Malam itu udara dingin menusuk tulang, namun Betran tidak peduli. Ia berdiri di sudut gelap lorong rumah sakit, mengenakan seragam perawat lengkap dengan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya. Langkahnya tenang namun penuh rencana, matanya tajam mengawasi setiap pergerakan di sekitar ruang rawat Kaisar. Penjagaan memang ketat, tetapi Betran sudah mempersiapkan segalanya.“Shift malam lebih tenang,” gumamnya pada dirinya sendiri sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Dua bodyguard berdiri di depan pintu ruang rawat, tampak sigap meskipun suasana sepi. Betran mengatur napas, membawa sebuah tandu dan selembar dokumen medis palsu di tangannya. Langkahnya semakin mendekat.“Permisi,” ucap Betran dengan suara yang dibuat serak agar terdengar seperti suara pria paruh baya. “Pasien ini mengalami penurunan kondisi drastis. Dokter memerintahkan agar segera dipindahkan ke ICU.”Salah satu bodyguard, pria bertubuh kekar dengan sorot mata curiga, langsung menatap Betra
Pagi yang dingin terasa lebih kelam dari biasanya bagi Aluna. Duduk di ruang tamu mansion dengan wajah pucat, tangannya memeluk erat perutnya yang membuncit, mencoba menenangkan bayi di dalam kandungannya yang tak henti menendang seolah ikut merasakan kegelisahannya. Hansen berdiri di depannya dengan ekspresi tegang, berusaha menyampaikan kabar buruk dengan hati-hati."Maaf, Nona," Hansen berbicara pelan, namun tegas. "Kami sudah memeriksa semua rekaman CCTV di rumah sakit, tapi... semuanya mati sejak pukul sepuluh malam."Aluna mendongak perlahan, wajahnya penuh rasa tidak percaya. "Bagaimana mungkin? Rumah sakit sebesar itu, dengan penjagaan ketat, bisa kehilangan rekaman CCTV begitu saja?""Sepertinya, ini bagian dari rencana pelaku. Mereka meretas sistem sebelum melakukan aksi mereka," Hansen menjelaskan.Aluna menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha meredam kepanikan yang mulai menyerang. "Dan kalian belum menemukan jejak Kaisar? Tidak ada petunjuk sama sekali?"Hansen men
Ruangan di mansion terasa sunyi. Aluna duduk di kursinya, memandangi jendela besar yang menghadap taman. Wajahnya terlihat lebih tirus, dan matanya yang biasanya tajam kini tampak kosong. Hampir sebulan berlalu sejak Kaisar menghilang, dan semua upaya pencariannya gagal. Bahkan dengan tim terbaik yang ia pekerjakan, Kaisar tetap tak ditemukan.Hansen masuk perlahan, membawa laporan terakhir dari tim pencari. Ia berhenti sejenak, ragu untuk menyampaikan kabar buruk itu. Namun, Aluna menyadarinya dan memandang ke arahnya. “Bicaralah, Hansen,” suara Aluna terdengar pelan tapi penuh tekanan. “Kami sudah memeriksa lagi semua kemungkinan, Nona. Bahkan sampai menyewa detektif internasional. Tapi...” Hansen menunduk. “Kami tidak menemukan apa pun. Seolah-olah... Tuan Kaisar hilang tanpa jejak.”Aluna menghela napas panjang. Kepalanya terasa berat, dan dadanya sesak. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan dirinya. “Jadi itu artinya... dia benar-benar lenyap?” gumam Aluna dengan sua
Aluna sedang duduk di tempat tidur rumah sakitnya, memandang bayi mungil di pelukannya dengan mata yang penuh kasih sayang. Bayi itu menggenggam jari Aluna dengan tangan kecilnya, seolah menjadi penghiburan di tengah badai yang ia hadapi. Aluna merasa hatinya sedikit tenang, meski pikirannya terus dihantui oleh kehilangan Kaisar.Namun, ketenangan itu segera terganggu oleh ketukan keras di pintu. Hansen masuk dengan wajah tegang.“Nona, ada masalah,” katanya dengan nada serius. “Apa lagi sekarang, Hansen?” Aluna mengerutkan kening, merasa lelah dengan berbagai kekacauan yang terus muncul dalam hidupnya.“Betran ada di luar. Dia memaksa ingin bertemu dengan Anda dan bayi ini,” jawab Hansen.Mata Aluna langsung menajam. Ia menghela napas panjang, menatap bayinya sejenak sebelum menyerahkannya kepada perawat di dekatnya. “Jangan biarkan dia masuk. Pastikan dia tidak mendekati kami.”“Tapi, Nona, dia sangat ngotot. Bahkan, dia berteriak-teriak di depan penjagaan,” tambah Hansen, tampak b
Mobil Aluna berhenti di depan gerbang mansion yang megah. Pagar besi besar itu perlahan terbuka dengan anggun, memberi jalan bagi mobil untuk masuk. Namun, pemandangan yang langsung menyebalkan hatinya adalah sosok Betran yang berdiri dengan wajah penuh tekad di depan pintu masuk. Pria itu tampak kusut, mengenakan pakaian yang lusuh, tetapi sorot matanya penuh keberanian. Aluna memutar matanya dengan kesal dan menghela napas berat. Hansen, yang duduk di kursi penumpang depan, menoleh ke arahnya. "Nona, perlu kami usir dia sekarang juga?" "Sebentar," jawab Aluna dingin. Ia turun dari mobil dengan hati-hati, melangkah keluar mengenakan mantel tebal yang menutupi tubuhnya yang masih lemah setelah operasi. Sorot matanya tajam menatap Betran, yang langsung mendekatinya."Aluna," suara Betran terdengar parau. Dia menahan tangan Aluna agar tidak berjalan melewatinya. "Kumohon, aku hanya ingin melihat anakku, Leonel Alvano Chandra. Hanya sekali saja."Aluna menatap tangan Betran yang berani
Leonel Alvano Chandra, atau yang biasa dipanggil Alva, menjadi pusat kebahagiaan sekaligus kekuatan baru bagi Aluna. Nama itu tidak dipilih sembarangan. Leonel berarti "singa kecil," melambangkan keberanian, kekuatan, dan ketangguhan. Sementara Alvano berarti "cahaya putih," simbol dari harapan baru yang bersinar terang dalam hidup Aluna. Dan Chandra, tentu saja, adalah warisan keluarganya, sebuah nama yang selalu akan membawa tanggung jawab besar di pundak putranya kelak. Sudah sebulan sejak Alva lahir, dan meski tubuh Aluna masih lelah usai melahirkan, pikirannya tetap sibuk. Kaisar, pria yang selalu menjadi pelindungnya, belum ditemukan. Setiap malam, Aluna merenung, bertanya-tanya apakah Kaisar masih hidup di luar sana. Namun, ia tidak bisa terus larut dalam kesedihan. Ia harus bangkit demi Alva. Di ruang kerja mansion, Aluna duduk di meja besar yang dipenuhi dokumen-dokumen dari Chandra Group dan Amartha Corporation. Hansen berdiri di dekatnya, wajahnya serius seperti biasa.
Seminggu kemudian, Suasana pesta syukuran kelahiran Baby Alva benar-benar meriah. Taman mansion yang luas dipenuhi dengan dekorasi mewah, lampu-lampu gantung kristal, dan meja-meja penuh hidangan yang menggugah selera. Para tamu berdatangan dari kalangan bisnis, keluarga besar Chandra, dan mitra-mitra penting dari Amartha Corporation. Aluna terlihat anggun mengenakan gaun putih panjang, senyum tipisnya menawan meski matanya menyiratkan kelelahan. "Selamat atas kelahiran putra Anda, Nona Aluna," salah satu tamu mengucapkan sambil menyalami Aluna. "Terima kasih," jawab Aluna ramah namun tetap tegas. Hansen, yang berdiri di dekatnya, mengatur jalannya acara dengan rapi. Namun, di tengah kemegahan itu, Betran berdiri di luar gerbang, menatap dari jauh. Pria itu tidak diundang, bahkan telah diinstruksikan untuk tidak diperbolehkan masuk ke wilayah mansion. "Kau yakin ingin mencoba masuk?" tanya seorang sopir taksi yang kebetulan melihat Betran menatap gerbang dengan ekspresi pahit
Esoknya, Siang itu, Aluna mengenakan setelan blazer putih yang mempertegas aura ketegasannya. Di sisi kirinya, Hansen berdiri tenang dengan berkas perceraian di tangannya, sementara beberapa bodyguard mengikuti di belakang mereka. Langkah Aluna mantap menuju apartemen sederhana tempat Betran dan Kania tinggal. Hansen mengetuk pintu apartemen dengan tegas, lalu pintu terbuka, memperlihatkan wajah Kania yang tampak terkejut dan tidak siap menerima tamu tak diundang seperti ini. "Aluna?" Kania mengerutkan dahi, suaranya terdengar ragu. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Aku ingin ini selesai," jawab Aluna dengan nada dingin. Ia melirik Hansen, yang langsung menyerahkan berkas perceraian itu pada Kania. "Betran ada di dalam, kan? Aku butuh tanda tangannya sekarang." Kania mendengus sambil memegang berkas itu, lalu mempersilakan mereka masuk. Ruangan kecil itu terasa sempit dengan kehadiran banyak orang, tapi Aluna tetap berdiri tegak, tatapannya tajam. Betran muncul dari balik pi
Aluna melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan tenang, meskipun hatinya masih sedikit panas setelah insiden dengan Ratu di parkiran tadi. Ia menghela napas pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pekerjaan. Begitu ia duduk di kursinya, asistennya, Hanna, segera masuk dengan membawa tablet di tangannya. "Nyonya Aluna, sesuai jadwal, pukul sepuluh pagi nanti ada pertemuan dengan klien dari Korea Utara," lapor Hansen. "Mereka ingin menawarkan kerja sama bisnis di bidang ekspor bahan baku tekstil. Saya sudah mengatur tempat pertemuan di ruang konferensi lantai tujuh." Aluna mengangguk. "Baik, pastikan semua dokumen yang diperlukan sudah siap. Aku ingin tahu lebih detail mengenai proposal mereka sebelum pertemuan dimulai." "Saya akan segera mengirimkan berkasnya ke email Anda," kata Hansen. "Terima kasih, Hansen. Itu saja?" "Satu lagi, Nyonya," lanjut Hansen. "Saya ingin memastikan apakah Anda akan menghadiri makan siang dengan investor lokal nanti?" Aluna berpikir sejenak
Aluna baru saja hendak membuka pintu mobil saat suara seseorang memanggilnya dari belakang. "Aluna! Tunggu!" Ia menoleh dan melihat seorang wanita tua berlari kecil ke arahnya. Kania, mantan ibu mertuanya. Wajahnya tampak lelah, ada guratan cemas di sana. Aluna menghela napas. Ia sudah bisa menebak tujuan wanita itu datang menemuinya lagi. "Tolong, Aluna..." suara Kania bergetar, matanya berkaca-kaca. "Aku mohon, bebaskan Betran... Aku tahu dia salah, aku tahu dia pantas dihukum, tapi dia tetap manusia. Dia tetap ayah dari Alva..." Aluna menegang. Ia menggenggam pegangan pintu mobil erat-erat, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. "Kania, sudah kubilang berkali-kali, aku tidak bisa begitu saja membebaskan dia. Ini masalah hukum, bukan masalah pribadi," ujar Aluna setenang mungkin. Kania terisak. "Aku mohon, Aluna... Aku sudah tua, aku tidak sanggup melihat anakku menderita seperti ini. Dia sudah menerima kesalahannya, dia menyesal. Tolonglah, Aluna..." Aluna menatap K
Aluna berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat sulit ia jelaskan. Senyum kecil tak bisa ia tahan saat mengingat bagaimana Kaisar tadi mencium dan memeluknya. Rasanya begitu nyata, begitu hangat, seakan waktu tak pernah memisahkan mereka. Namun, lamunannya buyar ketika suara tangisan Baby Alva terdengar. Dengan cepat, ia mendekati ranjang bayi dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. "Alva sayang, kenapa rewelnya?" gumam Aluna sambil mengayun-ayun pelan tubuh kecil itu. Baby Alva masih merengek, tangannya yang mungil menarik baju tidur Aluna, seolah meminta lebih banyak perhatian. "Kamu mau ditimang-timang, ya?" tanya Aluna lembut. Senyum Aluna semakin mengembang saat melihat mata kecil Alva mulai terpejam dalam gendongannya. Tapi di sisi lain, pikirannya kembali teringat pada Kaisar. Ucapannya, sentuhannya, tatapan penuh kerinduan itu. Di tempat lain, Kaisar baru saja sampai di rumah. Langkahnya santai, seolah tak peduli dengan siapa yang mungkin sedang menunggun
Tok! Tok! Tok!Aluna yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh ke arah pintu. "Nona, ada tamu," suara pelayan terdengar dari luar. "Siapa?" tanyanya sambil bangkit. "Tuan Kaisar, Nona," jawab pelayan dengan nada hati-hati. Aluna terdiam sejenak. Rasanya tak percaya Kaisar datang ke sini, ke mansionnya, setelah semua yang terjadi. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan perasaannya sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tamu, sosok Kaisar sudah berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tampak santai tapi tetap berwibawa. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna begitu ia muncul. "Aluna," panggil Kaisar pelan. Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di dekat tangga, menjaga jarak. Kaisar tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat. "Aku datang untuk berterima kasih." Aluna mengangkat alis. "Untuk apa?" "Untuk semuanya," ujar Kaisar. "Untuk mengurus Amartha selama aku tidak ada, untuk tetap me
Beberapa bulan kemudian. Aluna duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan berita terbaru. Hampir semua portal bisnis dan ekonomi membahas satu hal yang sama—kembalinya Kaisar Amartha sebagai pemimpin perusahaan Amartha. Tak hanya itu, ada juga berita yang membahas kehidupan pribadinya, terutama soal pernikahannya dengan Ratu. Beberapa foto tersebar di media—Ratu dengan perut yang mulai membesar, Kaisar yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi dingin, dan wawancara singkat tentang bagaimana mereka akan membangun masa depan bersama. Aluna tersenyum miris. "Jadi ini akhirnya," gumamnya pelan. Ia tidak terkejut. Sejak awal, ia tahu Kaisar akan kembali ke posisinya. Yang membuatnya sedikit tercekat adalah kenyataan bahwa dunia melihat Kaisar dan Ratu sebagai pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanya seorang mantan yang harus puas menyaksikan dari jauh. Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk. "Nona Aluna," suara Hansen terdengar dari balik pintu. "Masuk
Aluna turun dari mobil dengan wajah lelah. Hari ini benar-benar panjang, ditambah pikirannya masih kacau setelah berbicara dengan Kaisar. Begitu melangkah masuk ke dalam mansion, ia langsung disambut oleh babysitter yang terlihat panik. "Nyonya Aluna, Baby Alva rewel sejak tadi. Susah makan, susah minum susu juga," ujar babysitter itu cemas. Aluna mengerutkan kening. "Kenapa? Apa dia demam?" Babysitter menggeleng. "Tidak demam, tapi terus menangis. Saya sudah mencoba berbagai cara, tapi tetap saja dia menolak makan." Tanpa menunggu lebih lama, Aluna segera menuju kamar Baby Alva. Sesampainya di sana, ia melihat putranya yang masih terisak di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab karena menangis. "Sayang, Mama di sini," ujar Aluna lembut, segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Baby Alva mengusap matanya dengan tangan mungilnya, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Aluna. "Ada apa, hm?" Aluna membelai rambutnya pelan. "Kenapa tidak mau maka
Aluna mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum membuka topik yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Kaisar, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan,” ujar Aluna dengan nada serius. Kaisar mengangkat alis, memusatkan perhatiannya pada Aluna. “Apa itu, Aluna?” “Perusahaanku, Chandra Grup, sedang dalam masalah.” Aluna menyerahkan laporan yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. “Ada penurunan signifikan dalam pasar penjualan kita. Setelah diselidiki, ada kejanggalan. Tampaknya seseorang mencoba merusak reputasi perusahaan dari dalam.” Kaisar membuka laporan itu, membaca dengan seksama. Wajahnya berubah serius. “Ini bukan sekadar kejatuhan pasar biasa. Tampaknya ada sabotase.” “Itulah yang aku khawatirkan,” Aluna mengangguk. “Aku sudah meminta tim investigasi internal, tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka yang terlibat sangat pandai menutupi jejak.” Kaisar menatapnya dalam. “Aku akan mencoba membantu menyelidiki. Mungkin dari sisi lain, kita bisa me
Aluna duduk di kursi kerjanya dengan wajah tegang. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kali ia mencoba menemui Kaisar di rumah sakit, namun selalu gagal. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja bayangan Kaisar terus muncul di kepalanya. "Asisten," panggil Aluna dengan suara tegas. Seorang wanita muda bernama Siska segera masuk ke dalam ruangannya, membawa setumpuk dokumen.Ya, sudah tiga hari ini Aluna mengganti asistennya. Asisten sebelumnya sedang cuti beberapa bulan, tugasnya ia serahkan pada Siska, sepupunya. "Ada perkembangan dari laporan yang aku minta?" tanya Aluna, menyandarkan punggungnya ke kursi. Siska mengangguk, meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Setelah saya dan tim melakukan penyelidikan, kami menemukan adanya kejanggalan dalam pasar." Aluna mengambil laporan itu dan mulai membacanya dengan seksama. Dahinya mengernyit. "Penjualan turun drastis di beberapa wilayah utama, terutama yang sebelumnya menjadi pasar terbesar kita
Aluna melangkah dengan cepat memasuki lobi rumah sakit, dadanya berdebar kencang. Setelah mendengar kabar bahwa Kaisar—atau sekarang dikenal sebagai Raja—sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, ia tak bisa lagi menahan diri untuk menemuinya. Namun, baru saja ia hendak menuju lift, langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri menghadangnya. “Jangan harap kau bisa menemuinya,” suara dingin Ratu menyentak telinga Aluna. Aluna menatap wanita itu dengan tajam. Ia tahu sejak awal Ratu bukan wanita sembarangan, tapi tak disangka, Ratu bisa sekejam ini. “Aku datang bukan untuk bertengkar, aku hanya ingin melihatnya,” ucap Aluna, mencoba menahan emosinya. Ratu menyilangkan tangan di dadanya. “Tidak perlu. Dia sudah punya aku. Dia tidak butuh kau lagi.” Aluna tersenyum miring. “Raja adalah Kaisar, bukan?” tanyanya tegas. Ratu mendengus. “Lalu?” “Kaisar adalah tunanganku,” lanjut Aluna, tatapannya semakin tajam. Ratu terkekeh sinis. “Benar, dia memang Kaisar. Tapi kau