Share

Taruhan!

Author: MasAhong
last update Last Updated: 2025-01-03 10:24:21

“Nyonya. Nyonya Widjaya.” Cakra mengoreksi Bimo sambil membalas tangan Bimo.

Di masa depan, ia kehilangan istri karena kebodohannya. Lebih memilih wanita cantik yang ternyata hanya memanfaatkannya. Wanita sialan itu ternyata suruhan dari pesaing bisnisnya. Ia bukan hanya kehilangan istri tetapi juga perusahaan keluarga yang ia bangun dengan susah payah serta kerja keras.

Setidaknya Zayden yang sekarang, tidak boleh lagi kehilangan istri apalagi karena orang ketiga. Semua orang boleh mengejeknya karena miskin, tetapi ia tidak terima jika istrinya didekati oleh pria lain.

Pria dihadapan Cakra tersenyum ramah. Tidak merasa bersalah sama sekali sudah memanggil Anne seperti gadis lajang dan bukannya wanita bersuami. Dan itu justru membuat Cakra kesal. Keramahan yang dibuat-buat!

Ia sengaja datang untuk menemui Anne setibanya di kota setelah pergi ke Batavia selama sebulan. Ia sungguh merindukan gadis itu. Namun, Bimo malah mendapatkan kabar buruk dan ingin melihatnya sendiri. Ia mendapat kabar kalau Anne sudah menikah.

Bukan dengan bangsawan apalagi orang Belanda tetapi menikah dengan seorang pria yatim piatu miskin.

“Anda mungkin belum tahu. Anne adalah istri saya.” Cakra menjelaskan. Ia menekankan setiap kata. Menunjuk dirinya sendiri. Mendramatisir informasi yang baru saja ia sampaikan.

Pria itu bukan sadar kalau sudah membuat kesalahan dan meminta maaf malah merapikan jasnya lalu tersenyum ramah.

“Saya tidak akan menganggap pernikahan tanpa restu sebagai sebuah pernikahan. Kau menikahi Anne agar lahan keluargamu tidak tergusur, bukan? Sedang Anne menikah denganmu karena emosinya. Dan sekarang, kami akan memperbaiki kesalahan itu.”

Cakra tidak menyela. Ia membiarkan Bimo melanjutkan.

“Seorang pria seharusnya bisa membahagiakan wanitanya,” sindir Bimo. Ia meletakkan ujung tongkat yang biasa dibawa oleh para bangsawan di pundak Cakra. Tongkat dengan ujung berlian besar. Bimo bukan orang sembarangan. Menekannya cukup keras sebagai simbol kalau posisinya jauh di bawah Bimo.

“Sedang kau? Apa yang bisa kau berikan untuk Anne? Nona Van der Meer hidup mewah sejak kecil sedang kau bahkan tidak bisa memberikan sebuah sisir untuknya.” Bimo mengejek dengan wajah ramahnya. Senyum sopan terus mengembang di wajah pria itu.

“Anne bisa menerima keadaan saya. Iya ‘kan, Mijn liefste¹? Sekarang saya mungkin miskin, tapi jangan khawatir saya berjanji, saya pasti bisa membuat Anne bahagia.” Cakra mengucapkannya dengan sangat manis. Senyumnya merekah. Menatap Anne penuh kerinduan.

Matanya bersitatap dengan manik abu-abu Anne. Ia ingin melihat rona merah di pipi istrinya setelah mendengar perkataan manisnya.

Namun, tidak ada!

Anne tidak seperti istrinya kelak yang selalu tersipu setiap kali ia mengucapkan kata-kata cinta atau rayuan gombal. Anne malah menatapnya kesal merasa sikap Cakra berlebihan.

Senyum menyebalkan Bimo kembali mengembang. Senyum mengejek, merendahkan Cakra. Pun begitu dengan tuan dan nyonya Van der Meer

“Dengan apa?” tanyanya meremehkan Cakra. “Daun singkong?” tawa renyah Bimo mengisi ruang tamu.

Kali Cakra tidak terima. Rahangnya mengeras menahan marah. Tatapan semakin tajam melihat Bimo seolah akan mengeluarkan laser dan menghancurkan pria sombong yang ada di hadapannya.

“Sekarang saja kau menumpang di rumah kami. Makan pun ikut dengan kami. Kau bilang bisa membahagiakan putriku? Mimpi! Hidup Anne akan penuh air mata jika bersamamu.” Asih — ibu Anne ikut mengutarakan pendapatnya.

“Beri saya waktu, Moeder. Saya pasti bisa. Apapun akan saya lakukan untuk Anne. Walau harus mengorbankan nyawa. Saya akan lakukan!” Tatapan Cakra melembut. Mata abu-abu dingin milik Anne kembali menjadi perhatiannya.

Cakra tidak menggubris Asih yang mendecih tidak percaya dengan ucapannya. Cakra fokus pada wajah Anne yang tetap dingin. Mata Anne menyipit sedang membaca apa yang ada di kepala Cakra.

“Apapun yang kau inginkan, Mijn liefste.” Cakra mempersilahkan Anne mengutarakan keinginannya.

Wanita yang terlihat cantik dengan dress putih itu menatap Cakra bingung. Rambut coklat yang ia gelung khas seperti wanita tahun 1920an membuat kulit kuning langsatnya semakin bersinar.

Karena blasteran, kecantikan Anne Marie van der Meer memang luar biasa. Ia mewarisi hidung mancung, mata abu-abu, bibir mungil serta warna rambut dari ayahnya. Sedang kulit eksotisnya warisan nyonya Asih yang adalah orang pribumi.

Banyak yang ingin meminang Anne, tetapi gadis itu selalu menolak lamaran mereka. Mulai dari petinggi pemerintahan yang asli orang Belanda sampai bangsawan pribumi semua Anne tolak.

Deheman Bimo membuyarkan lamunan Cakra. Pria itu berdiri tegak dengan dada membusung penuh percaya diri. Dikeluarkannya jam saku dari saku jasnya. Menutupnya cepat seakan teringat sesuatu.

“Kalau tidak salah minggu depan adalah ulang tahun Anne?” Ia menoleh ke arah tuan Meer. Pria itu mengkonfirmasi pertanyaan Bimo dengan anggukan pelan.

“Mari bertaruh. Kalau kado ulang tahun darimu bisa membuat Anne senang, aku akan memperhitungkanmu sebagai sainganku.”

Cakra tidak langsung menjawab. Dengan hati-hati ia mencoba memaknai setiap kata yang Bimo ucapkan. Rasanya ada yang salah.

“Bukankah seharusnya kau mundur dan menjauh dari Anne kalau kalah taruhan?” Akhirnya Cakra sadar. Bimo baru memperhitungkannya sebagai pesaing dan siap merebut Anne darinya. Pria ini terlalu meremehkannya!

Ha-ha-ha! Suara tawa Bimo kembali mengisi ruang tamu.

“Kau bukan sainganku! Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu kalau khayalanmu terlalu tinggi. Kau tidak pantas untuk Nona Van der Meer. Sampah tetap saja sampah walau ia ada di rumah mewah.”

Bibir Cakra kembali menipis. Ia sedang menahan amarahnya. “Baik!” jawabnya. “Saya akan buktikan saya bisa membahagiakan Anne walau hanya dengan daun singkong.” Ia membalas sindiran Bimo tadi.

Bimo memakai mengambil topi lalu menghampiri Anne. Ia mengulurkan tangan meminta tangan Anne. Dengan sopan, Bimo mengecup punggung tangan Anne dengan lembut.

“Sampai jumpa minggu depan, Anne. Aku harap setelah pecundang ini kalah, ia tidak akan mengganggumu lagi.”

Cakra harus menerima Anne yang memelototinya selama lima menit lebih setelah ruang tamu kosong dan hanya tinggal mereka berdua.

“Apa kau sudah tidak waras? Je bent gek!²” pekiknya dengan suara tertahan. Ia tidak ingin orang tuanya mendengar pertengkaran mereka.

“Kenapa kau bertaruh dengan Bimo? Apa kau tahu siapa dia, hah?!”

“Aku tidak peduli siapa dia, Liefste³. Aku tidak gentar. Aku pasti menang.” Cakra tersenyum.

“Aku bukan barang taruhan dan stop panggil aku sayang!” Anne berbalik meninggalkan Cakra. Malas mendengar kata-kata gombal pria itu.

Dari ruang tamu Cakra bisa mendengar Anne menutup pintu kamarnya dengan keras.

Sekarang Cakra menghadapi masalah lain. Ia tidak tahu barang apa yang bisa membuat Anne senang dan terpenting, bagaimana caranya ia mendapatkan uang untuk membeli hadiah?

Ia mengambil kantong uang dari saku celananya. Mengeluarkan semua isinya. Hanya beberapa sen, setengah gulden dan…

“Ini? Ini, kan…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Warisan Turun-temurun

    Cakra memperhatikan jam tangan dengan tali dari kulit berwarna coklat. Bentuk jamnya bulat. Angka 12, 3 dan 9 cukup besar dan satu bulatan kecil menunjukkan detik. Bingkainya terbuat dari platinum.Rolex Perpetual 1908 adalah warisan turun temurun dari kakek. Bukan hanya karena jam itu harganya mahal tetapi sejarahnya. Kakeknya, Cakra mewarisi jam ini kepada ayahnya dan kembali diwariskan kepada Zayden.Kening Zayden berkerut. Matanya menyipit kemudian melotot.“It can’t be!” Ia berbisik. Zayden yang kini bernama Cakra berdiri. Berjalan cepat ke kamar mandi kemudian berkaca, melihat pantulan bayangannya di cermin oval yang menempel di dinding.Decakan kecil terdengar dari bibir Cakra. Ia lupa siapa nama oma buyutnya. Tetapi yang pasti opa buyutnya bernama…“Cakra!” ucapnya pelan dengan nada terkejut.Dibasuhnya wajah dengan saat wajah Arabella terlintas. Lagi-lagi Cakra menyadari sesuatu.Cukup lama Cakra memikirkan kemungkinan itu. Jika dilihat, memang Arabella dan Anne cukup mirip.

    Last Updated : 2025-01-03
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Pahlawan Kesiangan!

    “Aku sudah menjelajahi banyak waktu, Anak muda. Aku tahu jam ini tidak berasal dari sini.”Rahang Cakra terbuka. Kepalanya mendadak kosong untuk beberapa detik saking terkejutnya mendapati ada orang lain yang juga berpindah dimensi waktu seperti dirinya.“Jam ini tidak dijual di Kepulauan Melayu.” Tatapan tajam Frans membuat Cakra semakin grogi.“Katakan padaku, dari waktu mana kau berasal, Anak muda?” Frans menunduk. Melihat Cakra dari bingkai kacamata bulatnya.Tatapan Cakra belum berpindah dari Frans yang sejak tadi bicara sambil memeriksa jam tangannya. Ia mencari kebenaran atas ucapan pria paruh baya itu. Cakra menggigit bagian dalam bibirnya. Berpikir keras. Jawab yang ia siapkan sudah diujung lidah. Hanya tinggal mengucapkannya saja. Namun, Acara memilih jawaban lain karena tidak ingin dianggap gila. Tetapi yang terpenting dia belum percaya kepada Frans.“Aku hanya ingin menjual jam ini. Anda tidak perlu tahu asalnya dari mana,” jawabnya.Frans meletakkan jam Cakra di atas et

    Last Updated : 2025-01-03
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Harus Mencari Calon Suami Baru

    “Hajar dia!” Pria Belanda bernama Benjamins memberi perintah. Dengan mudah anak buah Benjamins melakukan perintah itu. Kedua tangan Cakra sejak tadi sudah dipegang. Pukulan demi pukulan Cakra terima tanpa bisa membalas. Mengaduh pun percuma karena algojo Tuan Benjamins dengan brutal memukulnya seperti sedang bermain dengan samsak tinju. “Berhenti!” Benjamins mengibaskan tangan setelah puas melihat Cakra dipukuli. Meminta anak buahnya menyingkir. “Dua hari!” serunya dalam bahasa Belanda. “Jika kau gagal, kau harus mengganti semua kerugianku dengan nyawamu!” Para pribumi yang menonton adegan itu bergidik ngeri mendengar ancaman tuan Benjamins. Mereka tahu pria berkulit putih itu selalu serius dengan ucapannya. Warga pribumi saling berbisik. Sebagian besar meledek Cakra karena kebodohannya menantang tuan Benjamins sedang beberapa orang kasihan dengan pria yatim piatu itu. Cakra masuk ke rumah dengan berjingkat. Seperti maling. Ia melebarkan pintu kamar Anne cukup untuknya m

    Last Updated : 2025-01-13
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Siapa Yang Akan Kau Bela?

    “K-Kata bapak saya. Kata bapak saya begitu. Zaman bapak dulu, suami tidak punya muka kalau tidak menafkahi istrinya.” Cakra berharap Anne percaya pada ucapannya yang tidak sepenuhnya bohong. Papa memang pernah berpesan seperti itu. “Pikir dulu sebelum bicara! Orang bisa berpikir kalau kau itu tidak waras.” Anne menatap lembaran 500 gulden bergambar wayang di tangan Cakra. “Dari mana kau dapatkan uang itu? Kau mencuri?” tanyanya ketus. “Tidak, Nona. Aku menjual barang milikku yang paling berharga. Jadi tolong terima ini.” Cakra mengambil tangan Anne. Memberikan uang itu kepada sang istri. Sejenak manik mereka saling bersitatap. Beberapa detik yang membuat Cakra menyadari kalau mata Anne mirip dengan Arabella. Keduanya memiliki mata kecoklatan. Bulu mata tebal dan lentik serta sinar mata penuh kehangatan. “Lain kali tidak perlu melakukan apapun untukku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Anne tetap pada mode ketusnya. Ia mengambil uang dari Cakra dan menyimpannya di sebuah guci

    Last Updated : 2025-01-15
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Apa Kau Sedang Merayu?

    Hindia atau Belanda? Pertanyaan itu terus saja muncul di kepala Cakra. Ia belum menentukan mana yang harus ia pilih. Sebagai pebisnis, tentu ia ingin keuntungan yang besar. Pilihannya akan jatuh kepada kepuasan tuan Benjamins yang ingin tanah dengan harga murah. Namun, melihat ada warga lain yang terusir dari rumahnya sendiri tanpa tahu kalau tanahnya telah dijual oleh orang lain, Cakra pun tidak tega. Ia tidak pernah main curang untuk mendapatkan keuntungan besar! Angin malam semakin dingin menyapu kulit Cakra. Ia menutup jendela kamar sekaligus gorden motif bunga. Lampu kamar juga sudah dimatikan hanya menyisakan lamour tidur temaram. Sudah hampir tengah malam tetapi Anne belum masuk kamar. “Apa Anne tidur di luar karena tidak ingin tidur denganku?” Cakra membatin. Rasa bersalah menyeruak membiarkan gadis tidur di luar sedangkan ia bisa nyaman tidur di atas kasur empuk. Disusulnya Anne keluar, tetapi Cakra tidak menemukan gadis yang mengaku sebagai istrinya itu di mana pun

    Last Updated : 2025-01-16
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Inlander Dilarang Masuk!

    “Apa Nona mau membantu saya?” Cakra mengutarakan idenya setelah Anne selesai berdandan.Gadis itu tidak memakai riasan wajah tebal. Rambut coklat kemerahannya disanggul rapi. Bagian poninya ia biarkan begitu saja. Menggunakan bedak tipis dan lipstik dengan warna lembut.Seperti noni lainnya, sehari-hari Anne mengenakan gaun katun sampai lutut. Kulitnya yang kuning khas Asia membuat gadis blasteran Belanda Hindia itu memiliki kecantikan yang berbeda dari noni Belanda lain.Anne tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan riasan wajah lalu memutar duduknya. Ia duduk berhadapan dengan Cakra yang duduk di sisi ranjang.Satu hembusan napas panjang keluar dari bibir tipis Anne. Dari caranya menatap, Cakra tahu kalau Anne terpaksa tetapi gadis itu tetap menolongnya.“Ini semua agar papa tidak punya kesempatan untuk menjodohkanku dengan Bimo.” Anne bangkit dari duduk. Bersama dengan Cakra ia menemui Tuan Van der Meer. Pria itu sedang duduk bersantai di teras belakang sambil membaca koran haria

    Last Updated : 2025-01-16
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Penawaran yang Sangat Menguntungkan

    “Usir saja dia. Tuan Benjamins tidak akan mau bertemu dengannya.” Penjaga yang lain memberi saran. Ia memukul-mukul tongkatnya ke arah Cakra. Mengusir pria itu seperti sedang mengusir anjing.Cakra berhasil menghindari pukulan penjaga pintu restoran. Ia menatap pengunjung yang sedang menikmati sarapan melalui jendela besar. Semua pengunjung Smakelijk Huis adalah orang asing. Dengan teliti ia mencoba mencari keberadaan tuan Benjamins.“Penjaga rumahnya bilang, Tuan Benjamins sedang sarapan di sini. Biarkan saya masuk! Saya sudah ada janji dengan tuan Benjamins.” Cakra mencoba menerobos kedua penjaga yang menghalanginya. Ia mendorong salah satu penjaga ke samping. Namun sayang, penjaga yang lain berhasil membaca gerakannya. Tangan Cakra dipegang. Ia ditarik dengan keras sampai kehilangan keseimbangan.“Ini bukan tempat untuk orang seperti dirimu! Ini tempat orang-orang berkelas,” pekik penjaga yang memiliki kumis. “Tapi saya sudah ada janji. Sampaikan saja pesan kepada Tuan Benjamins k

    Last Updated : 2025-01-18
  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Bimo Membuat Perhitungan

    “Apa kau sedang memerasku, hah?” Benjamins, menggebrak meja setelah mendengar harga yang Cakra tawarkan untuknya. Pria itu melihat Cakra dengan tajam sementara dua wanita muda bumiputera memakai kebaya bunga-bunga sedang berusaha menenangkan sang meneer.ⁿ Salah satu dari mereka mengusap lembut lengan kekar Benjamins sedang wanita muda yang lain membantu Benjamins meminum teh olongnya. Cakra sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini di tahun 2024. Pengusaha ditemani oleh wanita-wanita bayaran hanya sekedar untuk gengsi. Ada juga yang memiliki wanita lain untuk menghilangkan stress pekerjaan. Iya tidak canggung dan tetap menatap lawan bicaranya. Gestur tubuhnya terlihat yakin. Sinar matanya menunjukkan keseriusan. Suaranya mantap tidak bergetar walau kadang para wanita Tuan Benjamins melakukan hal yang membuatnya gelisah. Benjamins lebih tenang setelah meminum tehnya. Ia menarik nafas panjang lalu berkata, “Bimo hanya memberiku harga f. 50 per bau. Sedang kau berani meminta

    Last Updated : 2025-01-19

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Tanah Bermasalah

    Lepaskan dia.”Suara Raden Panji terdengar tegas, penuh wibawa. Ia mengibaskan tangan, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur. Seketika, para pengawal yang tadi menahan Cakra melepaskan cengkeraman mereka, membiarkan lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai dengan napas terengah.Aiden menatap Raden Panji dengan sorot mata tajam, nyaris menembus ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Apa begini kelakuan seorang Bupati?” tanyanya dengan nada dingin, penuh sindiran yang menusuk.Raden Panji tetap berdiri tegak, tetapi ada ketegangan tipis yang melintas di wajahnya. “Aku hanya menjalankan tugas,” balasnya, suaranya sedikit bergetar, entah karena amarah atau sesuatu yang lain.Cakra yang masih tersungkur, mencoba bangkit dengan sisa tenaganya. Tangannya terangkat, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Napasnya berat, tubuhnya sedikit bergetar karena perlakuan kasar yang baru saja ia terima. Namun, tatapanny

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Tuan Jaksa

    “Siapa Anda? Jangan ikut campur dalam urusan ini!” Raden Panji melayangkan tatapan tajam penuh kuasa kepada pria asing yang baru saja datang. Tanpa membuang waktu, ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk melanjutkan pekerjaan mereka—memukuli Cakra hingga pria itu jera.Cakra yang sudah terhuyung nyaris tersungkur kembali merasakan hantaman keras di perutnya. Ia meringis, darah merembes dari sudut bibirnya, tetapi matanya tetap menyala penuh perlawanan. Anne menjerit histeris, berusaha meronta dari cengkeraman yang menahannya.Saat itulah langkah kaki terdengar di ambang pintu. Tuan Edgar memasuki ruangan dengan tenang, wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebihan, tetapi kehadirannya langsung menarik perhatian.Melihat pria Belanda itu, Bimo segera melangkah mendekat. Dengan senyum penuh hormat, ia menjabat tangan Tuan Edgar. “Tuan ada di Soerabaja?” tanyanya heran, suaranya berusaha terdengar akrab.Raden Panji menoleh, matanya menyipit, mencoba menilai siapa tamu baru ini. Bimo,

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Bukti Opium!

    Raden Panji menyeringai tipis, matanya tetap tertuju pada Anne. "Tentu saja aku ingat siapa kau, Nona Anne," ujarnya, suaranya penuh misteri. "Tapi ini bukan saat yang tepat untuk membicarakannya. Aku masih punya urusan yang lebih mendesak."Anne terdiam. Harapan yang sempat menyala di matanya meredup seketika. Ia melangkah mundur dengan ragu sebelum akhirnya kembali duduk di kursinya. Bahunya sedikit merosot, tetapi ia berusaha tetap tenang.Cakra yang sejak tadi memperhatikannya semakin dibuat bingung. Hubungan seperti apa yang dimiliki Anne dengan Raden Panji? Mengapa sikapnya begitu kaku di hadapan pria itu? Keningnya berkerut, berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, suara Raden Panji kembali mengisi ruangan.Seorang anak buahnya melangkah masuk, wajahnya menunjukkan ekspresi enggan. Ia membungkuk hormat sebelum melaporkan hasil pencarian mereka. "Kami sudah menggeledah seluruh ruangan di rumah ini, Raden," lapornya. "Tap

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Penggerebekan

    Cakra hendak melangkah mendatangi Bimo, tetapi tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram lengannya, menahannya di tempat."Kau sebaiknya berpikir dua kali sebelum melakukan hal bodoh," suara berat anak buah Tuan Tong berbisik di telinganya. Cakra menoleh, menatap pria itu tajam, tetapi genggaman di lengannya semakin kuat, seolah memperingatkan."Pria itu dekat dengan Bupati," lanjut pria itu dengan nada rendah namun penuh tekanan. "Dan kau tahu, di sini, Bupati seperti raja. Dia bisa melakukan apa saja."Cakra menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia tahu situasinya tidak menguntungkan. Mau tidak mau, ia harus bermain cerdik, bukan gegabah.Namun, rupanya kehadirannya tak luput dari perhatian. Dari kejauhan, Bimo melirik ke arahnya dengan senyum miring penuh kemenangan. Dengan langkah santai, pria itu berjalan menghampiri Cakra, seolah menikmati momen ini."Kukira kau sudah pulang dengan tangan kosong," sindir Bimo. "Atau kau masih berharap bisa menyaingiku?"“A

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Pasar Terbakar

    "Semalam, pasar terbakar. Tidak ada satu pun yang tersisa," ujar orang kepercayaan Tuan Tong dengan nada serius. "Bahkan, tiga nyawa melayang akibat peristiwa itu."Cakra mengerutkan kening, hatinya terusik oleh kabar tersebut. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan dirinya tidak terlewat satu kata pun."Apa pendapat Tuan mengenai kejadian ini?" lanjut orang kepercayaan itu.Terdengar suara Tuan Tong menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, suaranya tetap tenang meskipun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. "Aku sudah bisa menebak siapa dalang di balik kebakaran tersebut."Orang kepercayaannya tampak terkejut. "Siapa yang Tuan maksud?"Tuan Tong tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. "Aku dengar Bupati baru saja menerima tamu dari jauh. Ada banyak hal penting yang kami bahas malam itu."Cakra menyipitkan mata. Pernyataan itu seolah mengarah pada sesuatu yang lebih besar."Menariknya," lanjut Tuan Ton

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Penderitaan Tiada Akhir

    Senja mulai turun ketika Bimo duduk santai di pendopo rumah seorang bupati, ditemani oleh Raden Panji dan seorang pelayan yang setia berdiri di belakangnya. Angin sore berembus lembut, membawa aroma teh melati yang baru saja dituangkan ke dalam cangkir porselen.Bimo menyesap tehnya dengan perlahan, menikmati rasa hangat yang menyentuh lidahnya sebelum akhirnya membuka pembicaraan. “Aku sedang mencari tanah yang cukup luas,” ujarnya santai, seolah-olah itu bukan urusan besar.Raden Panji mengangkat alis, matanya berbinar penuh antusias. “Hmm... pekerjaan besar, ya?” katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu jati. “Kau memang selalu punya ambisi tinggi, Bimo.”Bimo tersenyum tipis, tapi ia menggeleng pelan. “Belum pasti,” sahutnya, suaranya tetap tenang. “Justru itu sebabnya aku datang ke sini. Aku butuh tanah dengan lokasi strategis, tapi harga tetap rendah. Semakin murah kita mendapatkannya, semakin besar keuntungan yang bisa kita kantongi.”Raden Panji terkekeh kecil. Ia me

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Cara Baru Untuk Menghancurkan Cakra

    Cakra dan Anne duduk dengan tegang di ruang tamu rumah Tuan Tong. Arsitektur oriental yang kental terasa di setiap sudut ruangan. Ukiran naga menghiasi pilar-pilar kayu merah tua, sementara lentera-lentera kertas bergoyang perlahan di langit-langit.Penjagaan di rumah Bagau ini sangat ketat. Beberapa pria berseragam hitam berdiri tegak di setiap sudut, memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tajam.Di hadapan mereka, meja kayu mengkilap telah disiapkan dengan teh dalam gelas berbentuk mangkuk. Aroma melati samar-samar tercium, tetapi baik Cakra maupun Anne tak berniat menyentuhnya.Keheningan yang menekan akhirnya pecah ketika suara berat dan berwibawa menggema di ruangan.“Jadi, kau yang ingin bertemu denganku?”Tuan Tong, seorang pria paruh baya dengan jubah sutra berwarna gelap, menatap mereka dengan tatapan tajam dan penuh selidik.Cakra menelan ludah, sementara Anne meliriknya dengan penuh harap. Ia menyerahkan sepenuhnya urusan ini kepada suaminya, karena ia sendiri tak tahu har

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Diusir Bagai Sampah!

    Cakra melangkah cepat ke tengah ruangan, matanya menyala marah saat melihat para office boy membongkar koper Anne. Pakaian istrinya dikeluarkan dengan kasar, dilempar begitu saja ke lantai, berserakan tanpa sedikit pun rasa hormat."Berhenti!" suara Cakra menggelegar, penuh ketegasan. Namun, seolah tuli, para office boy itu terus mengobrak-abrik isi koper, seakan menikmati perintah yang mereka jalankan.Di sudut ruangan, Bimo bersandar dengan ekspresi puas. Senyum sinis terukir di wajahnya saat ia menyaksikan kemarahan Cakra—dan lebih dari itu, kehinaan yang kini harus ditanggung Anne. Gaun-gaun mewah bukan satu-satunya yang berhamburan di lantai, pakaian dalam gadis itu pun ikut menjadi tontonan.Anne merapatkan tubuhnya, wajahnya memucat menahan malu. Tubuhnya sedikit gemetar saat ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk menatap Bimo."Kenapa kau melakukan ini?" suaranya lirih, nyaris bergetar.Cakra tak tinggal diam. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik salah satu office boy menja

  • Perjalanan Waktu Sang Raja Properti   Geledah Barang Bawaannya!

    "Segera selesaikan urusanmu dengan Edgar. Aku akan menangani Benjamins," ujar Franz dengan suara mantap.Cakra mengangguk, menerima keputusan itu. "Bawa Anne bersamamu, Franz. Aku tidak mau dia dalam bahaya."Namun, sebelum Franz bisa menjawab, suara tegas Anne memotong pembicaraan mereka. "Aku tidak ingin kembali."Semua mata kini tertuju pada Anne. Gadis itu berdiri dengan tangan mengepal, matanya berkilat dengan tekad yang baru pertama kali terlihat begitu kuat."Anne, ini bukan tempat yang aman untukmu," Cakra mencoba membujuk, nada suaranya lebih lembut.Anne menggeleng cepat, lalu menunduk, seakan ragu untuk mengungkapkan alasannya. "Aku… aku sedang mencari seseorang." Suaranya lirih, tapi cukup jelas untuk membuat Cakra dan Franz saling pandang, bingung sekaligus penasaran.Cakra menghampiri Anne. “Siapa?” tanyanya sambil menatap Anne lekat.Anne menunduk malu. “Pria dalam mimpiku,” sahutnya berbisik tetapi masih bisa didengar oleh Cakra.Cakra menegang sesaat, tetapi ia berusa

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status