Olivia dan Dewi masuk ke mobil dengan banyak kantong belanjaan besar dan kecil. Setelah itu, Olivia mengantar ibu mertuanya pulang dengan mobilnya.Olivia tidak menyadari ada sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh darinya. Orang di dalam mobil menurunkan jendela mobil untuk melihat mobil Olivia yang sudah melaju pergi. Orang itu bertanya kepada menantunya yang duduk di sampingnya, “Tiara, salah satu dari dua perempuan tadi itu Oliv, kan?”Tiara mengangguk tegas, “Iya, itu Oliv.”“Perempuan yang bersama Oliv itu Dewi menantu keluarga Adhitama, kan? Ibunya Stefan.”Penglihatan Yuna masih sangat baik. Keluarga Adhitama dan keluarga Sanjaya tidak rukun. Dia dan Dewi juga akan saling berhadapan setiap kali bertemu. Jadi dia sangat familiar dengan Dewi.Tadi Dewi melihat keponakannya dan Dewi masuk ke mobil yang sama dari kejauhan. Oleh karena itu, dia segera meminta Tiara untuk berhenti dan melihat dengan jelas. Ternyata itu benar-benar Dewi. Mengapa Olivia bisa bersama Dewi?“Ma, orang itu
Dewi sangat jarang keluar untuk berbelanja. Kalau dia butuh sesuatu, dia tinggal telepon dan pihak toko akan mengantar barang sampai ke rumahnya. Hari ini dia baru pertama kali keluar dengan Olivia, tapi langsung dilihat oleh Yuna.Stefan bisa menipu Olivia, tapi tidak dengan Yuna. Olivia benar-benar tidak mengetahui hal ini. Setelah mendengar ucapan tantenya, dia pun berkata sambil tersenyum, “Tante, boleh tunggu sebentar, nggak? Sekarang aku lagi sama mama mertuaku. Aku mau antar mama mertuaku pulang ke rumah dulu.”“Ajak saja mama mertuamu. Lagi pula kami belum pernah bertemu, kan. Kebetulan bisa ajak mama mertuamu juga. Ayo sekalian, nanti kita makan bareng juga.”“Sebentar, Tante. Aku coba tanya dulu.”Olivia juga merasa sudah waktunya tantenya bertemu dengan ibu mertuanya. Karena sekarang tantenya menjadi pengganti kedua orang tuanya yang telah tiada.Dewi memperhatikan percakapan antara Yuna dan Olivia. Tanpa menunggu Olivia bertanya padanya, dia sudah berkata lebih dulu, “Oliv,
Yuna sama sekali tidak bicara di sepanjang perjalanan. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tiara merasa sedikit khawatir ibu mertuanya akan melakukan sesuatu pada Olivia demi Amelia.Bagaimanapun, Olivia hanya keponakan Yuna. Hubungan mereka tidak begitu mendalam. Sudah jelas Yuna akan lebih memihak pada Amelia, putri kandungnya sendiri.Sesampainya di Sanjaya Group, Yuna langsung masuk ke gedung perkantoran. Tiara sengaja berjalan lebih lambat, lalu menelepon Aksa.“Aksa, Mama datang ke kantor. Sebentar lagi sampai di kantormu.”Aksa terdiam sejenak, lalu berkata, “Oke, aku tahu. Kamu nggak perlu khawatir. Mama marah pasti marah, tapi dia nggak akan melakukan apa pun.”Yuna mungkin akan merasa kalau Stefan tidak punya mata. Di nilai dari segala hal, Amelia sangat pantas untuk Stefan. Namun, Stefan tidak mencintainya, malah jatuh cinta dengan Olivia. Terlebih lagi Olivia sekarang adalah adik sepupu mereka. Kalau tidak ada hubungan ini ....Aksa juga tidak tahu apa yang akan mereka laku
“Belum. Kacang panjangnya harus dijemur dulu baru diasinkan.”Olivia tidak berani terlalu dekat. Terlalu pedas baginya. Dia memperhatikan sekeliling ruangan, tapi tidak menemukan Bi Lesti dan Russel. Dia pun bertanya, “Bi Lesti bawa Russel keluar, Kak?”“Iya. Russel nggak suka aroma pedas. Aku suruh Bi Lesti bawa dia jalan-jalan di luar. Nanti baru pulang untuk makan. Oliv, kamu datang di saat seperti ini, memangnya kamu nggak usah masak untuk Stefan? Kamu bilang kamu pergi cari gaun. Sudah beli gaunnya?”Olivia masuk ke dapur kecil di rumah kakaknya. Setelah melihat bahan-bahan, dia bertanya pada kakaknya dulu. Setelah itu, dia membantu mencuci sayuran dan memasak sambil berkata, “Sudah beli beberapa stel. Mama mertuaku bantu aku pilih. Seleranya bagus banget. Semua gaun yang dia pilih bagus-bagus.”Hanya saja harganya terlalu mahal. Olivia diam-diam bertanya pada karyawan toko harga beberapa gaun yang dibelikan ibu mertuanya itu. Kalau pakai uang tabungan Olivia, paling banyak hanya
Pada saat Roni dan Odelina belum bercerai, Rita selalu merasa Roni punya selera bagus setiap kali dia melihat Yenny. Dia sama sekali tidak merasa Roni salah telah mengkhianati istrinya. Sebaliknya, dia justru merasa Roni hebat. Padahal sudah beristri dan punya anak, tapi masih ada perempuan muda dan cantik seperti Yenny yang menyukainya.Setelah Rita tinggal seatap dengan Yenny, dia baru menyadari Odelina lebih pandai mengurus rumah. Kalau Yenny hanya bisa dijadikan sebagai hiasan, untuk diajak bersenang-senang. Kalau soal mengurus rumah, Rita benar-benar tidak menyukainya.Namun, Yenny sangat kasar, juga bisa bertingkah manja. Rita dan Shella bekerja sama untuk menghadapi Yenny. Akan tetapi, mereka tidak bisa menang dari Yenny. Perempuan licik itu akan bertingkah manja di depan Roni seolah-olah teraniaya sehingga membuat Roni kasihan padanya. Rita marah dan sakit hati setiap kali memikirkan hal itu.“Putrimu mana? Bukannya kalian berdua paling suka berkumpul dan mengobrol berdua? Curh
“Hal ini benar-benar sudah buat mataku terbuka. Mereka bukan mau menikahkan anak perempuan mereka, tapi jual anak perempuan mereka. Mereka minta keluarga kami kasih begitu banyak mas kawin, seenggaknya mereka harus berikan harta sesan sebanyak ratusan juta. Mereka malah bilang mereka hanya akan kasih selimut baru dan sepeda listrik. Sepeda listrik, loh!”“Benar-benar nggak sebanding dengan kakakmu. Kakakmu dulu bahkan habiskan ratusan juta untuk renovasi rumah. Kamu sendiri juga baru mulai kerja cari uang. Waktu kakakmu dan Roni menikah, kamu juga keluarkan semua uang yang kamu punya untuk beli furniture untuk kakakmu. Yenny nggak mau mengeluarkan sepeser pun. Dia hanya tahu pakai uang Roni.”Bukannya merasa iba, Olivia justru tertawa di dalam hatinya. Kakaknya memang lebih baik dari Yenny. Namun, bukankah Roni masih saja selingkuh? Sudah seharusnya ada orang seperti Yenny untuk memberi pelajaran kepada keluarga Pamungkas.Para b*jingan bertemu dengan orang yang lebih egois seperti kel
Setelah berhasil membuat Rita kabur, Olivia berkata pada kakaknya, “Kak, lain kali kalau dia datang lagi, jangan kasih masuk. Pindahkan saja bangku dan duduk di depan pintu. Bikin teh, lalu siapkan cemilan. Minum teh sambil makan cemilan dan dengar omelannya. Anggap saja lagi dengar cerita yang seru.”Kalau kata Stefan, selama Rita bukan datang untuk merebut Russel, maka tidak perlu hiraukan dia. Dengarkan saja keluhannya. Dengan begitu, mereka bisa tahu apa yang terjadi pada pasangan b*jingan itu.“Aku sama sekali nggak berniat bicara dengannya.”Odelina membuktikan kalau dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan mantan ibu mertuanya melalui tindakan. Beberapa hari sekali Rita datang untuk bicara dengannya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Rita.Secara logika, Rita seharusnya takut Odelina tahu kalau keluarga mereka dalam masalah. Namun, Rita justru berinisiatif memberi tahu Odelina tentang Roni dan Yenny. Apakah Rita mengira Odelina akan berubah pikiran dan kemba
Alex dan Junia agak mirip. Keduanya memiliki penampilan yang sangat menarik. Alex masih muda, dia masih terlihat seperti anak SMA.“Nggak mungkin, kan? Dulu semua orang bilang Tuan Muda Adhitama mungkin suka sesama pria. Tapi ternyata bukan. Buktinya sekarang dia sudah punya istri.”“Tapi Reiki baik banget sama Alex. Benar-benar manjakan Alex. Dia bahkan rela pinjamkan mobil sport kesayangannya pada Alex. Kamu tahu, kan. Ada dua hal yang nggak akan pernah seorang pria pinjamkan ke orang lain, pertama mobil, kedua istri,” kata Junia dengan suara pelan.“Aku hanya merasa Reiki menginginkan sesuatu dari adikku. Kamu bantu aku cari tahu. Kalau dia benar-benar homo, aku nggak akan biarkan dia dekati Alex lagi,” timpalnya.“Kenapa kamu nggak beranggapan kalau tujuan Pak Reiki bukan Alex? Target dia yang sebenarnya adalah kamu, kan?” kata Olivia.Setelah mengambil hati Alex, Reiki bisa meminta bantuan Alex. Misalnya, Reiki mengajak Alex makan bersama. Bukankah Junia akan khawatir lalu ikut ma
Nana bertanya, “Kenapa kamu nggak ke toko bunga?” Rosalina menjawab, “Aku mau istirahat sebentar. Dokter Panca menyuruhku untuk nggak terlalu lelah, katanya tubuhku masih lebih lemah dibanding orang lain dan harus dirawat dengan baik. Aku nggak boleh terlalu capek atau begadang." "Sebenarnya, bekerja di toko bunga nggak melelahkan, tapi adikku sering datang ke sana dan membuat keributan. Sangat menjengkelkan." "Calvin menyuruhku beristirahat saja di rumah. Lagi pula, ada orang yang menjaga toko. Kalau aku nggak ada di sana, adikku hanya akan berkeliling sebentar lalu pergi.” Nana berkata, “Kamu masih terlalu lembut. Kalau itu aku, setiap kali dia datang, aku akan menghajarnya sampai dia kapok dan nggak berani datang lagi." "Dengan semua yang sudah dia lakukan untuk menindasmu, kamu seharusnya nggak menganggapnya lagi sebagai saudara." Rosalina tersenyum dingin, “Aku juga nggak menganggapnya saudara. Dia hanya bisa menang lewat omongan, dan aku malas meladeni dia. Aku nggak perlu
Begitu Nana tiba di depan gerbang halaman rumah Rosalina, dia melihat perempuan baru keluar dan berseru, "Nana!" Rosalina tersenyum, "Aku dengar kamu sudah datang sejak tadi. Aku penasaran kenapa belum melihatmu, lalu aku menebak pasti kamu pergi ke rumah Tante Dewi. Aku baru saja mau mencarimu." Nana menjawab, "Nenek ada di rumah. Aku datang, tentu harus menyapanya dulu. Aku mengobrol sebentar dengan Nenek sebelum ke sini." Dia maju beberapa langkah, dengan akrab menggandeng lengan Rosalina, lalu melirik ke dalam dan bertanya, "Samuel nggak ada di rumah, 'kan?" "Kenapa? Kamu mencarinya?" Rosalina menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Nggak, hanya saja dia selalu menunjukkan wajah cemberut di belakang Nenek setiap kali melihatku. Aku nggak mau bertemu dengannya, supaya dia nggak berpikir bahwa aku akan mengikuti keinginan Nenek." "Siapa yang mau sama dia? Aku punya banyak kakak senior, pilih salah satu saja, mereka pasti nggak akan berani menolak aku." Rosalina langsung kesa
Di perusahaan sedang sangat sibuk dan belakangan ini dia sering berada di luar. Teman-temannya mulai mengeluh karena ketidakhadirannya. Namun, neneknya tahu alasan sebenarnya dia keluar, jadi tidak mendesaknya untuk segera pulang. Meskipun begitu, dia tidak bisa berlama-lama di sini. Terlalu banyak pekerjaan yang menunggu. Nenek tertawa dan berkata, "Kalau makanannya enak, makanlah lebih banyak. Tinggal di sini beberapa hari lagi." "Nenek, aku sibuk bekerja. Aku datang ke sini hanya karena guruku datang. Sekarang guruku sudah pulang, aku juga harus kembali bekerja." Nenek menggenggam tangannya dan berkata, "Bagaimana kalau Nenek menelepon keluargamu dan bilang supaya kamu tinggal lebih lama di Mambera?" "Nenek, nanti saat libur Tahun Baru aku akan datang lagi. Sekarang aku benar-benar nggak bisa tinggal lebih lama. Hari ini pun aku datang hanya karena Rosalina terus-menerus memaksaku untuk menemaninya." Nana merasa Sarah seperti tahu siapa dirinya sebenarnya. Dia mencoba menging
Dia bisa memakai perhiasan kapan saja dia mau, dan tidak memakainya jika tidak ingin. Dia memiliki koleksi perhiasan pribadi yang sangat banyak, apalagi dengan tambahan perhiasan yang diberikan oleh ibu mertuanya. Perempuan itu tidak kekurangan perhiasan. Bahkan, dia sangat menyukai perhiasan, terutama batu giok. Di dalam koleksinya, terdapat banyak sekali perhiasan giok berharga. Setelah tiga menantu perempuan masuk ke keluarga, dia membagikan sebagian koleksi perhiasannya kepada mereka. Selain itu, untuk sembilan cucu menantu, dia juga telah menyiapkan hadiah perhiasan. Namun, dia tetap menyimpan beberapa untuk dirinya sendiri—sebagai warisan terakhir. Dia berharap akan memiliki seorang cicit perempuan suatu hari nanti. Jika dia benar-benar mendapatkan cicit perempuan, maka semua perhiasan simpanannya itu akan diberikan kepada cicitnya sebagai mas kawin. "Ma, lihat siapa yang datang!" Menantu sulungnya tiba-tiba berkata dengan penuh semangat. Sarah sengaja menunjukkan ekspresi
Baik memesan makanan dari menu maupun menikmati prasmanan, semuanya sangat lezat, membuat para tamu sangat puas. Tidak heran jika hotel-hotel di bawah naungan Adhitama Group selalu ramai. Banyak orang datang hanya untuk makan, bukan menginap. Para tamu yang menginap di hotel bisa mendapatkan diskon 30 persen saat makan di restoran hotel. Di lantai satu, selain restoran, ada juga kafe, toko oleh-oleh khas Mambera, taman bermain anak-anak, serta area membaca. Di area membaca, terdapat beberapa rak buku besar yang penuh dengan berbagai jenis buku. Saat hujan, tamu bisa menghabiskan waktu seharian di hotel tanpa merasa bosan. Pelayan itu tersenyum. "Baiklah, aku akan mencari Bu Fenny. Silakan lanjutkan urusanmu." Nana tersenyum dan pergi. Pelayan itu pun kembali ke pekerjaannya. Nana berjalan sambil menikmati pemandangan. Dengan santai, dia menghabiskan 40 menit sebelum akhirnya sampai di rumah utama.Meskipun Rosalina yang mengundangnya, tetapi karena Nenek Sarah ada di rumah, sebag
Sejujurnya, dia juga diperlakukan seperti harta berharga yang disayangi oleh keluarganya ketika di rumahnya. Di tempat gurunya, para senior dan saudara-saudari seperguruannya juga sangat baik padanya. Belum pernah ada yang menunjukkan wajah dingin padanya. Hanya Samuel yang selalu memasang wajah dingin setiap kali melihatnya, seolah-olah dia berhutang miliaran kepadanya dan belum melunasinya. Nana juga tahu alasan di balik sikap Samuel yang tampak sopan dan ramah di depan para tetua tetapi bersikap dingin padanya di belakang mereka. Semua itu hanya karena dia mengira Nenek Sarah ingin menjodohkan mereka. Namun, Nana tidak akan repot-repot mendekati lelaki itu. Memangnya dia pikir dirinya uang yang akan disukai semua orang?Meskipun dia pernah menyukai Samuel, setelah mendengar kata-katanya, dia memaksa dirinya sendiri untuk belajar melepaskan perasaan itu. Namun, bagaimanapun juga, mereka tetap saja sulit untuk benar-benar menghindari satu sama lain. Pelayan itu berpikir Nana takut
Russel memanggil Olivia. Liam juga menyapa Olivia, lalu duduk bersama Russel di sebelah Mulan sambal menyaksikan Archie minum susu formula. Russel bermain dengan jari-jari kakinya, lalu Archie menendang ke arahnya. Russel tertawa cekikikan. Adiknya masih kecil dan tidak terlalu kuat, jadi tendangannya tidak terasa sakit. Setelah kedua anak kecil itu kenyang, mereka diserahkan kepada pengasuh. Pengasuh menggendong mereka dan meletakkannya di kereta bayi, lalu mendorong mereka keluar untuk berjalan-jalan.Hal ini dilakukan agar nanti ketika majikannya itu pergi, kedua bayi itu tidak akan menangis. Mulan dan Olivia berencana membawa anak-anak bermain ke taman bermain anak-anak, tetapi mereka tidak membawa si kembar karena masih terlalu kecil. Taman bermain terlalu ramai, sehingga dikhawatirkan mereka tidak bisa merawatnya dengan baik. Di Vila Ferda suasananya sangat ramai, sementara di Vila Permai, suasananya masih tenang. Keluarga Adhitama untuk saat ini belum ada anak kecil. Anak pa
“Yang namanya anak kecil memang begitu. Di umur segini dia pasti penasaran banget sama setiap barang yang dia pegang. Begitu kamu ganti baju yang lebih meriah dikit juga mereka pasti bakal terus menatap kamu,” kata Olivia tersenyum. “Merawat anak kecil memang merepotkan, tapi waktu mereka bermanja sewaktu di gendong dan manggil kamu ‘Mama’ dengan nada yang menggemaskan, kamu merasa bahagia.”Sambil memeluk Archie yang lagi-lagi memanjat meja, Mulan menyahut, “Benar juga. Setelah aku sibuk kerja seharian dan pulang ke rumah, rasa capekku langsung hilang begitu aku memeluk mereka. Rasanya capek yang aku rasakan selama seharian terbayar.”Mulan menunduk untuk mencium wajah anaknya. Saat dicium, Archie juga balas tersenyum ke Mulan, lalu memeluk lehernya dan menggesekkan wajahnya. Olivia sangat iri melihat kedekatan mereka berdua.“Olivia, kamu jangan iri, ya. Beberapa bulan lagi anak kamu sudah lahir. Kamu juga bakal merasa bahagia. Semoga anak kamu nggak bandel saja,” ucap Mulan tertawa.
“Aku nggak bisa kasih makan dia. Dikasih susu bubuk juga maunya kamu yang kasih. Kalau aku yang kasih, dia malah menolak seolah-olah aku mau kasih dia makan racun saja. Dasar pilih kasih,” ujar Yose mengeluhkan anaknya yang memiliki standar ganda.Padahal susu bubuk juga dia yang seduh, tetapi Archie tidak mau minum dan hanya mau minum ketika Mulan yang memberikannya. Kalau Mulan sedang tidak ada di rumah akan lebih mudah bagi Yose, karena begitu Archie lapar, dia akan minum terlepas dari siapa saja yang memberikannya. Meski cengeng, Archie ini cukup pintar.“Nanti biar aku yang kasih dia minum, kamu bawa Audrey balik ke kamar saja dulu. Di luar dingin,” kata Mulan.Mulan lihat-lihat Archie sudah mengenakan jaket tebal, jadi seharusnya dia tidak akan kedinginan meski berada di luar. Lantas Yose pun membawa Audrey masuk ke dalam, sembari sesekali menunduk untuk mencium pipi putri kesayangannya.Ketika menyaksikan Yose menggendong pergi Audrey, Olivia berkata kepada Mulan seraya terkekeh