"Dasar bajingan mesum," umpat Anna dengan tangan menyilang di depan dada.
"Siapa yang kau bilang bajingan mesum?" Pengawal lelaki sudah melangkah maju, tapi kembali ditahan oleh Alaric. "Aku mengerti jika kau berpikiran negatif." Alaric mengangguk pelan. "Kata-kata yang kugunakan mungkin salah, tapi yang aku maksud adalah pernikahan." "Pernikahan?" Tentu saja Anna akan bertanya. "Ya." Alaric kembali mengangguk. "Lakukan pernikahan kontrak denganku dan aku akan membayarkan semua utang keluargamu. Itu tawaranku." Refleks, Anna memegang kepala dengan kedua tangan. Mendapat penawaran yang terdengar seperti dialog dalam film, membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi, dia ini baru dua puluh lima tahun dan tidak punya pengalaman dengan lelaki. "Aku hanya bisa menyinggung perasaan para lelaki," gumam Anna masih tampak terkejut, bahkan tidak bisa menutup mulutnya dengan rapat. "Bagaimana bisa menikah? Yang ada aku akan disembelih." "Apa kau baru saja mengumpat?" tanya Alaric dengan kening berkerut, karena perempuan di depannya berbicara dalam bahasa yang tidak dia mengerti. "Tidak." Anna langsung menggeleng. "Mungkin ya." Dia tiba-tiba mengubah jawabannya. "Jadi sebenarnya kau itu sedang mengumpat atau tidak?" tanya Alaric dengan tatapan tidak senang, bahkan sampai alisnya nyaris menyatu. "Aku mengumpati diriku sendiri." Anna mengangguk mengakui. "Tapi jujur saja, aku juga berpikiran negatif tentangmu." Alaric menyandarkan tubuh, melipat kaki dan juga melipat tangan di depan dada. Dia sebenarnya sudah cukup kehabisan kesabaran, tapi tidak bisa melakukan apa-apa juga. Mereka sedang berada di atas udara dan sekarang ini Alaric tidak memiliki banyak pekerjaan. "Biar bagaimana, kau itu orang asing. Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang asing yang jauh lebih tua dariku." Anna menatap lelaki di depannya dari atas sampai bawah. "Kau mungkin hanya sedikit lebih muda dari tua bangka yang ingin dijodohkan denganku." "Tua bangka?" tanya Alaric dengan sebelah alis terangkat dan mata yang nyaris melotot. "Aku menebak usiamu sudah di atas empat puluh." Anna tidak segan mengungkapkan pikirannya. "Paling sedikit itu empat puluh, itu pun rasanya terlalu dipaksakan." "Empat puluh?" tanya Alaric dengan kedua alis terangkat dan mata melotot. Bahkan rahang lelaki itu rasanya seperti bergeser. "Apa jangan-jangan kau sudah menginjak usia lima puluh?" Anna melebarkan mata dan menutup mulut, seolah merasa seperti sangat terkejut. Alaric mengetatkan rahangnya, sampai rasanya ada urat terlihat jelas di sana. Ingin sekali dia mengunyah perempuan muda di depannya, tapi itu jelas tidak mungkin dilakukan. Biar berada di negara orang, Alaric harus menjaga sikap. "Tuan Alaric baru berumur tiga puluh delapan." Pada akhirnya, si pengawal yang berbicara. "Jangan samakan dengan siapa pun itu yang kau sebut tua bangka." "Tiga delapan?" Anna langsung mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Setidaknya kita hanya berbeda tiga belas tahun." "Memangnya kalau lebih dari tiga belas tahun, kenapa?" Alaric merasa perlu menanyakan hal itu. "Aku tidak mau menikah dengan lelaki yang umurnya jauh lebih tua." Anna tidak segan untuk mengakui. "Sebenarnya aku bahkan tidak ingin menikahi lelaki yang usianya berbeda lebih dari lima tahun denganku." "Jadi aku bisa menyimpulkan kalau kau menolak penawaranku kan?" tanya Alaric dengan anggukan kepala pelan dan wajah yang tetap datar. "Tidak masalah juga, karena akan merepotkan kalau kau yang terlalu muda menjadi istriku." "Apanya yang merepotkan?" Anna membalas dengan pertanyaan. "Aku memang muda, tapi sama sekali tidak merepotkan." "Kita bahkan belum menikah, tapi kau sudah meminta uang untuk melunasi hutang keluarga. Itu saja sudah merepotkan. Jadi, kami akan memulangkanmu, langsung setelah mendarat." Mendengar hal itu, si pengawal yang sepertinya merangkap ajudan, langsung beranjak setelah menunduk tanda paham. Tanpa diberi perintah pun, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. "Tunggu dulu." Tiba-tiba saja Anna memekik. "Aku kan belum memberikan jawaban." "Bukankah kau tidak ingin menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua?" Alaric menaikkan sebelah alisnya. "Tapi bukan berarti menolak bukan?" tanya Anna tampak sedikit panik. "Jadi?" Alaric kembali menaikkan sebelah alisnya. "Kau mau atau tidak?" Anna tidak langsung menjawab. Jika ingin mendengar hati nuraninya, tentu saja dia akan menolak. Tapi biar bagaimana, dirinya akan mendapatkan banyak keuntungan ketika menjalin pernikahan kontrak ini. Hutang keluarganya akan lunas dan Anna tidak perlu menikah dengan lelaki tua bangka. Bukankah itu penawaran yang cukup bagus. "Ini hanya pernikahan kontrak bukan?" Anna perlu bertanya untuk meyakinkan. "Pernikahan kontrak yang hanya akan selesai, jika aku sudah tidak membutuhkanmu sebagai istriku." "Berapa lama?" "Entahlah." Alaric mengedikkan bahu. "Mungkin lima tahun? Mungkin satu tahun atau mungkin selamanya." "Selamanya itu bukan pernikahan kontrak lagi," balas Anna menelan air liurnya dengan perasaan tak menentu. "Yang namanya kontrak, pasti memerlukan jangka waktu bukan?" "Benar, tapi jangka waktu itu tidak bisa aku tentukan. Aku tidak tahu berapa lama aku membutuhkanmu untuk tampil sebagai istriku. Pilihannya ada padamu." Anna menarik dan mengembuskan napas secara perlahan. Kalau sudah begini, dia pun sulit mengambil keputusan bukan? Atau... haruskah Anna saja yang mengajukan jangka waktu kontraknya? "Kalau begitu." Anna pada akhirnya memutuskan."Selamat malam, namaku ...."Belum juga Anna selesai berbicara, dia sudah merasakan panas di pipi kirinya. Bukan hanya itu, kepalanya bahkan tertoleh sembilan puluh derajat karena tamparan yang dia terima barusan. Tamparan pertama yang pernah Anna rasakan seumur hidupnya. "Mom." Alaric menaikkan intonasi suaranya, ketika melihat apa yang terjadi. Tentu saja dia melindungi Anna, dengan menarik perempuan itu sedikit menjauh dari pelaku."Berani-beraninya kau membawa perempuan tidak jelas begini menjadi istrimu." Perempuan yang dipanggil Mom barusan berteriak. Tidak terlalu nyaring, tapi semua orang tahu perempuan itu sedang marah."Siapa yang bilang kalau Anna tidak jelas?" Alaric bertanya dengan intonasi suara yang sudah jauh lebih tenang. "Dia ini dokter, ayahnya juga dokter. Walau tentu saja tidak berkarir di negara kita.""Mana aku tahu gelar dokternya itu palsu atau tidak." Sang ibu masih terlihat marah dan tidak terima. "Sekali pun dia dokter, kita tidak tahu benar bagaiman
"Ini kamarku?" tanya Anna dengan kening berkerut. "Lalu kamarmu di mana? Tidak di sini juga kan?""Memangnya ada masalah dengan itu?" Alaric membalas dengan pertanyaan juga. Anna menaikkan sebelah alisnya. Dia sudah setuju untuk ikut ke rumah Alaric, dengan anggapan akan ada pelayan di sana dan mereka tidak akan berdua saja. Tapi mereka akan sekamar?"Tentu saja bermasalah." Anna langsung protes. "Walau nanti kita akan menikah, tapi bukan berarti aku akan tidur sekamar denganmu. Apalagi sebelum menikah.""Siapa yang mengatakan aku akan tidur sekamar denganmu?" tanya Alaric dengan kening berkerut."Loh, bukankah tadi kau mengatakan seperti itu?" Anna membalas dengan pertanyaan. "Aku tidak mengatakan seperti itu." Alaric sudah akan beranjak pergi, tapi ditahan."Ketika aku bertanya tentang kamarmu, kau mengatakan apa ada masalah dengan itu. Menurutmu apa yang akan ada dipikiranku, ketika kau mengatakan sesuatu seperti itu?"Kening Alaric berkerut. Padahal dia sudah berbaik ha
"Dasar mesum." "Kau mengatakan sesuatu?" Alaric bertanya pada perempuan yang duduk jauh di depannya. "Aku mengatakan kau mesum." Anna tidak keberatan untuk mengulang umpatannya. "Tidakkah kau merasa malu saat pergi membeli pakaian dalam perempuan?" "Untuk apa malu?" tanya Alaric dengan kening berkerut. "Toh, aku akan menjadi istriku." Dengan gerakan refleks, Anna menyilangkan tangan di depan dada. Dia sudah bisa menebak apa yang mungkin dipikirkan oleh lelaki di depannya itu. "Kau akan meniduriku?" "Apa ada yang salah dengan itu? Aku lelaki yang normal dan sehat," balas Alaric dengan wajah datarnya, sampai Darcy terbatuk pelan. "Lagi pula, dari pada memikirkan hal itu, kau sebaiknya bersiap." Kini Alaric kembali menatap tabletnya. Tentu saja dia perlu bekerja, walau hari masih sangat pagi. "Bersiap untuk apa?" tanya Anna mulai menyuap sarapan paginya. "Tentu saja kau perlu lebih banyak baju dari apa yang ada di dalam lemarimu sekarang," jelas Alaric, tanpa memindahkan
"Ini serius?" tanya seorang perempuan dengan rambut bergelombang. "Anak itik buruk rupa yang baru lahir ini adalah calon istrinya Al? Tidak salah kan?" Sudut bibir Anna berkedut mendengar apa yang dikatakan perempuan di depannya. Inginnya sih dia memaki, tapi jelas itu akan merugikannya. Biar bagaimana, tinggi Anna bahkan tidak bisa dibandingkan dengan perempuan yang tadi berbicara padanya. "Bagaimana kalau kita duduk saja dulu?" tanya Anna yang sudah mulai lelah mendongak. "Oh, untunglah kau masih punya sopan santun." Perempuan tadi dengan segera beranjak ke arah sofa, bahkan tanpa segan menyenggol tubuh Anna." Anna menggeram pelan, karena nyaris saja kepalanya bertabrakan dengan pundak sang tamu. Entah bagaimana, perempuan itu nyaris sama tinggi dengan Alaric. Tentu saja setelah dihitung dengan sepatu tinggi yang sang tamu pakai. "Jadi katakan padaku. Bagaimana kau bisa bertemu dengan Al?" Sang tamu kembali bertanya. "Mungkin lebih baik, Nona memperkenalkan diri lebih d
"Siapa yang kau bilang?" tanya Alaric dengan kedua alis yang terangkat. "Nona Astrid datang mengunjungi Nona Anna." Asisten Alaric kembali memberitahu. "Coba kau telponkan Astrid. Aku ingin berbicara dengan dia." Walau memberi perintah, tapi Alaric melakukannya sembari mengerjakan pekerjaan. Dia bahkan tidak bergeming, ketika mendengar panggilan sudah tersambung. Semua sang asisten yang bergerak, sementara Alaric memeriksa banyak hal pada laptop dan tablet miliknya. "Aku dengar kau pergi ke rumahku." Alaric langsung bersuara, ketika mendengar suara sapaan dari teleponnya yang sedang dalam mode pengeras suara. "Untuk apa?" "Tentu saja untuk berkenalan dengan mainan barumu," jawab Astrid sambil terkekeh pelan. "Dia sepertinya cukup menarik, jadi aku juga mau bermain dengannya." "Dia manusia, Ash. Bukan mainan." Tentu saja Alaric akan menegur. "Lagi pula, dia akan menjadi istriku." "Apa Mom sudah tahu?" Astrid membalas dengan pertanyaan. "Aku yakin dia tidak akan setuju de
"Kau terlambat." "Ya?" Anna melotot mendengar ucapan barusan, kemudian bergegas menatap jam yang dia pakai. "Tapi janjinya kan jam tujuh dan ini tepat jam tujuh," lanjutnya untuk membela diri. "Jam tujuh lewat lima puluh lima detik," jawab ibu Alaric dengan tatapan sinis dan bibir mencibir, setelah melihat jamnya sendiri. "Kau terlambat lima puluh lima detik. Hampir satu menit." Anna menaikkan kedua alis, bahkan dagunya pun nyaris saja jatuh. Masa satu menit juga dihitung terlambat? Padahal jarak antara pagar dan pintu utama saja lumayan jauh, belum lagi Anna masih harus turun dari mobil dan melintasi lobi rumah besar keluarga itu. "Maaf, lain kali aku akan lebih memperhatikan jadwal Nona Anna dengan lebih baik." Darcy yang mengatakan hal itu, agar tidak terjadi pertengkaran. "Asisten saja masih lebih tahu sopan santun dari pada kau." Ibu Alaric masih sempat mencibir, sebelum berbalik dan melangkah. "Wah." Anna nyaris saja memekik. "Yang benar saja." "Nona, sebaiknya kau
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Astrid bertanya, karena Anna belum mengatakan apa pun. Padahal perempuan muda itu sudah berdiri selama beberapa menit. "Ya, aku ... sebenarnya sedikit keberatan ...." "Aku rasa kau terlalu lelah." Alaric lagi-lagi menyela, kali ini saat calon istrinya berbicara. "Kau sampai tergagap saat berbicara. Apakah keluargaku semenyeramkan itu?" "Sama sekali tidak." Anna dengan cepat menggeleng. "Aku hanya ingin mengatakan kalau ... aku menerima pernikahan dengan Alaric, tanpa ada maksud terselubung." "Tentu saja harus seperti itu." Alaric mengangguk seolah mengerti, walau wajahnya tidak menampakkan senyuman. "Lalu karena kita semua sudah lelah, sepertinya aku dan Anna akan pulang lebih dulu." "Ya?" Mendengar hal itu, Anna langsung melotot. Padahal Anna belum menyentuh makanannya sedikit pun, tapi Alaric sudah meminta pulang. Lelaki itu juga hanya makan sedikit sih, tapi Anna bahkan baru memotong steak dan tidak sempat memasukkan daging itu ke dalam
"Mana Anna? Kenapa dia belum bangun?" Itu adalah hal pertama yang Alaric tanyakan di keesokan hari. "Maaf, Tuan." Darcy mau tidak mau membungkuk. "Nona Anna sepertinya sedang tidak begitu sehat, makanya dia belum bangun." "Tidak sehat bagaimana? Rasanya semalam dia baik-baik saja. Dia tidak sedang ngambek seperti semalam kan?" "Sama sekali tidak Tuan. Semalam Nona Anna memang mengeluh sakit perut, tapi mengatakan akan baik-baik saja jika tidur." Masih Darcy yang menjawab. Sebelah alis Alaric terangkat. Padahal dia memerlukan perempuan yang lebih muda darinya itu, agar mereka berdua bisa mendaftarkan pernikahan. Apalagi hari ini jadwal Alaric bisa dibilang cukup padat dan tidak ada waktu lain untuk mendaftar. "Panggil Anna turun. Aku akan menunggu selama sepuluh menit." Sebagai asisten perempuan yang sedang dibicarakan, Darcy bergegas untuk naik ke kamar sang nona. Biar bagaimana pun, perintah tuannya harus lebih didahulukan. "Bisakah kau menyiapkan sarapan bubur untukku?"
"Tunggu dulu, Al." Anna mendorong bahu suaminya dengan cukup keras, sambil berusaha merangkak mundur di atas ranjang. "Aku ini sedang hamil muda loh." "Lalu memangnya kenapa kalau sedang hamil muda?" tanya Alaric dengan tatapan menerawang. "Kita masih bisa bercinta kan?" "Menurut yang pernah kupelajari dan yang baru saja kubaca di internet, trisemester awal sangat rentan dan tidak disarankan untuk bercinta. Apalagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang." "Kenapa denganku?" Alih-alih mendengarkan, Alaric malah melepas kancing kemejanya satu per satu. "Kau dipengaruhi obat, jadi tidak mungkin bisa melakukannya pelan-pelan." Anna memekik cukup keras. "Aku akan pelan." "Tidak mungkin kau bisa pelan dalam keadaan seperti ini." Tidak tahan lagi, Anna memilih berteriak. Dia makin panik karena kini sang suami mulai membuka celana. "Tuan aku minta maaf." Padahal Alaric sudah setengah jalan membuka celananya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara di belakangnya. Setelah itu, dia
"Maafkan aku Nyonya." Tiba-tiba saja, Darcy datang dan membungkuk. "Aku melakukan kesalahan dan pantas dihukum." "Tunggu dulu." Anna yang sedang bersantai sambil mengunyah biskuit, langsung menghentikan aktifitasnya. "Memangnya kau melakukan kesalahan apa?" "Ini tentang pil pencegah kehamilan yang pernah Nyonya minum." Darcy tentu saja akan menjelaskan. "Rupanya itu bukan morning pill, tapi hanya pil KB biasa saja." "Ah, begitu toh." Anna mengangguk paham. "Pantas saja aku tetap hamil walau sudah minum pil, ternyata memang salah ya." "Ya." Darcy ikut mengangguk. "Seharusnya Nyonya meminum morning pill, yang memang diminum sekali saja setelah berhubungan. Kalau pil KB biasa, itu harus diminum rutin baru berfungsi." "Aku juga tahu itu Darcy, tapi terima kasih sudah menjelaskan." Untungnya, Anna sama sekali tidak marah atas keteledoran sang asisten. "Nyonya tidak marah?" "Lalu apa kau sengaja membeli pil yang salah?" Tentu saja Darcy akan menggeleng sebagai jawabannya. It
"Ian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marjorie dengan bola mata yang membulat karena terkejut. "Bukankah harusnya itu pertanyaanku?" tanya Caspian dengan senyum lebar. "Kau seharusnya mencari di dalam gedung dan bukan di dalam kamar hotel seperti sekarang." "Oh, soal itu." Marjorie menyelipkan rambut di telinga, berusaha untuk tetap tenang. "Aku tiba-tiba saja merasa tidak enak badan dan perlu untuk segera pulang dan beristirahat." "Tapi kenapa kau tidak memberitahu?" tanya Caspian dengan kedua alis terangkat dan sebelah tangan menahan pintu, sementara yang lainnya bertengger di kusen pintu. "Padahal kita sedang mencari Tuan Alaric yang menghilang loh." "Aku tidak memberitahu?" tanya Marjorie pura-pura bodoh. "Rasanya tadi aku sudah mengirimkan pesan." Sayangnya, Caspian tidak terlihat ingin membalas ucapan perempuan di depannya. Dia justru melihat penampilan Marjorie yang sebenarnya sudah cukup berantakan. Hal yang membuatnya mendengus geli. "Apa kau habis bercinta?
"Tuan?" Caspian memanggil, sembari menatap ke sekeliling ruangan. "Apakah kau pergi ke toilet?" Tidak mendapat jawaban, sang asisten langsung pergi mencari ke toilet. Dia bahkan sampai pergi mencari ke tempat yang memiliki mesin penjual otomatis, karena berpikir kalau Alaric akan pergi beli kopi atau camilan. Dia melakukan semua itu, sembari menelepon sang tuan. "Kenapa malah tidak diangkat?" gumam Caspian dengan kening berkerut. "Oh, Ian kebetulan kau muncul." Tiba-tiba saja, Marjorie muncul. "Apa kau melihat Alaric? Aku mencarinya sejak tadi, tapi dia tidak ditemukan." "Aku juga sedang mencari Tuan," jawab Caspian dengan kening berkerut. Entah kenapa dia merasa ada yang salah. "Loh, jadi kita harus bagaimana?" Marjorie malah terlihat sedikit terkejut. "Memang sudah tidak ada jadwal setelah ini, tapi nanti malam? Bukankah kita akan pergi makan malam bersama?" "Makan malam bersama bisa ditunda, Nyonya Jackson." Caspian makin mengerutkan kening. "Lagi pula tim kita tidak ak
Alaric memijat pangkal hidungnya. Dia sudah mendapat kabar dari rumah tentang Anna, tapi itu malah membuatnya makin sakit kepala. Siapa yang menyangka kalau sekali kesalahan akan membuatnya sakit kepala seperti sekarang ini. "Apa istrimu membuat masalah?" tanya Marjorie yang mendatangi mantannya dengan senyum lebar dan segelas minuman dingin. "Ya." Alaric tidak ragu mengangguk. "Dia membuat masalah yang cukup membuatku sakit kepala," lanjutnya menerima minuman yang diberikan oleh sang mantan. Alaric merasa butuh sesuatu yang segar. Apalagi, dia baru saja menyampaikan pidato kampanye yang membuat tenggorokannya terasa kering. "Kali ini, apa lagi yang dia lakukan?" tanya Marjorie duduk di depan Alaric, sambil menopang dagu di meja. "Dia mengamuk di jalan?" "Anna hamil," jawab Alaric tanpa perlu berpikir panjang. "Padahal aku sedang sibuk kampanye dan mungkin tidak bisa terus menemaninya. Itu tentu saja membuatku sakit kepala." "Apa maksudmu?" Alih-alih mengerti, Marjorie m
"Apakah Tuan mengkhawatirkan Nyonya Anna?" Caspian yang baru datang bertanya, ketika melihat tuannya yang terlihat cemas. "Tentu saja aku akan memikirkannya," jawab Alaric tanpa ragu. "Biar bagaimana, aku tidak merencanakan adanya anak." "Kehamilan Nyonya belum dipastikan." Caspian mengulurkan tangan yang membawa segelas kopi panas. "Jika sudah dikonfirmasi, baru kita bisa memikirkan jalan keluar yang baik." "Memangnya ada jalan keluar apa lagi?" Alaric bertanya dengan sebelah tangan memegang cangkir kertas dan tangan lainnya terulur mengambil sandwich yang diberikan sang asisten. "Aku tidak mungkin membuangnya bukan?" "Tentu saja tidak, tapi mungkin ada hal baik lain yang bisa kita lakukan." Sang asisten, kemudian duduk di samping sang tuan, sama-sama menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan aktivitas bandara. Sesuai yang dikatakan Alaric semalam, pagi ini dia sudah harus berangkat lagi. Kali ini, Alaric memilih pesawat komersil dan tentu saja harus datang dan menun
"Ada keributan apa itu di luar?" Alaric langsung menoleh ketika mendengar suara bernada tanya barusan. Dia yang entah bagaimana merasa penasaran, segera mengeringkan tangan dengan tisu dan keluar dengan langkah yang tidak buru-buru. "Anna?" Kening Alaric langsung berkerut, ketika dia melihat dan mendengar suara teriakan sang istri. "Ada apa ini?" Tentu saja Alaric segera mendekat. "Tidak tahu Tuan." Darcy menggeleng keras. "Nyonya tadi terjatuh dan menabrak seseorang, lalu tiba-tiba dia berteriak," lanjutnya menjelaskan dengan cepat. "Sialan," desis Alaric sangat pelan, kemudian menatap sekitarnya. "Maaf, tapi bisakah kalian menjauh?" lanjutnya pada semua orang. "Dia istriku dan aku bisa menangani ini." Alaric dengan cepat menahan kedua tangan sang istri yang memberontak dibantu oleh Darcy, kemudian meraih tubuh Anna ke dalam dekapannya. "Hei, Anna." Setelah semua orang agak menjauh, Alaric berusaha menyadarkan sang istri. "Ini aku, Alaric." "Tidak aku mohon." Bukannya
Alaric menatap ke depan dengan kening bekerut. Dia melihat Marjorie yang sedang tertawa entah bersama dengan siapa di sana. Yang jelas, Alaric belum pernah melihat lelaki yang tertawa bersama dengan mantannya itu. Rasanya ada yang aneh, tapi Alaric tidak tahu apa hal aneh yang dia rasakan. Yang jelas, ini berbeda dengan apa yang dulu dia rasakan. "Al." Tiba-tiba saja terdengar suara yang begetar. "Ada apa?" Alaric refleks menoleh dan menemukan istrinya yang sekarang ini gemetar. "Kau kenapa?" Tentu saja Alaric akan bertanya dengan kening berkerut. "Kenapa gemetar?" Sayangnya, Anna tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap ke satu arah, kemudian tiba-tiba saja menutup matanya dengan sangat rapat. "Ada apa di sana?" Penasaran, Alaric pun melihat ke arah yang dilihat istrinya. Tidak jauh di belakang Marjorie. "Aku tidak melihat apa pun di sana, apa ada seseorang yang aneh?" "Tidak ada lelaki tua di sana?" tanya Anna masih dengan mata yang terpejam. "Lelaki tua seperti apa?"
"Wah, Alaric. Calon perdana menteri kita yang tampan, akhirnya memperlihatkan pasangannya pada dunia." "Selamat malam," gumam Anna yang setengah bersembunyi di balik tubuh suaminya. "Maaf, tapi dia anak yang sangat pemalu." Mau tidak mau, Alaric segera mengambil alih pembicaraan. "Lalu ini juga pesta yang sangat luar biasa. Aku yakin cucumu akan sangat bahagia." "Terima kasih atas ucapan manis itu, tapi apakah istrimu atau pacarmu ini akan terus bersembunyi di belakangmu?" tanya si pemilik acara dengan kening yang sedikit berkerut. "Bukankah kau setidaknya harus memperkenalkan dia?" Alaric tidak bisa langsung menjawab dan memilih untuk melirik istrinya terlebih dulu. Jujur saja, dia tidak berpikir kalau Anna akan terlihat setakut ini. Hal itu tentu saja membuat Alaric kebingungan, apalagi ini hanya pesta biasa saja bukan? "Kau tidak apa-apa?" Alaric memilih untuk bertanya lebih dulu, dengan cara berbisik. "Aku ... tidak apa-apa." Walau sempat ragu, Anna pada akhirnya mengg