"Ma, aku pulang!" Ujar Alaia, setelah satu tahun merantau di kota besar membuat Alaia harus berpisah dengan keluarga dan juga kekasih yang sudah bersamanya selama lima tahun. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam rumah, meletakkan tas yang ada di tangannya kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Dia ingin istirahat sebentar sebelum kembali bersiap siap untuk memberikan kejutakan kepada kekasihnya dengan kepulangannya yang tiba tiba.
"Kok sepi sih? Apa mama sama papa lagi pergi ya?" Gumam Alaia, dia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hingga sebuah suara dari kamar adiknya mengalihkan perhatiannya.
"Lanjutin, mas! Udah nggak tahan." Terdengar jelas suara Kania dari balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Pelan pelan, Alaia melangkahkan kakinya mendekat ke arah kamar adiknya. Suara desahan dan juga lenguhan terdengar menyeruak dari kamar itu, membuat Alaia harus menahan nafasnya pasalnya adik semata wayangnya itu masih belum menikah dan ini tentu saja perbuatan tak senonoh yang seharusnya tidak di lakukan oleh Kania, apalagi di rumah.
"Enak sayang?" Terdengar suara pria yang membuat Alaia terpaku di tempatnya.
Deg!
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, senyuman yang tadinya mekar karna sudah tidak sabar bertemu dengan adik dan juga kekasihnya tiba tiba saja sirna, Hubungan yang sudah dia jaga selama tiga tahun kini benar benar hancur karna Alaia tahu dengan jelas, jika pria yang sedang bersama dengan adiknya itu adalah Alvano, kekasihnya.
"Lagi yang." Terdengar sahutan dari Kania, Alaia meremas dadanya sesak. Rasa jijik seketika menyelimutinya, dia kemudian tanpa takut langsung menggebrak pintu kamar Kania. Membuat sepasang pria dan wanita itu langsung menghentikan aktivitasnya.
"Tega kamu ya dek! Pacar kakak kamu embat juga!" Ujar Alaia, dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan kedua manusia yang terlihat sedang sibuk menutupi diri mereka masing masing.
"Alaia, kamu kapan pulang?" Tanya Alvano, terkejut dengan kedatangan kekasihnya yang tiba tiba.
"Nggak usah banyak tanya, mulai sekarang kita putus! Nggak sudi sama bekas adek sendiri." Ujar Alaia, setelahnya dengan tangan bergetar dia berbalik arah dan meninggalkan Kania dan juga Alvano yang terlihat masih terkejut dengan kedatangannya.
"Alaia! Alaia!" Panggil Alvano, pria itu terlihat hendak mengejar Alaia dan memakai pakaiannya.
"Kalo mas pergi, kita udah nggak ada hubungan apa apa lagi!" Ancam Kania, membuat Alvano harus menghentikan aktivitasnya dan membiarkan Alaia pergi begitu saja dan meninggalkan mereka.
Alaia melangkahkan kakinya dengan gontai, dia benar benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Kania dan juga Alvano. Air mata akhirnya jatuh begitu saja dari mata Alaia, selama ini dia sangat mencintai Alvano dan selalu memberikan apa pun yang dia inginkan. Tapi ternyata pria itu malah menyelingkuhhinya dengan adiknya sendiri.
Alaia mengambil kembali barang yang tadi dia letakkan, kemudian dengan tangan yang masih gemetar dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota tempat dia bekerja. Persetan dengan apa yang dia lihat barusan, Alaia tidak akan bersedih lagi, air matanya terlalu berharga untuk menangisi sepasang manusia bejat itu.
"Cheers!"
Terdengar dentingan gelas yang menggema di ruangan penuh bising, Alaia terlihat menenggak minuman yang ada di gelasnya dalam sekali tenggakan. Setelah mengemudi hampir dua jam dari rumahnya ke kota tempat dia bekerja, Alaia akhirnya memutuskan untuk mengikuti teman temannya menghabiskan malam di bar. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, dia memutuskan untuk masuk ke salah satu tempat terlarang yanh selama ini menjadi tabu baginya. Putus dengan Alvano bukan hal paling buruk yang harus dia hadapi hari ini, tapi kesalahan salah satu teman kerjanya juga membuat Alaia harus kehilangan pekerjaan. Itu alasan kenapa dia pulang tadi, tapi sayangnya kepulangannya terjadi malah menambah masalah bagi pikirannya karna dia melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria yang sangat dia cintai sedang memadu kasih dengan adiknya.
"Alaia, kamu baik baik saja?" Tanya seorang pria kepada Alaia, dia adalah Rey teman dekat Alaia di sini. Dia yang selalu membantu Alaia bahkan saat Alaia sedih, dia akan menuruti semua keinginan Alaia bahkan untuk masuk ke tempat ini sekali pun.
"Aku baik, ayo Naina! Kita lanjut minum lagi!" Ujar Alaia, dia kembali mengangkat gelasnya dan meminta temannya yang sudah familiar dengan dunia ini kembali menuangkan minuman untuknya.
"Wow wow! Welcome to new Alaia!" Ujar Naina, gadis itu terlihat sangat senang karna perubahan yang terjadi pada Alaia hari ini. Alaia kembali menenggak minuman itu sekali lagi dan menghabiskannya hingga tandas, membuat Rey yang ada di sebelahnya merasa sedikit khawatir dengan keadaan Alaia.
Drrt drrt!
Sebuah panggilan dari nomor Alvano membuat Alaia melirik ke arah ponselnya, sebenarnya dia ingin mengabaikan panggilan itu. Tapi dia merasa jika menghindar hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan, akhirnya setelah berpikir panjang Alaia akhirnya pamit kepada Rey dan juga Naina untuk mengangkat panggilan itu.
"Aku keluar sebentar." Bisik Alaia kepada kedua temannya.
"Kemana?" Tanya Rey Naina penasaran.
"Mau angkat telpon." Balas Alaia.
"Mau di temenin?" Tanya Rey, pria itu terlihat sudah mulai mabuk sama halnya dengan Alaia dan juga Naina.
"Nggak usah, lanjutin aja!" Ujar Alaia, setelah itu dia pun segera melangkahkan kakinya ke salah satu lorong yang terlihat cukup sepi dan hening.
Alaia melangkahkan kakinya dengan gontai, kepalanya sudah mulai sakit. Dia terus melangkahkan kakinya ke arah lorong yang terlihat remang dengan beberapa pintu yang berjejer rapi. Alaia menghentikan langkahnya di kamar nomor delapan, dia duduk di depan pintu itu lalu mengangkat panggilan dari Alvano.
"Ada apa?" Tanyanya, Alaia menyenderkan kepalanya pada pintu kamar itu. Dia benar benar sudah sangat mabuk hingga kepalanya terasa sangat sakit.
"Aku hanya tidur dengan Kania tapi yang aku cintai cuma kamu, sayang." terdengar suara dari seberang sana, anehnya kali ini suara yang biasanya sangat di sukai oleh Alaia berubah menjadi suara yang sangat dia benci bahkan hingga membuat dirinya merasa jijik.
"Kamu nggak pernah mau aku ajak tidur, jadi aku nidurin Kania." Imbuh Alvano.
"Jadi kamu selingkuhin aku karna aku nggak mau di ajak tidur? Bukannya emang dari dulu kita udah sepakat buat jaga diri masing masing sampe nikah?"Tanya Alaia yang tak mengerti dengan jalan pikiran mantan kekasihnya itu.
"Aku berubah pikiran! Lagian zaman sekarang mana ada orang pacaran yang nggak tidur? Kamunya aja yang kolot." Jawab Alvano, kali ini jawaban pria itu berhasil memancing amarah yang ada di dalam diri Alaia.
"Oh gitu, yaudah pacaran aja sama Kania!" Ujar Alaia dengan nada kesal, dia kemudian langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. Alaia kembali menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya, menangis karna apa yang baru saja di katakan oleh Alvano tentang dirinya.
Setelah menghabiskan sekitar lima menit menangisi hubungannya, Alaia akhirnya memutuskan untuk bangkit dari posisinya dan hendak kembali kepada Rey dan juga Naina yang mungkin sudah mencari dirinya. Alaia baru saja berdiri sebelum akhirnya pintu kamar delapan yang ada di belakangnya terbuka dan menampilkan seorang pria yang terlihat sudah acak acakan. Pria itu terlihat kacau dengan mata yang sudah sendu, dia kemudian tanpa aba aba langsung menarik tangan Alaia.
"Kiriman kakek kan? Baiklah aku akan menikmatimu, jalang!"
"Tiduri beberapa gadis malam ini, aku tidak peduli bagaimana latar belakangnya yang jelas aku ingin kau segera memberikan aku cucu!" Sebuah pesan terlihat masuk di ponsel seorang pria yang sedang duduk sofa. Pria itu menatap ke arah minuman yang baru dia tenggak setengah itu, kemudian melirik ke arah salah satu pria yang sepertinya sangat dia kenal. Dia, asisten kakeknya orang yang sudah memberikan obat terlarang ini kepadanya."Sh*t!" Pekik seorang pria ketika dia baru saja membaca pesan dari kakeknya. Pria itu meremas rambutnya kuat berharap jika hal itu bisa menghilangkan rasa sesak di bawah tubuhnya. Beberapa saat yang lalu dia ada janji dengan salah satu klien di bar ini dan dia setuju tanpa ada rasa curiga sedikit pun, sampai tiba tiba rasa panas dan gerah membayangi Ken, pria itu merasa tubuhnya sangat panas dan matanya tak bisa berhenti melihat wanita wanita yang sedang bergerilya di lantai dansa, rasanya dia ingin menggerayangi mereka satu persatu dan semua ini, tentu adalah
"Auh." Lenguh Alaia ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya, nafasnya terasa sedikit sesak karna sebuah lengan yang cukup besar terlihat melingkar di atas perutnya, membuat Alaia harus menahan rasa sakit karna lengan itu terasa cukup berat untuk ukuran gadis bertinggi badan 155 cm dan berat badan hanya 50 kg, sangat mungil bukan? Cukup untuk menjelaskan seberapa berat hidup yang dia jalani selama ini.Alaia Erigta Devannya, anak pertama dari pasangan Rama dan juga Venny, dia punya adik yang bernama Kania Virly Ananya. Kania dua tahun lebih muda darinya, namun gadis itu beruntung karna bisa menempuh bangku kuliah karna Alaia yang membiayainya tapi ternyata kebaikannya malah di balas dengan pengkhianatan yang sebenarnya tidak pernah Alaia harapkan akan di lakukan oleh Kania, adik yang amat sangat dia cintai. Sebelum ini Alaia bekerja di salah satu perusahaan sebagai staf marketing, sudah empat tahun sejak dia bekerja di sana, namun sebuah tragedi harus membuatnya di pecat di perusa
Alaia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri jalanan yang cukup ramai pagi itu, dia menghubungi Rey dan juga Naina untuk menjemputnya tapi tidak peduli seberapa lama dia menelponnya mereka sama sekali tidak menjawab panggilan Alaia."Huh." Alaia menghembuskan nafasnya pelan, dia sangat lelah jadi dia menghentikan langkah kakinya di salah satu kursi taman dan memilih untuk menunggu ojek yang sudah dia pesan secara online. Alaia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dia benar benar merasa sakit seluruh tubuhnya terasa remuk karna permianan panasnya dengan pria asing itu tadi malam.Alaia melirik jam di tangannya perlahan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas pagi dan semua orang terlihat sangat sibuk, kecuali Alaia tentunya."Aku harus cari kerja baru, pokoknya aku nggak akan balik ke kampung." Gumam Alaia, perlahan dia kembali melihat chat chat panjang yang di kirim oleh Alvano yang memintanya untuk bertahan, sementara Kania adiknya itu bahkan tak berniat untuk mengirimkan pesan pa
"Sh*t!" Rutuk Ken, di dalam foto itu jelas terlihat dirinya dan juga seorang wanita yang di yakini oleh Ken jika itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang tidur bersamanya tadi malam. Rasa bersalah yang tadinya menggelayut di hati Ken tiba tiba saja hilang, dia menyeringai dan kini dia tahu kenapa wanita itu mau naik ke atas ranjangnya bahkan setelah dia tahu jika dia bukanlah orang yang Ken maksud, hanya satu alasan yang bisa membuatnya melakukan ini, karna dia memang sejak awal sudah merencanakan semuanya dan dia pasti sengaja membuat mereka tertangkap kamera agar Ken bisa memberikannya uang yang banyak."Siapa dia, Ken? Apa dia gadis yang kamu tiduri tadi malam?" Tanya Addion ketika melihat foto Ken yang sedang memeluk seorang wanita di tengah remang."Cari tahu siapa yang membuat berita itu dan hancurkan dia, aku tidak ingin dia ada di industri ini lagi!" Titah Ken kepada Rere, sekretarisnya itu terlihat sedikit sedih karna dia sudah lama menggoda Ken dan pada akhirnya yang m
"Sh*t!" Rutuk Ken, di dalam foto itu jelas terlihat dirinya dan juga seorang wanita yang di yakini oleh Ken jika itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang tidur bersamanya tadi malam. Rasa bersalah yang tadinya menggelayut di hati Ken tiba tiba saja hilang, dia menyeringai dan kini dia tahu kenapa wanita itu mau naik ke atas ranjangnya bahkan setelah dia tahu jika dia bukanlah orang yang Ken maksud, hanya satu alasan yang bisa membuatnya melakukan ini, karna dia memang sejak awal sudah merencanakan semuanya dan dia pasti sengaja membuat mereka tertangkap kamera agar Ken bisa memberikannya uang yang banyak."Siapa dia, Ken? Apa dia gadis yang kamu tiduri tadi malam?" Tanya Addion ketika melihat foto Ken yang sedang memeluk seorang wanita di tengah remang."Cari tahu siapa yang membuat berita itu dan hancurkan dia, aku tidak ingin dia ada di industri ini lagi!" Titah Ken kepada Rere, sekretarisnya itu terlihat sedikit sedih karna dia sudah lama menggoda Ken dan pada akhirnya yang m
Alaia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri jalanan yang cukup ramai pagi itu, dia menghubungi Rey dan juga Naina untuk menjemputnya tapi tidak peduli seberapa lama dia menelponnya mereka sama sekali tidak menjawab panggilan Alaia."Huh." Alaia menghembuskan nafasnya pelan, dia sangat lelah jadi dia menghentikan langkah kakinya di salah satu kursi taman dan memilih untuk menunggu ojek yang sudah dia pesan secara online. Alaia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dia benar benar merasa sakit seluruh tubuhnya terasa remuk karna permianan panasnya dengan pria asing itu tadi malam.Alaia melirik jam di tangannya perlahan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas pagi dan semua orang terlihat sangat sibuk, kecuali Alaia tentunya."Aku harus cari kerja baru, pokoknya aku nggak akan balik ke kampung." Gumam Alaia, perlahan dia kembali melihat chat chat panjang yang di kirim oleh Alvano yang memintanya untuk bertahan, sementara Kania adiknya itu bahkan tak berniat untuk mengirimkan pesan pa
"Auh." Lenguh Alaia ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya, nafasnya terasa sedikit sesak karna sebuah lengan yang cukup besar terlihat melingkar di atas perutnya, membuat Alaia harus menahan rasa sakit karna lengan itu terasa cukup berat untuk ukuran gadis bertinggi badan 155 cm dan berat badan hanya 50 kg, sangat mungil bukan? Cukup untuk menjelaskan seberapa berat hidup yang dia jalani selama ini.Alaia Erigta Devannya, anak pertama dari pasangan Rama dan juga Venny, dia punya adik yang bernama Kania Virly Ananya. Kania dua tahun lebih muda darinya, namun gadis itu beruntung karna bisa menempuh bangku kuliah karna Alaia yang membiayainya tapi ternyata kebaikannya malah di balas dengan pengkhianatan yang sebenarnya tidak pernah Alaia harapkan akan di lakukan oleh Kania, adik yang amat sangat dia cintai. Sebelum ini Alaia bekerja di salah satu perusahaan sebagai staf marketing, sudah empat tahun sejak dia bekerja di sana, namun sebuah tragedi harus membuatnya di pecat di perusa
"Tiduri beberapa gadis malam ini, aku tidak peduli bagaimana latar belakangnya yang jelas aku ingin kau segera memberikan aku cucu!" Sebuah pesan terlihat masuk di ponsel seorang pria yang sedang duduk sofa. Pria itu menatap ke arah minuman yang baru dia tenggak setengah itu, kemudian melirik ke arah salah satu pria yang sepertinya sangat dia kenal. Dia, asisten kakeknya orang yang sudah memberikan obat terlarang ini kepadanya."Sh*t!" Pekik seorang pria ketika dia baru saja membaca pesan dari kakeknya. Pria itu meremas rambutnya kuat berharap jika hal itu bisa menghilangkan rasa sesak di bawah tubuhnya. Beberapa saat yang lalu dia ada janji dengan salah satu klien di bar ini dan dia setuju tanpa ada rasa curiga sedikit pun, sampai tiba tiba rasa panas dan gerah membayangi Ken, pria itu merasa tubuhnya sangat panas dan matanya tak bisa berhenti melihat wanita wanita yang sedang bergerilya di lantai dansa, rasanya dia ingin menggerayangi mereka satu persatu dan semua ini, tentu adalah
"Ma, aku pulang!" Ujar Alaia, setelah satu tahun merantau di kota besar membuat Alaia harus berpisah dengan keluarga dan juga kekasih yang sudah bersamanya selama lima tahun. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam rumah, meletakkan tas yang ada di tangannya kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Dia ingin istirahat sebentar sebelum kembali bersiap siap untuk memberikan kejutakan kepada kekasihnya dengan kepulangannya yang tiba tiba."Kok sepi sih? Apa mama sama papa lagi pergi ya?" Gumam Alaia, dia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hingga sebuah suara dari kamar adiknya mengalihkan perhatiannya."Lanjutin, mas! Udah nggak tahan." Terdengar jelas suara Kania dari balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Pelan pelan, Alaia melangkahkan kakinya mendekat ke arah kamar adiknya. Suara desahan dan juga lenguhan terdengar menyeruak dari kamar itu, membuat Alaia harus menahan nafasnya pasalnya adik semata wayangnya itu masih belum menikah dan ini tentu saja perbu