Alice mulai bangkit, ia mencoba untuk lari. Namun, langkahnya tiba-tiba saja dihentikan oleh seorang satpam yang bertugas di luar.
"Nona yang bernama Alice, 'kan?" Satpam tersebut tiba-tiba saja mengetahui namanya.
Alice merasa terkejut, dari mana satpam itu tahu namanya? Satpam tersebut menjelaskan bahwa seorang pria kaya bernama Cavin telah memintanya supaya Alice tidak bisa keluar dari rumah makan itu.
"Nona segera masuk kembali, kalau tidak nanti Bos Cavin akan memarahi saya!" ungkap satpam tersebut.
Ia menjadi tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Entah mengapa semua orang seolah-olah mengenal sosok Cavin. Apakah memang dirinya benar-benar orang yang terhormat dan terkaya di dunia ini? Apakah keinginan orang itu selalu terpenuhi?
Alice pun dipaksa kembali untuk masuk ke rumah makan dan duduk di tempat makan kembali. Ia merasa heran dengan tingkah laku sendiri ataupun perilaku Cavin yang dinilai terlalu berlebihan.
Di sisi lain, Cavin menghampiri seorang pelayan. Ia memesan dua buah minuman anggur dan dikirimkan ke meja bagian sudut.
"Sebelumnya, aku mau kamu beri ini ke salah satu minuman itu dan berikan kepada gadis itu." Cavin mengeluarkan sebuah serbuk dalam plastik dan memberikannya kepada pelayan tersebut dengan uang yang sangat banyak.
Pelayan tersebut sangat terkejut ketika menerima uang yang banyak itu. Lantas, dirinya mengangguk dan menerima keinginan Cavin. Entah apa yang direncanakan pria itu terhadap Alice.
"Kamu tenang saja, Alice. Kali ini, kamu bakalan bersenang-senang lagi denganku tanpa merasa takut lagi." Cavin berbicara sendiri sembari memandang Alice dari kejauhan.
Alice hanya menunggu dengan cemas di meja makan itu. Ia masih melirik ke sana kemari mencari keberadaan Cavin. Gadis itu tidak tahu jika Cavin merencanakan sesuatu untuknya.
Tak lama kemudian, datanglah seseorang yang ditunggu. Alice menunduk, dirinya hanya bisa pasrah saja di saat lelaki tersebut selalu memandanginya dengan tersenyum. Sementara, Cavin sudah tidak sabar untuk melakukan aksi rencananya.
"Ternyata, kamu masih duduk di sini juga. Kenapa kamu nggak kabur?" tanya Cavin membuka pembicaraan.
Alice tetap diam saja. Ia berniat tidak akan meladeni pria itu tanpa ada gunanya. Lantas, mereka pun saling terdiam sesaat. Cavin tidak dapat membayangkan bagaimana rencananya berhasil di saat itu.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayang yang sebelumnya pernah diajak bicara oleh Cavin. Pelayan wanita itu kemudian memberikan kedua minuman anggur tersebut kepada mereka. Tak lupa pula, minuman yang ditujukan oleh Alice sudah dimasukkan oleh serbuk pemberian Cavin.
"Ayo, minumlah! Nanti, kamu akan merasa tenang setelah minum." Cavin mendekatkan minuman anggur milik Alice kepada gadis itu.
Alice hanya terdiam. Sesaat, ia memandang wajah tampan Cavin yang begitu seram di matanya. Tampak pria itu meminum juga dengan pandangan masih tertuju pada Alice. Sungguh, hal itu membuatnya merasa tidak enak.
"Ayo, minum!" Kini, Cavin meletakkan minuman miliknya dan menyodorkan minuman milik Alice kepada perempuan berkulit putih itu.
Terpaksa, Alice pun menerimanya. Ia mencoba untuk meminumnya sedikit tanpa rasa curiga. Cavin semakin senang melihat Alice yang meminumnya dengan beberapa teguk.
Kini, pria berkumis tipis itu hanya tersenyum saja. Tinggal menunggu waktu saja untuk melancarkan aksi. Sementara, Alice meletakkan kembali minuman dan menunduk.
"Aduh, kenapa dengan kepalaku?" Alice tiba-tiba merasa pusing.
Gadis tersebut memegang kepalanya dengan mata yang tertutup. Sementara, Cavin mulai tersenyum puas. Serbuk yang tadinya diberikan ke dalam minuman itu akhirnya memberikan efek juga.
Pandangan Alice menjadi buyar. Ia merasa pusing sekali dan serasa mual. Tak beberapa lama, akhirnya gadis itu pun pingsan di kursinya sendiri.
Cavin tampak terdiam saja dengan menikmati wajah teduh Alice yang begitu cantik. Ia merasa menang karena rencananya berjalan tanpa adanya hambatan.
"Jangan khawatir, Alice! Kita akan bersenang-senang lagi seperti kemarin."
Pria itu segera membopong tubuh perempuan itu ke mobil. Sebelumnya, ia membayar total minuman yang dipesan. Setelah itu, Cavin kembali lagi ke mobil.
Mereka berdua menuju diskotik yang merupakan tempat yang sangat ramai dan tak diinginkan oleh Alice. Cavin sudah tidak sabar untuk melakukan aksinya.
Singkat cerita, Alice berhasil dibawa ke diskotik. Suasana terlihat ramai seperti kemarin. Banyak orang-orang yang berada di sana hanya untuk bersenang-senang menikmati kesenangan duniawi. Cavin berjalan menembus keramaian itu. Tak beberapa lama kemudian, datanglah wanita muda yang merupakan pemilik diskotik itu.
"Cavin, saya sudah siapkan kamar lagi untuk kalian berdua di atas," ujarnya dengan puas.
"Iya, Mami. Sekali lagi, terima kasih."
Cavin segera membopong Alice tepat ke kamar yang sudah disediakan oleh Mami Bella. Setelah berada di kamar, Alice dibaringkan telentang di atas tempat tidur. Cavin meraba wajah gadis itu yang begitu lembut dan tenang.
"Sayang, kamu sangat cantik malam ini."
Jas yang dipakainya pun dilepas. Ia memandang lama Alice dengan tersenyum. Sontak saja, gadis itu segera membuka mata dengan cepat setelah beberapa saat tidak sadarkan diri.
"Ah, aku di mana?" Alice segera bangkit, ia menyelisik ke segala arah.
Rupanya, kamar tersebut adalah tempat yang sama digunakan seperti kejadian kemarin. Ia melirik ke arah Cavin yang berada di samping. Alice tidak menyangka bahwa pria itu telah berbohong. Ya, sebelumnya Cavin hanya berkata jika mereka hanya akan makan malam saja.
Cavin memberikan isyarat sebuah jari telunjuk di bibirnya, menandakan bahwa Alice harus terdiam. Pria itu berkata bahwa Alice harus memenuhi keinginannya supaya tidak terjadi hal yang diinginkan, juga mendapatkan uang yang sangat banyak. Namun, hal itu tidak digubris oleh Alice. Ia bersikukuh meminta pulang dan tidak peduli dengan apa yang terjadi.
"Sekarang, kamu nggak boleh pulang, Sayang. Kamu sudah berada di dalam pengaruhku," ungkap Cavin dengan senyuman seram.
Alice masih terasa pusing, ia merasa heran dengan apa yang membuatnya sakit kepala. Tanpa pikir panjang, akhirnya gadis itu memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan keluar dari tempat tak diinginkan itu.
Cavin terkejut, ia langsung mengejar Alice yang hampir sudah sampai di ambang pintu. Pria itu memeluknya dari belakang dan membuat Alice tidak bisa keluar. Namun, gadis itu menyikut tangannya sehingga mengenai ulu hati Cavin.
"Alice!" Akhirnya, Cavin melepaskan pelukannya terhadap gadis itu.
Alice mencoba untuk mencari jalan pintas. Ia tidak mungkin untuk keluar dari pintu utama karena ditakutkan bertemu dengan Mami Bella. Lantas, Alice mencoba untuk menuju jalan belakang.
"Aaa!" Tiba-tiba dirinya menabrak seseorang dari depan.
Pria itu langsung menangkap tubuh Alice. Ia merasa heran dengan tingkah Alice yang seperti dikejar sesuatu.
"Tolong, tolong aku!" pinta perempuan berambut panjang itu kepada seorang pria yang masih berada di depannya.
"Gak, Tante! Alice gak mau!" teriak seorang gadis terhadap wanita yang lebih tua darinya.Suasana rumah itu menjadi kacau tatkala gadis tersebut menolak tawaran dari tantenya. Sementara, wanita yang disebut sebagai tante itu pun mulai naik pitam."Kamu itu anak bandel, ya! Sudah untung aku kasih kamu makan. Sekarang, malah melawan pula! Kamu harus cari uang dengan menerima tawaran ini!"Perkataan tersebut menjadi tamparan bagi gadis bernama Alice. Ia disuruh untuk menjadi wanita kontrak semenjak terdapat seorang lelaki yang berkunjung di rumah beberapa jam lalu. Lelaki tersebut sangat terpesona dengan kecantikan Alice sehingga mengusulkannya menjadi wanita kontrak dan melayani dengan penuh hasrat.Alice tetap saja menolak tawaran tersebut. Selama ini, ia tidak ingin melakukan pekerjaan itu. Karena sudah melewati batas kesabaran, akhirnya tantenya pun menampar dengan keras."Tante Mona, hentikan!" rintih perempuan berambut panjang terurai itu dengan deraian air mata yang semakin deras.
Cavin terkejut ketika melihat reaksi Alice. Ia segera menarik kembali tangannya yang hampir saja menyentuh tangan putih milik Alice. Bukannya marah, lelaki itu tetap saja menggoda Alice yang saat itu sudah naik pitam."Kamu jangan marah-marah, Sayang. Nanti, kecantikan kamu bisa hilang," katanya dengan nada yang lemah lembut.Alice merasa jijik mendengarnya. Ia ingin sekali untuk cepat-cepat keluar dari mobil. Namun, dirinya tidak dapat melakukan hal itu. Perempuan tersebut mencoba untuk mengikuti jalan alurnya."Pak, Bapak bisa lakukan apa pun terhadap saya, tapi izinkan saya memberikan batasan untuk Bapak juga," kecam Alice dengan pandangan tetap mengarah ke depan.Cavin mengernyit, ia tahu jika perempuan itu belum mengerti mengenai kegiatan yang akan dilaluinya malam ini. Lantas, lelaki tersebut hanya mengiakan saja sembari tetap berfokus untuk menyetir mobil.Setengah jam kemudian, mobil tersebut telah sampai di suatu tempat. Tempat itu sangatlah ramai dengan berbagai lampu yang b
Di malam itu, Alice melayani Cavin dengan penuh hasrat. Di atas tempat tidur, Cavin merasa senang. Entah ke berapa kali Alice melayani kembali pria yang lebih tua darinya. Hal itu bertujuan supaya mendapatkan uang banyak yang telah dijanjikan Cavin sebelumnya.Setelah beberapa ronde mereka lalui, akhirnya permainan pun selesai. Cavin merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Alice. Pria tersebut sedang mengancingkan kemeja dan memakai jas kembali.Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam. Di waktu tersebut, Alice seharusnya sudah tidur. Namun, ternyata dirinya berada di tempat yang tidak diinginkan."Ayo, Sayang! Kita harus pulang."Perkataan Cavin membuat Alice merasa senang. Sudah lama dirinya menantikan hal itu. Ia muak dengan segala yang terjadi di diskotik, terlebih melayani Cavin terus-menerus.Mereka berdua turun dari lantai dua. Diskotik masih ramai akan pengunjung, mereka tidak lelah sama sekali untuk membuang waktu dan bersenang-senang.Sementara, Mami Bella mengha
Setelah tidur yang begitu panjang, Alice terbangun di siang hari. Ia merasakan tubuh yang begitu lemas. Dirinya berniat untuk mandi terlebih dahulu dan makan untuk memulihkan tenaga.Sebelum itu, gadis berambut panjang tersebut melirik penampilannya sekilas di depan cermin. Sungguh, ia merasa terhina sekali. Tubuhnya yang dibalut dengan gaun merah seolah-olah tidak mencerminkan perilakunya. Alice yang kini sudah berantakan akhirnya mengakui kesalahan."Kenapa aku menerima tawaran itu? Kalau aku nggak menerimanya, pasti aku nggak akan seperti ini."Untuk menghilangkan semua pikiran mengenai kejadian kemarin, Alice mengambil handuk dan segera bergegas ke kamar mandi. Ia tidak ingin kehidupannya membayangkan hal itu lagi. Ingatan Cavin berusaha dihilangkan meski rasanya sia-sia saja.Setelah mandi, Alice memakai pakaian yang sesuai dengan selera. Gaun merah yang kemarin dipakai akhirnya disimpan di tempat pencucian. Di saat dirinya sudah tampil segar, ia mulai beranjak menuju dapur untuk