Seminggu kemudian, Suasana pesta syukuran kelahiran Baby Alva benar-benar meriah. Taman mansion yang luas dipenuhi dengan dekorasi mewah, lampu-lampu gantung kristal, dan meja-meja penuh hidangan yang menggugah selera. Para tamu berdatangan dari kalangan bisnis, keluarga besar Chandra, dan mitra-mitra penting dari Amartha Corporation. Aluna terlihat anggun mengenakan gaun putih panjang, senyum tipisnya menawan meski matanya menyiratkan kelelahan. "Selamat atas kelahiran putra Anda, Nona Aluna," salah satu tamu mengucapkan sambil menyalami Aluna. "Terima kasih," jawab Aluna ramah namun tetap tegas. Hansen, yang berdiri di dekatnya, mengatur jalannya acara dengan rapi. Namun, di tengah kemegahan itu, Betran berdiri di luar gerbang, menatap dari jauh. Pria itu tidak diundang, bahkan telah diinstruksikan untuk tidak diperbolehkan masuk ke wilayah mansion. "Kau yakin ingin mencoba masuk?" tanya seorang sopir taksi yang kebetulan melihat Betran menatap gerbang dengan ekspresi pahit
Esoknya, Siang itu, Aluna mengenakan setelan blazer putih yang mempertegas aura ketegasannya. Di sisi kirinya, Hansen berdiri tenang dengan berkas perceraian di tangannya, sementara beberapa bodyguard mengikuti di belakang mereka. Langkah Aluna mantap menuju apartemen sederhana tempat Betran dan Kania tinggal. Hansen mengetuk pintu apartemen dengan tegas, lalu pintu terbuka, memperlihatkan wajah Kania yang tampak terkejut dan tidak siap menerima tamu tak diundang seperti ini. "Aluna?" Kania mengerutkan dahi, suaranya terdengar ragu. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Aku ingin ini selesai," jawab Aluna dengan nada dingin. Ia melirik Hansen, yang langsung menyerahkan berkas perceraian itu pada Kania. "Betran ada di dalam, kan? Aku butuh tanda tangannya sekarang." Kania mendengus sambil memegang berkas itu, lalu mempersilakan mereka masuk. Ruangan kecil itu terasa sempit dengan kehadiran banyak orang, tapi Aluna tetap berdiri tegak, tatapannya tajam. Betran muncul dari balik pi
Betran menatap ibunya dengan wajah penuh amarah, napasnya tersengal-sengal menahan emosi. "Mommy, kenapa kau melakukan itu? Lima miliar?! Kau benar-benar keterlaluan!" suaranya meninggi, menggema di ruangan kecil itu. Kania tetap tenang, seolah tidak terganggu oleh kemarahan Betran. Ia mengangkat alis, menatap putranya dengan pandangan yang penuh perhitungan. "Betran, kau pikir aku meminta itu tanpa alasan? Kau benar-benar bodoh kalau tidak mengerti apa yang sedang aku coba lakukan di sini." "Meminta uang sebesar itu hanya akan membuat Aluna semakin membenciku, Mommy! Kau tidak berpikir panjang," balas Betran dengan nada getir. Kania mendesah panjang dan melipat tangan di dadanya. "Kau tidak pernah mengerti cara kerja dunia, ya? Kau pikir Aluna akan tetap membencimu selamanya kalau kau berhasil kembali menjadi seseorang yang sukses? Dengarkan aku, Nak. Dengan uang itu, kau bisa membangun kembali reputasimu. Kalau kau kembali menjadi seorang pengusaha yang dihormati, dia tidak akan
Esok harinya, Betran berdiri di depan cermin kecil di apartemennya, merapikan dasi dengan raut wajah penuh semangat. Setelah sekian lama merasa terpuruk, ia akhirnya mendapat panggilan kerja. Walau posisi yang ditawarkan belum dijelaskan secara rinci, Betran yakin reputasinya sebagai mantan pengusaha besar akan membuatnya mendapatkan posisi yang cukup layak. Kania, yang duduk di sofa sembari menyeruput teh, memandang putranya dengan bangga. "Betran, ingat, ini awal dari kebangkitan kita. Jangan lupa tunjukkan kalau kamu masih punya kemampuan untuk menguasai dunia bisnis." Betran tersenyum penuh percaya diri. "Tentu, Mom. Aku tahu aku akan mendapatkan posisi strategis. Mungkin mereka akan mulai dari manajer menengah, tapi itu hanya batu loncatan." Kania mengangguk puas. "Dan ketika kamu berhasil, kita akan membuat Aluna menyesal sudah meninggalkanmu. Dia akan sadar, kamu jauh lebih pantas daripada pria itu." Dengan langkah tegap, Betran keluar dari apartemen kecil mereka, memb
Betran berdiri di depan gerbang Mansion Aluna, wajahnya dipenuhi amarah yang sulit ia bendung. Para bodyguard yang berjaga segera menghadangnya, seperti biasa. "Saya ingin bertemu Aluna," kata Betran dengan nada tegas. "Maaf, Tuan Betran, Anda tidak diizinkan masuk," jawab salah satu bodyguard dengan nada datar namun tegas. Betran mengepalkan tangannya. "Katakan pada Aluna, kalau dia tidak mau keluar, aku akan menunggu di sini sampai dia muncul!" Setelah beberapa saat, salah seorang asisten Aluna datang mendekat, menyampaikan pesan. "Nona Aluna bilang Anda boleh masuk, tapi hanya untuk bicara sebentar. Jangan buat masalah." Betran menghela napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Tatapannya tajam, penuh rasa frustasi yang ia bawa sejak keluar dari wawancara pekerjaan. Ketika Betran akhirnya tiba di ruang tamu Mansion, Aluna sudah menunggunya dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Ia duduk di sofa mewah, menyilangkan kaki dengan anggun. Wajahnya menunjukkan ketenang
Pagi itu, Betran melangkah kembali ke perusahaan tempat ia melamar sebelumnya. Wajahnya tampak lesu, tapi kali ini ia telah memutuskan untuk menelan ego dan menerima pekerjaan yang ditawarkan, meskipun hanya sebagai cleaning service. Ia memasuki gedung dengan langkah berat, berusaha menyembunyikan rasa malu. Di sisi lain, Aluna berdiri anggun di depan terminal keberangkatan bandara. Hari itu, ia dijadwalkan untuk menghadiri konferensi bisnis besar di luar negeri. Hansen dan beberapa asisten sibuk memastikan segala kebutuhan perjalanan Aluna terpenuhi. Namun, di tengah keramaian bandara, sesuatu membuat Aluna terhenti. Di kejauhan, ia melihat seorang pria tinggi dengan tubuh tegap yang sangat dikenalnya. Mata Aluna membelalak. **Kaisar?** pikirnya. Aluna tanpa pikir panjang melangkah cepat, hampir berlari. "Kaisar!" teriaknya, namun pria itu terus berjalan menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di depan bandara. Saat Aluna berhasil mendekat, langkahnya terhenti mendadak. Ia me
Raja duduk di balik kemudi, matanya terpaku ke jalan, tetapi pikirannya melayang jauh. Wajah wanita yang tadi ia temui di bandara terus terlintas di pikirannya. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak, seolah-olah kenangan yang terkubur tentang wanita itu. Namun, setiap kali ia berusaha mengingat, pikirannya terasa buntu."Sayang, kenapa kamu melamun seperti itu?" suara lembut Ratu memecah keheningan. Wanita itu duduk di kursi penumpang dengan senyum kecil di wajahnya. Raja mengerjap dan segera menguasai dirinya. "Tidak ada. Aku hanya memikirkan pekerjaan," jawabnya sambil berusaha tersenyum tipis. Ratu memiringkan kepalanya, menatap Raja dengan rasa ingin tahu. "Benarkah? Kau terlihat seperti memikirkan sesuatu yang serius." Raja menggeleng sambil mencoba tertawa kecil. "Aku baik-baik saja, istriku. Hanya lelah, itu saja." Namun, Ratu tidak begitu saja percaya. Ia memperhatikan gerak-gerik Raja dengan seksama, tapi memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia tahu jik
Di kamar hotel, Aluna duduk di sofa, mengenakan piyama santai berwarna pastel. Wajahnya lelah setelah perjalanan panjang, tetapi hatinya merasa lebih tenang setelah berhasil video call dengan babysitter yang sedang menjaga Baby Alva di rumah. Di layar ponsel, Baby Alva tampak tertidur pulas di ranjang kecilnya, wajah mungilnya membuat hati Aluna menghangat. "Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin, terutama Betran," tegas Aluna kepada babysitter. "Kunci semua pintu, dan selalu pastikan bodyguard ada di sekitar." "Baik, Nona. Semua terkendali," jawab babysitter sambil menoleh ke arah bodyguard yang berjaga di luar kamar Baby Alva. "Kalau ada hal sekecil apa pun yang mencurigakan, segera hubungi saya atau Hansen," tambah Aluna, nada suaranya serius. Babysitter mengangguk dengan tegas. "Saya mengerti, Nona. Jangan khawatir. Baby Alva aman bersama kami." Setelah menutup panggilan, Aluna menyandarkan tubuhnya ke sofa, memandang ke luar jendela yang memperlihatkan pemandangan kot
Aluna melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan tenang, meskipun hatinya masih sedikit panas setelah insiden dengan Ratu di parkiran tadi. Ia menghela napas pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pekerjaan. Begitu ia duduk di kursinya, asistennya, Hanna, segera masuk dengan membawa tablet di tangannya. "Nyonya Aluna, sesuai jadwal, pukul sepuluh pagi nanti ada pertemuan dengan klien dari Korea Utara," lapor Hansen. "Mereka ingin menawarkan kerja sama bisnis di bidang ekspor bahan baku tekstil. Saya sudah mengatur tempat pertemuan di ruang konferensi lantai tujuh." Aluna mengangguk. "Baik, pastikan semua dokumen yang diperlukan sudah siap. Aku ingin tahu lebih detail mengenai proposal mereka sebelum pertemuan dimulai." "Saya akan segera mengirimkan berkasnya ke email Anda," kata Hansen. "Terima kasih, Hansen. Itu saja?" "Satu lagi, Nyonya," lanjut Hansen. "Saya ingin memastikan apakah Anda akan menghadiri makan siang dengan investor lokal nanti?" Aluna berpikir sejenak
Aluna baru saja hendak membuka pintu mobil saat suara seseorang memanggilnya dari belakang. "Aluna! Tunggu!" Ia menoleh dan melihat seorang wanita tua berlari kecil ke arahnya. Kania, mantan ibu mertuanya. Wajahnya tampak lelah, ada guratan cemas di sana. Aluna menghela napas. Ia sudah bisa menebak tujuan wanita itu datang menemuinya lagi. "Tolong, Aluna..." suara Kania bergetar, matanya berkaca-kaca. "Aku mohon, bebaskan Betran... Aku tahu dia salah, aku tahu dia pantas dihukum, tapi dia tetap manusia. Dia tetap ayah dari Alva..." Aluna menegang. Ia menggenggam pegangan pintu mobil erat-erat, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. "Kania, sudah kubilang berkali-kali, aku tidak bisa begitu saja membebaskan dia. Ini masalah hukum, bukan masalah pribadi," ujar Aluna setenang mungkin. Kania terisak. "Aku mohon, Aluna... Aku sudah tua, aku tidak sanggup melihat anakku menderita seperti ini. Dia sudah menerima kesalahannya, dia menyesal. Tolonglah, Aluna..." Aluna menatap K
Aluna berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat sulit ia jelaskan. Senyum kecil tak bisa ia tahan saat mengingat bagaimana Kaisar tadi mencium dan memeluknya. Rasanya begitu nyata, begitu hangat, seakan waktu tak pernah memisahkan mereka. Namun, lamunannya buyar ketika suara tangisan Baby Alva terdengar. Dengan cepat, ia mendekati ranjang bayi dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. "Alva sayang, kenapa rewelnya?" gumam Aluna sambil mengayun-ayun pelan tubuh kecil itu. Baby Alva masih merengek, tangannya yang mungil menarik baju tidur Aluna, seolah meminta lebih banyak perhatian. "Kamu mau ditimang-timang, ya?" tanya Aluna lembut. Senyum Aluna semakin mengembang saat melihat mata kecil Alva mulai terpejam dalam gendongannya. Tapi di sisi lain, pikirannya kembali teringat pada Kaisar. Ucapannya, sentuhannya, tatapan penuh kerinduan itu. Di tempat lain, Kaisar baru saja sampai di rumah. Langkahnya santai, seolah tak peduli dengan siapa yang mungkin sedang menunggun
Tok! Tok! Tok!Aluna yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh ke arah pintu. "Nona, ada tamu," suara pelayan terdengar dari luar. "Siapa?" tanyanya sambil bangkit. "Tuan Kaisar, Nona," jawab pelayan dengan nada hati-hati. Aluna terdiam sejenak. Rasanya tak percaya Kaisar datang ke sini, ke mansionnya, setelah semua yang terjadi. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan perasaannya sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tamu, sosok Kaisar sudah berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tampak santai tapi tetap berwibawa. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna begitu ia muncul. "Aluna," panggil Kaisar pelan. Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di dekat tangga, menjaga jarak. Kaisar tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat. "Aku datang untuk berterima kasih." Aluna mengangkat alis. "Untuk apa?" "Untuk semuanya," ujar Kaisar. "Untuk mengurus Amartha selama aku tidak ada, untuk tetap me
Beberapa bulan kemudian. Aluna duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan berita terbaru. Hampir semua portal bisnis dan ekonomi membahas satu hal yang sama—kembalinya Kaisar Amartha sebagai pemimpin perusahaan Amartha. Tak hanya itu, ada juga berita yang membahas kehidupan pribadinya, terutama soal pernikahannya dengan Ratu. Beberapa foto tersebar di media—Ratu dengan perut yang mulai membesar, Kaisar yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi dingin, dan wawancara singkat tentang bagaimana mereka akan membangun masa depan bersama. Aluna tersenyum miris. "Jadi ini akhirnya," gumamnya pelan. Ia tidak terkejut. Sejak awal, ia tahu Kaisar akan kembali ke posisinya. Yang membuatnya sedikit tercekat adalah kenyataan bahwa dunia melihat Kaisar dan Ratu sebagai pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanya seorang mantan yang harus puas menyaksikan dari jauh. Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk. "Nona Aluna," suara Hansen terdengar dari balik pintu. "Masuk
Aluna turun dari mobil dengan wajah lelah. Hari ini benar-benar panjang, ditambah pikirannya masih kacau setelah berbicara dengan Kaisar. Begitu melangkah masuk ke dalam mansion, ia langsung disambut oleh babysitter yang terlihat panik. "Nyonya Aluna, Baby Alva rewel sejak tadi. Susah makan, susah minum susu juga," ujar babysitter itu cemas. Aluna mengerutkan kening. "Kenapa? Apa dia demam?" Babysitter menggeleng. "Tidak demam, tapi terus menangis. Saya sudah mencoba berbagai cara, tapi tetap saja dia menolak makan." Tanpa menunggu lebih lama, Aluna segera menuju kamar Baby Alva. Sesampainya di sana, ia melihat putranya yang masih terisak di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab karena menangis. "Sayang, Mama di sini," ujar Aluna lembut, segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Baby Alva mengusap matanya dengan tangan mungilnya, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Aluna. "Ada apa, hm?" Aluna membelai rambutnya pelan. "Kenapa tidak mau maka
Aluna mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum membuka topik yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Kaisar, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan,” ujar Aluna dengan nada serius. Kaisar mengangkat alis, memusatkan perhatiannya pada Aluna. “Apa itu, Aluna?” “Perusahaanku, Chandra Grup, sedang dalam masalah.” Aluna menyerahkan laporan yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. “Ada penurunan signifikan dalam pasar penjualan kita. Setelah diselidiki, ada kejanggalan. Tampaknya seseorang mencoba merusak reputasi perusahaan dari dalam.” Kaisar membuka laporan itu, membaca dengan seksama. Wajahnya berubah serius. “Ini bukan sekadar kejatuhan pasar biasa. Tampaknya ada sabotase.” “Itulah yang aku khawatirkan,” Aluna mengangguk. “Aku sudah meminta tim investigasi internal, tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka yang terlibat sangat pandai menutupi jejak.” Kaisar menatapnya dalam. “Aku akan mencoba membantu menyelidiki. Mungkin dari sisi lain, kita bisa me
Aluna duduk di kursi kerjanya dengan wajah tegang. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kali ia mencoba menemui Kaisar di rumah sakit, namun selalu gagal. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja bayangan Kaisar terus muncul di kepalanya. "Asisten," panggil Aluna dengan suara tegas. Seorang wanita muda bernama Siska segera masuk ke dalam ruangannya, membawa setumpuk dokumen.Ya, sudah tiga hari ini Aluna mengganti asistennya. Asisten sebelumnya sedang cuti beberapa bulan, tugasnya ia serahkan pada Siska, sepupunya. "Ada perkembangan dari laporan yang aku minta?" tanya Aluna, menyandarkan punggungnya ke kursi. Siska mengangguk, meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Setelah saya dan tim melakukan penyelidikan, kami menemukan adanya kejanggalan dalam pasar." Aluna mengambil laporan itu dan mulai membacanya dengan seksama. Dahinya mengernyit. "Penjualan turun drastis di beberapa wilayah utama, terutama yang sebelumnya menjadi pasar terbesar kita
Aluna melangkah dengan cepat memasuki lobi rumah sakit, dadanya berdebar kencang. Setelah mendengar kabar bahwa Kaisar—atau sekarang dikenal sebagai Raja—sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, ia tak bisa lagi menahan diri untuk menemuinya. Namun, baru saja ia hendak menuju lift, langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri menghadangnya. “Jangan harap kau bisa menemuinya,” suara dingin Ratu menyentak telinga Aluna. Aluna menatap wanita itu dengan tajam. Ia tahu sejak awal Ratu bukan wanita sembarangan, tapi tak disangka, Ratu bisa sekejam ini. “Aku datang bukan untuk bertengkar, aku hanya ingin melihatnya,” ucap Aluna, mencoba menahan emosinya. Ratu menyilangkan tangan di dadanya. “Tidak perlu. Dia sudah punya aku. Dia tidak butuh kau lagi.” Aluna tersenyum miring. “Raja adalah Kaisar, bukan?” tanyanya tegas. Ratu mendengus. “Lalu?” “Kaisar adalah tunanganku,” lanjut Aluna, tatapannya semakin tajam. Ratu terkekeh sinis. “Benar, dia memang Kaisar. Tapi kau