Pamannya Tiara merupakan seorang dokter tradisional. Jika di rumahnya ada yang tidak enak badan, maka Tiara akan mencari pamannya untuk meminta resep obat tradisional. Oleh karena itu, Aksa sangat takut sekali dipaksa untuk minum jamu.Dia menjadi sangat peduli dengan kesehatan tubuhnya dan berusaha keras agar tidak sakit. Setiap ingin bersin, maka dia akan berusaha sembunyi dari sang istri. Kepanikan yang terlihat jelas di raut wajah Olivia tampak seperti raut panik Tiara ketika melihatnya sakit.“Kamu jangan terlalu khawatir. Ke rumahnya keluarga Ardaba? Biar Kakak saja yang antar kamu.”“Terima kasih, Kak.”Aksa menoleh dan berkata pada Tiara, “Tiara, kamu tunggu aku di rumah. Aku antar Olivia dulu, aku nggak tenang kalau orang lain yang mengantarnya.”“Iya, kamu antar Olivia dulu.”Kak Aksa, Kak Tiara, kalau kalian ada urusan, biar sopir yang antar aku saja.”“Kenapa?” tanya Odelina yang baru saja keluar setelah memandikan Russel. Dia mendengar suara orang tengah berbincang di luar
“Atasannya di kantor lagi bantu keberangkatan aku. Aku berangkat sekarang juga.”“Kalau gitu kamu cepat pergi dulu. Kalau atasannya sampai turun tangan, kemungkinan bakalan pakai pesawat pribadi. Ayo cepat! Aksa, kamu antar Olivia.”Yuna pikir atasan yang disebut oleh Olivia itu adalah Stefan. Seharusnya lelaki itu akan mengerahkan pesawat pribadinya sehingga dia membiarkan Olivia pergi dengan perasaan tenang. Beberapa menit kemudian, Aksa dan Olivia sudah berada di dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah.Di perjalanan, Aksa bertanya pada adik sepupunya itu, “Olivia, Kakak ingin minta sebuah permintaan yang nggak masuk akal.”“Katakan saja, Kak.”“Kamu tahu sendiri bagaimana cinta matinya Amelia pada Tuan Muda Adhitama. Walaupun dia bilang sudah menyerah, dia sudah mencintai lelaki itu bertahun-tahun dan nggak mungkin dilupakan begitu saja. Pasti akan butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar mengikhlaskannya.”Mendadak Olivia teringat akan sosok Albert. Bukankah lelaki itu juga
Hanya Stefan yang tidak bisa melihatnya. Kedua kakak adik sepupuan tersebut tampak berbincang sepanjang perjalanan sehingga membuat Olivia merasa perjalanan menuju ke kediaman keluarga Ardaba tidak begitu lama. Tidak butuh waktu yang lama untuknya tiba di tempat tujuan.Reiki tidak kembali karena dia tengah makan bersama dengan Junia. Setelah tahu bahwa Reiki sudah bantu mengaturkan semuanya, Junia baru bisa makan dengan tenang. Ketika Olivia tiba di kediaman keluarga Ardaba, Junia menghubunginya untuk memastikan bahwa perempuan itu sudah tiba.“Junia, untung saja malam ini Pak Reiki membantuku. Kamu bantu sampaikan rasa terima kasihku pada dia. Aku akan mengucapkan terima kasih secara langsung sewaktu kembali nanti.”“Iya, kamu jaga Stefan dengan baik. Kata Reiki, minta dokter kasih dia jamu biar langsung sembuh. Kalau sakit lagi, dia nggak bakalan memaksakan diri nggak ke dokter lagi. Katanya Stefan paling takut minum jamu.”“Idenya Pak Reiki kejam tapi lumayan cemerlang. Pokoknya ha
Kalau sampai hal yang buruk terjadi pada Stefan, maka dosanya lah yang paling besar. Pihak pusat mempercayakan Ferry dan menyerahkan jabatan manajer untuknya di perusahaan ini. Akan tetapi justru terjadi masalah besar hingga memerlukan sang CEO sendiri yang datang menyelesaikannya.Stefan bahkan sakit karena terlalu kelelahan. Untungnya keadaan lelaki itu diketahui tepat waktu karena jika telat sedikit saja, maka Stefan akan dalam bahaya.“Ini di mana?”Stefan berusaha untuk duduk.“Pak, jangan duduk dulu. Baring saja, demam Bapak masih belum turun. Selain itu masih ada jarum infus di tangannya.”Kening Stefan berkerut seketika. Dia teringat bahwa dia membeli obat tetapi tidak ada efek apa pun sehingga suhu tubuhnya semakin meningkat. Hingga pada akhirnya dia jatuh pingsan karena demam di tubuhnya terlalu tinggi.Sebelum pingsan, dia bahkan masih bertelepon dengan Olivia. Karena khawatir Olivia mengetahui keadaannya yang jatuh pingsan, Stefan langsung memutuskan sambungan telepon. Kira
“Pak Stefan, jangan sembarang diganti. Suster sudah berpesan kalau cairan obat ini harus disuntikkan dalam tubuh secara perlahan,” seru Ferry mencoba menahan Stefan. Dengan terpaksa Stefan menyerah.“Pak, kami pulang setelah Ibu tiba.”Mendengar kalimat tersebut membuat Stefan mendongak dan menatap mereka berdua dan bertanya, “Olivia datang?!” Kedua orang tersebut mengangguk dengan kompak.“Kata Pak Reiki, Ibu sangat mengkhawatirkan Pak Stefan. Dia ngotot mau datang untuk menjaga Pak Stefan. Jadi Pak Reiki mengatur sebuah pesawat pribadi untuk mengantarkan Ibu ke sini. Seharusnya sudah hampir tiba.”Stefan buru-buru ingin turun dari ranjang, tetapi dihentikan oleh Ferry dengan berkata, “Pak, Ibu akan menghubungi saya. Pak Reiki sudah memberikan nomor saya pada Ibu. Pak Stefan tenang saja, saya akan membawa Ibu dengan selamat sentosa sampai di sini.”Mendengar itu membuat Stefan kembali duduk, setelah itu dia menghubungi Olivia. Awalnya dia ingin menunggu besok pagi baru menghubungi ist
Olivia mengangguk dan berkata, “Kalau begitu ikuti saran dari dokter saja untuk dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Setelah lumayan pulih baru kita kembali. Pekerjaannya, gajinya ….”Olivia ingin lelaki itu bisa istirahat dengan total selama di rumah sakit. Perusahaan tempatnya bekerja adalah milik bos Stefan dan bukan milik Stefan. Kenapa lelaki itu harus mati-matian meski sedang sakit?Dengan cepat Ferry berkata, “Ibu tenang saja, pekerjaan Pak Stefan akan kami lanjutkan. Selama Pak Stefan di rumah sakit, kami jamin nggak akan mengganggunya dengan segala pekerjaan. Karena ini dinas, nggak akan mempengaruhi gajinya sama sekali.”“Terima kasih.”“Bu Olivia masih butuh kami di sini untuk menjaga Pak Stefan?”“Dia masih harus diinfus berapa botol lagi?” tanya Olivia.“Satu botol lagi sudah selesai.”“Biar saya yang menjaganya saja. Kedatanganku malam ini untuk menjaga dia.”Dengan penuh rasa terima kasih Ferry berkata, “Terima kasih banyak sekali Bu Olivia jauh-jauh datang untuk
Setelah pesannya terkirim, Olivia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Sekarang sudah tengah malam, kemungkinan orang-orang sudah terlelap dan tidak membaca pesannya.Stefan membuka matanya dengan perlahan. Ketika matanya bertemu dengan Olivia, lelaki itu sengaja memasang raut terkejut. Dia seperti tidak percaya kalau sedang melihat sosok Olivia di sini. Dia mengangkat tangannya dan mengusap matanya untuk memastikan tidak salah lihat sambil bergumam,“Aku demam sampai gila? Atau aku salah lihat? Kenapa aku lihat Olivia?”Olivia menarik tangannya dan mencubit punggung tangan lelaki itu dengan kuat.“Aduh!”“Sakit?” tanya Olivia.“Sakit, sakit sekali!” jawab Stefan dengan wajah memelas.“Bagus kalau bisa sakit, berarti ini bukan mimpi! Sudah aku bilang kalau kamu nggak mau periksa ke dokter, aku bakalan datang!”Stefan ingin duduk tetapi ditahan, “Baring saja, sudah dirawat di rumah sakit dan belum turun juga panasnya. Untuk apa kamu sok kuat?”Olivia menekan tubuh lelaki itu dan l
Dalam hati Stefan berkata, “Kantor itu memang punyaku.”“Pak Ferry itu manajer kantor cabang? Dia ngomong begitu waktu kenalin diri dia ke aku,” ujar Olivia.“Dia bilang kamu harus nginap beberapa hari di rumah sakit, jadi beberapa hari ini kamu nggak perlu mikirin kerjaan. Tugasmu hanya istirahat yang benar! Kamu biasanya memang sehat, tapi kali ini kamu kecapekan makanya jadi jatuh sakit.”“Sekarang kamu statusnya izin dengan digaji. Pak Ferry juga bilang kalau aku datang untuk menjagamu, jadi aku bakalan digaji juga,” ujar Olivia panjang lebar. Stefan hanya diam saja dan tidak berani berkata apa pun.“Aku harus nginap berapa hari? Demam saja, bukan penyakit parah. Pagi nanti aku mau langsung keluar dan istirahat di apartemen saja. Kalau nggak, aku datang buat infus setiap harinya. Aku nggak mau nginap di rumah sakit.”Dengan kesal Olivia berkata, “Siapa yang suka di rumah sakit? Masalahnya kamu sakit, kalau nggak diobati di rumah sakit, kamu nggak akan sembuh. Kamu lihat obat yang k
"Biarkan saja mereka, hari ini adalah hari terakhir mereka bisa bersenang-senang seperti ini." Besok, para tetua itu akan meninggalkan Mambera. Dokter Panca akan terbang ke Vila Ferda milik keluarga Junaidi untuk merayakan Tahun Baru di rumah muridnya. Setya akan tinggal di rumah keluarga Sanjaya untuk menikmati masa tuanya. Sementara Rubah Perak dan yang lainnya akan kembali ke tempat mereka masing-masing. Setelah beberapa hari berada di luar, mereka merasa bahwa tidak peduli seberapa bagus dunia luar, rumah mereka tetap yang terbaik. Mereka memilih untuk pulang. Tahun Baru makin dekat, dan murid-murid mereka juga akan kembali dari berbagai daerah. Meskipun mereka tidak seberuntung nenek tua itu yang memiliki anak dan cucu yang banyak, mereka punya banyak murid dan murid-murid itu juga akan kembali. Suasananya pasti akan sangat ramai, bahkan lebih meriah daripada di Vila Permai. Dewi bangkit dan berjalan keluar rumah. Karena Yuna telah datang, dia harus menyambutnya. Begitu sampa
Ronny juga tidak bodoh. Dia bisa langsung bisa menebak dan berkata, "Kakak pasti membantuku menutupinya sedikit, jadi ketika Yohanna menyelidiki dua kali, dia tetap nggak bisa menemukan semuanya dengan jelas." Dewi terdiam sejenak sebelum berkata, "Jadi saat nanti kami ke sana untuk menjengukmu, apakah perlu kami ikut menyembunyikannya?" Tanpa berpikir panjang, Ronny langsung menolak. Dia menjawab, "Nggak perlu disembunyikan, tapi juga nggak perlu sengaja diekspos. Kalau dia tahu, ya sudah, kalau belum tahu juga nggak masalah. Cepat atau lambat, dia pasti akan tahu." "Baiklah kalau begitu." "Oh iya, Mama bilang ada tamu penting yang datang ke rumah kita?" Dewi mengangguk dan menceritakan tentang kedatangan Dokter Panca dan yang lainnya kepada putra bungsunya. Ronny mendengarkan dengan penuh penyesalan, "Sayang sekali, aku sedang bepergian dengan Yohanna untuk urusan bisnis, jadi nggak bisa pulang. Mama, tolong bantu aku bicara yang baik-baik di depan para tetua itu, biar mereka m
Ronny terdiam sejenak, lalu berkata, "Ma, kalau dia terlahir di keluarga kita, bagaimana mungkin Mama bisa mendapatkan menantu perempuan seperti dia? Kalau Mama merasa kasihan padanya, nanti setelah dia menikah dengan aku, Mama bisa memperlakukannya dengan baik, anggap saja dia seperti putri kandung Mama sendiri." "Sama seperti bagaimana Mama memperlakukan Kak Olivia." Dalam pandangan Ronny, orang tuanya memperlakukan kakak iparnya seperti putri sendiri. Meskipun mereka tidak sering berinteraksi dan tidak tinggal bersama, setiap kali kakak dan kakak iparnya pulang ke rumah saat perayaan besar, hubungan mereka tetap harmonis tanpa ada konflik antara ibu mertua dan menantu.Ronny merasa bahwa orang tuanya adalah mertua yang sangat baik. Mereka tidak pernah ikut campur dalam kehidupan rumah tangga anak-anak mereka, tidak pernah membicarakan keburukan menantu perempuan di depan anak laki-laki mereka, dan selalu menjaga jarak yang cukup, karena jarak bisa menciptakan keindahan dalam hub
"Rasa kagum adalah awal dari perasaan suka." Dewi memberi semangat kepada putra bungsunya sembari berkata, "Perlakukan dia dengan baik, buatkan makanan enak untuknya. Setelah perutnya terbiasa dengan masakanmu, perlahan-lahan dia nggak akan bisa lepas darimu. Bukankah itu berarti kamu sudah berhasil mengejar istrimu?" "Entah bagaimana, nenekmu bisa memilihkan seorang gadis yang begitu pemilih dalam hal makanan untukmu." "Rasanya nenekmu memang memilih calon istri untuk kalian yang semuanya pecinta kuliner. Mungkin karena beliau sendiri adalah seorang pecinta makanan, sangat pemilih soal makanan, jadi menantu-menantunya juga harus seperti itu." Dewi berkata dengan nada sedikit tidak berdaya. Olivia, Rosalina, dan Rika semuanya sangat suka makan. Jika sembilan bersaudara ini menikah dengan istri yang semuanya pecinta kuliner, setiap kali berkumpul saat perayaan tahun baru, pasti akan berubah menjadi surga makanan. Dewi hanya membayangkan suasana itu dan sudah tidak bisa menahan taw
Makin muda maka makin sedikit orang yang mengenalnya. Misalnya, adik bungsunya, Sandy, bahkan di sekolahnya sendiri, hampir tidak ada yang tahu bahwa dia adalah anak bungsu dari keluarga Adhitama. Bahkan di kalangan kelas atas, hanya segelintir orang yang pernah bertemu dengannya. Nenek mereka sangat melindungi cucu-cucunya. Sebelum mereka memasuki dunia kerja, beliau tidak akan membiarkan kekuatan eksternal mana pun mengganggu kehidupan mereka. Ketika mereka sudah tidak ingin melanjutkan pendidikan dan mulai mencari pekerjaan, barulah nenek akan membawa mereka ke berbagai acara sosial, memperkenalkan mereka ke publik, agar orang-orang tahu bahwa mereka adalah salah satu anak dari keluarga Adhitama. Namun, apakah orang-orang akan mengingat mereka atau tidak, itu tergantung pada seberapa besar kemampuan mereka dan seberapa besar pengaruh mereka di Mambera. Jika mereka memilih untuk memulai karier dari bawah, nenek juga tidak akan membawa mereka ke acara sosial. Mereka akan dibiarka
Ronny berkata, "Meskipun adik laki-laki Ibu sudah dewasa, belum tentu dia memiliki kemampuan untuk mengambil alih bisnis keluarga. Ibu memang seorang perempuan, tapi tetap bagian dari keluarga Pangestu. Kalau Ibu memiliki kemampuan untuk memimpin, kenapa harus terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang harus menjadi penerus?" Di keluarga Adhitama, tidak ada pola pikir seperti itu. Menurut neneknya, jika semua saudara memiliki kemampuan, maka yang tertua akan mewarisi bisnis. Namun, jika yang tertua tidak mampu, maka yang paling berbakatlah yang akan mengambil alih, tidak harus anak pertama atau cucu tertua. Yang paling penting adalah kemampuan. Jika keluarga mereka memiliki anak perempuan yang bisa mengambil alih bisnis dan bersedia melakukannya, tentu saja diperbolehkan. Namun, jika tidak ingin mengambil alih, juga tidak akan dipaksakan. Melihat betapa besar keinginan para orang tua untuk memiliki anak perempuan, Ronny merasa bahwa jika suatu hari nanti dia memiliki keponakan per
Ronny menjawab dengan suara lembut, "Baik, selama Bu Yohanna nggak keberatan dengan cara makanku, maka aku akan dengan senang hati menerimanya." "Kamu ini, dari luar terlihat sangat berpendidikan dan beretika tinggi. Orangnya juga lembut dan sopan. Walaupun aku belum pernah makan satu meja denganmu, aku bisa menebak kalau cara makanmu pasti nggak buruk." Ronny tersenyum. Dalam hati, dia memuji, "Istriku memang luar biasa! Pandai menilai orang!""Oh iya, ada satu hal yang ingin kutanyakan sebelumnya." Ronny menatapnya dengan lembut, menunggu pertanyaannya. "Saat Tahun Baru nanti, apakah kamu akan pulang? Dari tempat kami ke Mambera sangat jauh, 'kan? Kudengar di sana musim dinginnya nggak terlalu dingin." Ronny menjawab, "Aku akan pulang saat Tahun Baru. Apakah makan siang dan makan malam Bu Yohanna sudah ada yang mengurusinya? Kalau sudah, aku ingin pulang sebentar. Nenekku sudah tua, beliau selalu berharap kami para cucunya bisa berkumpul saat hari raya." "Biasanya, karena pekerj
Yohanna tersenyum dan berkata, "Kamu juga beli oleh-oleh, ya? Aku sesekali keluar untuk jalan-jalan, tapi nggak pernah terpikir untuk membeli oleh-oleh." "Mungkin karena aku terlalu pemilih dalam soal makanan. Kalau menurutku nggak enak, aku nggak tertarik untuk membelinya," lanjutnya. Makanan khas dari berbagai daerah memang tidak banyak yang cocok di lidah Yohanna. "Setiap kali pergi ke suatu tempat, aku selalu membeli sedikit oleh-oleh khas daerah itu untuk dibawa pulang, agar keluarga bisa mencicipinya. Kadang kalau beli terlalu banyak, aku juga membagikannya ke kerabat dan teman-teman," ujar Ronny dengan senyum di wajahnya. Saat dia menatap seseorang sambil tersenyum, mudah sekali menimbulkan kesalahpahaman. Seakan-akan dia memiliki ketertarikan khusus pada orang tersebut. Bahkan seseorang yang tenang seperti Yohanna pun merasa hatinya lebih ringan saat berhadapan dengan Ronny yang lembut dan penuh perhatian. Tidak heran adiknya langsung memiliki kesan baik terhadap lelaki i
Yohanna menanggapi sambil berjalan ke sofa dan duduk. Ronny mendorong pintu dan masuk, membawa makan siangnya. "Bu, sudah waktunya makan siang," katanya sambil menyusun hidangan satu per satu di meja. Karena hanya Yohanna yang makan, dia hanya menyiapkan tiga lauk dan satu sop, dengan porsi yang cukup untuk satu orang saja. Yohanna cukup pemilih dalam hal makanan. Tidak banyak yang benar-benar bisa membuatnya menikmati hidangan dengan senang hati, sehingga porsi makannya tidak terlalu besar. Saat melihat menu hari ini, dia menyadari bahwa hidangannya telah berganti dari kemarin. Namun, tetap saja terlihat menggugah selera dengan warna, aroma, dan rasa yang menarik. Ronny dengan perhatian mengambil semangkuk sop setengah penuh dan menyodorkannya kepadanya. "Makan sop dulu, biar tubuh Ibu lebih hangat," katanya lembut. Padahal, di dalam ruangan sudah ada pemanas, jadi Yohanna sama sekali tidak merasa kedinginan. Pakaian yang dia kenakan hanyalah seragam kerja sehari-hari, tanpa jak