Sia melangkah mendekati Edward yang posisinya sedang tidur. Dia berbaring lurus sambil menutup mata.
"Apa pria ini tidak pulang semalam?" gumam Sia keheranan. Dia semakin memperhatikan wajah Edward.Dia bahkan berdiri dan berjongkok untuk memperhatikan wajah pria yang pernah menghabiskan malam dengannya.Aku tidak dapat berbohong, wajahnya cukup tampan, Ah tidak! dia memang tampan. Batin Sia."Sampai kapan kamu akan menatap saya?""Eh?!" spontan tubuh Sia menjauh dan membuatnya terkena ujung meja.Sia meringis kesakitan karena perbuatannya itu.Edward memperbaiki posisinya. Dia yang tadinya berbaring menjadi duduk tegak di hadapan Sia. Sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit acak-acakan, dia kembali berbicara."Jam berapa sekarang?"Refleks Sia mengecek jam tangannya. "Sekarang jam tujuh lewat 15 menit Pak,"Edward mengangguk-angguk. "Apa kamu sudah mulai bekerja?""Oh itu...saya belum memulainya,""Lalu apa yang kamu lakukan di ruangan saya?""Eh? bukannya Anda meminta saya melakukan pencatatan stok barang pagi ini?""Kau mudah di bodohi, saya hanya menjahili mu agar berangkat pagi ke tempat ini,""Loh?""Itu balasan karena mencoba melupakan apa yang telah kita lakukan,""Apa maksud Anda?""Berhentilah bersikap seperti begitu menghormati ku, saya tau betul kamu selalu mengutuk saya dibelakang,""Tidak!"Eh...agak benar sih, tapi itu juga salahnya. Batin Sia."Pergilah, ada dokumen yang perlu kamu catat,""Apa itu benar?""Apa saya terlihat bercanda? saya serius meminta kamu mencatat stok barang, tetapi untuk berangkat pagi dan masuk ke ruangan saya adalah sebuah kebohongan,"Tentu saja itu sebuah kebohongan. Batin Sia kesal."Kalau begitu saya permisi, saya harus bekerja,""Tunggu,"Sia menghela napasnya menahan rasa kesal. "Iya Pak?""Buatkan saya segelas kopi,""Baik Pak," jawabnya."Pastikan gulanya hanya satu setengah sendok, lalu airnya jangan terlalu panas,""Baik Pak," jawab Sia sekali lagi dengan senyuman dipaksakan.Dia berjalan ke area dapur khusus karyawan dan membuat kopi untuk Edward."Ugh! apa aku terlihat seperti pembantu baginya? ini diluar jobdesk kerjaku!" Seru Sia kesal sambil mengaduk-aduk kopi yang dia buat itu.Sia mengambil toples gula yang bersebelahan dengan toples garam. Dia ingin sekali memasukkan garam ke dalam kopi itu tetapi dia tau diri kalau dirinya masih baru di perusahaan ini.Sia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan Edward. Sekarang pencahayaan sudah menerangi ruangan itu. Rupanya gorden di ruangan itu telah dibuka.Dia dapat melihat Edward baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di ruangan kerjanya. Pria itu terlihat baru saja selesai mandi. Karena rambut basah dan pakaiannya yang berbeda."Sudah selesai? letakkan saja di meja itu," ujad Edward sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil berwarna hitam.Sia mengangguk."Sebelum kamu keluar, tolong siapkan dokumen ini," Edward memberikan Sia dokumen lainnya yang perlu dia kerjakan.Apa pria ini begitu membenci diriku? Batin Sia kesal."Baik Pak,""Keluar lah,"Sia mengangguk. Setelah menutup pintu dia tidak henti-hentinya bergerak tanpa suara seperti orang berteriak karena saking frustasinya.Dia duduk di kursinya dengan perasaan frustasi dan mulai bekerja. Satu persatu karyawan perusahaan di lantai tempatnya bekerja sudah berdatangan. Bahkan Lily atau rekan kerjanya yang membantunya selama masa pengenalan ini juga sudah datang."Saya tidak menyangka kamu akan berada di kantor di jam segini," sahut Lily tertawa pelan."Saya akan berada di kantor sebelum jam delapan,"Lily kembali tertawa pelan. "Mari kita lihat, sampai kapan kamu akan bersikap rajin seperti itu, lanjut lah bekerja,"Sia mengangguk.Beberapa saat kemudian, dia telah menyelesaikan dokumen yang diminta oleh Edward. Dia baru menyelesaikan satu pekerjaan dan masih ada pekerjaan lainnya. Sia mengetuk pintu Edward dan masuk ketika telah dipersilahkan."Letakkan dokumennya di meja itu,"Sia mengangguk mengerti dan melakukan apa yang diminta oleh Edward."Saya permisi Pak,""Tunggu dulu,"Astaga Tuhan! apa lagi yang harus aku perbuat? bahkan tugas rutin ku pun belum selesai!! Batin Sia berteriak frustasi."Iya pak?" tanya Sia dengan senyuman yang dipaksakan."Susun dokumen di meja sana ke dalam lemari, saya tidak menyukai benda-benda yang terletak sembarangan,"Ya itu derita mu! ini manusia ngerti gak sih? saya juga sibuk!!! Batin Sia kembali berteriak."Tapi Pak, saya belum menyelesaikan tugas pencatatan stok barang dan tugas lainnya,""Saya tidak peduli, kenapa kamu belum mengerjakannya? saya memberi mu waktu yang cukup panjang sejak tadi,"Gila! nih manusia minta di geprek atau gimana? pagi-pagi udah bikin emosi. Ya kan saya gak kerja tugas itu karena ulah Anda juga Bapak Edward. Batin Sia memberontak dalam diam. Dia berusaha tampil tenang padahal di dalam dirinya sedang memberontak ingin mencubit ginjal Edward."Cepatlah susun, saya tidak suka orang yang gemar membuang-buang waktunya,"Astaga! ini manusia benar-benar menyebalkan sekali, Batin Sia dan berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kesal."Baik Pak," Sia memberikan senyuman palsu yang kesekian kalinya."Berhenti lah tersenyum, kamu menyeramkan jika tersenyum,"AKHHH!!! BOLEH CUBIT GINJALNYA GAK SIH??? Batin Sia meraung-raung karena kesal."Baik Pak," Sia berjalan ke meja di dekat sudut ruangan Edward dan mulai menyusun dokumen yang ada di atas meja itu sesuai dengan posisinya dan urutannya.Sebenarnya pekerjaan ini tidaklah begitu berat, hanya saja ini diluar pekerjaan rutinnya. Dan pekerjaan rutinnya harus dia kerjakan secepat mungkin agar peluang dirinya untuk lembur bisa berkurang. Dia tidak ingin menjadi karyawan yang gemar lembur di kantor lalu menjadikan kantor sebagai rumah ke dua.Selagi menyusun dokumen Sia melirik ke arah Edward yang sedang sibuk melihat berkas-berkas di mejanya. Setidaknya pria itu juga sibuk jadi dia tidak terlalu kesal."Berhenti memperhatikan saya," sahut Edward tiba-tiba yang membuat Sia terperanjat kaget. Dia seperti di labrak melakukan hal salah.Edward tertawa melihat respon Sia yang dia tegur. Begitu lucu untuk dirinya yang lelah bekerja.Sial...pria ini akan menyangka jika aku mengaguminya karena melirik dirinya terus, Batin Sia bergerutu."Apa yang kamu perhatikan?""Tidak Pak,""Fokuslah bekerja, saya tidak suka orang yang tidak fokus bekerja, itu merugikan perusahaan begitupun divisi ini,""Baik Pak, saya minta maaf,"Edward berdehem saja sebelum kembali bekerja.Sia menjadi karyawan terakhir yang pulang hari ini. Lagi-lagi dia lembur karena pekerjaan yang diberi oleh Edward begitu banyak. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan rutinnya."Oh God...aku benar-benar kelelahan," gumam Sia sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sesekali dia memijat-mijat lengannya yang pegal. Sia meletakkan kepalanya di atas meja, menatap luar jendela yang menunjukkan cahaya dari gedung-gedung yang ada di luar. Begitu indah dan sayang untuk dilewatkan. "Indah," "Benar, itu indah," sahut seseorang di belakang Sia.Refleks Sia terkejut dan menoleh dengan cepat. Dia melihat ada Edward yang sedang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya."Kau melihatku seperti melihat hantu," ujar pria itu sambil menatap Sia dengan tatapan anehnya."Bukan seperti itu, saya hanya terkejut," Sia memperbaiki posisi duduknya. Padahal dia baru saja mau beristirahat."Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Sia dengan sopan. Dia hanya basa basi saja, asli
Beberapa hari kemudian, sudah hampir seminggu dia bekerja. Dan selama itu pula, dia selalu diganggu oleh Edward. Pria itu benar-benar menyiksanya selama bekerja. Bagaimana tidak? Pria itu dengan sengaja menambah pekerjaan lain untuk Sia agar Sia selalu lembur dan berakhir di antar pulang oleh pria itu juga."Kau terlihat seperti mayat hidup Sia," ujar Lily sambil memakan makanannya.Mereka berdua sedang makan di kafetaria perusahaan. Sia mengangguk. "Aku sangat lelah hari ini,""Kau lembur lagi?"Sia mengangguk lagi. "Aku pikir hari-hari ku tidak akan berjalan baik tanpa lembur,"Lily tertawa pelan. "Aku sendiri tidak mengerti kenapa Pak Edward menyuruhmu banyak hal, apa kalian dekat satu sama lain?""Dih! amit-amit dekat sama dia!"Lagi-lagi Lily tertawa. "Kau sabar saja, siapa tau sikapnya akan berubah, mungkin dia masih sensitif karena kamu terlambat pada saat hari pertama,"Cih, aku telat juga karena pria sialan itu! Batin Sia bergerutu kesal."Omong-omong apa kau ikut Sabtu depa
Selama diperjalanan Sia dan Edward hanya saling diam satu sama lain. Jujur saja, Sia tidak tau harus basa basi apalagi dengan Edward. Dia rasa dirinya tidak perlu melakukan itu.Apalagi hubungan mereka memang tidak jelas. Dia ingin menyatakan jika mereka hanya sebatas atasan bawahan tetapi Edward selalu perlakukan dirinya berbeda."Terima kasih Pak," ujar Sia pada saat mobil Edward berhenti di depan gedung apartemennya.Edward menatap Sia sebentar sebelum bertanya. "Apa saya bisa makan di tempatmu?""Eh?""Saya bertanya, apa saya bisa makan di tempatmu?"Maksudnya apa nih? Apa yang harus aku katakan? Batin Sia."Hei! saya bertanya,"Sia tersadar. "Apartemen saya begitu kecil Pak,""Saya tidak peduli, saya hanya ingin melanjutkan makan saya tadi,"Oh mau numpang lanjut makan? kirain mau dimasakin, Batin Sia merasa sedikit lega."Kalau Anda memaksa, silahkan ikuti saya,"Edward mengangguk. Mereka berdua keluar dari mobil. Edward berjalan mengikuti Sia sambil menenteng paperbag yang ber
Besoknya Edward benar-benar menjemput Sia. Bahkan pria itu dengan santainya menjemputnya langsung dari pintu apartemen. Karena itu Sia perlu mempersilahkan Edward untuk masuk ke dalam."Apa saya datang terlalu cepat?"Ya iyalah! ini masih jam setengah tujuh woi! Batin Sia."Saya yang lambat bersiap-siap Pak,"Edward mengangguk. "Kamu baru ingin membuat sarapan?""Iya Pak, sekaligus makan siang saya,"Edward yang penasaran dengan cepat berjalan menuju ke dapur dan melihat apa yang dimasak oleh Sia. "Apa yang kamu masak?"Ketika Sia menoleh kebelakang betapa terkejutnya dia saat menyadari jarak antara dia dan Edward begitu dekat. Refleks dia mundur hingga hampir menyentuh wajah panas."Hati-hati," tegur Edward karena kecerobohan Sia.Sia menunduk malu. "Saya bertanya,""Oh iya! Ehm saya hanya membuat ayam kecap dan sayur tumis,"Tatapan Edward jatuh pada isi wajan yang memang terisi oleh ayam yang telah dibumbui."Kau pandai memasak?"Apa pria ini meragukan ku? Batin Sia bertanya."Say
Sia menyadari orang-orang telah pulang. Tersisa dia dan Edward yang berada di lantai ini. Sia segera berjalan menuju ruangan Edward. Tidak lupa dia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.Ketika dia masuk, dia melihat Edward yang sedang menutupi wajahnya menggunakan buku. Apa pria itu tidur? Batin Sia.Sia berjalan mendekat lalu mengetuk pelan meja kerja Edward berharap pria itu bangun. Dan benar saja, Edward terlihat terusik karena ketukan itu. Tangan kanannya menyingkirkan buku di wajahnya dan dapat melihat dengan jelas Sia yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya, jarak mereka hanya terhalangi sebuah meja saja."Kau sudah datang?"Sia mengangguk. "Iya Pak,"Edward terlihat mengangguk sekilas sebelum memperbaiki postur tubuhnya yang tadinya menyender santai di kursi kerja menjadi duduk tegak. "Jam berapa sekarang?"Kedua mata Sia melirik pada jam tangannya lalu menjawab. "Empat lewat 50 menit pak,"Terlihat jelas guratan wajah Edward sedikit kaget. Spontan dia berdiri sambil me
Kepala Sia merasakan sakit yang luar biasa. Dia berpikir tidak akan menyentuh minuman keras lagi seumur hidupnya. Sia yang menatap tembok memutuskan untuk membalikkan arah tubuhnya menjadi menatap sisi lain. Anehnya ketika dia hendak melakukan itu, dia merasakan sentuhan kulit hangat di sekitar perutnya."Eh?" Sia menurunkan pandangannya pada tubuhnya dan terkejut melihat dirinya yang tidak mengenakan busana. Spontan dia menoleh ke belakang dan melihat pria asing yang tidak mengenakan busana juga memeluknya. "AKH!!" Pekik Sia terkejut.Teriakan itu membuat pria yang memeluknya menjadi terbangun."Selain malam, pagiku juga kau ganggu," ujar pria itu sinis."K-kau siapa?""Apa semalam aku bermain begitu hebat hingga ingatanmu terhapus?" tanyanya dengan nada sarkas."Kau siapa sialan?!""Ok ok....aku Edward,"Ingatan tentang semalam mulai berputar di dalam kepala Sia, membuatnya mengingat hingga detik-detik mereka akan menghabiskan malam bersama. "Ed? Edward? apa yang telah ku lakukan?
Sia baru tiba di kantor barunya pukul 11 lewat 24 menit. Sudah dia pastikan kalau dirinya akan menjadi bahan gunjingan orang-orang di kantor. Dengan sekuat tenaga dia menelan rasa malunya demi masuk untuk bekerja. Gambaran tentang dirinya sudah buruk bagi orang-orang. Dimutasi karna kesalahan lalu telat pada hari pertama. Bukankah dia memang pantas mendapatkan gunjingan?Dia melangkah masuk ke kantor lalu mencari letak lift karena kantornya berada di lantai 3. Tidak henti-hentinya dia memanjatkan doa supaya dia tidak di labrak oleh atasan barunya. Bisa-bisa di CV-nya akan tertera kalau dia adalah karyawan yang tidak kompeten. Apalagi dia masih sebagai bawahan. Membayangkan akan menjadi pengangguran membuatnya bergidik ngeri. "Uang sewaku saja begitu mahal, aku harus mempertahankan pekerjaan ini," gumamnya mengingat uang sewa apartemen barunya yang lebih mahal dari apartemen lamanya. Walaupun sudah mencoba negosiasi, uang sewanya masih terbilang mahal.Ting! Suara pintu lift terbuka.
"Sial! ini baru hari pertamaku dan sekarang aku sudah lembur?" umpat Sia kesal karena diberikan banyak tugas. Dia memaklumi jika dirinya tidak bisa jauh dari kata lembur karena tuntutan kerjanya, hanya saja dia tidak menyangka jika hari ini dia akan lembur. Sia sedang menyalin berkas di sebuah mesin pencetak. Berkasnya cukup tebal dan pria itu memintanya membuat 16 rekapan untuk dipakai rapat besok pagi. Sedari tadi dia tidak berhenti-hentinya mengutuk Edward yang seenaknya menyuruh dia melakukan ini."Ekhem!" Refleks Sia menoleh dan mendapati Edward yang sedang berdiri di belakangnya. "Apa semuanya sudah selesai?"Sia menggeleng. "Belum pak,"Edward mengangguk-angguk. Dia tidak berbicara lagi, dia hanya berdiri di belakang Sia sambil menatapnya.Sia yang tidak diberi pertanyaan lagi memilih untuk kembali fokus bekerja. Sesekali dia menguap karena tidurnya yang kurang. Bagaimana pun, dia hanya tidur beberapa jam saja karena kegiatan mereka itu. Sia menggelengkan kepalanya ketika m
Sia menyadari orang-orang telah pulang. Tersisa dia dan Edward yang berada di lantai ini. Sia segera berjalan menuju ruangan Edward. Tidak lupa dia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.Ketika dia masuk, dia melihat Edward yang sedang menutupi wajahnya menggunakan buku. Apa pria itu tidur? Batin Sia.Sia berjalan mendekat lalu mengetuk pelan meja kerja Edward berharap pria itu bangun. Dan benar saja, Edward terlihat terusik karena ketukan itu. Tangan kanannya menyingkirkan buku di wajahnya dan dapat melihat dengan jelas Sia yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya, jarak mereka hanya terhalangi sebuah meja saja."Kau sudah datang?"Sia mengangguk. "Iya Pak,"Edward terlihat mengangguk sekilas sebelum memperbaiki postur tubuhnya yang tadinya menyender santai di kursi kerja menjadi duduk tegak. "Jam berapa sekarang?"Kedua mata Sia melirik pada jam tangannya lalu menjawab. "Empat lewat 50 menit pak,"Terlihat jelas guratan wajah Edward sedikit kaget. Spontan dia berdiri sambil me
Besoknya Edward benar-benar menjemput Sia. Bahkan pria itu dengan santainya menjemputnya langsung dari pintu apartemen. Karena itu Sia perlu mempersilahkan Edward untuk masuk ke dalam."Apa saya datang terlalu cepat?"Ya iyalah! ini masih jam setengah tujuh woi! Batin Sia."Saya yang lambat bersiap-siap Pak,"Edward mengangguk. "Kamu baru ingin membuat sarapan?""Iya Pak, sekaligus makan siang saya,"Edward yang penasaran dengan cepat berjalan menuju ke dapur dan melihat apa yang dimasak oleh Sia. "Apa yang kamu masak?"Ketika Sia menoleh kebelakang betapa terkejutnya dia saat menyadari jarak antara dia dan Edward begitu dekat. Refleks dia mundur hingga hampir menyentuh wajah panas."Hati-hati," tegur Edward karena kecerobohan Sia.Sia menunduk malu. "Saya bertanya,""Oh iya! Ehm saya hanya membuat ayam kecap dan sayur tumis,"Tatapan Edward jatuh pada isi wajan yang memang terisi oleh ayam yang telah dibumbui."Kau pandai memasak?"Apa pria ini meragukan ku? Batin Sia bertanya."Say
Selama diperjalanan Sia dan Edward hanya saling diam satu sama lain. Jujur saja, Sia tidak tau harus basa basi apalagi dengan Edward. Dia rasa dirinya tidak perlu melakukan itu.Apalagi hubungan mereka memang tidak jelas. Dia ingin menyatakan jika mereka hanya sebatas atasan bawahan tetapi Edward selalu perlakukan dirinya berbeda."Terima kasih Pak," ujar Sia pada saat mobil Edward berhenti di depan gedung apartemennya.Edward menatap Sia sebentar sebelum bertanya. "Apa saya bisa makan di tempatmu?""Eh?""Saya bertanya, apa saya bisa makan di tempatmu?"Maksudnya apa nih? Apa yang harus aku katakan? Batin Sia."Hei! saya bertanya,"Sia tersadar. "Apartemen saya begitu kecil Pak,""Saya tidak peduli, saya hanya ingin melanjutkan makan saya tadi,"Oh mau numpang lanjut makan? kirain mau dimasakin, Batin Sia merasa sedikit lega."Kalau Anda memaksa, silahkan ikuti saya,"Edward mengangguk. Mereka berdua keluar dari mobil. Edward berjalan mengikuti Sia sambil menenteng paperbag yang ber
Beberapa hari kemudian, sudah hampir seminggu dia bekerja. Dan selama itu pula, dia selalu diganggu oleh Edward. Pria itu benar-benar menyiksanya selama bekerja. Bagaimana tidak? Pria itu dengan sengaja menambah pekerjaan lain untuk Sia agar Sia selalu lembur dan berakhir di antar pulang oleh pria itu juga."Kau terlihat seperti mayat hidup Sia," ujar Lily sambil memakan makanannya.Mereka berdua sedang makan di kafetaria perusahaan. Sia mengangguk. "Aku sangat lelah hari ini,""Kau lembur lagi?"Sia mengangguk lagi. "Aku pikir hari-hari ku tidak akan berjalan baik tanpa lembur,"Lily tertawa pelan. "Aku sendiri tidak mengerti kenapa Pak Edward menyuruhmu banyak hal, apa kalian dekat satu sama lain?""Dih! amit-amit dekat sama dia!"Lagi-lagi Lily tertawa. "Kau sabar saja, siapa tau sikapnya akan berubah, mungkin dia masih sensitif karena kamu terlambat pada saat hari pertama,"Cih, aku telat juga karena pria sialan itu! Batin Sia bergerutu kesal."Omong-omong apa kau ikut Sabtu depa
Sia menjadi karyawan terakhir yang pulang hari ini. Lagi-lagi dia lembur karena pekerjaan yang diberi oleh Edward begitu banyak. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan rutinnya."Oh God...aku benar-benar kelelahan," gumam Sia sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sesekali dia memijat-mijat lengannya yang pegal. Sia meletakkan kepalanya di atas meja, menatap luar jendela yang menunjukkan cahaya dari gedung-gedung yang ada di luar. Begitu indah dan sayang untuk dilewatkan. "Indah," "Benar, itu indah," sahut seseorang di belakang Sia.Refleks Sia terkejut dan menoleh dengan cepat. Dia melihat ada Edward yang sedang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya."Kau melihatku seperti melihat hantu," ujar pria itu sambil menatap Sia dengan tatapan anehnya."Bukan seperti itu, saya hanya terkejut," Sia memperbaiki posisi duduknya. Padahal dia baru saja mau beristirahat."Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Sia dengan sopan. Dia hanya basa basi saja, asli
Sia melangkah mendekati Edward yang posisinya sedang tidur. Dia berbaring lurus sambil menutup mata."Apa pria ini tidak pulang semalam?" gumam Sia keheranan. Dia semakin memperhatikan wajah Edward.Dia bahkan berdiri dan berjongkok untuk memperhatikan wajah pria yang pernah menghabiskan malam dengannya.Aku tidak dapat berbohong, wajahnya cukup tampan, Ah tidak! dia memang tampan. Batin Sia."Sampai kapan kamu akan menatap saya?""Eh?!" spontan tubuh Sia menjauh dan membuatnya terkena ujung meja. Sia meringis kesakitan karena perbuatannya itu. Edward memperbaiki posisinya. Dia yang tadinya berbaring menjadi duduk tegak di hadapan Sia. Sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit acak-acakan, dia kembali berbicara."Jam berapa sekarang?"Refleks Sia mengecek jam tangannya. "Sekarang jam tujuh lewat 15 menit Pak,"Edward mengangguk-angguk. "Apa kamu sudah mulai bekerja?""Oh itu...saya belum memulainya,""Lalu apa yang kamu lakukan di ruangan saya?""Eh? bukannya Anda meminta saya melak
"Sial! ini baru hari pertamaku dan sekarang aku sudah lembur?" umpat Sia kesal karena diberikan banyak tugas. Dia memaklumi jika dirinya tidak bisa jauh dari kata lembur karena tuntutan kerjanya, hanya saja dia tidak menyangka jika hari ini dia akan lembur. Sia sedang menyalin berkas di sebuah mesin pencetak. Berkasnya cukup tebal dan pria itu memintanya membuat 16 rekapan untuk dipakai rapat besok pagi. Sedari tadi dia tidak berhenti-hentinya mengutuk Edward yang seenaknya menyuruh dia melakukan ini."Ekhem!" Refleks Sia menoleh dan mendapati Edward yang sedang berdiri di belakangnya. "Apa semuanya sudah selesai?"Sia menggeleng. "Belum pak,"Edward mengangguk-angguk. Dia tidak berbicara lagi, dia hanya berdiri di belakang Sia sambil menatapnya.Sia yang tidak diberi pertanyaan lagi memilih untuk kembali fokus bekerja. Sesekali dia menguap karena tidurnya yang kurang. Bagaimana pun, dia hanya tidur beberapa jam saja karena kegiatan mereka itu. Sia menggelengkan kepalanya ketika m
Sia baru tiba di kantor barunya pukul 11 lewat 24 menit. Sudah dia pastikan kalau dirinya akan menjadi bahan gunjingan orang-orang di kantor. Dengan sekuat tenaga dia menelan rasa malunya demi masuk untuk bekerja. Gambaran tentang dirinya sudah buruk bagi orang-orang. Dimutasi karna kesalahan lalu telat pada hari pertama. Bukankah dia memang pantas mendapatkan gunjingan?Dia melangkah masuk ke kantor lalu mencari letak lift karena kantornya berada di lantai 3. Tidak henti-hentinya dia memanjatkan doa supaya dia tidak di labrak oleh atasan barunya. Bisa-bisa di CV-nya akan tertera kalau dia adalah karyawan yang tidak kompeten. Apalagi dia masih sebagai bawahan. Membayangkan akan menjadi pengangguran membuatnya bergidik ngeri. "Uang sewaku saja begitu mahal, aku harus mempertahankan pekerjaan ini," gumamnya mengingat uang sewa apartemen barunya yang lebih mahal dari apartemen lamanya. Walaupun sudah mencoba negosiasi, uang sewanya masih terbilang mahal.Ting! Suara pintu lift terbuka.
Kepala Sia merasakan sakit yang luar biasa. Dia berpikir tidak akan menyentuh minuman keras lagi seumur hidupnya. Sia yang menatap tembok memutuskan untuk membalikkan arah tubuhnya menjadi menatap sisi lain. Anehnya ketika dia hendak melakukan itu, dia merasakan sentuhan kulit hangat di sekitar perutnya."Eh?" Sia menurunkan pandangannya pada tubuhnya dan terkejut melihat dirinya yang tidak mengenakan busana. Spontan dia menoleh ke belakang dan melihat pria asing yang tidak mengenakan busana juga memeluknya. "AKH!!" Pekik Sia terkejut.Teriakan itu membuat pria yang memeluknya menjadi terbangun."Selain malam, pagiku juga kau ganggu," ujar pria itu sinis."K-kau siapa?""Apa semalam aku bermain begitu hebat hingga ingatanmu terhapus?" tanyanya dengan nada sarkas."Kau siapa sialan?!""Ok ok....aku Edward,"Ingatan tentang semalam mulai berputar di dalam kepala Sia, membuatnya mengingat hingga detik-detik mereka akan menghabiskan malam bersama. "Ed? Edward? apa yang telah ku lakukan?