Beranda / Rumah Tangga / Pernikahan Bayaran / 📌 101 : Malam Pertama yang Tertunda (18+)

Share

📌 101 : Malam Pertama yang Tertunda (18+)

Penulis: Rahmani Rima
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-24 10:43:12

Natasya membiarkan tangan nakal Abian memainkan dua asetnya yang selama ini tidak pernah dibiarkan terjamah oleh siapapun. Ia menatap wajah suaminya yang merah menahan nafsu.

Abian mendekatkan kepalanya pada kepala Natasya. Di cium kening, kedua pipi, leher dan bibirnya dengan mesra, “Kamu—gak akan berubah pikiran?”

Natasya tersenyum, “Gak akan.”

Abian mendekati pintu. Di kunci pintu kamarnya karena takut Haikal tiba-tiba masuk. Ia membuka bajunya yang basah, juga membuka piyama tidur Natasya. Di tatap bagian atas istrinya yang tak memakai bra.

“Kok diem aja?” pancing Natasya.

Abian tak membuang waktu. Ia menyusuri dua gunung kembar Natasya yang berukuran tak terlalu besar. Ia melakukan semua yang ada dalam pikirannya selama ini.

“Mas, pelan-pelan.”

“Maaf.”

“Kamu terlalu bersemangat?”

Abian tersenyum.

Dengan nakal, Natasya bangkit. Ia mengambil pusaka milik suaminya yang sudah siap pakai. Di elusnya benda itu membuat si pemilik menutup mata, menikmati perasaan yan
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Pernikahan Bayaran    📌 102 : Bekas Gigitan Ulat

    Haikal berdiri menunggu Abian dan Natasya keluar dari kamar. Ia merasa sangat bersalah sehingga tak tidur semalaman dan berakhir demam.Mama yang baru pulang dini hari, langsung ke kamar Haikal karena melihat mbok Iyem sibuk membawakan air kompresan. Semalam, mama sempat ke kamar Abian untuk meminta bantuan. Tapi kamarnya di kunci. Jadi mama pikir anak dan menantunya sedang sibuk bereproduksi.Ceklek.Natasya yang pertama keluar, “Ical?”Haikal memeluk Natasya, “Mami?”Natasya jongkok, ia yang melihat Haikal sangat pucat memegangi dahinya, “Cal, kamu—sakit?”“Siapa yang sakit, sayang?” Abian keluar dari kamar, “Ical?”“Papi?”Abian memeriksa dahi dan leher Haikal, “Kamu gak perlu sekolah. Yuk ke kamar, papi kompresin.”Haikal menggeleng, “Aku mau sama mami.”“Ya udah, yuk, ikut mami ke ruang makan.” Natasya menuntun Haikal.“Papi gendong aja.” Abian memangku Haikal yang tak banyak protes.Di ruang makan, mama yang sedang menata meja melirik ke arah Natasya yang berjalan se

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Pernikahan Bayaran    📌 103 : Bertemu Orang Lama

    Natasya sibuk keluar masuk ruang kepala bagian poli bedah kardiotoraks dan komisi disiplin ketika Abian di larikan ke UGD. Irvan yang sedang luang, di mintai bantuan untuk menunggu sang suami sampai di pindahkan ke bangsal perawatan.Prof Indra duduk di dekat Natasya, “Saya sudah bicarakan dengan tim direksi.”“Bagaimana katanya, prof? Apa—mas Abian masih bisa dipertahankan disini?”Profesor Indra menggeleng pelan, “Sudah terlalu lama dokter Abian—tidak melakukan pembedahan. Petisi tidak hanya dilakukan oleh dokter konsulen dan residen bedah, tapi juga pasien. Ada satu pasien yang anaknya mendapat diagnosa Kardiomiopati. Walinya ternyata bekerja di firma besar, sehingga ini bisa dijadikan pertimbangan untuk—memindahkan dokter Abian ke rumah sakit cabang di daerah.”Natasya menutup matanya.“Apa dokter Natasya tidak bisa membujuk dokter Abian lagi?"“Prof, apa prof tahu penyebab dokter Abian berhenti operasi tiga tahun lalu?”“Ya karena—Anesia.”“Prof juga tahu kenapa dokter Ab

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Pernikahan Bayaran    📌 104 : Langkah Membantu Abian

    “Wah, kalo makannya sebanyak ini, pasien udah bisa pulang ya, bu dokter?” sindir Irvan karena melihat Abian tak berhenti makan sejak tadi.“Berisik. Harusnya lo support gue.”“Oh, jelas, gue support. Lo pikir makanan ini ada karena siapa? Gue yang beliin semua.”“Baru segitu.”Irvan melirik Natasya yang jadi banyak diam setelah pulang dari supermarket, “Kenapa, Sya?”Natasnya menggeleng, “Gak papa.”“Kamu lagi haid hari pertama?”“Nggak.”“Istri gue haid akhir bulan.” selak Abian.“Ciye yang berasa jadi suami yang baik karena tahu jadwal periode istrinya.”Natasya tertawa, “Kamu tuh godain mas Abian terus.”“Aku gemes soalnya sama dia, Sya."Tok-Tok-Tok“Masuk.” teriak Abian sebagai pemilik ruangan.Vina masuk. Ia membawa keranjang buah ukuran besar yang menghalangi pandangannya. Irvan yang tak tega langsung mengambilnya.“Makasih dokter Irvan, tapi jangan suka sama saya, saya udah beranak dua soalnya.”Irvan bergidig ngeri, “Tipe saya bukan ibu-ibu bawel seperti kamu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Pernikahan Bayaran    📌 105 : Pertengkaran Hebat

    Sebelum menemui Abian, Natasya pergi ke ruang ICU untuk melihat kondisi pasien. “Halo, Tamara.” Pasien tersenyum dibalik masker oksigen. Tubuhnya terlalu lemas untuk bicara karena jantungnya serasa ditekan batu maha berat. “Sebentar lagi kita akan melakukan pembedahan pada jantung kamu.” Pasien mengangguk. “Kamu pasti udah tahu ya, dari mama kamu? Kamu tahu gak, nanti siapa yang operasi kamu?” Pasien menggeleng. “Namanya dokter Abian. Dia dokter bedah yang hebat banget. Dia teliti, dia pinter ambil keputusan, meskipun—galak.” Pasien terlihat menahan tawa. “Kamu belum pernah ketemu dia, soalnya kamu pasien pindahan dari rumah sakit lain. Segera setelah pembedahan, kamu akan ketemu sama dia.” Pasien mengangguk. Natasya tersenyum. Ia tak sabar akan berdiri berhadapan di meja operasi sebagai dokter utama dan asisten operasi dengan sang suami. Setelah ini, semoga Abian memiliki kesadaran bahwa ia adalah dokter bedah yang hebat, sehingga akan terus melakukan operasi

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Pernikahan Bayaran    📌 106 : Kecerobohan Natasya

    Pov AbianKepala perawat bedah menghela nafas beberapa kali didepan pintu ruangan Abian. Ternyata ia tak seberani itu untuk memohon pada Abian untuk datang membantu ke ruang operasi.Pintu terbuka. Abian akan pergi untuk membeli kopi.“Sus? Sedang apa disini?”“Dokter Abian—tolong saya.”Abian mengernyit, “Apa yang bisa saya bantu?” Kepala perawat tak tahu kenapa ia menangis. Ia menggenggam tangan Abian, “Tolong selamatkan dokter Natasya.”“Natasya? Ada apa sama istri saya? Apa dia jatuh lagi di tangga evakuasi? Atau terkurung di rooftop? Istri saya kenapa, sus?” tanya Abian ketakutan.“Dokter Natasya bisa—terancam mendapatkan pendisplinan serius karena jadi dokter utama tanpa pantauan dokter konsulen.”Abian melotot, “Natasya—lagi operasi?”“Iya, dok, tolong kebaikan hati dokter untuk menyelamatkan dua orang di ruang operasi. Kondisi pasien terus menurun. Pembuluh darahnya banyak yang terkena infeksi. Ada pelengketan juga dengan paru. Belum lagi, katup Mitral juga mengalam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Pernikahan Bayaran    📌 107 : Benci Abian

    Abian menarik tubuh Natasya, “Bu, biar saya jelaskan mengenai durasi lamanya operasi. Tadi ada sedikit masalah di pelengketan jantung dengan paru, sehingga kami harus memisahkannya dulu. Jumlah pembuluh darah yang terkena infeksi juga lebih banyak dari hasil tes. Hal tersebut yang membuat operasi berjalan lebih lama.”“Oh begitu. Kapan saya bisa bertemu anak saya, dok?”“Besok pagi akan saya beritahu lagi. Untuk sementara, anak ibu akan kami pantau di bangsal bedah.”“Oh iya, dok, saya mengerti. Sekali lagi terima kasih, dokter Abian dan dokter Natasya.”“Sama-sama. Kalau begitu kami permisi. Mari.” Abian menarik tubuh Natasya masuk ke dalam ruang pertemuan dokter dan wali pasien. Ia menutup pintunya, “Nat, kamu mau menghancurkan nama baik rumah sakit?”“Bukannya kita harus jujur sama wali pasien apa aja yang terjadi di dalem ruang operasi tadi?”“Dengan mengatakan kamu si residen tahun kedua yang jadi dokter utama? Nat, wali pasien mungkin gak tahu aturan itu. Kalo dia bilang k

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Pernikahan Bayaran    📌 108 : Takut Hamil

    Sudah lima hari Abian tak pulang. Ia juga tidak ada di rumah sakit. Ia mengajukan cuti sebelum di rotasi ke rumah sakit daerah. Natasya yang kini jadi asisten dokter Farhan di poli, banyak diam. Ia jadi sering tidak fokus karena memikirkan nasib suaminya yang malang.“Dokter Natasya?”Perawat asisten poli menyikut Natasya.Natasya menoleh, “Kenapa, sus?”Dokter Farhan tersenyum, “Dokter Natasya perlu istirahat. Silakan ke ruang piket dulu.”“Saya gak papa kok, dok.”“Begitu? Saya mau lihat catatannya.” pinta dokter Farhan.Natasya melirik perawat yang berdiri disebelahnya, “Saya—gak mencatat apapun, dok, maaf.”“Artinya dokter Natasya kenapa-napa?”Natasya menunduk.“Tidak papa, istirahat saja dulu. Untuk operasi nanti sore juga tidak perlu ikut. Pulang saja untuk meredakan stress. Saya harap, besok, dokter Natasya bisa kembali beraktivitas dengan normal, mengingat akan dilakukan pencangkokan jantung pak Waluyo dan dokter Natasya jadi asisten operasi.”“Baik, dok. Kalau begitu saya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Pernikahan Bayaran    📌 109 : Pesta Nanas

    Karena mendapat izin untuk istirahat hari ini, Natasya langsung pergi ke supermarket untuk memborong sesuatu. Ia sudah tak peduli dimana Abian berada. Respon Vina tenang-tenang saja. Setiap ia bertemu Irvan pun, sahabat barunya itu terlihat tidak panik. Artinya Abian baik-baik saja. Ia tahu, seberat apapun masalah yang dihadapi Abian, suaminya tak akan bunuh diri. “Pak, berhenti disini aja.” pinta Natasya pada supir taksi. “Ini masih jauh ke alamat yang mbak berikan.” “Gak papa, saya mau olahraga hehe.” Natasya membayar ongkos argo dan membawa sekeresek besar buah-buahan yang ia beli tadi. “Gue harus capek biar—dia—luruh.” Natasya merasa ucapannya jahat. Ia menggeleng, “Enggak, maksudnya—gue pengen olahraga. Iya, gitu.” Jalan--tempat dimana Natasya turun dari taksi cukup jauh dari rumah mama. Ia melangkah kesusahan karena buah yang dibeli bisa terhitung banyak dan berat untuk tubuhnya yang kurus. “Bertahan, Sya, ini demi—ah, gue kesannya kayak cewek apaan aja deh gak

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28

Bab terbaru

  • Pernikahan Bayaran    📌 131 : Memutuskan Alan

    “Mulai hari ini kita putus, Alan!”Mata Alan merah. Wajahnya sangat terkejut. Ia tidak menyangka, pertengkarannya dengan Natasya akan berakhir dengan pemutusan hubungan seperti ini.“Anggep aja uang yang aku kasih ke kamu sebagai permintaan maaf. Kita impas sekarang.” Natasya membalikkan badannya. Ia akan pergi entah kemana. Pikirannya terlalu kalut menerima kenyataan bahwa selama ini, Alan ternyata sudah membohonginya. Ketika membaca ulang hasil tes, ia tidak menemukan hasil pemeriksaan yang menyebutkan jika Alan mengalami lumpuh permanen. Jadi bisa dikatakan, kakinya sulit berjalan saat itu adalah--karena tubuhnya masih butuh adaptasi untuk bergerak setelah koma dua tahun.“Sya, tunggu, aku bisa jelasin semuanya. Aku minta maaf.” Alan mengejar Natasya yang berjalan cepat meninggalkan pelataran bakery.Air mata Natasya kering seketika, setelah menyadari bahwa Alan tidak pantas di tangisi.“Sya, aku bisa jelasin semuanya. Sya!”Natasya memasuki taksi. Alan pun begitu. Taksi

  • Pernikahan Bayaran    📌 130 : Alan yang Sebenarnya

    Abian terus melirik Natasya yang tak berhenti senyum menjelang bertemu Alan. Apa ia tidak bisa memikirkan perasaannya setelah mendengar ucapan cinta satu jam lalau di kamar?“Nanti mas gak usah jemput aku pulang. Aku bisa naik taksi.”Abian melirik, “Geer. Siapa juga yang mau jemput istrinya yang selingkuh.”Natasya mendorong tubuh Abian, “Mas juga selingkuh.”“Aku udah ada usaha putusin Aca loh. Gak kayak kamu. Mana pernah kamu mutusin Alan sekalipun.”“Jangan sampe. Aku sayang banget sama Alan, meskipun sering banget kesel sama dia.”“Kesel kenapa?”“Fokus aja nyetir, jangan pengen tahu urusan orang lain.”Mobil berhenti didepan gedung mall.“Yakin gak mau ditemenin? Aku gak akan ngikutin kamu ke rumah Alan. Kamu cuma mau beli oleh-oleh buat dia ‘kan?”“Iya, tapi mas gak boleh ikut. Mas gak boleh tahu oleh-oleh apa yang mau aku beli buat Alan.”Abian menatap Natasya penuh curiga, “Kamu mau kasih—barang haram, ya?”“Mas! Aku keluar. Awas ya ngikutin aku.”“Aku ikutin. Ta

  • Pernikahan Bayaran    📌 129 : Detik Perpisahan dengan Abian

    Sejak pagi setelah selesai shift, Natasya terus berada dekat dengan Abian. Ia tak mau jauh-jauh dari suaminya.“Gak ada yang ketinggalan?”“Gak, mas, aman. Yuk.” Natasya menggandeng lengan Abian.Jika tak memakai baju dinas, mereka terlihat seperti pekerja kantoran. Penampilan Abian yang mengikuti zaman dan Natasya yang mulai mengubah penampilan, membuat mereka jadi idola baru di kalangan dokter ko-as.“Mau beli sesuatu dulu gak sebelum pulang?” tanya Abian.“Gak ah, aku capek, mau tidur.”“Kalo aku order diterima gak?”Natasya menggebug lengan Abian, “Jangan kenceng-kenceng ngomongnya.”Abian berbisik, “Aku mau order, bisa gak?”Natasya tertawa. Ia mendorong tubuh Abian yang tertawa juga, “Nyebelin!”Vina yang melihat kemesraan mereka dari kejauhan tersenyum, “Natasya udah menemukan kebahagiannya. Artinya Alan udah gak punya celah untuk masuk lagi ke hati elo, Nat.”Di parkiran basement, Abian membuka kan pintu mobil untuk Natasya, “Silakan masuk, nyonya Abian.”“Mas, jan

  • Pernikahan Bayaran    📌 128 : Curiga pada Natasya

    Natasya berjalan buru-buru setelah melakukan visit ke ruang ICU dan bangsal menuju ruangan Abian. Ia lupa pada titah suami kontraknya dan malah ngobrol ngalor-ngidul dengan Arsya di telpon. Ceklek.“Mas, hehe, maaf ya lama.”“Satu jam lebih bukan telat lagi sih.”Natasya manyun, “Segini juga dateng. Aku sibuk tahu.”“Sibuk apa? Bukannya yang jaga malam banyak?”Natasya menjatuhkan dirinya di sofa, “Aduh enaknya.”Abian bangkit dari kursi kerja dan duduk disebelah Natasya. Ia mengendus bau istrinya.“Mas, apaan sih.” Natasya menggeser tubuhnya karena risih.“Aku mau.”Natasya melotot, “Mas, ini di rumah sakit!”“Kita bisa kunci ruangannya."“Nggak!”“Aku bayar.”“Nggak mau.” Natasya berdiri, “Kalo aku diminta kesini buat ini, aku pergi.”“Oke-oke, nggak akan. Aku cuma mau kamu disini. Aku butuh temen ngobrol.”Natasya kembali duduk di sofa.“Gak mau semakin deket duduknya?”Natasya menggeleng.“Aku disini sampe lusa loh.”Mendengar itu, Natasya menatap Abian lama.

  • Pernikahan Bayaran    📌 127 : Menyelidiki Sesuatu

    Pov AbianHari ini Natasya mengikuti operasi bersama profesor Indra, sehingga yang jadi asisten poli adalah Vina. Sudah hampir seluruh pasien melakukan konsultasi. Ketika pasien terakhir belum masuk karena sedang pergi ke toilet, Abian jadi mengingat sesuatu yang ingin ditanyakan pada Vina.Di putar kursinya ke arah Vina. Suster Anna sedang berdiri di lawang pintu karena berbincang dengan perawat lain.“Vin?”“Iya, dok?”“Selesai praktek, kita bisa bicara?”“Bisa, dok. Soal—Natasya, ya?”Abian mengangguk, “Natasya gak akan selesai operasi secepatnya ‘kan?”“Kayaknya masih lama, dok. Pasiennya mengalami pelengketan serius, pasti butuh waktu lama.”“Oke, bagus.”“Pasien datang, dok.” seru suster Anna.Abian membaca hasil tes dengan wajah sangat serius, membuat pasien, suster Anna dan Vina jadi cemas.“Kenapa, dok?” tanya anak pasien, “Apa hasil tesnya—buruk?”Abian menatap pasien dan wali silih berganti, “Apa ibu sering mengalami serangan jantung?”“Saya baru datang dari

  • Pernikahan Bayaran    📌 126 : Tidak Sadar Diri

    Abian menatap Aca penuh pengertian, “Kamu masuk. Biar Natasya jadi urusan aku.”“Oke, sayang.” Aca tersenyum sinis ke arah Natasya sebelum menutup pintu.Natasya pergi. Ia sungguh tak habis pikir suaminya tega membohonginya berkali-kali mengenai Aca.“Nat, tunggu.” Abian mengejar Natasya yang berjalan amat cepat.Natasya tak menggubris panggilan Abian.“Nat!” Abian menarik lengan Natasya, “Dengerin aku dulu, dong.”Natasya terpaksa membalikkan badan, “Dengerin apa? Berkali-kali, mas, kamu bohongin aku dan ketemu Aca diem-diem. Aku harus dengerin apa lagi?” “Aku cuma gak tega Aca luntang-lantung karena kasus kemarin.”“Itu salah dia. Siapa yang suruh dia pura-pura hamil, labrak aku dan hancurin karirnya sendiri?”“Nat, kamu gak punya hati? Aca gak pernah berniat begitu. Dia cuma—”“Bercanda?”Abian membuang nafas pelan, “Kamu aneh. Kamu gak mau melanjutkan pernikahan kita dan terus memilih Alan, tapi kamu cemburu sama Aca. Apa bener yang Ical bilang, kalo kamu mencintai dua

  • Pernikahan Bayaran    📌 125 : Impas

    Tersisa dua hari lagi Abian bertugas di rumah sakit sebelum dipindahkan ke daerah. Natasya memakai waktu ini sebaik-baiknya untuk jadi istri sekaligus residen yang berbakti. “Ada lagi yang mau mas makan?” tanya Natasya ketika ia dan Abian baru bisa makan siang di malam hari, berdua di ruangan pribadi Abian.“Udah cukup. Ini aja banyak banget.”“Hehehe, aku lagi ngidam pengen semua ini.”“Kirain ngidam hamil.”Natasya melirik Abian sinis, “Jangan mulai deh.”“Nanti pulangnya gak bisa bareng. Aku ada perlu.”“Gak papa, aku juga ada perlu.”“Perlu apa?”“Jangan tanya, aku juga gak tanya mas ada urusan apa sama siapa.”Abian mendecek.Natasya menatap Abian, “Mas, nanti janji harus sering kesini. Aku juga janji bakal jengukin mas ke rumah sakit baru.”“Hm.”“Telinga dan jantung aku pasti akan kaget gak lagi mendengar bentakkan dan ucapan sarkasme mas.”“Kamu ini muji atau ngehina sih?”Drrrrt~Natasya merogoh ponselnya. Ia berhenti makan ketika membaca pesan yang entah di

  • Pernikahan Bayaran    📌 124 : Acara yang Aneh

    Kedatangan Natasya dan Abian disambut hangat oleh perawat dan dokter yang sudah lebih dulu tiba di balroom hotel. Vina dan Irvan pun ada disana. Suasana sangat meriah dengan dekor yang dibuat sedemikian rupa. Namun yang tak ditemukan Natasya adalah tulisan ‘Farewell Party’ atau ‘Selamat Bertugas ditempat Baru’, seperti yang sering ia lihat di acara perpisahan dokter lain. Meski begitu ia berusaha menikmati acara.“Dokter Abian, selamat ya.” dokter bedah umum senior menyalami Abian, “Saya tahu semua akan terjadi. Berkat dokter Abian, rumah sakit kita kembali mendapat penghargaan.”“Saya hanya melakukan tugas, dok.”“Meski begitu kami para dokter bedah sangat berterima kasih karena mendapat sumbangan alat-alat terbaru dari pak Waluyo, semua berkat dokter Abian.”Rumah sakit mendapat sumbangan dari pak Waluyo? Natasya mengernyit. Jadi pak Waluyo sudah di operasi? Oleh siapa? Ia terlalu fokus pada masalah Aca, Haikal dan Alan, sehingga tak pernah punya waktu untuk menanyakan hal ini

  • Pernikahan Bayaran    📌 123 : Memenuhi Undangan

    “Kerja bagus. Terima kasih untuk semuanya.” tutur dokter Farhan pada semua staf operasi.Natasya jadi orang terkakhir yang keluar setelah membantu perawat membereskan ruang operasi.“Dok, gak papa, ini biar saya yang beresin.”“Gak papa, sus.”“Dokter Natasya lagi seneng itu, sus, biarin aja.” kata perawat lain.Natasya tersenyum, “Enggak kok, biasa aja.”“Dokter Natasya, saya turut senang dengan kabar baik soal dokter Abian.”Natasya berhenti menutup dus kain kasa, “Ada—kabar baik apa soal dokter Abian?”Perawat yang bicara itu disikut perawat lainnya, “Hehehehe, enggak, dok.”“Ada apa?” desak Natasya.“Gak papa, dok. Dokter istirahat aja. Dokter Natasya gak boleh kecapean.” Perawat mendorong tubuh Natasya keluar dari ruang bedah.Natasya membuka sarung tangan karet, “Aneh banget sih. Ada kabar baik apa emang soal mas Abian? Kok gue gak tahu?”Sebelum keluar dari ruang operasi, Natasya membersihkan tangannya. Ia akan segera ke poli untuk menemani suaminya praktek rawat ja

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status