak Windra tergeletak di tanah dengan mata membelalak ketakutan. Tubuhnya penuh luka, robek di sana-sini, dan yang paling mengerikan—darah menggenang di sekitar lehernya yang hampir putus.
"Aku sudah bilang, suami Ratih itu bukan manusia biasa!""Benar! Aku juga pernah melihat sesuatu yang aneh di rumah mereka dulu.""Apa mungkin dia yang membunuh Feri?"Bisikan demi bisikan memenuhi udara malam yang dingin. Warga Desa Karangjati berkumpul di depan pendopo, membicarakan hal yang selama ini tak pernah mereka ungkapkan dengan lantang. Sosok Bagas, yang dulunya hanyalah seorang lelaki pendiam, kini kembali menjadi pusat ketakutan mereka."Genderuwo!" "Wah, itu makhluk terbesar yang pernah aku lihat di ladang Bagas!" Ratih berdiri tak jauh dari kerumunan, tubuhnya lelah dan wajahnya penuh luka cakaran. Darah yang mengering di pipinya terasa perih, namun lebih perih lagi mendengar namanya dan Bagas disebut-sebut sebagai sumber malapetaka."Aku dengar, Bagas dan Ratih dulu sering bertengkar di rumah mereka.""Dia, katanya Ratih ingin pergi, tapi Bagas tak pernah membiarkannya!""Apa jangan-ja
"Astagfirullah, Kiai!"Ratih mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat.Darah.Darah mengalir di lantai kayu, merembes ke sela-sela papan yang mulai lapuk. Tubuh Kiai Ahmad terkulai di atas tikar dengan napas yang tersengal-sengal.Matanya setengah terbuka, tapi pandangannya kosong."Ya Allah, Kiai! Apa yang telah terjadi!" Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Sayatan panjang di dadanya menganga, dan bekas cakaran mencabik kulit di lengannya.Ada sesuatu yang telah menyerangnya.Ratih menutup mulutnya, rasa mual merayap di tenggorokannya.Ini ulah mereka.Jagat dan Kala."Na—Nak Ratih..."Suara Kiai Ahmad bergetar, nyaris tak terdengar.Ratih buru-buru berlutut di sampingnya, berusaha mencari cara untuk menghentikan pendarahan. Namun, darah terus mengalir, membasahi jubah putihnya."Kiai, bertahanlah!" Ratih menahan air matanya. "Saya akan minta bantuan!""A—anak ... anak mu! ha—harus segera—"Dengan tangan gemetar, Ratih berlari ke luar rumah."Tolong! Ada yang bisa membantu?!"Be
"Siapa yang telah terbunuh?"Jantung Ratih berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Tidak... ini tidak mungkin terjadi lagi.Ratih menggigit bibir, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, pikirannya berkecamuk."Mayat siapa itu? Ke—kenapa...?"Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Tubuhnya terasa kaku, namun ketakutan yang mencekam membuatnya tidak bisa berdiam diri.Dia harus melihatnya.Ratih melangkah maju, lalu berhenti. Ragu.Tangannya gemetar saat dia meraih sebilah pisau di atas meja. Genggamannya erat, seakan itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari kengerian di balik pintu.Duka dan ketakutan menyelimuti hatinya.Lalu, dengan gerakan perlahan, dia mendorong pintu kamar itu.Kreek...Suara engsel berderit, membuka pemandangan yang membuat Ratih membeku.Darah.Darah ada di mana
"Ibu... kita di sini!"Suara itu kembali terdengar, menggetarkan udara malam yang dingin. Ratih menoleh ke kanan dan kiri, matanya liar mencari sumber suara. Namun, yang dia temukan hanyalah pepohonan tinggi yang menjulang, menciptakan bayangan gelap yang bergerak seiring tiupan angin."Di sini, Bu... di sini!"Ratih menelan ludah. Suaranya semakin dekat, tapi bayangan kedua anaknya tak juga terlihat.Bagaimana mereka bisa keluar rumah?Jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menyusup ke setiap sudut pikirannya."Jagat... Kala!" teriaknya, suaranya bergetar.Namun, hanya sunyi yang menjawabnya.Argh!Sebuah erangan tajam menggema di kegelapan.Ratih terperanjat, tangannya mencengkeram bajunya sendiri. Dia melangkah mundur, matanya liar mencari sumber suara.Tapi tidak ada siapa-siapa.Srek!Sesuatu bergerak di antara dedaunan kering. Ratih menahan napas. Dia tahu dia tidak sendirian di sini."Ibu... kami di sini!"Suara itu kembali terdengar, kali ini dari arah yang berbeda. Ratih mel