Share

Episode 83

Author: Queen Mikayla
last update Last Updated: 2025-01-13 19:40:16

Pagi itu, Betran melangkah kembali ke perusahaan tempat ia melamar sebelumnya. Wajahnya tampak lesu, tapi kali ini ia telah memutuskan untuk menelan ego dan menerima pekerjaan yang ditawarkan, meskipun hanya sebagai cleaning service. Ia memasuki gedung dengan langkah berat, berusaha menyembunyikan rasa malu.

Di sisi lain, Aluna berdiri anggun di depan terminal keberangkatan bandara. Hari itu, ia dijadwalkan untuk menghadiri konferensi bisnis besar di luar negeri. Hansen dan beberapa asisten sibuk memastikan segala kebutuhan perjalanan Aluna terpenuhi.

Namun, di tengah keramaian bandara, sesuatu membuat Aluna terhenti. Di kejauhan, ia melihat seorang pria tinggi dengan tubuh tegap yang sangat dikenalnya. Mata Aluna membelalak. **Kaisar?** pikirnya.

Aluna tanpa pikir panjang melangkah cepat, hampir berlari. "Kaisar!" teriaknya, namun pria itu terus berjalan menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di depan bandara.

Saat Aluna berhasil mendekat, langkahnya terhenti mendadak. Ia me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Episode 84

    Raja duduk di balik kemudi, matanya terpaku ke jalan, tetapi pikirannya melayang jauh. Wajah wanita yang tadi ia temui di bandara terus terlintas di pikirannya. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak, seolah-olah kenangan yang terkubur tentang wanita itu. Namun, setiap kali ia berusaha mengingat, pikirannya terasa buntu."Sayang, kenapa kamu melamun seperti itu?" suara lembut Ratu memecah keheningan. Wanita itu duduk di kursi penumpang dengan senyum kecil di wajahnya. Raja mengerjap dan segera menguasai dirinya. "Tidak ada. Aku hanya memikirkan pekerjaan," jawabnya sambil berusaha tersenyum tipis. Ratu memiringkan kepalanya, menatap Raja dengan rasa ingin tahu. "Benarkah? Kau terlihat seperti memikirkan sesuatu yang serius." Raja menggeleng sambil mencoba tertawa kecil. "Aku baik-baik saja, istriku. Hanya lelah, itu saja." Namun, Ratu tidak begitu saja percaya. Ia memperhatikan gerak-gerik Raja dengan seksama, tapi memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia tahu jik

    Last Updated : 2025-01-14
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Episode 85

    Di kamar hotel, Aluna duduk di sofa, mengenakan piyama santai berwarna pastel. Wajahnya lelah setelah perjalanan panjang, tetapi hatinya merasa lebih tenang setelah berhasil video call dengan babysitter yang sedang menjaga Baby Alva di rumah. Di layar ponsel, Baby Alva tampak tertidur pulas di ranjang kecilnya, wajah mungilnya membuat hati Aluna menghangat. "Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin, terutama Betran," tegas Aluna kepada babysitter. "Kunci semua pintu, dan selalu pastikan bodyguard ada di sekitar." "Baik, Nona. Semua terkendali," jawab babysitter sambil menoleh ke arah bodyguard yang berjaga di luar kamar Baby Alva. "Kalau ada hal sekecil apa pun yang mencurigakan, segera hubungi saya atau Hansen," tambah Aluna, nada suaranya serius. Babysitter mengangguk dengan tegas. "Saya mengerti, Nona. Jangan khawatir. Baby Alva aman bersama kami." Setelah menutup panggilan, Aluna menyandarkan tubuhnya ke sofa, memandang ke luar jendela yang memperlihatkan pemandangan kot

    Last Updated : 2025-01-14
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 86

    Di sebuah rumah mewah bergaya minimalis, Ratu berdiri di balkon sambil memandang Raja yang sedang duduk di halaman belakang, sibuk dengan laptopnya.. “Raja,” panggil Ratu, berjalan mendekat. Suaranya lembut, tetapi ada nada resah di sana. Raja mengangkat kepalanya dari layar laptop, menatap wanita itu. “Ada apa, Ratu?”Ratu duduk di kursi di hadapannya, mencoba menenangkan diri. “Aku berpikir... bagaimana kalau kita kembali ke Singapura saja? Kehidupan di sana lebih tenang. Lagipula, aku merasa kau lebih cocok tinggal di tempat seperti itu.”Raja menghela napas panjang, menutup laptopnya dengan lembut. “Aku mengerti maksudmu, tapi aku tidak bisa. Proyek yang sedang aku kerjakan di sini terlalu besar. Aku harus menyelesaikannya sebelum memikirkan untuk pindah ke mana pun.”“Tapi, Raja...” Nada suara Ratu sedikit memohon. “Aku hanya ingin kau jauh dari tempat ini. Aku takut kau terjebak dengan sesuatu yang tidak baik.” “Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba khawatir seperti ini?” Raja m

    Last Updated : 2025-01-14
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 87

    Aluna tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul empat sore, ia melangkah keluar dari terminal dengan langkah cepat. Hansen yang setia menjemputnya sudah menunggu di mobil bersama beberapa bodyguard. Sepanjang perjalanan, Aluna terus memikirkan Baby Alva. Ia tidak sabar untuk segera pulang dan memeluk putranya yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Setibanya di Mansion, Aluna langsung membuka pintu utama dengan antusias. “Di mana Baby Alva?” tanyanya sambil melangkah masuk. Salah satu babysitter keluar dari ruang tengah sambil menggendong bayi mungil itu. “Di sini, Nona. Baru saja bangun tidur.”“Alva!” Aluna langsung menghampiri dan mengambil bayinya. “Mama kangen sekali,” katanya sambil mencium pipi kecil Baby Alva. Tangannya gemetar karena terlalu lama menahan rindu. Baby Alva tertawa kecil, membuat hati Aluna terasa hangat. Hansen yang berdiri di belakang hanya tersenyum melihat momen itu. “Nona, Anda terlihat jauh lebih tenang sekarang,” katanya. “Bagaimana mungkin aku tidak t

    Last Updated : 2025-01-14
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 88

    Pagi itu, Aluna sedang duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan perkembangan Chandra Group. Pandangannya tertuju pada jendela besar yang memperlihatkan taman belakang Mansion. Di sela-sela kesibukannya, Hansen masuk membawa sebuah tablet dan beberapa dokumen penting.“Nona, ada informasi yang perlu Anda ketahui,” kata Hansen sambil menyerahkan tablet itu ke meja Aluna.Aluna mengangkat alis, menatap Hansen dengan rasa ingin tahu. “Informasi apa?”Hansen duduk di kursi seberang meja. “Mengenai laki-laki yang mirip dengan Tuan Kaisar. Kami telah melakukan penyelidikan lebih lanjut. Namanya Raja Gielz Samudra, CEO dari Grup Gielz. Dia berasal dari Singapura dan sudah menikah dengan seorang wanita bernama Ratu. Mereka baru pindah ke Jakarta dua minggu lalu untuk mengawasi proyek baru di sini.”Aluna terdiam sejenak, memandangi Hansen dengan tatapan penuh arti. “Jadi benar-benar bukan Kaisar?”“Benar, Nona. Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, tidak ada kaitan sama sekali antar

    Last Updated : 2025-01-15
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 89

    Pagi itu, Aluna sudah berada di ruang rapat utama Chandra Group, menunggu kedatangan Raja untuk pertemuan lanjutan mengenai kerja sama baru mereka. Proyek ini sangat penting bagi Chandra Group karena akan membuka lini bisnis baru di bidang perhiasan, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Bagi Aluna, proyek ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tantangan besar yang ia ingin wujudkan demi membuktikan kemampuannya sebagai pemimpin baru Chandra Group.Ketukan di pintu memecah lamunannya. Hansen masuk, diikuti oleh Raja yang mengenakan setelan rapi berwarna navy. "Selamat pagi, Nona Aluna," sapa Raja sambil tersenyum hangat. "Pagi, Tuan Raja," balas Aluna sambil mengangguk sopan. Mereka duduk di meja rapat yang besar, dokumen-dokumen tentang proyek perhiasan tersebar di atas meja. Diskusi mereka berjalan lancar, penuh dengan ide-ide segar. “Jadi, untuk desainer perhiasan, apakah Anda sudah memiliki kandidat?” tanya Raja, memecah fokus Aluna yang sedang mencoret-co

    Last Updated : 2025-01-16
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 90

    pukul tujuh malam, Aluna sedang duduk di ruang tamu Mansion, menggendong Baby Alva yang kini semakin aktif. Kehidupannya terasa penuh perjuangan, tetapi Baby Alva adalah satu-satunya alasan dia bertahan. Ketika ia sedang menikmati momen bersama putranya, seorang bodyguard masuk dengan wajah tegang. “Maaf, Nona Aluna. Tuan Betran ada di luar. Dia memohon untuk bertemu,” ujar bodyguard tersebut.Mendengar nama Betran disebut, senyum di wajah Aluna menghilang. Dia menghela napas panjang, lalu menyerahkan Baby Alva kepada babysitter yang selalu berada di dekatnya. “Bilang padanya, aku tidak mau bertemu,” ucap Aluna dengan nada dingin.“Dia bersikeras, Nona.”Aluna akhirnya berdiri. “Baik, suruh dia masuk. Tapi jangan biarkan dia mendekati Alva.”Beberapa menit kemudian, Betran muncul di ambang pintu. Wajahnya kusut, sorot matanya penuh harap. “Aluna, tolong izinkan aku bertemu dengan Alva. Hanya sebentar saja. Aku tidak meminta lebih.”Aluna menatapnya tajam, seperti ingin menembus hatin

    Last Updated : 2025-01-16
  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 91

    Pagi itu, Hansen berdiri di depan ruang kerja Aluna sambil menunggu perintah lanjutan. Wajahnya serius, penuh determinasi untuk menjalankan tugas sesuai instruksi Aluna. Setelah mendengar pengakuan Betran, Aluna tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Dia ingin Roy, yang merupakan kaki tangan Betran, segera ditangkap."Masuk, Hansen," suara Aluna terdengar tegas dari balik pintu.Hansen membuka pintu dan melangkah masuk. Aluna sedang duduk di kursinya dengan wajah yang masih menunjukkan kelelahan emosional, tetapi tekadnya terlihat jelas di matanya. Di meja, ada beberapa dokumen yang berserakan, tetapi perhatian Aluna sepenuhnya tertuju pada Hansen."Bagaimana progres pencarian Roy?" tanya Aluna tanpa basa-basi.Hansen berdiri tegak. "Kami berhasil melacak lokasi terakhir Roy, Nona. Dia bersembunyi di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota. Saya sudah mengoordinasikan penangkapan bersama pihak kepolisian."Aluna mengangguk. "Bagus. Pastikan dia tidak punya celah untuk melarikan diri. Ak

    Last Updated : 2025-01-16

Latest chapter

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 118

    Aluna melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan tenang, meskipun hatinya masih sedikit panas setelah insiden dengan Ratu di parkiran tadi. Ia menghela napas pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pekerjaan. Begitu ia duduk di kursinya, asistennya, Hanna, segera masuk dengan membawa tablet di tangannya. "Nyonya Aluna, sesuai jadwal, pukul sepuluh pagi nanti ada pertemuan dengan klien dari Korea Utara," lapor Hansen. "Mereka ingin menawarkan kerja sama bisnis di bidang ekspor bahan baku tekstil. Saya sudah mengatur tempat pertemuan di ruang konferensi lantai tujuh." Aluna mengangguk. "Baik, pastikan semua dokumen yang diperlukan sudah siap. Aku ingin tahu lebih detail mengenai proposal mereka sebelum pertemuan dimulai." "Saya akan segera mengirimkan berkasnya ke email Anda," kata Hansen. "Terima kasih, Hansen. Itu saja?" "Satu lagi, Nyonya," lanjut Hansen. "Saya ingin memastikan apakah Anda akan menghadiri makan siang dengan investor lokal nanti?" Aluna berpikir sejenak

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 118

    Aluna baru saja hendak membuka pintu mobil saat suara seseorang memanggilnya dari belakang. "Aluna! Tunggu!" Ia menoleh dan melihat seorang wanita tua berlari kecil ke arahnya. Kania, mantan ibu mertuanya. Wajahnya tampak lelah, ada guratan cemas di sana. Aluna menghela napas. Ia sudah bisa menebak tujuan wanita itu datang menemuinya lagi. "Tolong, Aluna..." suara Kania bergetar, matanya berkaca-kaca. "Aku mohon, bebaskan Betran... Aku tahu dia salah, aku tahu dia pantas dihukum, tapi dia tetap manusia. Dia tetap ayah dari Alva..." Aluna menegang. Ia menggenggam pegangan pintu mobil erat-erat, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. "Kania, sudah kubilang berkali-kali, aku tidak bisa begitu saja membebaskan dia. Ini masalah hukum, bukan masalah pribadi," ujar Aluna setenang mungkin. Kania terisak. "Aku mohon, Aluna... Aku sudah tua, aku tidak sanggup melihat anakku menderita seperti ini. Dia sudah menerima kesalahannya, dia menyesal. Tolonglah, Aluna..." Aluna menatap K

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 117

    Aluna berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat sulit ia jelaskan. Senyum kecil tak bisa ia tahan saat mengingat bagaimana Kaisar tadi mencium dan memeluknya. Rasanya begitu nyata, begitu hangat, seakan waktu tak pernah memisahkan mereka. Namun, lamunannya buyar ketika suara tangisan Baby Alva terdengar. Dengan cepat, ia mendekati ranjang bayi dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. "Alva sayang, kenapa rewelnya?" gumam Aluna sambil mengayun-ayun pelan tubuh kecil itu. Baby Alva masih merengek, tangannya yang mungil menarik baju tidur Aluna, seolah meminta lebih banyak perhatian. "Kamu mau ditimang-timang, ya?" tanya Aluna lembut. Senyum Aluna semakin mengembang saat melihat mata kecil Alva mulai terpejam dalam gendongannya. Tapi di sisi lain, pikirannya kembali teringat pada Kaisar. Ucapannya, sentuhannya, tatapan penuh kerinduan itu. Di tempat lain, Kaisar baru saja sampai di rumah. Langkahnya santai, seolah tak peduli dengan siapa yang mungkin sedang menunggun

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 116

    Tok! Tok! Tok!Aluna yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh ke arah pintu. "Nona, ada tamu," suara pelayan terdengar dari luar. "Siapa?" tanyanya sambil bangkit. "Tuan Kaisar, Nona," jawab pelayan dengan nada hati-hati. Aluna terdiam sejenak. Rasanya tak percaya Kaisar datang ke sini, ke mansionnya, setelah semua yang terjadi. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan perasaannya sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tamu, sosok Kaisar sudah berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tampak santai tapi tetap berwibawa. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna begitu ia muncul. "Aluna," panggil Kaisar pelan. Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di dekat tangga, menjaga jarak. Kaisar tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat. "Aku datang untuk berterima kasih." Aluna mengangkat alis. "Untuk apa?" "Untuk semuanya," ujar Kaisar. "Untuk mengurus Amartha selama aku tidak ada, untuk tetap me

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 115

    Beberapa bulan kemudian. Aluna duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan berita terbaru. Hampir semua portal bisnis dan ekonomi membahas satu hal yang sama—kembalinya Kaisar Amartha sebagai pemimpin perusahaan Amartha. Tak hanya itu, ada juga berita yang membahas kehidupan pribadinya, terutama soal pernikahannya dengan Ratu. Beberapa foto tersebar di media—Ratu dengan perut yang mulai membesar, Kaisar yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi dingin, dan wawancara singkat tentang bagaimana mereka akan membangun masa depan bersama. Aluna tersenyum miris. "Jadi ini akhirnya," gumamnya pelan. Ia tidak terkejut. Sejak awal, ia tahu Kaisar akan kembali ke posisinya. Yang membuatnya sedikit tercekat adalah kenyataan bahwa dunia melihat Kaisar dan Ratu sebagai pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanya seorang mantan yang harus puas menyaksikan dari jauh. Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk. "Nona Aluna," suara Hansen terdengar dari balik pintu. "Masuk

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 114

    Aluna turun dari mobil dengan wajah lelah. Hari ini benar-benar panjang, ditambah pikirannya masih kacau setelah berbicara dengan Kaisar. Begitu melangkah masuk ke dalam mansion, ia langsung disambut oleh babysitter yang terlihat panik. "Nyonya Aluna, Baby Alva rewel sejak tadi. Susah makan, susah minum susu juga," ujar babysitter itu cemas. Aluna mengerutkan kening. "Kenapa? Apa dia demam?" Babysitter menggeleng. "Tidak demam, tapi terus menangis. Saya sudah mencoba berbagai cara, tapi tetap saja dia menolak makan." Tanpa menunggu lebih lama, Aluna segera menuju kamar Baby Alva. Sesampainya di sana, ia melihat putranya yang masih terisak di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab karena menangis. "Sayang, Mama di sini," ujar Aluna lembut, segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Baby Alva mengusap matanya dengan tangan mungilnya, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Aluna. "Ada apa, hm?" Aluna membelai rambutnya pelan. "Kenapa tidak mau maka

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 113

    Aluna mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum membuka topik yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Kaisar, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan,” ujar Aluna dengan nada serius. Kaisar mengangkat alis, memusatkan perhatiannya pada Aluna. “Apa itu, Aluna?” “Perusahaanku, Chandra Grup, sedang dalam masalah.” Aluna menyerahkan laporan yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. “Ada penurunan signifikan dalam pasar penjualan kita. Setelah diselidiki, ada kejanggalan. Tampaknya seseorang mencoba merusak reputasi perusahaan dari dalam.” Kaisar membuka laporan itu, membaca dengan seksama. Wajahnya berubah serius. “Ini bukan sekadar kejatuhan pasar biasa. Tampaknya ada sabotase.” “Itulah yang aku khawatirkan,” Aluna mengangguk. “Aku sudah meminta tim investigasi internal, tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka yang terlibat sangat pandai menutupi jejak.” Kaisar menatapnya dalam. “Aku akan mencoba membantu menyelidiki. Mungkin dari sisi lain, kita bisa me

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 112

    Aluna duduk di kursi kerjanya dengan wajah tegang. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kali ia mencoba menemui Kaisar di rumah sakit, namun selalu gagal. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja bayangan Kaisar terus muncul di kepalanya. "Asisten," panggil Aluna dengan suara tegas. Seorang wanita muda bernama Siska segera masuk ke dalam ruangannya, membawa setumpuk dokumen.Ya, sudah tiga hari ini Aluna mengganti asistennya. Asisten sebelumnya sedang cuti beberapa bulan, tugasnya ia serahkan pada Siska, sepupunya. "Ada perkembangan dari laporan yang aku minta?" tanya Aluna, menyandarkan punggungnya ke kursi. Siska mengangguk, meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Setelah saya dan tim melakukan penyelidikan, kami menemukan adanya kejanggalan dalam pasar." Aluna mengambil laporan itu dan mulai membacanya dengan seksama. Dahinya mengernyit. "Penjualan turun drastis di beberapa wilayah utama, terutama yang sebelumnya menjadi pasar terbesar kita

  • Pesona Istri yang Dikhianati   Bab 111

    Aluna melangkah dengan cepat memasuki lobi rumah sakit, dadanya berdebar kencang. Setelah mendengar kabar bahwa Kaisar—atau sekarang dikenal sebagai Raja—sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, ia tak bisa lagi menahan diri untuk menemuinya. Namun, baru saja ia hendak menuju lift, langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri menghadangnya. “Jangan harap kau bisa menemuinya,” suara dingin Ratu menyentak telinga Aluna. Aluna menatap wanita itu dengan tajam. Ia tahu sejak awal Ratu bukan wanita sembarangan, tapi tak disangka, Ratu bisa sekejam ini. “Aku datang bukan untuk bertengkar, aku hanya ingin melihatnya,” ucap Aluna, mencoba menahan emosinya. Ratu menyilangkan tangan di dadanya. “Tidak perlu. Dia sudah punya aku. Dia tidak butuh kau lagi.” Aluna tersenyum miring. “Raja adalah Kaisar, bukan?” tanyanya tegas. Ratu mendengus. “Lalu?” “Kaisar adalah tunanganku,” lanjut Aluna, tatapannya semakin tajam. Ratu terkekeh sinis. “Benar, dia memang Kaisar. Tapi kau

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status