Home / Romansa / Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja / Bab 3 - Ketahuan Edwin..

Share

Bab 3 - Ketahuan Edwin..

Author: Ovvpie
last update Last Updated: 2025-01-16 17:05:39

Dari pipinya yang merah padam saja, Dokter Tedja sudah tahu apa yang sedang Adira pikirkan dan ia merasa puas dengan itu. 

Sekretarisnya itu, meski sering tampak kaku, tapi selalu memiliki sisi lucu yang muncul seiring waktu. 

Hal ini menjadi semacam hiburan di tengah rutinitas yang padat sebagai dokter sekaligus direktur utama rumah sakit.

“Jangan mikir yang aneh-aneh. Adik perempuan saya tinggal di bawah dan sering ke sini. Kalau dia lapor ke ibu saya, kamu tahu kan bakal seperti apa jadinya?” jelas Dokter Tedja, menyelipkan nada peringatan.

Adira menjatuhkan tubuhnya ke sofa tak jauh dari tempat Dokter Tedja duduk.

“Siapa yang begitu?” Adira berusaha mengenyahkan pikiran aneh di kepalanya. “Saya hanya waspada,” jawabnya lagi dengan nada ketus.

Meskipun berkata demikian, tapi semburat merah di pipi Adira belum juga pudar.

“Bohong. Kamu pasti berharap kalau saya akan ngapa-ngapain kamu, kan?” balas Dokter Tedja lagi. Kali ini, pria itu menyeringai menggoda, membuat Adira menatapnya dengan ekspresi setengah jijik. 

Kalau bukan karena ingat bahwa Dokter Tedja adalah bosnya, Adira mungkin sudah melemparkan bogem mentah sejak tadi. 

Tak dapat dipungkiri, Dokter Tedja adalah paket lengkap—kaya dan berwajah luar biasa menarik, terutama saat sedang serius. Tidak heran kalau banyak yang mengidolakannya.

“Kalau aja mereka tahu aslinya nih dokter gila,” gumam Adira lirih.

“Kamu sempat ngomong sesuatu?” mata Dokter Tedja menyipit. 

Adira buru-buru menggeleng sambil tertawa canggung. 

“Eh! Nggak, Dok!” katanya. “Saya hanya merasa gak nyaman karena walaupun kita benar-benar sudah nikah, tapi realitanya hanya status.” lanjut Adira lagi.

“Jangan kebanyakan mikir.” Dokter Tedja mengetuk kepala Adira main-main, membuat Adira merengut tak terima. 

“Tapi, tahu nggak kenapa saya memilih kamu untuk menikah dengan saya?”

Adira mengangkat wajah, tak langsung merespons. Tatapannya seakan meminta Dokter Tedja untuk segera memberi jawaban.

Dokter Tedja menarik napas, kali ini suaranya lebih serius. “Saya butuh pasangan yang bisa diajak kerja sama. Bagaimanapun juga, status pernikahan kita ini nggak hanya untuk main-main. Kalau nggak ada kecocokan, semuanya akan kacau.” 

Adira tertegun.

“Kamu itu nyambung sama saya meskipun kadang bikin kepala saya pusing.” lanjut Dokter Tedja lagi yang langsung membuat Adira mendengus.

Padahal baru saja ia merasa kagum pada dokter ini!

“Ngomong-ngomong, Dok. Kalau boleh tahu, sampai kapan kita akan melakukan pernikahan ini? Apakah ada lembar perjanjiannya?” tanya Adira kemudian, mulai lebih serius.

Dokter Tedja menggeleng pelan. “Lakukan saja seperti pasutri biasa. Kamu juga bisa minta cerai kalau memang sudah ada orang yang kamu sukai. Yang penting kamu bisa memberikan apa yang saya mau.”

Ucapan Dokter Tedja membuat mata Adira membulat sebelum reflek menutupi dadanya dengan kedua tangan. 

“Tenang saja, saya nggak akan menyentuh kamu... kecuali kamu yang mau,” lanjut Dokter Tedja sambil menaik-turunkan alis, menggoda.

“Nggak akan, Dok!” seru Adira tegas.

Dokter Tedja terkekeh dan melanjutkan dengan suara serius, “Tugas utama kamu hanya satu: singkirkan Zia.”

Adira mengernyit. “Zia? Dokter Zia yang direktur cabang itu?”

Tentu saja Adira tahu siapa Zia. Wanita itu sepupu jauh Dokter Tedja dan ia ingat mereka cukup dekat.

“Ya, dia. Ibu saya memaksa ingin menjodohkan saya dengannya. Tapi, seperti yang kamu tahu, saya nggak tertarik.” jelas Dokter Tedja.

“Kenapa, Dok? Dokter Zia kan baik. Cantik pula. Kalian cocok, sama-sama dokter. Kok dokter nggak mau?”

Dokter Tedja bersedekap dada. “Kepo saja kamu!” 

Setelah itu, ia bangkit dan membawa koper Adira ke atas.

Langkah Adira yang hendak mengikuti Dokter Tedja mendadak terhenti karena sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke ponsel Adira, dari Edwin.

“Halo, Kak.” 

“Kamu di mana? Kenapa kamu nggak ada di rumah sakit? Satpam bilang kamu semalam dirawat di sini. Kenapa nggak bilang ke kakak?” suara Edwin terdengar penuh kekhawatiran. 

“Kamu gapapa kan?” lanjut Edwin lagi.

Kebohongan Adira semalam akhirnya terbongkar. Ia menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa ia sama sekali tidak memperkirakan kedatangan kakaknya siang ini.

“Aku nggak kenapa-napa kok, Kak. Aku takut kakak khawatir jadi aku–” 

“Jelas kakak khawatir, Adira!” Edwin memotong dengan nada pedas. “Kamu tiba-tiba pergi tanpa kabar, terus sekarang kakak mendengar kamu dirawat di rumah sakit!!”

“Jadi gimana sekarang? Kamu di mana? Apa masih di ruang rawat?”

Adira tergagap dan buru-buru memandang ke arah Dokter Tedja yang berdiri tak jauh darinya. “Nggak, Kak. Ini.. aku di rumah  Dokter Tedja.”

“Atasan kamu gimana, sih? Sekretaris lagi sakit malah disuruh kerja melulu. Gak manusiawi banget.” semprot Edwin lagi. “Kirimkan alamatnya! Biar kakak beri perhitungan!”

Adira semakin panik. “Eh?! Kak! Nggak kok! Nggak buat kerja!! Aku... pindah ke rumah Dokter Tedja mulai hari ini.”

Keheningan berlangsung cukup lama sampai akhirnya terdengar suara keras, ‘bletak!’ dari seberang telepon. Sepertinya, ponsel Edwin tanpa sengaja terjatuh karena keterkejutannya.

Adira langsung panik. “Kak! Kak Edwin! Halo?” serunya, mencoba memastikan.

Beberapa saat kemudian, suara Edwin kembali terdengar setelah ia mengambil ponselnya. Namun, kali ini nada suaranya berubah menjadi lebih tinggi, nyaris histeris. 

“Adira! Kamu tahu kan kalau dia itu COWOK! Nggak pantes anak gadis yang belum menikah seperti kamu tinggal serumah sama cowok!”

Omelan itu menghantam gendang telinga Adira seperti letusan petasan. Bahkan ketika ia menjauhkan ponselnya, suaranya masih terdengar jelas.

Adira mencoba menenangkan situasi dengan tawanya yang canggung. “Anu.. Kak. Sebenarnya, semalam kami sudah menikah..”

Keheningan di ujung telepon berubah menjadi gelombang baru emosi. 

“ADIRA!!!” teriak Edwin, suaranya makin lantang, hampir membuat Adira menjatuhkan ponselnya sendiri.

Edwin mengambil napas cepat, lalu menambahkan dengan nada tegas. “Oke, nggak peduli kami bilang apa. Kirim alamat dokter itu ke kakak sekarang juga. Kita bicara langsung. Nggak bisa begini!”

Adira baru saja ingin berbicara lebih lanjut, tapi tiba-tiba ponsel Adira diambil oleh Dokter Tedja yang berdiri di dekatnya. 

Pria itu memasang ekspresi tenang, tapi suaranya terdengar tegas ketika berbicara ke telepon.

“Mas Edwin, saya Dokter Tedja. Tidak perlu repot-repot ke sini. Besok pagi kami berdua akan datang ke rumah Mas. Kita bisa bicarakan semuanya dengan tenang,” katanya, nada bicaranya santai namun berwibawa.

“Kamu Dokter Tedja, ya?” Edwin terdengar sedikit kaget mendengar suara Dokter Tedja. “Baik, saya tunggu besok. Tapi, tolong pastikan Adira benar-benar baik-baik saja!”

“Tentu, Mas. Jangan khawatir. Sampai bertemu besok.” Dokter Tedja menutup telepon dengan lembut, lalu mengembalikan ponsel ke Adira yang masih menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

“Kamu kenapa?” tanya Dokter Tedja datar.

“Dokter yakin mau ke rumah kak Edwin besok? Bagaimana kalau kita bertemu di restoran atau–”

“Ya. Kita pergi berdua, sekalian meminta restu dari kakakmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Bab 4 - Restu.

    Edwin, Dokter Tedja, dan Adira duduk dalam formasi yang memancarkan ketegangan. Dokter Tedja dan Adira berdampingan di satu sisi meja, sementara Edwin duduk di seberang, memandang keduanya dengan tatapan yang sulit dibaca. Mata Edwin tajam, menusuk seperti elang yang siap menyergap mangsanya. Dadanya bergejolak hebat, terutama setelah mendengar kabar yang tak pernah ia bayangkan—Adira, adik kecilnya yang paling dia sayangi, tahu-tahu sudah menikah. Ditambah lagi pasangannya adalah dr. Dokter Tedja, atasan Adira yang selalu dikeluhkan oleh Adira sebagai pribadi yang kejam dan perfectionist.Mana bisa Edwin menerima kabar pernikahan itu?!Edwin menghela napas sebelum bersandar sedikit ke kursinya, melipat tangan di dada. “Sekarang jelaskan.” katanya dengan datar dan penuh tekanan.Adira menunduk dalam diam, bibirnya bergetar seperti mencari kata-kata yang tak kunjung keluar. Sebaliknya, Dokter Tedja dengan tenang membuka percakapan.“Kami sudah menikah,” ucapnya tenang dan penuh keya

    Last Updated : 2025-01-16
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Tantangan Sebenarnya

    Dari kalimat pertama saja, tawa Teja sudah hampir meledak. Istri barunya ini benar-benar tidak ada tandingannya dalam membuatnya tertawa. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha keras menahan suara cekikikan yang bisa mengganggu Adira. “Hah... istri? Ini bukan nomornya Mas Teja, ya?” sahut wanita dari seberang telepon dengan nada yang terdengar tidak percaya. “Betul kok, ini nomor Mas Teja. Tapi, suami saya lagi sibuk,” ujar Adira sejudes mungkin. Ia menekankan kata “suami saya” dengan nada yang nyaris menyayat. Hening. Zia, wanita di seberang, tidak segera membalas. Namun, napas panjang terdengar dari speaker, cukup jelas untuk mengisyaratkan bahwa emosinya sedang mendidih. Adira tersenyum tipis, meskipun nadanya semakin menusuk. “Lagian ya, Mbak. Dari tadi suami saya nggak angkat telepon. Harusnya sadar dong. Dia nggak mau bicara sama kamu. Itu namanya... males.” Teja melirik Adira sambil memarkirkan mobil di area parkir minimarket. Rasanya mustahil baginya untuk terus menyeti

    Last Updated : 2025-01-16
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Kamu Tidak Penasaran?

    Adira dan Tedja meninggalkan rumah sakit dalam suasana yang sedikit tegang. Tedja tampak diam, matanya menatap lurus ke jalan. Pikirannya seolah masih tertinggal di ruang pertemuannya dengan Zia. Sementara itu, Adira memilih memandang keluar jendela, berusaha menikmati perjalanan menuju kafe tempat mereka janjian dengan dokter Giovanni. Hawa dingin dari AC mobil terasa menenangkan, meski atmosfer di dalam mobil tetap terasa berat. “Kamu nggak mau nanya apa-apa? Nggak penasaran?” Tedja tiba-tiba membuka pembicaraan. Suaranya terdengar datar, namun nadanya seperti menantang. “Hm... penasaran, sih. Tapi, sepertinya lebih baik saya tidak bertanya,” jawab Adira dengan tenang, meski nada bicaranya mengisyaratkan kehati-hatian. “Walaupun saya bersedia menjawab?” Tedja menoleh sedikit, menatapnya dengan alis terangkat. “Saya pikir itu urusan pribadi dokter yang tidak perlu saya pusingkan. Lagi pula, tugas saya kan cuma menjalankan keinginan dokter yang sudah membayar saya,” ucap Adira deng

    Last Updated : 2025-01-19
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Masakan Istri

    Adira dan Tedja baru tiga hari menikah. Meski begitu, kehidupan sehari-hari mereka berjalan seperti biasa. Mereka tetap profesional dalam pekerjaan tanpa menunjukkan perubahan berarti. Satu-satunya hal yang berubah hanyalah saat malam tiba. Kini, mereka berbagi kamar yang sama, bahkan tidur di kasur yang sama. Anehnya, Adira terlihat santai. Tedja yang penasaran akhirnya bertanya, “Kamu nggak grogi tidur bareng saya di sini?” Adira melirik Tedja sekilas, lalu menjawab santai, “Grogi, dong. Kemarin kan saya protes ke dokter.” Tentu saja Tedja ingat tentang perdebatan mereka. Adira saja sampai voluntir untuk duduk di sofa, tapi Tedja halangi dengan alasan tidak ada selimut lain. “Saya anggap lagi tidur sama kak Edwin aja. Lagipula, kasur ini gede banget, dokter Tedja juga udah janji nggak akan macem-macem.” Tedja tertawa kecil mendengar jawaban itu. “Sama kakak, ya? Kamu yakin banget...” “Dokter Tedja, walaupun suka jahil, selalu menepati janjinya.” ujar Adira. “Kamu gak sangsi g

    Last Updated : 2025-01-19
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Bertemu Mantan Bos

    Setelah Indah keluar dari penthouse, Adira akhirnya bisa menarik napas lega. Tapi sayangnya, itu bukan napas lega yang sepenuhnya menenangkan. Kata-kata terakhir Indah terus terngiang-ngiang di benaknya: "Kita lihat saja sampai kapan kamu bertahan dengan keputusan ini." Adira mengerutkan dahinya sambil memandang pintu yang baru saja ditutup Tedja. Dari semua hal yang ia bayangkan tentang kehidupan setelah menikah—meskipun hanya formalitas—berurusan dengan Indah adalah salah satu yang paling dia takutkan. Wanita itu begitu dingin dan hampir tidak pernah sekalipun Adira melihatnya tersenyum ramah. Dan, yang lebih membingungkan baginya, adalah hubungan antara Tedja dan ibunya yang terasa seperti dua orang asing. “Kamu kenapa, bengong gitu?” suara Tedja memecah lamunannya. Adira mendongak, lalu mengedikkan bahu kecilnya. “Cuma... kepikiran. Ibunya Dokter Tedja dingin banget kayak es batu beku di freezer. Ngeri tahu.” Tedja mendesah pendek sambil menyandarkan punggung ke kursi. “Begit

    Last Updated : 2025-01-20
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Sup Placebo

    “Indah, ada angin apa ke sini?” Sofia menyambut dengan senyum yang terlihat manis, tapi nadanya mengandung sindiran yang sulit diabaikan. Sorot matanya menyelidik dari balik kacamata yang bertengger sempurna di hidungnya. Indah, menantu yang sejak lama jarang terlihat di rumah besar keluarga Daryanatha, hanya membalas dengan senyum tipis. Kepergiannya ke rumah itu selalu membawa alasan formal: pekerjaan, atau pembicaraan penting tentang urusan keluarga. Tidak pernah sekadar untuk bersilaturahmi, apalagi sejak kematian suaminya, Haryo. Namun, hari ini berbeda. “Saya hanya ingin berkunjung,” jawab Indah santai, mencoba menutupi kegelisahannya. Di sisi lain ruangan, Daryanatha, kepala keluarga yang sudah jarang berbicara di pertemuan-pertemuan kecil seperti ini, akhirnya membuka suara. “Tumben sekali,” katanya, disertai nada skeptis. Pandangannya beralih ke arah wanita muda yang berdiri di belakang Indah. “Anda dokter Zia, bukan?” Zia yang sejak tadi berdiri dengan gelisah segera mem

    Last Updated : 2025-01-21
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Adegan di Kamar Mandi

    Adira terlonjak mendengar suara pintu yang terbuka, jantungnya berdebar. Namun, ia segera menenangkan diri dan melirik ke arah pintu, berusaha mencari tahu kenapa pintu itu, yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka. Benar dugaan Tedja. Di balik pintu, terlihat sosok Sofia, neneknya, yang tampak sedikit terkejut karena ketahuan. Sepertinya dia berusaha mengintip diam-diam. “Nenek?” Tedja menyapa dengan suara santai, meski tatapan matanya sedikit menyelidik. Tedja berjalan menuju pintu, membukanya lebih lebar. Sofia, yang sebelumnya berusaha sembunyi-sembunyi, kini hanya bisa tersenyum canggung. Jelas, usahanya untuk menonton “aksi” di dalam kamar gagal total. “Kalian belum tidur?” tanya Sofia basa-basi, menyembunyikan rasa malunya. Tedja dan Adira saling bertukar pandang sebelum Tedja menjawab dengan tenang, “Masih jam sembilan, Nek. Biasanya kami masih banyak aktivitas malam, jadi belum mengantuk.” Adira mengangguk setuju, meski dalam hati ia berharap Sofia segera pergi. Namun,

    Last Updated : 2025-01-22
  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Gosip Sesat

    Adira masih memikirkan senyum Sofia yang tadi pagi terasa begitu penuh arti. Di sisi lain, Tedja yang duduk di sebelahnya hanya cengengesan, tampak menikmati situasi yang membuat istrinya bingung. “Dok, Nenek bisa seneng banget tadi pagi kenapa, ya?” tanya Adira akhirnya, memecah keheningan di dalam mobil. Tedja menoleh sebentar, senyum tipis masih tersungging di bibirnya. “Hmm, ya, yang jelas rencana kita buat meyakinkan mereka sudah berhasil.” “Hah? Kok bisa? Semalam kan kita gak ngapa-ngapain,” Adira mengernyit, semakin bingung. “Sudahlah, nggak usah dipikirin. Kita fokus kerja aja,” sahut Tedja, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menyalakan radio. Dia sebetulnya bisa menebak apa penyebab neneknya bisa sesenang itu. Tapi, akan lebih menyenangkan melihat wajah Adira yang kebingungan. “Ya udah, lah,” ujar Adira menyerah. Meski bingung, ia memutuskan tidak mempermasalahkannya lebih jauh. Setibanya di kantor pusat Alaric Medika, mereka langsung kembali ke rutinitas masing-masi

    Last Updated : 2025-01-22

Latest chapter

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Rencana Kabur

    Langkah Adira hampir mencapai pintu keluar ketika suara lembut namun penuh otoritas menghentikannya. "Adira?" Adira menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya dengan senyum khasnya berdiri di dekatnya. Bu Dyah. Dari sekian banyak orang yang hadir di reuni ini, Bu Dyah adalah satu-satunya yang seharusnya bisa membuatnya merasa nyaman. Mantan wali kelasnya itu selalu terlihat lembut dan perhatian. Tapi, entah kenapa, tatapan hangatnya kini terasa mengikat, seperti jaring halus yang siap menahannya tetap di tempat. "Apa kamu sudah mau pulang?" tanya Bu Dyah dengan nada lembut, tapi ada sedikit nada keberatan di sana. Adira tetap menjaga ekspresi tenangnya. "Iya, Bu. Saya tidak bisa berlama-lama. Karena, niatnya cuma ikut makan saja." "Sayang sekali. Padahal saya ingin berbicara denganmu sebentar," ujar Bu Dyah. Dia melirik ke meja reuni di mana beberapa teman lama mereka masih sibuk mengobrol, tapi jelas memperhatikan mereka. "Kamu benar-benar tidak mau duduk sebentar lagi? Momen

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Reuni yang Membosankan

    Restoran Grand Orchid Hotel terasa semakin sesak bagi Adira. Bukan karena udara atau jumlah tamu yang banyak, melainkan karena atmosfer di meja reuni yang semakin lama semakin tidak nyaman. Dari tadi, obrolan terus mengalir tanpa melibatkan dirinya. Mereka membahas kisah sukses masing-masing, mulai dari bisnis yang berkembang pesat, perjalanan ke luar negeri, hingga pernikahan dengan pasangan kaya raya. Semua terdengar seperti ajang pamer terselubung. Adira memilih tetap diam. Tidak ada yang ingin dia ceritakan. Kenangan SMA baginya tidak lebih dari fase hidup yang ingin dia tinggalkan—fase di mana dia harus berjuang sendiri, menghadapi bully-an, dan bertahan dari tatapan merendahkan. Satu-satunya hal baik dari masa itu adalah Gina, Dewi, dan Giovanni. Namun, kini Adira bahkan mulai ragu apakah Dewi benar-benar teman yang bisa dia percayai. Dia menarik napas panjang, berusaha mengabaikan percakapan di sekelilingnya. Rasa bosan mulai menjalar, membuatnya tanpa sadar membuka ponsel

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Jebakan

    Chapter XX: Undangan Makan Malam di Grand Orchid Setelah insiden beberapa waktu lalu, Dewi tampak lebih kalem. Dia tidak lagi terlalu agresif saat menyapa Giovanni, tidak sok akrab dengan staf lainnya, dan yang paling penting bagi Adira, Dewi akhirnya bekerja dengan cukup baik—atau setidaknya berusaha terlihat baik. Namun, bagi sebagian besar staf di front office, perubahan Dewi ini terasa janggal. Baru saja seminggu lalu dia membuat kesalahan fatal, tetapi sekarang dia bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Di area resepsionis, beberapa pegawai sedang membahas perubahan sikap Dewi. "Kamu sadar gak sih? Dewi sekarang beda banget," ujar Rina, salah satu pegawai administrasi, dengan nada berbisik. "Iya, biasanya dia langsung sok akrab tiap lihat dr. Giovanni. Sekarang, malah kalem," timpal Feri, pegawai front office lainnya. "Mungkin dia kapok gara-gara kena teguran dr. Tedja," celetuk Rina lagi. Feri menggeleng. "Ya kapok sih kapok, tapi tetep aja. Dia kan baru kerja beberap

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Tipu Daya Dewi

    Hari reuni yang dinanti-nanti oleh teman-teman SMA Adira akhirnya tiba. Namun, seperti yang sudah direncanakan, Adira sama sekali tidak berniat untuk menghadirinya. Hari ini dia harus pergi ke luar kota bersama Dokter Tedja untuk survei lokasi klinik baru. Pagi itu, langit masih sedikit mendung ketika Adira dan Dokter Tedja sudah berada di dalam mobil. Perjalanan mereka ke Kota Y memakan waktu beberapa jam, jadi sejak awal mereka sudah bersiap untuk perjalanan panjang. Dokter Tedja yang menyetir tampak santai, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Sementara Adira duduk di kursi penumpang, sibuk dengan tabletnya, mengecek kembali daftar lokasi yang akan mereka survei hari ini. "Jadi, kita langsung ke lokasi pertama begitu sampai?" tanya Dokter Tedja, membelokkan mobil keluar dari parkiran basement rumah sakit. "Iya," jawab Adira tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Saya sudah mengatur jadwalnya. Tempat pertama yang kita survei ada di area perumahan eli

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Terabaikan

    Sejak pertama kali Adira menginjakkan kaki di kantor pagi ini, suasana di sekitar berubah drastis. Para staf yang biasanya sibuk mengobrol di dekat pantry atau berkumpul di meja kerja masing-masing langsung membubarkan diri begitu melihat ekspresi Adira yang gelap. Langkahnya cepat, hak sepatunya berdetak tegas di lantai, dan raut wajahnya penuh dengan aura ‘jangan ganggu aku kalau tidak ingin mati’. Bagi yang sudah mengenal Adira cukup lama, mereka tahu ada dua hal yang bisa membuatnya segalak ini: pekerjaan yang berantakan atau sesuatu yang berhubungan dengan Tedja. Dan pagi ini, tampaknya bukan masalah pekerjaan. “Permisi, Mbak Adira...” suara seorang staf bagian keuangan bergetar saat menyerahkan dokumen laporan keuangan mingguan. Biasanya, Adira akan menerima dengan tenang, mungkin menambahkan sedikit candaan atau komentar santai. Tapi kali ini, dia hanya menatap sekilas sebelum mengambil dokumen itu dengan sedikit hentakan. “Ada yang salah dalam laporan ini?” tanya staf itu h

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Cewek Tuh Serem Pas PMS

    Pagi itu, Gina berdiri di dekat mesin absen pegawai dengan tatapan tajam. Matanya terus mengawasi setiap pegawai yang masuk, tapi fokusnya hanya pada satu orang, yakni Adira. Dia sengaja datang lebih awal demi satu tujuan: menginterogasi Adira soal kejadian semalam. Masih jelas di ingatannya bagaimana suara Tedja terdengar dari telepon. Kenapa malam-malam Tedja bisa ada di tempat Adira? Kenapa Adira terdengar begitu panik ketika ketahuan? Tapi, saat akhirnya Adira dan Tedja muncul dari dari arah parkiran, Gina langsung merasa ada sesuatu yang janggal. Tapi, saat akhirnya Adira dan Tedja muncul dari arah parkiran, Gina langsung merasa ada sesuatu yang janggal. Adira berjalan lebih cepat beberapa langkah di depan Tedja, wajahnya masam, seperti seseorang yang sedang menahan kekesalan. Gerak-geriknya kaku, bibirnya terkatup rapat, dan ada aura jengkel yang terpancar jelas darinya. Sementara itu, Tedja justru tampak sangat santai di belakangnya. Ada sedikit seringai di bibirnya, seaka

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Undangan Reuni

    Dewi duduk di meja resepsionis, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme tak beraturan. Dia berusaha terlihat sibuk membaca berkas di depannya, tetapi pikirannya terus berputar pada satu hal, yaitu pemandangan yang baru saja dia lihat di rumah sakit tadi siang. Adira dan Giovanni. Mereka bercanda dengan akrab, tertawa dengan begitu alami seolah tidak ada orang lain di sekitar mereka. Giovanni bahkan menyentuh kepala Adira, membenarkan helaian rambut yang hampir masuk ke mulutnya saat tertawa. Dewi mengepalkan tangannya di bawah meja untuk menahan rasa kesalnya. Dulu, saat SMA, dia pernah melihat hal yang sama. Dewi sering memperhatikan Adira yang sedang berbicara dengan Giovanni. Mereka berdiri di dekat klinik sekolah, tampak asyik mengobrol. Giovanni saat itu adalah dokter muda yang baru mulai praktik di sekolah mereka, sementara Adira adalah murid beasiswa yang sering mengunjungi klinik karena sering begadang demi nilai sempurna. Dewi menggigit bibir. Dia bisa meliha

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Hasutan

    Tedja menatap Dewi dengan ekspresi tajam, kedua tangannya bersedekap di depan dada. Suasana di ruangan itu terasa dingin, hampir seperti udara di kamar operasi sebelum tindakan besar dilakukan. “Saya tidak bisa terus menoleransi kesalahan seperti ini, Dewi,” katanya dengan nada dingin dan tegas. Dewi, yang sedari tadi bisa berbicara banyak, kali ini benar-benar panik. Matanya sedikit berkaca-kaca saat dia meremas ujung bajunya dengan gugup. “Saya benar-benar minta maaf, Dok... Saya butuh pekerjaan ini... Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Mohon jangan pecat saya,” suaranya bergetar, jelas terdengar nada ketakutan. Tedja tidak langsung menjawab. Ia melirik Adira yang berdiri di sampingnya, menatap Dewi dengan ekspresi sulit diartikan. Dia tahu Adira mulai ragu. Dari ekspresinya, dia bisa melihat Adira bergumul dengan pikirannya sendiri. Entah mana yang akan dia pilih antara mengikuti perasaannya yang masih percaya pada Dewi, atau menerima fakta bahwa Dewi memang berm

  • Pesona Istri Dadakan Dokter Tedja   Kesalahan Beruntun

    Adira duduk di kursi kerjanya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan gelisah. Laporan tentang Dewi mulai menumpuk, dan ini bukan pertama kalinya dia menerima komplain. Masalahnya, setiap kali ada staf yang melapor, mereka selalu menyebut satu hal yang sama: Dewi menggunakan nama Adira untuk menekan orang lain. Adira menghela napas panjang. Dia ingin percaya bahwa Dewi hanya kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya, setelah jam makan siang, Adira memutuskan untuk bicara langsung dengan Dewi. Dia menghampiri meja resepsionis di bagian front office, tempat Dewi bekerja. Wanita itu tampak asyik berbincang dengan seorang perawat, seolah tidak ada beban sama sekali. "Dewi, bisa bicara sebentar?" suara Adira terdengar tenang, tapi ada ketegasan di baliknya. Dewi menoleh, tersenyum lebar. "Tentu dong, Ra." Mereka berjalan ke ruangan kosong di dekat front office. Begitu pintu tertutup, Adira langsung menatap

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status