Share

10. Diabaikan

Author: 5Lluna
last update Huling Na-update: 2025-02-06 18:53:19

"Kau terlambat."

"Ya?" Anna melotot mendengar ucapan barusan, kemudian bergegas menatap jam yang dia pakai. "Tapi janjinya kan jam tujuh dan ini tepat jam tujuh," lanjutnya untuk membela diri.

"Jam tujuh lewat lima puluh lima detik," jawab ibu Alaric dengan tatapan sinis dan bibir mencibir, setelah melihat jamnya sendiri. "Kau terlambat lima puluh lima detik. Hampir satu menit."

Anna menaikkan kedua alis, bahkan dagunya pun nyaris saja jatuh. Masa satu menit juga dihitung terlambat? Padahal jarak antara pagar dan pintu utama saja lumayan jauh, belum lagi Anna masih harus turun dari mobil dan melintasi lobi rumah besar keluarga itu.

"Maaf, lain kali aku akan lebih memperhatikan jadwal Nona Anna dengan lebih baik." Darcy yang mengatakan hal itu, agar tidak terjadi pertengkaran.

"Asisten saja masih lebih tahu sopan santun dari pada kau." Ibu Alaric masih sempat mencibir, sebelum berbalik dan melangkah.

"Wah." Anna nyaris saja memekik. "Yang benar saja."

"Nona, sebaiknya kau
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Pesona Sang Penguasa   11. Boneka Kecil

    "Apa ada yang ingin kau katakan?" Astrid bertanya, karena Anna belum mengatakan apa pun. Padahal perempuan muda itu sudah berdiri selama beberapa menit. "Ya, aku ... sebenarnya sedikit keberatan ...." "Aku rasa kau terlalu lelah." Alaric lagi-lagi menyela, kali ini saat calon istrinya berbicara. "Kau sampai tergagap saat berbicara. Apakah keluargaku semenyeramkan itu?" "Sama sekali tidak." Anna dengan cepat menggeleng. "Aku hanya ingin mengatakan kalau ... aku menerima pernikahan dengan Alaric, tanpa ada maksud terselubung." "Tentu saja harus seperti itu." Alaric mengangguk seolah mengerti, walau wajahnya tidak menampakkan senyuman. "Lalu karena kita semua sudah lelah, sepertinya aku dan Anna akan pulang lebih dulu." "Ya?" Mendengar hal itu, Anna langsung melotot. Padahal Anna belum menyentuh makanannya sedikit pun, tapi Alaric sudah meminta pulang. Lelaki itu juga hanya makan sedikit sih, tapi Anna bahkan baru memotong steak dan tidak sempat memasukkan daging itu ke dalam

    Huling Na-update : 2025-02-07
  • Pesona Sang Penguasa   12. Ciuman

    "Mana Anna? Kenapa dia belum bangun?" Itu adalah hal pertama yang Alaric tanyakan di keesokan hari. "Maaf, Tuan." Darcy mau tidak mau membungkuk. "Nona Anna sepertinya sedang tidak begitu sehat, makanya dia belum bangun." "Tidak sehat bagaimana? Rasanya semalam dia baik-baik saja. Dia tidak sedang ngambek seperti semalam kan?" "Sama sekali tidak Tuan. Semalam Nona Anna memang mengeluh sakit perut, tapi mengatakan akan baik-baik saja jika tidur." Masih Darcy yang menjawab. Sebelah alis Alaric terangkat. Padahal dia memerlukan perempuan yang lebih muda darinya itu, agar mereka berdua bisa mendaftarkan pernikahan. Apalagi hari ini jadwal Alaric bisa dibilang cukup padat dan tidak ada waktu lain untuk mendaftar. "Panggil Anna turun. Aku akan menunggu selama sepuluh menit." Sebagai asisten perempuan yang sedang dibicarakan, Darcy bergegas untuk naik ke kamar sang nona. Biar bagaimana pun, perintah tuannya harus lebih didahulukan. "Bisakah kau menyiapkan sarapan bubur untukku?"

    Huling Na-update : 2025-02-08
  • Pesona Sang Penguasa   13. Malam Pertama

    "Kenapa kau terlihat seperti orang ketakutan? Apa ini ciuman pertamamu?" Itu yang dikatakan oleh Alaric saat itu. "Ka ... kata siapa?" Anna menghardik pelan. "Aku hanya tidak terbiasa harus dilihat oleh orang lain." "Kalau begitu, bertahanlah sebentar." Tanpa banyak bicara lagi, Alaric melangkah maju. Dia meraih pipi istrinya, membuat kepala yang jauh lebih pendek darinya itu mendongak agar lebih mudah untuk dikecup. Alaric membuka sedikit mulutnya dan sedikit mengulum bibir perempuan di depannya, tanpa mendapatkan reaksi berarti. Hal yang membuatnya tersenyum tanpa melepas pagutannya, makin membuat Alaric yakin kalau istrinya ini memang amatiran. "Sudah selesai," bisik Alaric nyaris kesulitan menyembunyikan senyumannya. "Kau sudah bisa membuka matamu." Kedua mata Anna yang terpejam dengan sangat erat, kini salah satunya terbuka dengan pelan. Dia menatap lelaki di depannya dengan sebelah mata terbuka itu, kemudian membuka yang satunya lagi dan langsung menundukkan kepala

    Huling Na-update : 2025-02-08
  • Pesona Sang Penguasa   14. Kerja Paksa

    "Katanya Tuan Alaric hari ini pulang lebih cepat dan akan makan malam di rumah." Anna melotot mendengar apa yang dikatakan oleh asistennya barusan. Padahal dia sudah mati-matian menghindari perawatan area sensitifnya dan memilih pulang lebih cepat dari klinik untuk tidur cepat, tapi rupanya itu sulit. "Bukankah Tuan Alaric itu sibuk?" tanya Anna masih sedikit melotot. "Kenapa dia bisa pulang cepat?" "Tentu saja karena hari ini adalah hari pernikahan kalian. Suami mana yang akan pulang terlambat di hari seperti ini bukan? Apalagi, nanti akan ada makan malam bersama." "Ya?" Bukannya makin tenang, Anna malah makin syok. "Nyonya Elizabet dan Nona Astrid akan datang untuk makan malam di sini." Darcy tidak keberatan untuk menjelaskan. "Bukankah kemarin kami sudah makan malam bersama? Kenapa sekarang makan malam bersama lagi?" "Nyonya, ini pernikahanmu." Darcy mempertegas dengan kening berkerut bingung. "Walau mungkin ini pernikahan yang tidak sesuai dengan impianmu, tapi tetap

    Huling Na-update : 2025-02-09
  • Pesona Sang Penguasa   15. Kissmark

    "Haruskah kau tidur di sini juga?" Anna yang sedang berdiri di ambang pintu kamar mandi bertanya, sembari menatap ke arah ranjang dengan kening berkerut. "Di sini adalah kamar yang paling besar," jawab Alaric tanpa mengalihkan perhatian dari tabletnya. "Lagi pula, kita sudah menikah." "Tapi tetap saja," cicit Anna benar-benar merasa khawatir. "Kau kan bisa tidur di sofa saja." "Kalau kau tidak ingin tidur di ranjang, tidak masalah. Kau bisa tidur di sofa, lantai, atau mungkin pergi ke kamar tamu. Di sana ada ibu dan kakakku." Alaric menatap perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu, dari balik kacamata bacanya. Jujur saja, itu membuat Alaric terlihat sedikit lebih tampan dari biasanya. Hal yang membuat Anna kesulitan. "Aku tidak mungkin pergi ke kamar tamu." Anna tiba-tiba cemberut, karena merasa ketampanan lelaki di depannya sangat tidak masuk akal. "Mereka sudah membenciku dan mungkin akan makin membenciku karena tidak menjalankan tugas sebagai istri." "Kalau kau ta

    Huling Na-update : 2025-02-09
  • Pesona Sang Penguasa   16. Pondok Mertua Indah

    "Dasar anak muda zaman sekarang." Elizabeth mengeluh, sembari menatap menantunya dengan tajam. "Masa ibu mertuanya tidak dilayani saat sarapan pagi." "Di sini ada asisten rumah tangga, Mom." Alaric yang menjawab ibunya, setelah menyesap sedikit kopi dari cangkirnya. "Lagi pula, kami masih berbulan madu. Hal yang wajar jika bangun terlambat." "Ya, tidak berarti kalian harus mengabaikan ketukan pintuku." Sayangnya Elizabeth tidak mau kalah dan makin melotot pada sang mantu. "Apalagi perempuan muda sepertimu, seharusnya bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, bukan hanya bergelut di atas ranjang dengan suamimu." "Tapi aku tidak tahu masak," balas Anna terlihat sedikit terkejut. "Bagaimana mungkin kau tidak bisa memasak?" Tentu saja Elizabeth akan menghardik. "Setidaknya kau bisa merebus telur atau memanggang roti kan?" "Aku tidak tahu semua itu." Sayangnya, Anna harus menggeleng. "Tapi seperti kata Alaric, di sini sudah ada yang mengatur itu semua ...." "Bukan berarti kau tidak

    Huling Na-update : 2025-02-10
  • Pesona Sang Penguasa   17. Orang Tua Gila

    "Jadi kapan kau ingin membawa ayahmu datang? Kau belum menghubungi dia atau bagaimana?" "Kau tidak pergi bekerja?" Bukannya menjawab, Anna malah bertanya sambil menatap lelaki yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar tidur. "Bukankah aku sudah bilang?" Alaric menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Aku cuti selama satu atau dua hari ini. Mungkin lebih." "Padahal kita tidak benar-benar menikah," gumam Anna pelan. "Tapi kita harus terlihat benar-benar menikah." Kini Alaric menatap sang istri. "Jadi kapan kau mau menepati janjimu?" "Kapan aku berjanji seperti itu?" Tentu saja Anna akan bertanya dengan kening berkerut. Dia memang pernah membicarakan papanya, tapi rasanya tidak pernah menjanjikan apa pun, apalagi soal kedatangan sang ayah ke tempat tinggalnya sekarang. "Akan sangat aneh kalau kita menikah, tapi kedua orang tua tidak saling mengenal." Alaric menjelaskan, sembari kembali menatap tablet yang dia pegang. "Publik akan bergosip jika kita me

    Huling Na-update : 2025-02-10
  • Pesona Sang Penguasa   18. Ibu Tiri

    "Kau siapa?" Anna berkedip mendengar pertanyaan barusan. Bibir perempuan itu sedikit terbuka, karena dia merasa bingung dan terkejut dengan pertanyaan dari orang yang berdiri di depannya. "Harusnya itu pertanyaanku," balas Anna setelah sadar dari rasa terkejutnya. "Kau siapa dan bagaimana bisa ada di dalam rumahku?" "Ah, kau anak dari si tua itu ya." Perempuan seksi dengan rambut panjang yang berdiri di ambang pintu mengangguk pelan. "Masuklah dulu." "Sebelum kami masuk, bagaimana kalau kau memperkenalkan diri dulu?" Walau Anna terdengar seperti enggan masuk ke rumah, tapi nyatanya dia melangkah masuk. "Katakan saja aku teman tidur papamu." "MAAF?" Anna nyaris saja memekik. "Kenapa kau terkejut seperti itu?" Perempuan yang mengaku sebagai teman tidur itu mengerutkan kening. "Tidak mungkin kau tidak tahu apa yang dilakukan papamu selama ini kan?" Anna tidak bisa menjawab dan hanya bisa berkedip saja. Dia tampak sangat terkejut dengan kenyataan itu, berbanding terbalik de

    Huling Na-update : 2025-02-11

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Sang Penguasa   92. Memancing

    "Tunggu dulu, Al." Anna mendorong bahu suaminya dengan cukup keras, sambil berusaha merangkak mundur di atas ranjang. "Aku ini sedang hamil muda loh." "Lalu memangnya kenapa kalau sedang hamil muda?" tanya Alaric dengan tatapan menerawang. "Kita masih bisa bercinta kan?" "Menurut yang pernah kupelajari dan yang baru saja kubaca di internet, trisemester awal sangat rentan dan tidak disarankan untuk bercinta. Apalagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang." "Kenapa denganku?" Alih-alih mendengarkan, Alaric malah melepas kancing kemejanya satu per satu. "Kau dipengaruhi obat, jadi tidak mungkin bisa melakukannya pelan-pelan." Anna memekik cukup keras. "Aku akan pelan." "Tidak mungkin kau bisa pelan dalam keadaan seperti ini." Tidak tahan lagi, Anna memilih berteriak. Dia makin panik karena kini sang suami mulai membuka celana. "Tuan aku minta maaf." Padahal Alaric sudah setengah jalan membuka celananya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara di belakangnya. Setelah itu, dia

  • Pesona Sang Penguasa   91. Gairah

    "Maafkan aku Nyonya." Tiba-tiba saja, Darcy datang dan membungkuk. "Aku melakukan kesalahan dan pantas dihukum." "Tunggu dulu." Anna yang sedang bersantai sambil mengunyah biskuit, langsung menghentikan aktifitasnya. "Memangnya kau melakukan kesalahan apa?" "Ini tentang pil pencegah kehamilan yang pernah Nyonya minum." Darcy tentu saja akan menjelaskan. "Rupanya itu bukan morning pill, tapi hanya pil KB biasa saja." "Ah, begitu toh." Anna mengangguk paham. "Pantas saja aku tetap hamil walau sudah minum pil, ternyata memang salah ya." "Ya." Darcy ikut mengangguk. "Seharusnya Nyonya meminum morning pill, yang memang diminum sekali saja setelah berhubungan. Kalau pil KB biasa, itu harus diminum rutin baru berfungsi." "Aku juga tahu itu Darcy, tapi terima kasih sudah menjelaskan." Untungnya, Anna sama sekali tidak marah atas keteledoran sang asisten. "Nyonya tidak marah?" "Lalu apa kau sengaja membeli pil yang salah?" Tentu saja Darcy akan menggeleng sebagai jawabannya. It

  • Pesona Sang Penguasa   90. Daftar Mantan

    "Ian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marjorie dengan bola mata yang membulat karena terkejut. "Bukankah harusnya itu pertanyaanku?" tanya Caspian dengan senyum lebar. "Kau seharusnya mencari di dalam gedung dan bukan di dalam kamar hotel seperti sekarang." "Oh, soal itu." Marjorie menyelipkan rambut di telinga, berusaha untuk tetap tenang. "Aku tiba-tiba saja merasa tidak enak badan dan perlu untuk segera pulang dan beristirahat." "Tapi kenapa kau tidak memberitahu?" tanya Caspian dengan kedua alis terangkat dan sebelah tangan menahan pintu, sementara yang lainnya bertengger di kusen pintu. "Padahal kita sedang mencari Tuan Alaric yang menghilang loh." "Aku tidak memberitahu?" tanya Marjorie pura-pura bodoh. "Rasanya tadi aku sudah mengirimkan pesan." Sayangnya, Caspian tidak terlihat ingin membalas ucapan perempuan di depannya. Dia justru melihat penampilan Marjorie yang sebenarnya sudah cukup berantakan. Hal yang membuatnya mendengus geli. "Apa kau habis bercinta?

  • Pesona Sang Penguasa   89. Putri Tidur

    "Tuan?" Caspian memanggil, sembari menatap ke sekeliling ruangan. "Apakah kau pergi ke toilet?" Tidak mendapat jawaban, sang asisten langsung pergi mencari ke toilet. Dia bahkan sampai pergi mencari ke tempat yang memiliki mesin penjual otomatis, karena berpikir kalau Alaric akan pergi beli kopi atau camilan. Dia melakukan semua itu, sembari menelepon sang tuan. "Kenapa malah tidak diangkat?" gumam Caspian dengan kening berkerut. "Oh, Ian kebetulan kau muncul." Tiba-tiba saja, Marjorie muncul. "Apa kau melihat Alaric? Aku mencarinya sejak tadi, tapi dia tidak ditemukan." "Aku juga sedang mencari Tuan," jawab Caspian dengan kening berkerut. Entah kenapa dia merasa ada yang salah. "Loh, jadi kita harus bagaimana?" Marjorie malah terlihat sedikit terkejut. "Memang sudah tidak ada jadwal setelah ini, tapi nanti malam? Bukankah kita akan pergi makan malam bersama?" "Makan malam bersama bisa ditunda, Nyonya Jackson." Caspian makin mengerutkan kening. "Lagi pula tim kita tidak ak

  • Pesona Sang Penguasa   88. Jebakan

    Alaric memijat pangkal hidungnya. Dia sudah mendapat kabar dari rumah tentang Anna, tapi itu malah membuatnya makin sakit kepala. Siapa yang menyangka kalau sekali kesalahan akan membuatnya sakit kepala seperti sekarang ini. "Apa istrimu membuat masalah?" tanya Marjorie yang mendatangi mantannya dengan senyum lebar dan segelas minuman dingin. "Ya." Alaric tidak ragu mengangguk. "Dia membuat masalah yang cukup membuatku sakit kepala," lanjutnya menerima minuman yang diberikan oleh sang mantan. Alaric merasa butuh sesuatu yang segar. Apalagi, dia baru saja menyampaikan pidato kampanye yang membuat tenggorokannya terasa kering. "Kali ini, apa lagi yang dia lakukan?" tanya Marjorie duduk di depan Alaric, sambil menopang dagu di meja. "Dia mengamuk di jalan?" "Anna hamil," jawab Alaric tanpa perlu berpikir panjang. "Padahal aku sedang sibuk kampanye dan mungkin tidak bisa terus menemaninya. Itu tentu saja membuatku sakit kepala." "Apa maksudmu?" Alih-alih mengerti, Marjorie m

  • Pesona Sang Penguasa   87. Menggoda Suami Orang

    "Apakah Tuan mengkhawatirkan Nyonya Anna?" Caspian yang baru datang bertanya, ketika melihat tuannya yang terlihat cemas. "Tentu saja aku akan memikirkannya," jawab Alaric tanpa ragu. "Biar bagaimana, aku tidak merencanakan adanya anak." "Kehamilan Nyonya belum dipastikan." Caspian mengulurkan tangan yang membawa segelas kopi panas. "Jika sudah dikonfirmasi, baru kita bisa memikirkan jalan keluar yang baik." "Memangnya ada jalan keluar apa lagi?" Alaric bertanya dengan sebelah tangan memegang cangkir kertas dan tangan lainnya terulur mengambil sandwich yang diberikan sang asisten. "Aku tidak mungkin membuangnya bukan?" "Tentu saja tidak, tapi mungkin ada hal baik lain yang bisa kita lakukan." Sang asisten, kemudian duduk di samping sang tuan, sama-sama menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan aktivitas bandara. Sesuai yang dikatakan Alaric semalam, pagi ini dia sudah harus berangkat lagi. Kali ini, Alaric memilih pesawat komersil dan tentu saja harus datang dan menun

  • Pesona Sang Penguasa   86. Hamil

    "Ada keributan apa itu di luar?" Alaric langsung menoleh ketika mendengar suara bernada tanya barusan. Dia yang entah bagaimana merasa penasaran, segera mengeringkan tangan dengan tisu dan keluar dengan langkah yang tidak buru-buru. "Anna?" Kening Alaric langsung berkerut, ketika dia melihat dan mendengar suara teriakan sang istri. "Ada apa ini?" Tentu saja Alaric segera mendekat. "Tidak tahu Tuan." Darcy menggeleng keras. "Nyonya tadi terjatuh dan menabrak seseorang, lalu tiba-tiba dia berteriak," lanjutnya menjelaskan dengan cepat. "Sialan," desis Alaric sangat pelan, kemudian menatap sekitarnya. "Maaf, tapi bisakah kalian menjauh?" lanjutnya pada semua orang. "Dia istriku dan aku bisa menangani ini." Alaric dengan cepat menahan kedua tangan sang istri yang memberontak dibantu oleh Darcy, kemudian meraih tubuh Anna ke dalam dekapannya. "Hei, Anna." Setelah semua orang agak menjauh, Alaric berusaha menyadarkan sang istri. "Ini aku, Alaric." "Tidak aku mohon." Bukannya

  • Pesona Sang Penguasa   85. Terperangkap

    Alaric menatap ke depan dengan kening bekerut. Dia melihat Marjorie yang sedang tertawa entah bersama dengan siapa di sana. Yang jelas, Alaric belum pernah melihat lelaki yang tertawa bersama dengan mantannya itu. Rasanya ada yang aneh, tapi Alaric tidak tahu apa hal aneh yang dia rasakan. Yang jelas, ini berbeda dengan apa yang dulu dia rasakan. "Al." Tiba-tiba saja terdengar suara yang begetar. "Ada apa?" Alaric refleks menoleh dan menemukan istrinya yang sekarang ini gemetar. "Kau kenapa?" Tentu saja Alaric akan bertanya dengan kening berkerut. "Kenapa gemetar?" Sayangnya, Anna tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap ke satu arah, kemudian tiba-tiba saja menutup matanya dengan sangat rapat. "Ada apa di sana?" Penasaran, Alaric pun melihat ke arah yang dilihat istrinya. Tidak jauh di belakang Marjorie. "Aku tidak melihat apa pun di sana, apa ada seseorang yang aneh?" "Tidak ada lelaki tua di sana?" tanya Anna masih dengan mata yang terpejam. "Lelaki tua seperti apa?"

  • Pesona Sang Penguasa   84. Seseorang Yang Tidak Diharapkan

    "Wah, Alaric. Calon perdana menteri kita yang tampan, akhirnya memperlihatkan pasangannya pada dunia." "Selamat malam," gumam Anna yang setengah bersembunyi di balik tubuh suaminya. "Maaf, tapi dia anak yang sangat pemalu." Mau tidak mau, Alaric segera mengambil alih pembicaraan. "Lalu ini juga pesta yang sangat luar biasa. Aku yakin cucumu akan sangat bahagia." "Terima kasih atas ucapan manis itu, tapi apakah istrimu atau pacarmu ini akan terus bersembunyi di belakangmu?" tanya si pemilik acara dengan kening yang sedikit berkerut. "Bukankah kau setidaknya harus memperkenalkan dia?" Alaric tidak bisa langsung menjawab dan memilih untuk melirik istrinya terlebih dulu. Jujur saja, dia tidak berpikir kalau Anna akan terlihat setakut ini. Hal itu tentu saja membuat Alaric kebingungan, apalagi ini hanya pesta biasa saja bukan? "Kau tidak apa-apa?" Alaric memilih untuk bertanya lebih dulu, dengan cara berbisik. "Aku ... tidak apa-apa." Walau sempat ragu, Anna pada akhirnya mengg

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status