Di kamar hotel, Aluna duduk di sofa, mengenakan piyama santai berwarna pastel. Wajahnya lelah setelah perjalanan panjang, tetapi hatinya merasa lebih tenang setelah berhasil video call dengan babysitter yang sedang menjaga Baby Alva di rumah. Di layar ponsel, Baby Alva tampak tertidur pulas di ranjang kecilnya, wajah mungilnya membuat hati Aluna menghangat. "Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin, terutama Betran," tegas Aluna kepada babysitter. "Kunci semua pintu, dan selalu pastikan bodyguard ada di sekitar." "Baik, Nona. Semua terkendali," jawab babysitter sambil menoleh ke arah bodyguard yang berjaga di luar kamar Baby Alva. "Kalau ada hal sekecil apa pun yang mencurigakan, segera hubungi saya atau Hansen," tambah Aluna, nada suaranya serius. Babysitter mengangguk dengan tegas. "Saya mengerti, Nona. Jangan khawatir. Baby Alva aman bersama kami." Setelah menutup panggilan, Aluna menyandarkan tubuhnya ke sofa, memandang ke luar jendela yang memperlihatkan pemandangan kot
Di sebuah rumah mewah bergaya minimalis, Ratu berdiri di balkon sambil memandang Raja yang sedang duduk di halaman belakang, sibuk dengan laptopnya.. “Raja,” panggil Ratu, berjalan mendekat. Suaranya lembut, tetapi ada nada resah di sana. Raja mengangkat kepalanya dari layar laptop, menatap wanita itu. “Ada apa, Ratu?”Ratu duduk di kursi di hadapannya, mencoba menenangkan diri. “Aku berpikir... bagaimana kalau kita kembali ke Singapura saja? Kehidupan di sana lebih tenang. Lagipula, aku merasa kau lebih cocok tinggal di tempat seperti itu.”Raja menghela napas panjang, menutup laptopnya dengan lembut. “Aku mengerti maksudmu, tapi aku tidak bisa. Proyek yang sedang aku kerjakan di sini terlalu besar. Aku harus menyelesaikannya sebelum memikirkan untuk pindah ke mana pun.”“Tapi, Raja...” Nada suara Ratu sedikit memohon. “Aku hanya ingin kau jauh dari tempat ini. Aku takut kau terjebak dengan sesuatu yang tidak baik.” “Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba khawatir seperti ini?” Raja m
Aluna tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul empat sore, ia melangkah keluar dari terminal dengan langkah cepat. Hansen yang setia menjemputnya sudah menunggu di mobil bersama beberapa bodyguard. Sepanjang perjalanan, Aluna terus memikirkan Baby Alva. Ia tidak sabar untuk segera pulang dan memeluk putranya yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Setibanya di Mansion, Aluna langsung membuka pintu utama dengan antusias. “Di mana Baby Alva?” tanyanya sambil melangkah masuk. Salah satu babysitter keluar dari ruang tengah sambil menggendong bayi mungil itu. “Di sini, Nona. Baru saja bangun tidur.”“Alva!” Aluna langsung menghampiri dan mengambil bayinya. “Mama kangen sekali,” katanya sambil mencium pipi kecil Baby Alva. Tangannya gemetar karena terlalu lama menahan rindu. Baby Alva tertawa kecil, membuat hati Aluna terasa hangat. Hansen yang berdiri di belakang hanya tersenyum melihat momen itu. “Nona, Anda terlihat jauh lebih tenang sekarang,” katanya. “Bagaimana mungkin aku tidak t
Pagi itu, Aluna sedang duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan perkembangan Chandra Group. Pandangannya tertuju pada jendela besar yang memperlihatkan taman belakang Mansion. Di sela-sela kesibukannya, Hansen masuk membawa sebuah tablet dan beberapa dokumen penting.“Nona, ada informasi yang perlu Anda ketahui,” kata Hansen sambil menyerahkan tablet itu ke meja Aluna.Aluna mengangkat alis, menatap Hansen dengan rasa ingin tahu. “Informasi apa?”Hansen duduk di kursi seberang meja. “Mengenai laki-laki yang mirip dengan Tuan Kaisar. Kami telah melakukan penyelidikan lebih lanjut. Namanya Raja Gielz Samudra, CEO dari Grup Gielz. Dia berasal dari Singapura dan sudah menikah dengan seorang wanita bernama Ratu. Mereka baru pindah ke Jakarta dua minggu lalu untuk mengawasi proyek baru di sini.”Aluna terdiam sejenak, memandangi Hansen dengan tatapan penuh arti. “Jadi benar-benar bukan Kaisar?”“Benar, Nona. Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, tidak ada kaitan sama sekali antar
Pagi itu, Aluna sudah berada di ruang rapat utama Chandra Group, menunggu kedatangan Raja untuk pertemuan lanjutan mengenai kerja sama baru mereka. Proyek ini sangat penting bagi Chandra Group karena akan membuka lini bisnis baru di bidang perhiasan, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Bagi Aluna, proyek ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tantangan besar yang ia ingin wujudkan demi membuktikan kemampuannya sebagai pemimpin baru Chandra Group.Ketukan di pintu memecah lamunannya. Hansen masuk, diikuti oleh Raja yang mengenakan setelan rapi berwarna navy. "Selamat pagi, Nona Aluna," sapa Raja sambil tersenyum hangat. "Pagi, Tuan Raja," balas Aluna sambil mengangguk sopan. Mereka duduk di meja rapat yang besar, dokumen-dokumen tentang proyek perhiasan tersebar di atas meja. Diskusi mereka berjalan lancar, penuh dengan ide-ide segar. “Jadi, untuk desainer perhiasan, apakah Anda sudah memiliki kandidat?” tanya Raja, memecah fokus Aluna yang sedang mencoret-co
pukul tujuh malam, Aluna sedang duduk di ruang tamu Mansion, menggendong Baby Alva yang kini semakin aktif. Kehidupannya terasa penuh perjuangan, tetapi Baby Alva adalah satu-satunya alasan dia bertahan. Ketika ia sedang menikmati momen bersama putranya, seorang bodyguard masuk dengan wajah tegang. “Maaf, Nona Aluna. Tuan Betran ada di luar. Dia memohon untuk bertemu,” ujar bodyguard tersebut.Mendengar nama Betran disebut, senyum di wajah Aluna menghilang. Dia menghela napas panjang, lalu menyerahkan Baby Alva kepada babysitter yang selalu berada di dekatnya. “Bilang padanya, aku tidak mau bertemu,” ucap Aluna dengan nada dingin.“Dia bersikeras, Nona.”Aluna akhirnya berdiri. “Baik, suruh dia masuk. Tapi jangan biarkan dia mendekati Alva.”Beberapa menit kemudian, Betran muncul di ambang pintu. Wajahnya kusut, sorot matanya penuh harap. “Aluna, tolong izinkan aku bertemu dengan Alva. Hanya sebentar saja. Aku tidak meminta lebih.”Aluna menatapnya tajam, seperti ingin menembus hatin
Pagi itu, Hansen berdiri di depan ruang kerja Aluna sambil menunggu perintah lanjutan. Wajahnya serius, penuh determinasi untuk menjalankan tugas sesuai instruksi Aluna. Setelah mendengar pengakuan Betran, Aluna tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Dia ingin Roy, yang merupakan kaki tangan Betran, segera ditangkap."Masuk, Hansen," suara Aluna terdengar tegas dari balik pintu.Hansen membuka pintu dan melangkah masuk. Aluna sedang duduk di kursinya dengan wajah yang masih menunjukkan kelelahan emosional, tetapi tekadnya terlihat jelas di matanya. Di meja, ada beberapa dokumen yang berserakan, tetapi perhatian Aluna sepenuhnya tertuju pada Hansen."Bagaimana progres pencarian Roy?" tanya Aluna tanpa basa-basi.Hansen berdiri tegak. "Kami berhasil melacak lokasi terakhir Roy, Nona. Dia bersembunyi di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota. Saya sudah mengoordinasikan penangkapan bersama pihak kepolisian."Aluna mengangguk. "Bagus. Pastikan dia tidak punya celah untuk melarikan diri. Ak
Malam itu, Aluna baru saja tiba di Mansion setelah seharian penuh bekerja. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya lebih lelah. Hansen membukakan pintu mobilnya, dan dia melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Saat dia hendak duduk untuk sekadar melepas penat, seorang pelayan berlari menghampirinya."Nona, ada tamu yang memaksa ingin bertemu Anda," kata pelayan itu dengan nada panik.Aluna memijat pelipisnya, merasa tak punya energi untuk menghadapi siapa pun malam ini. "Siapa?""Ibu Kania, Nona. Dia menunggu di ruang tamu," jawab pelayan itu sambil menunduk.Aluna menghela napas panjang. Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan wanita tua itu yang datang dengan permohonan yang sama seperti sebelumnya? Tanpa berkata apa-apa, Aluna melangkah menuju ruang tamu.Di ruang tamu, Kania duduk dengan gelisah. Dia terus melirik ke arah pintu, berharap Aluna segera muncul. Ketika Aluna akhirnya tiba, wajah Kania seketika memelas. "Apa lagi kali ini, Bu Kania?" Aluna membuka percakapan dengan na
Aluna melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan tenang, meskipun hatinya masih sedikit panas setelah insiden dengan Ratu di parkiran tadi. Ia menghela napas pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pekerjaan. Begitu ia duduk di kursinya, asistennya, Hanna, segera masuk dengan membawa tablet di tangannya. "Nyonya Aluna, sesuai jadwal, pukul sepuluh pagi nanti ada pertemuan dengan klien dari Korea Utara," lapor Hansen. "Mereka ingin menawarkan kerja sama bisnis di bidang ekspor bahan baku tekstil. Saya sudah mengatur tempat pertemuan di ruang konferensi lantai tujuh." Aluna mengangguk. "Baik, pastikan semua dokumen yang diperlukan sudah siap. Aku ingin tahu lebih detail mengenai proposal mereka sebelum pertemuan dimulai." "Saya akan segera mengirimkan berkasnya ke email Anda," kata Hansen. "Terima kasih, Hansen. Itu saja?" "Satu lagi, Nyonya," lanjut Hansen. "Saya ingin memastikan apakah Anda akan menghadiri makan siang dengan investor lokal nanti?" Aluna berpikir sejenak
Aluna baru saja hendak membuka pintu mobil saat suara seseorang memanggilnya dari belakang. "Aluna! Tunggu!" Ia menoleh dan melihat seorang wanita tua berlari kecil ke arahnya. Kania, mantan ibu mertuanya. Wajahnya tampak lelah, ada guratan cemas di sana. Aluna menghela napas. Ia sudah bisa menebak tujuan wanita itu datang menemuinya lagi. "Tolong, Aluna..." suara Kania bergetar, matanya berkaca-kaca. "Aku mohon, bebaskan Betran... Aku tahu dia salah, aku tahu dia pantas dihukum, tapi dia tetap manusia. Dia tetap ayah dari Alva..." Aluna menegang. Ia menggenggam pegangan pintu mobil erat-erat, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. "Kania, sudah kubilang berkali-kali, aku tidak bisa begitu saja membebaskan dia. Ini masalah hukum, bukan masalah pribadi," ujar Aluna setenang mungkin. Kania terisak. "Aku mohon, Aluna... Aku sudah tua, aku tidak sanggup melihat anakku menderita seperti ini. Dia sudah menerima kesalahannya, dia menyesal. Tolonglah, Aluna..." Aluna menatap K
Aluna berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat sulit ia jelaskan. Senyum kecil tak bisa ia tahan saat mengingat bagaimana Kaisar tadi mencium dan memeluknya. Rasanya begitu nyata, begitu hangat, seakan waktu tak pernah memisahkan mereka. Namun, lamunannya buyar ketika suara tangisan Baby Alva terdengar. Dengan cepat, ia mendekati ranjang bayi dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. "Alva sayang, kenapa rewelnya?" gumam Aluna sambil mengayun-ayun pelan tubuh kecil itu. Baby Alva masih merengek, tangannya yang mungil menarik baju tidur Aluna, seolah meminta lebih banyak perhatian. "Kamu mau ditimang-timang, ya?" tanya Aluna lembut. Senyum Aluna semakin mengembang saat melihat mata kecil Alva mulai terpejam dalam gendongannya. Tapi di sisi lain, pikirannya kembali teringat pada Kaisar. Ucapannya, sentuhannya, tatapan penuh kerinduan itu. Di tempat lain, Kaisar baru saja sampai di rumah. Langkahnya santai, seolah tak peduli dengan siapa yang mungkin sedang menunggun
Tok! Tok! Tok!Aluna yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh ke arah pintu. "Nona, ada tamu," suara pelayan terdengar dari luar. "Siapa?" tanyanya sambil bangkit. "Tuan Kaisar, Nona," jawab pelayan dengan nada hati-hati. Aluna terdiam sejenak. Rasanya tak percaya Kaisar datang ke sini, ke mansionnya, setelah semua yang terjadi. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan perasaannya sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tamu, sosok Kaisar sudah berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tampak santai tapi tetap berwibawa. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna begitu ia muncul. "Aluna," panggil Kaisar pelan. Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di dekat tangga, menjaga jarak. Kaisar tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat. "Aku datang untuk berterima kasih." Aluna mengangkat alis. "Untuk apa?" "Untuk semuanya," ujar Kaisar. "Untuk mengurus Amartha selama aku tidak ada, untuk tetap me
Beberapa bulan kemudian. Aluna duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan berita terbaru. Hampir semua portal bisnis dan ekonomi membahas satu hal yang sama—kembalinya Kaisar Amartha sebagai pemimpin perusahaan Amartha. Tak hanya itu, ada juga berita yang membahas kehidupan pribadinya, terutama soal pernikahannya dengan Ratu. Beberapa foto tersebar di media—Ratu dengan perut yang mulai membesar, Kaisar yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi dingin, dan wawancara singkat tentang bagaimana mereka akan membangun masa depan bersama. Aluna tersenyum miris. "Jadi ini akhirnya," gumamnya pelan. Ia tidak terkejut. Sejak awal, ia tahu Kaisar akan kembali ke posisinya. Yang membuatnya sedikit tercekat adalah kenyataan bahwa dunia melihat Kaisar dan Ratu sebagai pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanya seorang mantan yang harus puas menyaksikan dari jauh. Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk. "Nona Aluna," suara Hansen terdengar dari balik pintu. "Masuk
Aluna turun dari mobil dengan wajah lelah. Hari ini benar-benar panjang, ditambah pikirannya masih kacau setelah berbicara dengan Kaisar. Begitu melangkah masuk ke dalam mansion, ia langsung disambut oleh babysitter yang terlihat panik. "Nyonya Aluna, Baby Alva rewel sejak tadi. Susah makan, susah minum susu juga," ujar babysitter itu cemas. Aluna mengerutkan kening. "Kenapa? Apa dia demam?" Babysitter menggeleng. "Tidak demam, tapi terus menangis. Saya sudah mencoba berbagai cara, tapi tetap saja dia menolak makan." Tanpa menunggu lebih lama, Aluna segera menuju kamar Baby Alva. Sesampainya di sana, ia melihat putranya yang masih terisak di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab karena menangis. "Sayang, Mama di sini," ujar Aluna lembut, segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Baby Alva mengusap matanya dengan tangan mungilnya, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Aluna. "Ada apa, hm?" Aluna membelai rambutnya pelan. "Kenapa tidak mau maka
Aluna mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum membuka topik yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Kaisar, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan,” ujar Aluna dengan nada serius. Kaisar mengangkat alis, memusatkan perhatiannya pada Aluna. “Apa itu, Aluna?” “Perusahaanku, Chandra Grup, sedang dalam masalah.” Aluna menyerahkan laporan yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. “Ada penurunan signifikan dalam pasar penjualan kita. Setelah diselidiki, ada kejanggalan. Tampaknya seseorang mencoba merusak reputasi perusahaan dari dalam.” Kaisar membuka laporan itu, membaca dengan seksama. Wajahnya berubah serius. “Ini bukan sekadar kejatuhan pasar biasa. Tampaknya ada sabotase.” “Itulah yang aku khawatirkan,” Aluna mengangguk. “Aku sudah meminta tim investigasi internal, tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka yang terlibat sangat pandai menutupi jejak.” Kaisar menatapnya dalam. “Aku akan mencoba membantu menyelidiki. Mungkin dari sisi lain, kita bisa me
Aluna duduk di kursi kerjanya dengan wajah tegang. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kali ia mencoba menemui Kaisar di rumah sakit, namun selalu gagal. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja bayangan Kaisar terus muncul di kepalanya. "Asisten," panggil Aluna dengan suara tegas. Seorang wanita muda bernama Siska segera masuk ke dalam ruangannya, membawa setumpuk dokumen.Ya, sudah tiga hari ini Aluna mengganti asistennya. Asisten sebelumnya sedang cuti beberapa bulan, tugasnya ia serahkan pada Siska, sepupunya. "Ada perkembangan dari laporan yang aku minta?" tanya Aluna, menyandarkan punggungnya ke kursi. Siska mengangguk, meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Setelah saya dan tim melakukan penyelidikan, kami menemukan adanya kejanggalan dalam pasar." Aluna mengambil laporan itu dan mulai membacanya dengan seksama. Dahinya mengernyit. "Penjualan turun drastis di beberapa wilayah utama, terutama yang sebelumnya menjadi pasar terbesar kita
Aluna melangkah dengan cepat memasuki lobi rumah sakit, dadanya berdebar kencang. Setelah mendengar kabar bahwa Kaisar—atau sekarang dikenal sebagai Raja—sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, ia tak bisa lagi menahan diri untuk menemuinya. Namun, baru saja ia hendak menuju lift, langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri menghadangnya. “Jangan harap kau bisa menemuinya,” suara dingin Ratu menyentak telinga Aluna. Aluna menatap wanita itu dengan tajam. Ia tahu sejak awal Ratu bukan wanita sembarangan, tapi tak disangka, Ratu bisa sekejam ini. “Aku datang bukan untuk bertengkar, aku hanya ingin melihatnya,” ucap Aluna, mencoba menahan emosinya. Ratu menyilangkan tangan di dadanya. “Tidak perlu. Dia sudah punya aku. Dia tidak butuh kau lagi.” Aluna tersenyum miring. “Raja adalah Kaisar, bukan?” tanyanya tegas. Ratu mendengus. “Lalu?” “Kaisar adalah tunanganku,” lanjut Aluna, tatapannya semakin tajam. Ratu terkekeh sinis. “Benar, dia memang Kaisar. Tapi kau