"Sh*t!" Rutuk Ken, di dalam foto itu jelas terlihat dirinya dan juga seorang wanita yang di yakini oleh Ken jika itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang tidur bersamanya tadi malam. Rasa bersalah yang tadinya menggelayut di hati Ken tiba tiba saja hilang, dia menyeringai dan kini dia tahu kenapa wanita itu mau naik ke atas ranjangnya bahkan setelah dia tahu jika dia bukanlah orang yang Ken maksud, hanya satu alasan yang bisa membuatnya melakukan ini, karna dia memang sejak awal sudah merencanakan semuanya dan dia pasti sengaja membuat mereka tertangkap kamera agar Ken bisa memberikannya uang yang banyak.
"Siapa dia, Ken? Apa dia gadis yang kamu tiduri tadi malam?" Tanya Addion ketika melihat foto Ken yang sedang memeluk seorang wanita di tengah remang.
"Cari tahu siapa yang membuat berita itu dan hancurkan dia, aku tidak ingin dia ada di industri ini lagi!" Titah Ken kepada Rere, sekretarisnya itu terlihat sedikit sedih karna dia sudah lama menggoda Ken dan pada akhirnya yang mendapatkan Ken adalah wanita lain.
"Baik, pak." Balas Rere, setelah itu dia pun langsung keluar dari ruangan Ken dan meninggalkan ruangan itu.
Sementara itu, Ken terlihat kembali menyurai rambutnya dengan kasar. Semuanya terasa semakin rumit sekarang, berita berita itu bahkan sudah merambah ke media social yang membuat nama Ken menjadi buruk belum lagi mereka semua terlihat menuntut Ken untuk bertanggung jawab. Ken sudah menjaga namanya sejak dahulu dan hanya dalam satu malam dia akhirnya kehilangan nama baiknya yang tidak pernah terlibat masalah dengan wanita hanya karna satu foto itu.
"Ken, siapa dia?" Tanya Addison sekali lagi, dia sedikit kesal karna cucunya itu sudah mengabaikan pertanyaannya.
"Dia wanita yang tidur dengan Ken tadi malam, kek." Jawab Ken pelan, dia benar benar frustasi melihat apa yang sudah menimpanya saat ini. Bahkan hingga detik ini banyak sekali karyawan atau sekedar orang tak di kenal yang menghubunginya untuk menanyakan apakah berita itu benar atau tidak.
"Dia seperti wanita baik baik." Ujar Addison, jika di lihat dari ekspresinya dia seperti tidak ada niatan sama sekali untuk menggoda Ken, bahkan dari pakaiannya saja terlihat sangat rapi berbeda dengan wanita wanita yang sering datang ke bar yang biasanya mengenakkan pakaian serba mini.
"Baik darimananya, kek?" Tanya Ken, dia hampir saja terbahak saat mendengar apa yang baru saja di katakan oleh kakeknya, bagaimana bisa wanita yang menjebaknya di katakan sebagai wanita baik baik.
"Kakek nggak mau tahu, kamu harus nikahin dia." Ujar Addison tiba tiba, membuat Ken yang tadinya masih terbahak tiba tiba saja terkejut bahkan terbatuk di tempatnya. Beberapa kali kakeknya memang meminta Ken untuk menikah, tapi biasanya dia hanya akan menyuruh Ken mengenalnya lalu jika tidak cocok tidak usah melanjutkan, tapi kali ini berbeda. Pria berumur itu malah meminta Ken untuk langsung menikahinya.
"Nggak usah aneh aneh kek, dia nggak sebaik itu untuk jadi bagian dari keluarga Raharja." Ujar Ken, dia terlihat masih mencoba untuk menganggap santai kata kata kakeknya.
"Kakek nggak mau tahu, Ken. Kamu harus nikahin dia. Kalo kamu masih mau menjadi pewaris kekayaan kakek, maka kamu harus menuruti apa yang kakek katakan." Ujar Addion, kali ini dia terlihat sangat memaksa dengan tatapan maut yang juga terus dia layangkan kepada Ken yang terlihat mulai tegang dengan reaksi kakeknya yang seperti tidak biasa. Untuk pertama kalinya Addison mengancam Ken tentang warisan keluarga mereka.
"Kakek tahu kalau aku masih menunggu, Anna. Dan nggak ada wanita lain yang bisa aku cintai selain Anna." Ujar Ken dengan nada pelan. Mungkin sekedar tidur dengan wanita lain masih bisa dia terima, tapi jika menikah Ken tentu saja tidak bisa karna satu satunya wanita yang bisa menikah dengannya hanyalah Anna.
"Dia sudah pergi sejak empat tahun yang lalu, Ken. Sampai kapan kau akan menunggunya?" Tanya Addison, dia sudah mulai lelah mendengar nama Anna yang terus saja di sebut oleh Ken setiap kali dia membawa seorang gadis. Ini puncaknya, Addison sudah tidak bisa bersabar lagi sekarang dan Ken harus mengikuti apapun yang dia inginkan.
"Dia hanya melanjutkan pendidikannya, kek. Selagi belum ada kabar kematiannya, maka Ken akan terus menunggunya!" Ujar Ken tegas. Sudah empat tahun sejak dia tidak pernah bertemu atau berhubungan dengan Anna, dia kehilangan kontaknya tapi Ken masih tetap menunggunya.
"Kakek nggak peduli, jika kamu masih ingin meneruskan perusahaan ini, masih ingin namamu ada di dalam kartu keluarga kakek maka kamu harus menikah dengan gadis itu! Kakek nggak mau tahu, harus dia!" Ujar Addison, setelah mengatakan itu dia pun akhirnya segera meninggalkan ruangan Ken.
"Arggh! S*al! Perempuan itu benar benar membawa sial." Ujar Ken. Dia bingung, tentu saja dia tidak akan menyerah dengan apa yang sudah dia usahakan ini, meskipun perusahaan ini memang didirikan oleh kakeknya tapi Ken juga punya peran penting. Jika Ken menyerah dengan semua ini, maka sudah pasti perusahaan akan di berikan kepada Aksa dan Ken tentu saja tidak mau hal itu terjadi, sampai kapan pun dia tidak akan memberikan perusahaan ini kepada Aksa. Tapi jika dia menikahi wanita itu, lalu bagaimana dengan Anna? Wanita itu memintanya untuk menunggu dan Ken sudah setuju untuk itu.
Ken diam untuk beberapa saat, dia harus mencari cara agar dia bisa mendapatkan Anna dan juga perusahaan dalam waktu yang bersamaan. Otaknya berpikir dengan keras hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti apa yang kakeknya inginkan.
"Dia ingin aku menikahinya, kan? Kalau begitu aku akan menikahinya dan juga menyiksanya hingga dia yang akan menceraikan aku." Ujar Ken pada akhirnya, dia tidak bisa melawan Addison tapi dia bisa menyiksa wanita dalam pernikahan mereka nantinya, dan kurang dari setahun Ken yakin wanita itu pasti akan menyerah dengan dirinya.
Ken mengambil ponsel yang ada di atas mejanya, kemudian dia menghubungi sebuah nama yang ada di sana, tak menunggu lama hingga panggilan itu tersambung, pria itu menyeringai sepertinya hidupnya akan sedikit lebih menarik sekarang.
"Cari tahu siapa wanita yang ada di foto itu dan bawakan dia kehadapanku, sore ini!" Ujar Ken pada akhirnya, dia tersenyum pelan setelahnya dia langsung mematikan panggilan itu.
"Maafkan aku, Anna. Kali ini aku harus mengingkari janjiku karna jika tidak aku akan kehilangan perusahaan." Gumam Ken, dia benar benar tidak bisa membantah kakeknya jika pria itu sudah serius. Mengingat sifatnya yang tegas, Ken yakin dia tidak pernah main main dengan apa yang dia katakan tadi.
"Welcome to hell, jalang." Gumam Ken, dia tentu membanci Alaia yang sudah membuat dirinya berada di posisi ini dan dia akan menggunakan ini untuk membalaskan perbuatan Alaia kepadanya. Dia sudah merenggut keperjakaannya, membuatnya terkena skandal dan sekarang dia harus menikahinya, benar benar hubungan yang menarik bukan? Tapi tidak untuk Ken, baginya Alaia adalah bencana dan juga aib yang harus segera dia tangani.
"Ma, aku pulang!" Ujar Alaia, setelah satu tahun merantau di kota besar membuat Alaia harus berpisah dengan keluarga dan juga kekasih yang sudah bersamanya selama lima tahun. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam rumah, meletakkan tas yang ada di tangannya kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Dia ingin istirahat sebentar sebelum kembali bersiap siap untuk memberikan kejutakan kepada kekasihnya dengan kepulangannya yang tiba tiba."Kok sepi sih? Apa mama sama papa lagi pergi ya?" Gumam Alaia, dia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hingga sebuah suara dari kamar adiknya mengalihkan perhatiannya."Lanjutin, mas! Udah nggak tahan." Terdengar jelas suara Kania dari balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Pelan pelan, Alaia melangkahkan kakinya mendekat ke arah kamar adiknya. Suara desahan dan juga lenguhan terdengar menyeruak dari kamar itu, membuat Alaia harus menahan nafasnya pasalnya adik semata wayangnya itu masih belum menikah dan ini tentu saja perbu
"Tiduri beberapa gadis malam ini, aku tidak peduli bagaimana latar belakangnya yang jelas aku ingin kau segera memberikan aku cucu!" Sebuah pesan terlihat masuk di ponsel seorang pria yang sedang duduk sofa. Pria itu menatap ke arah minuman yang baru dia tenggak setengah itu, kemudian melirik ke arah salah satu pria yang sepertinya sangat dia kenal. Dia, asisten kakeknya orang yang sudah memberikan obat terlarang ini kepadanya."Sh*t!" Pekik seorang pria ketika dia baru saja membaca pesan dari kakeknya. Pria itu meremas rambutnya kuat berharap jika hal itu bisa menghilangkan rasa sesak di bawah tubuhnya. Beberapa saat yang lalu dia ada janji dengan salah satu klien di bar ini dan dia setuju tanpa ada rasa curiga sedikit pun, sampai tiba tiba rasa panas dan gerah membayangi Ken, pria itu merasa tubuhnya sangat panas dan matanya tak bisa berhenti melihat wanita wanita yang sedang bergerilya di lantai dansa, rasanya dia ingin menggerayangi mereka satu persatu dan semua ini, tentu adalah
"Auh." Lenguh Alaia ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya, nafasnya terasa sedikit sesak karna sebuah lengan yang cukup besar terlihat melingkar di atas perutnya, membuat Alaia harus menahan rasa sakit karna lengan itu terasa cukup berat untuk ukuran gadis bertinggi badan 155 cm dan berat badan hanya 50 kg, sangat mungil bukan? Cukup untuk menjelaskan seberapa berat hidup yang dia jalani selama ini.Alaia Erigta Devannya, anak pertama dari pasangan Rama dan juga Venny, dia punya adik yang bernama Kania Virly Ananya. Kania dua tahun lebih muda darinya, namun gadis itu beruntung karna bisa menempuh bangku kuliah karna Alaia yang membiayainya tapi ternyata kebaikannya malah di balas dengan pengkhianatan yang sebenarnya tidak pernah Alaia harapkan akan di lakukan oleh Kania, adik yang amat sangat dia cintai. Sebelum ini Alaia bekerja di salah satu perusahaan sebagai staf marketing, sudah empat tahun sejak dia bekerja di sana, namun sebuah tragedi harus membuatnya di pecat di perusa
Alaia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri jalanan yang cukup ramai pagi itu, dia menghubungi Rey dan juga Naina untuk menjemputnya tapi tidak peduli seberapa lama dia menelponnya mereka sama sekali tidak menjawab panggilan Alaia."Huh." Alaia menghembuskan nafasnya pelan, dia sangat lelah jadi dia menghentikan langkah kakinya di salah satu kursi taman dan memilih untuk menunggu ojek yang sudah dia pesan secara online. Alaia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dia benar benar merasa sakit seluruh tubuhnya terasa remuk karna permianan panasnya dengan pria asing itu tadi malam.Alaia melirik jam di tangannya perlahan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas pagi dan semua orang terlihat sangat sibuk, kecuali Alaia tentunya."Aku harus cari kerja baru, pokoknya aku nggak akan balik ke kampung." Gumam Alaia, perlahan dia kembali melihat chat chat panjang yang di kirim oleh Alvano yang memintanya untuk bertahan, sementara Kania adiknya itu bahkan tak berniat untuk mengirimkan pesan pa
"Sh*t!" Rutuk Ken, di dalam foto itu jelas terlihat dirinya dan juga seorang wanita yang di yakini oleh Ken jika itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang tidur bersamanya tadi malam. Rasa bersalah yang tadinya menggelayut di hati Ken tiba tiba saja hilang, dia menyeringai dan kini dia tahu kenapa wanita itu mau naik ke atas ranjangnya bahkan setelah dia tahu jika dia bukanlah orang yang Ken maksud, hanya satu alasan yang bisa membuatnya melakukan ini, karna dia memang sejak awal sudah merencanakan semuanya dan dia pasti sengaja membuat mereka tertangkap kamera agar Ken bisa memberikannya uang yang banyak."Siapa dia, Ken? Apa dia gadis yang kamu tiduri tadi malam?" Tanya Addion ketika melihat foto Ken yang sedang memeluk seorang wanita di tengah remang."Cari tahu siapa yang membuat berita itu dan hancurkan dia, aku tidak ingin dia ada di industri ini lagi!" Titah Ken kepada Rere, sekretarisnya itu terlihat sedikit sedih karna dia sudah lama menggoda Ken dan pada akhirnya yang m
Alaia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri jalanan yang cukup ramai pagi itu, dia menghubungi Rey dan juga Naina untuk menjemputnya tapi tidak peduli seberapa lama dia menelponnya mereka sama sekali tidak menjawab panggilan Alaia."Huh." Alaia menghembuskan nafasnya pelan, dia sangat lelah jadi dia menghentikan langkah kakinya di salah satu kursi taman dan memilih untuk menunggu ojek yang sudah dia pesan secara online. Alaia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dia benar benar merasa sakit seluruh tubuhnya terasa remuk karna permianan panasnya dengan pria asing itu tadi malam.Alaia melirik jam di tangannya perlahan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas pagi dan semua orang terlihat sangat sibuk, kecuali Alaia tentunya."Aku harus cari kerja baru, pokoknya aku nggak akan balik ke kampung." Gumam Alaia, perlahan dia kembali melihat chat chat panjang yang di kirim oleh Alvano yang memintanya untuk bertahan, sementara Kania adiknya itu bahkan tak berniat untuk mengirimkan pesan pa
"Auh." Lenguh Alaia ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya, nafasnya terasa sedikit sesak karna sebuah lengan yang cukup besar terlihat melingkar di atas perutnya, membuat Alaia harus menahan rasa sakit karna lengan itu terasa cukup berat untuk ukuran gadis bertinggi badan 155 cm dan berat badan hanya 50 kg, sangat mungil bukan? Cukup untuk menjelaskan seberapa berat hidup yang dia jalani selama ini.Alaia Erigta Devannya, anak pertama dari pasangan Rama dan juga Venny, dia punya adik yang bernama Kania Virly Ananya. Kania dua tahun lebih muda darinya, namun gadis itu beruntung karna bisa menempuh bangku kuliah karna Alaia yang membiayainya tapi ternyata kebaikannya malah di balas dengan pengkhianatan yang sebenarnya tidak pernah Alaia harapkan akan di lakukan oleh Kania, adik yang amat sangat dia cintai. Sebelum ini Alaia bekerja di salah satu perusahaan sebagai staf marketing, sudah empat tahun sejak dia bekerja di sana, namun sebuah tragedi harus membuatnya di pecat di perusa
"Tiduri beberapa gadis malam ini, aku tidak peduli bagaimana latar belakangnya yang jelas aku ingin kau segera memberikan aku cucu!" Sebuah pesan terlihat masuk di ponsel seorang pria yang sedang duduk sofa. Pria itu menatap ke arah minuman yang baru dia tenggak setengah itu, kemudian melirik ke arah salah satu pria yang sepertinya sangat dia kenal. Dia, asisten kakeknya orang yang sudah memberikan obat terlarang ini kepadanya."Sh*t!" Pekik seorang pria ketika dia baru saja membaca pesan dari kakeknya. Pria itu meremas rambutnya kuat berharap jika hal itu bisa menghilangkan rasa sesak di bawah tubuhnya. Beberapa saat yang lalu dia ada janji dengan salah satu klien di bar ini dan dia setuju tanpa ada rasa curiga sedikit pun, sampai tiba tiba rasa panas dan gerah membayangi Ken, pria itu merasa tubuhnya sangat panas dan matanya tak bisa berhenti melihat wanita wanita yang sedang bergerilya di lantai dansa, rasanya dia ingin menggerayangi mereka satu persatu dan semua ini, tentu adalah
"Ma, aku pulang!" Ujar Alaia, setelah satu tahun merantau di kota besar membuat Alaia harus berpisah dengan keluarga dan juga kekasih yang sudah bersamanya selama lima tahun. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam rumah, meletakkan tas yang ada di tangannya kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Dia ingin istirahat sebentar sebelum kembali bersiap siap untuk memberikan kejutakan kepada kekasihnya dengan kepulangannya yang tiba tiba."Kok sepi sih? Apa mama sama papa lagi pergi ya?" Gumam Alaia, dia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hingga sebuah suara dari kamar adiknya mengalihkan perhatiannya."Lanjutin, mas! Udah nggak tahan." Terdengar jelas suara Kania dari balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Pelan pelan, Alaia melangkahkan kakinya mendekat ke arah kamar adiknya. Suara desahan dan juga lenguhan terdengar menyeruak dari kamar itu, membuat Alaia harus menahan nafasnya pasalnya adik semata wayangnya itu masih belum menikah dan ini tentu saja perbu